Hold me

Cast :

Super Junior Member

(Lee HyukJae)

(Lee DongHae)

and some cast from another group

Pair :

Actually HaeHyuk (YAOI)

Rate :

T

Genre :

Romance

.


.:. Hold Me .:.


.

"Ehm.. say—saya Kim Hyukjae, eee… Assistant magang dari Jepang…",

"Ki—Kim.. Hyuk—Jae ?",

"Ddd—Dongh…", Eunhyuk berucap samar, ketika orang yang membuat tubuhnya bergetar berjalan mendekat ke arahnya.

.

.

PLUK

.

.

'Tuhan please, jangan ketahuan sekarang..',

Eunhyuk berdoa diantara keterkejutannya merasakan tangan lain yang menyentuh benda di lehernya. Ia belum siap untuk ketahuan sekarang.

'Bodoh.. Kenapa Aku memakai kalung ini… Sungmin Hyung, eothokae ?, Dia akan tahu..'.

.


.:. Hold Me .:.


.

"Ini… kaitan kalungmu hampir lepas Hyukjae-shi", Tangan orang ini bergerak mengembalikan sesuatu yang disebutkan dengan benar. Eunhyuk diam mencerna perkataan Donghae, ia juga terlihat sangat menikmati pergerakan yang mempertemukan kulitnya dengan kulit tampan di depannya, tak ada jabat tangan melainkan sentuhan tanpa sengaja untuk ukuran orang yang baru bertemu.

"Ah… ka—kamsahamnida..", Eunhyuk segera membungkuk dan meraba area lehernya. Sedikit bertanya kenapa Donghae tidak langsung mengetahui jika ini adalah dirinya atau memang ia sudah menjadi yang terlupakan. Rabaan tangannya berhenti saat ia menyadari satu hal, ingat pernyataan Donghae ?, 'Kaitan', namja itu menyebutkan kaitan. Jika kaitan yang terlihat di depan, berarti…

'Syukurlah, bandulnya di belakang', Sadar atau tidak hati kecilnya mengatakan lain, seperti ingin yang di depan mengenalinya mungkin.

"Hyukjae-shi ?",

"A—aah… Ye ?", Eunhyuk kembali gelagapan ketika tangan Donghae berpindah menuju pipinya. Seingat Eunhyuk ia tidak memiliki tahi lalat atau tanda lahir yang lain di sini, tapi tetap saja ia khawatir diperlakukan seperti ini.

"Kulitmu halus sayang…",

"Huh ?", Eunhyuk bertanya-tanya apa maksud atasannya ini.

"Ha..ha, Aku ingin memujimu, penampilanmu…", Donghae menjauhkan tangannya dan mengangkat ibu jarinya ke udara.

" Dan Kau tahu ?, Kau sangat manis", Bisik Donghae di telinga Eunhyuk.

'Astaga, orang ini… Kenapa tidak berubah juga',

"Kamsahamnida…", Tidak ada jawaban lain yang boleh Eunhyuk keluarkan bahkan seperti suara batinnya barusan.

"Ayo kuantarkan ke mejamu, mejamu ada di ruangan itu… di dekat mejaku…", Ramah sekali batin Eunhyuk. Dan ia hanya bisa mengikuti ketika tangan Donghae menuntunnya menuju meja yang disebutkan.

'Apa iya Aku seberubah itu, Hae ?'.

.


.

"Yakin Dia asisten ?", Tanya salah satu pekerja dengan kemeja soft blue kepada rekannya yang ada di ruangan sama.

"Molla, Kenapa juga Kau mengurusinya ?", Jawab tidak peduli dari yeoja dengan perut membuncit, tanda ia sedang isi.

"Seingatku… Aku bertemu dengannya pagi ini…", Wajah menggelikan khas orang yang memang sedang mengingat sesuatu dari namja diakhir 20 an ini.

"Tidak ada yang bertanya…",

"YA! Noona !, Teruskan Joon…",

"Kalian pasti terkejut mendengar mobil jenis apa yang ia tumpangi…",

"Aish.. Cepat katakan, bodoh !", Penasaran salah satunya.

"Mercedes Benz S 500 L A",

"Su—sungguh ?", Si namja bertanya dengan tergagap dan yeoja hamil di sampingnya sempat membuka lebar bibirnya.

"Hm… Dia kan kemari hanya ingin mendapatkan ijazah bukan nominal, jadi sangat mungkin jika ia adalah anak orang berada", Pendapat dari yeoja lain yang ada di meja paling kiri.

"Kim bukan ?", Yeoja hamil ini mulai tertarik dengan topik yang dibawa dua rekan namjanya.

"Benar !, tapi… Kim terkaya mana yang ada di negara kita eoh ?",

"Cari saja biodatanya, bodoh !... Sudah, kembali bekerja sana… Kau mengajakku berpikir tidak penting…",

"Aku sungguh masih penasaran, tunggu saja… Aku benar-benar akan mencarinya".

.


.:. Hold Me .:.


.

