Naruto milik Masashi Kishimoto
Rate: T
Genre : Hurt/Comfort, Romance, Action
Warning :
- Naruhina Alternate Universe
- Ide murni milik saya
- Jika ada kesamaan alur, karakteristik cerita dan tokoh, atau lain-lain maka murni merupakan ketidaksengajaan
- Typo(s)
- DLDR.
...
Magnetic
Chapter 11
...
Happy Reading
...
"Sampai kapan kau mau mengikutiku terus?!"
Hinata berjalan dengan cepat sambil memeluk sketsanya. Ia bahkan tidak ingin repot-repot menoleh untuk melihat apakah stalkernya masih mengikutinya atau tidak.
Karena jawabannya tentu saja masih.
Sudah empat hari selama Hinata kembali masuk kuliah minggu ini, dia terus menerus diikuti oleh seorang pria berambut pirang dan bermata biru ini.
"Sampai kau berhenti dan mendengarkan penjelasanku." Naruto mengikuti Hinata dengan santai. Langkah Naruto cukup panjang untuk bisa menyamai langkah cepat Hinata.
Ini tidak adil pikir Hinata. Hinata bahkan sampai kehabisan nafas karena berjalan terlalu cepat, sementara Naruto berkeringat pun tidak. Dasar tentara menyebalkan!
Hinata berhenti berjalan dan berbalik menghadap pria itu. Naruto sedikit kaget karena Hinata berhenti mendadak didepannya.
"Aku tidak perlu penjelasan apapun darimu. Aku sudah tau semuanya." Hinata bersedekap tanpa memandang Naruto. Ia mengambil nafas perlahan. Ini sedikit memalukan memang, Hinata berhenti karena nafasnya sudah terasa berat, kapan terakhir kali dia berolahraga?
"Bagaimana kau tau? apa kau diam-diam bicara dengan Sakura dan Ino?"
Hinata memang sudah tidak marah lagi dengan Sakura dan Ino, tapi Hinata sendiri bingung bagaimana harus menyapa kedua sahabatnya itu.
"Tidak." jawab Hinata singkat.
"Lalu?"
"Kenapa aku harus memberitahumu?"
"Karena aku perlu tau apa sumber yang memberitahumu tentang aku bisa dipercaya atau tidak."
"Dia jelas lebih bisa dipercaya dibandingkan dirimu."
Siapa yang bisa lebih dipercaya dibandingkan dirinya?
"Siapa?" tanya Naruto.
"Aku tidak mau mengatakannya padamu." Hinata kembali berbalik dan melanjutkan langkahnya.
Naruto kembali mengikuti langkah Hinata. "Kenapa kau tidak mau mengatakannya? aku perlu tau apa yang dibicarakan orang ini tentang aku memang benar atau hanya akan merugikanku."
"Kenapa orang ini perlu mengatakan sesuatu yang merugikanmu? Kau tidak rugi apa-apa disini. Aku yang sedang bangkrut." Hinata berjalan dengan langkah normal. Percuma menghindari pria keras kepala ini, meskipun Hinata kabur berkilo-kilo meter jauhnya, Naruto hanya akan menunggunya dengan santai digaris finish.
Ini pertama kalinya Hinata menyindir Naruto tentang dampak kejadian malam itu. Tapi ini jauh lebih baik dibanding Hinata yang tidak bicara apapun padanya.
"Mungkin saja dia ingin menjelek-jelakkan diriku dimatamu?"
"Yang benar saja, kenapa dia ingin menjelek-jelekkan mu? dia orang paling baik yang pernah kukenal dan jelas tidak barbar sepertimu."
Sungguh, siapa sebenarnya orang yang bisa lebih dipercaya dari Naruto dan baik hati ini?
"Dia laki-laki?"
Nah, pertanyaan macam apa lagi yang keluar dari mulutnya ini?
Hinata berhenti melangkah dan memutar leher menatap Naruto dengan kening berkerut.
"Kenapa kau perlu tau jenis kelaminnya?"
Benar. Kenapa Naruto perlu tau hal itu?
Naruto menggaruk pipinya yang tidak gatal. Ia sendiri tidak tau kenapa pertanyaan itu tiba-tiba meluncur begitu saja dari mulutnya tanpa disaring oleh otaknya.
