Disclaimer : Bleach masih milik om Tite Kubo loh!

My Dearest Teacher

Chapter 11

"Rukia… aku menyukaimu…"

Langkah Rukia pun terhenti seketika begitu ia mendengar pernyataan cinta dari Ichigo. Kedua mata violetnya membulat. 'Apa?' kata Rukia tidak mempercayai apa yang baru saja ia dengar dari Ichigo. Rukia lalu membalikkan badannya dan melihat Ichigo.

Ichigo dapat segera merasakan hawa kebingungan pada Rukia. "Itu benar Rukia. Aku mencintaimu," kata Ichigo dengan penuh keyakinan yang terpancar dari mata maupun suaranya.

Rukia tersentak mendengar ucapan Ichigo. Apalagi saat ia mendengar dan melihat kesungguhannya itu. 'Benarkah itu?' pikir Rukia dalam hati. Rukia menundukkan kepalanya sehingga Ichigo tidak bisa melihat mata violet Rukia yang indah dengan baik.

Ichigo hanya terus memperhatikan Rukia untuk beberapa waktu. Ia lalu berjalan mendekati Rukia dengan perlahan. Merasa ada orang yang melewati batas pribadinya, Rukia pun mundur beberapa langkah. 'Kenapa? Kenapa aku takut pada Ichigo?'

Ichigo sadar kalau sepertinya Rukia merasa tidak nyaman jika ia dekati, karena itu, ia pun mundur selangkah sebagai arti kalau ia tidak bermaksud menyakiti Rukia. Rukia merasa sedikit lega akan sifat Ichigo tersebut.

"Maafkan aku Rukia... selama ini aku memang sudah menyakitimu…" kata Ichigo perlahan. Karena tidak ada respon dari Rukia, Ichigo melanjutkan perkataannya lagi, "Memang aku ini egois. Sudah menyakitimu seenaknya dan sekarang aku memintamu untuk memaafkanku. Yah, mungkin kau memang butuh waktu untuk dapat memaafkanku. Untuk sekarang, hanya itu yang ingin aku katakan padamu. Aku… permisi," kata Ichigo sambil membalikkan badannya. Rukia yang sadar kalau Ichigo akan meninggalkannya pun mengangkat kepalanya dan ia merentangkan tangannya untuk menghentikan Ichigo.

"RUKIAAA!" teriak seseorang dari jauh. Mendengar namanya dipanggil, Rukia menghentikan tangannya yang hampir saja menyentuh punggung Ichigo untuk menghentikannya. Baik Rukia maupun Ichigo kini membalikkan badannya dan mencari siapa orang yang sudah memangil Rukia. Tatapan Ichigo pun jatuh pada seseorang yang ia anggap sebagai saingan terbesarnya. Renji yang tadi memanggil Rukia kini berlari mendekati Rukia.

Rukia yang kaget karena kehadiran Renji yang tiba-tiba hanya dapat berkata, "Renji… apa yang kau lakukan disini?"

Renji memperhatikan Ichigo dengan tatapan yang sangat menusuk, namun Ichigo membalasnya dengan tatapan yang tidak kalah menusuknya. Renji akhirnya memalingkan wajahnya dari Ichigo kepada Rukia dan tersenyum. "Kau lupa? Kita kan sudah janjian untuk pergi bersama…"

Rukia nampak sedikit bingung dengan perkataan Renji, akan tetapi akhirnya ia ingat sesuatu. "Tapi…"

"Ya ampun! Kau benar-benar sudah lupa ya? Sudahlah, ayo kita pergi sekarang!" Renji pun menarik tangan Rukia dengan sedikit memaksa. Rukia akhirnya menurut saja dan membiarkan Renji menyeretnya.

Ichigo yang sedikit kaget karena tiba-tiba Renji menarik Rukia, berusaha untuk menghentikan mereka. "Hei! Tunggu dulu!" Renji yang mendengarnya hanya mendelik ke arah Ichigo dan melanjutkan perjalanannya sambil menarik Rukia. Ichigo bermaksud untuk mengejar Renji dan Rukia. Baru selangkah berlari, tiba-tiba handphone Ichigo berdering. "Argghh! Siapa sih yang menelpon di saat seperti ini?" Tanpa melihat caller ID sang penelpon, Ichigo langsung menjawabnya. "Maaf, sekarang saya sedang sibuk! Tolong telepon lagi nanti!" Ichigo memasukkan handphonenya kembali ke dalam saku kantongnya. Saat melihat ke sekitarnya, Ichigo sudah tidak dapat lagi melihat Renji dan Rukia. 'Sial!' batin Ichigo. Karena sama sekali tidak memiliki petujuk kemana mereka akan pergi, akhirnya Ichigo memutuskan untuk pulang saja ke rumah.

x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x

Di apartemen Ichigo….

