DRAKKKKK! BRUAGHHHH!
Entah siapa duluan yang speechless begitu mendapati sebuah mobil BMW mewah melayang dan mendarat dengan kasarnya pada salah satu banci –Eh, maksudnya salah satu peserta di acara ini. Semuanya memandang horror kepulan asap yang disebabkan oleh mobil jatuh itu juga pasir yang terhempas kemana-mana.
Ginga dan teman-temannya sendiri juga sama. Tadinya kira itu hujan hadiah yang biasanya ada di iklan-iklan, tapi ternyata itu bencana yang sangat dahsyat. Yang lebih parahnya lagi tim Ryuga yang 'kena' bencana ini. Apa yang harus...
"A... Apa yang sebenarnya terjadi, sih...?" tanya Ginga setengah syok. Lainnya bertukar pandang dengan tatapan ngeri dan menggeleng-geleng kecil.
.
.
.
BAKA HOLLIDAYS
.
Ch 11: Dramatic?
.
Made By © IllushaCerbeast.
.
Disclaimer MFBeyblade belong to © Takafumi Adachi.
.
Rate: T
.
WARNING(s): Humor Garing, Tidak ada pairing bearti, Alur gaje, OOC sangat, misstypo melaut, Shounen-Ai, dll.
.
DON'T LIKE DON'T READ!
.
Enjoy~
.
.
"What happening?"
"A big car flying at survival game! That's cool!"
"Idiot! Help him, now!"
Terpaksa acara ini dihentikan karena ada kecelakaan besar. Iyalah, mobil terbang, apanya yang bencana kecil? Semua peserta lainnya pun berhamburan membantu Jack yang berkunang-kunang di timpa mobil. Entah anak kelahiran banci itu masih bisa hidup atau tidak, ditabrak dan ditimpa sekaligus mobil BMW. Betul-betul fantastik, bukan?
"Hei, Damian! Ini gara-gara kau bilang 'mobil mbw'! Tanggung jawab, sial!" bentak Ryuga memandang teman satu kubuhnya itu dengan tatapan keji. Tentu saja Ryuga kesal, sebanci-bancinya Jack, tetap saja ia teman mereka. Damian menautkan alisnya dengan bodoh,
"Heh, aku tidak tahu apa-apa soal mobil BMW yang melayang itu, teman. Jangan salahkan aku, lagipula ia sendiri yang minta jadi fantastik, 'kan?" bantah Damian dengan santainya. Langsung saja ia dipukul ramai-ramai oleh teman satu kelompoknya sendiri. JDUAAGH!
"Sinting! Jack dalam bahaya sekarang! Cepat kita tolong!" teriak Johannes frustasi lalu melempar Damian ke arah mobil yang masih menimpahi Jack di bibir pantai. Sementara itu...
"He... –hebat..." guman seorang pria berambut ikal terpukau dengan apa yang barusan terjadi. Ya, apalagi kalau bukan 'seorang anak kecil melayangkan mobil'? Sedangkan Kenta dan Chin Yun yang ada disampingnya bergidik ngeri.
"Hyouma-nii nggak takut, ya?" tanya Chin Yun polos sembari memandang mata biru Hyouma yang berbinar indah. Pria kelahiran Hawaii itu menggeleng mantap, lalu memandang bangga kepada Yuu –tersangkah utama pelemparan mobil– ini.
"Tidak, ini wonderfull! Ke –keren sekali!" ujar Hyouma terkagum-kagum.
Heeh, pada bingung, ya, apa yang terjadi? Kalau gitu mari kita putar ulang kejadiannya. Tepat 15 menit yang lalu, disaat giliran Jack untuk memukul semangka dengan arahan dari Johannes. Saat itu tepat Yuu, Hyouma, Chin Yun, dan Kenta sampai di semak-semak yang berada di belakang para peserta lomba. Tadinya, sih, Yuu melancarkan serangan menggunakan batok kelapa. Tentu saja dengan jarak berkisar 5 m dari Jack, dengan lempar saja belum sampai. Akhirnya ia membuat ketapel besar dengan... Chin Yun dan Kenta yang menjadi penahannya. Pintar atau bodoh?
Tentu saja dengan itu, serangannya berhasil dengan mulus. Bahkan berhasil membuat banci itu marah-marah, Yuu langsung kegirangan nggak jelas. Tapi belum selesai sampai disitu, tak sengaja Yuu mendengar ucapan Damian yang berkata '...sekalian saja lempar mobil bmw biar lebih heboh dan fantastik, puas kau?' Langsung saja anak ini melirik ke arah parkiran mobil mencari mobil bmw. Tadinya Hyouma juga mengira Yuu hanya bercanda, mustahil bocah ingusan sepertinya bisa melempar mobil. Orang dewasa saja tidak bisa, apalagi Yuu?
Tapi Yuu membantah dan berkata 'Tidak ada yang mustahil selama kita percaya!' dengan effect cahaya yang begitu menyilaukan dan membuat siapa saja katarak dadakan. Dengan penuh amarah 'Jangan dekati kakakku lagi, banci jahanam jelek!' langsung saja dilemparkannya mobil besar itu dengan tangan kosong. Satu kata, keajaiban. Hyouma dengan gaya slowmotion melihat jelas mobil besar itu melayang bagaikan onta bermuka ikan arwana ke arah Jack. Tentu saja sebelum melempar, anak berambut jeruk itu memakai sarung tangan agar sidik jarinya tidak terdeteksi.
