Disclaimer:

Sampai kapan pun Vocaloid bukan milik saya.

.

.

.

DLDR

Selamat membaca.

.

.

.

Connecting With You

.

.

.

[Normal POV]

"Wah... Ini hebat. Apa biskuit ini bisa dimakan?" Rin mengelus pondasi yang mirip seperti biskuit dengan pelan dan sangat hati-hati.

"Anda lucu sekali tuan putri. Tempat ini, anda sendiri yang bangun."

Dia menoleh cepat. Apa katanya tadi? Dia yang membangun semua ini? Kapan?

Seingatnya, dia memang pernah bermimpi ingin membangun rumah biskuit dan coklat seperti yang ada dalam cerita dongeng Hansel & Gretel. Tapi, dia tidak ingat kalau mimpinya sudah terwujud? Ya ampun bagaimana bisa dia melupakan hal sekeren ini.

Tunggu sebentar, Hansel & Gratel?

Bukankah itu dongeng tentang penyihir jahat yang tinggal dirumah kue?

Rin menelan ludahnya susah payah.

"Ah, ya... kau benar."

Untuk sekarang, apapun yang dikatakan orang itu, iya kan saja. Sekalipun Rin tidak ingat kapan dia membangun kastil selezat ini. Habis jika orang itu tahu kalau dia putri palsu, tamat sudah.

"Disebelah sana terdengar ramai, ada apa?" Tanyanya heran. Menatap curiga lorong yang didominasi oleh permen lolipop. 'Apa itu juga asli?'

Vampire itu tersenyum penuh arti. "Mari ikut saya."

Rin mengikutinya dengan langkah ragu. Matanya memindai waspada. Berusaha mengingat tiap detail bangunan. Mencari celah untuk kabur.

"Anak-anak?" Tanyanya merinding. Melihat sekumpulan anak-anak sedang asyik bermain. Ada yang main kerjar-kejaran, ayunan, lompat tali, membuat istana pasir, jungkat jungkit sampai rumah-rumahan.

Mereka semua lucu-lucu, tidak menakutkan, hanya saja...

Pikirannya mulai mengabsen hal apa saja yang ada di dalam dongeng Hansel & Gretel.

Rumah kue. Cek.

Anak-anak. Cek.

Penyihir? Rin melirik waspada pada vampire yang membawanya kemari. Nooooooo! Dia itu bukan penyihir kan? Eh, tapi bukannya sama saja? Vampire juga bisa makan anak-anak seperti hal nya penyihir kan? Bahkan lebih parah! Vampire tidak perlu memasak sumber makanannya terlebih dahulu, mereka bisa langsung menggigitnya. Tidakkk!

'Kak Rinto, ayah, ibu atau siapa pun. Tolong kami.'

"Hoi, bocah-bocah nakal, lihat siapa yang kubawa kemari." Teriak tuan penyihir vampire tak beradab. Rin putuskan untuk memanggilnya begitu.

Tuan penyihir vampire tak beradab itu sudah menunjukkan warna aslinya. Kemana kata 'Anda' dan 'Saya' yang dia pakai sebelumnya?

"Tuan putri!"

Anak-anak itu langsung berlarian menghampiri Rin, meninggalkan mainan mereka. Rin menyambut mereka dengan tangan terbuka. Sudah pernah Rin bilang, dia bukannya tidak suka anak-anak. Justru dia sangat suka anak-anak. Bahkan saat ini dia sedang menggendong gemas gadis kecil yang diperkirakan berumur dua tahun. Kalau dia tidak suka anak-anak, dia tidak mungkin susah payah membuatkan biskuit dan menepati janjinya pada Ryota.

"Siapa namamu gadis manis?" Tanyanya.

"Lucy, tuan putri."

"Aku Mika!"

"Namaku Yoda."

Rin tersenyum pada anak-anak yang tak mau kalah, mereka menyebutkan nama mereka satu persatu secara bergantian. Ada 20 anak yang mengelilinginya. Dari 20 nama yang disebutkan, Rin hanya mampu menghapal 11 nama saja. Sisanya? lihat saja nanti. Pikirnya nggak mau ambil pusing.

"Kau putri asli?" Tanya Zen, kalau tak salah namanya itu. Tebak Rin dalam hati.

"Ya... sepertinya."

"Kamu salah, Oliver! Dia sudah menjadi ratu sekarang. Panggil dia Ratu." Ralat Mika menggurui. Ternyata anak yang tadi namanya Oliver.

Rin mendengus. 'Jadi, aku sebenarnya putri atau ratu?' Pikirnya. Imajinasi anak-anak ini terlalu tinggi. Siapa sih yang meracuni mereka?

"Aku tak keberatan di panggil seperti itu. Tapi, aku akan senang jika kalian memanggilku Rin saja." Rin mencoba menengahi.

"Ratu Rin!"

"Tanpa tambahan -ratu- tentunya."

Mereka mengangguk patuh. Mengucapkan nama Rin tanpa tambahan pemanis apapun kecuali 'kak' sambil tersenyum lebar.

Duh imutnya. Boleh Rin cubit pipi mereka satu-satu?

