Cast: Kim Taeoh, Kim Jongin, Oh Sehun. (KaiHun)
Genre: Family
Warning: Boys Love, Mpreg, Typo, Kata tidak baku.
.
Chapter 11...
.
.
Sehun itu manja, hanya saja terselubung alias tak terlihat karena dia manjanya tahu tempat. Tapi sejak kehamilannya menginjak usia delapan bulan, kemanjaannya bertambah menjadi berlipat-lipat ganda. Jongin tak boleh pergi ke kantor dan harus selalu berada di sampingnya, jadilah Jongin harus mengerjakan semuanya di rumah dan kalau ada rapat terpaksalah Joonmyeon yang menangani karena bagaimanapun juga kakaknya itu juga pemegang saham terbesar di Kim Corp dan masihlah pewaris sah disana.
Jongin sudah meminta maaf berulang kali pada Joonmyeon, padahal Joonmyeon sendiri pun sibuk di rumah sakit tapi harus mengurus perusahaan juga. Untung saja kakak mungilnya itu sangat bijaksana, ia tahu kalau adiknya tengah mengalami ujian menjadi orang tua. Makanya dengan senang hati Joonmyeon membantu, toh ini untuk keponakannya juga.
Bukan hanya Jongin, Taeoh pun kena sasaran kemanjaan Sehun. Taeoh harus stand by di samping mamanya itu setelah pulang sekolah, tak boleh pergi kemana pun. Sehun tak mengizinkan anak tampannya ini pergi se-inchipun dari rumah. Taeoh harus di sampingnya selalu untuk di cium-cium dan di peluk-peluk, kalau ini bukan cuma keinginan bayinya tapi juga keinginan dirinya pribadi.
Sedangkan Jonginlah yang paling malang, Sehun sekarang sering minta di gendong. Ke kamar, ke kamar mandi, ke dapur, kalau lagi kumat manjanya Sehun akan meminta di gendong kemanapun. Jongin hanya bisa menghela nafas lelah, dan menyediakan obat pijat banyak-banyak. Kau tak akan tau, kalau belum mencobanya. Menggendong orang hamil tua benar-benar melelahkan. Jongin berani sumpah.
"Jong, aku mau ke dapur." Sehun melirik Jongin yang sedang memeriksa berkas kantor di meja kerjanya yang baru saja di pindahkan ke kamar mereka.
"Baiklah, ayo sayang." Jongin meninggalkan laporan karyawannya dan berjalan menuju Sehun yang tengah bersandar di tempat tidur.
"Aku ingin berjalan, baby tak mau di gendong olehmu." Sehun memalingkan mukanya.
Jongin sendiri hanya mengerenyit heran.
"Bukankah biasanya kau minta ku gendong?"
"Tapi sudah tidak lagi." Sehun mendengus.
"Aku gendong saja ya."
"Tidak mau."
Sehun turun dari tempat tidur dan mulai berjalan menuju pintu kamar. Jongin dengan setia mengikuti Sehun dari belakang, sesekali ia meringis saat melihat kaki Sehun yang mulai bengkak. Jongin memang lelah, namun ia tidak pernah keberatan untuk selalu menggendong Sehun.
Ia malah lebih tenang bila sang istri di dalam pengawasannya, karena melihat Sehun yang berjalan dengan tangan menopang pinggang dan kaki yang membengkak sungguh membuatnya merasa khawatir kalau-kalau Sehun kehilangan keseimbangan.
Setelah beberapa menit terlewati Sehun pun sampai di dapur, ia merasa seperti siput ataupun kura-kura yang jalannya lambat sekarang. Sehun mendudukkan dirinya di kursi meja makan dan Jongin dengan sigap berlutut di hadapannya untuk memijat kakinya.
Sehun menunduk dan memperhatikan sang suami yang dengan telaten memberikan tekanan-tekanan lembut pada telapak kakinya, melihat Jongin seperti ini Sehun selalu merasa bersalah. Sehun merasa ia benar-benar jahat saat meminta hal-hal yang kadang tak masuk akal pada Jongin.
