Permulaan hari itu disambut oleh dua saudara yang sepanjang malam hanya duduk diam menatap kosong perapian. Mereka sudah menguburkan Atropa. Hanya keluarga dekat yang hadir dan mereka seolah tidak dipedulikan oleh tuan rumah yang baru. Uncle Harry mengurus segalanya hingga para tamu pulang lalu setelahnya ia menatap sendu pada mereka berdua.
"Kalian mungkin tidak mau bicara padaku juga. Dan akupun tidak akan membela diri." Ia mendesah, "Aku memang tidak bisa berbuat apa-apa. Aku minta maaf untuk itu. Aku..." Harry menarik nafas dalam, mengerjapkan kedua matanya yang mulai basah. Ia lantas tersenyum lemah. "Aku akan datang lagi." Sebelum pergi ia menaruh tangannya di puncak kepala perak Scorpius, namun remaja itu sama sekali tidak mengangkat wajahnya. Sorot mata Harry jatuh dalam kesedihan, ketika ia berbalik dan meninggalkan manor itu.
Kemudian haripun berganti dan dunia yang tak hancur di hari kematian orang yang sangat disayangi bukanlah hal yang baru. Sejak kematian Orpheus Atropa, Elliot dan Scorpius tidak bertanya lagi kenapa dunia tidak hancur saja agar mereka bertiga bisa bersama Orpheus. Mereka tidak bertanya kenapa waktu terus berjalan padahal Orpheus sudah meninggalkan mereka. Tidak lagi. Dan Elliot dan Scorpius juga sekarang tidak menanyakan kenapa mereka masih bisa hidup padahal Atropa kini sudah meninggalkan mereka.
Bersama dad dan mum di langit, Orpheus dan Atropa sudah pergi ke sana. Yang tertinggal di manor yang sepi hanyalah Elliot dan Scorpius, serta para Peri Rumah yang hanya bisa mengintip dengan mata besar yang berkaca-kaca.
Lalu musim panas akhirnya datang. Anginnya yang terasa kering menerpa wajah Elliot saat ia duduk di bukit kecil, memandang jauh ke arah Hutan Terlarang. Kesendirian yang menjadi temannya ketika Scorpius berada di kelas dan tidak bisa menemaninya.
Scorpius selalu mengingat sosok punggung Elliot yang seolah menceritakan kesedihan dan rasa kesepiannya. Terkadang kakaknya yang memiliki rupa seperti ibunya itu mengernyitkan kening seolah tengah kesakitan. Apakah yang sudah menyakitinya?
Scorpius pernah bertanya demikian, namun Elliot hanya tersenyum tipis, mengabaikan pertanyaannya.
Namun, seharusnya Elliot menjawabnya agar Scorpius bisa mempersiapkan hati.
Sore itu matahari mulai condong ke barat. Angin yang berhembus di sore masih lebih baik daripada saat matahari sednag terik-teriknya di atas kepala. Elliot dan Scorpius yang dulu tidak lagi berkumpul bersama teman-teman mereka, kini semakin menutup diri dan tidak bergaul dengan siapapun. Menjadi pendiam, dingin, dan keberadaan yang terasa jauh. Kemudian, di hari ketiga ketika musim telah dimulai, Elliot jatuh sakit.
Karena itulah, seharusnya Elliot dulu menjawab pertanyaan itu agar Scorpius bisa mempersiapkan hati.
Saat remaja berambut perak itu memandang dengan sorot mata yang begitu lelah. Dengan air mata yang menetes-netes tanpa henti memandang wajah Elliot Malfoy yang tertidur di atas ranjang pesakitannya.
Tanpa bisa ditahan, pertanyaanpun terdengar dalam gumaman,
"...apakah kau akan meninggalkanku juga?"
.
.
.
THE OLDER BROTHER
Rozen91
Harry Potter © J. K. Rowling
Mahoushoujo Kazumi Magica -The Innocent Malice © Hiramatsu Masaki & Magica Quartet
[kakak kami, Orpheus Alexandre Malfoy,
kau adalah pilar sejati keluarga ini.
