Cuplikan Chapter Sebelumnya:
-Yukki's POV-
"Bankai!"
Sebuah kata yang sudah lama sekali tidak kudengar dari mulut seseorang.
Bankai adalah wujud kedua dari suatu zanpakutou. Bankai tidak memiliki 'kata perintah' untuk diaktifkan, tapi umumnya shinigami akan mengucapkan kata 'bankai' terlebih dahulu sebelum mengaktifkannya. Kemudian, sebagai wujud yang merupakan materialisasi dari wujud jiwa zanpakutou, umumnya bankai akan berbentuk menyerupai makhluk besar atau memberi efek yang memiliki karakteristik serupa dengan jiwa zanpakutou. Karena hal itu, penampilan Minana sekarang terlihat mirip sekali dengan Ryuuka di masa lalu.
Setelah mendapatkan kekuatan yang dibutuhkan untuk menghentikan Lucky, Minana menghilang dari hadapanku. Ia pasti menggunakan hiraishin. Dengan memakai kekuatan Ryuuka, ia bisa melakukan apapun dengan mudah, tapi...
Apa ini yang disebut perubahan? Atau mungkin disebut berevolusi?
Ryuuka yang dulu tidak akan akan melakukan sesuatu jika tidak diminta, sama sepertiku. Namun melihat Minana yang bisa menggunakan bankai, aku sadar kalau ia sudah melakukan hal bodoh. Apa kau tahu kenapa shinigami memerlukan waktu 10 tahun untuk menguasai bankai? Kenapa zanpakutou memberikan kekuatan yang sesungguhnya jika dan hanya jika shinigami sudah menjadi lebih kuat? Bukankah shinigami adalah partnernya? Bukankah zanpakutou tercipta dari karakteristik dan kepribadian shinigami? Bukankah zanpakutou dan shinigami adalah satu kesatuan? Padahal jika zanpakutou memberikan semua kekuatannya, shinigami bisa menjadi lebih kuat tanpa perlu membuang-buang waktu. Lalu kenapa?
Jujur saja, aku sendiri tidak tahu alasannya. Tapi melihat zanpakutou-ku yang tidak pernah memberitahu namanya dan tidak menunjukkan kekuatan sejatinya lagi, aku hanya bisa menebak-nebak alasannya, tanpa tahu jawabanku itu benar atau tidak. Entah karena merasa bersalah atau apa, jika aku ingin menggunakan kekuatan zanpakutou-ku, dia sendirilah yang akan mengontrol seberapa besar kekuatan yang diperlukan.
'Kekuatannya dikendalikan oleh zanpakutou-nya sendiri'. Bagi shinigami lain, mungkin ini adalah aib atau sesuatu yang disebut 'tak pantas menjadi shinigami', tapi aku sama sekali tidak peduli dengan hal itu. Selama pikiran kami sejalan dan bisa meminjam kekuatannya, aku sama sekali tidak keberatan.
..
Rated: T
Genre: Adventure, Hurt/Comfort
Warning: OC, Death Character, Naruto/Bleach Fusion
Disclaimer: Naruto milik Masashi Kishimoto, Bleach milik Tite Kubo
Main Chara: Namikaze Minana (OC), Lucky (OC), Namikaze Naruto
Pembuat fic: Kuroki
..
Chapter 11: Tugas Shinigami yang Datang ke Dunia Shinobi
.
-Still Yukki's POV-
Aku belum bergerak selangkahpun sejak Minana pergi. Kuputuskan untuk tetap di sini. Aku tidak perlu berlari lagi. Aku berani bertaruh kalau ini akan segera berakhir.
"DASAR LUKISAN JELEK!"
Bahkan jika jarakku jauh dari tempat mereka, aku bisa melihat dengan jelas apa yang sedang terjadi di sana dengan mata iblis. Sambil mengejek (?), Minana langsung melayangkan pukulannya pada Lucky. Meski penampilannya berbeda, aku yakin sekali kalau Lucky tahu bahwa itu adalah Minana. Ia hanya pasrah.
Dengan kemutlakan milik Ryuuka, semuanya akan tembus melewatinya. Memberi pukulanpun akan percuma. Namun karena 'cangkang' tubuh Lucky berasal dari tubuhku, maka pukulan Minana mengenai Lucky, meski cuma sesaat. Tubuh Minana tembus melawati tubuh Lucky. Reiryoku (baca: kekuatan/stamina roh) milik Lucky pasti langsung 'terkuras' habis. Blood field ini tidak akan bertahan lama.
...
Dengan hiraishin level 4, aku sampai di tempat Minana dalam sekejap. Dengan kuchiyose, aku 'memanggil' alat yang disebut suntikan. Meski ukurannya sangat berbeda dengan suntikan pada umumnya, namun fungsinya masih sama. Dengan jumlah darah sebanyak ini, aku membutuhkan alat ini untuk membersihkan semuanya.
Setelah kuperhatikan, Minana hanya diam sejak ia memukul Lucky. Apa Ryuuka mengatakan sesuatu yang tidak perlu?
"Sudah, sudah, Ryuuka. Kau tidak perlu menyalahkan Minana. Lagipula Lucky masih 'sadar'. Bahkan jika direset karena terluka parah, aku hanya perlu 'mempercepat'nya saja." Tanpa tahu apa yang mereka berdua bicarakan, aku mencoba menenangkan suasana. Namun bukannya tenang, Minana malah terkejut saat mendengar apa yang kukatakan.
Sudah sering aku tiba-tiba muncul dan mengatakan sesuatu yang sesuai dengan pikiranmu. Bukankah ini saatnya bagimu untuk terbiasa? Pikirku.
Satu detik kemudian, darah berjatuhan dari langit. Karena hal itu, wilayah dalam radius 3,5km (baca: diameter 7 km) dipenuhi dengan darah, baik itu bangunan, jalanan, dan termasuk tempat kami sekarang. Karena Minana masih menggunakan bankai, tubuh Minana masih sama seperti tubuh Ryuuka. Hanya dirinya yang tidak bermandikan darah.
"Tenanglah, Minana," ujarku lagi. Kemudian aku berjalan mendekati Minana. "Ryuuka, sudah cukup."
Kalimat pendek yang memiliki banyak arti. Entah Ryuuka akan mengartikannya sebagai apa, aku hanya ingin segera membersihkan tempat ini, mandi, dan menyelamatkan Lucky. Jika bount yang terluka parah dibiarkan begitu saja selama 1 jam, ia akan di reset. Meski reset tersebut tidak akan menghapus ingatannya, tapi aku tidak bisa membiarkan Lucky di reset. Pekerjaanku sudah menumpuk karena Perang Dunia Shinobi ke-4 akan terjadi dalam 2 minggu lagi. Bahkan dengan kagebunshin-pun tidak bisa mengikis jumlah pekerjaanku. Ternyata menjadi orang jahat itu butuh perjuangan yang keras.