"Aku hanya ingin memastikan orang yang kau bicarakan ini bukan Toneri."
Hinata mendengus pelan, "Tentu saja bukan."
Baiklah. Dia orang yang bisa lebih dipercaya dari Naruto, dia juga baik hati dan yang paling penting dia bukan Toneri.
Gaara benar-benar sudah meninggal kan?
"Siapa sebenarnya orang ini? kau sengaja bermain kucing-kucingan seperti ini untuk membuatku penasaran?" Naruto mulai kesal karena Hinata tidak kunjung memberitahunya tentang identitas penyebar gosip tentang dirinya ini.
Hinata tidak menghiraukan perkataan Naruto dan terus melangkah. Gedung perkuliahannya sudah terlihat didepan sana, dan Naruto mau tidak mau akan berhenti mengikutinya ketika Hinata sudah masuk ke dalam kelas.
Tentu saja Naruto tau tujuan Hinata itu. Naruto pun berdiri dihadapan Hinata dengan cepat. Hampir saja Hinata menabrak tubuh Naruto yang mencegatnya tiba-tiba.
"Kalau kau tidak mau memberitahukan siapa orang ini, aku akan mengikutimu sampai keruang kelasmu dan duduk disebelahmu sampai kelasmu selesai bahkan kalau perlu aku akan mengikutimu sampai kau pulang kerumah. Jadi kalau kau tidak mau menanggung malu, sebaiknya katakan siapa dia."
"Kau sinting."
"Katakan sesukamu." Naruto melipat tangannya kedada dan menunduk menatap penuh kemenangan pada gadis yang hanya setinggi bahunya itu.
Hinata memutar bola matanya dan mengerang kesal. Ini konyol. Dan lebih konyol lagi karena dia sendiri ngotot tidak mau mengatakan identitas orang ini.
Bukannya Hinata tidak mau, tapi dia tidak bisa karena sudah berjanji pada Neji. Neji bilang seharusnya identitas Naruto sebagai tentara pasukan khusus merupakan rahasia militer, tidak sembarangan orang yang bisa mengetahuinya. Jika Naruto mau, dia bisa menuntut Neji karena menyebarkan identitasnya dengan kuasa militernya.
Tapi Hinata juga tidak mau dibuat gila dengan cara seperti yang dikatakan Naruto tadi.
"Baiklah, akan ku katakan, tapi kau harus berjanji tidak akan melakukan apapun pada orang ini."
"Tunggu, memangnya seberapa banyak yang orang ini tau tentangku?"
"Cukup banyak untuk mengungkap pekerjaan rahasiamu."
Baiklah, ini cukup mengkhawatirkan. Sakura dan Ino bahkan hanya diberitahu bahwa Naruto bekerja sebagai tentara biasa, bukan pasukan khusus. Di Jepang sendiri tidak banyak yang tau tentang pasukan khusus. Orang-orang hanya sekedar mengenal nama SFGp tanpa tau apa yang mereka kerjakan.
Melihat Naruto yang yang tidak menjawab membuat Hinata cemas. Jangan-jangan mengungkapkan identitas Naruto benar-benar permasalahan yang serius dan bisa mengancam keamanan Neji ataupun dirinya?
"Baiklah aku janji." akhirnya Naruto menjawab.
Hinata menarik nafas sebelum berkata, "Neji-nii yang memberitahuku tentangmu."
Neji-nii? Sepertinya Naruto pernah mendengar nama itu?
Ah, benar. Dia kakak laki-laki Hinata.
"Bagaimana kakakmu tau tentangku?" Sebenarnya Naruto punya dugaan darimana kakak Hinata tau, tapi lebih baik jika mendengarnya langsung.
Hinata tidak memperkirakan satu nama akan menyeret nama lainnya seperti ini, tapi dia sudah terlajur kepalang.
"Dari atasannya."
Benar dugaan Naruto, pasti Itachi, kakak Sasuke yang memberitahu Neji. Itu artinya cukup banyak yang diketahui Hinata sekarang.
"Sampai mana kau tau?" tanya Naruto lagi.
"Cukup banyak."