"Ah! Hampir saja lupa! Aku diminta kemari karena vampire ini bilang disini ada vampire yang suka menggigit orang seenaknya. Jadi, dimana vampire itu?" Rin kembali mengingat tujuannya kemari.

Serempak anak-anak itu menunjuk satu-satunya vampire dewasa disana.

Rin melotot marah. "Kau menipuku?"

"Aku bisa jelaskan ini."

Tuan penyihir vampire tak beradab mengangkat kedua tangannya. Minta pengampunan. Tapi, Rin sudah sebal duluan. Sisi gelapnya keluar. Namun sebelum penyerangan dimulai, Rin masih menyempatkan diri untuk menurunkan Lucy dan menyuruh anak-anak menutup mata, baru dia melakukan tendangan pinalti pada perut lawannya, dilanjutkan beberapa jurus karate yang dia kuasai.

Merasa lawannya sudah pingsan. Rin berkacak pinggang, bangga bisa mengalahkan vampire asli. Berbanding terbalik dengan batinnya yang meringkuk ngeri. Takut vampire itu menyerangnya balik. Jika itu terjadi, pasrah deh. Usaha itu ada batasnya kan?

"Errr..." Matanya melirik bingung. Selanjutnya bagaimana? Tadi itu tindakan spontan, Rin sama sekali belum menyusun rencana pelarian.

Tiba-tiba saja ia merasa ada yang menarik-narik tasnya.

"Kak Rin, kami lapar." Ucap Lucy dengan mata merahnya.

Mata merah?

"Kami lapar, Kak Rin."

Anak-anak yang sebelumnya terlihat manis dan menggemaskan kini terlihat menyeramkan. Tangan mungil mereka dengan ganas mulai menarik-narik tas Rin, membuat talinya putus dan isinya berhamburan. Rin berjalan mundur secara perlahan, berusaha untuk tidak menimbulkan suara. Dia tidak mengira kalau anak-anak itu juga vampire. Sebelah tangannya menutup luka yang tak sengaja tercakar oleh Oliver. Dalam diam, Rin mengamati pertempuran sebenarnya. Vampire kecil itu saling menyerang satu sama lain, meperebutkan obat yang biasa Rin minum. Beberapa obatnya ada yang terinjak. Cairan merah itu merembes ke tanah.

Rin tidak tahu kalau vampire juga bisa tertarik dengan obatnya. Itu kan untuk manusia, apa tidak apa-apa jika dibiarkan?

"Ughh..." Kepalanya tiba-tiba saja pusing. Rasa mual tidak bisa dihindari lagi. Rin sangat kenal dengan tanda-tanda ini, dia harus segera meminum obatnya. Tapi, obat miliknya sedang menjadi bahan perebutan.

'Aku tidak boleh pingsan disini.' Batinnya menguatkan.

Dia tidak mau pingsan diantara para vampire. Rin tidak mau mengambil resiko digigit saat dirinya tak punya pertahanan. Susah payah, Rin menggerakkan kakinya. Meninggalkan sekumpulan anak yang bukan anak-anak lagi. Tapi, monster berdarah dingin. Vampire.

Napasnya semakin sesak dan kepalanya seakan mau pecah. Jalannya terhuyung. Rin menggapai pohon yang bisa terjangkau oleh tangannya. Dia sudah berjalan cukup jauh dari kastil kue. Tapi, Rin masih berada di dalam hutan. Kakinya sudah tidak sanggup lagi untuk berjalan. Seluruh tubuhnya lemas. Rin pingsan dengan punggung menyandar ke pohon.

"Kak... tolong aku..."

.

.

.

Rinto tersentak bangun dari tidur ayamnya. Tangannya mengacak rambutnya pelan. Merasa masih mengantuk. Diam-diam, matanya mengintip, memastikan waktu.

Jam 4:00 PM.

'Sudah sore rupanya.' Batinnya bersuara sementara mulutnya menguap lebar. Lalu dia menatap rekan-rekannya yang sudah dua hari tertahan di kantor bersamanya menyelesaikan masalah keuangan yang mengalami kebocoran dana dengan wajah mengantuk. Mereka semua sedang istirahat setelah dipaksa kerja rodi, mencari manusia yang berani menggelapkan dana perusahaannya. Bahkan dia sampai harus memanggil Len, meminta bantuan vampire jenius itu untuk mengurus perusahaannya sementara dia fokus mengejar pelakunya. Belum cukup sampai disitu, kesabarannya masih di uji dengan masalah baru yaitu nyaris bocornya proyek mereka ke perusahaan lawan.

Well, ternyata bukan rumah saja yang bisa bocor, perusahaan juga.

Tok tok tok

"Siapa?" Tanya Rinto, merasa dia tidak punya janji temu dengan siapa pun. Matanya melirik was was, seingatnya dia sudah melarang manusia yang bekerja di perusahaannya untuk tidak menginjakkan kakinya di lantai tujuh, karena untuk sementara waktu tempat itu dihuni oleh vampire seperti dirinya. Dia juga sudah memindahkan meja sekretarisnya ke lantai satu, duduk berdampingan dengan bagian administrasi dan memberi mandat yang sama.

"Luka."

Heh? Untuk apa dokter cantik itu sore-sore datang ke perusahaannya? Di kantornya tidak ada yang sakit.

