Disclaimer: Vocaloid © Crypton

Warning: FULL OF SHONEN-AI, boyxboy, shonen-ai, BoysVocaloidsXKaito, uke!Kaito, typo, picisan. AllXKaito, Rating may go up if I want.

Don't Like? Then Don't Read~

=xxx=

Summary: Kaito si maniak game dan pecinta es krim mendapat CD kaset game yang ia idam-idamkan! Siapa kira kalau sekeping CD game malah membuatnya memasuki dunia penuh konflik yang berkecamuk dan membuatnya terpaksa mengikuti petualangan demi mempertahankan kehidupannya?

=xxx=

The Lost Blue Kingdom Saga

Route 11

=xxx=

=XXXXXXXXXXXXX=

Seorang pemuda berambut ungu panjang menyesap tehnya dengan perlahan, kemudian meletakkan gelas tehnya. Ia terlihat sedang memikirkan sesuatu.

"Kau kenapa?"

Kata-kata itu membuyarkan lamunannya. Ia kemudian menoleh ke pemuda yang sedang mengunyah dango. Iris merah pemuda itu meliriknya.

"Pangeran…" ujarnya pelan. Si rambut merah tampak mengerti hanya dengan sepatah kata itu saja. Gakupo khawatir akan keadaan pangerannya.

"Ah benar juga, Kai-Kai lama sekali…" ujarnya sambil melempar tusuk dango seenaknya. Tiba-tiba ia berdiri, iris merahnya bergulir.

"Kenapa?"

Akaito melirik pemuda yang masih duduk di kedai dango, sorot matanya antara ketakutan dan khawatir, "aura ini… apa kau merasakannya?"

Gakupo diam sejenak. Kemudian memejamkan matanya. Tak lama kemudian, ia membuka matanya. Ekspresinya tidak jauh dari Akaito, panik, takut, dan khawatir.

"Aura kegelapan yang luar biasa kuat…" bisiknya pelan. Aura itu hanya dimiliki oleh beberapa orang, dan sepertinya…

"Auranya membuatku sakit… kepalaku pusing. Kita harus segera pergi dari sini," ujar Akaito, "dan lagi auranya terasa dua kali lipat… walaupun yang satu tidak sebesar aura yang satu lagi. Tapi tetap saja keduanya membuatku sakit."

Gakupo mengangguk, "kita harus segera menemukan pangeran…"

=xxx=

Sementara itu di pintu gerbang, sepasang pemuda dan 3 orang serdadu memasuki pintu gerbang kota malam. Yang satu berambut ungu gelap dan satu lagi berambut hitam kelam. Yang berambut hitam terlihat lebih serampangan dan yang berambut ungu gelap terlihat lebih berwibawa.

"Kau yakin ini tempatnya, Taito?" ujar yang berambut hitam. Iris merah darahnya melirik kota itu dengan bosan. Sesekali jemarinya memainkan scabbard pedang kembarnya yang tergantung di pinggangnya.

Yang dipanggil Taito itu mengangguk, "ya, aku yakin. Auranya terasa sampai kesini," ujar pemuda dengan jubah warlock berwarna ungu dan warna emas di sisinya. Tangan kanannya memegang sebuah tongkat sepanjang kakinya yang bertahtakan sebuah batu berwarna violet di bagian kepalanya.

Pemuda yang satu lagi mendecak pelan, "jangan sampai mata kirimu itu membuat kita tersesat lagi," ujarnya. Kali ini ia menggulung lengan baju militer berwarna hitam-merahnya sampai ke siku.

Taito terlihat kesal, "jangan bawa-bawa mataku, kak Zeito…" ujarnya kesal. Tangan kirinya menyentuh matanya yang tertutup perban.

Pemuda yang namanya dipanggil itu menyeringai, kemudian mengibaskan jubah hitam-merahnya, "invasi kota ini!" titahnya.

Ketiga serdadu di belakangnya maju menuju kota Yoru wa Shukufuku

=xxx=

Kedua pemuda berambut kontras itu sibuk mengedarkan pandangannya ke segala penjuru. Mereka benar-benar harus menemukan pangerannya sekarang juga!

"Mama membawa geisha baru~ dia cantik sekali lho, padahal laki-laki!" seru seorang gadis berambut pirang bergelombang. Ia melompat kesana kemari dengan riang.