Ryuuka melepas kekuatannya dari Minana. Sepertinya ia mengartikan kata-kataku dengan sangat baik. Ryuuka kembali ke penampilannya semula, yaitu naga hitam yang terlihat seperti perpaduan ular dan kadal. Minana juga kembali ke penampilannya yang sebelumnya, yaitu memakai jaket dan celana panjang hitam, serta memakai syal hitam. Sama seperti di masa lalu, syal hitamnya terdapat plat besi dengan lambang Konoha.
"Ah, iya, Ryuuka. Bisa kau bunuh Konan dan Yahiko?" pintaku.
Namun sebelum Ryuuka menjawab, Minana menyelanya. Ekspresinya terlihat marah.
"Tunggu! Kena–"
"Kau ingin membuat mereka menjadi rekanmu? Tidak, itu tidak bisa. Konan harus mati untuk menggantikan kematian Itachi. Lalu Yahiko harus mati untuk menggantikan kematian Nagato seperti yang di masa depan," potongku.
"Cih!"
Untuk yang seperti ini, aku tidak bisa mentolerirnya. Sesuai dalam reihou (baca: hukum roh), menjaga keseimbangan jumlah jiwa yang ada di dunia roh dan dunia ini adalah tugas shinigami.
"Kalau begitu, setidaknya, biarkan aku untuk membaca ingatan mereka berdua! Jika ini benar-benar Yahiko, aku ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi pada Nagato dan kenapa dia jadi seperti ini! Meski aku tahu kalau setengahnya pasti karena ulahmu, setidaknya aku–"
"Iya, baiklah. Lakukan sesukamu," potongku lagi.
Tanpa membuang waktu, Minana meletakkan tangannya di kepala Yahiko. Kemudian membaca ingatannya. Selagi menunggu Minana selesai, Ryuuka hanya terbang di sekitar Minana.
Lalu aku mulai melakukan tugasku. Untuk membersihkan semua darah ini, yang perlu kulakukan hanyalah menarik ujungnya saja. Secara otomatis, semua darah akan terhisap masuk, termasuk darah Lucky yang menempel di bajuku. Ini adalah benda yang kubuat khusus jika sesuatu seperti ini terjadi.
"Tidak mungkin..." gumam Minana pelan.
Dari gumamannya itu, apakah ia menyalahkan dirinya sendiri atas apa yang terjadi pada Yahiko, Nagato, dan Konan? Jika kuingat lagi, yang membantai anggota Akatsuki yang dulu adalah Aizen Sōsuke, kapten divisi 5 yang sekarang. Aku melihat pembantaian itu. Disaat yang sama, aku juga terkena 'hipnotis sempurna' miliknya. Meski kena, tapi aku bisa bebas. Aku cukup memundurkan waktu tubuhku ke keadaan sebelum terkena hipnotisnya.
Setelah Aizen Sōsuke pergi, aku mendatangi Nagato dan Konan. Saat itu, yang dapat melihatku hanyalah Nagato. Mungkin karena dia adalah keturunan Uzumaki, meski entah keturunan yang keberapa. Jika aku tidak salah ingat, Uzumaki adalah klan yang dibuat oleh salah satu bount. Memiliki chakra spesial, daya tahan tubuh yang kuat, dan tidak ada keriput meski umurnya sudah 60 tahun lebih? Baiklah, sepertinya aku memang tidak salah ingat.
Saat itu, aku membuat perjanjian dengan Nagato. Aku akan menghidupkan kembali Yahiko jika ia mau menggantikan kematian temannya itu. Tanpa berpikir panjang, Nagato menyetujuinya begitu saja. Menghidupkan orang mati bukanlah hal yang mustahil. Aku tahu karena dulu aku pernah melakukan riset untuk menghidupkan istriku.
Beberapa bulan sejak aku menghidupkannya kembali, Yahiko datang kembali padaku. Aku tidak tahu bagaimana cara ia melacak keberadaanku, yang pasti, kedatangannya adalah memintaku untuk memberikan kekuatan. Bagiku yang tidak memiliki tujuan hidup, aku mengiyakan keinginannya. Dan yang terpikirkan olehku adalah Pain Tendo.
"Hoi!"
Panggilan Minana membuyarkan pikiranku. Spontan aku langsung melihat ke arahnya.
"Aizen Sōsuke!"
Saat Minana menyebut nama shinigami itu, aku paham apa maksudnya.
"Shinigami itu–"
"Hanya aku shinigami yang ada di dunia shinobi ini," potongku sebelum Minana melanjutkan kata-katanya. "Saat itu, mereka tidak tahu kalau aku masih hidup. Jadi mereka mengirim seseorang untuk memeriksa dunia ini," tambahku.
Mereka yang kumaksud adalah Soul Society. Minana tidak akan tahu 'mereka' yang kumaksud. Jika ia sampai tahu, berarti itu adalah serpihan dari ingatan Minana yang lain.
"Kenapa?" tanya Minana.
Meski kata-katanya terdengar biasa saja, tapi aku bisa merasakan kemarahannya. Apa dia marah karena Aizen Sōsuke sudah membunuh anggota Akatsuki yang dulu dan membuat Yahiko dan Konan jadi seperti ini? Ataukah dia marah karena Aizen Sōsuke memperlakukan Lucky seperti itu dan membuatnya memberi laporan 'palsu'? Yah, aku tidak tahu.
"Fuuhh!" Aku menghela napas. Apakah aku harus menjawab pertanyaannya? Atau tidak? Namun pada akhirnya aku..., "Pada kunjungannya yang perta– maksudku yang kedua, adalah membunuh Uchiha Madara. Alasannya untuk menyesuaikan jadwal kematian Uchiha Madara."
"Tunggu! Tadi kau mau bilang pertama–"
"Bertanyalah dan aku akan berhenti memberi jawaban yang paling kau inginkan," potongku.
Minana langsung terdiam. Aku tidak perlu menjelaskan kunjungan pertama karena itu emmang tidak perlu. Lalu aku kembali melanjutkannya.
"Kunjungan yang ketiga adalah membunuh anggota Akatsuki yang sebelumnya. Alasannya sama seperti alasan kunjungan kedua. Lalu kunjungannya yang keempat adalah menyerang Konoha. Untuk yang ini, alasan utamanya adalah membunuh pendatang dari masa depan yang bersembunyi di Konoha."
Wajah terkejut. Dibandingkan dengan Minana yang lain, mungkin dialah Minana yang ekspresinya mudah sekali dibaca. Meski menurutku mudah, tapi entah kenapa keluarga atau orang di sekitarnya malah tidak bisa membaca ekspresinya itu. Atau jika memang bisa, mereka tidak terlalu memikirkannya.
"Tapi orang yang menyerangku waktu itu–"
"Kemampuan zanpakutou Aizen Sōsuke adalah hipnotis sempurna. Bisa dibilang, itu adalah genjutsu yang mengendalikan 5 inderamu. Sekali kena, kau tidak akan bisa membedakan ilusi dan kenyataan. Bukankah itu alasan kenapa saat itu kau menyerang Minato-kun?" potongku lagi.