Kami tidak ingin berpisah darimu.]
.
.
.
Kalau bisa melihat masa depan, Scorpius berharap bisa melakukan sesuatu untuk mencegah hal yang tidak diinginkan. Akan tetapi, di kelas Divination saja dia masih tidak bisa mengerti apa-apa, terlebih mengintip apa yang akan menjadi masa depannya. Kalau tahu apa yang akan terjadi nantinya, Scorpius akan berusaha untuk mengingat semua waktu-waktu yang berharga. Berusaha untuk tidak menyia-nyiakan segalanya.
Namun, sekarang yang terus terulang di kepalanya hanyalah momen terakhirnya bersama Elliot ketika kakaknya itu masih sadar. Masih berjalan dan tertawa. Masih beraktivitas sebagaimana biasanya.
Hanyalah momen terakhir itu.
Di bawah langit musim panas, duduk sambil memanjangkan kaki di bukit yang menghadap ke arah Hutan Terlarang, di dalam keheningan yang telah menjadi teman dua saudara Malfoy itu, Elliot tiba-tiba memecahkannya. Berkata, "Aku cemas jika memikirkan bahwa aku harus meninggalkanmu sendirian."
Scorpius menoleh, menatapnya penuh tanya. Namun, baru saja hendak membuka mulut, matanya lantas menangkap perubahan di wajah kakaknya.
Mendadak kedua mata hazel Elliot berubah datar dan kosong. Tubuhnya lantas terjatuh ke belakang. Membelalak Scorpius menyaksikan saat pupilnya berputar ke atas. Hilang kesadaran.
Dan Scorpius tidak sadar baru saja berteriak kencang saat punggung pemuda brambut coklat itu menyentuh rumput. Dengan suara bedebam yang sampai sekarangpun masih terngiang di telinganya.
Hei, Score.
Kalau kau membaca surat ini, artinya aku sudah tidak sadarkan diri.
Maafkan aku, Scorpius.
Tak pernah terlintas di dalam pikiranku bahwa semuanya akan jadi begini.
Bahwa, pada akhirnya, aku harus meninggalkanmu sendirian.
Scorpius menatapnya lekat, penuh harap dan rasa cemas luar biasa. Madam Pomfrey hanya mendesah, memijit-mijit kepalanya karena sejak pagi tadi Purfet Sphyre dari asrama Hufflepuff menyibukkannya dengan penyakit-penyakit buatan—jelas sekali alasannya bahwa ia tidak ingin masuk kelas. Ia melirik Scorpius, berkata padanya dengan nada pelan.
"Dia hanya tidur. Mungkin dia sangat kelelahan sampai-sampai sistem tubuhnya tidak bisa lagi bertahan. Hal seperti sering terjadi, yah, biasanya akibat kurang tidur," jelas madam Pomfrey.
Dari ekspresinya, madam Pomfrey bisa melihat bahwa remaja itu tidak bisa diyakinkan dengan penjelasan itu. Terlebih Scorpius terlihat sangat cemas. Madam Pomfrey lantas merasa iba. Lalu, ia menambahkan, "Dia akan bangun kalau sudah mendapatkan istirahat yang cukup."
Lama kemudian baru Scorpius mengangguk.
Aku menyiapkan surat ini hanya untuk berjaga-jaga. Buku itu tidak menjelaskan banyak hal. Aku hanya menduga bahwa kematianku bisa terjadi kapan saja.
Lagipula, semenjak simbol itu muncul di dada kiriku, aku sudah tahu bahwa waktunya sudah dekat.
Akan tetapi, dua hari lamanya,
Elliot Malfoy tidak bangun juga dari 'tidur'-nya.
Madam Pomfrey yang mulai gelisah dan bingung karena tidak menemukan keanehan dalam diri Elliot, dengan segera mengusulkan pada McGonagall untuk membawanya ke St. Mungo.
