DISCLAIMER :
Togashi-Sensei
Kurapika Kuroro (for the original fic, she permitted me to translate it)
PAIRING :
Absolutely KuroPika^^
SUMMARY :
After that fateful day, destiny seemed to cross their paths every now and then. – "Sekarang waktunya untuk kesepakatan kita."
WARNING :
FemKura. An Indonesian version for Nothingness by Kurapika Kuroro. Various rated. Now it's rated T for this chapter.
.
Happy reading^^
.
.
.
CHAPTER 11: PAIN
Cahaya matahari menerangi kamar yang berantakan itu, di mana darah dan pakaian yang sobek bertebaran. Di tengah-tengah kamar ada sebuah tempat tidur besar, memiliki ukiran kayu yang rumit di bagian kepalanya. Seprainya terbuat dari sutra dan beludru, akan terlihat sangat elegan jika tidak karena noda-noda darah, dan gadis pirang yang terlihat terbuang di atasnya.
Tiga ketukan keras di pintu membangunkan sosok yang tertidur itu. Gadis pirang itu tertidur sebentar; dia sangat lelah - secara fisik dan mental - karena aktivitas yang sangat kuat. Dia menggeliat di atas tempat tidur dan perlahan-lahan beranjak duduk.
'Kira-kira siapa itu?' ia penasaran.
Pintu pun terbuka, datanglah seorang wanita dengan rambutnya yang berwarna lavender. Raut wajahnya datar seperti pemimpin mereka. Langkahnya tanpa suara bagaikan kucing dan dia menjinjing kantong kertas yang menyebabkan suara gemerisik saat ia melangkah. "Ini," dia mendekati Si Pirang dan mengangkat tas berwarna merah muda. "...adalah pakaian dalammu...," dia berkata dan mengangkat tas berwarna coklat setelah menurunkan tas merah muda itu, "Dan di dalam sini adalah gaunmu," katanya tegas.
Kurapika tidak menjawab, walau demikian ia menerima kedua tas itu. Dia bersyukur telah membungkus dirinya dengan selimut sesaat tadi. 'Jika aku memilih untuk tetap telanjang...,' ia berhenti sejenak,'Aku akan terhina selamanya,' pikirnya. Jika penyelundup datang ke kamar dan melihatnya tergeletak di tempat tidur tanpa sehelai benang pun, akan sangat mengerikan. Kurapika tidak sanggup melihat mata wanita itu karena ia merasa sangat ternoda dan kotor.
Machi menatap gadis pirang itu yang menolak untuk melakukan kontak mata dengannya. Ia menatap Kurapika yang memiliki beberapa luka memar, masing-masingnya berwarna ungu tua yang tampak mencolok di kulitnya yang pucat. Dia masih tetap cantik tapi penampilan Si Gadis Kuruta yang bagaikan malaikat terlihat tidak layak berada di tempat tidur yang ia tempati sekarang, jika ada seseorang yang menanyakan pendapat wanita berambut lavender itu. Machi memutuskan untuk tidak berlama-lama memikirkan tawanan mereka dan melangkah menuju ke pintu. Dia baru saja akan menutup pintu itu saat dia mendengar sebuah bisikan lemah..."Terima kasih."
Machi berkedip dan berjalan menuruni tangga untuk bergabung dengan yang lainnya. Sosok terbuang Si Pirang hadir dalam benak Machi. 'Seorang gadis', pikirnya, 'Bukan Si Pengguna Rantai yang ada di kamar itu. Terlalu muda,' ia berkata dalam hati. Machi menatap Danchou mereka. Perasaan simpati yang aneh menyelimuti tubuhnya. Mengetahui sifat pemangsa Danchou-nya, Machi berani bertaruh bahwa luka-luka memar itu berasal dari cengkeraman maupun gigitan Kuroro. 'Pemangsa yang sedang mengalami kegilaan seksual bisa menjadi sangat berbahaya,' Machi mencatat. Untuk sesaat, ia merasa kasihan pada Kurapika. Machi ingin mengenyahkan pikiran itu, tapi perasaan itu membuatnya merasa tak nyaman. Dia ingin tahu apa rencana Danchou mereka untuk Si Kuruta. Machi berharap mereka bisa langsung membunuhnya, untuk mengurangi luka Si Pirang. Namun melihat tatapan kelaparan di mata Danchou Kuroro...mengatakan sebaliknya. Danchou menginginkan Kurapika hidup-hidup...
