Naruto©Masashi Kishimoto.
RATE : M
WARNING :LEMON. TYPO(S), AU, OOC, ALUR CEPAT, DRAMA BERANTAKAN DAN YANG PENTING JANGAN PERNAH MEMBACA APAPUN YANG TIDAK KALIAN SUKAI. ^_^ *WINK*
SAYA INGATKAN SEKALI LAGI, SAYA ADALAH SEORANG PENGEMAR YAMANAKA INO.
~Last Heaven~
Sasuke memutuskan berguling ke kanan, dan membawa Ino bersamanya. Kini Inolah yang berada diatas tubuh Sasuke.
Ino melebarkan mata birunya, dengan tindakan Sasuke, yang menurutnya tak nyaman ini. bagaimana bisa ia mengatakan nyaman, saat tubuh polosmu terlihat dari sudut manapun, belum lagi posisi mengangkang Ino membuat area basahnya bersentuhan langsung dengan perut six pack bawah Sasuke.
Tanganya ia letakan pada dada bidang pria yang kini tersenyum kearahnya. Hal itu semakin membuat Ino menggigit bibir bawahnya hanya untuk mengurangi ketidak nyamanannya.
Sedangkan tangan Sasuke berada di pinggang belakangnya sedang membelainya pelan. Cukup lama dalam posisi itu, membuat Sasuke begitu mengagumi sosok yang terpahat sempurna yang kini sedang ada diatasnya.
"Kau tidak ingin bergerak?" Ucap Sasuke mencoba menggona Ino dengan seringai yang nyata ia tunjukan. "Kalau aku yang bergerak, aku tidak akan membiarkanmu untuk sekedar beristirahat."
Ino mengerucutkan bibir dibuatnya.
Namun respon yang ditunggu oleh Sasuke tak kunjung ditunjukan oleh Ino, hal itu membuat Sasuke menarik tangan Ino yang masih setia bertumpuh pada dada bidangnya.
Tarikan kecil itu mampu membuat Ino ambruk kedepan, semakin dekat tubuh mereka menempel dengan Ino yang masih ada diatas tubuh Sasuke.
Tak menunggu waktu lama, segera setelah wanita yang ada diatasnya ambruk kedepan karena tarikannya, Sasuke langsung melumat bibir merah muda alaminya.
Membawa tangan besarnya kebelakan kepala bersuarai pirang dan menekankannya disana. Sebuah ciuman panas kembali mereka mulai.
Cukup lama dengan suara desahan yang megiringi setiap panggutan yang mereka lakukan. Dengan lamanya waktu yang mereka lewati hanya sebatas ciuman panas, karena Ino masih bersikeras engan bergerak, hal itu tentu membuat Sasuke sedikit kecewa.
Atau mungkin saja ia lupa, bahwa wanita yang ada diatasnya ini bukanlah Karin. Ia menyeringan saat seketika itu ia mengingat wanita bersurai merah yang selalu bembuatnya geleng kepala.
Ciuman panas mereka, Sasuke akhirnya. Namun masih enggan menjauhkan wajah Ino dari atasnya.
Namun belum sempat Ino bertanya, Sasuke langsung membanting tubuh Ino kesamping diikuti oleh dirinya yang kembali berguling. Kini posisinya kembali berubah, dengan Sasuke yang berada diatas tubuh Ino.
Sebelum Sasuke memulai hal yang tak pernah tau kapan akan berakhir itu, ia kembali mendekatkan wajahnya untuk mencium kening wanita cantik yang ada dibawanya.
Ciuman singkat, untuk awal yang akan Sasuke mulai. Sebelum dibukanya kaki jenjang sang wanita hanya untuk mempermudahkannya untuk memainnya jari-jarinya kedaerah sensitif yang telah sepenuhnya basah.
Satu jarinya telah berhasil bermain didalam Ino. Sehingga membuat tubuh wanita itu mengeliat tak nyaman karena ulahnya.
"Ssa-su-kehh-ehh." Desahan dan cengakraman pada seprai yang menjadi pelampiasan Ino. Bahkan saat Sasuke menmbahkan satu jari lagi, hal itu membuat seketika tulang-tulangnya meluruh.
Mata sayunya masih bisa melihat pria diatasnya mennyunggingkan seringai dengan menatap pemandangan dirinya yang sedang sangat kacau. Ia tau Sasuke yang memulai, maka ia harus siap bila pria itu tak memberinya waktu untuk sekedar menarik napas.
Kini setela dua jarinya tela ditarik oleh Sasuke, membuat Ino menggigit bibirnya, antara kecewa dan lega, tapi Sasuke semakin menarik jauh kedua paha Ino dengan berbisik tepat ditelinga wanitanya.
"Aku mulai, bersiaplah." Dengan seringai jahat yang tak diliat oleh wanita bermanik biru laut itu.
"Akghh..." Desahan cukup keras Ino keluarkan ketika Sasuke berhasil memasuki tubuhnya sepenuhnya.
Kini bukan hanya seprainya yang menjadi korban cengkraman tangannya tapi rambut pria diatasnyapun tak luput dari cengkramannya. Dan membawa tubuhnya semakin mendekap Sasuke.
Sakit yang ia rasakan diawal, lambat laun berganti dengan kenikmatan yang Sasuke berikan, saat perlahan pria itu mulai bergerak pelan. Dari gerakan pelan yang Ino rasakan, berubah menjadi gerakan liar yang di tawarkan oleh pria bermata kelam diatasnya.
"Sa-su-hh-ber-hen-ti-pe-lanhh." Ino merancau, bahkan ia tak dapat memahami apa yang ia ucapkan dan apa yang ia ingin sebenarnya dari pria ini.
Sasuke hanya semakin menyeringai dengan setiap respon wanita yang ia cintai. Ia tau mungkin Ino sudah mulai mendekati puncak, karena itu ia memutuskan memelankan gerakannya, hanya untuk memberi waktu Ino untuk menikmatinya. Memuaskan wanita ini adalah prioritas utamanya.
Saat untuk pertama kali di malam itu, Ino mendapatkan puncak kenikmatan yang diberikan oleh Sasuke. tubuhnya semakin mendekap Sasuke dengan melungkung keatas, dan jari-jarinya yang semakin menancap pada punggung sang pria.
Setela dirasa, Ino telah rileks kembali, Sasuke perlahan mendongak untuk sekedar menatap wajah kacau dibawahnya. Namun tatapan itu hanya sejenak, karena tak berhenti disitu. Bibir berwarna merah muda yang sedikit terbuka itu langsung diraup oleh Sasuke dengan membawa tangan Ino yang berada di punggungnya kesisi kepala pirang itu. Ia mencengkram erat tangan sang wanita agar tak banyak bergerak dengan tindakan yang akan ia lakukan selanjutnya.
