Disclaimer : KHR not mine

.

Humor = kayaknya nga ada

Romance = tetep nga jelas

Absurb plus Gaje = sudah pasti

Story By : Rin/ RinLi

Makin AU, OOC, ERROR, GAJE karena authornya lagi rusak motherboardnya jadi mohon dimaklumi :(

.

Tidak disarankan bagi pembaca yang masih waras, bagi yang ragu, nga suka silakan klik back.

.

.

.

"...sakit." Tsuna merintih kecil menyentuh lebam dan luka gores di tubuhnya. Matanya mengeksplorasi kamar tempatnya berada yang lebih mirip gudang di bawah tanah, atau memang ruang kurungan di bawah tanah? Tsuna tak tahu karena tak terdengar suara apapun dari luar dan tak ada jendela. Hanya tembok, sebuah ranjang kecil, pemurni udara di salah satu sudut, meja kecil dan sebuah kursi kayu. Semua isi kepalanya masih kacau balau. Sawada Tsunahime alias Sawada Tsunayoshi mencoba mengingat apa yang terjadi sejak pagi membuka mata.

.

.

.

~Flashback~

.

Pagi yang rada mendung, Tsuna dan Gokudera membuka mata dengan sapaan ciuman dari -tonfa- Hibari yang begitu mesra. Mereka yang biasanya bangun jam 6 atau jam 7 kini harus melek jam 5 pagi karena 'dimana tanah di pijak, di situ langit dijunjung' jika tidak ingin di Kamikorosu oleh sang Skylark dua kali dalam satu hari itu. Tau artinya pepatah tadi? Kalo nga berarti nilai bahasa Indonesia kalian pasti magatama terbalik *author dihajar reader*.

.

Dengan mata setengah melek mereka ikut sarapan dengan Hibari. Seperti biasa, sang prefek berangkat lebih dulu untuk patroli bersama kusakabe sementara Tsuna dan Gokudera yang sudah terlanjur melek pun berangkat sekolah lebih awal -1jam- dari biasanya. Kedua remaja tadi menyusuri jalan dengan santai karena masih sangat pagi. Gokudera meminta Tsuna menunggu sebentar untuk membeli minuman hangat bagi mereka. Tak sampai semenit sang silvernette meninggalkannya, 2 mobil Bentley hitam berhenti di depan Tsuna. Beberapa orang dengan pakaian Men in Black memaksanya masuk mobil. Tak mau ikut, Tsuna melawan dan bertarung melawan mereka hingga Gokudera datang dan ikut membantu.

.

"Hime, anda tak apa-apa?"

"Begitulah, masa Dina sampai mengirim anak buahnya untuk menculik kita?"

"...aku rasa bukan Cavallonne..." Gokudera melempar belasan dinamit roket ke para penyerang mereka kemudian secepatnya menarik Tsuna untuk lari. 'Kalau bisa ketemu Hibari pasti tak apa.' batin sang Silvernette. Sayangnya niat Gokudera gagal karena ada salah satu dari penyerang mengeluarkan senapan dan keduanya akhirnya dilumpuhkan dengan peluru bius.

.

Di gerbang sekolah, Hibari yang baru saja sampai merasa mendengar seseorang memanggilnya. Sang raven merasa ada sesuatu telah terjadi baik pada kotanya dan juga pada Tsuna juga Gokudera. "...Tsuna, Hayato?"

.

~flashback end~

.

.

.

Kini Tsuna bingung kemana mereka membawa Gokudera, dia takut kalau terjadi apa-apa pada sahabatnya. Tsuna mencoba membuka pintu ruangan tempatnya berada dan hasilnya memang terkunci. Disaat seperti ini Tsuna jadi ingin bisa mengeluarkan api seperti Xanxus, pastinya dengan mudah bisa menghancurkan tempat ini dan menolong Hayato.

.

"Oke, cukup berhayalnya dame-Tsuna! Rumput di halaman tetangga memang selalu kelihatan lebih hijau!" Tsuna mengejek dirinya sendiri yang mengkhayal seenaknya. Masih mengkhayal atau apa, Tsuna mendengar tangisan anak kecil dari luar makin mendekati ruangannya.

