.
Rock With Me
.
Pengarang: Kristen Proby
.
.
.
Oh (Do) Kyungsoo
Kim Jongin
.
.
Ini BUKAN karya Cactus93, Cactus93 hanya ingin me-remake dan berbagi cerita yang Cactus93 sukai. Cactus93 hanya mengganti nama pemeran, mungkin dialog yang sesuai dengan keadaan. Setting cerita ini tidak di Korea.
.
.
.
Hope u will enjoy this remake^^
Sorry for typos
Happy reading!
.
.
.
.
"Kita akan ke mana?" Aku bertanya sambil mengerutkan kening melihat keluar dari jendela mobil Jongin. Kami berada di antah berantah.
"Aku akan menunjukkan sesuatu."
"Rumah lain?" Tanyaku, tak mampu menjaga rasa gembira dari suaraku.
"Tentu." Dia menggelengkan kepala dan tersenyum ke arahku.
"Kuharap itu seorang agen real estate yang berbeda. Gadis itu bukan untukmu." Aku menertawakannya dan mengacak-acak rambut cokelat muda miliknya menggunakan jemariku.
"Yang pasti agen yang berbeda." Dia menangkap tanganku untuk mencium telapak tanganku.
Kami terus mengemudi di sisi jalan, dan aku benar-benar kehilangan arah di mana kami berada. Jongin memutar radio, mendengarkan stasiun lokal untuk lagu rock yang populer dan bernyanyi bersama dengan Pink.
"Kau penggemar pink?" Tanyaku keheranan.
"Bukahkah semua orang suka? Cewek hebat. " Dia tertawa dan menggelengkan kepalanya. "Dan dia menjadi group yang belum pernah kulihat dari group lain."
"Aku pernah mendengar bahwa dia mengurangi kegiatan karena punya anak." Aku bernyanyi bersama dengan radio. Lagu ini salah satu favoritku. You've got to get up and try...
"Kupikir itu benar, aku sudah lama tidak melihatnya."
"Di mana rumah ini yang akan kita lihat?" Aku bertanya sambil melihat kawasan di sekitar kami. "Kita berada di antah berantah."
"Bersabarlah." Dia tertawa.
"Aku tidak sabar. Mengapa kau tidak belajar dari sekarang?"
"Syal biru itu terlihat indah padamu." Dia menyeringai ke arahku, mengubah topik pembicaraan. "Membuatmu terlihat lebih manis."
"Kau seorang perayu." Aku melambai ke arahnya dan memandang semua pohon di sepanjang jalan dengan wajah cemberut. "Dan kau akan menjadi seorang perayu tunggal jika kau membeli rumah di tempat yang aku tidak tahu."
Dia tertawa dan menggelengkan kepalanya padaku, dan aku berhenti berusaha untuk mencari tahu di mana kita akan pergi dan aku duduk tenang sambil menatapnya. Hari ini dia memakai jaket kulit hitam dengan celana jeans biru pudar yang menjadi ciri khasnya. Tidak ada topi kupluk, dan aku lebih suka, sehingga aku mengusap rambutnya lagi dengan jemariku dan mendesah dengan puas.
Dia senantiasa melirik ke jam sambil terus mengemudi.
"Apakah kita akan terlambat?"
Dia hanya menggeleng dan mencengkeram roda kemudi dengan kuat.
Kenapa dia gugup?
"Kurasa sudah sampai," Gumamnya dan berhenti di kawasan bertebing yang berada di daerah teluk. Aku bahkan tidak menyadari kami sangat dekat dengan air. Terdapat tebing berumput di sebelah kananku penuh dengan pohon-pohon. Pemandangan yang spektakuler.
Tapi tidak ada rumah.
Aku mengerutkan kening pada Jongin, tetapi dia sudah keluar dari mobil dan membuka pintu untukku.
"Eh, Jongin, tidak ada rumah di sini."
"Beri aku waktu sebentar."
Setelah dia menarikku menjauh dari mobil, ia bersandar ke pintu penumpang yang terbuka dan mengatur volume radio menjadi lebih keras sehingga aku cukup yakin adikku yang berada di Alki bisa mendengarnya.
Dia memeriksa jam tangannya lagi, mengangguk dan tatapannya tertuju padaku.
"Apa yang kau lakukan?" Tanyaku lalu tertawa. "Ini bukan seperti dirimu."
"Dengar," Bisiknya.
Lagu di radio berakhir dan suara terdengar suara DJ.
"Hei, pendengar di Seattle, itu tadi Life After You dari Daughtry, di sini KLPR, stasiun radio rock terbaik Seattle. Aku mempunyai sesuatu yang khusus untuk pendengar kami. Kemarin aku mendapat telepon dari Seattle yaitu Kim Jongin dari band Kai yang memintaku untuk memutar single terbaru mereka dari album mereka berikutnya, Sunshine. Album ini belum bisa di edarkan dalam beberapa bulan ke depan, tapi hari ini kami memiliki kesempatan mencuri start untuk memutar lagu ini untuk kalian. Jongin mengatakan lagu ini didedikasikan untuk seseorang yang sangat istimewa. Aku harap kalian menikmatinya."
"Kau becanda denganku?" Tanyaku, mataku melotot. Jongin tersenyum lembut lalu mencengkeram ujung syal milikku ke dalam genggamnya dan menarikku mendekat padanya.
"Berdansalah denganku."
Dia merengkuhku ke dalam pelukannya sesaat denting piano dimulai, dia membawaku sambil mengayun bolak-balik di sepanjang tebing, angin bertiup melalui rambut kami dan terasa menyengat di pipiku. Dia bergerak sedikit mundur, sehingga aku bisa menyelinapkan tanganku di bawah jaketnya, dan tangannya kembali memelukku dengan erat, memeluk lebih dekat, memandang ke mataku.
I don't wanna be your friend
'Cause I've already let you in
Every time I see your sweet round eyes
I know I need to make you mine
My walls crumble… and crumble
So all you see is the real me
When you smile
Your sunshine hits me
And the shadows in my soul
They are gone
Dia menyanyi dengan lembut, matanya menatap ke bibirku dan kemudian kembali menatapku. Dia mencium keningku dengan lembut.
"Aku suka lagu ini," bisikku.
"Aku mencintaimu," bisiknya kembali, melengkungkan tubuhku ke belakang, dan kemudian dengan gembira dia mengayunkan diriku berputar di sekitar mobil. Lagu ini mengalun di sekitar kami, seluruh dunia seakan telah berhenti, dan bahkan seperti ombak menerjang tebing dengan tenang.
Oh how many times
Did I stare at your lips
Wishing I could feel
Them on me
When you're so close
Baby, I forget how to breathe
When you smile
Your sunshine hits me
And the shadows in my soul
They are gone
When I run my hand
Over your perfect skin
I know you see me
And not what I'm covered in
My walls crumble… And crumble
So all you see is the me
I need you to see
Aku tidak bisa menghindari tatapannya. Bagaimana dia menatapku. Apa yang yang layak aku berikan padanya?
Dia menangkup wajahku dengan tangannya dan menggosok bibirku dengan bibirnya, menggigit dengan lembut dan membelai mulutku, kemudian tenggelam bersamaku, menciumku dengan sepenuh hati hingga lagu kami berakhir.
Dia menarik diri, matanya terlihat bahagia dan bersinar karena gairah, mencium pipiku dan kemudian melepaskanku untuk bersandar ke mobil dan mematikan radio.
Ketika ia berbalik kembali padaku, wajahnya terlihat bimbang.
"Kapan kau merekam lagu itu?" Tanyaku, sedikit tersengal.
"Minggu lalu." Dia mengangkat bahu dan menarikku kembali ke dalam pelukannya, lenganku berada di bawah jaketnya lagi untuk menjaga tetap hangat. "DJ dan Gary datang dari LA dan kami menghabiskan beberapa waktu di studio."
"Apakah itu pesan misterius darimu?" Tanyaku dan pura-pura cemberut padanya.
"Ya." Dia terkekeh dan mencium hidungku.
"Aku menyukainya." Aku mencium dagu dan tersenyum. "Aku benar-benar menyukainya. Apakah kau serius memberi judul album Sunshine?"
"Ya, itu untuk kita." Dia mengusap pipiku dengan ibu jarinya. "Sebuah penghargaan."
Aku tersenyum kemudian memandang di sekitar kami hanya ada air, pohon-pohon, karang terjal. "Tidak ada rumah, kecuali jika memakai Jubah Gaib."
"Aku tidak tahu kau penggemar Harry Potter."
"Tentu." Aku mengangkat bahu.
"Belum ada rumah." Dia mengangguk dan mengikuti tatapanku.
"Apa maksudmu? Apakah kau akan membangun sebuah rumah panggung?" Aku menyeringai dan menatap ke kawasan teluk. "Apa kau tahu berapa banyak rumah jatuh ke dalam air setiap tahun di sini?"
"Jadi, ini kesepakatan." Dia mencium keningku lagi dan, meraih tanganku, dan menarikku berjalan mendekati bukit karang.
"Kita sudah berjalan jauh." Aku menghentikan langkahku. "Aku takut ketinggian, ingat?"
"Oke, kucing penakut." Dia tertawa dan matanya memandang ke air. "Apakah kau tahu betapa aku ingin tinggal di atas air ketika pertama kali aku pindah ke sini? Aku belum pernah melihat laut sampai aku pindah ke sini saat berumur sembilan belas tahun."
Dia mengalihkan tatapannya padaku dan meremas tanganku.
"Kau tidak bisa menemukan rumah di atas air yang bisa dibeli." komentarku.
"Setelah sore hari yang menarik bersama agen terakhir pada waktu itu, Kupikir akan lebih baik untuk membangun." Dia mengangkat bahu. "Ditambah, kau akan mendapatkan apa yang kau inginkan."
"Jongin." Aku menelan ludah dan mencoba menjaga untuk tidak panik. "Aku bilang, aku belum siap untuk hidup bersama."
"Aku juga." Dia tertawa dan berbalik kepadaku, mengambil kedua tanganku. "Apakah kau tahu berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk membangun semua rumah?"
"Ya, Joonmyeon adalah kontraktor."
"Bagus, dia bisa membangunnya."
"Tapi ..."
"Dengar." Dia menciumku, tetap tersenyum, dan aku mulai tenang, meski hanya sedikit. "Kita bahkan tidak perlu membelah bukit sampai kita berdua sepakat bahwa kita siap untuk mengambil langkah, Kyungsoo. Lahan tersebut berada di sini."
"Tapi itu sangat jauh dari kota."
"Tidak, itu tidak." Dia menggelengkan kepala dan tersenyum malu. "Tadi aku mengambil rute pemandangan yang indah. Aku hanya mencoba untuk membunuh waktu sambil menunggu radio memutar lagumu."
"Seberapa jauh?"
"Hanya sepuluh menit dari pusat kota." Dia menelusuri pipiku dengan ujung jarinya. "Pikirkan lemari seperti apa yang ingin kau buat, Sayang."
"Oh Tuhan, itu tidak adil menyuapku dengan lemari."
"Aku tidak menyuapmu." Dia melemparkan kepalanya ke belakang sambil tertawa. "Aku ingin kau memenuhi rumah dengan idemu. Kau bisa melakukan apa pun yang kau inginkan, kapan pun kau siap."
"Apakah kau sudah membelinya?" Tanyaku, sudah tahu jawabannya. Dia melihat ke bawah dan mengerutkan kening karena gugup dan kemudian kembali menatap mataku.
"Ya. Untuk kita. Ketika kita sudah siap. Hal itu akan terlaksana, Sunshine. Kau adalah milikku."
Dia benar. Dan aku mencintainya karena dia tidak memaksakan keinginannya, melainkan membiarkan segalanya berjalan sebagaimana mestinya.
"Jadi, ketika kita siap untuk tinggal bersama," aku menjelaskan, "Kita akan menyusun rencana dan meminta Joonmyeon membangun rumah kita di sini, diatas karang terjal dengan ketinggaian 75 kaki?"
"Atau pada bagian berumput di sana." Dia setuju.
Aku melihat pemandangan diatas air, langit berawan gelap dengan burung-burung camar putih terbang di atasnya mencari makanan. Sebuah feri yang membawa orang ke salah satu pulau.
"Ini pemandangan yang indah."
"Memang." Aku melirik padanya yang sedang menatapku dengan mata yang serius. "Aku ingin melihat itu selama sisa hidupku."
Wow.
"Terima kasih." Aku memeluknya erat, menguburkan wajahku di dadanya dan menghirup wangi tubuhnya.
"Untuk apa, Sayang?"
"Laguku. Tempat ini." Aku mengangkat kepalaku dan menatap wajahnya yang tampan. "Karena begitu baik padaku."
"Terima kasih kembali." Dia mencium keningku dan mengajaku kembali ke mobil. "Adakah yang lain yang ingin dibawa dan film dalam perjalanan pulang?"
"Dan cupcakes."
.
OoooO
.
"Serius, mengapa semua pria berpikir bahwa perkelahian mengagumkan?" Aku merasa ngeri saat melihat penjahat yang malang kehabisan napas pada TV layar lebar di kamar tidur Jongin.
"Tanyakan adikmu, dia ahlinya." Jongin tertawa lalu menggigit lemon cupcakenya. Aku sangat menginginkan kuenya dan dia menjauhkan dari jangkauanku. "Milikku."
"Tapi aku tidak mendapatkan yang lemon." Aku memohon padanya lalu menangkup kejantanannya dengan tanganku. "Tolonglah?"
"Kau tidak menipuku." Dia menyeringai dan mendorong tanganku. "Kau anak nakal yang egois ketika memiliki cupcakes."