Tanpa tau apa yang kini mungkin sedang dipikirkan oleh wanitanya. Mungkin saja dari gerakan liar itu, bisa membuat guncangnya yang mengakibatkan janin yang masih sangat mudah yang ada di rahimnya juga ikut meluruh bersama dengan setiap inci tulang Yamanaka Ino yang kini sedang dirasakannya.
Semakin mendekati puncaknya, Sasuke semakin bertambah liar. Cairan miliknya telah memenuhi rahim yang telah dibuahi sebelumnya dengan bebas. Saat itulah gerakannya mulai memelan. Tangannya masih mencengkram kedua tangan Ino tamun tak lagi erat dan ia mulai menjatuhkan kepala bersurai ravennya kesisi kiri leher jenjang Ino. Ia mengatur napasnya disana yang tak teratur.
Ino perlahan melepas cengkraman pada tangannya, namun hanya satu tangan untuk ia pindahkan pada punggung tegap Sasuke. Ia membelainya lembut punggung yang masih naik turun karena napas yang tak teratur.
Dengan belaian itu, perlahan tubuh Sasuke rileks, dan mulai memberi kecupan ringan pada leher jejang wanitanya.
Cukup lama mereka dengan posisi itu tanpa diisi dengan satu suarapun, sampai membuat Sasuke sedikit terserang kantuk karena kenyaman yang diberikan oleh Ino.
Karena tak ingin membuat Ino lebih lama lagi menahan berat tubuhnya yang mungkin bisa menyakiti sang wanita Sasuke memutuskan mendongak dan mencium pipi kiri Ino sebelum ia kembali berguling dan kembali membawa Ino.
Kini posisinya kembali berganti dengan Ino yang kembali berada diatasnya. Namun berbeda dengan yang pertama, Sasuke menahan tubuh Ino untuk bangun, ia mendekap erat tubuh kecil diatasnya, dan menyandarkan kepala pirang wanitanya ke dada bidangnya. Dengan posisi mereka yang masih menyatu.
"Sasuke?" Pangil Ino lirih, namun tetap diabaikan oleh sang Uchiha.
"Biarkan seperti ini, tidurlah, aku mengantuk." Ucap Sasuke menanggapi panggilan Ino, sebelum memberi kecupan pada puncak pirang wanita yang ada diatasnya.
Merasakan tubuh Ino yang semakin melunak, dan napasnya menjadi teratur seperti dirinya. Untuk sesaat sebelum Sasuke jatuh tertidur.
Ino masih terjaga pada pelukan nyaman yang Sasuke berikan, pikirannya kembali memikirkan banyak hal, tentang kemungkinan yang akan terjadi dan yang telah terjadi.
Ia baru saja mendapat madu dari pria ini, tapi ia juga harus menumpahkannya sekarang, karena apa yang ia inginkan memang bukan untuk selamanya. Hanya untuk terakhir, sebelum semua ini berakhir. Ia harus melukai pria ini dan juga dirinya sendiri.
Saat Ino terbangun, posisinya sudah berpindah, ia meringkuk dengan memunggungi pria itu dan kini tangan Sasuke yang mendekapnya dari belakang dengan selimut tebal yang menutupi tubuh polos mereka. Mungkin Sasuke memindahkan posisi mereka setelah ia tertidur tadi malam.
Tadi malam?
Ino sontak melebarkan matanya kaget, sesaat panik. Mencoba mencari pentunjuk pekul berapa sekarang. Melalui jendela kaca besar yang tak tertutup tirai, ia bisa melihat garis merah halus disepanjang ufuk timur kota Tokyo, itu kenyataan ia harus segera pergi sekarang. Perlahan ia melepas tangan yang memeluknya dan menyibak selimut tebalnya.
Memunggut gaun dan mantel yang tadi malam sempat ia kenakan, untuk mulai memakainya kembali. Setelah ia dengan pakaian lengkap yang menutupi tubuhnya, Ino berjalan kearah jendela kaca besar yang menyuguhkan pemandangan kota yang sangat indah, dengan lampu-lampu kota yang masih menyala mengagumkan.
Setelah lama mengamati pemandangan kota Tokyo, kini ia menolehkan kepala pirangnya ke tempat tidur. Pria tampan dengan onyx yang masih terpejam, berada disana. Ino tersenyum melihatnya, senyum getir.
Ia memutuskan berjalan mendekat, menarik laci nakas yang berada disisi ranjang. Ino menemukan apa yang ia cari disana, secarik kertas note dan bolpoint. Mulai menuliskan sebuah pesan singkat.
'Selamat tinggal, terimakasih telah memberikan Surga terakhir yang luar biasa.'
Meletakan note itu disisi nakas yang mungkin mudah untuk diliat Sasuke. Setelah itu Ino kembali menatap lama wajah tenang yang terpahat sempurna tanpa celah yang mata masih terpejam dan napas yang teratur. Berharap Sasuke mendapatkan tidur nyamannya.
Ino tersenyum, lalu mulai mendekatkan wajahnya dengan sedikit membungkuk ketempat tidur, memberi kecupan lembut pada pelipis atas Sasuke. "Aku tak akan pernah bisa melupakanmu Sasuke." Kata Ino berbisik. Dalam hati ia juga berharap untuk Sasuke tidak melupakannya, tapi ia tak bisa mengatakannya. Karena mereka hanya dua orang pendosa yang berharap sesuatu yang indah terjadi diakhir.
~Last Heaven~
Sasuke terbangun karena sinar Matahari yang mulai meninggi telah mengganggu tidur nyamannya. Mata sekelam malam itu pun terbuka perlahan, sebelum menoleh kesisi ranjang. Kosong, ia tak menemukan wanita yang ia cari, Yamanaka Ino tak ada disisinya.
Ia bergegas bangun, dan membawa pandangan matanya menyusuri setiap sudut kamar, berharap wanita yang ia cari ada disalah satunya, tapi hasilnyapun nihil. Kini pandangan matanya tertuju pada kamar mandi, cukup lama ia mengamati pintu kamar mandi yang tertutup itu, namun tak ada tanda-tanda Ino ada didalamnya.
Jadi kemana wanita itu? Menoleh kearah jendela kaca besar yang menyuguhkan birunya langit kota Tokyo, dari suasana itu dan telah meningginya Matahari, Sasuke bisa menilah, bahwa hari sudah sangat siang.
"Sial!" Ia mengumpat.
Sebenarnya dimana Ino sekarang? Dalam benaknya masih dipenuhi tentang keberadaan wanita yang ia cintai itu. Sampai ia memutuskan untuk merinsek menurunkan kakinya dari ranjang. Namun ia urung berdiri setelah mata onyxnya menangkap sebuah note diatas nakas yang tepat berada disisinya.
Matanya memicing mengamati satu deret kalimat yang tak terlalu panjang, namun ia butuh beberapa kali membacanya untuk menyakinkan otaknya akan makna yang ia dapat dari kalimat yang tetulis di note.