Ichigo menghempaskan dirinya di atas sofa di ruang keluarga. Ia baru saja selesai mandi. 'Huft! Hari ini benar-benar melelahkan,' ucapnya sambil membuka botol susu yang sudah ia siapkan dari tadi. Ichigo pun meminum susu di botol tersebut sampai habis dan meletakkan botolnya di atas meja kembali. Baru saja tadi ia merasa lega karena akhirnya terbebas dari segala macam beban pikiran saat mandi, sekarang beban pikiran itu kembali muncul di dalam kepalanya.

'Apakah yang sudah ku lakukan ini benar?'

'Apakah hal ini akan membuatku bahagia?'

'Apakah aku akan kehilangan keluargaku?'

'Apa yang harus ku katakan pada Senna?'

'Kemana si kepala merah itu membawa Rukia tadi?'

'Janji apa yang sudah mereka buat?'

'Apakah Rukia… akan memaafkanku…?'

Pemikirannya yang terakhir benar-benar membuat hati Ichigo resah. Mungkinkah Rukia akan memaafkannya dan kembali padanya? Setelah semua hal yang telah ia lakukan pada pujaan hatinya itu?

Ichigo akhirnya menghela nafas panjang. 'Benar… sebelum itu aku harus…' Ichigo pun mengambil handphonenya dan mencari sebuah nama di daftar kontak miliknya. Ia lalu memencet tanda 'call'. Setelah beberapa saat, orang yang ditunggu oleh Ichigo pun mengangkat telepon tersebut.

"Ada apa Ichigo?"

Ichigo kemudian menarik nafas dalam-dalam sebelum menjawab, "Ada yang ingin aku bicarakan denganmu, Senna…"

"Oh ya? Apa itu? Aku siap mendengarkannya!" kata Senna riang di ujung saluran telepon.

"Tidak… aku tidak dapat mengatakannya padamu lewat telepon. Aku ingin kita bertemu secara langsung…"

Senna diam sejenak sebelum akhirnya berkata, "Baiklah, kalau begitu ayo kita bertemu di taman besok jam 1 siang."

"Baiklah, besok di taman jam 1 siang." Ichigo lalu menutup telepon tersebut dan meletakkan handphonenya di atas meja. Ichigo menghela nafas panjang untuk yang kesekian kalinya pada hari itu dan memutuskan untuk tidur lagi. 'Ya… aku harus mengatakannya…'

x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x

Siang itu terlihat sangat cerah. Matahari bersinar menerangi kota Karakura dengan senyuman khas miliknya. Semua orang pun nampak sibuk mengurusi kegiatannya di akhir pekan tersebut. Namun hari libur kali ini tidak berarti sesuatu yang akan menyenangkan bagi Ichigo. Pria berambut orange itu baru saja tiba di taman Karakura. Ia sedang mencari sesosok gadis diantara para anak kecil yang kebetulan sedang bemain bersama teman atau keluarga mereka. Setelah beberapa lama mencari, dilihatnya sosok gadis yang sedang duduk dengan manis sambil membaca sebuah buku di bangku dekat air mancur. Tanpa menghabiskan banyak waktu, Ichigo segera menghampiri gadis tersebut. "Hai Senna…"

Senna pun segera mengalihkan pandangannya dari buku yang sedang ia baca ke Ichigo. Sambil tersenyum, ia berkata, "Hai juga Ichigo." Senna lalu menutup buku yang tadi ia baca dan memasukkannya ke dalam tas. "Duduklah…"

Ichigo duduk di samping Senna. "Senna… aku ingin bicara sesuatu…." Senna tampak kaget awalnya, tapi ia lalu hanya tertawa kecil saja. Ichigo lah yang sekarang menjadi bingung mengapa Senna tertawa. "Apa? Apanya yang lucu?"