"Pelit." Aku cemberut dan menyilangkan tangan di dadaku. Cupcake-ku sudah habis.
Dia menyeringai lagi sesaat kemudian teleponnya berdering.
"Kai." Dia menelan kue dan mengerutkan keningnya. "Kapan?"
Aku tidak suka nada suaranya. Dia menghentikan tayangan film dan duduk tegak, melihat arlojinya.
"Oke, jangan panik. Aku akan menelepon ke bandara untuk menyiapkan jet. Kau hanya membawa barangmu dan temui kami di sana. Ya, aku akan menelpon anggota band yang lain juga. Katakan pada Lori, kita mencintainya."
Dia menutup telepon dan mengusap wajahnya.
"Itu tadi adalah Gary."
"Ada apa?" Aku langsung bertanya.
"Lori dalam persalinan."
"Dia melahirkan lebih awal." Aku mengerutkan kening.
"Ya, Kupikir kita masih memiliki waktu. Gary masih di sini. Kita harus menemani Gary pulang ke istrinya." Dia melompat dari tempat tidur dan hanya memandang sekeliling kamar, matanya terlihat khawatir, sepertinya dia tidak tahu apa yang harus dilakukan terlebih dahulu.
"Oke, kau lakukan beberapa panggilan dan aku akan mengepak pakaianmu." Aku meraih koper besarnya.
"Apakah kau yakin? Kau harus pergi denganku."
Aku melipat celana jinsnya dan beberapa kaos dan meletakkannya di dalam tas. "Aku tidak bisa, Sayang. Aku ada jadwal wawancara dan hari ini Sehun telpon saat kita berada di bukit karang. Dia ingin ngobrol." Aku menggelengkan kepala dan tersenyum padanya untuk meyakinkan. "Semua akan baik-baik saja. Antar Gary pulang ke rumah; pastikan kondisi Lori. Katakan padanya aku minta maaf aku tidak bisa datang ke sana."
"Oke." Mulutnya cemberut dan aku bisa melihat kepedulian pria dalam perjuangannya dan pria itu berada di sini bersamaku. "Aku tidak suka itu."
"Semua akan baik-baik saja." Aku mengulanginya dan memeluknya erat. "Buatlah panggilan."
"Terima kasih." Dia mencium keningku dan mulai bekerja, pertama menelpon maskapai untuk memastikan jet siap dalam waktu satu jam.
Sangat menyenangkan memiliki pesawat terbang yang taat pada perintah.
Saat ia mondar- mandir di kamar tidur, melakukan beberapa panggilan, aku mengumpulkan barang-barangnya dan memasukkan ke dalam tasnya. Perlengkapan mandi, kaus kaki, pakaian dalamnya. Dia benar-benar memiliki pakaian dalam yang bagus. Mereka semua model boxer, berwarna hitam. Ada yang merk Armani dengan karet pinggang yang elastis. Ada merk Ed Hardy. Ya, Tuhan, mereka seksi.
"Kenapa kau menatap celana dalamku?" Dia bertanya sambil tertawa.
"Aku membayangkan bagaimana kau terlihat saat memakainya." Aku menyeringai dan melemparkan mereka ke kantong. "Kau memiliki celana dalam yang seksi."
"Apa obsesimu tentang celana dalam?"
"Aku hanya suka saja." Aku mengangkat bahu.
Dia menggelengkan kepala dan menelpon lagi. Aku berlari turun untuk mengambil komputernya dan apa pun yang dia butuhkan, sesaat aku melihat sebuah notepad di sofa. Lembar paling atas berisi lirik lagu yang belum selesai. Aku membacanya dan tersenyum. Ini jelas bukan balada, badass atau sebaliknya.
Aku membalik ke lembar baru dan menulis dengan cepat, lalu melipat dua, dan membawa sisa barang-barangnya ke kamar tidur untuk dimasukkan ke dalam tasnya.
"Kurasa aku sudah siap." Dia mengerutkan kening saat matanya melihat ke sekeliling ruangan lalu menatapku. "Maukah kau mengantarku ke bandara?"
"Tentu, tapi aku tidak membawa mobilku." Aku mengingatkannya. "Aku harus mengendarai mobilmu."
"Aku yang akan mengemudi ke bandara, dan kau bisa mengendarainya pulang, jika kau berjanji untuk berhati-hati."
"Apakah kau menyindirku bahwa aku seorang sopir yang sembrono?" Tanyaku sambil bertolak pinggang, pura-pura jengkel.
"Tidak, aku hanya ingin kau berhati-hati dengan mobilku. Ini baru. Dan benar-benar keren."
"Tidak apa-apa." Aku mengangkat bahu dan tertawa saat mulutnya terbuka karena tidak percaya.
"Apakah kau tidak menghargai mobilku?"
"Lupakan itu." Aku memutar mata dan menutup tasnya. "Barangmu sudah dikemas."
Dia mengambil tas dariku dan meletakkan di lantai, menangkup wajahku dengan tangannya dan menciumku, tidak lembut dan pelan, tapi penuh semangat, sepertinya berada jauh dariku adalah membunuhnya.
Aku melingkarkan lenganku di pinggangnya dan bersandar ke dia, menekan perutku terhadap ereksinya.
"Tidak ada waktu untuk ini," aku menggerutu di bibirnya dan tersenyum saat ia menggeram dengan frustrasi. Dia menciumku lagi, dan kemudian menarikku untuk memelukku dengan erat.
"Jaga dirimu," bisiknya, membuat aku tersenyum.
"Aku akan baik-baik saja. Jaga dirimu." Aku bersandar lagi dan menempelkan pipiku ke tangannya, menikmati sentuhan hangatnya. "Serius, katakan pada Lori bahwa aku memikirkan dirinya. Berhati-hatilah."
"Ayo, berangkat."
.
OoooO
.
Jongin POV
"Di mana istriku?" Gary bertanya saat kami mendekati meja ER di Rumah Sakit Sinai di LA.
"Eh, siapakah Anda?" Si montok dengan rambut coklat bertanya dengan suara yang terdengar membosankan. Dia sedang membaca majalah dan bergosip dengan rekan kerjanya.
"Gary Hovel," ia menyatakan dengan tidak sabar, menekankan tangannya di meja. "Istriku adalah Lori dan dia memiliki bayi."
"Dia berada di lantai empat, di sayap bersalin. Apakah Anda semua akan masuk bersama?" Dia bertanya dengan kening berkerut, menatap kami semua.
"Ya," Gary berteriak padanya, sambil berjalan menyusuri lorong menuju lift. Dia terlihat berantakan dan rasa gelisah sejak kami meninggalkan Seattle.
Pria yang malang.
Lift membawa kami ke lantai empat dan Gary menuju ke meja perawat. "Di mana istriku?"
"Siapa dia?" Si mungil dengan rambut hitam bertanya sambil tersenyum. Dia terlihat masih segar untuk bekerja malam hari.
"Lori Hovel."
"Kamar nomor empat oh sembilan, ujung lorong." Dia menunjukkan dan Gary pergi seperti anjing greyhound sedang mendapatkan kelinci.
Yang lain berada tidak jauh di belakangnya.
"Oh terima kasih Tuhan," Gary bernafas lega dan bergegas ke istrinya, menarik istrinya ke dalam pelukannya dan mengubur wajah di lehernya, lalu mencium wajahnya. "Apakah kau baik baik saja?"
"Ya, aku baik-baik saja. Kami berdua baik-baik saja."
"Di mana Maddox?" Tanya dia.
"Dengan adikku. Semuanya baik-baik saja, sayang." Dia tersenyum padanya dan menggosok perutnya. Ada sabuk diikat di sekitarnya dengan kabel tebal yang mengarah ke monitor.
"Hei, Tampan!" Cher melompat dari kursi di samping Lori dan meluncurkan dirinya pada DJ. "Selamat datang di rumah."
"Terima kasih." Dia tersenyum padanya dan menciumnya dengan keras. Sebagian dari kami duduk di kursi di sekitar ruangan dan tersenyum pada Lori.
"Jadi, berapa lama lagi kita harus menunggu?" Tanya Eric.
"Yah, Kontraksiku berhenti," Lori merespon dengan mendesah.
"Apa?" Gary mengernyit. "Bagaimana mungkin?"
"Oh, itu mungkin saja. Percayalah." Dia menggelengkan kepala dan mendesah. "Mereka tidak akan membiarkanku pulang karena air ketubanku pecah, dan mereka tidak ingin mengambil risiko karena infeksi, jadi di sinilah aku."
"Tidak bisakah mereka membuatnya mulai lagi?" Tanyaku sambil mengerutkan kening. "Aku akan menelpon mereka."
"Telponmu pun tidak dapat membuat bayi lahir lebih cepat dari yang kita inginkan." Lori menertawakanku. "Jika konstraksi tidak muncul lagi hingga besok pagi, mereka akan melakukan induksi, tetapi kupikir kita lihat hari ini. Aku tidak benar-benar yakin."
"Ya, Tuhan" bisikku dan menelan ludah. Apa yang akan aku lakukan selama beberapa hari di LA, selain gila karena merindukan Kyungsoo? Dan hal itu akan terjadi padaku. Aku menyeringai dan menarik ponselku dari sakuku, menemukan nomor yang aku inginkan dan menekannya.
"Apa yang akan dia lakukan?" Cher bertanya.
"Hei, Kat, ini adalah Kai." Aku menyeringai. "Aku sedang berada di kota ini dan butuh bantuan."
"Dia melakukan apa yang Jongin selalu lakukan ketika dia bosan," jawab DJ lalu mencium pipinya. "Dia akan membuat tato yang lain."
"Kita semua harus pergi dan membiarkan mereka tidur," Eric bergumam setelah aku mengakhiri panggilanku.
"Terima kasih,bung." Gary memelukku dan menepuk bahuku. "Aku berhutang padamu."
"Persetan dengan itu." Aku mengerutkan kening padanya seperti dia sedang gila. "Ini adalah apa yang seharusnya kita lakukan."
"Terima kasih telah membawa dia untukku dengan begitu cepat." Mata Lori berlinang. "Aku tidak bisa melakukan ini tanpa kalian."
"Kau akan baik-baik saja, Cantik." Aku mencium pipinya dan mengikuti anggota band yang lain keluar dari ruangan.
.
OoooO
.
Kyungsoo POV
"Bisa jadi berhari-hari?" Aku bertanya dengan tidak percaya dan duduk di tempat tidurku, bersandar di kepala ranjang, dan menekuk lutut hingga ke dada, menekankan telepon ke telinga.
"Begitulah yang dia katakan, tapi kuharap dia salah." Jongin mendesah. Aku suka suaranya.
"Wanita yang malang, demi dia, kuharap dia juga salah." Dia terkekeh di telingaku dan aku tersenyum. "Sedang apa kau?"
"Aku baru saja tiba di rumah beberapa saat lalu. Aku sedang beres-beres." Suaranya terdengar datar dan tidak bahagia.
"Sudah menghangatkan kakimu?" tanyaku sambil menyeringai. Levine melompat di ranjangnya, mengelus tanganku dan mulai mendengkur saat aku mulai memijat punggungnya.
"Tidak, sok tahu, belum." Dia terkekeh.
"Baiklah, akan kupakai kaos kakinya. Apa rencanamu besok?" Aku kembali menyandarkan kepalaku ke belakang dan menutup mataku, mendengarkannya bergerak di kamarnya dan mencoba membayangkan seperti apa dia.
"Aku mungkin akan ada di rumah sakit hampir sepanjang hari. Gary…." Dia menghentikan kata-katanya dan tiba-tiba diam.
"Kenapa?" Tanyaku mengerutkan dahi.
"Aku baru saja menemukan sesuatu terselip di pakaianku." Aku mendengar senyum dalam suaranya.
"Apa itu?" Aku mencoba untuk terdengar acuh tak acuh, tapi tidak dapat menahan senyum di wajahku.
"Sebuah catatan," gumamnya. "'Aku juga mencintaimu'."
"Kau tahu, tidak biasanya aku melakukan hal-hal sentimentil seperti itu," Aku mengingatkan dia sambil tertawa dan perutku mengejang ketika aku mendengar dia tertawa.
"Ya, aku tahu. Kau sangat tidak sentimentil."
"Tepat sekali."
"Kau tahu, aku sudah tahu rumah ini dingin dan tidak menarik, tapi aku tidak perduli karena dulu aku hampir tidak pernah ada di sini. Sekarang berada di sini tanpamu, terasa lebih buruk." Dia terdengar membisikkan beberapa kata-kata terakhir.
"Kedengarannya buruk, Jongin."
"Aku akan menyuruh asistenku untuk memasarkannya besok. Aku akan mengirim barang-barang pribadiku ke utara."
"Aku tidak akan tinggal di sini lagi. Bagaimana dengan mobilku?"
"Yah, sopir truk derek itu mengatakan kepadaku bahwa mobilmu akan baik-baik saja dalam beberapa minggu," Aku menutup mulut dengan tanganku hingga dia tidak bisa mendengar aku tertawa.
"Itu tidak lucu."
"Apanya?"
"Akan kupukul pantatmu jika kita bertemu, Kyungsoo," Dia memperingatkan.
"Janji, janji."
"Katakan padaku bahwa mobilku aman di garasimu."
"Ya, dia aman di garasi seseorang." Kali ini aku tidak bisa menahan tawaku lagi.
"Oh Kyungsoo!" Dia ikut tertawa dan aku mendengar gemerisik seakan dia berusaha melepas pakaiannya.
"Apa kau telanjang?" Tanyaku.