Sekawanan gadis yang mengerubunginya langsung ribut, "benarkah? Secantik apa?"

Si rambut pirang itu menyentuh dagunya dengan jarinya dan memasang pose berpikir, "rambutnya berwarna biru, matanya juga, badannya seperti cewek~"

Gakupo langsung menoleh begitu mendengar ciri-ciri yang disebutkan gadis berwajah oriental itu. Dengan hati-hati ia berjalan ke arah gadis itu.

"Permisi nona," ujarnya sopan, ia menepuk bahu gadis enerjik itu.

Gadis yang memakai hiasan kuping kucing di rambutnya menoleh, iris birunya bertemu dengan iris violet Gakupo, "ah ya? Ada yang bisa kubantu, tuan?"

"Saya ingin bertanya tentang geisha baru itu… apakah ia mengenakan sebuah jepitan berbentuk kristal es?" tanyanya. Gadis itu tampak berpikir sejenak, kemudian mengangguk.

"Ya, ia bahkan sempat memelototiku ketika aku menata rambutnya," ujar gadis itu yang ternyata adalah SeeU, "apakah dia temanmu?"

Gakupo mengangguk cepat, iris violetnya berbinar-binar begitu mendengar kata-kata gadis itu.

"Ah, kau pasti ingin menemuinya~!" ujar gadis dengan hanbok oranye itu. Ia kemudian menunjuk sebuah bangunan yang cukup besar yang berada di bagian timur kota, "itu adalah rumah para geisha sekaligus tempat kami melayani. Mungkin kau bisa menemukannya disana~"

Gakupo tersenyum, "terima kasih nona, saya berhutang budi pada anda," ujarnya, kemudian berlari ke arah Akaito dan mereka berdua segera menuju arah yang ditunjuk gadis itu.

"Araaa~? Mereka itu kekasihnya atau apa sih~?" ujar SeeU sepeninggal kedua guardian itu.

=xxx=

"Kaito, tambah sakenya," ujar pria berkacamata. Sosok berambut biru yang pandangannya terlihat kosong itu mengangguk pelan, kemudian menuangkan cairan beraroma kuat itu. Pemuda yang terlihat lebih tua itu tersenyum, kemudian mengecup surai biru pemuda di hadapannya, "kau manis sekali, Kaito-kun…"

Kaito tidak bergeming. Ia diam saja ketika Kiyoteru membelai bahunya, kemudian pipinya.

"Patuh sekali ya…?" Kiyoteru membelai surai biru lembut itu. Perlahan Kiyoteru mendekati wajah muridnya. Kaito mendongak dan dalam sekejap bibir keduanya bertemu.

Kaito mengeluarkan sedikit suara ketika Kiyoteru menginvasi mulut kecilnya. Dengan perlahan ia membuka mulutnya dan membiarkan organ pink milik Kiyoteru memasuki mulutnya. Sungguh boneka manis yang patuh.

Kiyoteru menekan bagian belakang kepala muridnya untuk memperdalam ciuman mereka, tetesan saliva menetes dari sudut bibir uke berambut biru itu akibat intensnya pagutan bibir mereka. Tangan Kaito mencengkram bagian depan hakama hijau tuannya untuk menjaga keseimbangannya.

"T-Tuan-mmhhn-…" sekali lagi bibir pemuda berkimono itu terkunci oleh bibir pria pemilik kekuatan Hypnotize itu. Kiyoteru seakan tidak membiarkan pemuda yang lebih kecil darinya itu untuk bernapas. Perlahan ia mendorong bahu Kaito sehingga pemuda itu kini terbaring di atas lantai tatami dengan dirinya diatasnya.

"T-Tuan…?" Kaito yang kini berusaha menarik napas sebanyak-banyaknya terlihat sangat menggiurkan di mata gurunya; tatapan mata kosong yang berkaca-kaca, bibir yang terlihat lembut dan basah, bahu putih mulus yang terekspos; benar-benar pemandangan yang merusak iman…

'Apakah tidak apa-apa jika melakukan hal ini…?' gumam Kiyoteru dalam hati, matanya masih memperhatikan tubuh pemuda di bawahnya. Kaito menatapnya balik dengan napas yang tersengal-sengal, wajah yang merona merah, dan mata yang setengah tertutup.