"Jong, jangan pernah melakukan hal ini pada orang lain."
Jongin mengangkat kepalanya saat tiba-tiba Sehun berbicara. Ia bisa melihat Sehun yang tengah menatapnya sendu.
"Melakukan apa?"
"Memijat kaki orang lain."
"Ehh? Tapi aku pernah memijat kaki Joonie hyung saat dia hamil."
Sehun menepuk belakang kepala Jongin pelan, heran dengan kebodohan suaminya ini. Apakah makanan berkualitas yang di masak Sehun, sama sekali tak membuahkan hasil di otak kecil Jongin? Entahlah, ia bersyukur karena Taeoh sangat pintar yang mungkin saja itu turunan Kyungsoo.
"Joonie hyung itu kakakmu, tentu saja kau harus melakukan hal itu. Yang ku maksud, jangan melakukan hal itu pada orang lain selain aku dan keluargamu." Sehun cemberut, ia menyilangkan tangannya di dada.
"Baiklah sayang." Jongin hanya terkekeh pelan, ia bangkit berdiri menuju kulkas. "Kau ingin memakan apa sayang?"
"Darimana kau mendapatkan makanan? Bukankah sudah dua minggu ini aku tak memasak?"
Sehun mengajukan pertanyaan yang sudah lama di simpannya. Ia tak pernah memasak lagi sejak dua minggu yang lalu, tapi mereka selalu makan makanan yang enak dan sehat.
"Ah, Joonie hyung selalu membawakan makanan kesini. Dia juga sering memasak di sini."
"Ya tuhan, bagaimana aku harus membalas kebaikannya coba?"
Sehun mengusap wajahnya. Bukannya berlebihan, tapi kakak iparnya itu sudah terlalu baik pada mereka. Mulai dari ikut kena dampak ngidamnya seperti cosplay ataupun mencoba masakan aneh yang di buatnya, tapi Joonmyeon sekalipun tak pernah protes.
Ataupun selalu memantau kandungan Sehun, mengambil alih perusahaan untuk sementara, dan sekarang memasakkan makanan untuk mereka. Ughhhh, bahkan Sehun tak bisa membayangkan serepot apa Joonmyeon mengingat ia juga mempunyai anak dan profesinya sebagai dokter.
"Ummm? Mungkin dengan membelikannya mobil baru? Atau rumah? Atau lapangan golf?"
"Benarkah?"
Jongin hanya bercanda. Tapi Sehun menganggap serius.
"Tentu saja tidak sayang. Tanpa kau belikanpun, ia sudah mempunyai itu semua. Kau lupa? Kakakku itu istri Wu Yifan" Jongin terkekeh pelan sambil memotongkan kue strawberry yang tadi pagi di bawakan Joonmyeon.
"Kenapa dengan Yifan ge?" Sehun mengerutkan alisnya, bingung.
"Naga itu tak pernah membiarkan Joonie hyung dan baby Zhuyi kekurangan apapun, kau bisa lihat sendiri. Rumah mereka saja bagaikan istana lengkap dengan lapangan golf di belakangnya, Yifan hyung selalu tau apa yang di sukai Joonie hyung tanpa Joonie hyung mengatakannya ."
Sehun mengangguk singkat. Ia juga sangat terkejut saat pertama datang ke kediaman Wu, ia tahu Yifan kaya tentu saja karena Yifan dan Luhan adalah teman sewaktu di China. Hanya saja ia bahkan tercengang saat melihat rumah bak istana Disney lengkap dengan kolam renang, halaman luas dan lapangan golf pribadi.
"Kalau begitu kenapa Joonie hyung bekerja?"
"Bekerja sebagai dokter adalah hobby dan kesenangan Joonie hyung, sayang. Jadi Yifan hyung sekalipun tak akan bisa melarang hal itu."
"Ahhh, begitu." Sehun mengangguk mengerti.