"Semoga saja setan itu segera mati ke neraka! Dan kakakku aman, deh!" seru Yuu dengan riang gembira. Hyouma mengiyakan dengan takjup, berlutut dan bersujud-sujud di depan Yuu. Sisanya, si brunet hijau dan si kepang biru jawdrop di tempat.
"Jujur, walaupun aku teman Yuu... Tapi tadi menyeramkan sekali," guman Kenta sembari menggeleng-geleng kaku. Chin Yun memejam matanya dan mengiyakan.
"Tapi, kok, Hyouma-nii malah kagum, ya?" tambah Chin Yun sembari melirik keduanya yang masih diterpa cahaya menyilaukan entah dari mana.
...
"Haah..." seorang pria berambut jabrik hitam menghela nafas panjang, "...survival game-nya batal, deh..." lanjutnya dengan malas-malasan.
"Tabah, ya, Masamune. Sebenarnya aku juga nggak rela, padahal sampai sejauh ini berusaha, tapi malah batal karena bencana tadi," tambah Chao Xin yang kebetulan duduk di samping Masamune.
Sekarang sisa peserta yang selamat disuruh menunggu di sebuah ruangan untuk dimintai keterangan. Memang tidak ada yang melihat siapa dan kenapa 'orang' itu melempar mobil ke arah Jack, tidak ada yang tahu. Bahkan polisi patroli sekalipun juga mengaku tidak melihat keanehan sampai bencana itu terjadi.
"Banci sialan, dia bikin kesal saja." Tambah Kyoya sembari membuang mukanya tanpa perasaan. Bagi anak ini, sih, yang bencana itu adalah 'batalnya survival game', bukan 'matinya Jack'.
"Tapi bagaimana bisa mobil sebesar itu melayang? Masa', sih, zaman sekarang sudah canggih memanggil mobil dengan cara seperti itu?" tambah Ginga mengkerutkan dahinya heran. Da Shan mendengar itu ikut berpikir di tempatnya duduk.
"Memang mengherankan, sih, katanya beberapa detik setelah Damian berteriak, mobil BMW itu tiba-tiba terbang dan menimpa banci –Err, maksudku Jack." Sahut Da Shan berusaha menganalisis masalah. Kelepasan dia ngomong banci. Duh, Jack, apa kau itu benar-benar...
"Ja –Jadi maksudnya Damian punya kekuatan negatif, begitu?" seru Masamune dengan mendramatis, lainnya sweatdrop seketika.
"Be –belum tentu, memanggil dengan cara seperti itu tidak masuk akal di zaman sekarang. Atau mungkin ada yang melemparnya?" timpal Tsubasa sembari menyandarkan punggungnya di tembok. Dasar Tsubasa, ia tidak tahu kalau pelaku dari semua ini adalah adik tirinya sendiri.
"Hmmm, masa, sih, yang melempar sekuat itu? Jarak parkiran ke survival game sekitar 8-9 m, lho. Mustahil dengan tenaga manusia bisa melakukannya, bahkan 10 manusia pun tidak sanggup!" sahut pemuda berambut jabrik merah itu kebingungan. Seketika semuanya kembali hening.
"Itu, sih, mirip kayak sinetron Tutur Tertular yang ada di televisi itu, lho! Bearti ada Tutur Tertular di pulau Hawaii ini!" tambah Chao Xin bersemangat. Masamune di sampingnya langsung saja menjambak pemuda asal China itu sampai botak.
"Sa –Sakit, bodoh! Ucapanku 'kan benar–"
"TUTUR TERTULAR ITU CUMA FIKSI, BAKAAAAAA! KALAUPUN ADA MUNGKIN SELURUH PULAU HAWAII INI SUDAH DITULARI SI TUTUR BANGKAI ITU!" teriak Masamune dengan kencang membuat rambut Chao Xin menjadi pemain rock and roll. Ginga dan lainnya langsung jawdrop mendengarnya, sedangkan peserta lain memandang Ginga dkk dengan heran.
"Ya, sudah, kita pulang saja. Aku malas menunggu disini," sahut Kyoya datar. Memang, sih, Ginga dkk sebagai orang yang kenal dengan korban –tahu siapa, 'kan?– pun ditanya-tanyai terlebih dahulu daripada peserta lain. Sekarang mereka menganggur, tapi sebagai 'rival baik', rasanya...
"Apa sebaiknya kita tunggu sebentar lagi? Begitu-begitu mereka teman satu villa kita juga, lho..." usul Da Shan dengan bijak. Ah, ketua satu ini memang hebat. Sengeri-ngerinya ia pada kelompok Ryuga yang abnormal itu, tetap saja ia bertindak bijak dalam setiap tindakan.
"Ya, apa boleh buat, kita tunggu sebentar lagi..." tambah Tsubasa merasa tidak keberatan, walau ia sempat merinding nggak jelas karena yang 'kena' itu Jack, orang yang begitu menggilai-gilainya sampai ujung rambut.
Belum lama dari itu, tiba-tiba saja Damian yang baru keluar dari ruang introgasi mendatangi tempat dimana Ginga dkk duduk. Semuanya refleks memandang ke arah pria psikopat itu. Namun tanpa bicara, Damian kemudian menarik lengan Tsubasa mengisyaratkan pemuda itu untuk ikut dengannya.