"Mamaaaa, Papaaa, Lambo mau pulaaaang! Mau permennn!"

'Diculik juga?' Tsuna merogoh kantong blazernya dan menemukan beberapa permen anggur. "Adik kecil, kau bisa dengar aku?"

"Hiksh, Ada hantuuuu nenek sihiiiiirrr!" Lambo melompat kaget karena mendengar suara Tsuna.

"AKU MASIH HIDUP DASAR BOCAH BEGO!" seketika urat kesabaran Tsuna putus.

"Ararara, manusia toh, bilang dong! Lambo yang hebat kan jadi kaget! Nyahahahaha!"

Tsuna facepalm 'Akan ku hajar bocah ini nanti' "Bisa bukakan pintu ini untukku?"

"Lambo tak boleh bicara dengan orang asing, tak mau ikut campur urusan orang lain!"

'Bukannya dari tadi kita sudah bicara? Sabar..., sabar...' Tsuna mengelus dada "Etto, Namaku Tsuna. Aku juga di culik sepertimu. Bisa bantu aku keluar nanti aku beri permen anggur."

"Permen...anggur...?" Mulut Lambo banjir iler "Hehehe, kalau ada upah lain urusan. Demi permen anggur~~~" tangan kecilnya merogoh rambutnta yang kribo seperti wig afro. Sebuah benda pink kecil, mirip granat "Tiada kunci mainan pun oke!"

Insting Tsuna berkata untuk menyingkir ketika mendengar ucapan Lambo dan benar saja, pintu ruangan itu terlempar oleh sebuah ledakan "Kalau kena matilah aku." Namun terasa agak aneh karena tak ada alaram atau penjaga datang.

"Mana permen Lambo!" Tsuna menatap balita berkostum sapi dengan rambut kribo "Nee-chan permennyaaa!"

"Oh, maaf." Tsuna memberikan semua permen di sakunya. Bocah sapi itu mengulum pemen itu dengan wajah senang. Tsuna tak habis pikir dari mana anak tadi mendapat peledak tapi sekarang yang utama adalah menemukan Gokudera. "Hey, kau tau ini dimana?"

"Hohaho Hahihi'!"

"Huh?" sumpah demi apa, tangan Tsuna sudah gatal ingin menjitak kepala bocah satu ini.

"Tomaso Familly! Kemarin mereka ke rumah Lambo untuk bertemu papa dan lambo tak sengaja ketiduran dalam bagasi mobil mereka!"

"Aku harus menemukan temanku dan minta bantuan." Tsuna pun meninggalkan Lambo untuk mencari Gokudera.

.

Satu setengah jam, Tsuna berkeliling sembunyi- sembunyi dari para penjaga. Kebanyakan dari mereka bicara dengan bahasa Italy yang hanya pernah dipelajari Tsuna saat balita hingga SD. Tsuna berniat mencari ke arah lain karena para penjaga sangat menjaga arah yang ingin dia selidiki. Samar terdengar percakapan para penjaga tentang penangkapan dirinya dan Gokudera. Gokudera dikatakan akan dimintai tebusan ke keluarganya. Dalam hati Tsuna merasa itu percuma, keluarga Gokudera sudah membuang gadis itu. Itu artinya mereka belum tahu Tsuna ada hubungan dengan Vongola? Lucky and Unluck in same time. Beruntung karena Tsuna jadi tidak di jaga dan sial karena jika ayah dan kakeknya tahu hal ini maka mereka akan dibumihanguskan.

.

Bermodal nekad Tsuna mencegat seorang maid dan membuatnya pingsan kemudian menukar pakaian mereka. Maid itu menuju ke arah yang dia inginkan, ke tempat yang banyak penjaganya yang kemungkinan tempat boss mereka berada dan mungkin Gokudera juga. Agak menunduk, Tsuna mendorong troli berisi makanan, berharap para penjaga tak menanyainya. Di depan pintu, penjaga memeriksa bawaannya kemudian ada jawaban dari dalam yang sepertinya mengijinkannya masuk. Aneh, Tsuna merasa ruangan itu sepi. Hanya ruangan kamar tanpa ada orang padahal tadi jelas-jelas ada suara. Belum sempat bereaksi sebuah pisau tertodong di leher Tsuna, orb karamel itu mengerjap menyadari siapa yang menodongnya.

