"Kau masak apa?" pemuda berambut merah bata itu bertanya pada istrinya yang masih sibuk membereskan sisa-sisa kegiatan memasaknya.

"Nasi ketan," isterinya berujar setelah ia menyelesaikan pekerjaannya lalu mengambil tempat di samping suaminya. Tangannya membuka tutup tempat nasi yang sudah ia sediakan. Lalu mengambilkan sedikit nasi untuk suaminya.

"Aku tidak ingat kau pernah memasak ini di Suna," suaminya yang bernama Gaara berujar lagi saat melihat hanya ada nasi ketan dan parutan kelapa di atas meja.

"Memang belum pernah. Aku mencari-cari resep makanan di internet dan aku rasa ini enak."

"Hanya dengan parutan kelapa?" kembali Gaara bertanya. Sedangkan Naruto, isterinya, hanya mengangguk riang lalu mengambil sedikit nasi ketan hangat itu dengan tangannya dan menyentuhkannya dengan parutan kelapa dan mengarahkannya pada suaminya tersebut. Suaminya pun dengan senang hati menerima suapan dari isterinya tersebut.

"Bagaimana? Enak kan?" Naruto bertanya pada Gaara.

"Hm, lumayan. Aku rasa aku akan menyukainya bila sudah terbiasa," ucap Gaara tanpa mengalihkan pandangannya dari makanannya.

"Syukurlah."

Suara itu seperti menahan tangis dalam pendengaran Gaara. Merasa aneh dengan suara Naruto ia pun menoleh pada isterinya itu dan betapa terkejutnya ia melihat sosok isterinya menangis dengan wajah lebam dan dipenuhi air mata serta pakaian yang sobek.

"Naruto?"

"Kenapa Gaara? Kenapa kau lakukan ini padaku?"

Gaara hanya bisa terdiam melihat keadaan sekitarnya tiba-tiba saja berubah. Latar ruang makan mereka di pagi hari tiba-tiba saja berubah menjadi kamar mereka di malam hari dengan dirinya yang hanya memakai celana panjang dan Naruto yang hadir dengan visualisasi yang sangat jauh dari kata 'baik'.

Gaara seolah-olah kembali di malam natal beberapa hari sebelumnya saat ia menghancurkan isterinya tersebut.

"Naruto-"

"Sakit Gaara. Aku sakit. Tubuhku sakit sekali. Kenapa? Kenapa kau tega melakukannya padaku Gaara?"

"Naruto, aku-"

Belum sempat ia menyelesaikan penjelasannya, tiba-tiba saja gadis itu telah berada begitu jauh darinya. Ingin ia mengejarnya, namun kakinya serasa membatu di tempat yang bahkan ia tak kenali dengan segala kabut kegelapan yang mengelilinginya. Sementara itu, tubuh isterinya pun semakin menjauh darinya.

Air mata….

Hanya air mata yang terjatuh dari sepasang iris biru milik isterinya yang mampu ditangkap oleh indera penglihatannya sebelum tubuh mungil yang hancur itu menghilang.

"Naruto!"


Naruto by Masashi Kishimoto

Our Mariage by Kyra De Riddick

Chapter 10

The Worst New Year's Eve


Keringat dingin membanjiri tubuh tegapnya yang baru saja terbangun dari mimpi buruk. Napasnya tersengal-sengal dan dadanya terlihat naik turun dengan intensitas yang tidak lambat. Air mata pun tampak menghiasi wajahnya.

"Naruto…"

Dia mengacak rambut merahnya yang berantakan selama beberapa saat. Mencoba mengerti makna dari mimpi yang baru saja ia alami.

Ah, ia ingat sekarang…

Semua itu adalah slide-slide kenangannya bersama sang isteri. Saat isterinya membuat masakan baru sebagai sarapan mereka, dan saat ia menghancurkan isterinya.

Dan yang terakhir adalah realita yang ia alami kini…

Kehilangan malaikatnya, dan tenggelam dalam keterpurukan.