Kali ini Naruto yang memutar bola matanya. Hinata yang merajuk seperti anak kecil ini memang merepotkan. "Cukup banyak itu sampai mana Hinata?" ucap Naruto mulai tidak sabar
Hinata menyadari nada gusar dari kata-kata Naruto itu. "Kenapa jadi kau yang kesal? Seharusnya aku yang sedang marah padamu!"
Benar, bukankan Hinata sedang marah pada Naruto? Kenapa dia masih berdiri diam disini dan menerima semua pertanyaan Naruto?
Hinata kembali melangkah dengan cepat menuju kelasnya yang tinggal berjarak beberapa meter lagi.
"Jangan mengikutiku !"
Nada tidak terbantahkan itu memaksa Naruto berhenti mengikuti Hinata. Tidak masalah jika Hinata tidak mau menjelaskan sekarang. Naruto punya banyak waktu. Ia punya waktu selamanya.
.
.
"Apa kalian ada yang melihat Hinata hari ini?"
Keempat orang yang sedang duduk dikursi santai taman dikampus itu mendongak menatap Naruto yang datang tiba-tiba dengan pandangan yang tak terbaca.
"Kenapa kalian menatapku seperti itu?" Naruto menarik kursi dan bergabung dimeja yang sama dengan teman-temannya itu.
"Mungkin Hinata sudah pindah kampus karena kesal dengan kau yang terus-terusan mengikutinya." ucap Ino dengan acuh.
Setelah kemarin Hinata yang mau bicara padanya, hari ini Naruto belum menemukan keberadaan Hinata lagi. Tidak mungkin kan Hinata benar-benar pindah kampus?
"Seharusnya dia punya jadwal kelas kan hari ini?" Naruto memutuskan ucapan Ino jelas tidak masuk akal.
"Ya, hari ini Hinata memang punya jadwal kuliah. Dan jika kau tidak menemukan Hinata dikampus hari ini, maka tidak ada yang akan bisa." Sakura harus mengakui usaha Naruto untuk bicara dengan Hinata sudah melebihi batas kegigihan manusia manapun.
"Aneh sekali, jangan-jangan dia tidak masuk kuliah lagi hari ini?" Naruto mulai menimbang jika Hinata benar-benar muak diikuti Naruto dan memutuskan tidak masuk kuliah.
"Mungkin saja, jadi sudah sampai mana pendekatanmu? apa akhirnya dia mau menerimamu?" tanya Sai tersenyum aneh.
Mungkin hanya Naruto yang tidak mengerti makna dibalik pertanyaan Sai itu. Buktinya Sakura dan Ino terkikik geli dan Sasuke mengangkat sudut bibirnya mendengar jawaban Naruto.
"Yah, akhirnya dia semalam mau bicara denganku. Walaupun setelah itu dia menghilang ketika aku datang lagi seusai kelasnya." jawab Naruto polos.
"Lalu bagaimana? apa dia mengatakan menerima niatmu itu?" Sasuke ikut-ikutan mempermainkan Naruto.
"Tidak, dia bilang dia sudah tau tentangku, jadi dia tidak mau mendengar penjelasanku lagi."
Sakura dan Ino tidak bisa lagi menahan tawa mereka, membuat Naruto bingung.
"Kenapa kalian berdua tertawa?" tanya Naruto heran.
"Tidak, tidak ada, abaikan saja kami." sahut Sakura disela-sela tawa mereka.
"Ngomong-ngomong bagaimana dengan kalian? Apa Hinata sudah bicara pada kalian?" Naruto teringat jika Hinata bukan hanya marah pada dirinya, tapi juga mereka semua.
Setelah menyelesaikan tawanya, Sakura menggeleng menjawab Naruto.
"Tidak, kami memutuskan memberikan waktu untuk Hinata."
"Maksudmu? Kenapa kalian perlu memberikan Hinata waktu? Bukannya Hinata juga ikut marah pada kalian berdua? kalian tidak takut Hinata menjauhi kalian selamanya?"
"Tidak, aku sudah tau Hinata itu hanya marah pada kalian bertiga, dia tidak marah pada aku dan Ino. Kau sendiri dengar kan apa yang dikatakan Hinata pada Toneri."
Ya, Naruto ingat Hinata bilang Sakura dan Ino adalah sahabatnya sampai kapanpun juga. Lalu kenapa Hinata masih tidak bicara pada Sakura dan Ino?