Sementara itu, Scorpius Malfoy tak bisa menahan kengerian di raut wajahnya. Khawatir dan was-was.
Kau ingat bagaimana aku mencegat Atropa untuk masuk ke dalam lingkaran sihir?
Setelah tumbal ditelan, maka cawan emas berisi cairan hitam akan muncul ke permukaan.
Dan orang yang masuk ke dalam lingkaran sihir untuk mengambilnya,
akan menjadi si pemegang tulah.
Apa kau tahu arti dari peran itu, Score?
Albus mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru kelas. Lagi-lagi. Kelas ramuan tidak dihadiri oleh Scorpius. Albus dan Primrose sudah mendengar kabar bahwa Elliot Malfoy dirawat di St. Mungo. Tidak ada yang tahu apa penyakitnya. Mereka hanya mendengar bahwa para healer menyebutnya 'koma'—mereka tidak tahu harus menamakannya apa.
Semenjak hari itu, sekarang sudah tiga hari Scorpius tidak masuk kelas. Tadi pagi Albus tak sengaja melihat Kepala Asrama berjalan di samping Scorpius, untuk pertama kalinya setelah dua hari akhirnya ia melihat Scorpius kembali ke Hogwarts. Albus berpikir bahwa ia akan masuk kelas hari ini, tapi sepertinya tidak begitu.
Albus menghela nafas.
Primrose menyikutnya, menatapnya dengan sorot mata penuh teguran. "Jangan begitu. Scorpius pasti sangat sedih. Setelah dua kakaknya meninggal...sekarang Elliot jatuh sakit..."
Albus menjatuhkan tatapannya. "...kalau saja dia mau berbicara pada kita lagi..mungkin kita bisa membantunya. Tapi, apapun yang aku lakukan...sepertinya kita bertiga tidak bisa kembali bersahabat seperti dulu lagi."
"Lagi-lagi," kata Primrose, agak gusar, "kau terus menyalahkan dirimu. Apa kau pernah mendengar Scorpius berkata bahwa ia menyalahkan James atas kematian Orpheus? Tidak pernah, 'kan?"
"Kau terus mengatakan itu. Jangan merasa bersalah, jangan merasa bersalah...aku sudah sering mendengarnya. Tapi, jika bukan karena itu, lalu apa yang bisa menyebabkan Score meninggalkan kita berdua dan memilih menjadi seorang penyendiri?"
Primrose diam.
"Kau tidak tahu itu, 'kan?" sambung Albus, " Scorpius, bahkan Elliot pun tidak lagi berbicara pada kita."
"Pada semua orang," sela Primrose.
"Terkadang aku merasa marah pada James karena membiarkan mitranya bekerja sendiri hingga berujung pada kematian Orpheus. Tapi, aku tahu jika dengan ceroboh mengikuti amarahku, aku hanya akan menyakiti hati James. James juga sangat sedih...dan selalu menyalahkan dirinya sendiri..."
Primrose mengelus punggungnya. "Hei, ayolah. Tidak seharusnya kita membicarakan hal itu di saat seperti ini. Scorpius pasti membutuhkan bantuan orang-orang terdekatnya. Kita harus siap jika kita ingin dia kembali seperti dulu lagi."
Albus diam sejenak, perlahan merenggangkan kepalan tangannya. "...Ya. Kau benar."
Atropa tidak tahu apa-apa tentang pemegang tulah. Sebelum Atropa memusnahkan buku itu, aku pernah sekali membacanya. Memang sulit dilihat keberadaannya jika tidak dibaca dengan teliti. Atropa waktu sangat tergesa-gesa, tidak mau bersabar lebih lama lagi. Dan aku yakin dia tak sengaja melewatkan bagian itu.
Karena jika bukan karena itu, maka Atropa tidak akan membiarkanku masuk ke dalam lingkaran sihir.