Ia menatap ke seluruh ruangan kamarnya. Ruangan yang menyimpan segala bentuk kenangan yang tertinggal dari Naruto. Ia seolah dapat melihat tubuh mungil Naruto membuka pintu lemari mereka dan menyiapkan pakaian yang akan dikenakan Gaara. Dilihatnya Naruto berbalik padanya dan bertanya dengan senyum lembut khas miliknya, "Kau mau pakai kemeja yang merah atau yang putih?"

"Yang merah," Gaara menjawab lirih dengan senyum kecil.

"Ah, aku ingat kemarin kau juga pakai kemeja merah kan? Sekarang kau harus pakai baju putih Mr. Red," tolak Naruto dan memasukkan kembali kemeja merah yang di tangannya.

"Putih tidak cocok untukku Ms. Orange."

"Siapa bilang? Putih itu selalu cocok untuk semua orang."

"Tapi tidak untuk iblis sepertiku," ucap Gaara, kini dengan mata yang telah basah. Dilihatnya Naruto menatap sendu padanya dan mendekat padanya.

"Kenapa menangis?"

"Maaf. Maafkan aku," ujar Gaara. Tangannya hendak menggapai sosok Naruto yang perlahan menghilang dengan air mata di wajahnya. "Kembalilah…. Kembalilah padaku, Naruto."

-oOOOo-

Kyra De Riddick is YumeYume-Chan

-oOOOo-

"Dari mana saja kau otouto? Pagi-pagi kau sudah menghilang," tanya Itachi pada Sasuke yang akan melewati ruang makan menuju kamarnya di lantai dua.

"Jogging," Sasuke menjawab singkat lalu mengambil tempat di samping Itachi. Membatalkannya rencana sebelumnya yang ingin melanjutkan tidurnya yang terganggu saat subuh tadi.

"Kau masih harus belajar kalau ingin berbohong yang baik dan benar Sasuke," ujar Itachi kalem.

Sasuke menghentikan pekerjaan tangannya yang sedang mengolesi roti miliknya dengan selai coklat dan beralih menatap Itachi. "Tampaknya Tsunade-san akan mendapat pasien baru," ucap Sasuke menyebut psikiater sekaligus dokter terkenal tersebut.

"Kau ingin jadi Sasuke kundang?"

Sasuke menghela napas mendengar lelucon kakaknya yang sama sekali tidak lucu di telinganya. Oh ayolah, bagaimana mungkin kau akan tertawa mendengar lelucon yang diucapkan dengan wajah serius macam wajah Itachi?

"Aku akan merebutnya," ucap Sasuke serius masih dengan tangan yang sibuk mengoleskan selai ke rotinya.

Itachi menurunkan koran yang ia baca sedari tadi dan menatap lekat pada adiknya. "Usiamu baru 18."

"Aku mencintainya," ucap Sasuke lagi. Hal ini jelas membuat Itachi gusar sendiri. bagaimanapun Sasuke menunjukkan sikap tenangnya, ia sangat tahu adiknya itu sedang emosi saat ini. Dan bicara dengan Sasuke yang sedang emosi dengan wajah stoic, itu sama saja mengeruhkan air yang sudah keruh.

Takkan ada kata 'selesai'…

Itachi menyesap black coffenya sedikit lalu kembali fokus pada Sasuke. "Bagaimana kalau dia hamil?"

Sasuke menghentikan kegiatannya mendengar hal itu, ia menatap kakaknya lalu berujar mantap, "aku akan menjadi ayahnya."

"Kau bisa mengatakan itu saat ini. Tapi bagaimana ke depannya nanti? Apa kau benar-benar bisa menjadi ayahnya saat bayang-bayang ayah kandungnya akan hadir dalam anak itu?"

Sasuke beranjak dari kursinya dan langsung meninggalkan Itachi. Ia tahu kakaknya itu benar, meski ia bisa mengatakannya dengan nada meyakinkan, dan meski pembicaraan tadi hanyalah pengandaian, ia takkan bisa menghilangkan kemarahannya pada sosok Gaara. Yang mungkin akan hadir dalam wujud anak –yang mungkin saja dikandung- Naruto.


