Blank Screen
Hening.
Jalan sepi di depan apartemen itu begitu hening, namun ketiganya yakin jantung mereka berdegup kencang sekali hingga terdengar dan bergema di daerah itu. Isogai membeliak pada Kirara tidak percaya, dan wanita itu, pucat pasi, menunduk sambil menggenggam ujung kopernya. Ikeda memalingkan muka ke jalanan yang sepi.
Pemuda berambut pirang madu itu menarik napas dan segera mencengkeram bahu Kirara dengan satu tangan.
"Naik. Aku akan mendengarkan apapun yang perlu kau katakan, Hazama-san."
Kemudian Isogai baru memperhatikan kedua bangle di masing-masing pergelangan tangan Ikeda. Kirara mendecakkan lidah.
"Yang kuhadapi berbeda denganmu." katanya singkat, berusaha melepaskan diri dari Ikeda, namun ia menyadari kini Isogai berada di belakangnya. Wanita berambut hitam itu terdiam sejenak.
"Aku akan berteriak bahwa kalian melakukan pemerkosaan."
"Kalau kau memang berniat melakukan itu, kau tidak akan mengancam." Ikeda berkata tajam, lalu mengangguk pada Isogai. "Ayolah, aku yakin kau tidak pernah membicarakan ini dengan siapapun."
Kirara menyeringai marah. "Kalian...kalian akan mengirimku ke rumah sakit jiwa dan membuatku memakai jaket orang gila dan memasukkanku ke ruangan sel yang terbuat dari bantalan..."
"Kami mau mendengarkan." Isogai berkata tegas.
Ia terdiam, melirik rekan kerjanya sangsi.
"Tidak ada yang perlu didengarkan. Kalian tidak akan mengerti. Aku pun tidak mengerti." ia menghela napas dan berhenti memberontak. "Kau tidak perlu memegangiku. Aku harus menelepon taksi lagi kalau ingin kabur."
Ikeda pun melepasnya, dan kedua pria itu membawa Kirara kembali ke dalam apartemen. Mereka diam saja saat berada di dalam lift. Ikeda menyuruh Isogai mengawasi Kirara, sementara ia pergi ke kamarnya sejenak untuk mengambil sesuatu.
Wanita itu diam saja di depan pintu apartemennya, dan Isogai terus memandanginya sampai Kirara menghadapinya.
"Kau gampang sekali ya, masuk apartemen wanita?"
Isogai menatap Kirara dengan tidak percaya.
"Kau pikir gampang juga membiarkanmu sendirian untuk menelepon taksi agar bisa menyelinap pergi saat aku lengah? Kau sendiri yang membuat dirimu mencemaskan, bukan aku."
Kirara mendecakkan lidah. Ia tidak pernah meremehkan Isogai, tapi ia pikir pria itu akan lengah karena sikapnya yang gentleman. Isogai benar-benar membaca pikiran liciknya. Dengan kesal ia menarik napas dan mencari-cari kunci apartemennya dalam tas.
Akhirnya, pintu terbuka.
Pria itu mencelos melihat kamar apartemen yang nyaris kosong, hanya tersisa meja dan kursi makan serta tempat tidur. Kirara menyandar pada meja makan, tangannya terlipat, wajahnya marah memandangi Isogai yang sekarang mengerti tingkah lakunya akhir-akhir ini. Kirara memang mendermakan barang-barangnya untuk menghapus jejak.
Isogai melirik Kirara seakan sedih, marah, dan kecewa. Ditatap seperti itu oleh seseorang yang biasanya ramah, membuatnya merasa harus melakukan sesuatu.
"Sialan si Ikeda itu," Kirara mendecakkan lidah dan merogoh kotak rokok dari tasnya. "Aku pasti sedang sial, dia bertemu denganmu malam ini."
"Kenapa?" Isogai akhirnya bertanya, sembari mendekati dapur kecil dan mendapati bahwa tidak ada satupun alat memasak ada di situ.
"Memastikan tidak ada benda tajam? Aku sudah mengeposkan semua alat makan dan perkakas masakku ke rumah. Aku tidak akan mati sengsara. Kau pikir kenapa aku pergi ke Belanda?"
"Tapi tanganmu..." Isogai berkata, mendekati wanita itu di meja makan. Kirara memandangi kedua tangannya yang berbalut sarung tangan.
"Ah." ia tersenyum. "Kau ternyata tahu."
Isogai memalingkan pandangan. "Temanku saat SMA juga melakukannya...menyayat tangan. Kudengar itu membantunya tidak terlalu mati rasa. Secara sains juga memang rasa perih itu membangunkan hormon tertentu."
Ia kemudian menyambar rokok dari bibir Kirara, dan merampas tasnya. Kirara memandangi Isogai dengan kesal, namun tidak mengatakan apa-apa. Ia menoleh.
"Ini lantai empat. Kalau aku beruntung, aku pasti langsung mati lompat dari lantai ini. Tapi kalau aku sial, aku akan merana."
Isogai menatapnya sedih, tangannya sudah meremas hancur puntung rokok itu. "Kenapa kau...sebegitu inginnya melenyapkan diri...?"
Kirara tersenyum kosong. "Kalau aku tahu, mungkin aku tidak akan cuti ke Belanda. Mungkin aku akan liburan ke Maladewa."
"Karena itu kau mau ke Belanda," Ikeda berkata sembari masuk, membawa beberapa buah pisang dan sebuah kotak. "Kau sudah mendaftar untuk mengikuti eutanasia."