"Lalu? kalian memberikan waktu untuk apa pada Hinata?" tanya Naruto lagi.
"Hmm... Bagamana mengatakannya ya. Hinata itu seperti enggan berada disekitar orang-orang akhir-akhir ini. Tanpa kalian membuat kekacauan pun, Hinata sudah marah pada seluruh dunia." Ino mencoba memberikan penjelasan untuk pertanyaan Naruto.
"Kenapa begitu?"
"Karena dunia tidak adil dengannya. Hinata rela memberikan apapun asalkan Gaara kembali padanya. Tapi tidak ada yang bisa memberikan hal itu, jadi dia marah pada semua orang." Sakura melanjutkan kata-kata Ino. Mereka berdua sepenuhnya mengerti bagaimana tepatnya perasaan Hinata saat ini.
"Jika kau tidak percaya kau bisa tanya Sai dan Sasuke, mereka mengenal Hinata sebelum Gaara pergi, Hinata sama sekali berbeda dengan sekarang. Hinata memang terlihat baik-baik saja, tapi dia sedang menahan diri." kata Ino lagi.
"Menahan diri dari apa?" Naruto semakin penasaran.
Ino mengangkat bahu, "Kami juga tidak tau. Kami punya dugaan, tapi tidak mau memikirkannya. Karena itulah, kami membiarkan Hinata bekerja keras untuk event fashion di Osaka. Itu satu-satunya hal yang bisa membuatnya berpikir jernih."
Jadi bukan hanya Naruto yang merasakan tembok penghalang kasat mata pada diri Hinata. Naruto termenung untuk beberapa saat sampai Sai menyebutkan namanya.
"Sepertinya sainganmu kali ini cukup berat Naruto."
Naruto sama sekali tidak mengerti apa yang dimaksud oleh Sai. Saingan apa?
"Saingan apa maksudmu Sai-"
Perkataan Naruto terpotong oleh teriakan Sakura.
"Hinata!"
Naruto langsung menoleh kearah pandangan Sakura. Benar. itu Hinata sedang berjalan ke arah mereka.
Sasuke benar-benar tidak habis pikir. Bagaimana mungkin temannya ini tidak menyadari perasaannya bahkan ketika lehernya hampir putus karena menoleh sangat cepat hanya karena mendengar nama gadis itu disebut.
Hinata berjalan mendekat kearah mereka semua. Sakura dan Ino sudah berdiri menyambut kedatangan Hinata.
Hinata terlihat ragu-ragu menatap Sakura dan Ino yang sudah tersenyum sumringah dihadapannya. Namun keduanya tidak mengatakan apapun menunggu Hinata membuka mulut.
"Emm.. itu.." Hinata masih tidak tau apa yang harus dikatakannya.
"Ya Hinata-chan?" tanya Sakura dengan perlahan.
Hinata menyerahkan sebuah amplop putih pada Sakura. "Lusa akan diadakan Event Fashion dan aku ikut disana. Kalau kalian punya waktu datanglah, cukup jauh memang, diluar kota, di Osaka. Aku tidak akan memaksa jika kalian tidak bisa datang."
Sakura menerima amplop tersebut. "Tentu saja kami akan datang Hinata-chan, bahkan jika diujung dunia pun kami akan tetap datang."
Hinata tersenyum dengan jawaban Sakura. Hinata merasa bodoh harus menjauhi sahabat-sahabatnya ini seminggu ini.
"Jadi apa kami boleh memelukmu sekarang?" Ino sudah tidak sabar ingin berbaikan secara resmi dengan Hinata.
Hinata mengangguk dan langsung ditubruk oleh Sakura dan Ino.
"Huueeee,,, aku sangat merindukanmu Hinata-chan, jangan menjauhi kami lagi." Ino merengek dengan keras begitu dia bisa memeluk Hinata lagi.
"Benar, jangan marah pada kami lagi. kami janji akan mengawasi Sasuke dan Sai dengan ketat, kalau perlu kami akan memasangkan tali pada mereka." Sakura merengek tidak kalah keras.
Sementara tiga orang gadis itu berpelukan erat, Sasuke dan Sai mendengus keras.
