Sebelumnya... maaf banget! beribu maaf karena nggak sempet bales repiu dan kayaknya accountku di FFn rada error dan baru bisa ngapdet fic di komputer sekolah kemaren =.=a
untuk membalasnya, saya akan mengapdet lebih cepat! yang musti saya ketik malem-malem begini. Dan oh ya, tadinya mau ada beberapa bahasa Jawa yang mau di tambahin tapi nggak jadi ah. Ntar bingung lagi, apalagi kan anak-anak FFn nggak dari Pulau Jawa semua :) sama seperti chap kemaren, saya nyelipin song fic. Kali ini lagunya The Red Jumpsuit Apparatus, Your Guardian Angel...
so, enjoy this chap!
Chapter 10: I'm Your Guardian Angel
Rukia dan Hitsugaya duduk mengigil kedinginan di saung. Hitsugaya menggerutu kesall pada Rukia yang hanya diam.
"Iya iya, maafin aku, Shiro-nii!" potong Rukia kesal, "kita pulang saja sekarang!"
"Ngaco! Ini kan ujan deres!" balas Hitsugaya.
"Kan ada payung!" tunjuk Rukia.
"Tapi kalo ujannya sederes ini, nggak cukup untuk kita berdua! Nanti kalo kau sakit gimana?" tahan Hitsugaya. Rukia mengeluh kesal, pasrah, mengikuti kemauan Hitsugaya.
Mereka duduk bersisian di saung dengan posisi duduk yang sama; lutut di tekuk sambil memeluk diri sendiri. Tiba-tiba Rukia menyenderkan kepalanya di bahu Hitsugaya. Hitsugaya terkejut sedikit, lalu membiasakan diri. Ia malah memandangi wajah Rukia yang tanpa ia sadari, sudah memasuki relung hatinya.
Rukia tersenyum padanya. Dari matanya, ia meminta maaf atas protesnya tadi. "Maafkan aku, Shiro-nii," akhirnya ia berkata. Hitsugaya hanya mengangguk pelan. Hati berdesir, seolah embun nan dingin mengetuk hatinya yang menangis karena kesalahannya sendiri.
When I see your smile
Tears run down my face I can't replace
And now that I'm stronger I've figured out
How this world turns cold and breaks through my soul
And I know I'll find deep inside me I can be the one
Hitsugaya sudah bertekad; walaupun bukan dirinya yang ada di hati Rukia, tapi ia akan terus melindungi Rukia. Ia takkan kalah, walaupun ia hanya dianggap kakak oleh Rukia. Ia takkan membiarkan Rukia jatuh, dan akan ada disisinya selamanya.
I will never let you fall
I'll stand up with you forever
I'll be there for you through it all
Even if saving you sends me to heaven
Tak usah Rukia tahu tekadnya ini. Hitsugaya tahu, Rukia akan sungkan. Biarlah hanya Tuhan dan ia yang tahu. Biarlah musim hujan, rintik di pematang sawah yang membuat ombak kecil, dan bintang jatuh menjadi saksi ikrarnya.
It's ok. It's ok. It's ok.
Seasons are changing
And waves are crashing
And stars are falling all for us
Days grow longer and nights grow shorter
I can show you I'll be the one
Tiba-tiba Hitsugaya terkejut sendiri. Kenapa ia bisa berikrar hanya demi Rukia? Demi seorang Rukia Kuchiki? Bukankah Rukia hanyalah sepupunya yang—bahkan tak ada setahun—baru bertemu dengannya?
Ya. Ia mencintai Rukia. Sangat mencintainya. Karena itulah, Hitsugaya rela melakukan apa saja demi Rukia. Sebenarnya, ia sudah tahu lama, namun ia menutup mata akan itu. Ia sudah mempunyai Momo kan? Tapi Hitsugaya tak bisa membayangkan hidupnya tanpa Rukia.
Cuz you're my, you're my, my true love, my whole heart
Please don't throw that away
Cuz I'm here for you
Please don't walk away,
Please tell me you'll stay, stay
"Rukia…," panggil Hitsugaya.
"Ya?"
"Kau… takkan meninggalkanku kan?" tanya Hitsugaya ragu. Please tell me you'll stay…please don't walk away…, because I'm here for you!
Rukia tampak berpikir. "Aku… tak tahu…. Karena awalnya aku disini hanya untuk setahun…, tapi aku tak bisa meninggalkan Indonesia. Aku sudah mencintainya."
