CHAPTER 11 (Memori yang Hilang)

"Ugh, aku di mana?" aku menatapi sekitar, gelap. Aku tidak bisa melihat apapun.

'Ugh, sakitt...' aku memegangi kepalaku, pening sekali. Tapi, badanku sudah tidak sesakit tadi, syukurlah.

'Kenapa gelap begini ya? Kenapa aku bisa di sini? Arghh... aku enggak ingat! Sial!'

"Halo? Ada orang di sini?" aku mencoba memanggil seseorang.

Hening.

"Argh! Sialan! Di mana lagi aku?"

"Atsuko?" tiba-tiba ada suara dari kejauhan memanggilku.

Aku celingak-celinguk, mencari asal suara. Ahh... percuma, di sini gelap. Aku tidak bisa melihat apapun.

Tap tap tap

"Siapa itu?!" seruku, bulu kudukku meremang.

Suara langkah kaki itu semakin mendekat dan semakin keras bunyinya. Sekerjap cahaya mulai terlihat, semakin medekat dan semakin terang. Dengan sedikit ragu, aku berdiri menghampiri cahaya itu.

"Atsuko..." cahaya itu berbicara, bukan, ada seseorang di cahaya itu.

Aku melindungi mataku dengan tangan. Cahayanya silau bukan main. Butuh waktu bagi mataku untuk menyesuaikan dengan keadaan. Aku mengedip beberapa kali, dan aku melihat orang itu.

"Levi? LEVI?! Benarkah itu kau? Aku tidak sedang mengkhayal, kan?" aku melompat kegirangan dan memeluknya tanpa pikir panjang.

"Tentu saja ini aku, bodoh," Levi membalas pelukanku.

Tiba-tiba saja aku merasakan air mata memenuhi mataku. Aku berusaha menahannya, tapi tetap saja air mata itu jatuh.

"Levi... hiks. Aku lega sekali bisa bertemu denganmu lagi," air mataku membasahi baju Levi.

Levi mengelus rambutku. "Hei, jangan menangis. Untuk apa kau menangis? Dasar cengeng!"

"Levi, panggil aku 'cewek sialan'! Sekali saja, aku rindu panggilan itu," aku cepat-cepat menenangkan diri dan menyeka air mataku.

Nafas hangat Levi terasa menyapu rambutku. "I love you, I'll protect you cewek sialan."

Mataku melebar, rona merah muncul di pipiku. Aku mendongak, menatap Levi.

"Aku juga. Aku juga Levi!"

Levi melepas pelukan, menatap mataku dengan dalam. Dan tersenyum, benar-benar tersenyum. Aku membalas senyumannya.

"Aku ingin mengatakan sesuatu selagi kita bertemu, aku merasa... ini perjumpaan terakhir kita."

Levi terkejut mendengar perkataanku. "Bicara apa kau? Kita pasti akan bertemu lagi, ingat perjodohan itu kan? Kita pasti akan lulus SMA dan menggapai impian kita, kemudian menikah dan hidup bahagia. Jangan katakan hal seperti itu!"

Aku hanya tersenyum. "Aku... lega bisa bertemu denganmu. Aku bahagia kau mau menghabiskan waktumu untukku, cewek bodoh ini. Aku lega kita dijodohkan. Dan, aku bersyukur sangat bersyukur bisa mencintaimu," aku tersenyum namun berlinangan air mata. Aku cepat-cepat menyekanya.

"Aku senang mendengarnya. Tapi, jangan bicara seolah kita akan berpisah."

"Maafkan aku atas apa yang ku lakukan hari itu. Aku sudah membentakmu dan aku bilang aku membencimu. Tapi semua itu ku lakukan untuk menghindarkanmu dari masalahku. Maafkan aku atas semuanya dan terimakasih kau sudah memilihku," aku tersenyum namun air mata mengalir deras menuruni pipiku.

"Atsuko, jangan katakan hal seperti itu. Aku sudah bilang kalau kita pasti akan bertemu lagi, jadi-"

Tiba-tiba semua berguncang, seperti ada gempa. Aku kehilangan keseimbangan dan jatuh terduduk.

"Ada apa dengan gempa sialan ini!?" seruku berusaha berdiri.

"Atsuko," Levi mengulurkan tangannya. Semua terus berguncang sehingga aku kesulitan menggapai tangan Levi.

Tiba-tiba lantai tempatku duduk retak. "Atsuko!" cahaya meredup, bersamaan dengan itu, Levi perlahan menghilang.

'Mungkin ini memang yang terbaik untuk kami. Selamat tinggal Levi...'

Aku tersenyum ke arah Levi, bersamaan dengan itu lantai sekitarku rubuh dan aku terjatuh entah kemana.

# # #

"Atsuko... kau masih hidup kan? Atsuko?" aku mendengar suara perempuan, dia memanggilku.