"Huhhh, aku harus memberikan apa untuk membalas budi pada Joonie hyung ya?" Sehung menopang dagunya di meja.
"Kau hanya harus melahirkan bayimu dengan selamat."
Suara itu terdengar dari pintu dapur, saat mereka melayangkan pandangan kesana nampaklah Joonmyeon yang tengah menggandeng Taeoh dan di sebelahnya Yifan yang tengah menggendong Zhuyi.
"Hyung sudah sangat bahagia bila kau dan bayimu sehat." Joonmyeon menyambung ucapannya dan duduk di sebelah Sehun, mengenggam tangannya dengan lembut. "Lengkapi kebahagian Jongin dan Taeoh, maka hyung juga akan bahagia melihatnya"
"Aku menjanjikan hal itu hyung." Sehun balas menggenggam tangan Joonmyeon, matanya berkaca-kaca.
"Oke kalau begitu, ayo kita pergi."
Jongin datang ke dapur bersama Taeoh yang sudah ganti baju, bahkan Sehun tak menyadari kapan suaminya itu pergi.
"Kemana?" Sehun bertanya heran saat Jongin memakaikannya mantel tebal untuk menghalau udara dingin.
"Kalian akan tahu nanti."
Jongin menyeringai tampan dan membantu Sehun untuk berjalan menuju mobilnya. Sedangkan Yifan dan Joonmyeon mengikuti mereka dari belakang.
"Hyung, aku akan ke lokasinya. Kau ikut?" Jongin membalikkan badannya untuk melihat Yifan setelah memastikan istri dan anaknya nyaman di dalam mobil.
"Hemm? Baiklah, lagipula aku mau bolos kali ini. Sektretarisku bertambah cerewet saja akhir-akhir ini." Yifan menyenderkan badannya pada pintu mobil setelah ikut memastikan Joonmyeon duduk dengan aman di jok depan.
"Itu karena kau sering bolos hyung." Jongin menjawab datar.
"Iya kah? Aku tak pernah bolos kok, izin baru sering."Yifan cuek, Jongin face palm.
"Ya ya ya, terserahmu sajalah hyung toh itu perusahaan adalah kepunyaanmu."
"Nah, itu kau tau. Ughhh, adikku ini memang pintar ya." Yifan menunjukkan wajah gemas di buat-buat.
"Kau baru tau?" Walau begitu tetap saja Jongin bangga di katakan pintar, tak memperdulikan nada mengejek yang di keluarkan kakak iparnya itu.
"Sesukamu saja lah. Sudahlah, ayo kita berangkat." Yifan memasuki mobilnya meninggalkan Jongin yang masih berdiridi luar dan tak lama kemudian pemuda tan itu pun mengikuti Yifan.
.
-AkaSunaSparKyu-
.
Sehun sama sekali tak tau maksud Jongin untuk membawanya kesini, ia mengedarkan pandangannya ke sekeliling mengamati isi dari bangunan mewah yang di kunjunginya. Matanya melirik Jongin yang sedang menggendong baby Zhuyi, beruntung Jongin juga tengan melihatnya dan tak lama setelahnya sang suami telah berada di sampingnya.
"Apa ini?"Sehun bertanya sambil mencium bayi tampan itu sejenak, sepertinya wajah tampan Yifan lah yang lebih dominan menurun padanya.
"Umm? Pipi?" Jongin terkekeh pelan saat melihat bibir Sehun mengerucut.
"Ishhhh, kau benar-benar…" Sehun kehilangan kata-katanya.
"Mian.." Jongin menarik tangan Sehun dan mendudukkannya di sofa, Sehun memperkirakan ini pasti ruang tamu. "Kau menyukainya sayang?" Jongin menyisipkan rambut hitam Sehun yang mulai memanjang ke telinganya.
"Tentu saja." Sehun menjeda ucapannya saat Yifan, dan Joonmyeon datang sambil menggandeng Taeoh yang sedang berbinar, sepertinya mereka habis berkeliling.