"Hei, hei, apa-apaan ini?" tanya Tsubasa bingung, walau 50% ia tahu apa alasannya. Begitu juga dengan Da Shan dan Chao Xin yang langsung mencegah langkah pemuda bertubuh pendek itu.
"Tunggu, kau mau membawanya kemana?" tanya Da Shan dengan sopan, tapi bukan jawaban baik yang ia terima, melainkan glare tatapan abang bangkotan dari Damian. Yah, pria pecinta kekerasan itu memandang sinis Da Shan.
"Kau masih bertanya, jerapah bijak? TENTU SAJA AKU MEMBAWA ANAK INI PADA BANCI SOK FANTASTIK YANG SEKARAT ITU, BAJINGAN! AKU TIDAK TAHAN MENJENGUKNYA KARENA BANYAK SEKALI KILAUAN SCREENTONE DI KAMAR UGD-NYA! SILAU! JADI LEBIH BAIK KUSURUH ELANG INI UNTUK DATANG! SIAPA TAHU BENCONG ITU JADI BAIKAN KARENA ORANG YANG DICINTAINYA MENJENGUK, BRENGSEK!" teriak Damian dengan penuh amarah dan aura gelap yang pekat menyelimutinya. Ginga yang notabene pernah jadi korban stalkeran dari anak itu bergidik ngeri, ternyata teman satu tim dengan Ryuga itu menyeramkan semua.
"Ka –Kalau begitu, aku pergi dulu..." dengan terpaksa, Tsubasa pun ikut anak psikopat itu menuju ruang UGD yang kabarnya sangat silau dan penuh screentone itu.
"Haah, aku harap Tsubasa tidak buta memasuki ruangan seperti itu," sahut Kyoya memijat keningnya sendiri begitu Tsubasa sudah berlalu. Lainnya jawdrop sesaat mendengar ucapan Kyoya ada benarnya juga.
...
Begitu hari sudah menginjak sore, Ginga dkk pun kembali ke villa dengan berat hati. Padahal sudah susah-susah berjuang di acara tadi. Eh, semuanya berantakan. Ya, apaboleh buat, semuanya sudah terjadi, jadi biarkan sajalah. Semuanya pulang minus Tsubasa –notabene belum kembali dari acara menjenguk banci– dan juga Doji-sensei yang mungkin sedang mengurusi administrasi keuangan rumah sakit.
"Selamat datang! Bagaimana dengan survival game-nya? Apa kalian menang?" sapa Madoka dengan ramah, rupanya gadis berambut pendek itu beserta Mei Mei sudah pulang terlebih dahulu sebelum para cowok-cowok datang.
"Ehm, survivalnya batal, Madoka. Ada sedikit kecelakaan," jawab Ginga tersenyum miris. Gadis bergoogles itu terkejut mendengar kata 'kecelakaan' lalu membayangkan yang tidak-tidak.
"A –APA? KECELAKAAN? MAKSUDMU ADA TSUNAMI BEGITU? AT –ATAU ADA GUNUNG MELETUS? KYAAAAAAA! BAGAIMANA INI? BAGAIMANA INIIIIIIII?!" jerit Madoka dengan tatapan horror. Belum selesai Ginga menenangkannya, gadis itu langsung...
"Tenang, Mado–"
"CELAKA, AK –AKU HARUS BERES-BERES! KA –KALAU TIDAK AKU NGGAK BISA MAIN KUDA-KUDAAN LAGI DI TIMEZONE! AKU NGGAK BISA LAGI BERKERINGAT! AK –AKU NGGAK BISA LAGI MENGEJEK DOJI-SENSEI! KYAAAAAAA!" dengan itu Madoka dengan histeris berlari ke arah kamarnya untuk memberes-beres barangnya.
"Tunggu, Madoka! Bukan begituuuu!" teriak Ginga lalu berlari menyusul Madoka guna mencegah gadis itu untuk pulang dadakan dari liburan ini. Da Shan speechless melihat kelebaian Madoka ternyata melebihi level 100.
"Haah, aku mau menggalau dulu, deh..." dengan begitu Reiji segera melangkah gontai menuju kamar inapnya yang tadi sudah ditunjuk oleh Ryuga. Yap, penghuni villa bertambah Reiji dan Johannes, untungnya masih ada sisa satu kamar.
"Galau, kok, bilang-bilang, sih... Apa dia juga stress karena survival game-nya batal?" tanya Chao Xin dengan lugunya sembari memandangi punggung gelap Reiji yang begitu mendramatis. Johannes terkekeh sedikit mendengar pertanyaan pemuda playboy itu dan menjawab,
"Dia depresi karena ularnya kawin lari. Bocah nanas gosong itu pasti tahu!" serunya sembari menunjuk Masamune yang sedang merapikan letak sendal miliknya. Masamune mendengus mendengar sebutan 'nanas gosong' yang dilontarkan Johannes padanya.
"Ooh, begitu, ya. Kasihan sekali, ya." Jawab Chao Xin dengan tatapan sedih, padahal ngerti masalahnya saja tidak sama sekali. Masamune memicing matanya pada Johannes yang sedang bermanja pada kucing kesayangannya.
"Tadi kau bilang apa, hah? Nanas gosong?"
"Ya, nanas gosong, seperti rambutmu itu. Keren, 'kan, sebutan dariku? Aku memang pandai memberi nama–"
"Pandai apaan, kau 'kan paling bodoh seangkatan sekolah! Dasar kucing tujuh hari nggak mandi! Rambutku ini stylist, bodoh! Style yang modern abad ke 10!"