"Ya. Naik ke tempat tidur. Kau?"
"Tidak, aku tidak telanjang, tapi aku ada di tempat tidur."
"Baju yang mana yang kau pakai?"
"Cyndi Lauper," Kataku berbohong.
"Pembohong," Bisiknya.
"Journey," Kataku berbohong lagi.
"Coba lagi, sayang."
"Aku mungkin mengenakan kemeja yang ditandatangani Kai yang diberikan oleh pacarku yang manis."
"Begitu lebih baik." Aku mendengarnya menguap dan aku bergeser ke belakang untuk berbaring di bawah selimut.
"Kau harus pergi tidur. Hari ini sungguh melelahkan."
"Kau harus tidur juga."
"Kita harus menutup teleponnya." Aku tertawa.
"Kau yang tutup." Gumamnya.
"Apakah kita masih seperti remaja berusia enam belas tahun?"
"Istirahatlah, sayang. Aku mencintaimu."
Dia mengakhiri telepon dan aku beralih dan memikirkan hari yang akan kami lalui nanti. Lagu, dansa, rock dimana kami akan membangun rumah kami suatu hari nanti.
Jika ini adalah mimpi, maka aku tidak akan pernah ingin terbangun.
.
OoooO
.
"Aku tidak tahu kenapa kau tidak pernah mengizinkanku untuk keluar makan siang bersamamu." Aku protes kepada Sehun ketika dia membuka pintu rumahnya.
"Mungkin karena kau tidak bekerja, bagaimana kau akan membayarnya?" Dia mengambil mantelku dan menghindar ketika aku mencoba untuk memukul lengannya.
"Jangan jadi orang yang menyebalkan." Aku cemberut padanya. "Aku punya tabungan. Aku tidak akan menjadi seorang tunawisma."
"Wah, aku sangat senang mendengarnya." Dia memutar matanya dan berjalan melewatiku menuju dapur.
"Dimana Luhan dan Ziyu?" Aku menarik diriku ke sebuah kursi dan bersandar di meja sarapan. Aku mengenakan kaus yang terlalu besar dan legging, memilih untuk nyaman hari ini.
Aku tidak memiliki seorang pun untuk dibuat terkesan.
"Mereka keluar dengan Baekhyun."
"Mereka tidak mengundangku." Aku mengerutkan kening.
"Mereka tahu kau akan ke sini," dia menyeringai dan menggelengkan kepala ketika dia menuangkan segelas es teh untukku. "Jangan tersinggung, noona."
"Yah, baiklah." Dia memberikan tehnya kepadaku, menuangkan lagi untuk gelasnya sendiri lalu menyesap minumannya, dan terlihat merenungi sesuatu.
"Ada apa?"
"Kau dan Jongin baik-baik saja kan?"
"Jangan basa-basi, Sehun." Aku memutar mataku padanya tapi dia hanya mengangkat alisnya. "Itu tidak akan berhasil denganku. Aku saudaramu, bukan istrimu."
"Astaga, itu benar. Kau jelas-jelas bukan istriku."
"Aku tidak akan menjadi istri untuk siapapun." Aku mengangkat bahu dan menyesap teh.
"Kenapa?" Dia bertanya dengan kening berkerut. "Kukira semua berjalan lancar antara kau dengan Jongin."
"Memang. Tapi itu bukan berarti aku perlu sebuah cincin di jariku. Kami bahkan tidak melakukan apa-apa selama beberapa waktu. Aku tahu kau tidak akan mengerti konsep kau dan Luhan akan pergi untuk mencuri bayi dalam waktu dua belas menit."
"Pergi sana!" Dia menyeringai.
"Kau tidak membutuhkan sebuah kontrak untuk berada dalam suatu hubungan yang berkomitmen."
"Oke." Dia mengerutkan kening lagi kemudian mengangkat bahu. "Setiap orang punya pendirian sendiri-sendiri."
"Ya." Aku setuju.
"Kenapa kau tidak memberitahuku pekerjaanmu itu menyedihkan karena aku?" Dia bertanya, matanya terlihat sedih.
"Karena aku tidak ingin melihat ekspresi itu dari wajahmu." Aku menghela nafas dan menggosokkan tangan ke wajahku.
"Ayolah, Kyungsoo, ini akan selalu menjadi masalah, maafkan aku, tapi kau harus berhenti bersikap keras kepala dan izinkan aku membantu."
"Bagaimana kau akan membantuku, Sehun?" Aku melompat dari kursi dan berjalan mondar mandir di depan jendela rumahnya yang tinggi yang menghadap ke arah teluk. "Tidak ada yang bisa dilakukan."
"Setidaknya kau bisa membicarakannya denganku."
"Dan kemudian kau akan merasa bersalah lalu aku harus menendang pantatmu karena itu bukan salahmu." Aku mengangkat bahu dan berbalik menghadapnya. "Sehun, itu bukan salahmu. Aku sangat bangga kepadamu dan semua yang telah kau capai. Kau sudah mendapatkannya."
"Aku tahu dirimu, tapi aku juga tahu bahwa berhubungan denganku tidaklah mudah. Dan sekarang secara romantis kau terhubung dengan seseorang yang bahkan lebih terkenal dari aku, dan itu membuatku khawatir."
"Aku sudah menyadari bahwa itu berbeda dengan bintang rock umur tiga puluhan dibanding dengan bintang pujaan." Aku menyeringai sementara dia cemberut.
"Sialan, aku bukan seorang bintang pujaan."
"Tidak lagi." Aku mengangkat bahu. "Kita tidak mempunyai gadis-gadis muda yang mengikuti kita. Kelompok-kelompok itu menarik." Aku mengakui kemudian tertawa.
"Akan ada lebih banyak foto yang dicetak," dia mengingatkanku. "Yang tampaknya tidak menggairahkanmu."
"Itu mengejutkanku bahwa Melissa yang memberitahumu." Aku menjelaskan dengan alisnya yang naik. "Biarkan bocor setelah Jongin menyuruhnya secara spesifik. Hal itu membuatku marah ketika dia memberitahu kalian mengenai pekerjaanku."
"Kau seharusnya memberi tahu kami."
"Aku tahu, tapi aku tidak ingin membuatmu khawatir. Jongin mengingatkanku tentang apa itu keluarga; mereka khawatir akan dirimu."
"Jongin pria yang cerdas." Sehun tersenyum tipis kepadaku.
"Tapi tidak cukup bagus untukku." Aku mengingatkannya dan menghela nafas.
"Kyungsoo, aku mengucapkan itu saat marah. Kau saudaraku. Tak seorangpun cukup baik untukmu karena aku mencintaimu." Dia mendorong tangannya melalui rambut hitamnya dan menggores kulit kepalanya.
"Seperti Luhan yang juga tidak cukup baik untukmu." Aku menyeringai. "Setidaknya kau tidak menuduh Jongin menjadi seorang pelacur mata duitan."
"Bisa jadi." Dia menunjukkan persetujuannya dengan tertawa.
"Dan sekarang aku menyukainya. Dia sempurna untukmu." Aku memiringkan kepala ke samping dan melihat wajahnya yang lembut ketika dia memikirkan Luhan; matanya terlihat berbinar. "Kalian cocok satu sama lain."
"Kau tahu." Dia bergerak dan melompat duduk di atas meja, kakinya yang telanjang menggantung. "Gambar-gambar Ziyu tidak pernah muncul di majalah. Dan kami menawarkan jutaan fotonya setelah dia lahir."
"Aku ingat." Aku mengangguk, bertanya-tanya tentang apa maksudnya.
"Ada banyak cara untuk memastikan kehidupan serta privasimu baik-baik saja sementara kau bersama dengan seorang selebriti."
Dia mengangkat bahu.
"Aku tahu. Aku sudah pernah membicarakannya dengan istri-istri anggota band yang lain. Jujur saja, aku tidak terlalu mengkhawatirkan hal itu."
"Kenapa tidak?" Alisnya naik dan dia tampak benar-benar terkejut.
"Aku bosan membiarkan rasa takut akan ketenaran mendikte tentang siapa yang aku cintai, bagaimana aku bertindak dan siapa diriku. Kita akan mengetahuinya nanti."
"Wow, kau benar-benar pintar."
"Jangan sok sarkastis."
"Aku melunasi apartemenmu." Dia menyebutkannya dengan santai dan melompat dari meja.
"Apa-apaan? Bagaimana bisa kau melakukannya?"
"Karena aku memang bisa. Selain itu, kau tidak perlu mengkhawatirkan hipoteknya lagi."
"Aku tidak butuh belas kasihan."
"Kalau kau mengatakannya lagi akan kutendang pantatmu." Wajahnya memerah dan matanya menunjukkan kemarahan. "Kau memang tidak butuh belas kasihan. Kau saudaraku. Aku punya lebih banyak uang dari yang bisa dihabiskan cucu-cucuku, Kyungsoo. Aku bahkan mampu membeli apartemenmu."
"Sombong." Kataku dengan cemberut.
Dia tertawa lalu memelukku dan menuangkan kembali tehku.
"Terima kasih."
"Sama-sama." Dia cemberut dan mendesah. "Maafkan aku mengucapkan Jongin tidak cukup baik. Aku menyukainya. Dia pria yang baik dan jika dia memang membuatmu bahagia, aku turut bahagia. Setelah semua yang dia lakukan, mungkin dialah kemungkinan terbesar yang akan kau dapatkan dalam mencari pria yang cukup baik untukmu."
"Wow, apa adikku baru saja memberiku izin untuk tetap mengencani pacarku?"
"Ya Tuhan, kau menyebalkan sekali." Dia tertawa.
"Jadi, aku sudah diberitahu," Aku setuju lalu tertawa bersamanya.
.
OoooO
.
Jongin POV
Bahuku nyeri sekali, tapi terkutuk jika itu tidak terlihat mengagumkan. Kat adalah yang terbaik dari yang ada.
Aku berjalan ke ruang tunggu rumah sakit untuk menemukan orang-orang dan kulihat Cher sedang duduk bersama yang lainnya, memainkan telepon atau iPad, membaca majalah mesum.
Mengganggu mereka dari kesibukan masing-masing.
"Hei semua." Aku mengambil secangkir kopi rumah sakit yang mengerikan lalu duduk di samping Cher. "Ada kabar apa?"
"Belum ada." Dia menggeleng. "Kami tahu bahwa mereka mulai kembali bekerja pagi ini, tapi mungkin hal itu hanya sementara."
"Kenapa ditunda-tunda?" Jake bertanya kesal. "Keluarkan saja anaknya."
"Benar," Cher memutar bola matanya. "Semua bayi lahir pada waktunya masing-masing. Ini adalah bayi dari seorang bintang rock. Dia pasti akan menemukan jalannya ketika ia merasa bisa dan siap."
"Kenapa mereka tidak bisa mengetahui bayinya laki-laki atau perempuan?" tanya DJ.
"Lori ingin hal itu menjadi kejutan," Aku mengingatkan dia dan mengirim pesan kepada Kyungsoo.
- Di rumah sakit. Masih menunggu kelahiran sang bayi-
Aku ingin tahu apakah dia sudah mendapatkan kue yang aku kirim pagi ini? Aku mengirimkan rasa coklat dan lemon, karena aku tidak disana untuk bisa mencuri satu gigitan darinya.
"Yah, kalau saja kita tahu sebelumnya, kita bisa membeli hadiah yang menyenangkan," Cher bergumam dan mengerutkan kening. "Kuharap bayinya perempuan."
"Kenapa?" tanya Eric, matanya tidak berpindah dari iPad-nya.
-Sabar. Dan terima kasih untuk cupcake-nya-
Kyungsoo membalas.
-Kau bukan seorang yang pantas membicarakan tentang kesabaran, Sunshine. you're welcome.-
"Karena aku ingin membantunya menghias kamar bayinya dengan warna pink." Dia bertepuk tangan dengan semangat, dan kemudian mata hijau cantiknya tampak sedih. DJ mencondongkan tubuhnya dan berbisik di telinganya, membuatnya tersenyum manis di bibirnya. "Aku tahu."
"Kuharap mereka bisa segera mengadopsi bayi. Cher akan menjadi ibu yang fantastis. Mengapa harus orang-orang yang seharusnya memiliki anak mempunyai waktu yang sulit, dan banyak orang yang tidak mempunyai bisnis harus mempunyai anak di umur dua puluh?"
Waktu berjalan lambat. Di sore hari, kami memesan pizza dan Gary telah memberi 3 berita terbaru. Lori baik-baik saja, tapi tenaga kerjanya masih masih kesulitan.
"Tato apa yang kau pasang?" tanya Eric, menunjuk ke bahuku yang terbalut plastik.
"Matahari."
"Sudah waktunya perban itu dilepas," Cher berkomentar dan menyuruhku berdiri di depannya agar dia bisa membukanya. "Oh, besar sekali," dia terengah.
"Aku tahu."
"Kat?" Jake bertanya sambil menyeringai. Dia dan Kat memiliki satu hal untuk sementara.
"Ya." Aku mengangguk lalu tersenyum.
"Dia yang terbaik." Dia mengangkat bahu. Cher pergi ke kamar kecil untuk membasahi handuk dan dengan hati-hati membersihkan bahuku.
"Kenakan pakaian tanpa lengan selama beberapa hari," gumamnya.
"Terima kasih, bu." Aku menyeringai. "Ini bukan tato pertamaku."
"Hal yang bagus karena kau seksi, atau aku harus menyakitimu. Ingin aku mengambil foto dengan teleponmu jadi kau bisa mengirimkannya untuk Kyungsoo? Kuduga itu untuknya."