"Hipnotis? Genjutsu? Tapi sejak–"
"Bisakah kalian lanjutkan obrolannya nanti? Tiga puluh menit sudah berlalu. Jika tidak cepat-cepat..."
Ryuuka tiba-tiba datang dan memberi pemberitahuan padaku. Ternyata sudah 30 menit dan pekerjaanku yang di sini belum selesai setengahnya. Untuk membersihkan tempat ini, pada akhirnya aku menggunakan kagebunshin.
"Tolong nanti jelaskan lebih rinci lagi!" pintanya dengan menatap tajam diriku.
Untuk orang seperti Minana Kecil, mungkin mengatakan 'tolong' pada orang sepertiku adalah hal paling sulit. Untuk sekarang, jika ia bertanya tentang kejadian 16 tahun lalu, aku mungkin akan sedikit menjelaskan apa yang sudah terjadi. Lagipula, Minana Kecil berhak tahu alasan kenapa dulu ia dibunuh. Tapi sayangnya, tidak ada kata 'nanti'. Waktuku benar-benar mepet. Batas maksimal menggunakan kagebunshin untuk melakukan pekerjaanku adalah 10. Lebih dari itu, aku tidak akan bisa konsentrasi.
"..."
...
...
...
-Laboraturium Rahasia-
Dengan hiraishin level 4, kupindahkan Lucky dan diriku ke ruang operasi, sedangkan Minana berada di luar ruangan. Untuk menangani pasien seperti ini, hal pertama yang dilakukan adalah melepas pakaian atasnya. Tidak perlu pakai alkohol, obat luka, obat penghilang rasa sakit, ataupun membersihkan lukanya. Bagian yang terluka langsung dijahit saja. Selama menjahit, aku juga mengalirkan reiryoku untuk memancing kesadarannya.
TAP
Bertepatan setelah menjahit semua luka Lucky, kagebunshin-ku datang. Itu adalah kagebunshin yang bertugas memungut darah Lucky yang berceceran di Amegakure. Tanpa buang-buang waktu lagi, aku menusuk ujung jarum suntikannya ke tangan kiri Lucky. Karena suntikan ini terlalu besar, kagebunshin-ku yang akan menekan ujung satunya.
Apa yang kulakukan? Tentu saja memasukkan kembali darahnya.
Dengan perlahan, kagebunshin-ku menekan ujung suntikannya. Sedikit demi sedikit darah masuk ke tubuhnya. Dalam darah ini pasti ada banyak kuman, bakteri, butiran debu, darah makhluk lain, dan lain-lain. Darahnya berceceran di banyak tempat. Jadi jangan heran jika ada banyak 'macam-macam' di dalamnya.
"Apa yang kau lakukan padaku, Aizen Sōsuke jadi-jadian?!" tanyanya tiba-tiba sambil menggenggam jarum suntik.
Apa itu kalimat yang seseorang katakan setelah ia sadar? Tunggu, jika melihat apa yang kulakukan sekarang, sepertinya dia benar.
"Oh, jadi kau tahu kalau aku yang menyuruhmu menculik Minana 8 tahun lalu? Sejak kapan kau tahu?" Seolah tidak peduli dengan kata-kata dan isyarat yang ia berikan, aku menjawabnya dengan santai.
Lagipula, itu adalah hal penting yang harus terjadi. Kenapa? Menurutku, kejadian itu adalah titik dimana mereka berdua ingin melindungi satu sama lain. Karena hal itu, aku menggunakan kejadian tersebut sebagai pemicu untuk melepas ingatan Uzumaki Naruto yang sengaja kusegel pada Namikaze Naruto. Tidak semua sekaligus. Setelah memikirkan semua faktor yang ada, aku mengatur supaya ingatan Uzumaki Naruto mengalir sedikit demi sedikit pada Namikaze Naruto.
"Kau..!" desis Lucky.
Untuk menangani pasien seperti ini, kagebunshin-ku sudah melakukan hal yang tepat, yaitu menekan ujung suntikannya sekuat tenaga. Alhasil, tangan kirinya membengkak. Dengan jumlah darah sebanyak itu, darah akan mengumpul di satu tempat tanpa sempat mengalirkannya keseluruh tubuh.
"AAARRRGGGHH!"
Lucky adalah bount yang emosional. Jika sekarang ia tidak menunjukkan ekspresi apapun, mentalnya pasti sudah 'rusak' parah, tapi karena dia sekarang menggeliat kesakitan, sepertinya keinginannya untuk mati sudah sedikit berkurang.
Untuk menangani tangannya yang bengkak, Lucky mengeluarkan darah yang mengumpul. Ia melubangi tangannya sendiri agar darah tersebut bisa keluar.
"Aku akan langsung keintinya..."
Kata-kataku mungkin terdengar datar seperti biasanya. Meski sulit, aku mencoba memberi penekanan pada setiap kata yang kuucapkan. Kuletakkan telapak tangan kananku tepat di atas perutnya. Isyarat itu bukan dimaksud untuk mengancam ataupun melakukan hal neko-neko (?). Aku hanya ingin dia mendengarkan, memahami, dan melakukan apa yang kukatakan ini dengan sepenuh hati.
"Tubuhmu 'cacat'! Rusak! Tubuh H2O (baca: air), tapi malah mengendalikan darah sebagai teknik utama! Tidak memiliki kekuatan hollow, arrancar ataupun vizard, tapi malah mengeluarkan reiatsu mirip hollow, menos, vizard, atau arrancar!" Mungkin terdengar kasar, tapi itulah kenyataannya. Apakah kata-kataku terdengar rumit? Tidak, dia harus bisa mengerti! "Tubuh rendahmu itu tidak bisa mengendalikan darah! Coba saja jika kau bertarung seperti itu lagi! Kau pasti akan membunuh Minana! Kebetulan saja tempat bertarungmu tadi sepi dan Minana menggunakan Ryuuka saat mendekatimu! Jika tidak...!"
TES TES
Darah keluar dari tangan kananku –tanganku yang sedang menyentuh perut Lucky. Darah tersebut terlihat tak wajar. Darah itu keluar dari tanganku dalam bentuk runcing.
"...Inilah yang akan terjadi."
Darah yang keluar dari tanganku ini adalah bukti bahwa emosinya sedang tidak stabil. Tidak, sepertinya bukan darah dari luka ini saja. Semua benda cair yang ada di sekitar Lucky, semuanya bergerak sesuai dengan emosi Lucky yang naik turun. Bahkan setelah kupikir-pikir, ternyata cairan yang ada di dalam tubuhku juga terasa aneh. Kepalaku mulai terasa pusing dan perutku terasa mual.
BOFF
Menghilang dan meninggalkan asap. Bahkan kagebunshin-ku tidak tahan berada di sini.
"Kau tidak bisa keluar dengan keadaan seperti ini. Untuk sekarang, istirahatlah di ruangan ini. Aku akan membuat obat untuk menekan kekuatanmu. Sebenarnya aku ingin menyegelnya, tapi karena paradoks waktu, sepertinya percuma."