Hari yang tidak cukup padat untuk Eunhyuk, artinya ini adalah sesuatu yang menguntungkan, dimana ia tidak perlu bingung dan berkeringat untuk mengerjakan sesuatu atau suruhan menjengkelkan dari atasannya. Siang menjelang, banyak pekerja menghambur untuk menyapu bersih cafeteria, ada juga yang berjalan ke basement untuk mencari tumpangan pribadinya sekedar makan di luar. Eunhyuk ?, tenang, Dia bersama dengan Donghae dan para pekerja lain di bidang yang sama. Eunhyuk merasa perutnya benar-benar perlu diisi, terlambatnya tadi pagi tidak mengindisikan ia telah menghabiskan sarapan, namun berjam-jam dengan bau tajam khas warna rambut di salon dan pantas jika kini ia merasa sangat lapar.

.

TAP

.

Eunhyuk menghentikan langkah, membuat Donghae yang berada di sebelahnya ikut berhenti.

"Wae ?", Donghae melihat ada yang aneh dari Eunhyuk sejak kaki keduanya memasuki cafeteria ini. Hidung Eunhyuk sedikit terangkat, memastikan ada bau aneh yang membuatnya tidak nyaman.

"Hyukjae-shi ?",

"A—aa… Ndee Sajangnim…", Eunhyuk menghentikan kekonyolan hidungnya dan segera mengikuti Donghae yang berjalan terlebih dahulu.

"Omo !", Begitu sampai di depan jajaran makanan Eunhyuk mundur selangkah dan…

"YA !, Apa yang Kau lakukan ?, Dimana matamu ?", Tidak sengaja Eunhyuk menginjak salah satu kaki pegawai yang ikut antri.

"Mm—mianhamnida…", Eunhyuk segera membungkuk takut, ia benar-benar tidak sengaja, toh juga tidak terlalu sakit menurutnya karena bobot tubuh Eunhyuk yang tidak seberapa.

"Kau ini bagaimana sih ?, Mau antri apa tidak ?", Eunhyuk semakin menunduk mendengarkan kemarahan orang ini.

"Minggir sana !",

.

.

SEEET

.

.

"Aww…", Mata Eunhyuk tertutup, dorongan dari orang yang memarahinya ini mungkin bisa membuat ia jatuh.

.

.

GREB

.

.

"Gwanchana ?",

'Suara ini…',

"Hyukjae~, Gwanchana ?", Ulang seseorang yang dirasa merengkuh pinggangnya.

"Donghae…", Lirih…sungguh sangat lirih.

"Hei… Apa yang Kau katakan ?, Buka matamu… Kau tidak jatuh kok…", Tepukan tangan Donghae di pipinya membuat ia berani membuka mata untuk percaya bahwa tubuhnya sendiri memang tidak apa-apa.

Seakan sadar dari posisinya yang juga menimbulkan perhatian banyak orang, mengingat tempat publik apa yang sedang ia datangi sehingga buru-buru ia menegakkan tubuhnya dan membuat rengkuhan Donghae terlepas.

"Gwan—gwanchanayo Sajangnim…",

"Ah… Syukurlah…", Donghae kemudian berjalan ke orang yang tadi mendorong Eunhyuk, sedangkan Eunhyuk tetap berdiri di tempat ia hampir jatuh. Sempat matanya menangkap Donghae yang membungkuk di depan orang tadi, namun tidak terdengar pembicaraan apa antar keduanya.

"Hei… Ayo Kita antri lagi…", Ajak Donghae halus sembari menggandeng tangan Eunhyuk ke stand makanan.

"Hoeek…", Buru-buru Eunhyuk menutup bibirnya dan satu tangan yang lain memegang perut sebelah kirinya ketika bau yang sempat ia pastikan tadi menyeruak ulang dalam indra penciumannya.

"Waeyo ?", Donghae bertanya khawatir.

'Geez… Itu seafood, bodoh !', Andai Eunhyuk boleh berteriak demikian. Inilah alasan keanehan yang diberikan Eunhyuk semenjak memasuki area makanan.

"Ak—aku.. ehm… sepertinya tidak lapar Sajangnim… Itu… Anda saja yang makan, Aku but—butuh toilet, jad—jadi… ehm… Aku harus pergi… Iya, Aku harus pergi..", Eunhyuk mengucapkan kalimat dengan tangan yang menahan penciumannya membau lebih. Ia juga tidak ingin lama-lama di sini, bisa-bisa ia muntah dan tambah malu dengan tatapan jijik orang-orang. Dengan segera, kaki indahnya menjauh dari stand ini walaupun belum sempat mendapat balasan iya atau oke atau juga boleh dari Donghae.

"Selamat makan Sajangnim…", Akhir Eunhyuk sebelum meninggalkan pintu masuk sembari melambaikan tangan kepada Donghae.

"Aneh sekali anak itu…. Tapi manis juga, sama seperti—",

"Tuan, Anda ingin memesan apa ?".

"Ah… Paket A satu…".

'Apasih yang sedang kupikirkan ?', Donghae menepuk kepalanya sendiri sebelum menerima pesanannya.

.


.:. Hold Me .:.


.

"Ugh… Eotokhae ?, Aku lapar Hyung… sungguh…",

"Hyukkie~ please, di sana ada banyak makanan…", Rengekan manja dari blonde yang terduduk di atas closet seberang ini menciptakan helaan nafas panjang dari orang yang duduk di tengah-tengah pertemuan dewan.