"Masuk saja. Tidak di kunci." Ucap Rinto kembali mengerjakan tugasnya yang sempat tertunda. Tidak lupa membangunkan rekannya. Dia tidak mau menghadapi Luka sendirian. Sementara mereka asyik tiduran. Walau sebenarnya vampire tidak butuh tidur.

Bagi mereka tidur adalah salah satu cara untuk menjernihkan pikiran dan melepas beban yang menumpuk.
Vampire juga bisa lelah jika fisiknya dipaksa bekerja selama 24 jam berturut-turut. Mereka butuh pelarian. Tidur misalnya.

Luka membuka pintu. Dia langsung berjalan menghampiri Rinto.

"Dimana putri kecil?"

Alis Rinto terangkat satu. Tidak mengerti.

"Rin? dia ada dirumah." Jawabnya santai. Mungkin Luka salah alamat, sudah jelas Rin tidak mungkin ada di perusahaannya. Ya, kecuali kalau Luka mencarinya kesini tadi siang.

"Kau tidak sedang berusaha menyembunyikan putri kecil dariku kan?"

Tuduhan macam apa itu? Apa muka Rinto mirip seperti seorang penjahat?

"Dia tidak ada disini. Untuk apa aku menyembunyikan adikku sendiri?" Jawabnya ketus.

"Len di dalam?"

Rasanya Rinto ingin menggaruk rambutnya yang tidak gatal, melainkan otaknya yang gatal. Sebenarnya Luka mencari siapa? Rin? Atau Len? Membingungkan sekali.

"Iya, masuk saja."

"Ikut aku. Ada yang perlu kubicarakan."

Rinto ingin protes. Tugasnya masih menumpuk. Bahkan belum selesai setengahnya.

"Tentang Rin." Potong Luka sebelum satu patah kata tak bermutu keluar dari mulut Rinto.

Ancamannya sungguh sadis. Kalau sudah menyangkut Rin, Rinto tidak bisa berkutik lagi.

Dengan terpaksa, dia mengikuti kemauan Luka setelah memberi isyarat pada rekannya untuk menyelesaikan tugasnya. Jadi bos itu enak, bisa memberi perintah semaunya.

Len menatap kedatangan mereka berdua dengan alis terangkat satu. Rinto hanya mengedikkan bahunya, tanda bukan dia yang punya urusan dengannya. Sementara Luka sudah memposisikan dirinya di sofa, duduk dengan anggun.

"Ada apa?" Tanyanya.

Bukannya menjawab, Luka meraih ponselnya yang tersimpan aman dalam tas merah bermerek miliknya, lalu menyerahkan ponsel itu pada Rinto setelah menekan tombol hijau.

Bingung, Rinto menempelkan ponsel milik Luka ditelinganya.

"Hallo."

"Ya, dengan kediamanan Kamine disini."

Itu suara bibi Sara. Rinto hapal suaranya. Matanya menatap Luka seakan bertanya 'Aku harus bertanya apa?'

"Tanyakan dimana Rin." Perintah Luka. Len menutup map yang sedang di periksanya. Dia mengeluarkan ponselnya juga, menelepon seseorang. Sementara Rinto melakukan apa yang Luka perintahkan.

"Rin tidak ada." Kata Rinto setelah selesai bicara dengan bibi Sara. Wajahnya pias.

Luka mengambil ponselnya kembali dari tangan Rinto lalu mengutak atiknya sebentar. Len sudah selesai menelepon, ekspresinya mengerikan.

"Rin mengirimi Lenka pesan kalau dia ingin bertemu dengannya."

Luka menunjukkan pesan yang dikirim Rin pada Lenka. "Lenka memintaku untuk memastikan keberadaan Rin, dia bilang dia sudah menunggu Rin sejak tadi siang, tapi Rin tidak kunjung datang. Telponnya pun tak bisa dihubungi. Kuharap diantara kalian berdua ada yang bisa memberiku penjelasan."

"Rin tidak bilang dia ingin bertemu dengan Lenka." Rinto berargumen. "Tadi siang, aku menyuruhnya kemari untuk mengantarkan makanan. Hanya sebentar. Setelah menemani Len makan, dia pamit pulang."

"Aku sudah menghubungi Gumiya, dia sedang mengecek rekaman cctv di sekitar kantor." Info Len, bersiap untuk pergi.

Rinto berdiri. "Mau kemana?"

.

.

.

"Rinto, sepertinya kamu perlu menjauh dari Rin deh. Semua ide yang kamu buat, berujung pada masalah." Celetuk Gumi pusing. Dia butuh seseorang untuk dijadikan kambing putih. Matanya mengawasi beberapa titik merah di layar monitor sambil mendengarkan laporan Teto dan kawanannya yang sedang melakukan pencarian di beberapa tempat yang ia arahkan.

"Dia adikku!" Protes Rinto kesal.

Kenapa tiap ada masalah, terutama jika itu menyangkut Rin, dia yang selalu disalahkan?

Hidupnya serba salah memang!

Apa tidak ada satu vampire pun yang melirik ke arahnya?

Memangnya cuman mereka saja yang boleh khawatir?