Hari terus berlanjut. Meninggalkan tahun sebelumnya yang ditandai dengan pijaran kembang api dari berbagai penjuru kota untuk merayakan pergantian tahun. Aura kebahagiaan terasa di mana-mana. Namun tidak dengan dua orang pemuda yang berada di tempat yang berbeda.

Mereka tak merayakannya dengan cara yang biasa orang lain lakukan untuk menikmati pergantian tahun dengan suka cita, melainkan mereka melewati malam yang meriah tersebut dengan menyesap kesakitan di dada.

Bila orang-orang merayakan tahun baru dengan tawa dan pesta, atau berjalan-jalan dengan orang yang berarti bagi mereka, maka kedua orang ini melewati tahun baru itu tanpa pesta, tanpa orang yang berarti bagi mereka, dan tanpa berjalan-jalan di kota. Tetapi mereka melewatinya dengan rasa kesepian yang menyiksa sebab kehilangan sosok orang yang begitu berarti bagi mereka. Satu sosok yang begitu berarti bagi dua orang pemuda yang berbeda.

Siapa lagi kalau bukan sosok Naruto yang biasanya menghadirkan senyum ceria yang sering dilihat oleh Sasuke dan Gaara. Senyum yang sering dicemooh Sasuke, dan tak dipedulikan Gaara. Namun kali ini betapa mereka sangat merindukan senyum dan sosok itu.

Senyum ceria, sosok yang berisik, namun begitu mereka cintai…

Sementara Sasuke sedang mengenang sosok Naruto di beranda kamarnya yang dingin, maka Gaara sedang mengobati rindunya dengan memeluk surat dan buku harian Naruto di atas tempat tidur, meski hal itu sama sekali tidak mampu mengobati kerinduannya.

Saat Sasuke tengah berbicara pada angin untuk mengabarkan kerinduannya akan gadis itu, maka Gaara sedang terbaring di kasurnya dengan melihat bayang-bayang Naruto di kamar itu dan seolah bercakap-cakap dengannya.

Saat Sasuke tengah menangis dalam diam dengan rasa rindu yang menyayat hatinya akan sosok Naruto, maka Gaara pun tengah menangis dengan jiwa yang seolah-olah telah terbang untuk mencari keberadaan sosok isterinya tersebut.

Dua pemuda yang mencintai satu gadis,

Dua pemuda yang merindukan satu wanita,

Dan dua pemuda dengan hati yang sama-sama merindu pada seorang Naruto…

Mereka memiliki cara tersendiri untuk mengenang gadis itu, namun satu hal yang pasti adalah mereka berdua mengenang gadis yang sama. Mereka memiliki cara tersendiri untuk mengenang Naruto yang memiliki posisi yang berbeda untuk mereka. Di mana dalam hal ini, Gaara lebih berhak atasnya, dan Sasuke akan menatap benci pada apapun yang ada di hadapannya saat menyadari hal ini.

Mencintai wanita yang telah menjadi milik orang lain…

Menyedihkan, namun tak juga bisa berhenti untuk mencintainya.


Alunan gesekan biola yang membentuk sebuah musik syahdu terdengar hampir di seluruh ruangan di rumah itu, menutupi suara gemuruh kembang api di luar sana. Tak ada yang berniat mencari asal suara itu, sebab mereka sudah tahu dari mana melodi tersebut berasal.

Lagu yang terdengar begitu indah sekaligus menyayat hati siapapun yang mendengarnya. Terdengar menenangkan namun juga menyesakkan di saat yang sama. Terasa manis dan pahit dalam indera pendengaran manusia. Sebab lagu itu sedang menceritakan kisah sang pemilik biola yang kini masih menikmati kesendiriannya di beranda kamar miliknya.

Rambut pirangnya berkibar lembut dibelai angin dingin di malam tahun baru itu, namun tak jua ia berniat untuk meninggalkan tempatnya. Mata yang biasanya menunjukkan iris safir kini terpejam, dengan biola di pundak kirinya yang ia tahan dengan dagunya, dan tangan kanannya tak berhenti menciptakan alunan merdu tersebut.