"Tidak perlu, dia akan melihatnya nanti."
Jujur, aku gugup, tidak yakin bagaimana reaksinya nanti. Malam semakin merasuk, dan aku sudah muak duduk di ruang tunggu ini.
"Aku tidak tahan lagi," gumamku dan berdiri dengan cepat seperti Gary ketika datang bergegas.
"Perempuan! Bayinya Perempuan! Ya Tuhan, aku mempunyai seorang anak perempuan."
Cher menjerit dan kami semua bergiliran memeluk satu sama lain. Seorang anggota band baru telah lahir.
"Bagaimana dengan Lori?" Tanyaku padanya.
"Menawan, lelah, sempurna." Dia nyengir padaku. "Kami punya anak perempuan."
"Kau tahu apa artinya ini, kan?" Eric bertanya menyeringai.
"Apa?"
"Kita akan dikalahkan oleh remaja laki-laki dalam waktu 15 tahun. Lori memang benar-benar cantik. Pikirkan akan terlihat seperti apa bayinya."
"Sial, aku akan masuk penjara." Gary menarik tangannya ke wajahnya dan menyeringai.
"Kau beri nama siapa?" Jake menarik Gary dan menggosok buku jarinya di kepalanya.
"Jangan katakan 'Apple'," Cher memperingatkannya dan dia tertawa.
"Tidak, Alexis Mae," ia mengatakan dengan bangga. "Ayolah, kau bisa menemuinya."
"Kita semua?" tanyaku, ragu-ragu.
"Lori tidak akan mempunyai cara lain. Perawatnya bisa berurusan denganku." Gary membawa kami menyusuri koridor beraroma antiseptik menuju ruangan Lori dan melihat ke dalam kamar untuk memastikan kami semua diperbolehkan masuk ke dalam ruangan.
"Hei, semua." Lori menyeringai pada kami; wajahnya tanpa make up dan rambutnya dikuncir ekor kuda. Dia nampak memegang sebuah bungkusan kecil berselimut merah muda dan biru dalam pelukannya.
"Hei, cantik." Aku menunduk dan mencium pipinya dan mengintip wajah bersemu merah dalam selimut. "Dia menawan, seperti ibunya."
"Terima kasih," Bisiknya. Aku mencium rambutnya dan melangkah mundur sehingga orang lain bisa melihat sang bayi. Ketika aku berbalik, aku menemukan puluhan bunga mawar pink dan putih, balon, pakaian bayi, dan boneka beruang terbesar dan terlemut yang pernah aku lihat. Di sampingnya ada gitar mainan kecil.
"Baca kartunya," Gary menyuruhku.
- Maaf karena aku tidak bisa ke sana. Selamat! Gitarnya untuk Maddox. Dia harus mendapatkan hadiah juga. Doaku untukmu, Oh Kyungsoo-
Aku hanya membisu. Mataku kembali memandangi semua hadiah di depanku. Dia mengirim semua ini karena mereka adalah orang-orang yang aku cintai. Karena dia begitu menakjubkan.
Bukan orang baik, sial. Dia memiliki hati yang terbesar dibanding siapapun yang pernah aku temui. Dia begitu pandai melakukan hal-hal baik tanpa diketahui orang lain.
Aku berbalik dan melihat semua orang sedang memandangiku.
"Kapan barang-barang ini sampai?"
"Pagi ini." Gary menyeringai.
Aku melangkah ke samping tempat tidur dan membungkuk kepada Lori, menatap sorot matanya yang penuh dengan kebahagiaan.
"Maafkan aku, aku harus…"
"Dapatkan dia, jagoan." Dia tersenyum lebar. "Kami baik-baik saja."
Aku tersenyum dan mencium keningnya, lalu memeluk semua orang yang ada di ruangan itu, mencium pipi Cher dan membuat panggilan untuk kembali ke Seattle.
.
OoooO
.
Kyungsoo POV
Baru dua puluh empat jam sejak Jongin pergi ke LA dan aku sudah dibuatnya nyaris gila.
Ini tidak baik.
Aku benci sendirian. Aku tidak ingin pergi ke rumah Sehun atau orangtuaku. Aku menginginkan Jongin.
Jadi, untuk membersihkan pikiranku, aku memutuskan untuk pergi berlari. Jongin kemungkinan besar akan menampar pantatku karena aku berlari sendirian selarut ini. Pikiran itu membuatku tersenyum.
Pria itu memiliki tamparan yang hebat.
Aku mengancingkan hoodie-ku, mengambil kunci dan menggenggam botol semprotan beruang berwarna merah muda yang biasa kubawa ketika aku berlari sendirian dan berangkat. Lingkungan relatif tenang, dan lampu jalan menyala. Karena sudah larut aku hanya akan berlari satu mil atau lebih. Rasanya menyenangkan berada di luar saat udara dingin.
Aku berlari memutar dalam lingkaran besar ketika aku mendekati pintu masuk ke gedungku, aku melihat seorang pria yang tidak asing bagiku bersandar di dinding. Pikiran pertamaku dia adalah Jongin, tapi Jongin lebih tinggi dan lebih ramping daripada orang ini.
"Hei, Kyungsoo."
Apa yang dia lakukan di sini?
"Brandon."
"Kau seharusnya tidak berlari sendirian di malam hari." Dia merengut ke arahku saat aku mendekatinya, terengah-engah.
"Aku baik-baik saja. Apa yang kau lakukan di kota ini?"
"Aku disini menemui keluargaku selama seminggu, mampir dan melihat bagaimana keadaanmu." Dia mengangkat bahu dan menyeringai. "Untuk mengenang masa lalu."
"Masa lalu, benar." Aku menyeringai dan tersenyum padanya.
"Jadi, bagaimana? Mau mengundangku masuk?"
Aku menopang tangan di pinggulku dan memiringkan kepalaku, menatap pria tampan yang tertarik untuk tidur denganku. Dia tidak setinggi Jongin, memiliki rambut hitam dan mata tajam, dagu persegi. Tubuhnya berotot dan sempurna, dan dia tahu tentang tubuh wanita.
Tapi pikiran bersetubuh dengannya membuat perutku bergolak.
"Brandon, kita dulu hanya bersenang-senang, tapi sekarang aku bersama seseorang."
"Jadi, itu benar?" Dia tertawa mengejek. "Kau selalu bilang kau hanya tertarik bersetubuh dengan kasar."
"Itu benar. Aku hanya tertarik dengan itu." Dinding pertahananku dengan segera berdiri. Brandon seksi, tapi dia juga bajingan.
"Aku akan memberikan apa pun yang kau inginkan, kau tahu itu." Dia menggeleng dan cemberutnya. "Aku sudah jatuh cinta padamu selama bertahun-tahun."
Mulutku ternganga. "Kita hanya teman bercinta," Sanggahku.
"Itu terserah padamu," jawabnya pelan.
"Aku minta maaf karena kita tidak punya pemahaman yang sama, Brandon. Seandainya aku tahu..."
"Kau akan berhenti menelepon." Dia menyela. "Aku tahu."
"Yah, semoga berhasil." Aku berbalik dan berjalan menuju ke arah gedungku, tapi dia menghentikanku.
"Bagaimana kalau kau mengundangku, dan aku akan mengingatkanmu seberapa hebatnya aku?" Dia mendekat ke arahku, dan mendorong tangannya di bawah hoodie-ku untuk menangkup payudaraku.
"Bagaimana kalau kau sekarang melepaskan tanganmu dariku dan aku tidak akan menghajarmu?" Suaraku dingin dan tajam, dan aku mengocok semprotan beruang di telapak tanganku, siap untuk menunjukkan kepadanya siapa yang jadi bos.
"Ayolah, sayang, jangan seperti ini."
"Aku yakin dia bilang tidak." Suara keras keluar dari kegelapan. Brandon segera melepaskanku dan melangkah mundur saat Jongin - Jongin! - Berjalan ke arahku dan membungkus lengannya di bahuku, mencium keningku dan melototi Brandon. "Apa kau tuli?"
"Pergilah," Brandon menyeringai.
"Aku percaya dia juga sudah mengatakan itu padamu." Jongin terkekeh. "Berhentilah membuang-buang waktumu, bung."
"Kau tidak tahu apa-apa tentang kami," Kata Brandon, namun Jongin mengangkat tangan, menghentikannya.
"Apa kau ingin melaporkan dia atas penyerangan seksual?" Tanya Jongin.
"Tidak, aku hanya ingin dia pergi."
"Baik." Brandon mendengus di depan wajahku. "Kau yang rugi."
"Oke." Aku mengangkat bahu dan memunggunginya, Jongin dan aku masuk ke dalam gedung dan ke dalam lift sebelum aku melompat padanya, melingkarkan kakiku di pinggangnya dan lenganku di bahunya sambil menciumnya habis-habisan, menggigit bibirnya, tindiknya, tenggelam dalam kehangatan dan aromanya.
"Aku merindukanmu," bisikku di atas bibirnya sambil menyeringai.
"Aku juga, dan aku marah padamu."
"Kenapa?" Aku melompat turun dan mengerutkan kening ke arahnya.
"Kau berlari saat tengah malam."
"Kau tahu dari mana?" Tanyaku dan menggigit bibir.
"Kau mengaku sendiri pada bajingan di sana itu, dan kau memakai pakaian untuk lari."
"Tunggu, kau mendengar seluruh percakapan kami?" Aku bertanya tak percaya. Aku membongkar ingatanku, mencoba mengingat segala sesuatu yang kukatakan.
"Aku mendengarnya." Dia mengangguk dan mendesah sambil membelai jemarinya di pipiku. "Aku hampir membunuhnya."
Liftnya sampai di lantai apartemenku, dan aku membawanya ke pintu.
"Kau tampak sangat tenang."
"Aku hampir membunuhnya." Mendengar suaranya, Levine datang berlari dari kamar tidur, melompat ke lengan sofa dan mengeong minta perhatian.
"Dia juga rindu padamu."
Dia mengelus punggung Levine dan memperhatikanku, matanya mantap dan hangat, tapi bibirnya mencibir tidak setuju.
"Aku tidak ingin kau berlari selarut ini."
"Aku hanya lari satu mil," Balasku.
Dia mendesah dan menarikku ke dalam pelukannya. Dia tidak hanya menciumku. Dia memilikiku.
Dan terkutuk jika aku tidak menyukainya.
"Tolong jangan lakukan itu lagi," bisiknya. "Kalau sesuatu terjadi padamu, itu akan membunuhku."
Nah, ketika dia sudah mengatakan seperti itu...
"Oke," Aku setuju.
"Terima kasih untuk mengirimkan hadiah bayi hari ini."
Aku tersenyum lebar dan melompat kegirangan. "Hadiahnya sudah sampai di sana?"
"Ya, hadiahnya lumayan hebat. Maddox akan menyukai gitar itu."
"Dia harus punya gitar seperti ayahnya." Aku mengangguk. "Bagaimana bayinya?"
"Kecil." Dia tertawa dan mengangkat bahu.
"Dan Lori?"
"Kondisinya baik." Matanya gembira saat ia mengangkatku ke dalam pelukannya dan membawaku ke kamar tidur.
"Apa kau ingin minum?" Aku mendorong jariku ke rambut cokelat yang lembut.
"Nanti saja," Bisiknya dan mencium keningku.
"Apa yang kau inginkan sekarang?" Aku bertanya sambil menyeringai.
"Aku belum berada dalam dirimu dalam waktu yang tak terhitung, sunshine." Dia menurunkanku dan menelanjangiku, bibirnya mencium kulitku saat ia melucuti pakaianku. Pada saat ia menarik kaus kakiku, aku terengah-engah dan terbakar gairah.
Dia menarik kemejanya di atas kepalanya, menurunkan celananya dan membimbingku ke tempat tidur, membaringkanku.
"Rentangkan kakimu, sayang."
"Astaga, ini sangat cepat. Aku biasanya meminta seorang pria untuk membelikanku makan malam sebelum ia memaksaku merentangkan kakiku." Aku tertawa dan dia mencubit pahaku, kemudian menggigit dan menciumnya.
Dia dengan sistematis mencium tubuhku dari bawah ke atas; tangannya bergerak di tubuhku, dengan lembut membelai payudaraku, putingku.
Dia mengendus pusarku dan mendesah. "Seksi."
Dia meninggalkan ciuman basah di kulitku dan baik sambil memposisikan panggulnya di atas pinggulkui. Bibirnya menyerang leherku, membuatku menggeliat di bawahnya, pinggulku berputar-putar dan mengundangnya masuk ke dalam diriku.
"Aku merindukanmu," bisiknya.
"Aku juga, tapi kita hanya berpisah satu hari."
"Aku masih tetap saja merindukanmu." Dia mencium di sisi yang lain dan mengisap daun telingaku, menyentuh rahangku dengan giginya dan menciumku habis-habisan.
Tangannya membelai rusukku dan menangkup kewanitaanku.
"Kau begitu basah, sayang."
Jarinya masuk ke dalam diriku, ibu jarinya menyentuh intiku, dan aku terkesiap. "Aku menginginkanmu."
"Mmm..." Dia setuju. "Apa kau tahu betapa mengagumkannya dirimu?"
Aku bahkan tidak bisa berpikir saat ini. "Kalau ini adalah tes dadakan, aku akan dapat nilai nol karena aku tidak ingat namaku sendiri sekarang."
Dia terkekeh dan menggigit bibir bawahku, menyibak rambut dari wajahku, dan terus membuatku gila dengan jemarinya. Aku terkesiap saat ia menambahkan jari lainnya, jemari kakiku menekuk dan aku mendorong panggulku ke arahnya.