'Tapi dia adalah muridku…' hati kecil Kiyoteru berkata demikian. Tapi godaan untuk uhukmerapeuhuk Kaito terlalu besar. Iblis dan malaikat berseteru di hatinya. Kalau mengikuti egonya, dia sudah pasti mengambil 'kesucian' pemuda itu. Tapi jika mengikuti hati kecilnya, ia pasti akan melepaskan pemuda itu.

"Tuan…"

Kiyoteru tersentak, Kaito memanggilnya dengan nada suara yang menggoda. Tiba-tiba ia merasakan lengan pemuda itu dilehernya dan Kaito kembali mencium bibirnya.

Secara instan, malaikat kalah dalam perseteruan di hatinya. Iapun membalas ciuman yang diberikan muridnya dengan lebih agresif. Mendengar desahan yang diberikan muridnya, Kiyoteru menurunkan bibirnya ke leher pemuda itu dan menghisapnya.

"A-aahnn… t-tuan…" sekali lagi bibir pemuda berambut biru itu mengeluarkan suara yang mampu membuat para seme menyerangnya di tempat. Terima kasih atas suaranya yang dapat menghancurkan dinding iman seseorang, sekarang Kiyoteru tidak dapat menghentikan aksinya.

Kiyoteru tersenyum, kemudian menarik kimono pemuda itu hingga menampilkan dada putihnya. Kiyoteru memainkan tangannya di balik kimono yang sedikit terbuka itu.

Lagi-lagi Kaito hanya dapat mendesah pelan. Walaupun ia sedang dalam keadaan terhipnotis, kepribadiannya yang pemalu tidak berubah.

"Kaito-kun…?" ujar Kiyoteru. Kali ini ia mengigit leher pemuda itu sehingga membuatnya menjerit kesakitan. Kiyoteru segera menjilat dan menghisap bagian yang tadi digigitnya. Jeritan kesakitan tadi langsung berubah menjadi erangan lembut.

"Kaito-kun…" Kiyoteru berkata lagi, ia menatap iris biru pemuda itu dalam-dalam, "bolehkah aku… 'bermain' dengan yang bagian bawah?" tanya Kiyoteru.

Pemuda yang napasnya tidak teratur itu diam saja. Seakan ia adalah boneka yang akan menuruti segala perintah tuannya.

"Kaito?" panggil Kiyoteru lagi. Pemuda itu tetap tidak merespon. Akhirnya pemuda berambut cokelat itu menghela napasnya, "kuanggap itu sebagai 'iya'…"

Tangan Kiyoteru bergerak menuju bagian bawah kimono pemuda penggemar es krim itu. Baru saja ia akan menyibak kain berwarna biru itu, sebuah tangan sudah menepisnya. Kiyoteru terkejut.

"Ja-… jangan…" ujar pemuda geisha itu. Kiyoteru tambah terkejut lagi, tidak mungkin efek hipnotisnya menghilang begitu saja!

"Aku ini tuanmu kan?" ujar Kiyoteru tiba-tiba. Ia bergerak mendekati pemuda malang itu. Kaito memundurkan dirinya, "bukankah seharusnya kau menuruti segala keinginanku?" ujar Kiyoteru lagi. Kaito menundukkan kepalanya. Tubuhnya sedikit bergetar.

"Tatap aku…" Kiyoteru mencengkram bahunya kuat-kuat sehingga pemuda itu memekik kesakitan. Tapi tetap saja, Kaito menolak untuk menatapnya. Kiyoteru mendesis geram, ia mengangkat wajah pemuda itu dengan paksa, "kau menolak perintah gurumu? Dasar murid nakal!"

Kaito terpaksa menatap sepasang orb cokelat itu lagi. Tiba-tiba, suara yang luar biasa kencang membuat kedua manusia itu melepaskan kontak matanya dan menoleh ke arah shoji.

BRAKK!

Shoji terbuka dengan kasar bersamaan dengan masuknya seorang pemuda berambut merah. Begitu melihat keduanya, ia langsung mendesis geram. Claw yang terpasang di tangannya terarah ke Kiyoteru.