"Baguslah," ucap Hitsugaya menoleh menatap Rukia. Gadis itu menekuk kakinya dan memeluknya, kedinginan.
"Aku benci hujan," ucapnya, "Hujan…. Kenapa hujan harus ada?! Sensasi hujan selalu dingin…sepi… sendiri. Betapa bencinya aku pada hujan… tapi…, hujan selalu datang saat aku sedih..., seolah menghiburku. Hujan selalu turun saat aku menangis… seolah ikut berduka, menangis bersamaku. Hujan selalu datang saat aku sendiri dan hampir menangis kesepian…, seolah mengejekku. Kenapa? Padahal aku benci padamu! Tapi kenapa kau terus turun menggodaku? Kau pikir ini lucu? Tapi… aku menghargai hujan itu karena sudah berusaha menghiburku, walaupun tak bisa mengurangi rasa kesalku padanya….""
Dahi Hitsugaya mengerut mendengar perkataan Rukia, "Kenapa benci hujan? Kau itu nggak bersyukur banget ya? Hujan kan salah satu daur air, kalo ga ada ujan, air mandek ga sampe-sampe sini. Kalo gitu kan kita yang repot."
Rukia terkejut mendengar perkataan sarkartis Hitsugaya sampe badannya mundur. Ia menatap Hitsugaya dan tertawa kecil, "Iya…, iyaa deh."
Setelah berkata seperti itu, mereka masuk ke alam pikiran masing-masing.
Lama mereka terdiam, membiarkan suara hujan dan rintik mengganggu mereka.
"Rukia, jadilah seperti matahari… yang menyinari bumi dengan sinarnya tanpa pamrih. Tetap menyinari dunia walaupun banyak manusia yang mengeluh akan panasnya. Yang selalu menyinari dunia dengan sinarnya yang terik namun menyejukkan. Jadilah seperti itu di lingkungan sekitarmu…, paling tidak di hadapanku, di hatiku. Yang selalu menyinariku dengan senyummu, yang mencairkan sebagian hatiku yang membeku…," ujar Hitsugaya memecah sunyi—bahkan cowok itu sampe kaget sendiri karena tiba-tiba saja kata-kata itu keluar, meluncur dari mulutnya. Membuatnya menunduk, memalingkan wajahnya yang memerah agar Rukia tak tahu. Bodoh! seru Hitsugaya dalam hati. Itu kan sama saja menembaknya!
Rukia terdiam, menatap Hitsugaya. Gadis itu terperangah, karena tak percaya kakaknya bisa membuat kata-kata sepuitis itu. Akhirnya ia tersenyum, menyusun kata-kata dan membalas perkataan Hitsugaya, "Kalo gitu, Shiro-nii jadi bulan ya? Jadilah bulan yang selalu menyinari malam nan gelap dengan sinarnya walaupun redup. Walaupun cahayanya hanyalah pantulan sinar matahari…, tapi ia tetap setia menggantikan tugas Sang Surya, menjaga malam dengan sinarnya yang indah… terkadang di temani bintang dan gunung-gunung juga pohon tinggi atau gedung-gedung bertingkat dengan lampu-lampu silau dan gumpalan-gumpalan asap abu membuat bintang menghilang…. Jadilah bulanku, yang selalu menyinari hatiku walaupun cahanya redup… tapi sangat berarti di kelamnya hati ini."
Kali ini gantian Hitsugaya yang terperangah dengan kata-kata Rukia. Tapi matanya meredup. Harusnya sudah tahu kan? Rukia menyukai Ichigo, bukan kau, Hitsugaya! Jelas-jelas ia ditolak, walaupun Rukia tak sadar ia menembaknya.
"Hmp, puitis juga kau," goda Hitsugaya.
"Adiknya siapa duluu…," kata Rukia cengar-cengir.
Hitsugaya tertawa mendengar perkataan Rukia, "Terus? Ichigo jadi apa?"
"Ya jadi matahariku doong!!" ucap Rukia otomatis. Hitsugaya tersenyum pedih. "Nah, kalo Momo jadi apa, hayoo?"
"Jadi bintangku," kata Hitsugaya cepat, "Bintang itu sejenis dengan matahari karena mengeluarkan cahayanya sendiri. Namun bintang jauh, saking jauhnya, dari bumi hanya terlihat setitik cahayanya. Walaupun cahayanya hanya setitik, tapi ia tetap menghiasi malam, meskipun di kota tak terlihat karena lampu-lampu yang mengalahkannya."
Rukia lagi-lagi terperangah karena tak menyangka Hitsugaya mampu menyusun kata-kata itu dengan cepat. "Kok…bisa?!"