Kini tanpa sadar, kertas yang ada ditangannya itu telah ia remas kuat sampai rasanya melukai tangannya sendiri. Rahang tegasnya pun ikut mengeras seiring giginya yang saling bersinggungan. Jelas kini Uchiha bungsu itu tengah menahan amarahnya.
Jadi Ino benar-benar pergi? Inikah yang dimaksud Surga terakhir yang wanita itu minta?
Lalu sekarang apa yang harus Sasuke lakukan? Mencarinya? Kemana? Rumah Yamanaka?
Tak ingin berpikir terlalu lama, Sasuke segera mengambil kimono yang sama yang ia kenakan kemarin dan langsung memakainya dengan cepat. Dan segera setelah itu pria dengan rambut yang kini tak lagi mencuat kebelakan itu keluar, meninggalkan kamar.
Kalimat selamat tinggal yang tertulis dikertas yang masih ia genggam itu akan mebawanya pada takdir yang mungkin sudah menunggunya didepan. Entah itu ia akan mencari dimanapun keberadaan sang wanita atau mungkin memilih melepaskan yang berarti melupakannya.
Namun sekarang yang ia inginkan adalah pulang. Sebenarnya sampai saat inipun Sasuke masih belum mengerti apa yang benar-benar diinginkan oleh Ino.
Bercinta dengannya lalu meninggalkannya seprti ini? Apa benar Ino tidak pernah mencintainya? Apa dihati wanita itu hanya ada sang kakak, Itachi?
Sesampainya dikediaman Uchiha, seluruh keluarganya telah menunggu, ah tidak, sepertinya bukan hanya keluarganya, tapi disana ia bisa melihat Hinata, dan sepertinya seluruh keluarga besar Hyuga juga ada disana.
Sasuke masih diam, jadi mereka masih tetap bersikeras ingin ia menikah dengan Hinata? Ia mendengus kemudian.
Melihat kedatanganya, sang ibu langsung menghampiri dan berkata. "Sasuke, Ibu mengkhawatirkanmu." Tangan sang ibu sudah membelai lembut lengannya.
Namun ia harus mengabaikan perhatian ibunya. Kini ia semakin berjalan mendekat ke tempat dimana dua keluarga besar itu sedang berkumpul.
"Baguslah, Uchiha dan Hyuga sedang berkumpul disini, jadi aku hanya perlu menegaskan sekali sekarang, disini." Ia berucap setelah ia berdiri cukup dekat dengan dua keluarga besar itu.
Semua mata menatapnya, menanti kelanjutan dari pengumuman yang akan Sasuke sampaikan. Dengan raut wajah yang berbeda-beda.
Terlihat bungsu Uchiha itu menghela napas sejenak, sebelum kembali bersuara. "Aku Uchiha Sasuke, menolak perjodohan ini." Mata onyxnya menatap pada sang ayah dan kakeknya. "Dan aku sudah memutuskan, tidak akan menikah." Rampungnya.
Terlihat, orang-orang yang berada disana menunjukan raut wajah berbeda-beda. Tentu raut kekagetan jelas terlihat pada Hyuga Hiyashi, kepala keluarga Hyuga itu melebarkan mata mutiaranya, lalu memincing mendengar kalimat dari bungsu Uchiha.
Lalu Hinata? Gadis itu semakin menundukan wajahnya, antara takut, kecewa dan entah apa lagi.
Raut berbeda ditunjukan oleh Madara, kakeknya itu tak menunjukan ekspresi, bahkan saat Fugaku mulai membentak Sasuke, sang kakek menahannya. Namun kakeknya itu masih diam, tak memberi taggapan. Tidak marah padanya ataupun tidak juga mendukungnya.
Suasana menjadi hening. Karena mereka diam, itu dianggap Sasuke sebagai pemahaman dari mereka jadi Sasuke tak perlu lagi menjelaskan panjang lebar alasannya. Sang bungsu Uchiha itu memutuskan untuk pergi dari tempat itu, meninggalkan kumpulan dua keluarga yang masih saling diam.
Keputusan telah ia buat, untuk pertama kalinya dalam hidup, seorang Uchiha Sasuke bersumpah pada dirinya sendiri bahwa ia hanya akan menikah dengan orang yang ia cintai, yaitu Yamanaka Ino, dan bila wanita itu menolahknya bahkan sampai mencampakannya seperti ini, maka ia tidak akan pernah menikah dengan siapapun. Tidak juga dengan Hinata.
Dengan itupun dia sudah memutuskan, bahwa ia akan membuang keinginan untuk memimpin klan Uchiha seperti yang ia harapakan sejak dulu. Tidak, ia tidak ingin menyandang status itu sekarang.
Dia tak perlu menjadi pemimpin untuk hanya sekedar diakui oleh keluarganya, karena selama ini ia sudah cukup menjadi orang brengsek yang kemudian menyesal sekarang. Bukan berarti ia ingin menjadi pemimpin brengsek, hanya saja ia ingin mengendalikan Uchiha. Klannya sendiri, tapi sepertinya sekarang itu tak perlu. Bukan itu sekarang yang paling ingin ia capai.
Ia juga bukan pria tolol yang akan begitu saja tunduk dengan seorang wanita seperti halnya yang dilakukan oleh kakaknya, ia akan menunggu tanpa berlutut dan memohon untuk mendapatkan seorang Yamanaka Ino.
Biarkan wanita itu bertingkah sekarang. Mengambil dan menklaim apa yang wanita itu inginkan darinya tanpa peduli resiko dan dampaknya.
Ino dengan seenaknya meminta dan memberi tanpa berpikir jangka panjang yang mungkin akan terjadi kepada mereka berdua. Mungkin saja setelah semuanya selesai wanita itu bisa dengan mudah melupakannya, tapi tidak untuk Sasuke.
Waktu dan takdir yang akan menjawab semua itu. Seperti takdir yang telah mempertemukan mereka maka takdir pulalah yang akan berperan dalam menentukan akhir kehidupan mereka.
Mata onyx itu terpejam, lelah yang ia rasakan bukan hanya fisik, tapi hati dan mentalnya sedang tidak dalam kondisi baik. Ucapan 'sayonara' yang tertulis di note tadi pagi masih terlalu sulit ia terima. Kenapa ia tidak terbangun saat Ino bangun? Mungkin saja, seandainya ia menyadari kepergian wanitanya pagi tadi ia bisa mencegahnya, tapi benarkah ia bisa mencegah keputusan yang telah diambil oleh wanita keras kepala itu?
Sekarang apa yang harus ia lakukan? Mencari dan menemui Ino? Ya, dia bisa melakukan itu nanti. Selama meraka masih ada di Jepang, maka Sasuke juga tak akan beranjak dari negara ini.