Dengan lagunya, ia ingin menyampaikan sebuah cerita pada alam yang sedang bersahabat dengan musim dingin…

Dengan lagunya, ia ingin mencurahkan isi hatinya yang tak terbendung pada salju yang turun tanpa henti….

Dan dengan lagunya, ia ingin menghibur jiwanya yang sedang galau. Mengobati tubuhnya yang terluka, dan berharap dapat menghentikan laju air matanya yang tertumpah.

Air mata yang tercipta akan gelombang perasaan yang tengah menderanya begitu dahsyat. Membuatnya terombang-ambing dalam lautan kelam bernama kebimbangan. Menyesakkan dadanya yang telah banyak menikmati mineral kehidupan yang memiliki berbagai macam rasa. Suka, duka, senang, dan sedih yang membuatnya tersenyum, marah, dan juga mengalirkan tetesan air mata kesedihan.

Betapa hatinya terasa remuk dan hancur, membuatnya merasakan racun dari empedu yang begitu pahit rasanya. Membuatnya merasa cukup. Merasa cukup untuk melangkah di jalan dunia yang telah banyak memberinya asam garam kehidupan. Membuatnya merasa cukup dengan deraan dan hempasan gelombang badai yang menghalau langkahnya. Dan ia merasa inilah akhir perjalanan panjangnya. Ia merasa di sinilah ia harus berhenti dan beristirahat, di musim dingin yang ia lalui dengan hujan dari sepasang langit miliknya.

Betapa angin dingin kini terasa begitu nyaman memeluknya, dan membuatnya enggan untuk menunjukkan iris birunya lagi. Sebab ia merasa telah lelah menatap dunia. Sebab ia merasa telah payah untuk tersenyum. Dan sebab ia merasa… tak lagi sanggup menahan beban yang menggunung di pundaknya.

Melodi yang berhenti, dan suara benda jatuh menjadi yang terakhir ditangkap oleh indera pendengarannya.

-oOOOo-

Kyra De Riddick is YumeYume-Chan

-oOOOo-

"Dia mengalami tekanan batin yang cukup berat rupanya," ucap dokter muda berambut abu-abu tersebut sembari membereskan tasnya yang berisi alat-alat kedokteran yang biasa ia bawa saat mendapat panggilan ke rumah-rumah. Setelah selesai, ia pun keluar dari kamar bernuansa cerah yang kini dihuni kembali oleh pemiliknya setelah hampir enam bulan meninggalkannya.

Dua sosok kontras yang berbeda jenis kelamin dan ciri-ciri namun sedarah itu pun mengikuti dokter pribadi mereka yang bernama Kabuto tersebut dengan wajah yang menunjukkan kecemasan mendalam. "Lantas apa yang harus kami lakukan dokter?" pemuda berambut coklat yang lebih bisa menguasai diri bertanya.

'Sebisa mungkin jangan biarkan dia memikirkan masalah yang terlalu membebani pikirannya. Perasaan dan pikirannya harus tetap tenang. Sebab seperti yang anda lihat sekarang, beban pikiran yang begitu besar membuat pertahanan tubuhnya melemah. Dia akan lebih mudah jatuh sakit atau bahkan akan sering pingsan mendadak," dokter Kabuto kembali menjelaskan.

Duo kakak adik Sabaku yang mendengarnya pun terdiam mendengarnya.

Menjaga agar adik perempuan mereka tidak memikirkan masalah berat yang mampu membebani pikirannya bukanlah hal yang mudah dilakukan. Sebab mereka sangat tahu beban pikiran yang ditanggung oleh gadis pirang berusia 15 tahun yang kini terbaring tidak berdaya di dalam kamar yang baru saja mereka tinggalkan bukanlah perkara mudah. Melainkan perkara yang begitu rumit, yang oleh mereka sendiri pun tidak tahu harus bagaimana menjelaskan dan mencari jalan keluarnya.

Menghela napas pasrah adalah satu-satunya hal yang bisa mereka lakukan bersama bertambahnya beban di dada yang terasa oleh mereka berdua.