Machi merasa ragu tapi memaksakan diri untuk menghampiri Danchou mereka dan menanyakannya pertanyaan yang netral.
"Danchou...," ia berkata.
Kuroro yang sedang membaca buku menoleh dan menatapnya. Dia begitu mengintimidasi walau sedang bersantai di sofa. Cara pria itu membawa diri, dengan kepercayaan diri dan kebanggaan, membuat siapapun berpikir sebelum bicara padanya. Machi menarik napas dan membisikkan pertanyaanya, "Berapa umur Si Kuruta?" Dia berharap Nobunaga tidak akan mendebat pertanyaanya...dan setelah tiga detik lamanya dia bersyukur samurai itu tetap diam.
"Tujuh belas tahun atau bahkan lebih muda," Danchou mereka menjawab dengan tanpa ekspresi.
"Oh." Machi tidak menemukan tanggapan yang cocok, bagaimana seharusnya dia menindaklanjutinya? Machi berdiri di samping tempat Kuroro duduk dan melamun.
"Bersiaplah untuk misi kita hari ini," Kuroro mengumumkan. 'Bukannya kita tak memerlukan persiapan lain,' batinnya.
"Kelompok pertama, pergilah sekarang, dan pastikan teman Si Kuruta siap dengan kunjungan kita." Kuroro membalik halaman buku yang sedang dibacanya.
Phinks dan Nobunaga menghilang dari pandangan. Machi menghela napas dan memutuskan untuk tidak memaksakan hal yang seharusnya tidak ia sentuh.
'Kenapa aku bahkan peduli untuk memikirkannya? Tiba-tiba merasa simpati?' komentarnya sinis.
Seharusnya Machi tidak mencampuri rencana Danchou mereka. Si Pengguna Rantai sekarang adalah milik Pemimpin Ryodan.
.
.
Sepasang mata berwarna zamrud menatap dengan skeptis tas yang diberikan padanya. Dengan selera fashion Kuroro, Kurapika merasa malu memikirkan apa yang mungkin ada di dalam tas itu. Dengan ragu ia menatapnya. Dia menarik tas berwarna merah muda dan memegangi pakaian dalamnya dengan jijik.
Pakaian dalam merah bertepi renda hitam terkesan provokatif. Pasangan pakaian dalam itu, sebuah brassiere dengan hiasan yang sama dan tali renda membuat Kurapika mengernyit.
'Aku tak akan memakainya!' protesnya dalam hati.
'Kau tak punya pilihan lain...,' bagian lain dari dirinya berkata.
"Baiklah," ucap Kurapika seolah mengenyahkan pertentangan dengan bagian lain dari dirinya.
Si Gadis Pirang mengintip ke dalam tas coklat dan berharap pakaiannya pantas. Apa yang dilihatnya adalah...
Hitam, seperti yang sudah diduga melihat dari selera Kuroro. Kurapika memandanginya geram dan menatapnya dengan teliti. Gaun itu berkerah V; berlengan princess, dan rok berlipit. Kurapika berdiri dan mengangkat gaun itu untuk mengukur panjangnya. Alis mata kirinya melengkung saat dia menyamakan gaun itu dengan tubuhnya. Panjangnya sebatas lutut.
Kurapika membuka ke tas itu lagi dan melihat sebuah aksesoris tebal yang terbuat dari kulit. 'Apa ini?' Gadis itu mengambilnya dan mengamatinya dengan bingung. "Oh..." Ada sesuatu dari logam di ujungnya dan beberapa lubang. Sebuah sabuk.