Paradoks waktu. Sepertinya 'dulu' Hachibi pernah mengatakan sesuatu seperti: "Bila dirimu terbunuh, maka kau akan mati dan dirimu yang dimasa lalu tidak akan mati, tapi apabila dirimu yang ada di masa lalu mati, maka kau akan mati". Terdengar mudah, tapi jika hal tersebut diterapkan secara nyata, semuanya akan jadi rumit, jauh lebih rumit dibandingkan membetulkan benang kusut yang sudah teramat sangat kusut.
"Oh, iya, satu hal lagi," kata Yukki sebelum pergi. "Jangan lupa kalau kau adalah orang yang akan selalu menjadi penyebab kematian Minana."
-End of Yukki's POV-
-Di Depan Ruangan-
Sekarang, Minana dan Ryuuka a.k.a Kuroi sedang berdiri di suatu lorong. Semua yang ada di tempat ini berwarna putih, termasuk warna pintu dan engsel. Di sisi kiri dan kanan lorong ini terdapat banyak pintu. Hal itu membuktikan bahwa di tepat ini terdapat banyak sekali ruangan. Terlebih lagi, sisi kiri dan kanan, semuanya terlihat sama persis. Tidak ada jendela untuk melihat ke dalam ruangan ataupun jendela untuk melihat pemandangan di luar.
Minana sedang berdiri sambil melipat kedua tangannya di dada. Ia hanya menatap kosong suatu arah, tanpa memerdulikan Kuroi yang sedang melayang di depannya. Mereka berdua hanya diam.
CKLEK
Suara pintu terbuka telah memecahkan keheningan diantara mereka berdua. Yukki keluar dari ruangan. Melihat hal itu, Minana segeramenghampirinya.
"Bagaimana keadaannya?"
Yukki tidak menjawab. Ia hanya menunjuk ke arah pintu yang ada di belakangnya. Kemudian ia mulai berjalan menjauhi Minana.
"Tunggu!" pinta Minana.
Yukki menghentikan langkahnya dan berbalik menghadap Minana. Namun Minana terlihat kebingungan. Ia terus melihat Yukki dan pintu ruang operasi secara bergantian.
'Aku ingin mendengar lanjutan yang tadi, tapi jika kulakukan, Mukki-Mukki mungkin akan kabur! Pakai kagebunshin untuk mendengar lanjutan yang tadi? Sepertinya tidak mungkin, dattebane. Soalnya, aku pasti akan mendapat luka jika pergi ke ruangan Mukki-Mukki dan kagebunshin-ku akan hilang. Menyuruh Kuroi? Tidak, tidak ada harapan, dattebane! Bagaimana ini? Entah kenapa ia sekarang berubah pikiran, tapi ini adalah kesempatan yang bagus karena Shinigami Batu itu mau memberikan informasi penting yang tidak kuketahui! Tapi jika harus mendengar keseluruhan apa yang terjadi di masa lalu, aku takut itu akan lama dan Mukki-Mukki keburu kabur, dattebane! Tapi–'
"Jika kau mau menemui Lucky, temui saja," ujar Yukki karena sejak tadi Minana diam saja.
"Bukan itu, dattebane!" teriak Minana spontan.
"Kau bimbang antara ingin menemui Lucky atau mendengar lanjutan cerita yang tadi?" tebak Yukki.
Meski agak ragu untuk menjawabnya, tapi Minana menjawabnya dengan menggangguk pelan.
"Kupikir akan bijak jika kau menemui Lucky. Kalau soal cerita tadi, jika kau memikirkannya lagi atau mendiskusikannya pada orang lain, aku yakin kau akan menemukan kebenarannya. Bahkan kebenaran yang tidak ingin kau ketahui sekalipun. Jika tetap tidak tahu, tidak apa-apa. Semuanya akan terungkap saat Perang Dunia Shinobi ke-4 nanti," lanjut lagi Yukki.
Setelah mengatakan hal itu, Yukki pergi meninggalkan Minana. Kali ini, Minana tidak menghentikannya. Tanpa disadari, Yukki sudah menghilang dia pandangannya.
"'Jika tidak tahu, tidak apa-apa. Semuanya akan terungkap saat Perang Dunia Shinobi ke-4 nanti'. Masalahnya aku harus tahu sekarang supaya tahu siapa saja orang yang mau menghalangi jalanku, dattebane! DASAR SHINIGAMI BATU # %$^&*!"
Rasa kesalnya sudah tidak terbendung lagi. Semua jenis sumpah serapah keluar dari mulutnya. Ia tidak peduli jika suara ini didengar oleh orang yang sudah dia hina, meski orang tersebut sudah tidak ada di depan matanya.
"Minana, kau terlalu emosi," ujar Kuroi memberitahu. Ternyata Kuroi masih berada di samping Minana.
"BODO AMAT!" teriak Minana tambah emosi.
Kuroi menghela napas saat mendengar respon Minana. "Fuuhh, mau bagaimana lagi. Yukki-sama mengatakan hal itu karena ia tahu kalau itulah yang akan terjadi. Karena Yukki-sama bisa melihat masa depan, aku yakin sekali kalau ucapannya itu benar."
"Apa?!"
Spontan Minana menoleh ke Kuroi yang ada di sampingnya. Minana tidak bisa menyembunyikan rasa terkejutnya saat mendengar hal itu.
"Seorang shinigami, pencipta bount, memiliki mata iblis, bisa menghidupkan orang mati, pengguna jikukan ninjutsu yang hebat, jenius, dan bisa melihat masa depan? Bukankah dia terlalu sempurna, dattebane?! Lalu apa lagi? Apa dia juga bisa menjatuhkan bulan ke bumi?!"
Kuroi terdiam sejenak sebelum menjawabnya. "...Entahlah, aku tidak pernah melihat Yukki-sama melakukan hal itu."
Rambut pendeknya langsung berdiri ke atas. Minana terlihat seperti ibunya saat dalam mode 'menggila'. "TERUS BAGAIMANA CARAKU MEMBUNUH ORANG SEPERTI ITU, DATTEBANE?!"
"Mudah saja. Tusuk saja jantungnya. Dia pasti langsung mati," jawab Kuroi tanpa intonasi.
Tanpa belas kasih, Minana mencekik Kuroi dengan kedua tangannya. "Kenapa kau jadi menyebalkan seperti ini, huh? Apa kau mulai ketularan Mukki-Mukki?"
"...Mungkin," jawab Kuroi datar.
Jawaban Kuroi membuat Minana tambah kesal. Cekikannya semakin kuat. Namun setelah beberapa detik, tangan Minana menembus Kuroi. Setelah dirinya lepas dari cengkraman Minana, Kuroi memutuskan untuk kembali ke dalam tubuh Minana.