Scorpius hanya datang untuk membawa beberapa barang Elliot dari kamarnya di asrama Slytherin. Ya. Sejak uncle Harry menjemput mereka untuk diinterogasi mengenai Ritual Hidup Kedua, McGonagall memutuskan untuk menggantikan posisi Ketua Murid laki-laki—yang sekarang dipegang oleh Peter Collins dari Ravenclaw. Saat kembali ke Hogwarts, barang-barang Elliot sudah dipindahkan ke asrama Slytherin. Waktu diberitahu tentang kepindahannya, Elliot sama sekali tidak berkata apa-apa. Scorpius menduga bahwa ia sudah hal ini akan terjadi.
Sekarang sudah memasuki hari ketiga semenjak Elliot dibawa ke St. Mungo. Belum ada perubahan. Uncles dan aunts yang datang mengunjungi kamar rawat Elliot selalu datang dengan ekspresi tegang dan seolah hanya dengan satu sentuhan, mereka bisa meledak kapan saja. Mungkin setelah Orpheus, lalu Atropa yang belum lama meninggal, mereka sudah terlalu takut untuk memikirkan keadaan jika Elliot akan meninggal juga. Apalagi penyakitnya yang tidak diketahui semakin memperburuk suasana. Scorpius sudah berapa kali melihat aunt Pansy mengancam healer yang bertanggung jawab atas Orpheus, katanya, "sembuhkan dia! Aku akan melakukan apa saja! Berapapun galeon yang kau inginkan aku akan memberikannya, tapi kau harus menyembuhkan dia!"
Dulu aunt Pansy dan uncle Viktor mengasuh Elliot selama dua tahun. Pasti mereka menyayanginya hingga jauh-jauh datang dari Bulgaria dan tidak mau pulang sampai Elliot siuman.
Scorpius mengambil tas, mengisinya dengan foto yang diletakkan Elliot di lemari. Beberapa lembar baju dan celana. Lalu jas hitam panjang dengan emblem khas Malfoy di dadanya. Jika Elliot siuman nanti, dia mungkin akan bosan jika harus terus menunggu di rumah sakit, jadi Scorpius meraba-raba buku-buku yang ditaruh di bagian atas di dalam lemari. Saat ia menarik buku tebal yang selalu dibaca Elliot berulang-ulang kali,
sebuah amplop jatuh ke lantai.
Gerakan Scorpius terhenti. Iris kelabunya terpatri pada nama yang tertera di bagian depan amplop itu.
Untuk adikku,
Scorpius Draco Malfoy.
Si pemegang tulah adalah tumbal untuk menjamin jiwa yang dibangkitkan.
Bisa dibilang, untuk menjamin periode hidup Orpheus, maka sisa umur si pemegang tulah akan diambil alih untuk memberikan durasi hidup jiwa yang dibangkitkan.
"Malfoy? Scorpius Malfoy, maksudmu?" Prime Wood balik bertanya saat Albus dan Primrose menghampirinya.
"Ya. Tadi pagi Albus melihatnya. Tapi, kami tidak menemukannya sekarang. Apa kau tahu sesuatu?"
'Prime mengernyitkan alisnya, jelas sekali ingin berkata bahwa ia tidak tahu apa-apa, terlebih ia sedang terburu-buru. Namun, wajah penuh harap dua juniornya itu membuatnya kalah. Ia lantas memasang gestur berpikir, mencoba mengingat-ngingat. "Ah," ucapnya, "aku ingat, aku tak sengaja melihatnya saat keluar dari kelas PTIH. Well, aku memang tidak sempat bicara padanya, tapi waktu itu aku melihatnya di depan Gargoyle. Jadi, kupikir, jika ingin tahu, lebih baik bertanya pada kepala sekolah."
Albus dan Primrose mengikuti saran Prime.
Dan jawaban yang keluar dari mulut Profesor McGonagall seolah membuat mereka baru saja diceburkan di lautan musim dingin. Membelalak dengan mulut terbuka. Hingga tergagap Albus memecah keheningan.
"Di-dia... k-keluar dari Hogwarts?"