Kurapika meletakkan gaun itu dengan rapi di atas tempat tidur dan melangkah menuju ke kamar mandi. Dia pun masuk dan mencari peralatan mandi, lalu menemukannya dalam jumlah yang banyak di lemari. Kuroro memastikan semua kebutuhannya terpenuhi, Kurapika menghela napas. 'Pria itu,' ucapnya dalam hati sambil mengamati barang-barang itu satu-per satu; handuk, sampo, sabun, lotion wangi, parfum...semua yang dibutuhkan perempuan; Kurapika penasaran dan membaca sebuah tube.
"Body scrub...," ia meringis.
Kenapa dia akan membutuhkan benda seperti itu? Sampo dan sabun saja sudah cukup.
Kurapika melepaskan selimut yang membungkus tubuhnya dan kembali ke kamar mandi. Ia mengambil spons yang sudah diberi sabun. Meremasnya hingga berbusa lalu menggosok tubuhnya dengan itu hingga kulitnya berwarna kemerahan. Jika bisa Kurapika ingin mengelupas kulitnya, untuk membersihkan tubuhnya dari sisa-sisa Kuroro.
Saat Kurapika berpikir tubuhnya sudah bersih, ia mengambil handuk dan mengeringkan tubuhnya. Gadis itu keluar dari kamar mandi dan mulai berpakaian. Lingerie berwarna merah itu terlihat begitu...kinky; Kurapika mengerutkan hidungnya dan mulai memakainya. Setelah selesai, dia menatap bayangannya di cermin.
'Ini bukan aku!' matanya membelalak. "Kuroro mesum," gumamnya.
Setelah menatap bayangannya sejenak, Kurapika menghela napas saat menyadari tak ada apapun yang akan berubah.
'Aku akan memakai gaunnya kalau begitu.' Kurapika mengambil gaun itu kemudian kembali melihat ke cermin.
"Terlihat pantas...," ucapnya sambil tersenyum dan memakai sabuknya.
Kurapika berkedip. 'Ada yang hilang,' pikirnya.
'Di mana sepatuku?'
Kurapika mencari sepatunya di seluruh kamar. Mungkin Machi sudah meletakkannya di suatu tempat. Gadis itu melihat ke bawah tempat tidur, di dalam laci dan lemari. Ketika Kurapika tetap tak bisa menemukannya, ia mnghempaskan tubuhnya ke tempat tidur dan mengernyit. Kuroro tak pernah mengabaikan hal seperti ini, mungkin pria itu merencanakan sesuatu, dan Kurapika menjadi semakin marah.
'Aku akan menunggu mereka memberikannya padaku kalau begitu.'
Kuroro membuka pintu kamar di mana Kurapika berada. Dia tak peduli jika gadis itu sedang berpakaian atau berjalan dalam keadaan telanjang sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk. Ia berharap melihat yang terakhir tapi Kurapika memupus harapan pria itu karena dia sudah selesai berpakaian.
Mata Kuroro tertuju pada Kurapika. Gaun itu menonjolkan warna kulitnya; kontras dengan warna gaun yang ia kenakan. Objek gairahnya sedang duduk di tepi tempat tidur sambil melihat entah ke mana tak menghiraukan kehadiran Kuroro.
'Jadi Tuan Putri-ku memutuskan untuk mengabaikanku.'
Kuroro berjalan dan berhenti di hadapan Si Kuruta, membuat gadis itu berkedip. Kuroro berlutut dan membuka kotak yang dibawanya.
Kurapika melihat pria itu dan mengamati gerakannya. Dia melihat sepasang sepatu berhak datar dengan pita besar berwarna hitam di atasnya.
Kuroro mengambil sepatu sebelah kiri dan meraih kaki kiri Kurapika dengan lembut. Dengan hati-hati ia pasangkan sepatu itu di kaki Si Pirang. Kuroro tersenyum dan terlihat puas...sepatu itu melengkapi segalanya; gaunnya dan Si Kuruta.
Sementara itu, Kurapika ingin sekali menendang Kuroro namun ia memutuskan untuk tidak melakukannya. Dingin. Bersikaplah dingin.
Kurapika berusaha tenang saat merasakan tangan Kuroro menyentuh kulitnya.