"Tapi Hyu~ng, Kau tahu Aku tidak bisa seafood kan ?, Di sini semuanya berisi seafood, sungguh…", Kembali nada yang manja Eunhyuk tuturkan untuk orang yang sepertinya berjadwal padat ini. Namun, Eunhyuk juga tidak bohong jika ia alergi semua jenis makanan laut tersebut. Amis yang menyeruak hidungnya bahkan bisa membuat warna kemerah-merahan di kulit wajah dan tangannya seperti sekarang.

"Astagaaa… Hyukkie, Kau bisa berjalan keluar gedung, di seberang jalan ada reataurant, Kau bisa membelinya di sana, sayang…" Sungmin tahu jika manis yang lebih muda darinya itu benar-benar bisa mati jika memakan seafood, di sisi lain ia memang sangat sibuk sekarang.

"Aku tidak mau berjalan jauh Hyung, Aku takut menyeberang jalan, Kau tahu kan Hyung Aku pernah tertab—", Dan berlanjut ke alasan Eunhyuk yang banyak dan panjang. Sungmin merasa waktunya akan habis jika terus meladeni Eunhyuk tanpa tindakan pasti seperti ini.

"Geure.. geure, sekarang Hyung harus apa, sayang ?... Tidak mungkin kan Hyung pergi ke tempatmu da—",

"Pesankan Aku makanan Hyung, Jebbal...",

"Kau bisa melakukannya sendiri kan ?",

"Jebbal~ Hyu~ng…", Kembali rengekan indah yang membuat siapa saja akan patuh dengan Eunhyuk, begitu pula dengan Sungmin, tidak ingin mendengar anak ini semakin menjadi dan diakhir bisa menangis.

"Aishh… Okee dengan syarat jangan menganggu Hyung sampai jam pulang nanti !, Jangan lupa juga meminum obatmu !, Hyung tutup sekarang, Anyeo~ng", Sungmin tidak ingin rengekan Eunhyuk berlanjut semakin mendayu dan panjang yang bisa saja membuatnya tidak jadi menyelesaikan meeting.

"Dari siapa Min ?, sepertinya penting sekali…", Tutur salah seorang yang membuat Sungmin gelagapan setelahnya.

"A—ah… Han Ahjushi… it—itu, dari sepupuku.. iya sepupuku…", Jawab Sungmin sedikit tidak yakin karena ia sudah banyak berdosa dengan namja paruh baya yang juga ikut serta dalam meeting kali ini.

'Bodoh, kenapa Aku tidak sadar jika Hanggeng Ahjushi juga berada di sini',

"Baiklah, bisa Kita lanjutkan sekarang ?", Tanya Hanggeng kepada yang lainnya dan hanya dibalas anggukan, tak terkeculai Sungmin.

.


.:. Hold Me .:.


.

TINNN-TIIINNN

.

.

"Oh my God !", Eunhyuk memastikan diri akan terjatuh jika kondisinya sedang tidak dalam posisi yang bagus, bagaimana pula klakson dari mobil sport hitam di depannya ini terlalu keras sehingga membuat pendengaran orang terganggu.

"Menunggu jemputan ?", Sapa orang dari dalam mobil yang membuat Eunhyuk kikuk.

"I—iya, Sajangnim…",

"Ehm… Bagaimana jika Aku yang mengantarmu ?",

"Maaf ?", Tanya Eunhyuk memastikan, apa iya ada atasan yang baru sehari dikenal langsung pada poin antar-mengantar.

"Kau masih ingat peraturan nomor 4 kan sayang, tentang berangkat bersama ?", Tanya Donghae sembari tangannya bergerak membuka dari dalam pintu di sebelah kemudi seakan yang diajak langsung mau.

"Nde Sajangnim…",

"So ?, Bukannya Kau harus tahu dimana Aku tinggal ?",

'Aku tidak mungkin lupa, dasar bodoh !',

"Ndee Sajangnim…",

"Tidak masalah bukan jika berkunjung ke rumahku ?",

'Itu masalah besar, ahhh…. Aku harus apa ?', Ronta Eunhyuk dalam hati. Apa harus ia sekarang menerima ajakan tersebut. Yang dapat Eunhyuk pastikan hanya berperan dengan script dari Tuhan, tapi pilihan ini, bukankah dari dirinya sendiri ?.

"Lalu tunggu apa lagi ?, cepat masuk !", Tangan Donghae menjulur keluar dari jendela kemudi dan menarik Eunhyuk untuk cepat masuk.

'Aku tidak bisa', harusnya ini jawaban Eunhyuk, bukan malah….

"Ap—apa tidak apa-apa ?",

"Tentu saja tidak…",

'Kau bodoh, Hyuk', Apalagi yang bisa Eunhyuk lakukan selain menerima ajakan Donghae untuk masuk ke area yang belum ia inginkan.

Pertama kali dalam hidupnya, duduk bersebelahan dengan Donghae tapi minim pembicaraan. Ia merasa canggung dan takut akan sedikit out jika berbicara dengan orang yang jujur saja sangat dirindukannya. Hanya Donghae yang aktif mengajak, sedangkan Eunhyuk tetap terbata ketika menjawab dan tidak berinisiatif untuk bertanya balik kepada Donghae. Sejujurnya lagi, kepalanya hampir pecah dengan beratus pertanyaan yang tidak bisa diajukan kepada sahabat tampannya itu.