~Last Heaven~
Empat tahun telah berlalu, dan selama waktu itu pula, Sasuke habiskan untuk tinggal di negara yang menjadi kebangsaannya, Jepang. Negara para samurai itu telah menjadi saksi bahwa ia masih setia menunggu seorang wanita yang sampai sekarang masih belum ia ketahui keberandaanya. Seolah menghilang ditelah oleh hiruk pikuk keramai Tokyo.
Beberapa kali ia juga telah mencari ke rumah sakit tempatnya dulu ia praktek, mencari ke kediaman Yamanaka dan sampai kerumahnya yang telah lama ditinggalkan. Namun hasilnya nihil, ia tak pernah lagi bertemu dengannya.
Mungkin ucapan selamat tinggal waktu itu, benar sebagai tanda, bahwa ia tidak akan bisa memiliki apa yang pernah dimiliki oleh kakaknya dan yang paling ingin ia miliki sekarang didunia ini.
Pria berumur tiga puluh satu tahun itu berkali-kali tersenyum mengejek dirinya sendiri. Apa yang ia lakukan selama itu? Hanya menghabiskan waktu kosongnya dibisnis keluarganya.
Dan sekarang ia menyerah? Benarkah?
Ya, anggap saja seperti itu. Dan biarkan sekarang ia merindukan tempat dimana ia menghabiskan masa remajanya dan seorang wanita yang selalu menemaninya. Boston dan Karin Smith. Sayangnya wanita itu telah lama pindah ke Los Anggles untuk berkarir, namun tadi waktu Sasuke mengatakan bahwa dirinya berada di Boston, wanita berambut merah itu langsung mengatakan ia akan segera kesana. Dan benar saja, sekarang Karin, wanita sexy itu telah mengembangkan senyum kearahnya.
"Merindukanku, eh tuan Uchiha?" Senyum angkuhnya semakin mengembang, diambang pintu apartemen milik teman prianya.
Entah sudah berapa lama, mereka tak bertemu, setelah yang terakhir, nungkin setelah kunjungannya ke negara Matahari terbit dulu. Sekitar delapan semester mungkin. Yang pasti ia sudah tak terlalu mengingatnya.
Yang jelas, sekarang pria yang membukakan pintu di depannya ini jauh dari kata pria yang dulu ia kenal dekat. Dari penampilan rambut dan ketegasan wajah yang menunjukan semakin dewasanya sosok itu. Dan tentu saja semakin tampan.
Apartement itu masih sama, rapi dan bersih, Karin tau meski sudah lama tak dihuni, tapi sudah dipastikan bahwa kebersihannya terjaga. Hanya sedikit ia mengamati apartemen yang dulu sering ia kunjungin itu, setelah ia masuk kedalamnya beberapa menit lalu.
Sekarang fokus netranya ia arahkan pada sang pria yang kini tengah menyerahkan minuman dingin kearahnya.
Karin menerimanya, tapi sepertinya ada yang kurang. Ia tidak melihat wanita yang dibicarakan oleh sahabatnya dulu? Apa Sasuke datang sendiri?
"Kau datang sendiri?" Tanya Karin langsung.
"Menurutmu?" Sasuke yang sudah duduk di sofa, dan balik bertanya.
Karin hanya mengidikan bahu menatap sosok pria yang tengah duduk itu. "Kau tak mengajak istrimu?" Ia menjeda sejenak untuk melihat tanggapan Sasuke tapi pria itu masih diam. "Maksudku wanita yang dijodohkan denganmu atau mungkin janda yang kau ceritakan, kau tidak mengajaknya?" Ia kembali melanjutkan pertanyaannya.
Bukankan setaunya kepulangan Sasuke ke Negara asalnya itu untuk menikah dengan wanita yang telah dipilihkan oleh keluarganya? Dan ditambah lagi bukankah Sasuke juga mengatakan padanya bahwa ia telah jatuh cinta dengan seorang wanita yang berstatus janda. Yang sempat membuat Karin tak terima karenanya.
Dan bukankah ini sudah empat tahun dari cerita itu, dan dalam waktu seribu empat ratus enam puluh hari itu seharusnya pernikahan mereka sudah dilaksanakankan? Jadi ia salah bila melihat Sasuke seorang diri disini?
Sasuke masih diam, Karin-pun juga ikut diam karenanya. Merasa pertanyaannya mungkin sedang tak ingin dijawab oleh yang bersangkutan.
Terlalu lama dalam kesunyian dan Karin sudah terlalu lelah berdiri menunggu jawaban yang tak kunjung meluncur dari Sasuke, ia memutuskan mendekat, bermaksud untuk duduk dan mengabaikan pertanyaannya, namun suara Sasuke membuatnya berhenti ditempat.
"Dia meninggalkanku."
Mata yang berbingkai kacamata itu berkedut karenanya. Dia? Meninggalkan Sasuke? Siapa? Janda itu kah?
Namun tak ada keterangan lebih lanjut dari Sasuke. Karin mencoba tersenyum dan duduk disampingnya, setelah meletakan kaleng soda yang baru ia minum sedikit diatas meja.
Karin tak tau, ia harus memberi tanggapan seperti apa, jadi biarkan Sasuke yang mulai bercerita sendiri.
Sasuke menatap wanita yang duduk disampingnya lalu menghembuskan napas pendek. Teman wanitanya ini tak pernah berubah.
"Apa?" Karin bertanya, setelah melihat Sasuke menatapnya. "Apa karena wanita itu meninggalkanmu sekarang, jadi kau datang padaku begitu?" Candanya.
Sasuke hanya tersenyum miring, sebelum kembali menatap layar ber inci besar didepannya yang sejak tadi menampilakan acara yang sebenarnya ia tak tau apa yang sedang ia tonton, tak minat lebih tepatnya.
"Ini sudah tahun keempat dia pergi meninggalkanku, benar-benar meninggalkanku. Dia menolakku Karin." Terang Sasuke yang terdengar penuh beban pada setiap kalimatnya.
Mata berwara merah itu melebar sebelum kemudian menyimpit, menatap teman pria disampingnya. Jadi Sasuke ditolak? Tidak bisa dipercaya.
Empat tahun? Dan Sasuke tidak memberitaunya apapun selama itu? Temannya yang ia lihat sekarang sudah jauh dari kata Sasuke yang ia kenal dulu. Ia terlihat rapuh. Tapi kenapa, kenapa wanita itu bisa menolak Sasuke? Karena Karin berani bersumpah bahwa tidak ada wanita di dunia ini yang mampuh menolak sosok Uchiha Sasuke.
Tangannya mengusap lembut bahu kokoh yang kini seolah terlihat rapuh yang hanya berlapis kemeja.
Apa Sasuke bisa sehancur ini atau karena juga efek lelah sehabis perjalanan yang baru beberapa jam lalu ia tempuh?