"Hahaha… maaf. Habis kau ini tidak pernah berubah sih! Dari dulu kalau ada sesuatu yang ingin dibicarakan, pasti kau katakan secara to-the-point. Kau ini sama sekali tidak mengenal apa yang dinamakan basa-basi ya?" Ichigo pun hanya ikut tertawa kecil. Ya, dia memang sangat tidak pandai dalam berbasa-basi. "Oh ya Ichigo…" kata Senna lagi. Ichigo kini sudah berhenti tertawa dan ia memandang lurus ke arah air mancur yang terletak tepat di depan mereka.

"Ya?"

"Aku ingin berterima kasih…" ucap Senna malu-malu sambil memainkan kedua tangannya. Tanpa Senna ketahui, kini perasaan bersalah sudah mulai menghantui Ichigo.

"Terima kasih untuk apa?"

"Karena… ini pertama kalinya kau mengajakku untuk pergi ke taman. Biasanya kan aku yang mengajakmu!" kata Senna sambil menyandarkan kepalanya di bahu Ichigo. Ichigo hanya diam saja. Perasaan tidak enak, takut dan bersalah kini benar-benar menghantuinya.

"Senna… aku…" kata Ichigo perlahan.

"Apa?" kata Senna perlahan sambil mengangkat kembali kepalanya dan menatap Ichigo dalam-dalam.

"Aku… tidak bisa bertunangan denganmu lebih lama lagi…" kata Ichigo tanpa melihat Senna sama sekali.

Bagi Senna, dunia seakan runtuh begitu ia mendengar pernyataan Ichigo tadi. Senna lalu menggelengkan kepalanya. "Tidak… kamu pasti bercanda kan Ichigo?" Namun Ichigo hanya menggelengkan kepalanya. Senna lalu bangkit dari tempat duduknya dan ia menatap Ichigo dengan perasaan penuh kekecewaan dan amarah. "Kenapa?" teriaknya. Setelah ia berteriak kepada Ichigo, barulah ia sadar akan penjelasan yang mungkin untuk semua ini.

Ichigo menatap Senna dengan tatapan penuh rasa bersalah. Ichigo lalu bangkit dari tempat duduknya. "Senna… dengarkan aku dulu…" ucap Ichigo sambil mencoba memegang kedua tangan Senna.

Sayangnya Senna menepis kedua tangan Ichigo dan mengambil satu langkah ke belakang. "Tidak! Tidak ada yang perlu kau jelaskan," kata Senna tegas. "Aku tahu… pasti gadis bernama Rukia itu kan penyebabnya?"

Ichigo tersentak mendengar nama Rukia keluar dari mulut Senna. Melihat reaksi Ichigo saja sudah cukup bagi Senna untuk membuktikan kebenaran pernyataannya tadi. "Memang apa sih bagusnya gadis seperti dia? Dia itu hanya gadis manja yang suka merebut tunangan orang lain!"

Merasa tidak terima Rukia telah dilecehkan, Ichigo justru membentak Senna. "Diam kau! Kau tidak mengerti apa-apa tentang Rukia! Dia itu bukan gadis yang manja! Justru kaulah gadis yang manja!" bentak Ichigo sambil menatap Senna dengan tajam. Senna sangat terkejut karena perkataan Ichigo yang begitu tegas kepadanya. Tanpa ia sadari, air mata mulai jatuh membasahi kedua pipinya. Kini ia merasa sangat takut. Takut karena dimarahi Ichigo dan juga takut kehilangan Ichigo.

Ichigo yang melihat Senna menangis pun juga jadi merasa bersalah. 'Bukan… bukan begini seharusnya…' batinnya lirih. Tanpa perkataan apapun, ia lalu meninggalkan Senna yang masih menangis.

Saking takutnya tadi, Senna baru sadar akan kepergian Ichigo saat laki-laki itu sudah berjalan cukup jauh. "Ichigo! ICHIIGOOO!" teriak Senna sekuat tenaga berusaha menghentikan Ichigo. Ichigo masih terus saja berjalan meninggalkan Senna seorang diri. Senna yang merasa tidak kuat lagi untuk berdiri, akhirnya jatuh ke tanah dan terduduk sambil terus menangis. 'Ichigo sudah pergi… Ichigo sudah meninggalkanku…'

x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x

'Tidak seharusnya aku katakan hal itu kepadanya…' batin Ichigo. Perkataan itu terus mengisi kepalanya sejak ia melihat Senna menangis tadi. Sejak tadi, Ichigo masih terus saja berjalan. Ia terus berjalan sambil melihat ke bawah. Tanpa terasa, Ichigo sudah sampai di dekat gerbang taman Karakura. Sepanjang perjalanan, ia terus saja memikirkan Senna.