'Bagaimana kabarmu ?... tanpa aku',

'Bagaimana dengan Ahjuma dan Ahjushi ?, yang mungkin bisa membuatku mati berdiri ketika bertemu sebentar lagi',

'Apakah London bagus ?... Aku juga ingin pergi ke sana',

'Apa Kau masih menyimpan fotoku ?, foto kita ?... Mungkin sudah Kau bakar ya ?...',

'Apa barang-barangku masih ada di rumah ?, atau Kau membuangnya ?',

'Apa Kau tahu Aku sangat me—',

"Hyukkie… Kita sudah sampai…",

"Ap—apa ?", Tunggu, pasti ada yang salah.

"Ah.. mian, maksudku Hyukjae… Ehm… namamu hampir sama dengan seseorang yang ku kenal",

"Oh…", Apa Eunhyuk sedang merasa kecewa sekarang ?, atau justru berteriak kesenangan, dalam hati. Sahabatnya ternyata masih mengingatnya, bahkan hanya sampai pada panggilan.

"Ayo turun !", Donghae sedari ia memanggil dengan nama yang dulu sering ia gunakan memanggil blonde ini sudah berdiri di samping pintu Eunhyuk dan membukakan dengan gentle bagian ini.

"Gomawo Sajangnim…",

"My pleasure…", Donghae menutup pintu mobilnya begitu Eunhyuk sudah keluar. Ia berjalan lebih dulu selangkah dari Eunhyuk yang ada di belakangnya. Eunhyuk merasa tubuhnya melemas begitu memasuki pintu utama.

"Letakkan sepatumu di rak itu !", Tunjuk Donghae pada papan berkayu yang sudah terisi beberapa sepatu kantoran mahal yang ia yakini milik Ahjushinya.

"UMMAAA… AKU PULANG !",

"AHJUMAAA… KAMI PULANG !",

Eunhyuk memegangi bagian occipital kepalanya, rasanya sama seperti beberapa tahun yang lalu.

"Segera ganti baju dan turun untuk makan malam…",

"Jangan berteriak Hyukkie, Umma mendengar kok… cepat bersihkan diri dan bersiap makan malam…",

Denyutan di kepala namja blonde ini semakin bertambah ketika kakinya mulai menyentuh lantai tangga yang dingin.

"Hyukjae~… Kau ingin langsung menyapa Ummaku atau ikut Aku ke atas ?",

"Huh ?", Ada yang salah dengan tubuh Eunhyuk saat ini, pertanyaan Donghae bagai angin lalu, karena mata Eunhyuk tidak fokus mengarah pada Donghae, matanya sibuk memandangi ornamen-ornamen yang terpajang di dinding, pigura-pigura besar yang isinya belum berganti sejak bertahun-tahun yang lalu. Bagai bercermin, ia menemukan semua gambar diri yang tersenyum indah diantara 3 orang lainnya di sana.

.

~Nyuuuuut

.

.

BRUG

.

.

"HYUKJAE !",

"Donghae Wae ?", Ummanya berlari tergopoh begitu mendengar bunyi yang sebenarnya tidak terlalu keras seperti sesuatu yang terjatuh di lantai.

"Astaga~… Dia kenapa ?", Tanya yeoja anggun ini khawatir begitu melihat anaknya mengangkat seorang namja yang wajahnya tersamarkan, karena hanya bagian belakang tubuhnya saja yang terlihat.

"Dia pingsan Umma… Ak—aku akan membawanya ke atas saja…", Heechul mengangguk menyetujui ucapan Donghae.

"Ehm… Dia asisten baruku dan… Umma tidak perlu khawatir, Umma teruskan memasak saja, biar Aku yang mengurus namja ini…",

"Iya Hae, kalau begitu Umma kembali ke dapur…", Bukan tugas yang sulit untuk tubuh tegap Donghae membopong manis ringkih satu ini. Seluruh anak tangga dengan mudah dapat ia lewati, hingga kakinya berdiri diantara pintu kamarnya dan pintu kamar di sebelah yang kita tahu milik siapa itu.

"Ehm… Biar di kamarmu dulu ya Hyukkie…", Izin Donghae entah kepada siapa.

Bersih, rapi dan harum, sama seperti ketika belum ditinggal pemiliknya. Tidak ada satupun isi yang terbuang, berjamur atau bahkan berdebu, semuanya jelas masih sama. Donghae membawa Eunhyuk pada bed besar mengagumkan yang memang milik namja manis ini. Dengan hati-hati ia menurunkan namja manis ini, tangannya menarik selimut berwarna kuning cerah yang sudah tertata, kemudian. Donghae mengalihkan pandangannya ke dinding di depannya, senyumnya merekah begitu disapa oleh foto indah namja yang dirindunya…

"Aku rasa Kau mirip dengannya Hyukkie…",

"Eits… Jangan marah, Aku tahu Kau tak tertandingi sayang…",

"Aish… Gilaku muncul lagi kan… Ah… mungkin mandi akan menjernihkan otakku…", Donghae mendekati tubuh Eunhyuk dan menyibak anak rambut yang menghalangi mata tertutup Eunhyuk.