Wanita berkaca mata bening itu mencoba tersenyum. "Mungkin dia terlalu bodoh untuk melihat pesonamu Sasuke." Tangannya masih setia mengusap bahu sahabatnya.
Sampai kepala bersurai yang tak lagi melawan gravitasi milik Sasuke terkulai di bahunya. Entah apa kata yang tepat untuk mengambarkan hubungan mereka, Sasuke sudah Karin anggap sebagai adik, kakak, saudara, teman bahkan sahabat. Karena kedekatan merekan sudah melebihi sepasang kekasih.
Namun selama itu ia mengenal Sasuke, sekalipun Karin tak pernah melihat Sasuke seperti ini.
"Bahkan aku telah siap memberikan segalanya untuknya, tapi dia lebih memilih meninggalkanku dan tak pernah kembali."
Tangan Karin telah mengusap lembut surai Sasuke.
"Aku benar-benar mencintainya."
Dengan kekalutan hati yang selama ini ia pendam sendiri, kini hanya pada wanita inilah Sasuke siap menumpahkannya. Dan setelah ia bisa bercerita, beban dalam hatinya seolah menguap.
Merasa nyaman dengan posisinya yang masih menumpuhkan kepalanya pada pundak sang wanita.
"Kau tidak pernah mencarinya?" Tanggapan Karin berikan.
"Sekalipun aku berlutut dia tidak akan mau kembali."
Karin melirik wajah yang terkulai dipundaknya saat mendengar kalimat Sasuke yang baru saja diucapkan. Kenapa tanya benaknya dan mulutnya pun menyuarakannya.
"Kenapa? Apa kau telah membuat kesalahan?"
Sasuke tersenyum miring, kemudian mengankat kepalanya dari bahu Karin.
"Kesalahan terbesarku adalah karena aku adik Itachi, orang yang paling ia cintai."
Jawaban yang tak sepenuhnya bisa di mengerti oleh wanita berambut merah itu membuat ia memandang pria didepannya yang juga tengah memandangannya.
Apa maksud Sasuke, wanita itu adalah istri Itachi? Ahh ralat janda dari kakaknya? Sungguh Karin ingin sekali tertawa anggun kali ini, bila saja keadaan mereka tidak sedang berkabut seperti ini.
"Jadi dia adalah janda dari kakakmu?"
Tidak ingin memberikan jawaban untuk pertanyaan yang diutarakan oleh sang wanita berkaca mata itu.
Dan setelahnya hanya diisi oleh pikiran mereka masing-masing, sunyi sampai tak terasa waktu telah menunjukan sore hari.
"Padahal aku ingin sekali menginap, tapi besok aku ada pemotretan pagi. Jadi?" Karin mengantungkan kalimatnya.
"Aku tau." Respon Sasuke yang kini tengah mengantar temannya ke basemant apartementnya.
"Setelah aku free, aku akan kesini. Kau akan lama kan?" Tanya Karin yang sudah duduk di jok kemudi.
"Entahlah."
Karin hanya angguk-angguk. "Baiklah, bye!"
Mobil yang ia kemudikan melaju perlahan yang hanya menyisakan Sasuke diruang bawah tanah itu.
~Last Heaven~
Delapan semester, seribu empat ratus enam puluh hari telah Ino lewati untuk menyeselaikan studynya di Harvard, Boston. Yang itu tandaanya selama itu pula ia hidup berpisah dengan sang putra yang harus tinggal di Jepang bersama orang tuanya.
Mencoba berperang dengan batinnya selama empat tahun, untuk melupakan sosok yang sejujurnya tidak pernah bisa ia lupakan. Apalagi ditambah dengan hadirnya sosok perempuan kecil hasil benih pria itu membuat ia kuat sekaligus rapuh secara bersamaan. Tapi ia tidak ingin gagal dan menambah masa studynya yang berarti juga menambah jangka waktu perpisahannya dengan sang putra pertama yang mungkin kini telah berumur sebelas tahun.
Sungguh waktu begitu cepat berlalu. Hari ini, ia telah menyelesaikan ujian prakter terakhirnya. Dia mengambil Spesialis Emergency, yang pagi tadi ia telah melakukan tindakan operasi emergency pertamanya dan dinyatakan berhasil dengan pasien kecelakaan.
Setelah menyelesaikan segala urusannya di rumah sakit Universitas yang sampai sore hari bersama teman-temannya seangkatannya keinginan Ino adalah pulang cepat karena hari ini putranya akan datang. Dan tentu saja ia sangat merindukannya.
"Kita harus merayakannya, kau akan ikut kan Ino?" Tanya seorang teman berwajah khas Amerika. Memang kebanyakan temannya berasal dari Negeri Paman Sam itu.
Ino tersenyum sebelum menjawab. "Sorry, putraku akan datang hari ini."
Ya, dan semua temannya mengerti akan hal itu. Pasti wanita berdarah Jepang yang lebih mirip wanita eropa itu akan memilih menghabiskan waktunya bersama sang putra karena putranya tinggal di Negara asalnya. Teman-temannya paham.
"Pasti kau sangat merindukannya?" Komentar yang lain. dan hanya ditanggapi dengan senyum oleh yang bersangkutan.
"By the way, setelah ini apa kau akan kembali ke Jepang?" Tanya seorang temannya lagi. Kini mereka telah sampai di parkiran mobil.
"Entahlah, maybe." Karena memang ia tidak tau akan dimana ia tinggal, yang pasti ia hanya ingin bersama kedua anaknya. Tidak terpisah seperti ini.
Mobil yang membawa empat wanita yang bertitle dokter spesialis itu melaju perlahan menjauh dari area rumah sakit. Dengan tujuan yang berbeda.
"Sara, kau turunkan saja aku di Gereja induk depan." Ucap Ino setelah melihat sebuah Katedral yang menjulang tinggi. Sebuah Gereja yang selalu ia datangi selama ia tinggal di kota itu.
Mobil yang dikendarai oleh salah satu temannya menepi.
"Kalian tak perlu mengantarku sampai apartement, aku akan naik taxi setelah ini." Ucap Ino sebelum turun.
"Kau serius?"
Wanita Jepang berambut pirang sebahu itu mengangguk.
"Baiklah, kalau begitu sampaikan salamku untuk Hime dan Hiko ya."
Hime dan Hiko Yamanaka adalah nama kedua anaknya. Tak perlu kaget, teman-temannya telah mengetahuinya bahkan mereka sangat dekat dengan si kecil Hime.
Ah satu lagi, beberapa hari sebelum ujian penanganan pasien pertamnya, Ino memutuskan untuk memotong rambut panjangnya, sebahu. Tidak ada tujuan tertentu hanya dia merasa repot bila harus berambut panjang saat di meja operasi nanti.
"Ok, bye." Kemudian Ino keluar dan berjalan menuju Gereja yang terletak dipinggir jalan itu. Suasananya sepi, tentu saja karena memang sedang tidak ada acara di Gereja itu.