.

"Hayato..." giliran remaja bersurai silver yang kaget.

"Hi-" Tsuna buru-buru membekap mulut Gokudera.

"Tetap tenang oke?" Gokudera mengangguk pelan. "Ponselmu ada tidak?"

"Dirusak." jawab Gokudera pelan.

"Punyaku sepertinya jatuh." Tsuna menghela nafas lemas. "Ada ide untuk kabur?"

"Masalahnya aku tak tau ini di mana. Tomaso punya cukup banyak markas."

"Hah, ini agak menyebalkan." gumam Tsuna membuat Gokudera mengangkat alis.

"Tidak takut?" tanya Gokudera, Tsuna menggeleng.

"Pastinya takut, paling tidak aku bersamamu. Ah, tadi aku dibantu oleh seorang anak kecil berkostum sapi. Kalau tak salah namanya La-"

.

DHUARRRR! Suara ledakan mengejutkan keduanya. Para penjaga terdengar panik di luar sana, Tsuna dan Gokudera saling pandang mencoba mencerna situasi. Ledakan lain kembali terdengar disertai tembakan dan teriakan.

.

"Ada yang menyerang markas ini, tapi siapa?" Gumam keduanya, mereka sendiri tengah bingung ketika pintu ruangan terbuka di tengah kekacauan.

"Onee-chan! Aku minta permen lagi!" mata Tsuna terbelalak melihat Lambo yang mencarinya hanya untuk permen. Di belakang Lambo ada penjaga yang membidik pistol tepat ke arah kepala si bocah sapi.

"Lambo!" Tsuna berlari menghampiri Lambo dan mendekapnya. Suara tembakan yang ditelan oleh kekacauan, Tsuna merasa perih di punggungnya.

"Hime!" Gokudera melempar sebuah Granat pink yang jatuh di dekat Tsuna pada penjaga tadi "Kau terluka! Bocah sialan, lihat hasil perbuatamu!"

"Tak apa, tak kena jantung. Kamu kenapa ikut kemari?"

"Hiksh, Lambo...cuma mau permen..., Lambo tak sengajaaaa!" balita itu menangis meraung-raung melihat darah yang membasahi punggung Tsuna. "Maaf!"

"Cih, itu kau yang membuat keributan? Bovino cilik?"

"Bu-bukan... La-lambo hanya merusak pintu bawah."

"Sebaiknya kita pergi mumpung keadaan memungkinkan." Gokudera berniat menggendong Tsuna di punggung namun remaja itu malah menyodorkan Lambo padanya.

"Aku masih bisa jalan, jangan khawatir."

.

Ketiganya pun menyusup diantara kekacauan, dengan susah payah mereka pun mencapai lantai bawah. Mereka tak bisa maju karena di bawah sana menjadi medan tempur. Orang-orang berpakaian hitam putih saling menembakkan pistol. Dan diantara kekacauan itu mereka melihat sosok yang familiar. Rambut pirang dan senyum mengerikan dengan pisau beterbangan.

.

"Bel-nii!" pekik Tsuna yang segera didengar oleh si pirang. Pemuda itu menyeringai maju menyerang tanpa ragu dan melompat ke lantai 2 tempat Tsuna dan Gokudera juga Lambo berada.

"Target ditemukan, boss." Kata Belphegor melalui alat komudikasi yang terpasang di telinganya. Pemuda berusia 21 tahun itu memeluk Tsuna dengan raut wajah lega. "Pangeran kira kau sudah mati."

"Ahahaha, jahat sekali sih membayangkan aku mati." Tsuna memasang wajah kesal, berusaha meladeni candaan Belphegor yang tidak lucu. Pandangan sang brunette mengabur dan tergolek lemas di dekapan Belphegor. Si pirang mengira Tsuna hanya lemas karena ketakutan namun raut wajahnya kembali mengeras ketika tangannya menyetuh darah di punggung Tsuna.