Mereka pun mengantar kepergian dokter muda tersebut sampai di pintu rumah setelah sebelumnya menerima resep yang harus mereka tebus

-oOOOo-

Kyra De Riddick is YumeYume-Chan

-oOOOo-

"Nee-san, apa tidak apa-apa kau tidak menemani Shika-nii?" pemuda berambut coklat itu bertanya cemas pada kakaknya yang sedari tadi hanya diam. Dilihatnya kakaknya menatap pada televisi tanpa fokus yang pasti. Ia pun segera paham bila kakaknya tengah berpikir keras saat ini. Dan mungkin hal itu berhubungan dengan Naruto, juga masalah keluarga suaminya yang mungkin saja menganggapnya sebagai menantu kurang ajar yang lebih mementingkan keluarganya dibandingkan keluarga suaminya yang namanya kini ia sandang di belakang namanya.

"Nee-san!" Kankuro kembali memanggil kakaknya dengan suara yang lebih keras. Kali ini berhasil, sebab kakaknya itu kini menatapnya. Namun,

'BUK!'

"Aku tidak tuli, bodoh!" Temari berseru setelah melempar bantalan kursi yang ada di dekatnya tepat di wajah Kankuro. "Lagipula aku sudah ada di sini, mau diapakan lagi? Kau sendiri kenapa tidak pergi ke acara keluarga?"

Kankuro masih sibuk mengaduh kesakitan tanpa menjawab pertanyaan kakaknya tersebut. Sebab mereka berdua berada di rumah karena alasan yang sudah pasti.

'Naruto yang diketemukan pingsan setelah sebelumnya mereka berdua merasa janggal dengan permainan biola Naruto yang berhenti mendadak.'

Temari bahkan masih merasa jantungnya akan copot saat mengingat bagaimana ia melihat Naruto tergeletak pasrah di beranda yang dingin dengan senyum tipis. Ia pikir adiknya sudah tidak bisa diselamatkan kala itu, hingga ia berteriak histeris pada Kankuro yang langsung kocar-kacir menelepon dokter keluarga mereka.

Suara dering ponsel milik Temari menginterupsi lamunan dua kakak adik itu. Setelah melihat nama suaminya tertera dengan jelas di layar telepon, Temari pun langsung menjawab panggilan tersebut. Dan tidak butuh waktu lama bagi Kankuro untuk mendengar isakan kakaknya yang ia yakini ditahannya sejak tadi.


Alunan musik merdu yang tercipta dari tuts-tuts hitam putih yang membahasakan rangkaian nada yang diciptakan oleh salah seorang komposer ternama terdengar dari sebuah cd player dan memenuhi ruangan berukuran sedang tersebut.

Tidak jauh dari cd player tersebut, seorang pemuda berambut merah yang diketahui bernama Sabaku No Gaara, tengah meringkuk di atas ranjang dalam diam. Tak ia pedulikan ponselnya yang terus bergetar sedari pagi. Entah itu berupa pesan dari teman-temannya yang ingin mengucapkan selamat tahun baru atau mengajaknya keluar untuk merayakan pergantian tahun tersebut, atau telepon dari kerabat-kerabatnya. Semuanya tak pernah ia pedulikan.

Baginya saat ini, tak ada lagi yang lebih berarti dibandingkan keberadaan sosok 'angel' miliknya yang menghilang entah ke mana. Bersama sebuah surat yang tak terbilang lagi kusutnya karena terus ia dekap dan terkadang basah oleh air matanya, juga sebuah diary berwarna orange yang setia menemani hari-hari sepinya, disertai dengan alunan musik 'Kiss The Rain' ciptaan komposer ternama bernama Yiruma, yang merupakan komposer lagu favorit Naruto yang ia sebutkan dalam diarynya, ia seolah berada di dunianya sendiri.

Dunianya yang tercipta dari ketiga hal di atas. Dunia yang menjadi tempatnya untuk menghibur diri bersama bayang-bayang isteri yang telah ia sakiti dan telah meninggalkannya, juga tempatnya untuk menghukum dirinya sendiri.