"Mama, ada kolam lenang di dalam lumah ini." Taeoh berucap antusias sambil mendudukkan dirinya di pangkuan sang papa setelah Jongin menyerahkan Zhuyi pada Joonmyeon.
"Oh ya?" Sehun menaikkan alisnya menatap Jongin.
"Hemm, Kamu suka sayang?" Sekarang Taeoh lah sasaran pertanyaan Jongin.
"Humm hummm.."
"Kalau kalian suka, kita bisa pindah ke sini lusa." Jongin mengabaikan tatapan kaget dari istri dan anaknya.
"Ehhh? Kenapa?" Taeohlah yang pertama kali membuka suara.
"Tentu saja karena kalian menyukainya." Jongin menjawab santai.
Suka? Jongin bercanda? Ya tentu saja mereka menyukainya. Ini adalah rumah besar dan mewah, walau tak sebesar kediaman Wu namun bangunan ini lebih besar tiga kali lipar rumah mereka. Rumah ini di lengkapi dengan kolam renang, dan taman bunga yang luas. Siapa yang tidak menyukainya coba?
"Ini adalah kediaman keluarga Ahn sebelumnya, mereka pindah ke Belanda seminggu yang lalu." Joonmyeon menjelaskan pada Sehun dan Taeoh yang masih terdiam.
"Sebenarnya aku ingin memberikan yang seperti milik mereka." Jongin melirik Yifan yang tengah bersandar di sofa, like a boss. "Tapi, waktunya tak cukup untuk membangunnya sebelum kau melahirkan. Memang ada yang sudah jadi, tapi itu sangat jauh dari kantorku."
"Tunggu dulu." Sehun menyela tiba-tiba, sepertinya masa terkejutnya sudah lewat. "Kenapa kau tak mengatakan hal ini pada kami?"
"Tentu saja untuk kejutan sayang."
"Yeah, kami terkejut."
"Jadi? Kapan kalian pindah? Bila semuanya sudah jelas, kau bisa melakukan transaksi pembayaran segera." Yifan menyenderkan kepala Joonmyeon di bahunya.
"Pa," Suara Taeoh mengalihkan pandangan mereka padanya.
" Tae memang menyukai lumah ini, tapi bukan belalti Tae mau pindah kethini." Matanya menatap Jongin dengan pandangan polos.
"Eh? Kenapa? Disini ada kolam renangnya loh, dan rumah ini juga luas sehingga Tae bisa bermain bersama adik bayi disni dengan bebas nanti." Jongin mengerutkan dahinya, heran.
"Pa, lumah kita juga bethal." Taeoh menyangkal ucapan ayahnya, rumah mereka memang minimalis tapi bukan berarti rumah itu kecil juga.
"Tapi, kita akan kedatangan seorang anggota baru nanti sayang." Jongin masih mencoba membujuk Taeoh. Oh ayolah, ia kan hanya menginginkan yang terbaik untuk keluarganya.
"Jong." Sehun menarik wajah Jongin ke hadapannya dengan lembut. "Aku juga tidak setuju untuk pindah kesini."
"Eh? Kau juga?" Jongin bertambah heran.
"Ya." Sehun mengangguk mantap.
Sedangkan Jongin sendiri tengah bingung sekarang, kenapa istri dan anaknya tidak mau pindah kesini? Apa ini kurang mewah dan besar? Di sisi lain Yifan dan Joonmyeon hanya diam menyaksikan pembicaraan keluarga kecil itu.
"A-apa ini kurang besar?"
"Sayang, dengar kan aku." Jongin diam mendengar ucapan Sehun. "Bukan karena itu, ini sudahlah sangat lebih daripada cukup. Tapi maaf, aku tetap pada keputusanku untuk tetap berada di rummah kita."
"Tae juga" Taeoh mengangguk cepat saat Sehun meminta dukungan padanya.