McGonagall tahu untuk tidak menyembunyikan satu halpun, karena nantinya juga hal ini akan tersebar di kalangan murid. "Benar. Mr. Malfoy memutuskan untuk keluar dari Hogwarts. Kalian sudah tahu apa yang terjadi pada kakaknya. Dia ingin merawatnya sendiri."
"Tapi...apa ini artinya dia akan kembali jika Elliot sudah sadar?" tanya Primrose dengan nada tidak berdaya.
McGonagall diam sebentar. Dari air mukanya terlihat jelas bahwa ia sendiri tidak terlalu mengerti dengan keputusan Scorpius Malfoy yang begitu tiba-tiba. Dan permintaan Scorpius tidak sesuai dengan prinsip dan regulasi Hogwarts untuk memberikan pendidikan bagi anak-anak penyihir yang telah diberikan surat undangan untuk masuk ke sekolah ini. Akan tetapi, memikirkan kemalangan yang seolah tanpa henti menimpa keluarga Malfoy, membuat wanita itu menjadi tidak tega. Karenanya, ia mengabulkan permintaan anak itu.
McGonagall hanya bisa menghela nafas. "Aku tidak bisa menjawabnya, Ms. Weasley."
Karena belum ada kepastian apakah Elliot akan siuman atau tidak dengan penyakitnya yang masih menjadi misteri.
Akan tetapi, tiba-tiba saja, Orpheus pergi untuk kedua kalinya.
Aku tahu itu terjadi bukan karena umurku telah mencapai batasnya.
Tidak. Ada satu lagi rahasia dari Ritual Hidup Kedua. Bukankah Atropa sudah memberitahu kita bahwa ritual sihir ini adalah ritual yang penuh dengan persyaratan dan pantangan yang sangat ketat?
Ada katalis yang tidak boleh terjadi.
Dan katalis ini berhubungan dengan apa yang tidak boleh diingat atau disadari oleh jiwa yang dibangkitkan.
Katalis ritual sihir ini terikat pada tumbal yang dikorbankan. Dan karena Atropa memutuskan untuk menjadikan pembunuh Orpheus sebagai tumbal, maka katalisnya adalah
Orpheus tidak boleh menyadari bahwa ia sudah pernah meninggal atau mengingat peyebab kematiannya.
Kita bertiga sudah berusaha menjaganya dari ingatan menyedihkan itu, tapi tetap saja.
Sekali lagi kita bertiga kehilangan Orpheus. Sekaligus kehilangan Atropa.
Langkahnya gontai, menyelusuri koridor putih rumah sakit. Scorpius tidak tahu apa yang harus dilakukan lagi. Rasanya kemalangan itu datang bertubi-tubi dan kini ia merasa hancur karenanya. Hatinya sangat hampa. Seolah harapanpun telah sirna dari dalam kehidupannya.
Tekstus sehelai perkamen yang dilipat masih terasa di dalam genggamannya, pasti sekarang sudah rusak mengingat Scorpius tanpa sadar terus meremasnya. Selama perjalanan ia selalu memikirkan kata-kata Elliot di suratnya.
Dan semua kemalangan ini sudah terasa sangat melelahkan.
"Mr. Malfoy, selamat sore," sambut penyembuh berkacamata saat melihat Scorppius memasuki kamar. Tidak seperti sebelumnya, kali ini wajah penyembuh itu terlihat sumringah seolah ia sudah menyiapkan kabar baik untuknya. Namun, Scorpius sudah tidak memerlukan kabar baik. Elliot sudah memastikan di suratnya bahwa tidak ada kabar baik untuk situasinya. Dan tanpa menunggu, penyembuh itu mulai berbicara tentang jalan keluar, suatu metode penyembuhan yang kemungkinan bisa membuat Elliot Malfoy siuman.
Akan tetapi, Scorpius sudah tidak tertarik dengan hal seperti itu lagi.
"Tidak perlu," selanya datar. Scorpius melangkah, melewati penyembuh itu. "Aku akan merawat Elliot di rumah kami."