"Apa yang kau lakukan pada,Kaito?!" serunya marah. Kiyoteru hanya tersenyum menantang, dan hal itu malah membuat pemuda temperamen di hadapannya itu semakin marah. Pemuda ber-piercing itu menarik hakama Kiyoteru sehingga pria itu berdiri, kemudian melempar tubuhnya ke seberang ruangan.

BRUKK!

"Khh…!" Kiyoteru mendesis kesakitan. Kekuatan si merah ternyata tidak bisa dianggap remeh…

Akaito segera mendekati pangerannya dan mengguncangkan tubuh pemuda itu, "Kaito! Kaito! Sadarlah!" serunya. Tapi usahanya sia-sia, Kaito tidak bergeming sama sekali. Tatapan matanya masih kosong layaknya tubuh tanpa jiwa.

"Akaito, kau menemukannya?!" seru seseorang lagi tiba-tiba. Kini seorang pemuda berambut ungu panjang memasuki ruangan itu. Irisnya membelalak begitu melihat keadaan pangerannya, "pangeran!"

Akaito mendecih, iris merahnya menunjukkan keinginan untuk membunuh. Ia menatap Kiyoteru tajam.

Gakupo segera berlari ke arah pangerannya, dengan lembut ia membelai pipi pemuda itu dan berbisik, "pangeran… sadarlah…"

Secara ajaib Kaito yang berada di bawah pengaruh hipnotis Kiyoteru tersadar. Manik biru cerahnya kembali dan menatap Gakupo dengan penuh kebingungan, "Ga-Gakupo? A-aku dimana?"

Gakupo hanya tersenyum, tangannya bergerak memperbaiki kimono pemuda itu. Kaito terdiam, ia membiarkan guardian-nya merapikan kimono.

"Brengsek!" umpat Akaito. Claw-nya sudah siap untuk melukai Kiyoteru. Pemuda berkacamata itu hanya tersenyum, seakan menantang pemuda pemarah itu untuk melukainya.

Akaito sudah tidak dapat menahan emosinya lagi, ia melancarkan serangannya ke arah pemuda itu. Kiyoteru hanya tersenyum, kemudian melemparkan sebuah kertas mantera yang melayang ke arah Akaito dan menempel di lengannya. Pemuda berambut cokelat itu kemudian mengacungkan jari telunjuk dan jari tengahnya ke depan bibirnya dan membisikkan sebuah mantera.

"…!" Akaito menghentikan langkahnya dan mencengkram lengannya yang ditempeli kertas mantera milik Kiyoteru. Panas! Rasanya panas seperti ditetesi sebuah lelehan besi panas yang masih membara!

"Akaito!" Kaito menjerit melihat pemuda assassin itu merintih kesakitan sambil memegangi lengannya. Lengan yang tertempel kertas itu terlihat mulai memerah seperti melepuh. Kaito menyadari kini semua yang ada diruangan itu termasuk dirinya memiliki health bar. Terlihat HP miliknya, Gakupo, dan Kiyoteru yang utuh. Sedangkan health point Akaito perlahan-lahan menurun dengan lambang api di samping nama dan level Akaito.

Akaito menggeram marah, iris merahnya semakin menunjukkan keinginannya untuk mencabik-cabik Kiyoteru. Dengan kekuatannya yang tersisa, ia mengangkat tangan kirinya yang tidak tertempel kertas mantera itu. Kemudian tanpa semuanya duga, ia merobek kertas di lengannya itu menggunakan claw tajamnya sehingga menyebabkan lengannya ikut terluka. Serpihan kertas-kertas itu kemudian jatuh ke lantai, meninggalkan Akaito yang kini bangkit berdiri dengan darah yang mengucur deras di lengan kanannya.

Kaito menatap salah satu guardian-nya itu dengan ketakutan. Bukan karena ia takut darah, ia hanya tidak bisa melihat darah. Apalagi melihat Akaito yang mengamuk seperti itu…

Kiyoteru terlihat kaget akan tindakan Akaito yang menurutnya ceroboh itu. Kiyoteru mundur selangkah, katana-nya sudah ada di hadapannya. Ia mulai merasa terancam.

Akaito menyunggingkan seringai yang menyeramkan, claw-nya sendiri sudah mengeluarkan aura merah membara, "die… with despair…" ujar Akaito.