"Yang benar saja, kalian pikir kami binatang peliharaan." Sasuke jelas tidak terima dengan kata-kata Sakura.
"Maafkan aku, aku tidak bermaksud menjauhi kalian berdua." Hinata tidak percaya dirinya masih bisa bernafas bahkan berkata-kata disela-sela pelukan erat Sakura dan Ino ini.
"Tidak, itu bukan salahmu, itu salah mereka bertiga. Mereka sudah menghancurkan bisnismu Hinata-chan, wajar saja kau marah." sergah Ino.
"Ya, kau boleh memukuli mereka sampai kau puas Hinata-chan." ucap Sakura.
Sasuke dan Sai sekali lagi mengerang kesal dengan ucapan Sakura. Kenapa jadi Sakura yang memutuskan semuanya?
"Kau boleh memukuliku sampai kau puas, kau boleh memilih jenis tongkat manapun, tapi izinkan aku juga ikut melihat Event Fashion itu Hinata?"
Sakura dan Ino melepaskan pelukan mereka pada Hinata dan menatap tak percaya pada Naruto. Hinata juga mengangkat alis mendengar permintaan itu.
"Wah, aku tidak tau kalau kau ini ternyata tipe M Naruto." sahut Sai.
Sontak Sakura dan Ino tertawa keras mendengar kata-kata Sai, sementara Hinata hanya bisa tertunduk malu.
"Apa itu tipe M?" tanya Naruto polos.
"Astaga, Sasuke, Sai sebenarnya kemana saja selama ini teman kalian ini?" Ino tidak percaya lelaki macam Sasuke dan Sai tidak mengajarkan hal-hal duniawi pada temannya itu.
"Lihat, Hinata yang polos saja mengerti, masa kau tidak tau Naruto?"
Hinata merasa wajahnya semakin memerah mendengar kata-kata Sakura. Bukan salahnya jika dia tau, Sakura dan Ino kadang tidak bisa mengontrol mulut mereka.
Naruto mendengus kesal, "Kenapa kalian semua senang sekali bermain tebak-tebakan denganku?"
'Karena itu menyenangkan' pikir mereka semua.
"Aku tidak mau dan tidak akan mengundangmu." Hinata harus menghentikan pembicaraan salah arah ini.
Naruto menyadari Hinata sedang membicarakan jawaban atas permintaannya tadi. "Kenapa?"
"Karena aku tidak mau, itu sebuah alasan kan?"
"Itu bukan alasan, itu pendapat pribadi."
"Aku tidak peduli. Aku tidak akan memberikan undangan, dan kau tidak bisa masuk tanpa undangan."
"Itu bisa diatur." sahut Naruto.
Apa maksudnya itu? Memangnya darimana seorang pria seperti Naruto bisa mendapatkan undangan sebuah Event Fashion?
Tidak mungkin pikir Hinata. Naruto pasti hanya menggretak saja.
Hinata memutuskan mengabaikan hal itu, ia yakin Naruto hanya membual.
"Aku harus kembali kebutik, ada beberapa hal yang masih perlu dipersiapkan."
Sakura dan Ino sebenarnya masih ingin berbincang dengan Hinata tapi mereka tidak bisa memaksa Hinata untuk tinggal, jadi mereka terpaksa menerimanya.
"Baiklah, tapi ingat jaga kesehatanmu Hinata, jangan sampai kau justru ambruk ketika acaranya."
"Dan jangan mematikan ponselmu lagi. Alarm mu penting untuk menyadarkanmu."
Hinata mengangguk sambil tersenyum menerima nasehat kedua sahabatnya itu. Hinata pergi setelah melambaikan tangan pada Sakura dan Ino dan dibalas sangat bersemangat oleh mereka berdua. "Kami pasti akan datang melihatmu nanti." teriak Sakura.
Begitu Hinata berbalik dan melangkah beberapa meter, Naruto langsung mengejar Hinata.
Dari kejauhan sana, mereka semua bisa melihat Hinata lagi-lagi meneriaki Naruto sambil terus melangkah. Sementara Naruto hanya mengikuti dengan santai sambil meletakkan kedua tangannya dibelakang kepala.
"Ternyata Naruto benar-benar tipe M." ucap Sai, yang diiringi seringaian Sasuke dan gelak tawa dari Sakura dan Ino.