Sementara dia selalu di sudutkan seperti tersangka. Coba deh, lihat Rinto dengan jelas kalau perlu pakai kacamata pembesar. Dia juga bisa merasa panik, cemas dan takut. Tiga perasaan yang sangat dia benci, percis seperti dua tahun yang lalu saat dirinya baru pulang membawa kemenangan namun malah di tembak mati dengan berita masuknya Rin ke rumah sakit.

"Rin bukan milikmu lagi. Tapi miliknya." Luka menunjuk Len.

Oh, jangan lupa dengan kenyataan yang selalu menamparnya telak. Rin bukan adik kecilnya lagi. Tapi milik vampire paling berkuasa.

"Bagaimana Gumiya, apa sudah ketemu?" Lanjut Luka sambil mengawasi Len supaya tidak mengamuk atau menghancurkan ruangan ini dan membuat pencarian mereka mulai dari nol lagi. Cuman Luka yang berani mengontrol Len.

Gumiya menatap beberapa layar monitor di hadapannya. Memutar rekaman cctv disekitar pertokoan yang terpasang menghadap trotoan. Kalau saja cctv di kantor Rinto sedang tidak dalam proses perbaikan, pencarian ini mungkin bisa lebih mudah. Gumiya bisa menelusuri keberadaan Rin saat dia meninggalkan kantor. Lalu menyambungkannya dengan cctv yang terpasang di luar toko yang baru saja dia lewati dan seterusnya begitu. Bukannya seperti ini, mengecek satu persatu rekaman cctv. Berharap Rin melewati salah satu toko yang rekaman cctvnya dia pinjam. Untung pihak toko mau di ajak kerja sama, kalau tidak, ya... Len tidak akan tinggal diam. Kepemilikan toko mungkin akan berganti nama menjadi namanya dalam hitungan detik. Bahkan sekarang saja, mereka sudah menguasai gedung kepolisian, ini ulah Len, dia mengusir semua manusia yang dianggapnya tidak berguna. Melupakan fakta kalau manusia dan vampire itu berbeda. Mereka tidak bisa bergerak cepat seperti vampire.

Mata Gumiya menyipit saat melihat gadis dengan dress biru masuk dalam gang sempit. Dari ciri-cirinya sih hampir mirip dengan Rin. Tapi, Gumiya sangsi Rin mau pakai dress.

"Rin tadi ke kantor pakai baju apa?"

"Dress biru."

"Serius? Dia... memakai dress?"

"Ya, bisa jadi seseorang berhasil meracuninya dan membuat otaknya kembali normal." Rinto setengah bercanda. Kepalanya manggut-manggut, sok tahu. Tidak ada salahnya kan mencairkan suasana?

Tegang sekali!

Lenka menjitaknya. "Ini bukan waktunya bercanda."

Oh, ternyata salah.

"Iya... iya... maaf." Sesal Rinto. "Dia memang memakai dress biru... punyaku." Bagian akhir, suara Rinto mengecil.

Gumiya menatap jijik Rinto. Lenka tidak salah pilih pasangan kan? "Kau... akh! Lupakan! Kurasa aku menemukannya." Dagunya mengarah pada monitor di ujung kiri atas. "Dia sepertinya pergi mengikuti vampire ini. Ada yang kenal?"

Gambar di perbesar. Menampilkan rupa vampire laki-laki yang Rin ikuti.

Dari korban yang dibawanya, Gumiya bisa menebak kalau pria itu adalah vampire.

Semua memperhatikan gambar tersebut.

"Rin sepertinya di tipu oleh vampire jalanan." Duga Gumi dengan wajah serius. "Kuharap dia bukan vampire yang sedang kita buru." Dengusnya sinis.

Udara disekitar mereka mendadak terasa berat. Hanya satu kemungkinan, Len marah besar. Sekalipun vampire itu tetap diam di posisinya, bola matanya yang berubah kemerahan adalah buktinya.

"Kau tahu siapa dia?" Tanya Luka pada Len. Dia satu-satunya vampire yang masih dalam mode 'santai'. Duduk manis dengan secangkir kopi panas.

"Hm."

'Hm' itu maksudnya apa ya?

Luka mengangguk, pura-pura mengerti. Diiringi tatapan takjub Gumi. Tidak menyangka, Luka bisa tahu maksud dari kata keramat milik Len.

"Kurasa bukan, aku mengenalnya." Ucap Rinto dingin. Tubuhnya berbalik dengan tangan terkepal kuat. Ingin menghajar satu nama yang terus dia maki dalam pikirannya.

'Sialan kau Yuma!'


-oOo-

Connecting With You

-oOo-


[Rin POV]
Ini aneh.

Sangat aneh.

Serius.

Kak Rinto tidak keracunan makanan kan? Tumben dia baik dan... perhatian. Yang terakhir rasanya ingin muntah.

"Kak?"

"Ya?" Tuh kan, nggak biasanya dia langsung menyahut panggilan ku. Normalnya, dia akan membalas panggilan ku setelah nada ku naik dua oktaf atau kulempari dia sendal rumah.

"Aku haus." Kataku memelas. Dia langsung melesat ke dapur. Mengambil segelas jus jeruk.