Berdiri menautkan tangan di depan dada. Dihadapan sebuah salib besar didalam bangunan Gereja. Ino berdoa disana, rasa syukur dan terimakasih ia ucapkan pada Tuhan bagi kepercayaan umat Katolik itu.
"Tuhan, aku tau selama ini, aku telah banyak meminta. Tapi aku tidak pernah menginkari janjiku bukan?" Ucap Ino pelan dengan bahasa Jepang.
"Begitupun denganmu, kau tidak akan pernah inkar janji?" Mata biru lautnya menatap sosok yang tersalib didepannya. "Kau mejanjikan Surga untuk manusia yang taat padamu." Sejenak ia menghela napas sebelum menambahkan. "Dan sekarang aku datang padamu, untuk menukar Surgaku yang kau janjikan."
Ino sudah menetapkan hatinya. Ia tau hidupnya tidak bisa ia kendalikan selain campur tangan dari Tuhan. Dia berada disini sekarang itupun karenaNya.
"Aku ingin menukarnya, dengan kebahagianku di dunia. Ijinkan aku bertemu dan menghabiskan sisa hidupku dengannya Tuhan. Aku ingin bertemu dengannya." Monolok seorang dirinya membuat air matanya jatuh dari pelupuk matanya.
"Aku sangat merindukannya."
~Last Heaven~
Sore kedua Sasuke habiskan untuk berjalan-jalan dengan mobil di kota yang dulu ia habiskan untuk masa remajanya. Apa yang sebenarnya ia cari disini? Ia tidak tau, selain hatinya yang memintanya kemari. Mungkin dulu ia akan lebih memili Las Vegas untuk berlibur dari pada berkunjung di kota Boston. Tapi sekarang, meski tidak ada yang ia cari dan lakukan di sini. Ia tetap tak pergi dari kota itu.
Paling tidak ia ingin berjalan-jalan sebentar sebelum ia memutuskan kembali ke Jepang.
Sebuah Gereja dengan background lembayung senja bertengger dilangit barat membuat Sasuke berhenti untuk sejenak memandang bangunan agung itu. Seumur-umur dan seingatnya, selama ia habiskan masa remajanya di kota ini dulu, ia tidak pernah mengunjunginya. Karena Sasuke bukan orang yang percaya dengan keyakinan orang-orang Katolik itu. Tidak pernah percaya dengan adanya Tuhan dalam hidupnya.
Namun kali ini entah kenapa bangunan yang menjadi tempat ibadah kaum Katolik itu mencuru sepenuhnya attention-nya.
Sebelum memutuskan untuk turun, pria dewasa itu bergumam. "Aku tidak pernah percaya padaMu, tapi kalau Kau memang memiliki keajaiban itu tunjukkan padaku." Tantangnya.
Kaki bersepatu berjalan pelan memasukin Gereja dengan tangan yang ia sembunyikan kedalam saku celana.
Deg!
Belum sampai pada tengah Gereja, langkahnya terhenti. Mata onyx-nya menangkap sosok yang tengah berdiri memunggunginya. Perawakan yang sangat familiar diingatnnya ditambah dengan rambut pirang dan baju praktek khas kedoteran. Namun itu ia abaikan, karena tentu saja itu orang lain. Sasuke kembali bejalan. Mungkin ini efek ia begitu merindukannya.
Lagi pula Ino-nya memiliki rambut pirang panjang, bukan sebahu. Dan mana mungkin wanita itu ada disini kan?
"Arigatou Kami." Gumam Ino dengan senyum. Setelah menarik napasnya, ia berbalik tanpa menyadari ada sosok lain dibelakangnya.
Deg!
Mata berbeda warna itu saling menatap, degupan jantung yang seolah berhenti saat itu, membuat keduanya diam ditempat.
"Sa-Sasuke?" Panggil wanita yang masih mengunakan baju prakteknya itu lebih dulu menguasai keterkejutannya, memastikan.
Mata onyx Sasuke menyimpit, sebelum ia menarik sudut bibirnya. Sial! Tuhan benar-benar mempermainkannya. Sosok dan suara orang didepannya begitu jelas.
Karena tak ingin merasa dipermainkan lebih lama lagi oleh Tuhan ,dan untuk memastikan maka Sasuke berjalan cepat menuju sosok didepannya. Merangkum wajah yang masih kelihatan syok wanita didepannya yang tengah tersenyum.
"Ino?" Pangilnya dengan suara lembut.
Wanita berambut sebahu itu mengangguk dan tersenyum.
Sasuke pun ikut tersenyum sebelum kemudian menarik Ino kedalam pelukan eratnya.
Sungguh Sasuke tidak pernah menyangka bahwa keajaiban Tuhan bisa datang secepat ini padanya. Ia pun juga tidak perna mempercayai Tuhan tapi kenapa Tuhan memberikan keajaiban yang ia ingin begitu mudah seperti ini?
Ino sudah kembali meneeteskan air matanya dalm pelukan Sasuke. secepat inihkah doanya didengar? 'Arigatou, Tuhan.' Ucapnya dalam hati.
"Jangan pergi, jangan pergi lagi, aku mohon." Pinta Sasuke disela pelukan erat yang ia berikan. Apa yang telah ia dapatkan kini, Sasuke tidak ingin melpasnya lagi, tidak ingin kehilangannya.
Ino menggeleng kuat dalam pelukan Sasuke. Tidak, ia tidak ingin dan tidak mau hidup tanpa pria ini lagi. Sesak rasanya selama ia tak bersama Sasuke.
Setelah ia menukar Surga yang mungkin ia dapatkan kelak dengan ini, ia tidak akan menyia-nyiakannya lagi.
Pelukannya Sasuke lepas hanya untuk menatap lebih lama wajah ayu didepannya, kemudian menatap salib dibelakang Ino. Entah ini keajaiban atau tantangan untuknya yang Tuhan berikan.
Tapi yang pasti apa yang ia dapatkan kini sebisa mungkin tidak akan ia biarkan terlepas. Tidak bila itu adalah kehancurannya sekalipun.
Tangan kecil yang mengantung bebas disisi tubuh Ino, ia gengam eret, sebelum mengajaknya menghadap pada salib besar dengan sosok Yesus.
Ino yang tidak mengerti maksud Sasuke hanya diam memandang pria disampingnya ini.
"Aku bersumpah dengan seluruh jiwaku, aku tidak akan melepas apa yang aku dapatkan dariMu kini. Aku mecintainya dengan segenap nyawaku dan akan tetap mencintainya selama sisa hidupku." Ikrar yang Sasuke ucapkan didepan Tuhan yang baru saja menunjukan keajaiban padanya. "Ijinkan aku menghabiskan sisa hidupku bersamanya."