"Beraninya...melukai kucing kecilku." pisau pisau di sekitar Belphegor diselimuti oleh api merah. Pemuda itu berbalik menatap para penjaga yang membeku ketakutan. Berikutnya tempat itu menjadi lautan api yang entah bagaimana hanya anggota Tomaso saja yang terbakar menjadi abu sementara anggota Varia dan Vongola baik-baik saja. Lambo gemetaran dalam pelukan Gokudera sementara Tsuna sudah hilang kesadaran karena kekurangan darah tepat setelah Belphegor mulai melakukan pembantaian.

.

Tak lama kemudian Xanxus datang diikuti guardiannya yang lain, Hibari juga ada bersama mereka. Sebagian besar berlumuran darah dan bau mesiu bahkan Fran dan Mammon pun berlumuran darah. Bersama mereka ada seorang remaja lain yang Gokudera lihat tampak seumuran Hibari dengan surai indigo agak panjang dan model ala nanas? Xanxus sendiri yang membawa Tsuna kedalam mobilnya diikuti oleh Lussuria. Gokudera dibawa oleh Belphegor dan Lambo bersama Levi untuk dikembalikan ke keluarganya.

.

Gokudera tak ingin bicara apapun meski Belphegor menanyainya macam-macam terutama tentang keluarga gadis itu. Baginya tak ada keluarga lain selain Tsuna, Hibari dan Yamamoto. Keluarga kandungnya sendiri telah membuangnya jadi untuk apa dia memikirkan mereka, kembali pada mereka dan mengemis belas kasihan?

.

.

.

"Huh, susah juga memang bersikap baik pada perempuan yang sudah seperti robot begini." Dengus Belphegor yang hanya disambut senyum sinis Gokudera.

"Aku juga tak butuh perhatianmu. Aku mau bertemu Hime."

"tetap di tempatmu Hayato."

"Jangan memerintahku!"

"Kali ini, ikuti perintahku atau aku akan membuatmu tak bisa bangun berbulan-bulan." Ancam Hibari samba menodongkan Tonfanya ke leher Gokudera. Belphegor menyeringai melihat gadis bersurai silver itu menurut pada sang raven.

"Sepertinya kau lumayan untuk standar seorang perempuan." Hibari dan Gokudera menatap di sipirang dengan pandangan mengernyit heran. "Apa? Jangan karena kau berusaha menyembunyikannya kau pikir semua orang bisa tertipu."

"Jangan ikut campur urusanku, herbivore."

"Ushishishishi, Pangeran bukan pemakan tumbuhan lemah. Aku Prince The Ripper, mantan elite assassin Varia."

"Kalau begitu kita buktikan dengan bertarung."

Bah, Gokudera tak tahu harus bicara apa melihat kedua orang berdarah dingin itu bertarung di halaman Vongola HQ Jepang. Fran dan Pemuda bersurai indigo malah menyemangati mereka berdua agar bertarung saling bunuh. Sungguh kelompok gila.

.

.

.

Ditempat lain Tsuna yang baru sadar mengerjap beberapa kali sebelum meyakinkan diri jika tak berada di tempatnya diculik tadi. Pakaiannya sudah diganti entah oleh siap dan Lukanya sudah tak terasa sakit meski tulang rusuknya masih agak nyeri. Perlahan remaja itu duduk di ranjangnya menatap kamar besar dan mewah yang bahkan menyaingi kamar presiden suit di hotel bintang 5. Sepi, entah kenapa perasaanya saat sendirian di rumah ketika awal-awal orangtuanya pergi ke Italian kembali menyerangnya. Hendak turun dari ranjang, pintu kamar terbuka menampakkan sosok pemuda bertubuh tegap dengan rambut pendek gelap.

.

"Sudah bangun rupanya." Xanxus menghampiri Tsuna yang membatalkan niatnya untuk turun dari ranjang begitu melihat pemuda berdarah Itali itu datang.

"Ini di mana?"