"Kau membuatku takjub," bisiknya. "Keluarlah." Dia menggigit daguku, mendorong clit-ku dengan ibu jarinya, dan aku melihat bintang-bintang, mengepalkan jemarinya dengan erat, mengerang dan gemetar di bawahnya.
Dan dia bahkan belum berada dalam diriku.
Dia menarik jemarinya dari aku dan menghisapnya dengan bersih, matanya tertawa ke arahku. "Milikmu lezat, sunshine."
Aku hanya menyeringai sambil mencengkeram kedua tanganku, menautkan jemari kita, dan menariknya di atas kepalaku saat ia tenggelam dalam diriku dengan cepat dan keras.
"Ah, sial," gumamku dan mencengkeram tangannya, tapi ia memegang ku dengan kuat, matanya menjepitku dengan pandangannya, dan memompa ke dalam diriku, berulang-ulang, semakin lama semakin keras. Napasnya berubah menjadi kasar dan cepat, dan akhirnya ia memejamkan matanya dan lepas, gemetar saat ia menumpahkan dirinya dalam diriku.
"Aku mencintaimu," bisiknya dan menciumku lembut.
"Aku juga mencintaimu."
Dia menciumku sekali lagi dan kemudian mengangkat tubuhnya, menarik keluar dariku dan terhuyung-huyung dari tempat tidur dan berjalan ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Aku melihatnya pergi, dengan senang hati mengagumi pantat ketatnya, ketika sesuatu bahunya menarik perhatianku.
"Apa-apaan itu?" Tanyaku dan bangun dari tempat tidur. Dia muncul kembali di ambang pintu, menyeka tangannya dengan handuk.
"Sebuah tato," jawabnya.
Aku memutar mata. "Itu sudah jelas. Kapan kau memasangnya? kau tidak memilikinya ketika kau pergi tadi malam."
"Aku memasangnya pagi ini. Kat membuatnya pagi-pagi."
"Kat?" Aku mengerutkan kening dan kemudian mataku terbelalak. "Kat yang itu?"
"Aku kenal orang-orang." Dia berbalik untuk berjalan kembali ke kamar mandi dan aku mengikutinya, memeriksa tato baru di depan cermin.
Tatonya spektakuler jika dilihat dalam terang. Ada matahari kuning dan oranye, yang diberi alur warna hitam. Sinarnya terlihat seperti sedang bergerak dalam keriuhan warna. Di sekitarnya dan diantara sinar itu ada warna biru cerah, seperti biru langit.
"Sungguh indah," napasku tertahan. "Kuharap aku tidak menyakitimu ketika aku memelukmu."
"Aku baik-baik saja." Dia tersenyum. "Dia melakukan pekerjaannya dengan hebat."
Aku tidak bisa berpaling dari tatonya.
"Warna hitam adalah matamu," gumamnya dan menoleh padaku, menangkup wajahku dengan tangannya.
"Kau menaruh tinta permanen pada kulitmu untuk mengingatkanmu tentang aku?"
Dia mengerutkan kening sejenak dan kemudian mendesah. "Ya."
"Apakah aneh kalau itu membuatku sedikit takut?"
"Ya." Dia tertawa dan mengangguk.
"Bagus, karena tato itu membuatku sedikit takut." Aku melihat lagi melalui cermin dan kehangatan menyebar kedalam tubuhku, mengetahui bahwa ia menginginkan sesuatu dariku, tapi pada saat yang sama, itu adalah komitmen besar.
"Katakan padaku kenapa kau panik." Dia mengawasiku dengan cermat.
"Ini permanen," bisikku dan dia hanya mengangguk, menungguku untuk melanjutkan. "Sial, Jongin, itu lebih permanen dari cincin."
Matanya menyipit. "Percayalah, ketika aku memasang cincin di jarimu, itu akan berada di sana secara permanen."
Ketika ia memasang cincin di jariku?!
"Jongin." Aku memulai dan menarik diri dari pelukannya. "Kurasa kita punya pemikiran yang sama. Aku tidak tertarik untuk mengenakan cincin di jariku."
"Apa yang kau bicarakan?" dia mendengus.
"Kau mengatakan bahwa pernikahan tidak menarik bagimu. Begitu juga aku." Aku menggeleng dan bersedekap. "Kita bisa berkomitmen satu sama lain tanpa cincin pada jemari kita."
"Kyungsoo, pada waktu itu aku adalah orang yang berbeda." Ia menopang tangannya di pinggul, sedikit di atas jeansnya yang menggantung rendah dan celana boxernya. "Bertemu denganmu, jatuh cinta padamu telah mengubahnya. Kau milikku."
"Ya, kau selalu mengingatkanku. Sering."
"Karena tampaknya kau perlu pengingat. Kau telah menandaiku, dan tato ini adalah caraku menunjukkan pada dunia bahwa aku milikmu, secara permanen."
Aku terus merengut padanya, tapi astaga, dia milikku. Secara permanen.
"Jongin, aku berkomitmen untukmu, tapi pernikahan..."
"Ya Tuhan," Dia menyela. "Ini tidak seperti aku berlutut di depanmu dengan membawa sebuah cincin."
"Baik." Aku mengerutkan kening.
Dia mempersempit jarak di antara kami dan mendorong tangannya ke rambutku, menahanku. "Aku milikmu, sunshine. Biasakan untuk itu. Sisanya akan berjalan dengan sendirinya."
"Kau juga milikku," Aku setuju dan merasa isi perutku melonggar.
"Ya Tuhan, kau begitu keras kepala. Kebanyakan wanita akan senang kalau kekasihnya memasang tato baginya."
"Setidaknya kau tidak menulis namaku di lehermu." Aku menggigil saat ia tertawa.
"Bukan seleraku." Dia menggeleng dan mendesah. "Apa yang akan kulakukan denganmu?"
Cukup teruslah mencintaiku. Aku tidak mengatakan itu dengan keras. Sebaliknya aku berjinjit dan menekan bibirku di bibirnya.
"Tato barumu indah," bisikku.
.
OoooO
.
"Kau tidak perlu mengantarku. Aku ingat di mana Baekhyun dan Chanyeol tinggal." Aku menyeringai ke arah Jongin saat ini ia menemaniku menyusuri lorong gedung tempat tinggal Baekhyun dan Chanyeol.
"Aku tidak keberatan. Jadi, Kalian akan menemui kami disana jam enam tigapuluh, kan?"
"Ya." Aku mengangguk dan memutar mataku. Ini adalah ketiga kalinya dia mengingatkanku sejak kami meninggalkan tempatku, padahal aku hanya tinggal empat blok jauhnya dari sini. "Kenapa kau begitu khawatir tentang kami berada di sana tepat pada waktunya?"
"Karena para wanita memiliki kecenderungan untuk selalu terlambat, kalian berenam bersiap-siap bersama lalu hadir di suatu tempat tepat waktu? Tidak Mungkin. Acara dimulai jam tujuh."
"Oh kau kurang mempercayai kami." Aku tertawa dan membunyikan bel pintu. "Kami akan berada di sana tepat waktu. Kami punya waktu setidaknya tiga jam untuk bersiap-siap."
"Hei! Kau sudah datang!" Baekhyun membuka pintu, dia hanya mengenakan celana olahraga pendek berwarna merah dan tank top hitam ketat. "Kami sedang menata rambut kami. Aku sudah punya ide untuk rambutmu."
"Terima kasih telah mengantarku." Aku berbalik untuk mengikuti Baekhyun, tapi Jongin menangkap tanganku dan menarikku kembali kepadanya, menciumku dengan dalam dan posesif, sebelum melepaskanku kembali dengan tersenyum puas.
"Kau akan menjadi sangat hebat malam ini, sayang," bisikku padanya. Dia menyeringai, tapi aku tahu dia sedikit gugup.
"Kenakan sesuatu yang seksi untukku." Dia memukul pantatku saat aku berjalan pergi.
"Celana Yoga!" Aku berteriak dan melambai padanya saat dia tertawa lalu menutup pintu di belakangnya.
"Hai semua!" Aku berseru, menaruh tas malamku di atas tempat tidur Baekhyun, tampaknya bersama dengan tas-tas malam yang lain, lalu berjalan ke kamar mandi. "Sepertinya toko peralatan kecantikan telah meledak di sini."
"Kau di sini!" Luhan mencium pipiku bahagia. Yixing dan Minseok membungkuk di atas wastafel, dengan sangat berhati-hati menggunakan make up mereka.
"Ini adalah konser rock, kalian tahu. Kalian akan banyak berkeringat lalu membuat make up kalian luntur."
"Tidak, itu tidak akan terjadi." Yixing tertawa. "Aku tidak berkeringat. Aku berkilau."
Tao tertawa. "Pakai saja segala sesuatu yang tahan air, Kau pasti akan baik-baik saja."
Dia tampak mengagumkan. Rambutnya adalah perpaduan antara ikal berwarna merah dan hitam, dan dia menambahkan garis-garis ungu di sekitar wajahnya.
Baekhyun dan Luhan membuat rambut mereka panjang dan terlihat lurus.
"Duduk," Baekhyun memerintahku.
"Aku bisa menata rambutku sendiri." Aku cemberut. "Aku sudah melakukannya dalam waktu yang cukup lama."
"Jangan menjadi pengecut. Aku akan melakukan sesuatu yang benar-benar mengagumkan."
"Wah, bagus. Hanya saja jangan membuatnya seperti pita rambut dari tahun 80an."
Baekhyun menyeringai dan mendorongku ke kursi, meraih flat iron-nya lalu melakukan pekerjaannya.
"Kyungsoo, bagaimana? apa kau menyukai pekerjaan barumu?" Yixing bertanya dan tersenyum ke arahku.
"Aku menyukainya." Aku menyeringai mengingat pekerjaan baruku di Wine Northwest, sebuah majalah yang menampilkan anggur dan perkebunan anggur di Northwest.
"Apakah Kau sempat mencicipi beberapa?" Baekhyun bertanya sambil menggosokkan semacam gel lengket di rambutku.
"Sebenarnya, iya. Mereka mengagumkan."
"Bagus untukmu." Luhan sudah selesai memakai lipstik dan menata rambutnya. Dia bahkan belum terlihat seperti orang hamil. "Kami bangga padamu."
"Terima kasih, sangat menyenangkan bisa kembali bekerja."
"Apakah Jongin gugup?" Minseok bertanya, menatap mataku di cermin.
"Dia bilang dia tidak gugup, tapi aku dia mungkin sedikit mengalaminya. Ini adalah pertunjukan pertama mereka selama hampir enam bulan lamanya."
"Ditambah disini adalah kota mereka sendiri, sehingga itu bisa berarti lebih," Tao setuju. "Dia mungkin bertindak tidak peduli, tetapi perutnya akan menggila."
"Kasihan." Yixing tertawa. "Oh Tuhan, aku berharap dia melakukannya dengan bertelanjang dada."
"Bisakah Kau mengatur itu, Kyungsoo?" Luhan bertanya dengan tawa. "Ya Tuhan, bintang-bintang itu!" Dia mengipasi wajahnya dengan tangan dan tertawa.
"Aku akan memasukkannya ke dalam daftar permintaan," aku menjawab datar. Tentu saja dia akan bertelanjang dada. Dia adalah Kim Jongin.
Aku tidak sabar.
"Minseok, Kau terlihat keren," komentar Baekhyun dan dia terus menarik-narik rambutku.
"Makasih." Minseok mengedipkan mata.
Baekhyun benar; Minseok tampak hebat. Tubuh langsingnya terlihat fantastis di dalam jeans ketat dengan atasan berpotongan rendah di bagian dada dan berwarna hitam mengkilap.
"'Sex' setuju dengannya." Yixing menyeringai dan aku merasa mataku terbuka lebar.
"Yang benar saja!"
Minseok memerah dan menurunkan tatapannya untuk sesaat lalu kemudian berbalik dengan senyum bahagia.
"Kau mendapatkan orgasmemu kembali!" Luhan berseru gembira.
"Tentu saja." Minseok mengangguk. "Aku bisa mengatakan bahwa para pria Kim memberikan beberapa Orgasme yang menakjubkan" Yixing dan Tao mengangguk setuju dan aku tertawa, lega bahwa Baekhyun telah melepaskan rambutku jadi aku tidak jadi terbakar.
"Astaga! Itu keren!" Baekhyun bergegas disekitarku untuk memeluk Minseok lalu kemudian ia cemberut. "Tunggu. Ew. Dia adalah saudaraku. Memuakkan."
"Baekhyun, aku benci untuk memberitahumu, tapi saudara-saudara priamu berhubungan seks." Aku menyeringai dan menuangkan sendiri sampanye dari botol di atas wastafel.
"Mereka telah benar-benar melakukannya, benar-benar seks yang hebat." Tao mengusapkan lip-gloss di bibirnya. "Benar-benar hebat."
"Jika dia menyakitimu, aku akan membunuhnya," Baekhyun mengepalkan tangannya dan menahannya di depan dadanya, berpose seperti dia akan memukul seseorang.
"Kau selalu mengatakan itu." Luhan memutar matanya dan memeluk Minseok. "Bagus untukmu."
"Ya, dia benar-benar keras kepala, dan dia menjelaskan bahwa itu hanya seks dan dia akan memastikan bahwa anak kami dan diriku akan aman." Dia mengangkat bahu, tapi tidak bisa menyembunyikan kesedihan di mata coklat indahnya. "Tapi orgasmenya benar-benar hebat."
"Ini, minumlah." Aku mendentingkan gelasku ke gelasnya. "Kau tampak hebat. Kita akan bersenang-senang. Jongdae akan menelan lidahnya ketika dia melihatmu."