"Enak saja, kucingku memang nggak mandi tujuh hari karena anti Jum'at kliwon! Halah, mana ada style begitu, abad ke 10, sih, rambut gondrong semua!"
"APA KATAMU? GRRRRRRR!"
"KAU JUGA! MEEEAUUUUWW!"
Munculah pertengkaran baru antara Masamune dan Johannes, entah siapa yang akan memenangkannya. Melihat kondisi villa yang sepertinya agak berubah, Kyoya menghela nafas lalu tanpa bicara pergi menuju kamarnya diikuti Chao Xin yang juga sekamar dengannya.
"Chao Xin, Kyoya, tidak mau makan dulu? Aku dan Madoka sudah membuat makan malamnya, lho." Tegur Mei Mei yang kebetulan melihat langkah Chao Xin dan Kyoya menuju kamar inapnya. Kyoya menggeleng kecil.
"Aku mau istirahat dulu, nanti aku akan ambil sendiri makanku," jawab Kyoya dengan tenang. Stay cool lalu kembali masuk ke dalam kamar. Berbeda dengan Chao Xin yang langsung ngiler nggak jelas membayangkan makan malam lezat buatan kedua gadis manis itu.
"Heeh, aku makan, deh, kalau begitu!" dengan itu Chao Xin bergegas ke dapur mengekori Mei Mei. Suasana yang damai, ya? Eits, tidak juga. Ini baru permulaan dari suasana yang sesungguhnya...
...
Hah, benar apa kata Damian, ruang inap Jack penuh sekali dengan screentone entah bagaimana bisa. Tsubasa yang duduk di samping ranjang saja sampai membeli kacamata hitam 10 lapis untuk menahan kilauan itu agar matanya tidak katarak dadakan. Kalau satu lapis lensa kacamata saja 0.5 cm... Bearti 10 x 0.5 cm = 5 cm. Segitulah tebal kacamata hitam yang dipakai Tsubasa.
Kondisi banci –Eh, maksudnya Jack tidak begitu mengenaskan, kok. Entah sekuat apa tubuhnya sampai masih bisa hidup meski sudah ditimpah sebuah mobil BMW. Nggak ada anggota tubuhnya yang patah, retak pun tidak. Hanya bentrokan kecil di punggung, sebentar lagi ia akan sadarkan diri. Hanya saja suasananya yang terlalu lebay. Sudah dirawat di ruang UGD segala, kamarnya penuh screentone yang berkilau pula. Seakan-akan kondisinya benar-benar dalam drama tragedi yang mengenaskan, diambang hidup mati.
"Hm, apa sebaiknya sekarang aku pulang, ya? Bisa-bisa Yuu menungguku," guman Tsubasa sembari melirik jam di ponselnya yang sudah disetting seperti waktu di Hawaii. Sudah sore menjelang malam, sudah 5 jam Tsubasa disana tapi tidak ada tanda-tanda Jack akan sadar. Menghela nafas kemudian ia pun bangkit berdiri dari duduknya.
"Maaf tidak bisa menemani sampai kau sadar, tapi aku harap kau cepat sembuh," ucap Tsubasa dengan tulus tidak bermaksud apapun. Setelah pemuda itu berlalu dari kamar inap, mendadak saja screentone di ruangan itu memudar secara otomatis.
"OH MY GOAT, MY LOVE TSUBASA-KUN BAIK SEKALIIII! KA –KALAU SEPERTI INI AKU HARUS SAKIT SETIAP HARI AGAR MY LOVE TSUBASA-KUN SELALU DATANG MENJENGUUUUKKKK! AHHHHHH!" tidak perlu diberi tahu, pasti kalian tahu siapa yang berkata demikian.
...
Hening, pemandangan laut yang mulai pasang naik ditambah matahari terbenam ternyata begitu indah. Terlihat jelas di salah satu kamar di villa besar itu. Seseorang tengah menikmati pemandangan sendu itu melalui balkon kamar. Pemandangan yang indah, tapi juga bearti kesepian dan haru. Begitu mendukung seluk beluk perasaan sesosok figur yang nangkring nggak jelas di balkon itu. Sesekali hembusan angin menerpa helaian rambutnya juga gorden kamar yang bewarna merah transparan.
Suasana indah itu buyar seketika begitu seseorang menghampiri figur itu. Sosok itu dengan tidak berperasaannya langsung...
"Hei, mau sampai kapan kau disini terus? Makan sudah siap, pergi ke meja makan sana!" hardik Ryuga pada figur itu terkesan seperti mengusir. Ya, sebenarnya, sih, maksud Ryuga baik, menyuruh temannya makan malam. Tapi pemilihan katanya salah besar. Figur itu menoleh dengan tatapan sedih,
"Nggak bisa, aku nggak bisa makan tanpa ularku..." balasnya terdengar menusuk, terdengar begitu sedih dan memiluhkan. Hanya saja hal itu tidak mempan pada Ryuga yang notabene berhati panci. Mendengus malas, Ryuga pun mengambil tempat duduk disana.
"Untuk apa kau memikirkan makhluk panjang yang selingkuh itu, heh? Di supermarket juga ada banyak, kok! Buruan makan sana!" lanjut Ryuga sembari memandang remeh figur itu yang tak lain adalah Reiji. Anak berambut perak ini jadi ingat kalau di survival game tadi Reiji juga mengajaknya untuk... pergi lihat honeymoon? Oh, please... Ryuga ogah setengah mati!