Entah mengapa, langit yang tadinya begitu cerah, kini mulai diselimuti awan hujan sehingga langit terlihat begitu mendung. Ichigo kini sudah menghentikan langkahnya dan ia menatap ke arah langit. 'Padahal tadi langitnya masih cerah… kenapa sekarang tiba-tiba mendung? Apakah sang langit sedang mencerminkan bagaimana suasana hatiku?' pikir Ichigo dalam hati. Ichigo menghela nafas panjang lagi. Sedari tadi, Ichigo terus merasa tidak enak pada Senna. Namun ia sudah memutuskannya. Apapun yang terjadi, ia akan memperjuangkan kebahagiannya sekarang. Ichigo memutuskan untuk menengok kembali ke belakangnya. Entah apa yang ia harapkan jika menengok ke arah belakang. Hanya saja, firasatnya mengatakan bahwa ia harus menengok ke arah belakang.

Kali ini pun firasat Ichigo tepat. Begitu ia menengok ke arah belakang, dilihatnya sosok gadis kecil yang sangat ia sayang. Gadis kecil yang telah mencuri hatinya. "Rukia?" ucapnya tidak percaya. Tanpa pikir panjang, Ichigo segera menghampiri Rukia. "Rukia!" panggil Ichigo sekuat tenaga.

Rukia yang tadi sedang berjalan dengan seseorang, kini membalikkan badannya. Kedua mata indah berwarna violetnya yang tak pernah memudar keindahannya sedikit pun kini membulat seakan tidak percaya siapa orang yang tadi telah memanggilnya. "Ichigo? Kenapa kau ada disini?"

Ichigo tersenyum. Ia merasa sangat bahagia karena dapat melihat Rukia. Bagi Ichigo, Rukia adalah matahari kehidupannya. Dengan perlahan, dihampirinya gadis itu. Ichigo sama sekali tidak menyadari kehadiran orang lain yang berdiri di samping Rukia hingga orang tersebut merangkul pundak Rukia. Ichigo kaget bukan main melihat hal itu. Ia lalu melemparkan pandangan yang sangat membunuh ke arah orang yang telah merangkul Rukia. Dilihatnya Renji yang dengan santainya merangkul pundak Rukia.

"Kau ada perlu apa dengan Rukiaku?" tanya Renji.

Ichigo mengangkat salah satu alis matanya, "Rukiamu?"

"Iya… dia adalah milikku," kata Renji sambil mengeratkan rangkulannya di pundak Rukia. Rukia hanya diam tertunduk.

Ichigo sama sekali tidak memperlihatkan reaksi apa-apa atas pernyataan Renji tersebut. Ichigo hanya menatap Rukia dalam-dalam. "Aku percaya," ucapnya seraya mendekati mereka berdua kembali. Matanya sama sekali tidak lepas dari sosok gadis kecil yang sangat ia sayangi tersebut. Ichigo berhenti tepat di hadapan Renji dan Rukia.

Renji sedikit kaget dengan reaksi Ichigo yang justru malah mendekati mereka. "Kalau begitu, kau mau apa?"

"Aku percaya… dia bukanlah milikmu. Karena…" kata Ichigo sambil menarik lengan kanan Rukia dari tangan Renji dan memeluknya dengan erat. "Karena aku yakin. Hanya akulah yang ada di hatinya," ucap Ichigo dengan penuh percaya diri pada Renji.

"Apa?" kata Renji tidak percaya.