"Memangnya kenapa para pria ikut sih?" Yixing bertanya. "Aku kira ini seharusnya menjadi malam para gadis."
"Aku tidak tahu." Baekhyun mengangkat bahu. "Mereka juga menyukai musik."
"Aku berharap Yifan tidak harus pergi ke luar kota akhir pekan ini." Tao mengerutkan kening.
"Kita akan mengirimkannya beberapa foto." Luhan menenangkannya. "Kita akan mengambil foto dari barisan depan, menggoda penjaga keamanan, lalu mencoba untuk pergi ke belakang panggung."
"Uh, Luhan." Aku tertawa dan menggelengkan kepala. "Kita dengan para pria di band. Kita tidak perlu bermain-main dengan petugas keamanan."
"Nah, bagian mana yang menyenangkan dari itu semua?" Dia cemberut, dan kami semua tertawa melihatnya.
"Sana, rambutmu sudah sempurna." Baekhyun memainkan sehelai rambut bagian depanku lalu pergi menjauh. "Pergilah memeriksanya."
Dia melakukan pekerjaannya dengan sangat baik. Dia membuat rambut hitam sebahuku terlihat berombak dan berantakan dengan gaya seorang rocker. Bagaimana dia bisa berhasil melakukannya dengan flat iron dan beberapa gel adalah di luar pengetahuanku.
"Terima kasih." Aku menyeringai. "Kau tahu, kalau seluruh investasi perbankan sialan itu tidak berhasil, Kau benar-benar bisa meLuhana rambut."
"Aku akan memikirkannya," jawabnya sinis saat aku meraih tas makeup-ku dan menggali, dengan Minseok yang berada di dekatku, memberiku petunjuk tentang bagaimana membuat smokey eyes. Akhirnya, setelah apa yang tampaknya seperti selamanya, Minseok, dan para gadis, akhirnya puas dengan wajahku.
"Aku akan berpakaian," Baekhyun mengumumkan.
"Aku juga." Aku mengikutinya ke kamar tidur lalu menarik gaun ketat sepanjang paha – berwana hitam dengan taburan perak – sampai ke pinggulku. Gaun ini memiliki kerah berbentuk V yang rendah, memamerkan payudaraku, berkat push-up bra yang benar-benar hebat.
"Astaga, kau sangat seksi." Baekhyun menatapku, mulutnya terbuka. "Sepatu Apa yang kau akan pakai?"
Aku menarik sepatu hak hitam super-strappy-ku keluar dari tas dan mengangkat mereka dengan wajah angkuh. "Sepatu sialan."
"Jongin akan membutuhkan semacam resusitasi -penyadaran diri-." Dia menyeringai dan melangkah ke dalam celana jins biru ketat dan halter-top merah yang longgar dengan kerah tudung yang juga terbuka hingga pertengahan payudaranya. Choo stiletto Kulit mengilap berwarna merah melengkapi tampilannya.
"Kita semua memamerkan payudara kita." Aku terkekeh.
"Ya, kenapa tidak?"
Kami lalu bergabung dengan yang lain dan menerima teriakan-teriakan dan siulan.
"Kita adalah sekelompok pelacur yang sangat seksi," Tao mengangguk penuh penghargaan. Dia terlihat menakjubkan di dalam gaun baby doll tanpa lengan berwarna hijau sepanjang paha dengan sapu tangan hemline. Luhan dan Yixing terlihat hebat dalam gaun hitam pendek mereka.
Tao benar, kami adalah sekelompok pelacur seksi.
"Apakah kita semua sudah siap? Jongin akan terkejut kita berada disana tepat waktu."
"Mari kita pergi mengejutkannya," Baekhyun setuju.
.
OoooO
.
Tempat ini penuh sesak. Key Arena lebih kecil, jauh lebih kecil, dari Tacoma Dome, tetapi lebih intim. Aku tidak terkejut sedikit pun bahwa orang-orang memilih untuk bermain di sini.
Permulaan dari duapuluh hari tour A.S mareka. 'The Sunshine Tour'. Aku menyeringai pada kaos yang kami lewati saat kami berjalan menuju ke kursi kami. Jongin sudah memberiku satu.
Saat kita berjalan ke bawah ke arah barisan depan dimana aku sudah bisa melihat dan mendengar para pria, seorang penjaga keamanan mendekati kami.
"Yang mana dari kalian yang bernama Oh Kyungsoo?" Dia bertanya.
Para gadis menunjukku dan meneruskan langkah mereka menghampiri para pria.
Ya Tuhan, para pria terlihat fantastis.
"Bolehkah anda ikut dengan saya?" Dia bertanya. "Mr. Kai ingin menyampaikan sesuatu."
"Tentu." Aku mengikutinya melewati yang lain, naik keatas panggung dan melalui pintu hitam ke belakang panggung. Ini mengejutkanku betapa tenangnya di belakang sini, meskipun para roadies sibuk dan orang-orang meributkan beberapa hal, semua memakai lencana VIP resmi di leher mereka.
"Tepat di dalam sini." Dia membuka pintu dan mempersilahkanku untuk masuk, lalu menutup pintu tepat di belakangku.
"Terima kasih Tuhan." Jongin menarikku ke arahnya dan menciumku dengan liar, kemudian menarik kembali, matanya bergerak naik turun mengamatiku. "Ya Tuhan, Kyungsoo, bagaimana aku bisa berkonsentrasi pada pertunjukan sementara kau akan berada di barisan depan dengan penampilan seperti ini?"
Aku menyeringai lalu mebuat putaran kecil. "Kau menyukainya?"
"Aku yakin aku baru saja mengalami stroke." Dia menegaskan.
"Kau juga tampak cukup hebat." Dia memakai celana kulit hitam dan kaos tanpa lengan dari konser AC/DC yang legendaris. "Berapa lama sampai kaos itu lepas?"
"Mungkin di lagu pertama. Aku merasa sangat kepanasan," gumamnya.
"Kau hanya ingin memamerkan bintang-bintangmu." Aku membantahnya dan tertawa ketika dia cemberut padaku. "Gadis-gadis akan senang. Mereka sangat bersemangat untuk melihat bintang-bintangmu."
"Bagaimana denganmu?" Dia bertanya dan mencium keningku.
"Aku menikmatinya juga." Aku menyeringai dan mendorong tanganku ke bawah kemejanya lalu menggosokkan jempolku di mana bintang-bintang berada, sepanjang V- nya. "Mereka benar-banar keren."
"Jangan membuatku teransang sebelum pertunjukan, sunshine."
"Apakah itu yang sekarang kulakukan?" Tanyaku dengan mata lebar.
"Kau adalah masalah," dia bergumam dan tersenyum. "Aku suka itu. Petugas keamanan akan membawa kalian semua kembali setelah pertunjukan. Tetaplah di kursimu."
"Akan kulakukan. Kau akan menjadi sangat luar biasa," Aku mengingatkannya.
"Jujur, bukan pertunjukan ini yang membuatku gugup." Dia mengerutkan kening dan mencium keningku lagi.
"Apa yang membuatmu gugup?"
"Lihat saja nanti." Dia menggeleng dan memeriksa jam tangannya. "Sebaiknya kau kembali ke luar sana. Aku harus kembali ke para pria. Kami memiliki ritual sebelum pertunjukan yang lebih baik tidak aku lewatkan."
"Pengorbanan itu?" Tanyaku sambil tertawa.
"Tidak ada yang dramatis." Dia menggeleng, lalu tersenyum dengan lembut. "Aku akan melihatmu sebentar lagi."
"Baiklah, semoga beruntung!" Dia menciumku, keras dan cepat, dan membawaku keluar kearah lorong di mana penjaga keamanan sedang menunggu untuk mengantarku kembali ke tempat duduk.
"Ini adalah Lionel. Dia sudah ditugaskan untuk menjaga kalian semua para gadis. Jika Kau butuh sesuatu, katakan saja padanya."
"Oke." Aku berbalik ke Lionel. "Aku siap."
.
OoooO
.
Selain Kyungsoo, tidak ada yang aku sukai lebih dari melakukan pertunjukan. Keramaian yang disebabkan oleh ribuan yang mengelilingi kami dan bernyanyi bersama dengan lagu-lagu yang sudah kutulis lebih baik daripada segala jenis obat-obatan bius dengan dosis tinggi.
Paruh pertama pertunjukan telah selesai tanpa ada hambatan. Band ini sangat hangat, mereka bermain dengan sempurna. Aku sudah dengan orang-orang ini cukup lama sehingga kami bisa berkomunikasi dengan gerakan tangan atau kontak mata.
Itu adalah yang terbaik.
Suaraku kuat dan yakin, dan aku merasa tidak pernah senyaman ini, lebih dari ini selama pertunjukan. Tentu saja, tidak ada salahnya bahwa kotaku dan gadisku adalah salah satu dari penontonku.
"Apakah kalian bersenang-senang, Seattle?" Aku menjerit dan mengarahkan mic kearah penonton untuk mendengar respon mereka, yang merupakan jeritan memekakkan telinga.
Aku melihat ke bawah, kebarisan depan, melihat Lionel mengawal Tao untukku, ke sayap panggung.
Mari kita lihat apa ini bisa berhasil.
"Kami memiliki tamu khusus dengan kami saat ini, Seattle. Kembali pada hari saat kami bermain di bar dan klub di sekitar kota, dan gadis cantik ini," Aku menunjuk ke kiri ke arah Tao yang berjalan penuh percaya diri di atas panggung, senyum lebar di bibirnya dan mic di tangannya, "Adalah bagian dari Kai pada saat itu. Dia setuju untuk bernyanyi dengan kami malam ini! Ini dia Kim Tao!"
Para penonton bersorak-sorai dan bertepuk tangan, barisan depan menjadi gila. Baekhyun berteriak dan melompat-lompat.
Tunggu saja, sayang.
"Hei, semua!" Tao memanggil dan gelombang tepukan tangan menjawabnya.
Aku memintanya untuk bergabung denganku di atas panggung beberapa minggu yang lalu, dan dia dengan keras menolak gagasan itu pada awalnya, tapi aku meminta Kyungsoo, Baekhyun dan para gadis untuk berbicara padanya.
Aku selalu mendapatkan jalanku.
Aku mengangguk ke belakang ke arah Gary dan ia memulai lagu dengan keyboardnya, Eric lalu bergabung dengan drumnya, dan akhirnya lagunya dimulai.
Ini bukan salah satu dari lagu kami. Yifan meminta aku untuk mengubah susunan Kiss Me Slowly oleh Parachute menjadi duet, dan meminta Tao menyanyi denganku. Aku berbohong padanya dan bilang itu untuk Kyungsoo.
Dia akhirnya membelinya.
Aku menyanyikan bait pertama, dan ia menyanyikan bait kedua, kami bernyanyi bersama untuk refrain-nya.
Oh Tuhan, gadisku bisa bernyanyi.
Lagu berakhir lalu penonton berdiri, bersorak untuk kami, dan senyum Tao sangat luar biasa. Dia harus melakukan hal ini lebih sering dengan kami.
Dia melambaikan tangannya lalu berbalik untuk meninggalkan panggung, tapi aku menankap tangannya.
"Tidak begitu cepat, Zitao." Aku berbicara ke mic dan dia berbalik kembali, keterkejutan tertulis di wajahnya. "Jadi, aku yakin Kalian tidak tahu ini," kataku kepada kerumunan, "Tapi Zitao adalah adikku. Dia pergi dan terlibat dengan seseorang yang kalian semua kenal dan cintai, aku yakin kalian akan mengenali namanya, Mr. Yifan Kim."
Orang-orang menjadi ramai, melompat dan menjerit sementara Tao cemberut padaku. Dia yakin mereka menggila hanya karna aku menyebutkan nama Yifan.
Dia salah.
"Berbaliklah, Tao-pie," Aku berteriak di telinganya, sehingga hanya dia yang bisa mendengar, lalu matanya melebar karna shock, seketika itu juga air matanya mengalir ketika ia melihat Yifan mendekatinya dari belakang. Dia mengenakan celana panjang dan kemeja dengan kancing dari kerah sampai ke ujungnya, lengannya digulung, dan ia memiliki mic di tangannya. Dia mengangguk padaku lalu aku melepaskan tangan Tao dan melangkah beberapa meter jauhnya untuk membiarkan dia melakukan pekerjaannya, tapi aku berhenti cukup dekat sehingga aku bisa melihat mereka dengan semua penonton.
"Hei," kata Yifan ke mic matanya pada Tao, dan kemudian ia melambai pada penonton, yang segera berteriak dengan sukacita lagi.
Mereka amat sangat luar biasa.
Aku melirik ke barisan depan dan menemukan mata Kyungsoo padaku, tersenyum lebar. Semua orang bertepuk tangan dan berteriak, para gadis menangis. Yifan dan aku menyimpan rahasia ini dari mereka semua.
"Tao." Yifan memulai dan melangkah mendekatinya, membalik dirinya sehingga semua orang bisa melihat wajah mereka. "Jadi, aku jelas tidak perlu pergi ke luar kota akhir pekan ini." Dia tersenyum ke arah Tao dan mengangkat bahu. "Jongin membantuku dengan kejutan ini."
Tao melirikku, dan aku hanya tersenyum dan mengangkat bahu.