Meski belum puas melampiaskan rasa kesalnya, Minana akhirnya masuk ke ruangan Lucky. Dengan pelan dan hati-hati, Minana mencoba mendekati Lucky tanpa membuat suara sedikitpun. Ia tahu kalau Lucky pasti akan kabur jika tahu dirinya ada di sini. Lucky sekarang sedang berbaring dalam keadaan... telanjang dada. Tangan kanannya menutup kedua matanya, membuat ketiak polosnya terlihat kemana-mana (?).
Saat melihat Lucky yang seperti itu, spontan Minana memalingkan wajahnya. Ia juga menutup mulut dan hidungnya karena takut sesuatu akan keluar dari sana.
'A-a-a-a-apa i-i-i-i-itu? R-r-ro-roti t-tawar? T-tidak! A-a-apa yang kupikirkan, dattebane?! Aku ini masih kecil! Dasar Minana Besar! Jangan berikan pikiran mesummu padaku!'
Pikiran Minana mulai kacau hanya karena melihat 'roti tawar' milik Lucky. Wajahnya juga terlihat memerah. Namun perlahan, ingatan Minana Besar kini bermunculan di kepala Minana, ingatan saat Minana Besar memikirkan Lucky yang sedang **** **** ****.
'Diam! Berisik! Tenanglah! Shine!'
Minana terus mencoba menenangkan pikiran liarnya. Iapun menarik napas dalam-dalam, lalu menghembuskannya secara perlahan. Ia terus melakukannya sampai dirinya tenang.
'Yosh.'
Setelah yakin dirinya sudah tenang, kini Minana kembali melihat Lucky. Namun saat mencoba mengendap-ngendap mendekatinya, Minana sadar kalau mata Lucky sedang mengintip dirinya dari balik lengannya itu. Dari matanya itu, Minana tahu kalau Lucky sangat syok saat melihat keberadaannya.
"Minana...-chan?" gumam Lucky gemetaran.
"Lu–"
Belum selesai mengucapkan, Lucky langsung melompat mundur, turun dari 'tempat tidur'nya. Ia langsung berdiri di pojok ruangan. Wajahnya terlihat ketakutan seperti sedang melihat hantu.
"JANGAN MENDEKAT!" teriak Lucky. Ia juga mengarahkan tangannya ke depan, menyuruh Minana untuk tidak mendekatinya.
Namun tanda yang ia berikan itu malah memicu darah dalam tubuh Minana. Darah keluar dari punggung Minana, seperti sebuah tongkat yang mencoba keluar dari dalam tubuh.
"Uhuk..!" Darah keluar dari mulut Minana. "Oya, oya, berani sekali kau..!" seru Minana sambil menunjukkan seringaiannya. Ia menatap tajam Lucky, seolah-olah lukanya tidak terasa sakit.
"Tidak..! Aku... aku tidak bermaksud.."
Meski ingin menjelaskan, tapi tidak ada yang bisa ia katakan. Darah yang keluar dari punggung Minana adalah bukti kalau itu adalah keinginannya. Itu adalah fakta.
Melihat Minana yang terluka, ingatan yang tidak ingin diingat mulai muncul di kepala Lucky, ingatan atau bayangan dari Minana yang dulu ia bunuh. Melihat Minana kecil yang terluka, sontak membuat Lucky membayangkan Minana kecil tergeletak di ruangan ini dengan tubuh bermandikan darah.
"Tidak, aku tidak mau..!" gumamnya memohon.
Namun setelah mengumamkan hal itu, sesuatu menyanggahnya... perkataan Yukki sebelumnya...
"...kau adalah orang yang akan selalu menjadi penyebab kematian Minana."
"TIDAK..!"
Tidak tahan melihat Minana menderita saat berada di dekatnya, Lucky pergi secepat mungkin meninggalkan ruangan ini.
"Tung–"
Minana mencoba menghentikannya. Tapi karena luka di punggungnya, ia terjatuh. Karena banyak darah yang keluar, kakinya tidak sanggup untuk berdiri.
"Jangan bercanda!" teriak Minana sambil memukul kakinya sendiri. "Bergeraklah, Sialan! Aku sudah berjanji pada Lucky (5)! Aku sudah bilang padanya kalau aku... kalau aku akan..! SIAL, SAKIITT! SEBELUM JADI BUDAK, AKAN KUBUAT KAU MEMBAYARNYA, DATTEBANE! APA KAU DENGAR ITU, FUCKY?!"
Satu detik kemudian, chakra dalam jumlah banyak keluar dari tubuh Minana. Chakra tersebut berwarna kuning-jingga dan sedikit mengeluarkan aura hitam. Chakra tersebut membentuk jubah, dengan membentuk pola yang terdiri dari simbol 'yang'.
Luka di punggungnya perlahan menghilang. Setelah pulih sepenuhnya, Minana bangkit. Bahkan jika kehilangan banyak darah, sepertinya tidak begitu berpengaruh untuk keadaannya yang sekarang.
"Baiklah, ayo kita mulai permainan kejar-kejarannya..."
Selama berada di tempat ini, tidak ada yang bisa menggunakan jikugan ninjutsu selain pemilik tempat ini. Satu-satunya cara untuk pergi dari tempat ini, pergi ke ruangan lain, atau mencari seseorang adalah dengan menelusurinya.
Dengan kecepatan yang setara seperti jurus perpindahan a.k.a hiraishin, dalam sekejap, Minana berhasil menyusul Lucky. Menyadari hal itu, Lucky mencoba berlari lebih cepat. Ia benar-benar takut saat Minana berhasil menyusulnya.
"Menjauhlah, Minana! Aku mohon!" pinta Lucky.
Satu detik setelah mengatakan hal itu, darah kembali keluar dari tubuh Minana. Kali ini, kedua kakinya yang terluka. Luka dadakan itu sempat membuat Minana kehilangan keseimbangan, tapi lukanya langsung sembuh, berkat chakra Kyuubi.
"BERHENTI!" teriak Minana seraya melayangkan tendangan pada Lucky.
Karena terlalu cepat dan juga membelakangi Minana, Lucky tidak dapat menghindarinya. Tendangannya itu tepat mengenai pantat Lucky. Lucky langsung tersungkur ke tanah.
"Hentikan! Jangan mende–"
DUAK
Sebuah pukulan menghancurkan lantai tepat di depan mata Lucky. Lucky sedikit gemetaran saat melihat pukulan yang hampir mengenainya.
"Diam!"
"Tapi–" Lucky menghentikan kata-katanya saat darah keluar dari tangan Minana. Itu adalah tangan yang Minana gunakan untuk memukul lantai tadi. Kali ini, Lucky benar-benar diam.
Meski tangannya terluka, tapi sesaat kemudian, lukanya kembali menutup. Setelah semua lukanya sembuh dan Lucky sudah tenang, Minana duduk di samping Lucky. Karena Lucky masih tersungkur, Minana memastikan untuk duduk di posisi di mana kedua mata mereka harus bertatapan. Minana tetap mengaktifkan mode Kyuubi jika Lucky tiba-tiba membuat dirinya terluka lagi.