"Sasuke?" panggil Ino lirih. Mendengar sumpah Sasuke membuat ia semakin ingin menangis.
"Kau tidak bisa pergi, karena aku telah bersumpah tidak akan melepasmu." Pandangan Sasuke lembut, mencium kening dan bibir sang wanita yang sangat ia cintai ini. Sebelum pelukan lain ia berikan.
Dua insan yang baru dipertemukan dan saling mengucap janji dalam hati masing-masing didepan Tuhan, bahwa mereka tidak akan pernah melepasnya.
Tuhan dan senja yang sedang merajai langit menjadi saksi sumpah mereka.
Menghabiskan sisa senja dengan berdiam diri berdua didalam gereja. Duduk disalah satu bangku jemaat dengan Ino yanga ada dipelukan Sasuke. Saling menikmati ketenagan dan kebahagian yang baru mereka dapat.
"Kenapa kau memotong rambutmu?" Pertanyaan yang sejak tadi begitu menganggu pikiran Sasuke.
Ino mendongak menatap pria yang juga tengah menatapnya. "Kau tidak suka?" Ino memanyunkan bibirnya.
Mata Sasuke menyimpit mendengar dan melihat tingkah wanita yang baru ia lihat ini. tentu saja bukan tidak suka, hanya saja Ino jadi jauh terlihat seperti seorang remaja dengan sejuta pesonanya dari pada seorang ibu.
"Bukan seperti ini, hanya saja tidak pantas untuk ukuran seorang ibu." Komentar Sasuke dengan memalingkan mukanya kedepan.
Ino tersenyum. "Itu memang tujuanku. Meski aku seorang ibu dengan dua anak, tapi aku masih ingin tampil muda untuk menarik lawan jenisku." Seringai Ino semakin melebar setelah berhasil membuat Sasuke melotot kearahnya.
Kalimat yang baru ia dengar keluar dari bibir tipis sang wanita berhasil menarik perhatiannya lagi. Pertama dua anak? Kedua ingin menarik lawan jenis? Apa-apan itu?
"Dua anak? Menarik lawan jenis? Kau?" pelukan pada bahu Ino, Sasuke lepas.
"Yeah." Jawab Ino dengan seringai.
Baru saja Sasuke akan memberi komentar lagi, namun Ino lebih dulu menotongnya.
"Ini rahasiaku, kau ingin mendengarnya?"
"Tidak." Jawab Sasuke cepat.
Ino semakin memanyunkan bibirnya, bergaya seolah ia kecewa. Melihat Sasuke diam tak meresponnya Ino tambah tersenyum. Melingkarkan tangannya pada lengan pria yang duduk disampingnya dengan menjatuhkan kepala pirangnya pada sisi bahu Sasuke.
Lalu ia berucap. "Kenapa aku memotong rambutku, aku hanya ingin menjadi sosok Yamnaka Ino yang dulu, hanya ingin menyegarkan penampilan seorang ibu dengan dua anak." Sejenak ia menghela napas. Meski masih tak mendapat respon dari lawan bicaranya Ino tetap melanjutkan. "Kau tau, merawat anak seorang diri itu menyusahkan. Karena itu aku ingin menjadi Ino yang bebas melakukan apapun sesuka hatinya seperti dulu. Bebas mencintai dan bebas dicintai."
Entah mendengar setiap kalimat yang lolos dari mulut Ino, membuat Sasuke terdiam. Apa selama empat tahun ini ia telah banyak kehilangan Ino? Apa lagi yang wanita ini buat untuk menyakitinya.
"Sasuke?" Panggil Ino yang merasa masih tak diperhatikan. "Kau marah?" Tanyanya tak perlu. "Kau tidak suka, nanti juga akan panjang kan?"
Kini Sasuke menghela napas lelah dengan pikirannya sendiri. "Lupakan masalah penamilanmu."
Ino diam mendengar kelanjutan dari kalimat Sasuke.
"Empat tahun yang lalu, saat kau meninggalkanku, kau hanya memiliki Hiko dalam hidupmu tapi sekarang apa selama empat tahun menghilang kau memiliki anak dari pria lain?"
Ppfft...
Ino dibuat menahan tawa oleh pertanyaan Sasuke yang tak jelas itu.
"Tidak ada yang lucu, jangan tertawa. Kau tau aku menunggumu dan berharap bisa bersamamu tapi apa sekarang?"
"Sekarang?" Ino membeo. "Sekarang kau juga seorang ayah, kau tau?"
Mata Sasuke kembali menyimpit. "Jangan bilang."
"Aku hamil empat tahun yang lalu, dan sekarang dia sudah berumur tiga tahun. Kau tidak ingin melihatnya?"
Tidak ada kata yang kembali terucap selain kembali menarik Ino kedalam pelukannya. Wanita ini. Ino selalu bisa membuat jantungnya berhenti dalam sekejap.
Kali ini kebahagiannya datang bertubi-tubi, seolah kabut tebal yang melingkarinya menghilang perlahan. Tidak ada kata selain bahagia yang Sasuke dapat. Sulit dipercaya bahwa kini ia telah menjadi seorang ayah.
Pelukan dari Sasuke, Ino lepas. "Sudahlah, Hiko akan datang hari ini. Aku ingin segera pulang."
Sasuke masih memproses maksud dari wanita yang kini telah berdiri didepannya. "Hiko datang, dari mana?"
"Jepang. Dia tinggal disana selama ini."
"Kau?" Sasuke tak habis pikir, bahwa Ino akan meninggalkan putranya di Jepang seorang diri dan selama itu pula Sasuke tidak pernah pertemu dengannya.
Ino masih menunggu kelanjutan ucapan Sasuke.
"Bagaimana bisa kau meninggalkannya disana sendiri?"
"Dia bersama orang tuaku Sasuke." Jawab Ino disela berjalannya menuju keluar dari Gereja yang diikuti Sasuke dibelakangnya.
Mendengar kata orang tua, membuat Sasuke berhenti. Ino yang menyadarinya membuatnya ikut berhenti dan menoleh kebelakang.
"Kenapa? Kau tidak ingin bertemu dengan mereka?"
"Orang tuamu?"
"Kenapa harus dipikirkan? Kau sudah berjanji akan hidup denganku selama sisa hidupmu kan?"
Kalimat Ino membuat Sasuke menarik bibirnya tersenyum miring. Wanita ini telah berubah dari yang pertama Sasuke mengenalnya. Mungkin benar, Ino telah membuang sifat kakunya dulu dan sekarang telah menjadi sosok Ino yang baru atau sosok sebelum ia kehilangan kakaknya. Ino yang dikenal oleh Itachi.
Kakaknya itu telah jatuh cinta pada sosok Ino yang seperti ini, dan sekarang wanita ini pun membuatnya jatuh cinta padanya juga dengan mudah. Janji memang telah ia buat pada Tuhan, bahwa Sasuke hanya akan mencintai selama sisa hidupnya seorang Yamanaka atau Uchiha Ino. Menjadikannya surga terakhir dalam hidupnya.