"Aku mau anak kita nanti tumbuh di tempat Taeoh di besarkan. Aku ingin mereka tumbuh bersama di rumah kita yang walaupun minimalis tapi penuh dengan kehangatan, aku ingin mereka berlarian di dalam rumah sambil memecahkan salah satu guci ku." Sehun terkekeh pelan.
"Aku ingin mereka bermain hingga gelak tawa mereka bisa kudengar sampai ke dapur dimana aku tengah memasak. Sayang, aku tidak menginginkan rumah besar dan mewah dimana aku tidak bisa mendengar suara tangisan dan tawa mereka akibat jarak yang luas. Kau mengerti?"
Jongin mengangguk dalam diam saat mendengar alasan Sehun. Yahhh, istrinya memang beda sih. Lagipula yang di ucapkan Sehun memang benar, ia juga menginginkan hal itu. dimana ia bisa melihat anak-anaknya berlarian di dalam rumah dan memecahkan guci Sehun lalu istrinya itu akan datang dari dapur dengan apron dan spatula di tangan untuk memarahi anak mereka.
Jongin terkekeh pelan menyadari kesalahannya. Ia menatap Sehun yang berada di sampingnya.
"Maaf kan aku yang tidak peka."
"Tidak-tidak, kau hanya sedang berusaha untuk menyenangkan kami. Dan aku sangat menghargai hal itu."
Sehun dan Jongin terkekeh pelan dan menyandarkan punggung mereka di sofa, ah sebelum pulang mereka akan mengistirahatkan badan mereka terlebih dahulu.
Sedangan di sofa lainnya, nampaklah Yifan dan Joonmyeon yang tengah melihat mereka dengan pandangan terharu.
"Sayang, haruskan aku membeli rumah kecil seperti milik Jongin?" Yifan berbisik dengan gaya songong minta di tabok.
"Ehhh? Tidak usah, aku cukup menyukai rumah kita."
"Benarkah? Bukankah kau selalu menginginkan hidup sederhana?"
"Tentu saja." Joonmyeon mengangguk. "Tapi kau sudah membangun rumah itu demiku dan anak kita, dan aku yakin kau tau yang terbaik untuk kami."
Joonmyeon menatap wajah tampan Yifan dengan sangat lembut, ia mengusap bahu lebar sang suami dengan sayang.
Mempunyai rumah minimalis seperti adiknya? Joonmyeon tentu mau karena itulah impiannya, untuk hidup sederhana. Tapi, ia juga tau kalau Yifan tak pernah hidup dalam keadaan seperti itu dan lebih suka dengan kehgidupan mewah dan glamour. Joonmyeon mengalah, toh Yifan melakukan hal itu semata untuk kebahagiannya dan Zhuyi.
Bukankah kehidupan berumah tangga selalu seperti itu? Penuh dengan pertimbangan. Seperti Jongin yang mengikuti kehendak Sehun yang menolak rumah mewah ini demi bisa melihat anak-anaknya tumbuh dengan baik. Begitupula Joonmyeon yang mengalah pada Yifan untuk hidup dalam kemewahan dan mengubur ke inginannya untuk hidup sederhana.
.
-AkaSunaSparKyu-
.
Tutttt… tuttt…
"Pa, mama menangith kethakitan. Thepeltinya mau melahilkan" Suara Taeoh terdengar gusar.
Jongin menegang di seberang sana.
"Cepat pulang pa. Tae akan menelepon mommy."
Suara bentakan anaknya sukses membuatnya kembali pada kenyataan bahwa yang di dengarnya adalah kenyataan. Istrinya mau melahirkan.
Tuttt… tuttt…
"Ya sayang?"
"Mom, mama menangith kethakitan. Thepeltinya mau melahilkan."
"Hah? Baiklah, mommy akan kesana dengan ambulans."
"Cepat mom" Suara Taeoh terdengar memelas, Joonmyeon juga bisa mendengar suara Sehun yang merintih di seberang sana.
"Tae sudah menelepon papa?" Joonmyeon bertanya sambil berlari.
"Thudah."
"Kalau begitu mommy akan kesana sekarang." Dan panggilan terputus.