Hitsugaya tertawa. "Bisalah…. Karena itu bener-bener ada di dalem perasaan ini, jadi gampang aja ngomongnya. Ayo pulang. Mumpung ujannya udah reda, walopun gerimis sih, tapi daripada makin gede ujannya…."
Rukia mengangguk. "Ayo!" sahutnya. Mereka berjalan pulang, saling merapat karena payung yang kecil. Sambil menyusuri jalan setapak menuju rumah, Rukia menggenggam tangan Hitsugaya, gemetar.
"Kenapa? Kau takut petir?" tanya Hitsugaya mencemooh.
Rukia menggeleng kuat-kuat, namun ia terus menggenggam tangan Hitsugaya erat. Hitsugaya hanya bisa mepasrahkan tangannya diremas Rukia.
"Naah… ini dia. Pulang juga akhirnya!" sambut Mbah Putri. Hitsugaya dan Rukia hanya menjawabnya sambil cengengesan.
"Nih, mendoan sama teh! Masih anget… mumpung ujan-ujanan begini," Unohana keluar rumah sambil membawa nampan.
"Nah, Rukia. Cobain, ini mendoan," Mbahnya menyorongkan mendoan ke arah Rukia. Kepala Rukia mundur pelan, menjauh.
"Eng…, nggak Mbah. Teh aja," tolak Rukia halus. Ia duduk di sebelah Hitsugaya yang lagi makan mendoan lahap.
"Kenapa nggak mau mendoan sih? Kan enak. Apalagi buatan Mbah. Mantap!" Hitsugaya menyodorkan mendoan ke mulut Rukia. Rukia segera menutup mulutnya rapat-rapat.
"Payah," ejek Hitsugaya. Ia memotong mendoan itu dengan tangannya, menunggu kesempatan menyuapkan mendoan itu ke mulut Rukia.
GLLLEEGAAAR!!!
Suara petir menggelegar. Membuat Rukia menjerit ketakutan. Kesempatan!
"AAAAAAAKKKHHH—mm!"
"Ahahahahahhaha…!" Hitsugaya tertawa keras. Membuat seisi rumah menoleh padanya. Rukia mengunyah mendoan itu susah payah dan menelannya.
"Giamna? Enak nggak?" tanya Hitsugaya di sela-sela tawanya.
"Mmmh…," muka Rukia memerah malu. "E-enak."
Hitsugaya mengacak-acak rambut Rukia penuh sayang diantara sela-sela tawanya.
*
Karena rasa penasaran Rukia yang menggila, mereka—Hitsugaya, Unohana, dan Ukitake—mengikuti kemauan Rukia menjelajah Prambanan, Borobudur, dan menyusuri Malioboro. Untuk itu, mereka pamit dan menginap semalam di penginapan kecil dekat Malioboro, lalu langsung pulang pake kereta.
Payahnya, Hitsugayalah yang harus mengawal Rukia, memuaskan rasa penasarannya. Awalnya Hitsugaya setuju, toh ia sudah bertekad akan menjaga Rukia kan? Tapi ternyata… capek sekali! Unohana dan Ukitake pun tak ikut membantu dengan alasan kecapean. Jadi Hitsugaya dan Rukia berjalan-jalan mengelilingi Borobudur, naik sampai atas, lalu turun lagi, berdesak-desakan dengan orang. Belum cukup istirahat sepulang dari Borobudur, Rukia menariknya ke Prambanan.
Di Prambanan, Rukia naksir barang etnik yang dijajakan pedagang yang luar biasa mahal. Udah begitu, Rukia keliling-liling candi, masuk candi sana, masuk candi sini. Minta di poto-potoin. Memang seharian itu Hitsugaya terpaksa jadi fotografer pribadi Rukia—walaupun Rukia sering minta foto berdua juga sih. Ngebeliin ini-itu untuk Rukia, melandeni segala pertanyaan Rukia, dan lain-lain.
"Aah…, udah ya?" keluh Hitsugaya mengelap keringat.
"Udah? Kita belum ke Malioboro!" tahan Rukia. Gadis itu segera menarik Hitsugaya yang pasrah.
"Gila kamu! Kapan capeknya?!" seru Hitsugaya frustasi.
"Ayooo!!" rengek Rukia. Mereka berjalan dari ujung ke ujung. Belum masuk mall. Rasanya kaki Hitsugaya mau lepas. Sampai di ujung Malioboro, Rukia ngajak nyebrang, trus balik lagi ke ujung yang satunya. Sementara itu hotel yang mereka sewa masuk ke dalam gang di tengah-tengah Malioboro. Bener-bener bikin kaki pegel. Sesampainya di ujung, seorang tukang becak menawar.