"Lagu yang baru saja kau nyanyikan juga bukan dari Jongin untuk Kyungsoo seperti yang dia katakan." Dia tertawa sambil menurunkan mic dan mengumpat tidak jelas padaku karena berbohong padanya lalu kemudian ia berbalik kembali ke arah Yifan. "Karena lagu Itu dariku untukmu," Yifan berdeham, "Aku tidak yakin ke mana semua ini akan berujung ketika aku pertama kali bertemu denganmu, segala yang aku tahu adalah bahwa aku menginginkanmu."
Kerumunan sudah kembali diam, mendengarkan dengan rasa terpesona Yifan mencurahkan hatinya kepada Tao.
Jika aku tidak amat sangat mencintainya, aku akan menyebutnya payah, tetapi dia sangat pantas akan setiap kata-kata itu, dan sebagainya.
"Ada bait di lagu itu yang mengatakan, 'Dan sulit untuk mencintai lagi, ketika satu-satunya cinta yang kau tahu telah berjalan pergi.' Aku di sini untuk memberitahumu, di depan semua orang-orang ini dan didepan semua orang yang kita cintai bahwa aku tidak akan pernah ke mana-mana, Tao. Aku tidak akan pernah membiarkanmu pergi. Aku mencintaimu lebih dari mencintai yang aku tahu adalah mungkin untuk seseorang lakukan. Karenanya," Yifan menurunkan dirinya dan berlutut hanya dengan salah satu lututnya, Tao menutup mulut dengan tangannya, air mata mengalir di wajahnya yang cantik. Yifan menarik sebuah kotak biru kecil dari sakunya dan membukanya, menunjukkan padanya batu yang amat sangat besar.
Bagus, Yifan.
"Zitao, adalah sebuah kehormatan untukku dapatkah kau menjadi istriku? Menikahlah denganku, sayang."
Kau bisa mendengar jarum jatuh di Key Arena sekarang. Bahkan tidak ada seorang pun yang bernapas saat ini, mereka menunggu jawaban Tao. Anggota keluarga Kim berdiri diam. Air mata terus mengalir di wajah Tao dan beberapa detik terasa seperti beberapa jam.
"Eh, Tao," gumamku dalam mic-ku. "Jawabannya adalah ya, nak, keluarkanlah pria ini dari penderitaannya."
Para penonton tertawa, dan akhirnya Tao menjatuhkan dirinya, berlutut di hadapan Yifan, menjatuhkan mic-nya di lantai, menutup wajahnya dengan tangannya dan berkata, "Tentu saja aku akan menikahimu."
Orang-orang menjadi liar. Saat Yifan membungkuskan lengannya di pinggang Tao lalu menarik Tao ke arahnya, memberinya ciuman yang panjang dan keras.
Terlalu lama, dan terlalu keras.
"Hei, Kim, taruh batu itu di jarinya dan pergilah. Aku punya pertunjukan yang harus dilakukan."
Penonton tertawa dan Yifan memasang cincinnya di jari ramping Tao dan menciumnya, kemudian membantunya berdiri. Mereka berdua melambai ke penonton lalu keluar dari panggung melalui melalui sayap kiri panggung.
Aku kembali ke bandku, mengangkat mic ke wajahku dan berteriak, "Oke, Seattle, let's fu*king rock!"
.
OoooO
.
Kyungsoo POV
Pesta setelah konser di belakang panggung berlangsung dengan meriah. Fans yang memenangkan back stage pass boleh masuk ke belakang panggung untuk berfoto dan meminta tanda tangan telah datang dan pergi. Band ini dengan sangat jelas menyatakan bahwa acara ini hanya bagi mereka dan keluarganya.
Sekarang Masih ada lebih dari tiga puluh orang dari kami.
"Acara ini me.. menakjubkan!" Yixing berseru dan merapatkan diri ke sisi Joonmyeon, dengan minuman di tangannya.
"Memang benar," Minseok mengangguk dan tersenyum pada Tao dan Yifan, yang duduk di sofa, Tao ada di pangkuan Yifan. "Yifan, tadi itu adalah lamaran yang paling romantis yang pernah kulihat."
"Aku seorang pria romantis." Dia mengangkat bahu dan tersenyum dengan sombongnya ke arah kami.
Tao berbahak. "Kau bisa berarti banyak hal, sayang, tapi romantis bukan salah satu dari itu. Apa Sehun memberimu masukan?"
"Hei! Aku punya momen romantis!" Yifan mengerutkan kening pada Tao dan kemudian berbisik di telinganya, membuat wajah Tao memerah.
"Oh, ya, itu benar."
"Aku tidak mau tahu." Taeyeong menggeleng dan kemudian berbalik memandang Jongdae, yang jadi sangat pendiam sepanjang malam ini, bahkan selama konser berlangsung. Matanya menyipit, postur tubuhnya dalam keadaan siap siaga. "Kau baik-baik saja, bung?"
"Ya," Jongdae menegaskan dengan anggukan.
Minseok mengerutkan kening ke arahnya. "Apa kau yakin?"
"Aku baik-baik saja." Rahangnya mengeras, tapi suaranya tegas dan tidak memberikan kesempatan untuk ditanyai lagi.
"Hei, Kyungsoo." Baekhyun mendekati kami dari seberang ruangan. "Jongin sedang mencarimu beberapa menit yang lalu. kau pasti masih di toilet tadi."
"Apak kau tahu ke arah mana dia pergi?"
"Keluarlah ke lorong." Baekhyun menunjuk ke arah pintu.
"Oke, terima kasih." Aku memeriksa jam di ponselku sambil berjalan keluar ke koridor. Aku ingin tahu berapa lama kita harus tinggal di sini sebelum kita dengan bijaksana pergi. Para pria akan berangkat di pagi hari untuk tur mereka, dan aku ingin sebanyak mungkin waktu yang tersisa untuk sendirian hanya dengan Jongin.
Aku mendengar suara-suara berbisik di aula saat aku membelok di tikungan. Jongin berdiri di sana dengan punggungnya menghadap padaku, ia sedang berhadapan dengan Rick manajernya, yang menghadap ke arahku, tapi belum melihatku.
"Kau akan menghancurkan hatinya, Jongin. Dia mencintaimu."
"Aku juga mencintainya, tapi aku sangat yakin tidak bisa mempercayainya lagi. Apa yang kau usulkan untuk kulakukan? Semakin cepat itu terjadi, semakin baik."
Apa yang sebenarnya telah kulakukan?
Rick melirik melewati bahu Jongin dan melihatku. Mulutnya rata dalam garis muram dan ia mengembuskan napas keras. "Hei, Kyungsoo."
"Brengsek," Gumam Jongin pelan, menundukkan kepalanya dan menopang tangannya di pinggulnya, jantungku berdebar keras terasa seperti akan keluar dari dadaku. "Kembali ke pesta, Kyungsoo."
Suaranya dingin. Marah. Dia tidak berbalik menatapku.
Rick menggeleng. "Tidak, kupikir ini adalah percakapan yang kau harus tahu." Dia memukul bahu Jongin lalu menepuk bahuku ketika dia berjalan melewatiku, meninggalkan Jongin dan aku sendirian di lorong yang sangat terang dan tenang.
"Ya, sepertinya kita perlu berbicara." Aku membangun dinding pertahanan di sekitarku. Jangan biarkan dia melihat kau terluka, Kyungsoo. Aku berjalan untuk berdiri di mana Rick berdiri beberapa saat yang lalu. Jongin tidak mau melihat ke arahku; dia terus mengarahkan matanya ke lantai. "Lihat aku."
Dia menarik kepalanya ke atas, tapi bukannya melihatku di mata, ia berfokus pada bahuku.
"Sialan. lihat aku, Jongin."
Dia menggeleng, membuat matanya tertutup dan mengumpat pelan lagi.
"Dengar, Kyungsoo..."
"Tidak. Katakan saja hal salah apa yang telah kulakukan."
Kepalanya tiba-tiba berdiri dan akhirnya ia menusukku dalam badai itu, mata kelabunya, lalu dia cemberut. "Kau tidak melakukan sesuatu yang salah."
"Tapi kau baru saja mengatakan bahwa kau tidak bisa percaya lagi padaku. Aku mendengarmu."
"Tidak." Dia menggeleng tegas dan menggosokkan tangannya ke atas dan ke bawah lenganku. "Kau tidak melakukan apa-apa. Aku tidak bicara tentangmu, sayang."
"Apa yang sedang terjadi?"
"Brengsek," ia bergumam lagi, mendesah dan menelan ludah dengan sulit. "Aku tidak tahu bagaimana mengatakan ini padamu, Kyungsoo."
"Kau membuatku takut," bisikku.
"Aku akan mengatakannya, tapi sebelum kulakukan, perlu kau ketahui bahwa aku sangat, sangat menyesal." Dia melihat ke mataku lagi, khawatir, sedih dan marah.
"Apa?" Tanyaku dengan jengkel.
"Tampaknya seseorang telah mengambil foto kita di LA, di rumahku, di balkon."
"Apa? Bagaimana bisa? Pantaimu adalah milik pribadi."
"Ya, well, siapa tahu?"
"Bagaimana kau mengetahui hal ini? sudahkah kau melihat foto-foto itu?"
Dia cemberut dan menggeleng. "Tidak. Melissa memerasku. Dia mengatakan bahwa jika kita memecatnya atas kebocoran foto-fotomu, dia akan menaruh foto itu di Internet." Dia menggosokkan tangannya ke rambut dan berjalan mondar-mandir. "Jadi, aku tidak akan memecatnya sampai aku tahu bagaimana menangani masalah ini."
"Persetan dengan itu semua."
"Apa?" Dia berbalik padaku, matanya melebar.
"Dia tidak akan mengancammu hanya agar tetap mempekerjakannya, Jongin. Bilang dia hanya menggertak. Pecat saja. Jika dia memposting foto-foto itu, biarkan saja. Kita adalah orang dewasa yang sama-sama saling mencintai. Jika ada seseorang yang tidak suka, mereka bisa mencium pantatku. Aku tidak akan membiarkan dia mengubah saat yang paling indah dalam hidupku menjadi sesuatu yang kotor."
Dia hanya berdiri di sana, mulutnya ternganga, dan kemudian berkedip cepat. "Tunggu, dari mana ini semua berasal? Kau sangat marah minggu lalu karena foto-foto itu, kupikir hal ini pasti akan menghancurkanmu. Aku tidak mengkhawatirkan diriku, tapi aku tidak ingin sesuatu seperti ini diketahui tentangmu."
"Dengar, aku mungkin telah bereaksi berlebihan atas foto-foto itu. Tapi hal ini pasti akan terjadi. Ini hanya bagian dari bersama denganmu." Aku menarik jari-jariku turun ke wajahnya dan memberikannya senyuman kecil. "Aku mencintaimu, Jongin. Kita telah menetapkan bahwa aku milikmu dan kau milikku, dan kita telah berada di posisi ini untuk jangka waktu yang panjang. Aku menolak untuk membiarkan orang-orang seperti Melissa mendikte kehidupan kita."
"Ini bisa berubah menjadi badai besar untukmu, sayang."
Aku mengangkat bahu dan membungkus lenganku di pinggang telanjangnya. "Aku yakin dia tidak akan memposting foto-foto itu, Jongin. Dia tidak ingin merusak reputasinya sendiri dalam bisnis ini. Dia akan menjadi orang idiot dengan membiarkan foto itu bocor. Kita bahkan tidak punya bukti bahwa foto itu benar-benar ada."
"Kau yakin?"
"Wanita jalang itu sudah pergi," Aku mengkonfirmasi. "Sekarang, mari kita bersenang-senang dengan keluarga kita, minum-minum dan kemudian pulang ke rumah sehingga kau dapat memberikanku beberapa orgasme."
"Tunjukkan jalannya, sunshine."
.
OoooO
.
"Jam berapa kau akan pergi?" Tanyaku pelan, tidak ingin mengganggu keheningan yang manis di pagi hari ini. Kami meringkuk di tempat tidur. Matahari belum terbit. Kucingku meringkuk di perut Jongin, mendengkur, dan aku terbungkus menghadapnya, kepalaku ada di dadanya.
Kami masih berkeringat dari bercinta di pagi hari, kulitku masih bergetar, dan ujung jari Jongin menggosok ke atas dan ke bawah punggungku.
"Aku harus berada di bandara pukul sembilan," bisiknya.
"Apa yang kau ingin lakukan sampai saat itu?" Aku bertanya dan mengikuti huruf-huruf tato di dadanya.
"Kupikir kita harus pergi berlari."
Kepalaku tersentak untuk melihat wajahnya. "Apa kau serius?"
"Ya." Dia menyeringai ke arahku. "Aku tidak akan bisa berlari denganmu selama dua minggu."
"Aku akan bertemu denganmu di New York akhir pekan ini," Aku mengingatkannya. Bahkan lima hari tampaknya terlalu lama.
"Kita tidak akan berlari di New York, sayang. Kita akan beruntung jika kita bisa keluar dari kamar hotel." Dia terkekeh dan mencium keningku. "Ayo. turunlah dari tempat tidur. Mari kita pergi."
Aku mengikutinya turun dari tempat tidur, mengambil perlengkapan berlari kami lalu turun ke jalan. Aku menyadari dia memakai celana pendek dan t-shirt yang sama yang dikenakannya pada pagi pertama kami berlari bersama.
"Kau tahu," aku menyinggung santai saat kami berlari di jalan yang biasa kami lalui di kota. "Aku bisa berlari lebih jauh dari yang biasanya kita lakukan."
"Larilah. Aku akan mengikutimu."
"Kau tidak ingin tahu ke mana aku akan pergi?" Tanyaku sambil tersenyum.
"Tidak, aku akan pergi ke mana pun kau pergi."