Kaito merasakan air matanya menetes. Tidak! Akaito yang dia kenal bukanlah Akaito yang seperti ini! Bukan Akaito yang gila bertarung! Bukan Akaito yang haus darah! Bukan Akaito yang hobi membunuh! Akaito yang ia kenal adalah Akaito yang jahil… iseng… dan selalu tersenyum padanya…

Kaito membulatkan tekadnya, ia segera berlari menuju Akaito. Sayup-sayup ia mendengar suara Gakupo yang berusaha menghentikannya.

"Akaito!" ia langsung memeluk tubuh pemuda itu dari belakang. Isakannya terdengar jelas oleh ketiganya, "kumohon… hentikan!" isak Kaito.

Pemuda berambut merah itu tampak terkejut. Kemudian melirik tubuh yang lebih kecil darinya itu, "…KaiKai…?"

Kaito menatap sepasang iris ruby itu dengan iris sapphire miliknya, "hentikan… hentikan Akaito…" isaknya. Ia tidak mau melihat guardian-nya terluka! Ia tidak mau! Lebih baik dirinya yang terluka daripada melihat Gakupo ataupun Akaito tersiksa…

Kiyoteru yang menemukan celah untuk kabur segera meninggalkan tempat itu. Ia yakin ia akan kalah. Karena jika dilanjutkan, pasti si rambut ungu ikut-ikutan turun tangan dan itu akan semakin merepotkan. Apalagi dengan levelnya yang hanya Lvl 57. Bisa-bisa ia di-bully habis-habisan…

Kiyoteru segera melompat ke sebuah atap rumah dan mengenakan caping samurainya, "selamat tinggal Kaito, semoga bertemu lagi suatu saat nanti!" ujarnya. Kemudian menghilang layaknya ninja.

"T-Tunggu sensei!" terlambat, Kiyoteru sudah menghilang. Kaito menghela napas. Ia kemudian meninju bahu Akaito pelan.

"Maafkan aku, Kai-…" ujar pemuda ber-piercing itu. Ia menundukkan kepalanya. Perkiraannya, ia akan mendapatkan tamparan atau pukulan dari pemuda di hadapannya. Kenyataannya, Kaito malah memeluknya.

"Bodoh… jangan buat aku khawatir…" isak Kaito. Jemarinya gemetar, "kau membuatku ketakutan tahu…"

Akaito terdiam, kemudian tertawa dan balas memeluk pemuda itu, "ahaha… maaf-maaf…"

BUMM!

"Apa itu?!" seru Gakupo kaget. Keadaan kedua manusia berwajah identik itu juga tidak beda jauh; kaget.

"Kita harus segera pergi dari sini…" desis Akaito. Instingnya sebagai assassin sudah membuatnya peka akan kejadian seperti ini. Ia segera melompat keluar.

'A-Ambush…?' pikir Kaito dalam hati. Tidak mungkin ada serangan mendadak di kota! Kota adalah tempat netral kan?

"Ayo pangeran!" seru Gakupo tiba-tiba seiring dengan terangkatnya tubuh pemuda berambut biru itu. Kaito memekik kaget dan refleks mengalungkan tangannya di leher knight berambut ungu panjang itu. Gakupo segera melompat keluar dan berlari mengikuti arah yang Akaito tunjukkan.

"Itu dia disana!"

"Kejar dia!"

Kaito menoleh kebelakang karena suara-suara ribut itu. Tiga orang serdadu berpakaian armor hitam mengejar mereka bertiga.

"Ga-Gakupo?! Mereka siapa?!" tanya Kaito bingung.

"Anak buah pangeran Taito dan pangeran Zeito," ujar Gakupo singkat. Matanya terus tertuju ke depan.

Kaito tersentak, Taito dan Zeito ada di kota ini?!

"Kak! Dia disana!"

Tiba-tiba, seseorang berpakaian penyihir mengejar mereka. Pemuda itu melayang dan jaraknya cukup jauh dari mereka. Tapi Kaito yakin kalau pemuda itulah yang tadi berteriak.

Tak lama kemudian, terdengar suara sesuatu yang diseret dalam kecepatan tinggi. Lagi-lagi Kaito menoleh.