"Masih di Jepang." Xanxus duduk di samping ranjang Tsuna "Bagaimana punggungmu? Masih sakit? Kau ingin sesuatu?" Tsuna malah tertawa mendengar pertanyaan yang dilontarkan Xanxus. Boss mafia paling ditakuti di dunia malah bertanya dengan wajah panik padanya. "Bocah sialan, memangnya ada yang lucu?"

"Tidak, aku hanya…senang." Atau lebih tepatnya lega karena dia pikir pemuda ini sudah tak peduli lagi padanya. "Xanxus…bisa temani aku sebentar?"

"Dasar bocah manja." Xanxus terkekeh pelan menarik tubuh mungil Tsuna ke pangkuannya "Kalau kau begini terus bisa-bisa aku memakanmu."

"Hm…" Tsuna menyandarkan kepalanya di dada bidang Xanxus, tangannya terkalung di leher pemuda itu. Tanpa peduli ucapan Sang Decimo Tsuna duduk di pangkuan pemuda itu, mencium aroma mint dan kayu yang berasal dari parfum yang gunakan Xanxus. "Apa…Lambo baik-baik saja?"

"Oh, bocah bovino sudah dikembalikan ke keluarganya tak ada luka sedikitpun." Jawab xanxus. Pemuda itu mengeratkan pelukannya, mencium pipi dan telinga Tsuna membuat remaja itu mendesah pelan. Ini sama saja dengan ketika Tsuna diserang sebelumnya, gadis kecil ini selalu mencoba mencari rasa nyaman dalam pelukannya.

"Baguslah." Tsuna membalas mencium Xanxus di pipi, membelai bekas luka yang ada di wajah pemuda itu. "Paling tidak semua selamat."

.

Xanxus menunduk mencium antar leher dan bahu kemudian mengarah ke tenggorokan Tsuna membuat gadis itu mencengkram erat rambutnya sambil menahan desahannya. Tanpa disadarinya Tsuna menaikkan posisinya sehingga mempermudah Xanxus menciumi nya. Bibir mungil sang brunette dipangut dengan lembut, sedikit demi sedikit Xanxus memperdalam ciumannya, memasukkan lidahnya yang disambut tanpa perlawanan oleh Tsuna. Tangan Xanxus makin turun menyelinap kebalik gaun tidur meremas bokong gadis itu dengan keras membuat Tsuna melepaskan ciumannya. Tubuh Tsuna diangkat dengan satu tangan, Xanxus meraup payudara Tsuna yang masih ada di balik gaunnya sementara tangan lainnya mendekap Tsuna agar tidak kabur. Desahan tertahan Tsuna terdengar dalam ruangan itu, membuat Xanxus makin berhasrat menyerangnya.

.

Salah satu jari Xanxus menyelinap kedalam lubang senggama Tsuna langsung mengenai sweet spot sang brunette, membuat gadis itu mendesah makin keras. Pikiran Tsuna makin kabur karena jari itu terus menerus mengenai titik lemahnya, ketika jari kedua masuk barulah Tsuna mulai merasa sakit pada bagian bawah tubuhnya. Xanxus yang menyadari itu pun kembali memagut bibir Tsuna untuk menahan desahannya. Lama kelamaan Tsuna mulai lupa dengan rasa sakitnya, dengan sendirinya gadis itu menarik wajah Xanxus yang tengah menggigiti payudaranya dengan buas agar makin makin mendekat.

.

"Xa…ahhhxus! Mh…aaaahhhhh!" Tsuna mendesah panjang ketika mencapai klimaks pertamanya. Nafasnya berat karena ini adalah kegiatan intim pertama yang pernah dia lakukan. Meski begitu Tsuna tetap menangkup wajah Xanxus dan mencium bibir pemuda itu.

"Ini yang pertama ya?" Xanxus menatap tangannya yang bernoda darah yang bercampur cairan klimaks Tsuna. Perlahan dibaringkannya tubuh Tsuna dan mendekap gadis itu agar merasa nyaman dalam pelukannya. "Tidurlah."

"Kau…tidak?" Xanxus tersenyum lembut dan menggeleng, mengecup lembut kening Tsuna dan membelai rambutnya.