"Mungkin Kau memang butuh istirahat, Hm… Aku tinggal dulu manis…".

.


.:. Hold Me .:.


.

30 menit dari waktu Eunhyuk pingsan dan sudah sepuluh menit yang lalu blonde manis ini terbangun, denyut di kepalanya belum begitu hilang, namun samar dirasakan. Awalnya ia kesulitan menerjemahkan tempat macam apa yang membuatnya berada di sini, bukan asing yang memaksanya harus berteriak meminta tolong, namun entah ketenangan dari mana yang membuatnya mampu mengingat dengan cermat hal apa yang membawanya di kamar lamanya ini.

"Omo !... Monkey kuuu…", Penglihatannya menangkap boneka menggemaskan di sudut bed dan sontak dengan suara heboh derit bed ia menjangkau boneka yang lainnya pula.

"Choco kuuu… Kalian pasti merindukanku yaa ?", Eunhyuk memeluk sayang seakan obyek tak bernyawa di depannya bisa menangkap kerinduannya. Dengan bergantian ia memberikan kecupan satu persatu benda-benda kesayangannya ini. Masih membawa salah satu boneka berbentuk anjing dengan mata belo yang tak kalah menggemaskan dengan dirinya sendiri, kaki Eunhyuk menyusuri jajaran almari panjang, tempat ia dulu memyimpan koleksi indah segala yang pernah dimilikinya.

.

KLEK

.

.

NGIIIK

.

.

Derit pertama yang sangat dirindukannya…

"I—ini…", Matanya terharu dengan jajaran pakaian, tas juga sepatu yang tertata manis dan sungguh ini masih sama dengan keadaan yang dulu.

"Astaga… Jadi Ahjuma menyimpan ini dengan baik… hiks…", Satu isakannya muncul menandakan ia benar-benar merindukan ini semua.

'Andai hari itu tidak terjadi…',

"Hiks…", Eunhyuk membiarkan air matanya mengalir indah di tirus miliknya. Meresapi kenangan yang memaksa masuk dalam memorinya, asal ia rileks… ia akan jauh dari kata kambuh.

.

Cklek

.

"Apa yang Kau lakukan ?",

'Ahjuma…',

.

SEEET

.

Eunhyuk berbalik dengan cepat, mengusap air yang meleleh di pipinya dengan kasar.

.

DEG

.

Hentak keras detak jantung keduanya setelah mempertemukan dua fokus yang menyiratkan kerinduan satu sama lain.

"Ka—Kau… Hyu—",

"Cheonseohamnida… Say—saya… Kim Hyuk-Jae, asisten Tuan Lee Donghae", Mata Heechul mengamati dengan pasti namja yang benar-benar dikenalnya di luar kepala itu ketika nama penuh penekanan diajukan dengan lugas oleh si manis. Seakan takut jika ia akan ketahuan oleh yeoja paruh baya dengan dandanan cantik nan anggun ini dengan cepat dan tanpa cacat Eunhyuk mengutarakan identitas barunya.

Heechul hanya berdiri di tempatnya tanpa bersuara lebih, harusnya ia meneriakkan lancang untuk namja manis di depannya, berani sekali jika dinilai sebagai tamu untuk membuka almari tuan rumah, juga dengan santai membawa salah satu benda kesayangan pemilik kamar.

"Ki—Kim Hyuk Jae ?", Seakan tidak percaya dengan apa yang didengarnya beberapa menit yang lalu, yeoja ini butuh pengulangan yang lebih jelas.

"Ndee… Ahju—ehm.. Salmonim…", Hampir kecerobohan Eunhyuk terlontar, ia sulit mengutarakan sesuatu yang berkebalikan dengan kebiasaannya. Sedangkan Heechul masih memandangi postur kecil yang menundukkan kepala di depannya itu.

"Kau yakin ?",

"Mian ?", Eunhyuk mengangkat kepalanya.

"Eehm… Kau yakin sudah sehat ?", Tidak ingin melihat namja di depannya tampak ketakutan, Heechul seakan membelokkan arah bicaranya.

"Ahh.. Nde, Saya rasa demikian…",

"Baiklah… Ayo kalau begitu Kita turun, Aku akan memanggil Donghae terlebih dahulu…", Eunhyuk mengikuti pergerakan Heechul dengan setia di belakang. Namun, ada satu yang dilupakannya, benda berbulu yang kini masih dibawanya tidak sadar dirasakan Eunhyuk dan ikut terbawa ketika ia menuruni tangga, kemudian sampai di meja makan.

.

DEG

.

Satu lagi yang membuat Eunhyuk bergetar dan sedikit tidak yakin…

'Ahjushi…',

Tatapan orang yang duduk di depannya membuat ia semakin mengerut, tajam yang masih sama yang membuat Eunhyuk tunduk selama ini, orang paling dihargai dan ditakutinya, orang yang paling berjasa di hidupnya selain Sungmin yang memang tak seberapa.