"Yang di supermarket itu hanya mainan! Hanya yupii! Ta –tapi dia berbeda, sisiknya bercorak indah, lekuk tubuhnya elastis... Oh, begitu sempurna..." lagi-lagi Reiji melayang pada dunianya sendiri, Ryuga dibuat speechless karena itu.
"Teserahlah! Mau yang mainan, mau yang yupii, teserah! Anggap saja dia anakmu, lalu dia menikah! Sebagai orang tua bangkai, harusnya kau senang, bodoh! Bukan bersedih lebay seperti ini, ck!" kritik Ryuga sedikitnya mulai jengkel dengan kedramatisan Reiji yang tak ada henti-hentinya.
"MANA ADA ORANG TUA BANGKAI SENANG KALAU ANAKNYA MENIKAH DENGAN IKAN CUPANG, BELUT SAKTIII!" bentak Reiji kemudian dengan berlinang air mata. Bahkan mendadak di sekitarnya terdapat kilauan screentone, Ryuga cengo di tempat.
"Hei, jangan menyebut nama kebanggaanku! Anakmu sendiri ular, Reiji! ULARRR! Tidak ada salahnya 'kan mereka saling cinta? Yang sudah terjadi biarkanlah terjadi!" balas Ryuga tetap yakin pada pendiriannya.
"MANA ADA ORANG TUA BANGKAI SENANG KALAU KELEWATAN MELIHAT HONEYMOON ANAKNYAAAA!"
(backsound:...nya...nya...nya...)
Kalau kalimat pertama, sih, Ryuga masih mewajarkan kedramatisannya, tapi kalimat kedua membuatnya jawdrop di tempat. Orang tua sedih karena kelewatan melihat honeymoon anaknya sendiri? Jujur, walaupun Ryuga sedikit abnormal, namun...
"...Kau orang tua tersinting yang pernah kutemui, Reiji..."
...
Hari semakin gelap. Beberapa penghuni villa sudah melewati jam makan malam mereka dan kembali melakukan aktifitas masing-masing, kecuali Kyoya –yang baru ingin makan– lalu Ryuga dan Reiji yang masih sibuk berdebat di balkon kamar.
Ginga dengan cekatan meletakan piring-piring bersih yang baru dilapnya. Ya, hari ini giliran Ginga dan Masamune yang mencuci piring. Masamune yang memberi sabun dan membilas piringnya, sedangkan Ginga yang mengelap piring dan meletakannya kembali di tempat.
"Ginga, enaknya besok ngapain, ya? Apa kira-kira survival game itu diadakan ulang nanti?" tanya Masamune tiba-tiba memecahkan keheningan yang ada. Ginga menautkan alis zig-zagnya lalu terkekeh kecil.
"Hihihi, entahlah. Nanti tanya saja pada Hyouma. Tapi ngomong-ngomong tadi selama perlombahan main pecah semangka, Hyouma tidak kelihatan, kemana dia, ya?" tanya balik Ginga tiba-tiba merasa janggal. Masamune yang masih sibuk membilas piring pun mengerinyitkan dahinya.
"Iya, juga, ya. Tadinya aku kira dia masih menjaga tiga bocah itu, tapi begitu aku melirik ke tempat duduk mereka, mereka semua sudah tidak ada. Apa sudah pulang duluan, ya?" selidik Masamune lalu mematikan kran air. Semua piring sudah dibilasnya dan tinggal menunggu Ginga selesai mengelap piring-piring itu.
"Mana mungkin. Kata Madoka dan Mei Mei, mereka orang pertama yang sampai ke villa duluan, lalu baru kita pulang, setelah itu baru disusul Hyouma yang mengantarkan Yuu, Kenta, dan Chin Yun," sangkal Ginga kemudian. Anak berjaket hijau itu kemudian mengelap tangannya di celananya sendiri.
"Haah, mungkin Hyouma mengajak mereka keliling-keliling dulu supaya tidak bosan," sahut Masamune sedikit cuek. Ginga mengangguk ringan saja. Tapi dalam hatinya, anak beriris emas ini tetap curiga.
"Hmm..."
...
Tok Tok Tok
"Kenta, ini aku!"
"Ya, sebentar!" seru seorang bocah dari dalam kamar lalu berlari ringan menghampiri pintu kamarnya. Cklek...
"Ada apa? Niichan belum tidur? Atau mau main dulu?" tanya Kenta dengan polosnya. Yuu dan Chin Yun yang ternyata juga belum tidur pun melirik ke arah Ginga. Pemuda ini melirik ke beberapa kartu UNO yang berserakan di ranjang mereka.
"Hmm, ikutan main, deh!" jawab Ginga cari-cari alasan. Dengan lugunya Kenta mempersilahkan kakaknya masuk dan ikut bermain kartu UNO bersama lain-lainnya.
"Chin Yun curang! Sudah memang 10 kali! Aku cuma menang 6 kali!" sunggut anak berambut jeruk cemberut membuat Ginga sedikit sweatdrop. 10 tambah 6? Sudah berapa kali mereka bermain? Biasanya anak kecil cepat bosan dan tidur jam sekian.
"Heeeh, dibandingkan aku hanya 5 kali menang, Chin Yun memang hebat banget!" tambah Kenta dengan cahaya terpancar di wajahnya. Ginga pun bergabung bersama mereka bermain. Tapi kedatangan Ginga sebenarnya bukan untuk itu, tapi...