"Ayo Mbak, ke Dagadu."
"Ke Keraton, Den?"
"Nggak, Mas," tolak Hitsugaya.
"Itu apaan sih, Shiro-nii?" Rukia menunjuk andong dan becak.
"Yang pake kuda itu Andong, yang pake sepeda itu becak."
"Terus Gadagu eh…?"
"Dagadu? Itu kaya… emm… Jogernya Yogya gitu deh!"
"Joger itu apa?"
"Aduuuh! Itu lho, yang di Bali!"
"Ngg… sering denger sih…," gumam Rukia. "Biar aku nggak penasaran, ayo ke sana!"
"CUKUP!!" bentak Hitsugaya, membuat orang-orang melirik ke arahnya. "Kakiku bener-bener pegel. Besok aja ya? Lagian ini udah sore."
Rukia cemberut. "Besok pagi kita pulang!"
"Aaakh! Ok… ok… tapi kalo gue pingsan lo yang gotong ya?"
Karena takut Hitsugaya pingsan beneran, Rukia terpaksa menganggukkan kepala. Mereka putar haluan menuju hotel. Tetapi dalam perjalanan, tetap aja Rukia nanya ini-itu.
"Kalo keraton itu apa?"
"Nggh… kerajaan gitulah."
"Emang masih ada?"
"Masih… masih…, di Indonesia yang masih ada kerajaan itu ya Yogya ini! Dipimpin Sultan—"
"Bukan Raja?"
"Bukan."
"Jadi kita boleh masuk istana?"
"Nggak."
"Lho….? Gimana sih? Terus buat apa kita ke… emm keraton itu?"
"Buat jalan-jalan! Udah ah, tanya aja tantemu yang orang sini asli!" Hitsugaya menyudahi percakapan.
"Maksudnya Tante Unohana?"
"Iyaaa… emang lo punya tante laen?" Hitsugaya benar-benar frustasi. Untung udah sampe depan hotel. Dengan mengacuhkan pertanyaan-pertanyaan Rukia, Hitsugaya memasuki kamarnya.
"Shiro-nii! Lepas dulu sendalnya!" tahan Rukia. Tapi Hitsugaya sudah tak tahan lagi. Begitu pintu kamar terbuka, ia memasuki kamarnya tanpa lepas sepatu, tanpa cuci kaki-cuci muka, langsung terkapar di kasur.
"Shiro-nii…!" keluh Rukia. Unohana menepuk bahunya.
"Sudah biarkan saja. Shiro pasti capek karena mengantarmu kesana-kesini. Kamu lebih baik istirahat, Rukia. Nanti sakit," ujar tantenya itu, mendorongnya ke kamar sebelah.
Hitsugaya tertidur lelap di sore hari, namun ketika malam menjelang, sehabis magrib, matanya terbuka.
"Shiro…, bangun!" Ukitake mengguncang-guncang pundaknya pelan.
"Akh? Aku baru tidur, Outo-san!" erang Hitsugaya.
"Ini sudah malam. Kita beli makanan dulu, ya? Nanti kau boleh tidur lagi," bujuk Ukitake lagi. Akhirnya Hitsugaya terbangun dengan mata merah. Ia bahkan tak sempat mandi karena Ukitake, Unohana, dan Rukia menunggunya tak sabar. Membuatnya hanya sempat cuci muka dan meraih jaket yang semenjak dibawa ke Yogya tak pernah dicuci dan hampir tiap hari dipake. Kaosnya pun masih sama, jinsnya juga masih sama, begitu pula sepatunya. Rambut spikenya acak-acakan, dengan kantung mata menggerayang mata indahnya.
Mereka naik becak ke Keraton dan makan disana. Pulangnya, Rukia dan Unohana bersekongkol, pergi membeli bakpia dan oleh-oleh khas Yogya lainnya. Bukannya pulang, mereka malah pergi lagi ke Dagadu atas permintaan Rukia, membuat mereka pulang tengah malam. Untunglah Hitsugaya dan Ukitake pulang duluan.
Paginya, mereka berempat berkemas, segera pergi ke stasiun kereta. Mereka akan kembali ke Jakarta naik kereta pagi. Hitsugaya yang tak puas dengan tidur malamnya melanjutkan tidurnya di kereta sambil nunggu keretanya jalan hingga akhirnya sampailah mereka di Stasiun Gambir, malam hari.