"Hyukjae~ perkenalkan dirimu pada Appaku…", Perintah Donghae sebelum menarik kursi yang dulu memang sering dilakukannya untuk Eunhyuk.

"An—anyeong haseyo… Choneun Kim Eunh—", Dengan cepat Eunhyuk menepuk bibirnya sendiri, tidak terlalu keras sih. Namun, ada sepasang mata yang menatap pergerakan menggemaskan dari Eunhyuk dengan begitu detail, walaupun sebenarnya pemilik ini sibuk meletakkan sesuatu di piring.

"Mian, ehm… Kim Hyukjae imnida…", Nafas Eunhyuk sedikit tidak terkendali, hampir lagi dan lagi bibirnya keluar dari baris yang sudah dirancang.

"Nde, tidak usah segugup itu, Aku sudah mendengarnya dari Donghae, Apa Kau sudah merasa lebih baik ?",

"Ah Nde… Saya sudah merasa lebih baik, mungkin karena saya masih jet lag mengingat baru sampai semalam…",

"Hm… duduklah !, ngomong-ngomong… Kau tidak terganggu dengan benda itu…", Tunjuk Hanggeng pada sesuatu yang Eunhyuk bawa dan ini membuat pandangan beberapa mata juga ikut menatap Eunhyuk sedikit aneh.

"Astaga… Ah… ini, mungkin ehm… tidak sadar saya bawa, ka—karena.,. mirip dengan milikku yang ada di rumah… hi…hi…hi", Berpikir keras untuk mendapatkan alasan ini eoh.

"Tidak masalah kalau tidak mengganggumu…", Eunhyuk hanya membungkuk kemudian menduduki kursi yang telah Donghae tarik tadi.

Hangat suasana yang sejujurnya tidak hanya dirindukan oleh Eunhyuk saja, tiga lainnya juga pasti sangat menginginkan apa yang ada di benak Eunhyuk. Kalau bisa dan boleh, Eunhyuk akan menghambur ke pelukan mereka satu-persatu. Melihat Hanggeng yang sudah mengiris potongan steak tersebut, membuat Eunhyuk tergoda untuk segera mencicipi salah satu favoritnya ini. Ia melihat piringnya dan…

'Oh Ya Tuhan, Aku tidak bisa mengirisnya…', Eunhyuk hanya diam memangdangi piringnya kemudian menatap Donghae yang nampaknya juga mulai menikmati miliknya sendiri.

"Eh, Wae ?, Kenapa tidak dimakan ?", Pertanyaan Donghae membuat semua mata mengarah pada Eunhyuk dan piringnya.

"Kau tidak suka dengan menunya ? atau Kau membutuhkan yang lain ?", Tanya Hanggeng.

"Annio… Bukan seperti itu… Aku sangat menyukai ini, sungguh… Tapi…", Eunhyuk menghela nafasnya, gengsinya meninggi akan pilihan harus jujur atau tidak.

"Hyukjae !... Ini…", Yeoja dengan dress biru ini menyerahkan piringnya pada Eunhyuk dan menukarnya dengan piring Eunhyuk yang masih utuh dengan daging tanpa sayatan.

"Ah… Kamsahamnida…", Sedikit malu ketika ada yang menyadari kelemahannya itu. Tapi yang sedang Eunhyuk pikirkan sekarang bagaimana mungkin orang yang dipanggilnya nyonya itu tahu kalau…

"Oh, Kau tidak bisa mengirisnya ya ?", Tanya Donghae santai tanpa ada nada menjatuhkan.

"Hi..hi, Iya…", Kekeh Eunhyuk imut.

"Ha..ha..ha, Aku jadi ingat sesuatu…", Kini Hanggeng bersuara dengan hangat.

"Aku juga Appa…", Lanjut Donghae.


.

FB

.

"Ish… huh… susah~…",

"Tidak bisa jika Kau sambil menangis begitu…", Komen si tampan pada manis yang duduk di sampingnya

"Aku lapar dan ingin cepat makan Hae…",

"Tapi bukan begitu caranya, sayang… iris perlahan dan gunakan feeling mu…",

Mencoba lagi, namja manis ini serius ingin bisa mengiris daging yang tak seberapa besar itu kemudian memasukkan ke dalam mulut mininya dan mengunyah menjadi koyakan yang bisa ditelan.

.

PRANG

.

"Aish… aww… appo Hae~… hiks…", Susah yang dirasa manis ini membuatnya membantingkan garpu serta pisau kecil yang digunakan memotong daging ke lantai. Kemudian isakan tanda ia benar-benar menyerah ditujukan pada Donghae yang ada di sebelahnya.

"Ya ampun tanganmu berdarah sayang…", Suara namja paruh baya itu menghentikan pergerakan yeoja di sebelahnya juga Donghae yang tengah mnegunyah makanannya.

"Hiks… Donghae tidak mau membantuku… Ahjushi…hiks..",

"Astaga~… Hyukkie please !, Kau yang tidak sabaran…",

"Ahjuma~… hiks…",

"Oh God… Manjanya..",

"Donghae hentikan !".

.

FB END

.


.:. Hold Me .:.


.