"Ada biskuit tidak?" Aku menyeruput minumanku. Kak Rinto mengambil kunci motornya. Kutebak dia mau pergi ke supermarket dan benar saja, pulang-pulang dia membawa satu kresek besar. Isinya biskuit semua.

Aku meliriknya curiga. Film kartun yang sedang ku tonton tidak menarik lagi.

Jam menunjukkan pukul dua belas siang. Alarm Kak Rinto berbunyi. Dia memberiku dua butir obat. Rutinitas baruku, minum obat satu jam sekali dua butir.

"Kak, sebenarnya aku kenapa?" Tanyaku penasaran. Sudah tiga hari ini aku diperlakukan seperti 'putri'. Apapun dilayani. Tapi, sebagai gantinya, aku tidak boleh beranjak dari kasurku seinchi pun. Urusan ganti baju dan mandi, dibantu bibi Sara. Aku sudah mirip perangko yang menempel di surat. Tinggal menunggu untuk dikirim.

"Kau sakit. Itu saja."

"Aku merasa sehat. Mungkin kakak yang sakit." Sakit jiwa. Lanjutku dalam hati sambil tersenyum penuh arti.

"Kau yakin tidak merasa pusing, lemas, mual, nafsu makanmu bertambah atau kau ingin makan sesuatu?"

Keningku mengernyit bingung. Itu tanda-tanda orang hamil bukan sih?

"Sama sekali tidak." Jawabku datar.

Kak Rinto mengecek keningku. Mengukur suhu tubuhku. "Ya, sepertinya memang sudah sehat. Tapi, aku bukan dokter. Jadi, untuk jaga-jaga sebaiknya kau istirahat dulu." Katanya sok perhatian. Bulu kuduk ku sampai berdiri semua. Merinding.

Dia menatapku cukup lama sebelum mengumpulkan tiap kemasan biskuit yang kubuang sembarangan. Tidak ada protes dan keluhan. Lurus layaknya jalan tol. Membawa semua sampah itu ke lantai satu untuk dibuang.

Aku meringis. Sampai kapan semua ini akan berlangsung?

"Lebih baik aku pergi jalan-jalan saja daripada disini terus. Bisa-bisa aku jadi gila." Putusku menendang selimutku menjauh. Namun, bukannya berdiri aku malah terjatuh.

Hah?

Apa yang terjadi dengan kakiku?

Tadi rasanya masih bisa menendang deh.

Apa aku lumpuh?

Tapi, apa yang menyebabkan aku lumpuh?

Kok mendadak gini?! Why?

"Rin, kau - YA AMPUN! KAU KENAPA RIN? MANA YANG SAKIT?" Tanya Kak Lenka panik saat menemukan ku tiduran di lantai dengan posisi menyedihkan. Telingaku yang sakit kak.

"Tidak ada kak, aku hanya jatuh dari kasur." Jawabku tersenyum polos. Berbohong sedikit tak apa kan?

'Ya, kamu jatuh karena kesalahan mu sendiri.' Jawab entah siapa dalam pikiranku dengan nada sinis. Sirik ya melihatku diperlakukan seperti putri?

Kak Lenka mebantuku berdiri lalu menidurkan ku kembali di kasur. Menarik selimut ku sampai bahu.

"Aku akan telepon Luka sebentar. Kau tunggu disini. Sebentar lagi Rinto kemari." Pesannya. Aku hanya mampu mengangguk. Terlalu bingung dengan kondisi ku saat ini. Aku lumpuh benaran atau apa?

Tak lama, Kak Rinto masuk, dia tersenyum sendu.

"Kak, kakak habis berkelahi ya?" Tanyaku penasaran melihat luka lebam yang tiga hari ini menghiasi wajah konyolnya. Jangan paksa aku untuk bilang dia tampan, nanti dia terbang, terus nggak tahu gimana caranya untuk turun.

Sebenarnya aku ingin tanya perkara aku sakit apa. Tapi aku yakin 100% Kak Rinto pasti lebih memilih untuk melarikan diri. Tidak menjawab pertanyaan ku.

"Tidak. Ini bayaran dari bosku."

"Bayaran?" Alisku terangkat satu. "Memangnya kakak kerja di tempat lain?"

"Orang sakit jangan banyak tanya. Banyakin istirahat." Katanya sok bijak, membuat benteng pertahanan. Pertanda aku harus diam.

"Bagaimana keadaanmu?"

Kak Luka datang memasuki kamarku. Dia langsung memposisikan dirinya di samping tempat tidur ku.

"Kupikir baik." Jawabku disertai senyuman. 'Tapi kalian pikir aku sakit.' Lanjutku geli.

'Kau memang tidak sakit.' Jawab err... dia ini siapa sih? Kok bisa-bisanya membajak pikiranku.

Kak Luka tidak datang sendiri, tapi membawa dua tamu tambahan.

Ryota menatapku cemas dalam gendongan ayahnya. Mata birunya yang indah terlihat berkaca-kaca.

Aku tersenyum dan membuka tanganku. "Kemarilah." Menyuruhnya untuk mendekat.

Len menurunkan Ryota yang mulai memberontak minta diturunkan. Dia berlari-lari kecil. Wajah datarnya terlihat menggemaskan. Aku memeluknya sambil terkekeh lucu. Habis dia memelukku seakan aku akan menghilang saja. Sangat erat.