"Aku tak ingin membuatmu tak bisa bangun besok." Tsuna bergumam pelan dan dengan segera tertidur karena lelah. Xanxus menatap wajah tidur Tsuna yang tampak lelap hanya dalam hitungan menit. Jika Xanxus mau bisa saja dia melakukan lebih jauh, apa lagi Tsuna tak menolaknya hanya saja dia berpikir belum saatnya. "Sedikit demi sedikit aku akan mengajarimu segalanya hingga kau sendiri yang datang padaku."

.

.

.

TBC

.

Rin : Hyaaahoooo, akhirnya nie fic update juga. Saking errornya otak ngerjain ini aja sebulan *bego bukan main*

Mohon maaf ama reader yang udah lama menunggu, dan apa ada yang mau protes ama adegan lemon yang stengah-setengah ini? Ahahaha, Rin yakin pasti 100% pada protes *smirk*

Nah ya mari kita jawab review yang er…tahun lalu? *ketawa garing*

.

KHRVida Reale18

Ceritanya lucu yah? Bagus deh, Rin dah pikir kalian mulai bosan ama cerita ini dan meninggalkanku *lebay mode on*. Di chapter depan mungkin Rin bakal bikin keduanya menderita sama-sama.

.

Andiandi

Update sejibun? Nga juga deh, adanya rin mendelet beberapa fic yang kurang disukai (Punya Edden) Rin berniat menghapus fic punya edden tapi yang laen pada nyuruh tulis ulang. Yah akan rin usahakan deh menulis ulang dan ngelanjutin fic punya sendiri. Ini kayaknya jadi rate M yah? Soalnya X27 nya nyerempet sih XD\

Arigato karena selalu setia baca fic gaje buatan Rin! *peluk*

.

ReviewOnly-chan

Fulf overload? Bagus dong? *dilempar genteng* Yep, ini emang fem (27, D, 59, 18) dan parahnya Rin belum punya pairing cocok buat Hibari! Ada saran?

.

EstrellaNamikaze

Mohon maaf menghancurkan impian anda! Silakan lempari author dengan confetti! *maunya* makanya rin pusing nih nyari pairing buat para pemeran soalnya bikin nga mikir jangka panjang sih.

Akan Rin lanjutkan sebisanya!

.

yukihime ichigo

Bah, jangan sadi-sadis dong, author dan pernah nyium bola basket ampe mimisan, yang belom tuh bola sepak *bego*

Maaf jika lama tapi akhirnya update juga kan? *kedip2, dilempari tong sampah*

.

Chris

Authornya aja error ya ceritanya error XD *ngaku

Maaf updatenya lamaaa, dan semoga nga syok di chapter ini yah?

.

shiro-akuma

Makanya Rin selalu bilang jangan baca fic ini di tempat rame kan? Kalo baca tengah malem pasti bisa jadi pengusir setan. *nasehatngaguna* moga moga kali ini juga menghibur yah ceritanya.

.

.79

*ikutan sujud syukur* akhirnya Rin bisa nulis lagiii! *ditendang meili* maaf, kalo nikah kayaknya masih lama dan…kali ini…mereka makin dekat, fufufufu…

.

Manis? Tau aja author manis *sok ngaku-ngaku*

Iya sih, karena X27 dikit makanya Rin jadi pengen nulis, kufufuffu…

Ini dah lanjut, silakan di baca!

.

LalaNur Aprilia

La, bukannya sekarang lagi musim galau? Ditambah galau2 dikit nga napa kan? *lu ngomong apa?*

Ah, disini nga ada DS, gomenne, chappie depan yah? *nga janji sih*

Aih, lala chan maniz deh, sini kakak pelukkk! *puter-puter rantai*

.

AtashiwaPudesu

Sayangnya tsuna nga jawab yah? Rencananya sih Byakuran emang mau dimasukin tapi nga sekarang pastinya. Ntar mungkin kah dia jadi cupid cinta atau malah jadi penganggu? Yuk kita saksikan sama sama! *iklan mode on*.

.

Nah, udah semua kan di jawab? Sekian dari rind an MOHON RNRnyaaaaa! Kalo nga rin nga mau update! *ngancem, dilempari bata se fandom*