*
Naia melirik rumah di depannya itu. Wajahnya berubah cerah.
"Naliaaann…," panggilnya. Sang kakak yang asik memasukkan bola ke ring basket menoleh.
"Kenapa?"
"Semalem Toushiro udah pulang?"
"Iya kali."
Baru Naia ingin berteriak, minta ijin masuk, yang diomongin keluar.
"Iya, gue udah pulang! Ngapain lo disini?" tanya Hitsugaya pada kakak-beradik itu.
"Kayaknya emang rumah gue disini deh," ucap Naia. "Mata lo kenapa, bu? Bengkak?"
"Ba-bi-bu, ba-bi-bu! Panggil gue Hitsugaya. Hit-su-ga-ya!" bentak Hitsugaya kesal. Ia berjalan menuju tempat sampah besar di depan rumahnya. Tujuan utamanya keluar sebenarnya untuk membuang sampah, tapi ketemu Isuramukyou bersaudara ini.
"Iye iye, cerewet lu," keluh Naia.
"Mata lo kenapa dah?" tanya Nalian.
"Ini… kemarena gue capek pulang dari rumah Mbah. Eh si Rukia malah ngajak jalan-jalan muter-muter Borobudur sama Prambanan. Udah gitu gue ditarik nganterin dia jalan dari ujung ke ujung Malioboro, nyebrang dan ngulang lagi, dari ujung ke ujung. Gimana gue nggak capek?" omel Hitsugaya.
Naia tertawa kecil, namun ada yang aneh di tawanya. Begitu pula Nalian yang mengerutkan dahi.
"Kenapa?" tanya Hitsugaya merasa ada yang aneh. Naia dan Nalian menggeleng bersamaan.
"Aneh lo berdua. Udah ah, gue pengen ngelanjutin tidur," ujar Hitsugaya berbalik. Naia dan Nalian menatap punggung Hitsugaya. Mereka terlalu lama mengenal Hitsugaya, membuat mereka begitu tahu di balik punggung yang tampak kokoh itu.
"Kak…, mungkin nggak sih?" tanya Naia pada Nalian. Badannya menghadap Nalian, namun kepalanya masih menatap punggung Hitsugaya yang kini berganti tembok pagar.
"Entahlah…."
Next Chapter:
Kakak beradik Isuramukyou itu terlalu mengenal Hitsugaya…. Mereka terlalu tahu Hitsugaya, membuat mereka tahu perasaan Hitsugaya—yang ia simpang dalam-dalam. Sedalam mungkin.
"Nggak mungkin seorang Hitsugaya bisa begitu kecuali karena cinta!" tandas Nalian. Dan sepertinya, Hitsugaya harus memberi tahu kakak-beradik ini, karena kisah ini terlalu rumit. Ataukah Hitsugaya harus diam saja?
***
Balesan review:
kuchiki horie: hehehe... ceritanya disini Hitsugaya playboy ya?
Yumemiru Reirin: ehm... bisa liat di chap ini kan? hehehe ^^
ayakuchiki nggak log in: wahahaha... go HitsuRuki!! *ditimpuk IchiRuki FC*
Hinazuka Airin: huhuhu.. iya, Hitsu beneran suka. Saya emang author geblek yang nggak konsisten dan labil kaya Bella Swan di Twilight Saga. Kalo Bella antara Jacob dan Edward, aku antara HitsuRuki dan IchiRuki T.T
Hhah..., akhir kata, saya ingin vote anda! tadinya pengen bikin Polling di account tapi nggak jadi ah, disini aja.
1. Kalau di fic ini ada yang mati, siapakah yang akan mati terlebih dahulu itu? a. Hitsugaya b. Rukia c. Ichigo d. Hinamori
2. Apa pair di akhir cerita yang anda harapkan? a. HitsuRuki (yang berarti bakal IchiHina) atau b. IchiRuki (yang akhirnya HitsuHina) atau... c. Lain-lain (sebutkan)
3. Apa akhir cerita ini yang anda harapkan? a. happy ending atau c. sad ending
*author melihat pertanyaan yang ia buat sendiri* Kok jadi gini ya? kaya di majalah aja... maaf kalo ngerepotin, tapi silahkan pilih! kalau nggak juga nggak pa-pa kok, jadi jangan salahkan saya kalo akhir cerita ini pairnya jadi berantakan atau kurang memuaskan *digebuk massa*
akhir kata, REVIEW!!