Kuroro memasangkan sepatu yang satunya lagi dan menyentuh kaki kanan Kurapika. Tangannya terus naik hingga ke paha gadis itu lalu berhenti.
'Sekarang bukan waktunya, Kuroro...,' ia meyakinkan diri dan menarik tangannya kembali.
Kurapika menjadi gugup karena tindakan pria itu. Dia benar-benar ingin memutilasi lengan Kuroro sekarang. 'Andai bukan untuk Senritsu dan yang lainnya,' pikir Kurapika lalu ia memandang Kuroro.
Kuroro berdiri dan mengulurkan tangannya.
"Ayo pergi, Putri..."
Nada suaranya terdengar menawan, namun wajahnya tak menunjukkan apapun.
'Brengsek.'
Dia dapat melihat Kuroro sedikit memicingkan matanya karena apa yang ia lakukan. 'Ini permulaan yang baik,' Si Pirang menyemangati dirinya sendiri dan berdiri di hadapan pria itu.
Kuroro menarik kembali tangannya yang ditolak oleh Kurapika dan memasukkannya ke saku mantelnya. Ia berbalik dan berjalan lebih dulu.
"Ikuti aku," Dia berkata dengan monoton kepada Si Pirang.
Kurapika melangkah di belakang pria itu dan mengamati tempat di mana mereka sedang berada sekarang. Tempat itu terbuat dari kayu - mahogani berwarna gelap dengan ukiran yang rumit. Pandangannya tertuju ke setiap bingkai cermin yang tergantung di dinding.
'Terlalu mewah untuk sebuah penginapan', batin Kurapika saat melihat betapa detailnya ukiran yang mungkin adalah hasil pekerjaan tangan seniman itu.
Pengamatannya buyar saat mereka berjalan menuruni tangga. Kurapika merasakan sensasi kesemutan di kakinya ketika bergerak menuruni tangga.
'Yeah...lelah karena semalam,' ucapnya dalam hati dengan sinis.
Apakah Kuroro terlalu cepat berjalan atau dia yang memang lambat?
Kurapika menatap punggung Kuroro yang sekarang ada di anak tangga paling bawah. Dia berbelok ke kanan, dengan perlahan dan tanpa suara seperti seorang pencuri.
'Dia memang pencuri.' Kurapika memelototi punggung Kuroro dan mengikutinya.
Setelah mereka keluar dari tempat itu, Kurapika memperhatikan ada sebuah mobil hitam menunggu mereka. Kuroro membuka pintunya dan mengisyaratkan pada Kurapika untuk masuk. Kurapika menatap pria itu lalu masuk ke dalam mobil. Dengan tenang dia duduk di jok belakang dan menatap kaca spion.
Kuroro menutup pintu itu dan duduk di samping supir.
"Danchou...Nobu dan Phinks sudah ada di hotel," kata orang berambut pirang pasir itu.
"Bagus sekali, ayo kita pergi," perintah Kuroro.
"Ya Danchou!" jawab orang itu sambil menyalakan mobil.
'Dia pasti Shalnark,' Kurapika meliriknya dari kaca spion.
Menilai nada suara anggota Ryodan itu, suaranya menunjukkan rasa percaya diri. Percaya diri bahwa mereka telah melakukan apapun yang diperintahkan Danchou-nya.
Kurapika duduk menyamping dan mengantisipasi bagaimana jika temannya masih hidup. Tapi sesuatu mengganggu gadis itu hingga ia tak bisa berpikir dengan benar. Kurapika tersentak. Seseorang sedang mengamatinya! Kurapika melirik ke arah kaca spion dan melihat wajah Kuroro. Pria itu sedang memandanginya! Kurapika merasa tak nyaman karena tatapan Kuroro, ia memutuskan untuk memejamkan matanya dan berpura-pura mengantuk.
'Tidak...jangan melihatku seperti itu!' ia memohon dalam hati.
Kurapika menghela napas dan membuka matanya. Dia berharap Kuroro tidak terus-menerus menatapnya.
'Dia selalu melihatku saat sedang lengah!'
Kurapika tersentak saat melihat pria berambut hitam itu masih menatapnya.