Penyembuh itu melotot, mulutnya megap-megap terbuka. "Apa...apa yang kau katakan ini, Mr. Malfoy?" tanyanya tak percaya seolah baru diceritakan lelucon.
"Kau tidak dengar aku?" Scorpius berkata dingin, menatap dengan iris beku dari balik bahu. "Kubilang aku sendiri yang akan merawat kakakku. Di rumah kami. Manor Malfoy."
"Tapi, kami sudah menemukan penyembuhan yang pas untuk kakak Anda, dan bukankah lebih baik jika ia dirawat oleh profesional!?"
Pertama-tama Scorpius tidak menjawab, tapi kemudian, dengan tenang ia menanggapi. "Dua hari yang lalu kalian tidak tahu apa-apa tentang penyakitnya. Apa sekarang kalian sudah tahu?"
Lantas pertanyaan itu membuat si penyembuh gelagapan. "Ah...hal itu..."
"Kalian tidak tahu," potong Scorpius, "dan kalian berniat menyembuhkannya dengan cara yang tidak pasti apakah itu sesuai dengan penyakit yang belum diketahui ini. Sebagai keluarganya yang tersisa," nada suaranya berubah dingin, "aku tidak akan menyetujuinya. Kuulangi sekali lagi, aku akan merawat kakakku sendiri."
Reaksi para paman dan bibinya kurang lebih sama seperti si penyembuh itu. Terlebih saat mereka tahu bahwa Scorpius sudah mendapatkan persetujuan McGonagall mengenai keluarnya ia dari Hogwarts.
Namun, uncle Viktor menghampirinya. Duduk di sampingnya dan merangkul bahunya. Scorpius tidak perlu mendengar apa isi pikirannya untuk tahu bahwa uncle Viktor mendukungnya. Mungkin dia mengerti keadaannya. Atau mungkin sedikit banyak ia bisa menebak bahwa apapun yang menimpa Elliot masih berkaitan dengan ritual terlarang yang telah dilakukan oleh Atropa Malfoy. Mungkin hanya butuh waktu dua tahun bagi Viktor Krum untuk mengenal Elliot Malfoy, bahwa mustahil anak asuhnya itu membiarkan kakaknya menanggung beban sendirian.
Paman Viktor berkata pada para orang dewasa yang berada di ruangan itu, "Biarkan Scorpius melakukannya. Aku percaya, pasti ada alasan kuat kenapa Scorpius memilih untuk merawat Elliot sendirian."
Lalu saat keluarga besar Potter-Weasley-Krum-Zabini, bahkan paman Theo keluar dengan bersungut-sungut dan tidak puas, Viktor berdiri dan berjalan mendekat ke pembaringan Elliot. Tangannya menyisir rambutnya coklat pemuda itu ke samping—baginya Elliot masih balita seperti saat pertama kali anak itu membuatnya mengerti bagaimana rasanya menjadi seorang ayah. Senyum yang terkulum di bibirnya tampak sedih. Kemudian, pria itu mengecup kening Elliot, lalu berkata pada Scorpius,
"Jaga dia baik-baik."
Tatapannya, bagi Scorpius, menunjukkan bahwa ia sudah tahu akhir apa yang menunggu takdir Elliot.
Scorpius menundukkan wajah, mengangguk kecil sembari menahan air matanya.
Aku selalu berpikir bahwa semuanya akan berjalan baik-baik saja. Jika memang ada yang harus pergi, seharusnya itu adalah aku. Bukan Orpheus. Bukan juga Atropa.
Seharusnya akulah yang meninggal.
Kupikir apapun akan menjadi lebih baik karena Orpheus telah kembali bersama kita bertiga, dan aku berpikir tidak apa-apa jika aku meninggal nantinya. Tapi, aku tidak pernah menyangka akan seperti ini jadinya.
Maafkan aku.
Maafkan aku, Score.