"Tenanglah..." ujar Minana pelan.
"..."
"Aku ingin memintamu melakukan sesuatu untukku. Jadi diam, tenang, dan dengarkanlah..."
"..."
Melihat Lucky tidak merespon ucapannya, Minana tetap melanjutkan.
"Aku ingin menyelamatkan keluargaku, temanku, dan kamu, Lucky. Aku tidak peduli jika nyawaku adalah taruhannya. Tapi saat tahu bahwa Shinigami Batu itu pasti membunuhku, berpikir bahwa aku, Minana, mati tanpa bisa merasakan akhir yang bahagia, aku... aku tidak mau, hiks. Membayangkan diriku akan mati dalam keputusasaan seperti Minana yang lain... aku... aku tidak–"
Kata-kata Minana terhenti saat Lucky menggenggam tangannya.
"Aku pasti akan menyelamatkan Minana-chan, hiks..!" seru Lucky. Matanya seperti ingin menangis.
Minana tersenyum saat mendengarnya. Air matanya tak terbendung. Siapapun pasti akan bahagia saat mendengar hal seperti itu dari orang yang ia cintai.
"Yang bisa kulakukan sekarang hanyalah memikirkan cara untuk menyelamatkan semuanya meski harus mempertaruhkan nyawa. Karena itu, hiks, Lucky... nyawaku... akan kuserahkan padamu. Bahkan jika akhirnya aku harus mati di tanganmu sekalipun, hiks..., aku, hiks..., tidak keberatan... selama kamu dan semuanya sela–"
"Aku akan menyelamatkanmu! Aku pasti akan menyelamatkanmu, hiks! Aku berjanji, Minana-chan, hiks! Aku, hiks... kali ini, hiks... kali ini aku akan menjadi pelindungmu! Aku akan menyelamatkanmu! Pasti, hiks!"
Jika tidak punya mata iblis, air mata pasti sudah membasahi wajah Lucky. Melihat Lucky yang menangis tanpa bisa mengeluarkan air mata, Minana mengelus kepala Lucky dengan tangannya yang lain. Melihat Lucky yang seperti itu, air mata Minana tidak mau berhenti keluar.
"Arigatou, Lucky."
-Beberapa Menit Sebelumnya-
-Di Tempat Yukki-
"...TERUS BAGAIMANA CARAKU MEMBUNUH ORANG SEPERTI ITU, DATTEBANE?!"
Bahkan jika Yukki sudah jauh dari tempat Minana, tapi suara Minana menggema sampai ke lorong sini. Yukki menghela napas saat mendengar raungan (?) Minana.
"Tolong jangan bunuh aku," balas Yukki, meski ia tahu kalau Minana tidak akan mendengarnya. "Kagebunshin no jutsu!" seru Yukki.
BOFF
Sebuah tiruan muncul di sebelah Yukki. Tiruan yang identik sekali dengan yang asli.
"Kau buatlah obat untuk Lucky. Raciklah obat tersebut dalam waktu 1 jam. Jika tidak yakin bisa selesai dalam waktu 1 jam, panggillah beberapa bunshin di ruangan itu untuk membantumu."
Kagebunshin Yukki mengangguk mengerti. Kemudian kagebunshin Yukki berhenti di depan salah satu ruangan, sedangkan Yukki yang asli tetap berjalan lurus ke depan. Tanpa memerdulikan keberadaan Yukki yang asli, Kagebunshin Yukki memasuki ruangan tersebut. Di dalam ruangan tersebut terdapat 7 kagebunshin Yukki yang lain. Tidak hanya itu. Di ruangan itu juga terdapat tabung besar yang berisi seseorang, seorang pria dewasa yang tidak mengenakan pakaian sehelaipun. Di dada kiri pria itu terukiran sesuatu seperti wajah manusia.
"Dua dari kalian, ikutlah denganku untuk membuat obat. Ini perintah dari yang asli!" suruh Kagebunshin Yukki.
"Tunggu, apa kau yakin? Waktu kita untuk menyelesaikan ini tinggal 2 hari la–"
"Ini juga darurat. Satu jam dari sekarang, Lucky akan pergi meninggalkan tempat ini. Kita tidak bisa membiarkannya berkeliaran dengan keadaan seperti itu," sela kagebunshin Yukki.
Tujuh kagebunshin di ruangan itupun mengerti. Kemudian 2 dari mereka pergi mengikuti kagebunshin yang pertama. Mereka bertiga kini menuju ruangan lain untuk membuat obat Lucky.
-Kembali ke Tempat Minana dan Lucky-
Lucky sekarang sedang menggendong Minana di punggungnya. Minana sudah tidak dalam mode Kyuubi. Namun wajah Minana terlihat pucat.
"Gomen, Minana-chan. Gara-gara aku, kau jadi kena anemia begini," gumam Lucky.
"Berisik," balas Minana pelan. "Daripada menggendongku seperti ini, bukankah sebaiknya aku jalan saja? Si Batu itu cuma menjahit lukamu saja, kan? Jika kau menggendongku, nanti jahitannya–"
"Tidak apa-apa, kok, Minana-chan. Jangan khawatir," potong Lucky.
Meski khawatir, pada akhirnya Minana hanya pasrah.
'Tubuh anak kecil ini merepotkan. Baru hilang darah segitu saja sudah lemas. Menyebalkan,' gerutu Minana dalam hati.
Mereka berdua kini sedang mencari ruangan Lucky yang sebelumnya. Selama berjalan di lorong ini, semuanya terlihat sama. Terkadang mereka melewati perempatan, meski begitu, baik kiri dan kanan, semuanya terlihat sama.
"Minana-chan..." panggil Lucky.
"Hm?" respon Minana pelan.
"Apa kau tidak merasa 'terangsang' saat kugendong seperti ini? Lihat, aku masih tidak pakai ba–aarrggh! Sakit! Sakit! Sakit!"
Tanpa belas kasihan, Minana mencabuti rambut Lucky seperti sedang mencabut rumput. Bahkan jika sedang lemaspun, ia masih punya cukup tenaga untuk melakukan hal itu.
"Kau ngomong sesuatu, datteane?" tanya Minana dengan nada horor.
"Tidak! Tidak! Maafkan aku, Minana-sama!" jawab Lucky memohon ampun.
Mendengar ampunan Lucky, Minana berhenti menyiksanya. Namun karena terlalu berlebihan, Minana merasa tubuhnya terasa lebih lemas. Tanpa sadar, Minana menyandarkan kepalanya di atas bahu Lucky.
'Sial, kepalaku terasa berat. Mataku juga mulai berkunang-kunang. Apa efek kekurangan darah itu separah ini? Padahal aku ini Jinchuuriki,' gerutu Minana dalam hati. 'Apa chakra tidak bisa dipakai sebagai pengganti darah? Yah, mungkin saja bisa. Tapi, meski bisa memakai ninjutsu medis untuk menyembuhkan luka, kemampuanku hanya itu saja. Itu juga karena aku menirunya dengan mata iblis. Aku tidak terlalu mendalami ninjutsu medis seperti Ino dan Sakura.'