'Bagaimana caranya aku berpura-pura tidak melihatnya?' pikir Kurapika. 'Bagaimana caranya aku berpura-pura tidak melihat gairah di matanya?' Kurapika bertanya-tanya.
'Kau akan terbiasa!' Kurapika berjanji pada dirinya sendiri sambil menegakkan posisinya. 'Kau akan bisa segera membalasnya.'
Hotel Hackett, pk. 10:30
Kurapika membuka pintu mobil dan berdiri di samping Kuroro. Mereka memasuki hotel dan melangkah dengan santai seperti yang dilakukan orang biasa. Dari pandangan orang lain, mereka nampak seperti wisatawan, tak ada seorangpun yang akan mengira bahwa mereka adalah pencuri - kecuali Kurapika yang merupakan 'tawanan' mereka.
Kurapika mengamati tempat itu. Lobi hotel tersebut dingin dan bercahaya remang-remang. Cahaya matahari merefleksikan kemegahannya ke cermin-cermin yang menghiasi tempat itu. Lalu mereka melangkah menuju ke lift. Kurapika pikir dia bisa melarikan diri tapi Senritsu akan mati jika dia melakukannya.
'Yah, itu pun jika Senritsu masih hidup,' ucap Kurapika dalam hati.
Kuroro menekan tombol lift. Sesaat kemudian, pintu lift itu terbuka dengan seorang elevator man di dalamnya.
"Lantai enam belas," Shalnark memberitahu orang itu.
'Apakah Senritsu baik-baik saja?' Kurapika bertanya-tanya saat lift mulai bergerak naik dengan perlahan.
Kuroro mungkin sudah menggenggam pergelangan tangannya beberapa saat yang lalu.
'Aku tidak menyadarinya!'
Apakah dia terlalu asyik memikirkan temannya atau Kuroro memang secepat itu? Matanya membelalak saat dia melangkah terhuyung-huyung di belakang Kuroro.
"Berhenti menyeretku!" kata Kurapika walaupun orang-orang bisa mendengar mereka.
Shalnark berkedip melihatnya.
'Mereka seperti pasangan yang sedang bertengkar,' ia tersenyum dan melangkah mengikuti.
.
.
Senritsu gelisah seperti seekor kelinci yang dikelilingi serigala. Wanita itu duduk di kursi empuk yang besar, kekhawatirannya membuatnya merasa seolah terbakar di kursi itu. Saat Senritsu merasakan beberapa orang yang ada di sana merasakan gerakannya, dia segera menempatkan kedua lengannya di pegangan kursi itu dan menegakkan posisinya. Dia cemas. Suara detak jantung mereka terdengar mematikan. Keras dan dingin, inilah suara detak jantung para anggota Ryodan - yang selalu menunjukkan kematian; dia tahu orang-orang itu bisa membunuhnya sekarang juga.
'Namun detak jantung mereka menunjukkan bahwa mereka tidak bermaksud untuk membunuhku.'
Senritsu pun berusaha lebih tenang sedikit. Dia memandangi mereka satu persatu. Pria tak beralis yang berdiri di sebelah kanannya sedang membahas Pulau Greed dengan pria bertopeng. Senritsu mendengar pria itu menyebutkan namanya...Feitan.
Di sebelah kirinya adalah seorang samurai. Itu jelas sekali karena ia punya rambut yang berkuncir, mengenakan kimono, sandal kayu, dan tentu saja...membawa pedang. Detak jantungnya terdengar penuh amarah seperti singa yang mengaum untuk balas dendam. Balas dendam, saat mengucapkan kalimat itu Senritsu tiba-tiba teringat Kurapika.
Senritsu terus mendengarkan semua suara yang mungkin saja penting ketika...
Mata Senritsu membelalak. Dia dapat mendengar detak jantung Kurapika. Senritsu memperkirakan bahwa gadis pirang itu sedang bergerak mendekat, dan Kurapika tidak sendiri, tapi dia bersama dua orang Ryodan.