.
.
.
Naruto sedang dalam perjalanan menuju rumah Sasuke. Beberapa menit lalu, Sasuke meneleponnya dan mengatakan mendapatkan informasi yang berkaitan dengan akatsuki.
Naruto mengingat sekilas percakapannya dengan Sasuke ditelepon.
"Kau ingat teman kita di SMA, si jenius Shikamaru?"
Tentu saja Naruto ingat. Shikamaru termasuk teman baik mereka semua. Namun Naruto memang tidak pernah mendengar kabar Shikamaru lagi sejak dirinya masuk akademi militer.
"Ya, aku ingat. Kau bertemu dengannya?"
"Ya, dia bekerja di kepolisian Jepang di biro Info-Komunikasi. Aku memintanya melacak anak buah Yahiko yang bernama Hidan dan Kakuzu."
Mereka dua sialan orang yang menangkap basah Naruto dan Sasuke di kediaman Yahiko.
"Dan apa yang Shikamaru dapatkan?"
"Cukup banyak." Hanya itu jawaban yang diberikan Sasuke.
Naruto yang tidak sabar segera bergegas menuju rumah Sasuke. Sesampainya disana, juga ada Sai dan Shikamaru.
"Lama tak jumpa Naruto." sapa Shikamaru.
"Yo Shikamaru, kau tidak berubah sama sekali." Naruto menyengir lebar pada Shikamaru.
"Maaf harus menyela reuni kalian, tapi aku punya kabar yang harus disampaikan." Sasuke mengajak mereka semua keruang perpustakaan.
Naruto cukup kaget sekaligus terkesan dengan penemuan yang didapatkan Shikamaru. Mereka berhasil mendapatkan informasi berkaitan nama-nama yang diduga sebagai petinggi di organisasi akatsuki selain Yahiko.
Ada enam nama yang Shikamaru temukan, yaitu Hidan, Kakuzu, Kisame, Zetsu, Deidara dan Sasori. Shikamaru bahkan berhasil menemukan visual mereka. Meski belum mendapatkan rincian tugas yang mereka kerjakan, semua ini cukup bagus untuk permulaan.
Ternyata penyusupan mereka tidak sepenuhnya sia-sia. Naruto tidak tau bagaimana Shikamaru bisa mendapatkan banyak hal hanya dari dua nama yang diberikan Sasuke.
Mereka semua mulai menyusun rencana untuk menangkap petinggi akatsuki itu. Sasuke menyarankan untuk memulai dari Hidan dan Kakuzu. Selain Naruto dan Sasuke yang sudah melihat sendiri wajah mereka, sepertinya Hidan dan Kakuzu merupakan bawahan yang berada terdekat dengan Yahiko.
"Bagaimana dengan pria yang melakukan penyanderaan di Tokyo Midtown waktu itu?" tanya Naruto tiba-tiba.
"Masih belum ada perkembangan. Pria itu terus bersikeras jika dia hanya melakukannya karena diancam oleh seorang yang dia tidak tau nama maupun wajahnya. Jika saja orang itu tidak menyandera anak dan istrinya, pria itu juga tidak mau melakukan hal gila tersebut." Sai masih terus memantau perkembangan interogasi yang dilakukan polisi, namun hanya itu yang didapatkannya.
"Bagaimana dengan anak dan istrinya? apa benar mereka diculik?"
"Ya, polisi sudah menyelidiki latar belakang pria itu, dan benar dia punya istri dan seorang anak perempuan berumur 10 tahun."
"Darimana kalian menyimpulkan pria itu terlibat dengan akatsuki?" tanya Shikamaru tiba-tiba.
"Dari bom yang digunakan pria itu. Bom itu dirakit oleh orang yang sama dengan bom yang ditemukan didekat kediaman perdana menteri beberapa bulan lalu. Dan pengirim bom dengan suka cita memberikan kartu namanya."
"Kartu namanya?"
"Tertanda dari 'A' dengan latar awan merah."
Pembicaraan mereka terhenti ketika mendengar suara pintu yang diketuk. Pelayan membawakan beberapa bir dan soda yang diperintahkan Sasuke. Mereka menyudahi pertemuan tersebut.