Aku membuka mataku perlahan. Ugh, kepalaku masih saja pening. Aku mengedipkan mataku beberapa kali untuk memperjelas penglihatanku. Aku melihat sekeliling, dunia putih kanvas memenuhi penglihatanku. Setidaknya ini tidak gelap seperti sebelumnya. Perempuan itu menatapku.

"Akh..." desahku.

"Ahh... syukurlah kau masih hidup," perempuan itu membantuku duduk.

Aku melihat wajahnya, dan melenguh. "Kau, kau itu aku kan? Kenapa wajahmu mirip sepertiku?" aku memegangi kepalaku.

"Perkenalkan, aku Atsuko. Sisi lain dari dirimu," perempuan itu mengulurkan tangannya.

"Hahahahahahahahaha," aku tertawa. "Jangan bercanda," aku memelototi perempuan itu.

Perempuan itu menatapku bingung. "Aku tidak bercanda. Aku adalah sisi lain dari dirimu, jadi namaku juga Atsuko."

"Aku masih tidak percaya, lakukan sesuatu yang bisa membuatku percaya," aku menyilangkan kedua tanganku di dada.

"Baiklah..." perempuan itu menjentikkan jarinya.

Tiba-tiba dinding bata muncul di hadapan kami. Apakah dia pesulap? Aneh...

"Bagaimana bisa? Apa yang ingin kau lakukan dengan itu?" aku mencoba berdiri. "Ukh..." aku memegangi kepalaku.

"Duduk dan lihatlah. Pastikan kau tidak berkedip," perempuan itu membalikkan badannya ke arah dinding.

"Oke..." aku duduk dan memastikan mataku tidak berkedip.

Brak!

Dinding bata itu hancur berkeping-keping. Aku terbengong-bengong melihatnya.

"Bagaimana? Kau percaya kan sekarang?" perempuan itu menghampiriku.

"Aku tidak mengerti, sama sekali tidak mengerti."

"Sheesh... kau tidak mengerti?" perempuan itu mendesah. "Ingat saat kau merusak tali tambang?"

"Tali tambang? Aku tidak ingat pernah merusak tali tambang. Apa kau- agh... sakitt!" aku berguling-guling. Kepalaku tiba-tiba sakit, lebih parah dari sebelumnya. "Ada apa dengan kepala ini? Sial!"

"Kalau begitu, aku bisa menunjukkannya," perempuan itu menjentikkan jarinya lagi.

Dunia putih kanvas ini berubah. Aku masih memegangi kepalaku, sakitnya tidak berkurang sama sekali.

"Ap- apa yang kau la-lakukan? Hah hah hah," aku menarik tangan perempuan itu.

"Membuatmu mengingatnya. Kepalamu sakit ya? Bertahanlah, mungkin ini sedikit lama. Dan, jangan khawatir aku juga memberi waktu istirahat," perempuan itu menatapku.

'Apa maksudnya? Agh, menyebalkan sekali!'

"Ingat kejadian ini?" perempuan itu menunjuk, umm... aku?

"Itu aku? Akh!" aku memejamkan mata untuk mengurangi rasa sakit. "Hahh... aku ingat. Aku ditangkap Ralph dan Yuki kemudian disiksa. Levi datang menolongku, dia juga disiksa. Kemudian, aku marah dan... merusak tambang pengikat punyaku dan Levi."

"Kau tahu siapa yang merusak tambang itu?" tanya perempuan itu, pandangannya menuju ke kejadian di tempat persembunyian Yuki dan Ralph.

"Aku kan."

"Bodoh, kau tidak merasa aneh tiba-tiba ada semacam energi yang mengalir ke seluruh tubuhmu saat kau kehilangan banyak darah? Yang merusak tambangnya adalah aku, sisi lain dari dirimu," perempuan itu menatapku. "Aku hanya muncul saat kau marah, benar-benar marah. Aku memiliki kekuatan untuk menghancurkan semua benda, mungkin manusia akan mati kalau aku mengerahkan seluruh tenagaku untuk menghajarnya."

'Iya juga ya. Saat itu aku kehilangan banyak darah, tetapi aku bisa merusak tambang. Mungkin perkataannya memang benar.'

"Kekuatan yang kau maksud itu kekuatan super?" tanyaku.

"Kau boleh menyebutnya begitu," dunia kembali menjadi putih kanvas.

"Bagaimana kau bisa ada di dalam diriku?"

"Entahlah, aku juga tidak tahu."

"Kalau begitu, mimpiku yang itu. Kau yang membunuh Sanes?"

"Lebih tepatnya, KITA. Kau tidak bisa menyalahkanku sepenuhnya. Kau juga salah, seharusnya kau bisa lebih mengontrol emosimu," perempuan itu menyilangkan tangannya di dada. "Mau ku perlihatkan memorimu yang lain?"

"Memoriku yang lain? Dari kehidupan sebelumnya?" tanyaku bersemangat.

"Kau bersemangat sekali ya," perempuan itu tersenyum. "Tapi berjanjilah padaku kau tak akan menyesali apapun saat aku menampilkan memorimu. JANGAN SESALI APAPUN! Mengerti?"