"Aku tidak bisa mnghubunginya sedari sore Kyu~",

"Sayang tenanglah !, mungkin Dia ada pekerjaan sampai malam…",

"Tidak mungkin, Dia memintaku menjemputnya bahkan… Tapi saat Aku sampai, Dia sudah tidak di tempat…. Oh Lord, Kau dimana sayang ?",

"Apa mungkin Dia tersesat ?", Tanya si audience menerka.

"Takutku… Ah, bagaimana ini ? ", Namja yang lebih pendek ini terus berjalan berbolak-balik arah tak bisa diam.

"Donghae hyung… Kenapa Kita tidak bert—",

"Aku tidak bodoh untuk menanyainya dan kemudian selesai dengan Eunhyuk yang berbaring di Rumah Sakit keesokan harinya",

"Lalu harus bagaimana lagi ?, satu-satunya orang yang bisa membantu hanya Dia…",

"Tidak Kyuhyun !",

"Tenanglah Hyung… Ayo Kita masuk dahulu, tidak enak dengan tetanggamu…", Kyuhyun, kekasih namja yang lebih pendek itu meyakinkan pujaannya untuk tidak terlalu serius, mengingat mereka juga masih berada di koridor.

"Aku tetap akan menunggunya…",

"Tap—",

"Kau pulang saja jika tidak ingin menemaniku…",

"Hyung !", Sungmin tak menanggapi ucapan Kyuhyun, ia kembali merasa bingung sendiri dan tak memberikan perhatian apapun pada kekasihnya yang khawatir pula.

.


.:. Hold Me .:.


.

"Yeobo, Apa yang Kau tertawakan eoh ?", Heechul bertanya pada sang pemimpin tampannya ini.

"Sayang, Kau berpikir anak tadi itu aneh tidak ?",

"Huh ?, nu—nugu ?",

"Asisten Donghae…",

"An—aneh bagaimana ?", Heechul mencoba menetralisir kegundahannya dengan menyeruput coklat panas di mug klasiknya.

"Aku jadi ingaaat—",

"Tidak ada yang aneh dari namja itu, Aku rasa Kau butuh istirahat Han… Apa meeting tadi berjalan lancar ?", Alih Heechul dengan sengaja.

"Tentu saja iya, Sesuatu mana yang tidak lancar ketika ku pegang eoh ?",

"Aish, Kau ini…", Heechul menyikut siku suaminya mendengar tingginya percaya diri Hanggeng.

"Keunde… Apa Sungmin mempunyai sepupu di Korea ?",

"Huh ?, Kenapa Kau menanyakannya ?", Heechul yang kini giliran bertanya.

"Ah, tidak peting, Aku sepertinya memang butuh istirahat". Tutup Hanggeng tanpa menjelaskan detail yang sebenarnya memang bukan pembahasan penting.

.


.:. Hold Me .:.


.

"Ka—Kau tinggal di sini ?", Seakan tidak percaya dengan alamat yang disebutkan oleh sang penumpang, namja tampan yang menawarkan tawaran mengantar ini bertanya dengan hati-hati. Bukan kumuh yang menjijikkan dengan flat-flat sederhana, tapi sungguh ini kebalikannya. Gedung apartement yang sangat tinggi dengan lampu-lampu menyilaukan mata di malam hari dan setahu namja tampan yang juga dari posisi berada ini, hanya kalangan atas yang menempatinya.

"Ndee Sajangnim…",

"Oh…", Donghae mengangguk-ngangguk menyetujui walaupun ia ingin menanyai lebih lanjut, tapi ia masih sadar akan batas kesopanan tentunya.

"Apa ada yang salah ?", Eunhyuk malah menanyai Donghae santai.

"Ah.. tidak, hanya saja temanku ada yang tinggal di sini juga…",

'Andai Kau tahu jika Aku tinggal di tempat temanmu itu…',

"Ehm.. kalau begitu saya turun Sajangnim… Terimakasih atas tumpangannya, besok pagi saya akan langsung berangkat ke rumah Sajangnim…", Eunhyuk membuka pintu sebelahnya dan salah satu kakinya sudah berpijak di bumi.

"Tunggu !",

"Iya ?", Eunhyuk menoleh pada Donghae.

"Biar kuantar sampai depan pintu…",

'Ini bencana…',

"Ee… Saya rasa itu berlebihan Sajangnim, Saya merasa sangat merep—",

"Annia… Aku perlu tahu Kau tinggal di sebelah mana juga bukan ?", Tanpa persetujuan Eunhyuk, Donghae ikut turun dari mobil dan menghampiri Eunhyuk di pintu kanan mobil. Bagaimana caranya Eunhyuk menolak, kalau seperti ini.

"Ayo !...",

'Ah… Hyung, eotokhae ?... Kenapa pula Dia tersenyum seperti itu sih…'.

.

.

TRIIIING

.

.

TAP

.

TAP

.

"MIN HYUNG !",

"HYU—HYUKKIE ?",

"Ndee… Hyung ini Aku, Kenapa Hyung duduk di situ ?", Manis yang satu ini tentu saja bertanya kenapa, mengingat ketidak tahuannya tentang betapa khawatirnya orang yang terduduk di depan pintu itu.