"Minana-chan, kau tidak apa-apa?" tanya Lucky khawatir.
Meski Minana ada di punggungnya, ia tetap bisa melihat keadaan Minana dengan penglihatan mata iblis. Mata Minana lebih sayu dari sebelumnya.
"Hn," jawab Minana memberi respon. 'Eh?'
Entah karena apa, Minana tiba-tiba mengangkat kepalanya. Wajahnya memerah. Lucky terkejut sekaligus khawatir saat melihatnya.
"Mi-Minana-chan, kau tidak apa-apa?!" Kali ini, Lucky terlihat sedikit panik.
"DASAR PEDOFIL!" teriak Minana sambil mencekik Lucky.
"T-tunggu! Ada apa ini? Aku tidak melakukan apapun!" tanya Lucky panik.
"DIAM! BERISIK! DASAR TUKANG MODUS!" teriak Minana tambah menjadi-jadi.
"Modus? Bukankah modus itu adalah ukuran data yang sering muncul atau yang memiliki frekuensi terbanyak?" tanya Lucky mencoba mengerti maksud Minana.
Respon Lucky malah membuat Minana tambah mengamuk. "DASAR LUKISAN JELEK!"
"Tu–! Minana-chaaaan..."
-Lucky's POV-
Aku tidak tahu apa yang terjadi, tapi sepertinya sekarang sudah tenang. Tidak, bukan tenang. Sepertinya Minana-chan pingsan karena tidak punya tenaga lagi. Aku benar-benar tidak tahu apa yang sudah terjadi. Apa dia malu sendiri karena menyandarkan kepalanya di atas bahuku yang tidak ditutup baju? Fuuh, entahlah.
Meski tidak memiliki kenangan bersama Minana-chan, tapi rasanya sudah lama sekali aku tidak 'dimarah-marah-bercanda' seperti ini. Berbeda dengan saat aku berada di Akatsuki, kepala dan dadaku sekarang tidak terasa sakit lagi. Malah, aku merasa lega sekarang.
"Apakah alasan kepala dan dadaku terasa sakit adalah perasaan bersalah karena telah membunuhnya? Apakah melindunginya adalah keinginanku yang sebenarnya?"
Tidak ada yang akan menjawab pertanyaanku itu. Meski begitu, aku tahu kalau itu adalah benar. Haha, padahal jawabannya sudah ada di depan mata, tapi aku dulu malah 'berputar-putar'. Bodoh sekali.
Tugasku sekarang adalah melindungi Minana-chan dari orang itu. Ya, orang yang dipanggil Namikaze Yukki itu. Orang itu memang berbahaya. Dia tidak bisa di percaya. Orang itu adalah orang yang mengaku sebagai Aizen Sōsuke. Orang yang menyuruhku —melalui Yahiko— untuk menculik Naruto. Orang yang telah membawa Shukaku dengan meniru pakaian dari orang —shinigami— yang disebut Aizen Sōsuke. Dulu, saat kutanya pada Yahiko kenapa Namikaze Yukki membantu Akatsuki, ia bilang kalau aku sebaiknya tidak tahu.
"Ne, Diriku yang datang dari masa depan. Kenapa kau memintaku untuk percaya pada orang itu?" tanyaku. Aku tetap menanyakannya meski tahu kalau dia tidak akan bisa menjawabnya.
Saat aku sedang bertarung dengan Killer Bee, Kagebunshinku bertemu dengan Lucky masa depan. Satu hal yang ia katakan padaku adalah untuk percaya pada Namikaze Yukki. Saat kutanya kenapa dia tidak menjawabnya. Meski dia sudah menyelamatkanku, aku tidak sudi percaya padanya. Lagipula, dia pasti punya maksud lain.
Karena itu sekarang, aku mencoba pergi dari tempat ini. Tempat ini sangat aneh. Aku tidak bisa melihat apa yang ada di dalam ruangan meski dengan mata iblis. Aku juga tidak bisa menggunakan hiraishin. Dan yang lebih parah, meski terdapat banyak ruangan, tapi semuanya terkunci. Mencurigakan.
Padahal ini adalah pertama kalinya aku datang ke tempat ini, tapi tempat ini serasa tidak asing. Meski ini adalah pertama kalinya ke sini, aku tahu di mana jalan keluarnya. Di perempatan berikutnya belok kanan. Harusnya ada jalan keluar.
Saat aku sampai, dugaanku benar. Saat belok kanan, ada sebuah tangga dan lubang berbentuk persegi di atas langit-langit. Jika tangga ini menuju ke atas, berarti sekarang kami ada di bawah tanah. Di dekat tangga, aku mencoba melihat apa yang ada ujung sana. Satu hal yang dapat kukatakan...
"Dia gila."
Dengan mata iblis, aku bisa melihat apa yang ada di ujung sana. Lubangnya ditutup oleh sesuatu yang terbuat dari papan. Mungkin itu adalah pintu rahasia. Sama seperti ruangan di tempat ini, aku tidak bisa melihat apa yang ada di balik pintu itu. Saat kubilang Namikaze Yukki itu sudah gila, dia memang gila. Jarak antara tempatku berdiri dan tutup lubang itu adalah 10 km. Selama 10 km itu pula, tidak ada lampu atau cahaya. Karena mata iblis, aku tidak perlu khawatir tidak melihat apapun. Hanya saja, mungkin sedikit menyeramkan memanjat di tempat gelap sepanjang 10 km.
Tanpa membuang waktu lagi, aku mulai melompat. Karena aku menggendong Minana di punggungku, aku tidak bisa memanjat tangga dengan tanganku. Satu-satunya pilihan adalah dengan melompat.
...
Entah sudah berapa lama aku melompat, akhirnya aku sampai di ujung. Aku mencoba menggeser atau mendorong pintunya, tapi tidak mau terbuka, seperti tersangkut sesuatu. Karena kesal, kutendang saja pintunya. Setelah terbuka, aku segera naik.
Berbeda dengan yang kubayangkan, ternyata kami sekarang berada di dalam kamar. Kamar ini mirip sekali dengan tempat persembunyian di bawahnya. Sama yang kumaksud adalah semuanya berwarna putih, baik warna tembok, tatami, hordeng, tempat tidur, lemari baju, bufet kecil, jam, dan cermin. Alasan kenapa pintu rahasia tadi sulit dibuka, ternyata pintu tersebut ditutup tatami. Karena tempatnya cukup bersih, aku meletakkan Minana di atas kasur.
"Kagebunshin no jutsu!"
Kugunakan 1 kagebunshin untuk memeriksa rumah ini. Meski aku tidak merasakan keberadaan orang lain di sini, tapi aku tidak bisa meninggalkan Minana sendirian.
"Oh, iya, benar."