Seorang pemuda berambut hitam dengan seragam militer hitam-merah mengejarnya sambil menyeret pedang kembar di kedua tangannya. Wajahnya tertutup oleh hoodie. Kecepatannya layaknya kecepatan iblis karena secara tiba-tiba posisi mereka sudah sejajar. Pemuda itu berlari di atas atap perumahan. Setelah menoleh ke arah Kaito, sebuah seringaian maniak pun terlukis di bibirnya.

Pemuda itu kemudian melompat ke arah Kaito dengan kedua ujung pedang di hadapannya. Saat itulah angin menyibakkan hoodie pemuda itu.

Baik Kaito maupun Zeito tersentak. Wajah keduanya sangat mirip! Iris bloody red bertemu dengan iris sapphire. Mereka saling bertatapan dalam selang waktu sekian detik.

Gakupo menyadari hal itu dan bersiap menerima serangan Zeito, ia membiarkan dirinya yang menjadi sasaran kedua pedang berbilah hitam itu.

"T-T-TIDAKKK!"

TRANGG!

Nyaris saja pedang Zeito menyentuh punggung Gakupo, tapi sesuatu membuatnya terpental jauh dari kedua anggota kerajaan Azureridge itu.

BRUKK!

"Akh!" Zeito mengerang kesakitan karena tubuhnya terhempas sangat keras ke tanah. Kedua pedangnya tergeletak di tanah.

Gakupo mengerjapkan matanya, tidak percaya akan apa yang baru saja dialaminya. Ia kemudian menatap pangeran berambut biru yang ada di pelukannya.

"A-a-apa itu tadi…?" sang pangeran terlihat bingung juga. Jika dilihat baik-baik, sekarang mereka diselimuti oleh sebuah gelembung biru muda dengan rune di sekujur permukaan gelembung itu. Inikah kekuatan para anggota kerajaan Azureridge?

Gakupo tidak menyia-nyiakan kesempatan emas untuk kabur itu. Ia kembali berlari walaupun paru-parunya sudah sesak karena kebanyakan berlari, ia bahkan sempat berterima kasih kepada pangerannya. Yang kemudian dibalas dengan sebuah senyuman di wajahnya yang merona merah.

Kaito melemparkan pandangannya ke arah pemuda beriris bloody red itu. Zeito masih menatapnya di kejauhan.

'Aku harus melawannya…? Membunuhnya…?' gumam Kaito.

"Cepat sembunyi di hutan Midori!" seru Akaito, "kota ini sudah tidak aman. Kita harus segera menuju ke kota elf!"

=TBC=

A/N: INI REVIEWER PADA KONGKALIKONG BUAT NYARANIN BIKIN LEMON YAH… #plak #desh.

Hika kaget aja gitu, dua orang minta lemon… diriku tak bisa buat lemon nak—bisanya pake bahasa Inggris doang. Pake bahasa indo itu terlalu awkward… #plak.

Errr… yah, minggu depan tentang kota elf yah. Apa namanya sih… Hika lupa #plak.

Nah, tadi kan Zeito ama Kaito ketemu tuh. Menurut kalian, Zeito kena temptationnya Kaito gak? UvU~

Oh ya, cek fict Hika juga ya yang pake prompt tumblr~ kalau kalian mau ngasih prompt juga gak apa-apa kok~ kasih yang susah sekalian biar Hika juga latihan bikin fict~

Mini Dictionary: Shoji: Pintu geser. Pintu tradisional orang Jepang. Biasanya terbuat dari kayu.

Balas Review~:

Yuzumi Suzuo: Err… soal lemon… Hika usahakan yah… Hika masih agak takut bikin lemon. Doain aja supaya bisa ;; w ;; #plak #sesat. Soalnya Hika udah janji buat bikin lemon setelah ulang tahun Hika yang ke-17 dan umur Hika dibawah itu orz. Gak enak ngelanggar janji sendiri OTL.

Balas review selesai~

Hika gak berniat bikin para reviewer jengkel karena cerita Hika yang SANGAT nyerempet. Oleh karena itu, Hika akan coba buat (minimal) Lime. Tapi, gak apa-apa nih ceritanya naik rate? Kalau kalian gak setuju yah silahkan boikot Hika… #gakgitu.

Yup, lanjut ngetik chap 12~

Sign,

HiShou~