"Oke, tapi kau harus bisa mengimbangi. Aku tidak memperlambat kecepatanku untukmu." Aku melemparkannya tatapan menghina saat ia tertawa.
"Oke, catat."
Sial, dia seksi. Dia sama seksinya saat pagi pertama kami berlari bersama-sama. Bahkan jauh lebih seksi lagi karena sekarang aku tahu di bawah sana ada tato dan tindikan.
"Jadi, siapa band favoritmu?" Dia bertanya sambil menyeringai.
"Aku tidak tahu." Aku mengangkat bahu dan menjaga wajahku tetap tenang. "Aku sangat menyukai Daughtry."
"Siapa lagi?"
"Train."
"Aku akan memukul pantatmu."
"Aku mungkin punya sesuatu untuk Kai," Jawabku sambil tertawa.
"Kita akan melakukan sesuatu untuk itu." Dia terkekeh.
Kami berlari berdampingan, napas dan langkah kami berimbang... buk, buk, buk, sepanjang jalan ke taman di mana ia menarikku ke meja piknik yang ada di sana lalu memijit kakiku.
"Kakiku tidak gemetaran hari ini," aku membanggakan diri dengan menyeringai.
"Aku tidak berada di dalam dirimu. Tentu saja kakimu tidak gemetar."
Aku mengangkat satu alis kemudian tertawa terbahak-bahak, mendorong bahunya. "Kau benar-benar pria yang sombong."
Dia menggosokkan hidungnya di telingaku, bernafas dengan keras, saat kami berjalan-jalan menuju ke kafe. "Apa aku salah?" Bisiknya.
"Tidak. Hanya arogan."
Seorang pelayan menunjukkan kami ke sebuah tempat di pojok, memberi kami menu dan mengambil minuman pesanan kami jus dan kopi.
Tak satu pun dari kami perlu untuk membuka menu.
"Bagaimana pekerjaanmu, sayang?" Jongin bertanya, menyandarkan sikunya di meja, matanya bahagia, sebuah senyuman tipis ada di bibir yang boleh dicium itu.
"Baik." Aku mengangguk. "Tidak ada pria brengsek bernama Bob di tempat kerjaku yang satu ini, dan itu tidak seperti mereka menginginkan aku bercerita tentang keluargaku, mengingat bahwa apa yang kita ekspos di sini adalah anggur." Aku mengedipkan mata padanya dan menggapai untuk meraih tangannya di tanganku sendiri sehingga aku bisa menelusuri tinta di jari-jarinya.
"Apa kau bersemangat dengan tur ini?" Aku bertanya dan memperhatikan jariku di kulitnya.
"Akan menyenangkan bermain bersama band selama beberapa minggu, tapi aku sudah tak sabar untuk pulang ke rumah."
"Turnya hanya dua minggu. Itu lebih baik dari sembilan bulan." Aku terkekeh. "Sembilan bulan akan membunuhku."
"Sembilan bulan tidak akan terjadi kecuali kau bersamaku," ia menetapkan, seolah-olah itu adalah akhir dari diskusi.
Aku mengangguk, persis pada saat ponselku bergetar didalam bra-ku dan Jongin terkekeh saat aku menariknya keluar.
"Aku juga mencintai sistem penyimpananmu."
Aku menjulurkan lidah padanya dan memeriksa sms yang masuk. Ini dari Jongdae.
- Pertemuan keluarga, hari ini, 18:00. Rumah Minseok. Wajib-
Aku mengerutkan kening dan membalik ponselku untuk menunjukkannya pada Jongin.
"Tentang apa itu?" Ia bertanya, matanya menyipit.
"Aku tidak tahu," aku mengangkat bahu. "Mungkin ada hubungannya dengan masalah keamanan Minseok. Aku berharap dia akan memberitahu kita apa yang sedang terjadi dengannya."
"Ini mungkin bukan urusanmu." Dia mengingatkanku dan menyeringai. "Kau hanya suka ingin tahu."
"Aku khawatir," Aku tidak setuju dengannya lalu kemudian tertawa. "Oke, aku suka ingin tahu."
"Hubungi aku nanti dan beritahu aku apa yang terjadi."
Aku mengangkat bahu dan mengerutkan kening. "Pertemuannya agak sore hari ini. kau mungkin akan sibuk dengan pengecekan suara."
"Kau bisa meneleponku kapan saja, sayang. Aku tidak peduli apa yang sedang kulakukan. Aku ingin kau tahu bahwa bahkan ketika aku tidak di sini, kau adalah prioritasku. Aku ingin tahu apa yang terjadi di sini."
Aku mengangkat bahu lagi dan duduk kembali saat pelayan mengatur piring di depan kami. "Senang bisa melihat Lori tadi malam, bahkan jika itu hanya untuk beberapa menit." Aku memberinya senyum menggoda dan dia tertawa terbahak-bahak.
"Cara yang bagus untuk mengubah topik pembicaraan."
Aku menggigit telur dan mangedipkan mataku dengan polos, membuatnya tertawa lagi.
"Dia tidak akan melewatkan acara semalam demi apa pun." Jongin mengangguk. "Ditambah lagi karena dia ingin bertemu keluargamu."
"Tao tampak sangat senang melihatnya. Bagaimana kalian bisa mengenalnya?" Aku bertanya dan menggigit baconku. "Selain itu karena dia adalah istri Gary," Aku menambahkan.
"Tao dan Lori selalu bergaul dengan sangat akrab. Lori merasa terluka karena Tao dan aku tidak berbicara untuk sementara waktu." Dia menggigit bacon dan menyesap kopinya. "Aku sudah kenal Gary sejak dulu." Jongin memulai. "Selain Tao, dan sekarang kau, dia mungkin orang yang paling dekat denganku. Kami bertemu dengan Lori setelah manggung di sini, di Seattle. Dia sudah berada di kota dan datang ke pertunjukan, dan menjadi seorang selebriti, datang ke after party untuk berkumpul dengan kami. Aku dulu sudah bertekad untuk tidur dengannya." Dia tertawa lalu menyandarkan dirinya, wajahnya penuh dengan humor.
"Apa yang telah terjadi?" Aku bertanya dan mendorong piringku ke samping dan bersandar pada sikuku.
"Dia sama sekali tidak ingin berurusan denganku." Dia menggeleng sedih. "Dia menatap wajah jelek Gary, dan itu sudah seperti segalanya bagi mereka berdua. Jika aku mempermainkannya, Gary akan memaksaku masuk ke neraka."
Aku tertawa dan menelusuri tato di tangannya lagi. "Kasihan, kau kehilangan gadis itu."
Dia tiba-tiba terdiam, dan aku melirik ke atas untuk menemukannya diam-diam memperhatikanku. "Apa ada yang salah?"
Dia menggeleng, seakan menarik dirinya keluar dari lamunannya, lalu membalikkan tangannya ke atas untuk menautkan jemarinya dengan jemariku. "Kita sudah berhubungan lama sejak pertama kali kita duduk di kafe ini."
"Ya, kita sudah berhubungan lama," Aku mengangguk dan memiringkan kepalaku menghadapnya. "Apakah kau bahagia?"
"Oh sunshine." Dia mendesah dan menarik tanganku ke bibirnya, menyentuhnya hingga ke ruas-ruas jariku dan tersenyum lebar padaku. "Gembira bahkan belum cukup untuk menjelaskan semua ini."
.
OoooO
.
Epilog
Dua Bulan Kemudian
Jongin POV
Oh Tuhan, senangnya berada di rumah. Kami meninggalkan Atlanta segera setelah pertunjukan tadi malam dan langsung terbang pulang, tiba di SeaTac sekitar pukul dua pagi.
Kyungsoo dan aku masih belum tidur.
Sebaliknya kita malah bercinta, memasak sarapan, bercinta di meja dapur, dan kembali ke tempat tidur, duduk-duduk dan menikmati kebersamaan setelah berpisah selama dua minggu.
Aku hanya mau berpisah paling lama dua minggu.
"Oh, lihat!" Kyungsoo duduk dengan punggung bersandar di kepala tempat tidur, dia memakai t-shirt Sunshine Tour dan iPad di pangkuannya. "Ada foto kita di Yahoo!"
Kucing meringkuk di perutku, mendengkur saat aku membelainya, tanganku yang lain terselip di bawah kepalaku. Aku menatap langit-langit. Aku tidak mau repot-repot melihat ke iPad.
"Apakah kita telanjang?" Aku bertanya, hanya setengah bercanda. Aku takut setiap hari foto Melissa muncul di suatu tempat untuk mengancam kami.
"Tidak, untungnya tidak." Kyungsoo tertawa dan mendorong jemarinya ke dalam rambutku. Sial, Aku suka kalau dia melakukan itu. "Ini dari acara di Phoenix pekan lalu. Wow, mereka bahkan menulis namaku di bawahnya, bukan hanya 'pacar Kai atau 'kakak Sehun Oh'."
Aku mendorong kucing itu dari perutku dan berbalik, menyangga kepala dengan lenganku dan mendesah saat Kyungsoo menelusuri jarinya di bahuku.
"Oh, ini manis," gumamnya. "Ya Tuhan, lihat tas itu. Produk terbaru Michael Kors untuk musim semi yang sangat ditunggu."
"Apa kau mau belanja sekarang?" Tanyaku sambil tertawa kecil.
"Ya, aku tidak menghabiskan terlalu banyak waktu pada pakaian, aku hanya ingin memastikan rambutku terlihat bagus di foto." Dia menyeringai. "Oh, sial, sepatu itu akan jadi milikku."
Saat ia berceloteh terus tentang sepatu, tas, dan barang-barang lain yang ia beli secara online, pikiranku melayang ke acara nanti malam. Kurasa aku akan membawanya berdansa. Dia suka berdansa, dan melihat pantat bergerak dengan manis membuatku gila.
Setelah dipikir-pikir, sebaiknya aku tidak melakukannya. Aku harus membunuh setiap keparat yang menatap ke arahnya.
"Kurasa lemariku sudah terlalu penuh," dia bergumam.
"Mmm hmm," gumamku, hampir tertidur oleh sapuan lembut jemarinya di atas punggungku.
"Kurasa aku perlu mencari yang baru."
"Tunggu, apa?" Aku bangun dengan menyangga tubuhku dengan sikuku dan menatap ke arahnya. "Apa kau bilang?"
"Aku butuh lemari pakaian yang lebih besar," dia mengulangi kata-katanya saat aku merenggut iPad dari tangannya, meletakkannya di meja samping tempat tidur dan menariknya ke dalam pelukanku.
"Teruskan," gumamku dan menyelipkan rambut hitam lembut belakang telinganya.
"Mungkin kita harus mulai mencari seorang arsitek." Dia menggigit bibir dan menatapku dengan pandangan spekulatif, dan aku ingin tertawa gembira, tapi aku hanya mengangguk sambil merenung.
"Kau ingin merombak apartemenmu?"
"Jangan bersikap brengsek." Dia memukul lenganku dan kemudian menelusuri tatoku. Wanita ini selalu menyentuhku.
Aku harap ia tidak pernah berhenti.
"Buat apa kita menyewa seorang arsitek, Kyungsoo?" Aku bertanya dan menyondol hidungnya.
"Mungkin kita juga perlu dapur." Dia mengangkat bahu. "Dan tempat tidur."
"Apa lagi?"
"Dibutuhkan waktu berbulan-bulan untuk membangun rumah." Dia menurunkan tatapannya ke dadaku dan aku mengangkat dagunya agar bisa bertemu dengan tatapanku. "Aku tak ingin memindahkan semua barang-barang kita ke apartemen ini atau townhouse-mu. Aku belum siap, dan selain itu, kurasa kita harus memulai di suatu tempat yang baru"
"Oke."
"Tapi pada saat kita menemukan dan menyewa seorang arsitek, menyetujui rencananya, dan rumahnya dibangun, kurasa kita sudah sangat siap." Beberapa kata terakhir adalah bisikan.
"Aku akan mempercepat proses ini, sunshine. Aku memperingatkanmu sekarang. Kontraktor akan membenciku karena aku akan menekannya setiap hari agar menyelesaikannya."
"Aku akan memperingatkan Joonmyeon," dia menjawab datar.
"Apa kau yakin?" Bisikku. Tolong Tuhan, katakan padaku bahwa kau yakin.
"Ya, sepatuku benar-benar penuh sesak dalam lemari ini. Sepatuku layak mendapat tempat yang lebih baik."
"Aku akan memberi apapun yang mereka inginkan." Aku tertawa. "Kyungsoo, aku ingin memberikan dunia. Aku sangat mencintaimu, dan aku ingin bersamamu, setiap hari."
"Kita bisa mulai dengan sebuah lemari besar dan bak mandi cekung," dia menyeringai dan menelusuri ibu jarinya di sepanjang bibir bawahku. Aku mencium ibu jarinya dengan lembut. "Aku juga mencintaimu, Kim Jongin. Setiap hari."
.
ooOoo
The End
ooOoo
.
A/N
Sebagai permintaan maaf, aku publish sampai tamat^^ mungkin kalian bosan menantinya. Maaf jika masih ada yang belum sempet aku edit.
Terima kasih buat yang udah baik hati review^^ buat yang fol dan fav juga makasih^^
Aku g mau banyak cuap-cuap karena moodku buruk banget.
Sebenernya project remake satu lagi.. aku g mau menjanjikan bakan real di publish tapi aku usahakan :')
See you next story~
.
Thanks to:
santistesia | applecrushx | kim gongju| moonlight9092 | little. pinguiesoo | erikaalni | Ita Daiki | Sofia Magdalena | pinguinsoo | riribas | Tiarahun | ChocoSoo | Kaisooship