Scorpius merawat Elliot dengan rajin. Ia mengelap kedua tangan Elliot dengan kain basah, membersihkan bajunya dengan mantra pembersih, dan menyisir rambutnya. Terkadang peri rumah mengintip dari celah pintu, melihat tuan muda mereka duduk diam di kursi di samping ranjang kakaknya. Mereka kadang bertanya-tanya apa yang sedang dipikirkan oleh Scorpius saat itu.
Scorpius merawat Elliot dengan tekun.
Biarpun menyadari simbol-simbol berwarna hitam telah menyelimuti kedua lengannya.
Samar-samar ia mendengar suara kecil jauh di dalam pikirannya, berbisik bahwa waktunya sudah dekat. Tapi, ia tetap melaksanakan tugasnya. Walaupun kadang ia tak mampu menahan cairan bening yang membelah pipinya.
Lalu, suatu hari ia membuka pintu kamar Elliot. Dan melihat bahwa simbol-simbol itu telah menyebar di wajahnya.
Waktu itu remaja berambut perak itu hanya diam menatap.
Kemudian ia menarik nafas dalam. Tangannya memang gemetar tapi ia tetap meraih kain di basin, memerasnya lalu mengelap wajah dan lengan Elliot. Ia tak bisa bersuara saat mendaraskan mantra Scourgify. Dan hampir beberapa kali ia menjatuhkan sikat rambut saat menyisir rambut coklat kakaknya.
Kemudian, ia mencium kening pemuda itu, berbisik parau, "Goodbye, Elliot."
Hari itu tidak ada lagi gerakan teratur di dada Elliot yang menandakan bahwa putra Malfoy itu masih bernafas. Tubuhnya diam seperti patung. Dan tangan yang digenggam erat oleh adiknya sudah dingin, bahkan sebelum ia masuk ke dalam kamar itu.
Hari itu juga Scorpius mengirim surat pada paman Potternya,
meminta bantuannya untuk mengurus upacara pemakaman kakaknya.
Melalui surat ini, aku ingin memberikan kendali seluruh mantra-mantra pelindung manor padamu.
Melalui surat ini juga aku ingin memberitahumu bahwa
kau tidak perlu menungguku sadar.
Aku tidak akan pernah sadar.
Ketika simbol di dadaku telah menyebar ke seluruh tubuh,
pada saat itulah aku akan meninggal.
Uncle Harry menutup wajah Elliot dengan kain putih. Ekspresinya menampakkan frustasi dan rasa tidak berdaya yang luar biasa. Ronald Weasley masih belum sadar dari keterkejutannya. Blaise lantas mengalihkan matanya. Dari dulu ia memang sudah menduga bahwa tidak mungkin Atropa melakukan ritual itu sendirian. Simbol-simbol yang melukis wajah Elliot sudah membuktikan keterlibatannya.
Dan jika orang luar melihatnya,
maka mereka akan mempertanyakan apakah anak bungsu Malfoy juga benar-benar terlibat.
Lalu para sahabat ayah dan ibunya itu telah meraih kesepakatan.
Bahwa seorangpun tidak boleh melihat mayat Elliot. Tidak boleh membuka peti matinya.
Scorpius hanya diam. Duduk bagai patung selama upacara berlangsung. Menatap jauh dengan sorot mata penuh kekosongan.
xxx
"Score..."
Scorpius berjalan melewatinya. Albus lantas mengatupkan bibir, memandang punggung Scorpius dengan wajah sedih. Primrose berdiri di sampingnya, ikut memandang dengan mata birunya yang mulai berkaca-kaca. Namun, Scorpius tidak melihat siapapun lagi.
Yang ada hanyalah jalan setapak dan tubuh yang bergerak sendiri. Scorpius merasa sudah mati sekarang. Orang-orang yang datang dengan belasungkawa sama sekali tak ia tanggapi. Pandangannya kosong dan yang terdengar hanyalah suara-suara tidak jelas, seperti seikat jerami yang digosok ke lantai. Scorpius tidak mendengar dan tidak melihat.
Elliot sudah dikuburkan.
Dan Scorpius hanya ingin ditinggal sendiri sekarang.