"Ya… karena aku tahu dia hanya menyukaiku dan aku…" Ichigo menghentikan perkataannya sesaat dan ia sedikit melonggarkan pelukannya pada Rukia. Gadis itu masih tertunduk. Dengan lembut, Ichigo mengangkat dagu Rukia dan menatap kedua matanya dengan penuh makna. "Aku menyukainya sepenuh hatiku…"

Rukia masih tertunduk. Lalu ia melepaskan diri dari pelukan Ichigo dan menatap mata cokelat Ichigo dengan pandangan yang tidak dapat dilukiskan dengan kata-kata. Rukia lalu mengangkat tangan kanannya dan menampar pipi Ichigo dengan sangat keras. Ichigo menerima tamparan itu dengan sukarela. Pipi mulusnya kini berwarna kemerahan akibat tamparan Rukia tadi. Namun, Ichigo sama sekali tidak melepaskan pandangannya dari mata Rukia.

"Memangnya aku ini sebuah barang bagimu?" ucap Rukia dengan geram. Rukia terus memperhatikan wajah Ichigo. "Kau pikir aku ini adalah barang milikmu yang bisa kau pakai sesuka hatimu?"

Ichigo diam. Ia tetap menatap Rukia dalam-dalam. "Aku tidak pernah menganggapmu sebagai barang Rukia…"

"Tapi kenyataannya memang begitu!" kata Rukia tidak mau kalah.

Ichigo menghela nafas dan tersenyum penuh rasa bersalah pada Rukia. "Aku tahu… aku memang sangat kejam padamu. Waktu itu… aku begitu bodoh sampai-sampai aku menyangkal perasaanku terhadapmu. Tapi kini aku sadar. Kau adalah segalanya bagiku."

Rukia tertunduk. "Hei Rukia…" kata Ichigo lagi. "Apa kau tahu bagaimana hancurnya diriku tanpamu?"

"…"

"Apa kau tahu sebesar apa rasa suka ku terhadapmu?"

"…"

"Apa-"

"Hentikan Ichigo." Ichigo pun terdiam setelah Rukia menyuruhnya untuk berhenti berbicara. Kini giliran Rukia yang berbicara, "Kau pikir setelah apa yang telah kau lakukan padaku, aku masih menyukaimu seperti dulu?"

Ichigo diam sejenak. Ia lalu tersenyum dan menjawab, "Ya…"

"Kenapa kau berpikir seperti itu?"

"Karena aku percaya dengan kata-katamu waktu itu. Aku percaya kalau kau benar-benar menyukaiku."

Rukia sudah tidak dapat lagi membendung air mata yang sedari tadi ia tahan. Rukia pun lalu berlari ke arah Ichigo dan memeluknya dengan erat. "Kau benar-benar jahat Ichigo…" ucapnya lirih. Ichigo tersenyum dan memeluk Rukia dengan erat kembali.

"Iya, aku tahu. Aku begitu bodoh karena sama sekali tidak menyadarinya dari dulu… Aku mencintaimu Rukia."

Rukia tersentak mendengar pernyataan Ichigo. Rukia pun menangis di dalam pelukan Ichigo. Setelah beberapa saat, Ichigo lalu mengangkat wajah Rukia. Ichigo menghapus air mata Rukia dengan menggunakan ibu jarinya. Ia lalu menundukkan kepala dan mencium kening Rukia dengan penuh kasih sayang.

"Ehem…" deham Renji yang sengaja dibuat-buat.

Ichigo dan Rukia pun sadar kalau Renji masih berada di situ. Mereka lalu melepaskan pelukan satu sama lain. Mereka berdua sama-sama tersenyum karena malu.

Ichigo lalu teringat sesuatu, "Oh iya… aku masih ada urusan denganmu."

Renji bingung dengan maksud ucapan Ichigo. "Urusan?"

"Iya…" Ichigo lalu mulai meremas-remas tangannya seraya mempersiapkan diri untuk memukul Renji. "Aku masih ada urusan denganmu karena kau bilang tadi Rukia adalah milikmu."

Renji hanya bisa tersenyum. "Baiklah kalau begitu…" ucapnya sambil mempersiapkan diri menerima pukulan Ichigo. Tanpa Ragu, Ichigo mulai mengarahkan tangannya ke arah wajah Renji.

Rukia kaget dengan sikap mereka berdua yang seenaknya saja. "Kalian berdua, tunggu dulu!"

Ichigo yang tadinya hampir saja memukul Renji, menghentikan pukulannya dan melihat ke arah Rukia. "Kenapa?"