"Oh, iya, tadi saat survival game, kalian ngapain saja sama Hyouma?" tanya Ginga pura-pura mengalihkan pembicaraan mereka yang dari tadi sibuk mempersalahkan merah, kuning, hijau, biru, merah, kuning, hijau, biru, sampai Ginga yang mendengarnya pun serasa bewarna-warni.
"Main pasir. Seru banget, lho!" jawab Yuu tidak mengalihkan pandangannya dari kartu-kartu yang ada di tangannya. Tidak menyahut, Chin Yun dan Kenta mengangguk bersamaan.
"Oh, main pasir. Kalian buat apa saja?" tanya Ginga lagi lalu memulai gilirannya.
"Hmm, tadi kami bikin rumah keong yang besaaarrr banget supaya Hyouma-nii bisa masuk, terus juga bikin jus pasir, sama buat gado-gado pasir instan!" jawab Kenta bersemangat, tapi jawabannya membuat Ginga speechless.
"Hump, seru, deh," sahut Chin Yun dengan nada datar. Ginga manggut-manggut mengerti. Kini giliran Kenta.
"Tapi masa main pasir saja? Nggak bosan? Survival game-nya, 'kan, lumayan lama?" pertanyaan berikutnya membuat Chin Yun dan Kenta bergidik. Kelakuan yang janggal, pikir Ginga.
"I–iya, cuma main pasir saja, kok," jawab Chin Yun singkat lalu berpura-pura sibuk pada kartu yang ada di tangannya.
"Benar, nih? Kalau bohong, dosa, lho~" ujar Ginga setengah menakut-nakuti membuat si brunet hijau dan si kepang biru berkeringat dingin.
"Hmmm... itu..."
"Kami mengendap-ngendap menuju acara, Hyouma-nii menemani kami juga!" jawab Yuu tiba-tiba dengan senyum ceria menghiasi wajahnya. Ginga cengo sedangkan Kenta dan Chin Yun membatu.
"Me–mengendap-ngendap?" tanya Ginga merasa curiga. Kenta gemetaran hebat sampai kartu-kartu di tangannya terjatuh.
"Iya, setelah itu kami membunuh ba–" belum selesai Yuu menyelesaikan perkataannya, mulutnya langsung disumpal kartu oleh Chin Yun. Sontak anak beriris hijau itu tersedak kartu UNO.
"UHUK UHUK! A–APA YANG... UHUK UHUK! KAU LA–LAKUKAN, HAH?! HUEKK!" setelah berteriak setengah tersedak, Yuu langsung memuntahkan kartu-kartu itu. Sudah disumpal kartu, kesedak kartu, muntah kartu pula.
"Ehm, tadi ada jackpot di mulutmu jadi aku masukan kartu supaya tambah jackpot," jawab Chin yun asal-asalan. Padahal mengerti apa yang dikatakannya saja tidak. Dia betul-betul sama seperti Chao Xin, seniornya.
"Jackpot?!" seru Ginga jawdrop melihat aksi sumpal-sedak-muntah kartu yang baru saja terjadi.
"AHHHH! MULUTKU JADI RASA UNO, CHIN YUN! LIHAT, NIH! JADI MERAH, BIRU, HIJAU, KUNING! ARGGHHH! TANGGUNG JAWAB!" dengan itu Yuu berlari dengan mode slowmotion untuk balas dendam kepada Chin Yun yang refleks langsung meloncat ke ranjang.
"Yuu! Chin Yun! Ja–jangan bertengkar!" seru Kenta berusaha melerainya, tapi apa daya, begitu ia menghampir keduanya, ia malah didorong versi dramatis sampai terlempar ke dalam lemari yang terbuka.
BRUAAAAKKK!
"Kentaaaaa!" seru Ginga lalu berlari menghampiri adik sepupunya yang setengah sadar.
"Yuu, Chin Yun! Sudah cukup! Tadi kalian puas bermain pasir, 'kan? Jadi jangan berperang seperti ini!" seru Ginga berharap keduanya mau berhenti. Tapi harapan itu pupus sudah, bukannya berhenti, mereka malah menatap Ginga dengan pandangan preman hutan.
"TADI AKU TIDAK HANYA BERMAIN PASIR! TAPI AKU JUGA YANG MELEMPAR MOBIL KEPADA BANCI SARAP MAKE UP TEBAL ITU!" teriak Yuu yang untungnya tidak terdengar ke penghuni villa lainnya. Ginga langsung terbengong...
"A–apa... Jadi kamu yang... melempar mobil pada Jack? Hah! Jangan bercanda–"
"DIA TIDAK BERCANDA! DIA SERIUS BENAR-BENAR MELEMPARKAN MOBIL PADA MAKHLUK YANG MIRIP SETAN CHINA ITU!" sahut Chin Yun tidak kalah sewotnya dari Yuu. Keduanya kembali perang, membiarkan Ginga facepalm.
"Oh, jadi begitu, ya..." bisik seseorang. Ginga, Kenta, Chin Yun, dan Yuu langsung terperanjat kaget mendengar suara itu. Padahal pintu kamar dikunci rapat dan sudah dipastikan hanya ada mereka berempat. "...Persetan kau bocah tengik..." suara itu keluar lagi.
"Suara ini..." Ginga merinding jadi-jadian "...Jangan-jangan..." kemudian keempatnya melirik ke sekitar sampai pandangan mereka menatap ke arah...