Kak Luka mulai memeriksa ku dengan Ryota yang tiduran di pangkuanku. Dia tidak mau melepasku. Sementara Kak Rinto dan Len diusir keluar.

Dikamarku sekarang ada satu manusia setengah vampire, dua vampire dewasa dan satu vampire cilik.

"Nah, jadi apa yang ingin ditanyakan putri kecil pada kami?" Tanya Kak Luka seakan mengerti alasan ku meminta Kak Rinto dan Len pergi dari kamarku.

Dia mengemasi semua alat medis yang sudah digunakannya untuk memeriksaku.

"Sebenarnya aku sakit apa kak? Kenapa aku tidak bisa berdiri? Apa aku lumpuh?"

"Tidak. Kau tidak lumpuh. Hanya kekurangan darah saja."

Oh, jadi aku anemia.

"Kalau jumlah darah di dalam tubuhmu sudah mencukupi. Kau bisa berjalan lagi." Jelas Kak Luka dengan kata-kata yang mudah kumengerti.

Aku mengangguk-angguk seperti kucing pembawa keberuntungan.

"Lalu apa orang itu baik-baik saja?"

Kak Luka mendengus tidak suka. Paham maksudku. "Kau masih mengkhawatir orang yang sudah membuatmu begini?"

Aku meringis. Merasa kalau semua ini cuman salah paham. Salah ku mengira kalau dia vampire jahat yang ternyata adalah teman kakak ku.

"Luka benar. Orang seperti itu lebih baik tak perlu di kasihani. Sudah sepantasnya dia mendapat satu atau dua pukulan. Itu tidak akan membuatnya mati." Dukung Kak Lenka.

Ya kalau itu memang satu atau dua pukulan, aku nggak mungkin bertanya. Buat apa menanyakan kondisi seseorang yang jelas baik-baik saja.

Tapi, aku nggak yakin kalau tuan penyihir vampire tak beradab itu hanya menerima satu atau dua pukulan seperti yang Kak Lenka katakan. Saat meminta maaf padaku kemarin, wajahnya saja nyaris tak berbentuk lagi. Biru-biru dan bengkak. Mengerikan.

"Itu cuman salah paham kak. Dia tidak sepenuhnya salah. Aku yang salah karena kurang hati-hati, itu saja."

"Len akan marah jika kau terus membelanya, Rin ." Balas Kak Luka ketus.

Lagi-lagi Len. Apa hubungannya?

"Yang salah adalah vampire tak jelas itu, harusnya dia tidak membawa mu ke sarang vampire muda. Mereka masih labil dan belum bisa mengontrol diri mereka sendiri, mereka bisa saja menyerangmu. Kau beruntung karena waktu itu mereka hanya mengincar obatmu saja."

Kak Lenka benar, aku cukup beruntung anak-anak itu tidak menyerangku. Hhhh...coba kalau mereka bukan vampire. Aku mungkin masih bisa bermain bersama mereka.

"Aku akan mengambilkan obat mu dulu." Izin Kak Luka beranjak keluar kamar.

"KAK RIN!"

Tiba-tiba saja seorang anak kecil menerobos masuk ke kamarku dengan wajah menangis. Kak Lenka membantunya menaiki kasurku sebelum tangisannya semakin kencang. Dia langsung memeluk ku erat. Menyingkirkan Ryota. Aku mengusap kepalanya bingung. Sementara Ryota menatapku sedih. Seperti anak kucing yang minta di pungut.

Kyaaa... manisnya. Tapi, jangan nangis juga ya. Nanti aku yang repot. Harapku panik.

Sebelah tanganku memberi isyarat pada Ryota untuk mendekat. Aku mengusap bagian bawah matanya pelan. Berharap itu bisa menenangkannya.

"Jangan ikutan menangis, oke." Kataku tanpa suara disertai senyuman.

Ryota mengangguk dan tiduran di samping ku.

Duh, ini anak siapa yang melahirkan?

Sungguh aku ingin bertemu dengan ibunya.

Tega sekali dia meninggalkan anak semanis ini dan sangat penurut.

Kuharap dia tidak meniru sifat buruk ayahnya, nanti dia nggak manis lagi, yang ada dia jadi alien nggak jelas seperti alien shota. Kalau wajahnya sudah terlanjur datar, tidak apa-apa, itu masih bisa diperbaiki dengan latihan tersenyum di depan cermin tiap hari. Tapi, jangan jadi narsis juga seperti kakak ku.

Banyak sekali mau ku. Memangnya aku siapanya?

Diriku kembali mengingatkan.

"Maika, ayo sama papa saja ya. Jangan ganggu Kak Rin." Kak Kaito masuk, mencoba menarik anaknya mundur.

Kek Lenka diam saja, menyaksikan drama ayah dan anak.

Maika menggeleng kuat. "Hiks...Tidak mau. Papa jahat. Papa nggak peduli sama Kak Rin. Kan kasihan Pa. Kak Rin sedang sakit." Katanya di sela tangisnya.

Ya ampun... dia masih ingat saja insiden waktu itu. Padahal aku nggak sakit, cuman shock saja. Dan ternyata namanya Maika.