"Ma, tunggu thebental ya." Taeoh mengelap dahi Sehun yang berkeringat dingin, matanya berkaca-kaca.
"Sa-sakit sekali sayang. Ya tuhan…" Sehun menahan tangisnya, tidak ingin Taeoh merasa khawatir.
"Mommy dan papa thedang ke thini." Taeoh menggenggam tangan Sehun dengan erat.
Ia sungguh merasakan sangat amat takut sekarang. Sesampainya dari sekolah, yang di lihatnya bukanlah Sehun yang menyambutnya dengan duduk di sofa sambil membaca majalah. Tapi mamanya itu tengah bersandar dinding dapur dengan peluh menetes dan air yang mengalir dari selangkangannya. Itu tanda-tanda mau melahirkan, Joonmyeon sudah mewanti-wanti itu padanya dan Jongin dari jauh-jauh hari.
Taeoh ingin membantu Sehun, tapi dia bisa apa? Tubuhnya saja kecil dan tidak akan kuat untuk memapah mamanya itu. Ia ingin merutuk hari ini, karena hari ini sang supir tidaklah masuk kerja. Lalu kemudian ia cepat mengambil telepon dan mulai menelepon Jongin dan Joonmyeon. Walau seorang anak kecil, bukan berarti dia tidak bisa berbuat apa-apa bukan?
"Sayang, i-ini sangat sakit." Taeoh masih menggenggam tangan Sehun dengan erat.
"Mama haluth kuat, hiks hiks."Akhirnya tangis yang ditahannya pecah.
"Jangan menangis." Sehun tersenyum lemah, dia sudah berada di ambang batas.
"Ma, ma,…" Taeoh menggoyangkan lembut bahu Sehun, tapi ia tak mendapatkan respom.
Bertepatan dengan kedatangan Jongin dan Joonmyeon disana, mereka bisa melihat Sehun yang hanya diam menutup mata tak merespon ucapan dan sentuhan Taeoh.
"MAMAAAAA…"
Dan mereka segera tersadar saat Taeoh menjerit histeris.
.
.
TBC...
Holla...
Kangen Suna...?
Saya terharu banget karena masih ada yang mau membaca FF jelek saya ini. hiks hiks...
Yang bertanya Lee Yangja, oh ayolah... Kita lupakan saja dia, toh dia bukanlah orang penting disini.
Dan buat Saphire always for onyx... Gomen-ne, suna salah nulis namanya. Sekali lagi Gomen...
Juga buat VampireDPS.. Iie, suna belum menikah, apalagi punya anak. hahahaha
Dan untuk yang masih bertahan menjadi Silent reader, ayolah review ff ini. Enggak susah kok, tinggal ke kotak review buat nulis beberapa patah kata disana.
Nulis panjang-panjang juga boleh...
Thanks banget buat yang udah pav, fol, ff ini.
Oke... jangan lupa review ne... Adios...
Big Thanks to:
[Nagisa Kitagawa] [KimKaihun8894] [aoixo] [FathyaNM] [Qiannie26] [LoveHyunFamily] [exolweareone9400] [RinZura] [BerryKyunnie] [bbuingHyewa] [Zelobysehuna] [babyhunhun94] [Kim Seo Ji] [Yessi94esy] [Hann Hunnie] [Misyel] [xobechan56] [cho loekyu07] [ayufishy3424] [whirlwind27] [sehunskai] [Kim Se Byul] [dia luhane] [anoncikiciw] [saphire always for onyx] [Ath Sehunnie] [lustkai] [yunacho90] [theressa msl97] [Risty662] [ParkJitta] [JongOdult] [emin duck] [Imeelia] [auliavp] [rosianakawai] [Geobi] [Syakilashine] [Ks] [askasufa] [sumiya wu] [hunnbebi] [my love double b] [kkam EdyBrr] [seli kim] [izzsweetcity] [akuyeppeo] KaiHunnieEXO] [VampireDPS]