"WHAT THE HELL OF MAMA?! DAMIAN!?" seru Ginga jawdrop sembari menunjuk ke arah Damian yang sedari tadi ternyata berada di... laci bagian pakaian dalam anak-anak.
"Apa yang kau lakukan disana, hah?!" tanya Ginga mengambil ancang-ancang untuk menghindar. Sebagai mantan yang distalker, Ginga harus was-was pada anak itu.
"Darimana kau masuk? Dasar penjahat! Maling pakaian dalam! Porno!" seru Kenta sembari menutup kedua matanya takut kesuciannya dirampas.
"MALING PAKAIAN DALAM? PORNO? BRENGSEK KALIAN, BOCAH-BOCAH TENGIK! AKU SUDAH MENDUGA PASTI KAU PELAKUNYA, ANAK RAMBUT JERUK MELEDAK SIALAN! GARA-GARA KAU, SURVIVAL GAME JADI BATAL, TIDAK DAPAT HADIAHNYA, MATAKU PUN HAMPIR KATARAK KARENA KAMAR INAP BANCI ITU, BRENGSEK! KUBUNUH KALIAN, GRAAAAAAAAAAAAHHHH!" dengan itu Damian meloncat dari laci pakaian dalam, bahkan tak jarang masih ada pakaian dalam yang menyangkut di tubuhnya. Dengan cepat ia berupaya mengejar Yuu.
"TIDAAKKKK! TOLOOONGGGG! AKU BELUM MAU MATI! TSUBASA NIICHAN PLEASE HELP ME! AKU LEBIH PILIH MATI DICIUM PUTRI SALJU DARIPADA HARUS DIJADIKAN PANCI SAMA DAMIAN-NII! HUWAAAAAA!" teriak Yuu dengan begitu mendramatis lalu keluar dari kamarnya mencari-cari Tsubasa.
"TUNGGU, KAU! JANGAN LARI, ANAK RAMBUT JERUK MELEDAK SIALAN! PERCUMA KAU MEMINTA PERTOLONGAN PADA ELANG! KAU AKAN BETUL-BETUL KUJADIKAN PANCI LALU KUJUAL KE TOKO ROTI, BRENGSEK!" dengan itu pun Damian berlari secepat kilat mengejar Yuu. Sisa Ginga, Kenta, dan Chin Yun yang hanya bisa facepalm.
"Entah mengapa, hari ini penuh dengan kedramatisan..." guman Kyoya yang sedang bersantai-santai di balkon kamarnya sembari menatap pemandangan Hawaii di malam hari. Mendengar suara ribut-ribut dari dalam villa membuat Kyoya berpikir demikian.
Liburan heboh mereka masih panjang...
.
.
TO BE CONTINUED
.
.
A/N(Cerbeast): Hiyaaaa, minna-san! Akhirnya BakaH update juga! Maaf, ya, kelamaan. Setelah update fic tetangga (baca: Inverted Cross) langsung update fic yang ini. Etto, apa chapter ini garing? ._. Semoga saja tidak mengecewakan minna-san sekalian, oke :D Setelah baca, jangan lupa review, ya! Komentar, kritik, dan saran, diterima dengan senang hati! X3 Kalau review chapter ini membuat review total jadi 300 (Amin, Amin! *plak*), saya akan mulai membuka request scene agi untuk fic ini, hehehe XDD Illusha-tachi sedang kuliah di Australia dan tidak membantuku membuat fic lagi, jadi fic ini murni buatan saya(Cerbeast), gomen kalau ada kekurangan, hehe :D Sekian bacot dari saya, langsung deh balas review! X33
SEND BACK REVIEW FROM YOU:
From Dwi93Jun Takahashi Chan : Thanks for review, nee! Gomenasai updatenya lama, tapi semoga chapter ini tidak mengecewakanmu :) Betty Lavea? Tahu, dong! XD Dulu banget pas Cerbeast masih 4 tahun-an sering lihat mama-nya nonton telenova itu XD *plak* Dan arigatou kritikannya, saya akan lebih berhati-hati lagi :D Review again!
From AN Kozato Gravity Spheres : Thanks for review, desu! Hehehe, di chapter ini Jack nggak gangguin Tsubasa kayak chapter kemarin, kok, hanya memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan *dihajar* Review again!
From Toni07 : Thanks for review, ya! :D Chapter kemarin bikin ngakak guling-guling? Hahaha, jangan sampai sakit perut saja, nggak tanggung, lho *plak* Bagaimana chapter ini? XD Hahaha, iya, deh, mobil yang kamu kasih link-nya itu sukses dilempar ke Jack di chapter ini, huahaha! *tawa nista* Saya usahakan update tepat waktu, desu! Review again!
From Kazekoori Nagare : Thanks for review, dayo! Jiakaka, ketawa saja sampai ada stok-nya, nih, jangan sampai habis saja, nanti kayak suiqward, kotak ketawanya hilang *ketahuan suka nonton spongebob* Soal Jack, dia memang memiliki cinta paling buka lebih daripada buta(?), jadi maklumi saja, oke! *ditendangJack* Review again!
From Shananah Dika Pyonh: Thanks for review, ne! Gomen updatenya kelamaan ;; Habis tugas sekolah dan tugas dunia maya saya super menumpuk, sulit untuk bisa update kilat X33 Walau ditimpa mobil bmw, Jack tetap hidup, kok, kan kalau nggak ada Jack, nggak ada banci lagi di fic ini *dihajar* Review again!