"FIN"
A/N : Berakhir. Aku harap ini memuaskan para pembaca sekalian. Yang pasti, aku sangat berterimakasih sebanyak-banyaknya karena telah sudi melewatkan waktunya untuk sekedar membaca dan meninggalkan review untuk Last Heaven selama ini. Hontou ni arigatou. Dan maaf telah membuat kalian menunggu lama.
Di bawah masih ada Omake. Aku harap kalian menyukai dan bisa menikmatinya. *Wink*
Omake.
Suasana pagi hari dikediaman Uchiha, sudah diisi dengan kegaduhan yang dibuat oleh kedua keturunannya.
"Hime, menjauh dariku. Bermainlah sendiri." Teriak Uchiha Hiko, dengan mendorong sang adik sampai terjatuh yang berumur empat tahun. Sedangkan dirinya kini telah berumur dua belas tahun. Ini sudah berjalan satu tahun dia tinggal bersama mama dan adiknya dan tentu saja dengan hadirnya sosok paman yang telah menjadi papanya. Uchiha Sasuke.
Hari minggu pagi selalu Hiko habiskan dengan bermain Playstation. Dan berharap sang adik tidak menganggu ketenangannya. Namun harapan itu pudar saat Hime pun ikut bangun dan menganggu acaranya.
Huwaaaa...
Suara tangisan yang cukup kecang itu, membuat Ino terbangun. Memungut piyama tidurnya dan langsung bergegas berjalan keluar kamar. Disusul oleh Sasuke, namun pria itu lebih memilih merapikan penampilannya terlebih dahulu.
"Ya Tuhan, apa lagi sekarang? Apa yang kalian lakukan dipagi ini?" Cerocos Ino dengan menuruni tangga menuju kedua anaknya.
"Ya Tuhan, Hiko apa yang kau lakukan?" Tanya Ino setelah mengangkat tubuh anak keduanya.
Merasa enggan menjelaskan, dengan masih menunjukan raut jengkel yang kentara putra pertamanya itu memandang mamanya, kemudian melirik sosok yang berdiri diam bersandar pada tangga.
"Aku sudah mengatakan pada Hime, untuk tidak mengangguku, tapi lihat apa yang di alakukan pada stikku. Dia memutuskannya."
Ino menghela napas. "Kau sudah besar Hiko, dan seharusnya kau mengalah pada adikmu."
Prak!
Stik yang ada ditangannya ia banting. "Mama selalu membelanya, dia yang nakal, tapi mama terlalu memanjakannya dan mama lebih menyanyangi Hime."
Pergi setelah menyelesaikan kalimat panjangnya. Yang membuat Ino melotot dan Sasuke menyipitkan mata hitamnya.
"Uchiha Hiko." Panggilan sang mama pun ia abaikan.
Brak.
Kembali membating pintu kamarnya.
"Diam Hime." Tangisan anak kecil itu tak kunjung reda. Ia berbalik, mencoba menenangkan sang anak.
"Kau jangan terlalu keras padanya." Suara dari suaminyapun tak ia hiraukan selain gerutuan tak jelas.
"Dia tumbuh menjadi anak yang manja, entah mungkin mama papaku terlalu memanjakannya." Komentar Ino tanpa memandang sang suami.
Memang hampir setiap pagi, dihari libur, mereka selalu dibangunkan oleh suara kegaduhan dari kedua anak mereka. kadang Ino selalu berlari keluar tanpa peduli penampilannya.
Sasuke hanya menghela napas, menatap sejenak putri kecilnya yang kini sudah diam digendongan sang ibu. Hanya menyisakan isakan kecil. Ia tersenyum melihatnya. Lalu pria dewasa itu bebalik , menuju kamar yang pintunya baru saja dibanting.
Mengetuknya dua kali.
Tok... Tok...
"Hiko?" Panggilnya.
Klik.
Tak terkunci, ia bisa melihat anak berusia dua belas tahun itu tengah berdiri didekat jendela kamarnya. Sasuke masuk dan berjalan mendekati sang anak setelah menutup kembali pintunya.
Kepala yang memiliki gaya rambut sepertinya dulu itu, ia usap lembut. "Hei?"
Anak itu hanya menatapnya sekilas, kemudian kembali menatap keluar jendela.
"Aku tau, mamamu begitu cerewet. Tapi apa kau tau kalau dia begitu menyayangimu?"
"Aku merindukan papaku."
Sasuke dibuat tersenyum dengan ucapannya.
"Mama lebih menyayangi Hime. Dan kau juga kan paman?" Mata onyx itu menatapnya.
Memang kadang Hiko lebih suka memanggilnya paman. Anak itu pun tau kalau sebenarnya dirinya memang pamannya.
"Kau salah, mamamu jauh lebih menyayaimu melebihi apapun." Kini Sasuke sudah berjongkok, untuk menyamakan tinggi mereka. "Dan aku menyayangi kalian melebihi diriku didunia ini."
Mata onyx itu mentapnya diam.
"Dulu aku juga selalu merasa kakek dan nenekmu lebih menyanyangi kakaku tanpa aku tau bahwa ternyata kakaku lebih menyanyangiku melebihi mereka." Sasuke berhenti sejenak. "Jadi sekarang yang bisa aku lakukan hanya menyayangimu, menyayangi kalian. Tak ada bedanya antara kau dan Hime, Uchiha Hiko."
"Tapi, mama selalu marah-mara padaku dan lebih membela Hime."
Kembali pria dewasa tampan itu dibuat tersenyum, anak didepannyanya lebih mirip dirinya dibandingkan sang kakak. "Itu karena Hime masih kecil. Dan aku yang akan membelamu."
Hiko tersenyum. "Hontou ni?"
Sasuke mengangguk, mengiyakan.
"Aku menyayangimu." Lalu Hiko langsung menghambur pada pelukan paman yang telah menjadi papanya itu. Dari awal Hiko memang sudah sangat menyayangi paman Sasukenya ini.
Tanpa mereka sadari percakapan mereka sejak tadi telah didengar oleh Ino yang tengah berdiri diambang pintu dengan menggendong sikecil Hime. Wanita cantik itu ikut tersenyum.
'Terimakasih Tuhan.' Doanya pagi ini yang terucap dalam hati. Ino begitu menyayangi mereka melebihi apapun dan terimakasih pada Kami yang telah memberikan kebahagian terlengkapnya. Menikah dengan orang yang ia cintai dengan mengantongi restu kedua keluarga besarnya, memiliki kedua anak yang tampan dan cantik. Kehidupannya kini terlalu sempurna dan lengkap.
'I love you my husband.' Kembali ia berucap dalam hati. Suaminya itu memang selalu membuatnya tenang.
~END~