Dan ketika pintu terbuka, masuklah seorang pria dengan raut wajah dingin dan mengenakan pakaian serba hitam. Dia memegangi pergelangan tangan pasangannya, yaitu gadis pirang yang juga mengenakan pakaian berwarna sama - kemarahan terlihat jelas di wajahnya.
"Kami di sini!" orang ketiga yang memasuki kamar itu berkata sambil menutup pintu.
Kuroro mengijinkan Kurapika membebaskan tangannya darinya. Dia berbalik dan menatapnya.
"Dia masih hidup," kata Kuroro datar.
"Kurapika!" Senritsu berdiri dan dan baru saja akan menghampiri gadis pirang itu ketika si pria tak beralis menghalangi jalannya.
Kurapika membelalakkan matanya pada Phinks.
"Kau!" bentaknya.
Kuroro mengisyaratkan anak buahnya itu untuk mengijinkan Senritsu menghampiri Kurapika.
"Baiklah...," Phinks menyeringai dan bersiul.
Kurapika memegangi wajah Senritsu dan menatapnya. "Kau masih hidup!" Kurapika benar-benar lega melihat temannya masih hidup, semua organ tubuhnya menyatu, tidak ada kerusakan emosional. Utuh dan hidup...seperti yang Kuroro janjikan.
"Ya, Kurapika...aku masih hidup dan aku baik-baik saja," bisik Senritsu.
"Sekarang...," Kuroro menginterupsi reuni kecil mereka dan melanjutkan ucapannya, "Waktunya kesepakatan kita."
Kurapika memicingkan matanya. "Ya...benar," katanya datar.
Kuroro berbalik menghadap ke arah para anak buahnya.
"Kalian bisa pergi sekarang, semuanya sudah beres. Siapkan diri kalian karena kita akan melanjutkan misi yang sempat tertunda. Segera pergi ke tempat persembunyian kita," perintahnya.
Semua anggota Ryodan menghilang dari pandangan. Mereka memiliki kemampuan untuk menghilang dalam waktu sekejap saja. Kurapika sangat bersyukur akan hal ini. Dia bisa lebih tenang karena tidak ada anggota Ryodan yang bisa menyaksikan dirinya dipermalukan oleh Danchou mereka.
"Kau milikku...," Kuroro tersenyum sambil menunjuk Kurapika.
"Ya...aku milikmu!" Kurapika mengertakkan giginya.
Senritsu merasakan ada sesuatu yang sangat menyakitkan di suara detak jantung mereka. Cinta dan benci, penyangkalan dan sikap acuh tak acuh, wanita bertubuh kecil itu menghela napas saat menyadarinya. Andai saja Kuroro dan Kurapika mengakui bahwa cintalah yang ada di balik kebencian dan sikap acuh tak acuh itu, peristiwa ini tidak akan menjadi begitu kejam seperti sekarang.
"Asal kau tidak menyakiti teman-temanku dengan cara apapun...," pernyataan Kurapika mengembalikan Senritsu ke dalam percakapan yang terjadi di antara gadis itu dan Kuroro.
"Tentu saja...," jawab Kuroro sambil tersenyum.
Kurapika menghela napas dan menatap Senritsu.
"Senritsu," ia mulai bicara lagi lalu melirik Kuroro. "Jangan sampai yang lain tahu..."
"Tapi Kurapika!" protes Senritsu pada gadis pirang itu.
"Akulah yang akan memberitahu mereka apa yang terjadi, kau jangan memberitahukan apapun. Kumohon Senritsu..."
Untuk sesaat, nada suara Kurapika berubah menjadi lembut. Dengan ragu Senritsu mengangguk padanya. Betapa takdir bisa begitu berubah seperti ini. Senritsu melirik Kuroro lalu menatap Kurapika.
"Kami akan meninggalkanmu sekarang," kata Kuroro santai sambil meraih pergelangan tangan Si Pirang.
"Kau tak perlu menyeretku!" protes Kurapika.
"Baiklah." Kuroro melepaskan cengkeramannya di lengan Kurapika lalu berjalan di sampingnya.
"Selamat tinggal Senritsu...," Kurapika berbisik tanpa menoleh.
TBC
.
.
A/N :
Review please...^^