"Papa sudah minta maaf sama Kak Rin. Dia sudah memaafkan papa, ya kan?"

Kak Kaito menatap ku, meminta ku untuk berkerja sama dengannya.

Aku terkekeh. "Maika mau es krim tidak?" Tanyaku.

Maika menghapus sisa-sisa air matanya. Kemudian mengangguk imut. "Suka. Maika suka es krim strawberi."

"Kalau Ryota suka rasa apa?"

"Hn."

Aku meringis mendengar jawabannya yang sama persis seperti ayahnya.

Kapan-kapan mungkin aku akan berguru pada Len supaya mengerti maksud kata 'Hn' nya itu.

"Ryota suka rasa coklat." Kak Lenka membantu ku.

"Bisa Kak Kaito belikan? Es krim untuk Maika dan Ryota." Aku dan Maika sama-sama memasang wajah memohon.

Kak Kaito salah tingkah. Dia segera pergi ke supermarket terdekat.

Maika mengecup pipi ku kilat. "Semoga cepat sembuh Kak Rin."

Aku mencubit pipinya gemas dan dia tertawa renyah.

Kak Luka membuka pintu. "Ryota, Maika, main di luar dulu ya. Kak Rin mau minum obat." Katanya ramah sambil menurunkan Maika dari pangkuan ku.

Len masuk membawa segelas cairan merah. Kak Luka langsung meraih Maika yang hampir menerjang Len. Sementara Ryota sudah di gandeng Kak Lenka. Sekilas sebelum pintu tertutup, aku melihat mata kedua anak itu berubah warna kemerahan.

Merah?

"Minumlah."

Harus ya dia yang memberiku obat? Mengapa tidak Kak Luka atau Kak Lenka saja?

Kemana perginya Kak Rinto?

Aku menerima gelas yang Len berikan. Harum mint langsung menusuk indra penciumanku. Entah kenapa aku berpikir kalau rasanya pasti sangat lezat. Dengan tidak sabar, aku meneguknya sampai habis.

"Bagaimana?" Tanyanya.

"Tidak pahit." Jawabku, menyerahkan gelas yang sudah kosong. "Rasanya tidak seperti obat."

"Mau coba berjalan?"

Mau sih. Tapi, aku nggak mau jatuh di depannya. Bisa-bisa aku di tertawan. Eh? Memangnya dia bisa tertawa? Wajahnya saja datar begitu. Hahaha.

Aku menggeleng. "Tidak. Mungkin lain kali saja kalau Kak Luka sudah bilang aku oke."

Dia hanya mengangguk dan kemudian hening.

"Errr... bisa panggilkan Ryota dan Maika?" Pintaku.

Rasanya aneh berduaan dengannya di kamarku. Apalagi dia hapal setiap sudut benda-benda yang ada disini.

Apa dia tidak merasa risih?

Aku menunggu respon darinya. Tapi dia diam saja.

Ya ampun, bunuh saja aku sekarang juga kalau alien di hadapan ku ini tetap bertahan di posisinya.

"Kau mengusirku?" Tanyanya, datar.

"Tidak. Aku hanya kangen dengan Ryota. Sudah lama aku tidak main dengannya. Apalagi sekarang ada Maika yang imut." Bohongku. Berusaha untuk terlihat meyakinkan.
Len melihatku cukup lama sebelum mengangguk. Akhirnya, dia pergi juga.

Aku ingin membersihkan mulutku! Bohong itu mengeringan!

"Kak Rin!" Panggil Maika riang.

Dia berlari menghampiri ku dengan es yang hampir mencair. Kak Miku berjalan di belakangnya lalu membantu Maika menaiki kasurku. Gadis kecil itu langsung menyamankan dirinya di pangkuanku.

"Kak Rin mau tidak?"

Aku menggeleng. "Tidak. Aku lebih suka jeruk. Strawberi rasanya sedikit kurang pas."

Maika tertawa renyah saat aku memeluknya dan memberi kecupan singkat di pipi gembulnya.

Ryota berjalan pelan menghampiriku. Alisku mengkerut bingung dengan ekspresinya yang sedikit mengerikan. Mengelus leherku pelan, aku berpikir, apa aku sudah berbuat salah? Mengapa Ryota terlihat marah?

Aku mencoba mengajaknya main bersama Maika. Tapi, dia cuman diam saja. Ada apa dengannya? Tidak biasanya Ryota seperti ini.

"Maika, makan es krim nya sama mama ya. Ayo sini." Bujuk Kak Miku.

"Nggak mau, Maika mau sama Kak Rin. Sama mama kan udah tiap hari. Maika bosan." Jawab Maika jujur.

"Tak apa Kak Miku, Maika tidak berat kok." Aku mengambil tisu, mengusap lembut es krim yang mengotori pipi gembulnya. Makannya masih berantakan.

Kak Miku terlihat tidak enak, beberapa kali dia melihat ku dan Ryota. Sebenarnya aku juga nggak enak, bingung dengan sikap Ryota yang tiba-tiba saja menjaga jarak.

"Kalau begitu bagaimana kalau dengan Kak Rinto." Tawar Kakak ku tiba-tiba muncul di mulut pintu sambil melempar kedipan nakal.