"Hyu—Hyung, Kenapa menangis ?",

"KAU TAHU INI JAM BERAPA—Hiks..?", Yang disapa ini berdiri mendekati namja yang baru keluar dari lift tersebut.

"Ee… Hyung, mian Ak—aku…",

"KAU TAHU BETAPA KHAWATIRNYA AKU ?", Masih dengan nada yang tinggi, Sungmin mendekati Eunhyuk, lelehan air matanya masih tampak membekas.

"Mian—hiks… Hyung…", Mengikuti jejak Hyung nya, Eunhyuk terisak entah karena takut atau tidak bisa melihat Sungmin yang menangis.

"Kau buang Kemana handphone mu ?", Sungmin mencoba menghela nafasnya dan menurunkan nada marahnya.

"Ak—aku tidak membukanya—hiks… mian Hyung—hiks… Hyukkie tadi…",

"Kau tau Aku hampir gila memikirkanmu kemana ?, Kau tersesat dimana ?, Kau sedang pingsan di tempat macam apa ?, Kau kambuh dengan cara bagaimana ?, Kau tahu betapa khawatirnya Aku Hyuk ?", Sungmin tepat berdiri di depan manis yang terisak ini.

"Mian—hiks…",

"Cukup ? Kau pikir dengan memaafkanmu bisa membuatku tenang keesokannya ?", Eunhyuk tidak menjawab pertanyaan Sungmin, karena disibukkan dengan tangisannya.

"Hyukkie~, ini bukan sekali terjadi… Hyung mohon !, mengertilah posisi Hyung juga",

"Mian Ak—aku—hiks… merepotkan lagi",

"Kau darimana saja ?", Tanya dingin Sungmin.

"Aku tadi… ke rumah…",

"Ke rumah ?, Rumah Han Ahjushi ?", Eunhyuk mengangguk mengiyakan.

"Hah… Kau gila !, Sumpah !",

"Hiks… Hyung, Ak—aku tidak bisa menolak ajakan Donghae… hikss…", Eunhyuk tidak bisa menatap wajah Sungmin apalagi foxy milik Hyungnya itu.

.

.

TRIIING

.

.

Bunyi lift terbuka yang tidak diketahui oleh keduanya, mereka nampaknya tidak mengambil perhatian pada obyek penting yang kini mulai Nampak di balik pintu yang terbuka.

"EUNHYUK Please !, Kau sudah besar… bisa membedakan yang benar dan tidak, Apa gunanya Aku menyembunyikanmu jika Kau menjadikan dirimu sebagai umpan ?",

"Hikss—maaf… Hyukkie berjanji tidak akan mengulanginya—hiks…",

"BERHENTI MENANGIS—Hiks !…", Suruhan Sungmin seperti kemunafikan diri, karena iapun masih terisak. Ia hanya terlalu khawatir pada ringkih yang menjadi tanggungjawabnya sekarang.

"JANGAN MENYURUHKU~Hiks…", Rengek Eunhyuk tinggi.

"Geumanhe—hiks…",

"Hyung juga—hiks…", Sungmin memeluk Eunhyuk kemudian, mereka terlihat sangat bodoh untuk orang yang kini sudah berjalan keluar dari lift dan…

"Sungmin Hyung ?", Sapa namja yang dibelakangi Sungmin memastikan.

.

.

SEEET

.

.

Sungmin melepaskan pelukan singkatnya dengan Eunhyuk dan berbalik untuk melihat siapa yang memanggilnya barusan.

"Hhhhh… Dd—Donghae ?", Ia dan Eunhyuk sama-sama mengambil nafas panjang, begitu tahu siapa namja yang kini ada di depannya.

"Ap—apa yang Kau lakukan di sini ?", Tanya Sungmin tidak lupa juga menatap Eunhyuk yang tengah menundukkan kepala dan meremas tangannya sendiri.

"Apa itu kejutan untukku ?", Tanya Donghae sembari menyeringai.

"Ap—apa maksudmu ?", Gugup Sungmin berlebihan, karena mungkin Donghae tahu.

"Kalian…", Jawab Donghae seadanya.

"Ka—Kau salah paham Hae…",

"JELASKAN PADAKU !".

.

.


~TBC~


.

.

Thank you so much guys atas review di chap sebelumnya.

Typo ?, Sorry *peace

Chap 11's coming, so read and review again…

Thanks to : elfishy09, ichi, she3nn0, alipp, sandra eunhyuk, Cho Kyuna, HAEHYUK IS REAL, Rigletz, Agriester Jewel, FishyHaeHyuk, aiyuu kie, Wonhaesung Love, Guest, ren, hyona, mankhey, ahahyuk, mizukhy yank eny, yours babe, fishy, haya, Polarise437, kakimulusheenim, VampireDPS, BekiCoy0411, dewinyonyakang, Anik0405, Yenie Cho94, peachpetals, haeveunka, ratu kyuhae, danactebh, babyhyukee, wildapolaris, Lee917, Lee Haerieun, reiasia95, isroie106, dekdes, choi seul bee, Haehyuk546.

Membosankan ?, kalau iya, saya akan cepat meng end kan, tapi nggak chap depan juga sih.

Enaknya lanjut monster in me, apa mau FF baru nih ?

Thanks :*