"Ichigo! Sebenarnya… sebenarnya aku dan Renji itu membuat sebuah perjanjian…" kata Rukia. Ichigo masih tidak mengerti dengan apa yang di katakan oleh Rukia. "Aku dan dia sama-sama bekerja sama…"

"Kerja sama? Untuk apa?" tanya Ichigo semakin tidak mengerti.

"Untuk…" Rukia menunduk. Ia terlalu malu untuk mengatakannya pada Ichigo. Renji sangat memahami Rukia akan hal itu.

"Untuk membuatmu mengatakan perasaanmu yang sesungguhnya pada Rukia," jelas Renji.

"Heh? Apa?" tanya Ichigo tidak percaya.

"Hahaha… begitulah!" kata Renji sambil tersenyum.

"Tunggu dulu! Sebenarnya sejauh mana kalian merencanakan hal ini?" tanya Ichigo tidak percaya. Renji dan Rukia hanya menatap satu sama lain. Mereka berdua lalu tertawa bersama-sama.

"Itu adalah rahasia kami berdua…" kata Rukia sambil mengedipkan mata kanannya pada Ichigo.

"Oh ya Ichigo…" kata Renji. "Ada hal yang ingin aku beritahu padamu. Perasaanku pada Rukia ini sungguhan. Aku juga sangat menyayanginya. Karena itu, jika kau sampai membuatnya menangis lagi, aku tidak akan segan-segan untuk merebutnya darimu…"

Ichigo tersenyum pada Renji. Dengan cepat, Ichigo merangkul Rukia sambil berkata, "Tenang saja… aku tidak akan melakukan hal seperti itu lagi."

x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x-x

Senna sama sekali tidak mempercayai pemandangan di depan matanya. Ia melihat Ichigo yang tersenyum sedang memeluk Rukia. Senna baru saja memutuskan untuk menyusul Ichigo dan meminta maaf padanya. Namun apa yang harus ia lihat sekarang ini? "Lagi-lagi perempuan itu…" geram Senna sambil mengepalkan kedua tangannya. Senna melihat sebuah pemukul baseball di sampingnya. Sepertinya itu adalah milik salah seorang anak yang sedang bermain di sekitar situ. 'Kalau ku pinjam sebentar dia tak akan keberatan kan?' Senna lalu mengambil tongkat baseball tersebut.

Kini pikiran Senna hanya terfokus pada Rukia. 'Rukia Kuchiki… akan ku balas kau…' pikirnya dengan penuh amarah. Senna memegang tongkat baseball tersebut dengan sangat kuat. Lalu ia mulai berlari. Senna berlari ke arah Rukia dengan hawa pembunuh. Diangkatnya tongkat baseball tersebut dan ia bersiap akan segera memukulkannya ke kepala Rukia.

Ichigo yang sebelumnya melihat Senna yang berlari ke arah mereka segera mengambil tindakan. "Rukia! Awas!" Ichigo lalu melindungi Rukia. Ia berdiri di posisi Rukia berdiri tadi dan menyuruh Rukia untuk sedikit menunduk dan berbalik agar ia tidak melihat apa yang sedang terjadi. Rukia sama sekali tidak sadar akan apa yang sedang terjadi. Semuanya berputar begitu cepat.

BUK!

'Apa?' pikir Rukia dalam hati. Rukia masih belum bisa mengerti apa yang sedang terjadi. Yang ia tahu, kini ia terbaring di atas tanah dan Ichigo jatuh menimpanya. Awan yang sejak tadi sudah berwarna kelabu kini mulai menjatuhkan bulir-bulir air hujan. "I-Ichigo…?" tanya Rukia perlahan. Ichigo hanya diam. Rukia begitu cemas. Ia pun melihat ke arah belakang. Rukia shock bukan main. Ia melihat Ichigo yang terkulai lemas di atasnya dengan kepala yang berlumuran darah. "ICHIGOOOO!"

To Be Continue…

[A/N] yuhu! Author kembali! Pertama-tama mau ngucapin… maaf ya! Terutama buat sarsaraway20. Maaf buat keterlambatan peng-apdetan story ini!

Anyway, Author akan segera meluncurkan fic barunya yang berjudul Shinigami test! Ntar kalo udah di publish-in baca ya!

Hmm… gak tau mau ngomong apa lagi… jadi gimana ceritanya? Bagus? Jelek? Review aja ya!