Len memutar bola matanya malas dan masuk menghampiri Ryota.

"Papa bilang Maika nggak boleh dekat-dekat Kak Rinto, nanti tertular bodohnya." Jawabnya polos.

Aku tertawa melihat wajah shock Kak Rinto yang baru saja ditolak Maika. Rasakan.

Dia langsung berburu mencari Kak Kaito yang kata Kak Luka sedang menonton pertandingan sepak bola bersama Kak Gumiya. Kak Luka berjalan santai, menempatkan dirinya di sofa tunggal, menghadap kasurku.

Kak Miku masih mencoba membujuk Maika.

Len mendudukan Ryota di atas meja belajarku. "Bersabarlah sampai ingatannya kembali." Bisiknya.

Alisku terangkat heran saat mendengar bisikannya dengan jelas.

Aku jadi ragu yang tadi itu bisikan atau ucapan?

"Rin, coba deh, kamu yang bujuk Maika. Siapa tahu dia nurut."

"Sudahlah kak, Maika nggak nakal kok, ya kan?" Maika mengangguk sambil menjilati es krimnya.

Kak Miku terlihat putus atas lalu beralih pada Kak Luka yang asyik bersantai dengan secangkir kopi. Meminta bantuan. Kak Luka hanya mengedikkan bahunya acuh. Tidak peduli.

"Lihat apa yang kami bawa." Seru Teto diambang pintu masuk. Dia menunjukkan dua kotak pizza. Maika menjerit senang. Semua makanan berkadus di taruh di atas kasurku. Kak Miku, Kak Gumi, Kak Lenka dan Teto mengambil posisi dekat kasur ku, kami membicarakan banyak hal. Terkadang Maika protes karena merasa diabaikan. Kami pun tertawa mendengar celotehannya.

"Kau yakin dengan keputusanmu?" Telingaku tak sengaja mendengar suara Kak Luka.

"Kau yang bilang kalau dia butuh waktu." Lalu jawaban Len.

"Itu memang benar. Tapi, kau tidak bisa terus bertahan dengan darah hewan. Kau butuh darahnya. Memberi makan dua orang itu bukanlah tugas yang mudah. Jika keadaan ini terus berlanjut, kau bisa meracuni mereka juga. Pikirkan itu baik-baik. "

"Hn."

Ragu. Aku melirik kedepan, melempar senyum pada Kak Luka. Pura-pura mengajaknya bergabung bersama kami. Padahal aku cuman ingin memastikan kalau Kak Luka atau Len sudah berpindah tempat atau masih tetap di posisi masing-masing. Tapi, ternyata Kak Luka masih duduk sendirian disana, mengasingkan diri dari keramaian dan Len masih berada disekitar meja belajarku. Menemani Ryota.

Lalu bagaimana caranya mereka berkomunikasi?

Siapa yang mereka maksud? Dan mengapa aku bisa mendengar suara mereka?

Aku yakin mereka bicara dalam suara pelan.

Kak Miku, Kak Lenka, Kak Gumi dan Teto pun tidak menunjukkan tanda-tanda kalau mereka mendengarkan percakan Len dan Kak Luka.

Apa mungkin telingaku menjadi tajam semenjak pingsan di tengah hutan?

"Kalau kamu Rin?"

"Eh? Apa? Bisa di ulangi Kak."

Memikirkan itu, aku jadi tidak fokus.

"Kamu suka apa? Anak laki-laki atau perempuan." Ulang Teto gemas.

Pembicaraannya kok melenceng jauh ya dari masalah tren pakaian sampai anak.

"Umm... mungkin seperti Maika." Jawabku sambil memeluknya. Maika tertawa riang, senang dengan jawabanku.

Namun, entah mengapa aku merasa ada aura gelap di sekitar sini atau itu cuman perasaan ku saja?

"Dan Ryota tentunya." Aku tersenyum pada Ryota. Alisku terangkat satu, bingung melihat Ryota yang terlihat murung. Apa dia tertular penyakitku?

Kalau nggak salah, Kak Luka pernah bilang, kalau anak kecil mudah sekali tertular penyakit.

"Meika sama mama saja ya." Pintaku.

"Kenapa? Kak Rin sakit lagi?"

"Ah, tidak." Ayo cari alasan. "Aku hanya ingin ke air saja."

Lalu bagaimana caranya aku menuju toilet?

Teto terbatuk-batuk.

"Rin... kau..."

"Hehe."

.

.

.

To Be Continue

.

.

.

Ya-hoo, untuk chapter selanjutnya, mungkin agak lama, atau sangat lama ~ / oi

Update satu chapter untuk tiga judul ff yang berbeda secara sekaligus cukup menguras imajinasi ternyata /tepar

Oh, iya, buat Mikan-chan X3, ku pinjam ya nama anak untuk MikuxKaito dan makasih buat yang sudah ngasih usul, maaf kalau nggak bisa dipakai karena mereka baru punya anak satu /udah jelas ini/ dilempar/

Intinya, makasih sudah membaca sampai sejauh ini ~

Sampai jumpa di chapter selanjutnya.

-Aixa Tangerina-

01/10/2017