Selagi ada lemari baju, kupikir di dalamnya ada sesuatu yang dapat kupakai. Jika Minana bangun dan aku masih berpenampilan seperti ini, rambutku pasti dicabuti lagi.
Tanpa malu, aku mengobrak-abrik isi lemarinya. Pakaiannya cukup beragam untuk orang yang suka mendekorasi ruangan dengan warna serba putih. Begitu melihat sesuatu berwarna hitam, aku langsung mengambilnya. Itu adalah t-shirt lengan pendek yang berwarna hitam polos.
"Ternyata kami memang tidak cocok," komenku seraya memakai t-shirt ini. Dari warna pakaian kami saja sudah jelas kalau kami ini seperti siang dan malam, tidak akan cocok.
"Oh, iya. Ngomong-ngomong sekarang sudah jam berapa?"
Spontan aku melihat ke arah jam. Waktu sudah menunjukkan pukul 1. Namun aku tidak bisa terlalu berharap pada jam itu. Baik angka, jarum jam, menit, dan detik, semuanya berwarna putih. Jadi, mungkin saja aku salah lihat. Tapi karena kamar ini ditinggalkan dalam keadaan lampu menyala, jadi sekarang pasti sudah malam. Waktu cepat sekali berlalu.
CKLEK
Pintu kamar ini terbuka. Yang masuk adalah kagebunshin-ku yang tadi. Ia membawa sesuatu, segelas air di tangan kiri, dan sesuatu yang kecil di tangan kanannya.
"Saat memeriksa kotak obat, aku menemukan obat penambah darah dan obat penambah stamina."
"Mencurigakan," ujarku spontan.
Ini terlalu mencurigakan. Kenapa kotak obatnya berisi sesuatu yang kami butuhkan? Untuk ukuran kotak obat, biasanyakan diisi dengan alkohol, perban, obat luka, kapas, dan sebagainya. Bahkan jika memang ada, bukankah timing-nya terlalu tepat?
"Ya, memang mencurigakan, tapi sudah kucoba dan ini memang asli," jelas kagebunshin-ku.
Karena kagebunshin-ku sudah bilang begitu, aku tidak perlu ragu lagi. Aku dan kagebunshin-ku mendekati Minana. Lalu mengangkat tubuhnya ke posisi duduk. Selagi aku menahan tubuhnya, kagebunshin-kulah yang memasukkan obatnya ke mulut. Saat memberi minum agar obatnya turun, Minana perlahan membuka matanya.
"Luck..ky?" gumamnya pelan.
"Maaf membangunkanmu," ujar kagebunshin-ku sambil tersenyum.
Saat melihat kagebunshin-ku ini, sekarang aku mengerti kenapa saat itu Lucky masa depan tiba-tiba menusuk kagebunshin-ku.
'Dasar modus...'
BOFF
Kagebunshin-ku menghilang, tapi bukan aku yang melakukannya. Ternyata Minanalah yang melakukannya, Dia menendang kagebunshin-ku tepat di mukanya.
'NICE MINANA-SAMA!' teriakku dalam hati. Untuk beberapa alasan, aku senang saat kagebunshin-ku tidak berhasil menarik perhatian Minana.
"Dasar pedofil!"
Semangatku langsung jatuh. Seperti yang kuduga. Alasan Minana menendangnya pasti karena kagebunshin-ku tidak mengenakan baju. Yah, untung saja aku sekarang sudah pakai baju.
Ingatan kagebunshin-ku mulai mengalir ke dalam kepalaku. Saat melihat ingatannya itu, aku sungguh tidak percaya. Aku segera membaringkan Minana lagi. Kemudian, aku berjalan mendekati jendela. Kubuka sedikit hordeng untuk mengintip keluar. Namun setelah kubuka, aku langsung menutupnya lagi.
"Hoi! Hoi! Hoi! Kau pasti bercanda, kan?!" gumamku tidak percaya saat melihat keluar tadi.
"Ada apa, Lucky?"
Aku tidak menjawabnya. Maksudku, ini bukanlah sesuatu yang bisa dijelaskan hanya dengan beberapa kata saja. Saat melihat keluar tadi, aku tambah sadar. Jika ada penghargaan siapa penguntit terbaik, pasti dialah yang menang.
"Kubilang, 'ada apa', dattebane?!"
Karena aku tidak menjawabnya, Minana langsung turun dari kasur. Ia terlihat sempoyongan. Aku segera menghampiri dan menggendong dirinya. Sesuai keinginannya, aku membawa Minana ke dekat jendela. Daripada dijelaskan, akan lebih baik jika dilihat sendiri.
Ada pagar kayu, sebuah pohon tinggi di balik pagar, dan atap rumah. Melihat pagar kayu, pohon, dan sudut atap rumah tersebut, aku langsung tahu kalau itu adalah halaman belakang rumah Minana-chan, rumah keluarga Yondaime Hokage, kediaman keluarga Namikaze.
"Hoi, itu rumahku, kan?! Kenapa rumahku bisa ada di sana, dattebane?!"
Aku tidak menjawabnya. Lagipula, ada hal selain itu yang harusnya dipertanyakan... atau mungkin terjawab. Orang itu sudah tinggal di sini sejak dulu, di Konoha. Dia sudah memerhatikan Minana-chan sejak lahir. Tidak, tapi pasti sejak Minana Besar datang ke masa lalu. Dia sudah merencanakan pembunuhan Minana-chan sejak lama.
Melihat luasnya tempat persembunyian yang ada di bawah tanah, aku sadar kalau dia punya lebih dari 1 tempat tinggal di Konoha. Pasti ada jalan rahasia lain selain di rumah ini. Dan rumah-rumah itu pasti adalah tempat dimana ia bisa melihat kehidupan sehari-hari Minana-chan. Aku yakin itu.
-End of Lucky's POV-
.
.
Bersambung . . .
A/N: Yohohoho, Reader-san. Kuroki kembali :3
Maaf ya baru update setelah sekian lama. Tanpa Kuroki sadari, ternyata Kuroki masuk ke dalam jurang yang di sebut jurang discontinues T.T *sedang mencoba memanjat keluar*
Apa yang Reader-san rasakan setelah membaca chapter ini? Apa Reader-san menyukainya?
Ah, iya, jika dibandingkan dengan chapter sebelum-sebelumnya, chapter ini lumayan pendek. Tadinya mau Kuroki perpanjang lagi, tapi nggak jadi karena takut kepanjangan :3
Jika ada bagian yang membuat Reader-san bingung, silahkan katakan/tanyakan saja. Selama bukan sop iler (?), akan Kuroki jawab *dor*
Jika ada bagian yang salah atau semacamnya dalam cerita ff ini, silahkan katakan saja. Silahkan bilang juga jika ada typo, miss typo, dan autocorrect yang terlalu pintar (?). Karena Kuroki hanyalah manusia binasa (?) yang tak luput dari kesalahan.
Kuroki juga minta maaf kalau ada kata yang membuat Reader-san tersinggung.
Arigatou karena sudah mau mampir ke sini. Jaa ne *BOFF*