From AishIzawa Genk : Thanks for review, desu! Heh? Hamper nganggap fic ini tidak pernah ada? Wee, jahat, nih! *cemberut* Tapi saya maklumi, namanya juga fic fandom non-mainstream, fufufufu :D *dor* Semoga chapter ini juga membuatmu ceria kembali seperti chapter kemarin XD *Amin*. Saya usahakan terus update! :) Review again!
From Cekidot : Beres, bos! Saya akan terus update fic ini, haha! XD
From Laila Sakatori 24 : Thanks for review! Huahaha *tawa nista* Tunggu Jack sembuh baru kau jadikan dendeng nanti XD *mau nonton* (digebuk Jack). Kalau chapter kemarin Reiji bikin kamu speechless, chapter sekarang Reiji bikin kamu gimana, dong? *digigitular* Soal koreksinya, arigatou, ya! X33 Tangan saya kebelit tuh pas ngetik *halah alas an aja lu* Review again!
From Tokusatsu : Thanks for review! Jangan prihatin sama Jack disini, deh, daripada nanti kamu dimanfaatin kayak Tsubasa, hahaha *tawa nista* Review again!
From Sor Umi: Thanks for review! XD Chapter ini pun Reiji tetap tidak menyerah untuk melihat honeymoon ularnya, hahaha *plak* Review again!
From Lubis Tadani : Thanks for review! Gomen, ya, update-nya lama, soalnya setiap hari saya super sibuk, hehehe :D Semoga chapter ini memuaskanmu juga seperti chapter kemarin X3 Review again!
From Yun Mei Ho : Thanks for review! Gomen updatenya kelamaan, hehehe, soalnya puasa kemarin fic-fic saya juga libur :D Chapter kemarin memang banyak yang saya nistakan, fufufu *smirk* Bagaimana chapter ini? XD Saya menunggu komentar epic-mu, hahaha! Review again!
From Red BloodRiver : Thanks for review, desu! Nih, yang nangis dif b minta update, saya langsung update-lah XD *digebuk massal* Soal Reiji, memang super OOC sarap, dan disini dia memang orang tuanya ular, tapi seperti kata Ryuga, ortu sarap, huaahahahaha *tawa nista* (digigit Reiji). Fuu—Kecurigaanmu pada Yuu ada benarnya karena dia memang tersangka-nya XD *plakk* Review again!
From Zakuya Ritsunyan : Thanks for review, desu! Hehehe, mana bisa nggak hiatus lagi, soalnya kelas 2 SMA makin bikin saya kuper(?) sendiri sama tugas-tugas anehnya, jadi nggak bisa update kilat, deh, gomenasai! X33 Hahaha, Ryuga setuju sama kamu, tuh, Reiji orang tua sarap XDD *plak* Review again!
From Vina Kagamine Ootori: Thanks for review! Hahaha, sampai kedepannya pun Jack akan terus seperti itu, tetap nista, hahaha! *dihajar* Itu Yuu sudah memberikannya balasan dengan melempar mobil bmw, fufufu. Review again! XD
From Gummie Robot1698 : Thanks for review, desu! Chapter kemarin kocak? Hehehe, syukurlah kalau kenistaan karakternya tidak sia-sia *dihajar rame-rame* Semoga chapter ini juga menghiburmu, oke :D Review again!
From Rafa Yoshito Hyouma : Thanks for review, nee! Hyouma walau dicekik tapi masih bernafas, kok, tenang saja, hahaha XD Lalu soal Demure, dia nggak kurang ajar, cuma sedikit nista aja *dihajar Nile* Kyoya dan Tsubasa? Hahaha, tenang saja, nggak jadi gay betulan, kok, wkwkwk! Review again!
From AquaRing : Thanks for review! XD Waduh, makan es krim sampai 93 kali? Banyak amat, pantesan Nile jadi seperti itu ._. Semoga nunggu chapter ini nggak sekering nunggu chapter 10 kemarin, ya XD *plaked* Saya usahakan update cepat untuk chapter berikutnya, hehe! Review again!
From Liana Adivorgoreth Chukichu : Thanks for review! Hehehe, Ryuga sebenarnya stundere baik disini, hanya saja bahasa yang dipakainya salah total *dihajar*. Jack? Menyerah? Dia sampai kapanpun tidak akan menyerah, percuma berharap *dihajar* XD Ini sudah update, semoga membuatmu terhibur, hehehe *dor* Review again!
From Yandoremi : Thanks for review, nee! :D Waduh, capek, ya? Gomen, mungkin saya kerajinan ngetik fic-nya XD *plak* Fic saya selalu garing, kok, jadi hati-hati saja bacanya XD *plak* Beyblade lumayan terkenal, kok, banyak author Indo hebat lain di fandom ini, saya hanya newbie ^_^ Review again!
From Rezha056 : Thanks for review! :D Syukurlah fic nista ini membuatmu bersemangat, hehehe XD Waduh, jempolnya banyak amat, jempol siapa saja, tuh? *plop* Review again!
From DamianHart fans : Thanks for review, nee! Hehehe, nggak ada yang larang anda jadi psikopat kayak Damian, kok, malah bagus, tuh! XD *plop* Tebakanmu benar! Yang lempar Yuu, dan alas an ia melemparnya adalah ucapan Damian, hehehe XD Review again!