Di atas ranjang yang biasanya selalu terisi kehangatan dari aura kelembutan dan senyum ceria isterinya, Gaara terus diam meringkuk bak mayat hidup. Seolah pendengaran, menjadi satu-satunya indera yang ia miliki saat ini. Seolah ia hanya mampu mendengar suara, tanpa mampu melihat ataupun menggerakkan tubuhnya untuk merespon suara yang ia dengar.

Ia benar-benar telah hancur kini. Tak hanya jiwanya yang hancur dan menghilang dengan kepergian sang isteri, namun juga tubuhnya serasa telah mati dengan segala kegagalan dan hasil nihil yang ia dapatkan untuk menemukan isterinya. Angelnya. Narutonya.

Ia lelah…

Ia telah lelah dengan segala pencariannya yang berakhir sia-sia. Ia telah lelah dengan dinding tebal tak kasat mata yang menghalangi jalannya untuk menemukan malaikatnya. Ia telah lelah dengan kebutaannya pada arah untuk menemukan petunjuk tentang Narutonya.

Ia benar-benar lelah…

Ia telah benar-benar lelah kini. Ia lelah menanggung rasa sakit tak berkesudahan yang menghimpit dadanya. Ia lelah menahan rasa kesepian tak berujung yang memberinya kesakitan tanpa henti. Ia lelah, benar-benar lelah mencoba untuk merangkak naik dari dasar jurang penyesalan yang ia tak tahu seberapa dalamnya, dan ia tak tahu di mana akhir dari sisi jurang yang tengah ia daki.

Mencari dalam kegelapan,

Merangkak dalam ketidakpastian,

Dan berakhir dalam penderitaan…

Betapa hal itu telah menjadi neraka baginya. Neraka dunia yang tak tertanggungkan deritanya. Neraka dunia yang tercipta dari kesalahannya sendiri dan membuatnya kehilangan jiwa dan sosok penerangnya. Kini ia hancur dalam nestapa…

Kini ia hanya bisa menangis dalam kebisuannya…

Kini ia hanya bisa memanggil dalam jerit kesakitan hatinya…

Dan kini, ia hanya bisa menatap pada kehampaan tatapannya…

Ia, Sabaku No Gaara, telah mati kini….


TAMAT

BERCANDA!

(killed)

Nyehnyehnyeh…

Oke, buat para readers semua saya mohon maaf atas keterlambatan update. Semuanya ada penjelasannya kok. Yang jelas alasan utamanya adalah WB. Saya tiba-tiba kehilangan mood untuk mengetik, ide fanfic yang berseliweran ke sana kemari dan meminta untuk diwujudkan dalam sebuah tulisan. Danm itu adalah sulit untuk dilakukan sebab saya akan segera ujian SNMPTN.

Ah, tidak usah bahas ujian. Saya malas mengingatnya.

Yang pasti jangan lupa RnR ya?

Bocoran Next chappie….

"Kau tahu Gaara, saat manusia tengah berada dalam gundah, atau tengah risau, takut, menderita, atau mungkin bahagia, hanya satu tempat berpulang mereka."

"…."

"Tuhan."

"Kau tidak bisa lari lagi… dobe…"


Balesan review:

Arisu Kuroneko: hehehehe, iya itu kesalahan penulisan. masudnya Shika dua tahun lebih tua...

terus masalah akselerasi, maksain aja gitu. kan shika anak orang kaya juga, pintar pula. ya, jadi deh dia bisa ikut ujian dua kali...

terima aja ya alaan gaje saya...^^v

Kikyo Fujikazu: yah, mereka belum dewasa sih...

makasih atas reviewnya ya? ^^v

Aizawa Shiron: Makasih... dan maaf atas lama updatenya ya? ^^v

Superol: bikin sesak? 0.0? gak kena asma kan? (killed) ^^

Icha22madhen: nyehnyehnyeh, gimana ya? (timpuked)

Dalle no Hebi: 0.0 wa? angan emosi dund! esmosi aja ya? kan dingin...

Delta alpha Fujoshi: sabarrrrrrr...^^v

Ka Hime Shiseiten : (_._) maaf ata update yang lama...

Vii No Kitsune : lho? bukannya Vii-chan yang minta supaya Gaara Dibuat menderita?