Scorpius,
orangtua kita meninggalkan warisan mereka pada kakak tertua kita. Kemudian, Orphe meninggalkan warisannya pada Atropa. Lalu, Atropa meninggalkan warisan Orphe dan warisannya juga padaku. Kini aku meninggalkan semuanya padamu. Warisan Orphe, warisan Atropa, juga semua kepunyaanku. Semuanya milikmu.
Aku tahu bahwa materi bukanlah hal yang bisa menghibur hatimu.
Tapi, aku tidak memiliki apapun lagi selain benda-benda peninggalan mereka.
Maafkan aku.
Aku memang kakak yang payah.
Scorpius memanjat ke lantai dua, tidak merasakan berpasang-pasang mata yang memandangnya dalam perasaan hati yang tersayat-sayat dari lantai dasar. Ketika ia sendirian, suasana menjadi lebih tenang. Di koridor sayap timur, yang terdengar hanyalah suara sepatunya, melangkah di atas lantai marmer berwarna emerald. Lurus menuju kamarnya.
Scorpius mungkin tidak ingat bahwa dasar sepatu hitamnya penuh tanah. Ia tetap menjejak di atas karpet beludru di dalam kamarnya, bahkan tanpa melepaskannya, ia naik ke tempat tidur. Membaringkan diri, membelakangi pintu.
Lekat memandang pigura kecil yang diletakkan di atas nakas. Foto keluarga yang diambil saat Orpheus masih hidup, di bawah pohon wisteria kesukaannya. Ia berdiri di depan Orpheus, mencoba memperebutkan tempat terbaik dari Atropa dan Elliot. Namun, pertarungan itu tidak lama karena Atropa dan Elliot dengan mudah mengalah padanya. Scorpius merasa sangat beruntung dan sangat disayangi.
Sangat beruntung.
Sangat disayangi.
Tanpa mengalihkan matanya, Scorpius untuk pertama kalinya membuka mulut.
"Weldrey."
Suara lecutan di udara menandakan kemunculan Weldrey yang setia. Dengan mata besarnya yang masih merah, menatap gugup punggung tuan rumah yang baru.
Kemudian suara hampa sang putra Malfoy yang tersisa terdengar membelah senyap.
"Close the door."
Selalu kudekap di dalam hati, kenangan masa kecil ketika biarpun cuma berempat tanpa dad dan mum, kita masih bisa bahagia, tersenyum dan tertawa senang.
Scorpius, kau sangat kami manjakan. Orpheus menggendongmu kapanpun kau minta. Atropa membacakan dongeng untukmu sebelum tidur. Dan aku menjawab apapun yang kau tanyakan padaku.
Aku sangat menyayangimu.
Kami sangat mencintaimu.
Biarpun tidak berada di sisimu, aku yakin bahwa
dad dan mum, Orphe, Atropa, bahkan diriku pun
ingin melihatmu hidup bahagia.
"Tutup pintunya."
Atropa berkata setelah tamu terakhir meninggalkan lingkungan manor. Berdiri di aula depan dengan posisi yang membelakangi pintu dua daun yang menampakkan halaman depan manor Malfoy.
"Tutup pintunya."
Elliot berkata setelah deruman mobil uncle Harry terdengar jauh. Weldrey hanya melihat kepalanya di balik single sofa yang diduduki pemuda itu.
"As you command, young master."
Weldrey menjentikkan jari untuk ber-apparate ke aula depan.
Berjalan mendekat ke arah pintu yang dua daunnya terbuka lebar.
Lalu ia merentangkan kedua tangannya, dengan kekuatan tak kasat mata menggerakan dua bagian pintu itu
lalu menutupnya rapat-rapat.
BLAM!
.
.
.
xxx
xxx
Saudara laki-laki kami, Elliot,
pengorbananmu adalah kekuatan kami.
Rasa sakitmu adalah rasa sakit kami juga.
_bersambung_
.
.
.
Salam sayang
dari kakak laki-lakimu,
Elliot Efreseus Malfoy.