"Ngomong-ngomong teme, kau sudah mendapatkan yang kuminta kemarin?" tanya Naruto sambil memegang sekaleng bir.
"Ya, dan gara-gara kau aku jadi mendapatkan interogasi dari ibuku. Kau serius mau datang ke event fashion itu dobe?"
Shikamaru bereaksi mendengar perkataan Sasuke. "Apa? Naruto mau ikut ke event fashion?"
Sebelum Sasuke menjawab, Naruto sudah membuka mulut lebih dulu. "Aku serius, dan kalian berdua juga harus ikut."
"Terima kasih sudah mengajak Naruto, tapi aku menolak dengan tegas. Ino pasti tidak akan mengizinkan dan aku tidak mau kena ceramah darinya lagi." jawab Sai.
"Aku juga tidak." sahut Sasuke.
"Kalian ini pengecut sekali. Dengan wanita saja tidak berani." sahut Naruto dengan nada merendahkan.
"Kami bukannya tidak berani. Kau baru mengenal Sakura dan Ino belum satu bulan, kami sudah bersama mereka hampir dua tahun, kau tidak akan mengerti." jelas Sai.
"Aku sudah bersama nenekku seumur hidupku."
"Dan kau tidak berada di kamp mu sekarang karena nenekmu." sahut Sasuke.
Naruto terdiam beberapa saat, dia lupa akan hal itu.
"Itu karena mereka mengancam karier ku." ucap Naruto kemudian.
"Sakura dan Ino bisa mengancam kehidupan kami." balas Sasuke.
Naruto ingin membalas lagi perkataan Sasuke namun disela oleh Shikamaru. "Masa kau tidak mengerti maksud mereka Naruto? Maksud mereka berdua, mereka mencintai kekasih mereka dan tidak ingin membuat gadis mereka kecewa."
Shikamaru menampakkan seringaian malasnya melihat Sai dan Sasuke tidak membantah kata-katanya tersebut, sementara Naruto mengangguk-angguk mengerti.
"Tapi bukankah seharusnya karena alasan itu kalian justru harus ikut? kalian berdua tega membiarkan Sakura dan Ino pergi berdua saja ke Osaka?"
Sasuke dan Sai saling berpandangan setelah mendengar kata-kata Naruto. Setelah beberapa saat, Sasuke memutuskan.
"Kami akan ikut mengantar mereka, tapi tidak akan masuk ke Osaka Central Public Hall. Jadi kalau kau mau melihat, kau saja yang ikut masuk bersama Sakura dan Ino."
"Baiklah kalau begitu." Tentu saja tidak benar-benar begitu. Naruto akan mencari cara memaksa dua temannya itu ikut masuk bersamanya. Mana sudi Naruto masuk kesana hanya untuk menjaga Sakura dan Ino, dia punya urusannya sendiri.
"Jadi sebenarnya kenapa kau ingin melihat event itu Naruto?" Shikamaru belum mendapatkan jawaban atas pertanyaannya itu.
Sai mendahului Naruto untuk menjawab, "Dia ingin menguntit Hinata."
"Aku tidak menguntitnya!" bantah Naruto.
"Hinata? kenapa kau ingin melihatnya? Tunggu, Hinata ikut event fashion di Osaka? kenapa?" Ini membingungkan Shikamaru, kenapa Hinata harus ikut event fashion sampai diluar kota?
"Kau kenal Hinata juga Shikamaru?" Naruto penasaran darimana Shikamaru tau tentang Hinata? Shikamaru tidak kuliah ditempat yang sama dengan Hinata. Apa Sasuke dan Sai yang mengenalkan mereka?
"Tentu saja aku tau, dia kekasih dari adik tunanganku. Atau mantan kekasih." Shikamaru mengoreksi kata-katanya diawal.
"Adik tunanganmu? kau punya tunangan ?" Baiklah, ini kabar yang sangat mengejutkan untuk Naruto.
"Ya, Temari, kakak Gaara adalah tunanganku." sahut Shikamaru enteng.
Itu artinya Shikamaru juga mengenal Gaara dengan baik.
"Jadi apa ada yang akan menjawab kenapa Hinata ikut event fashion diluar kota?"
Akhirnya mereka bertiga menceritakan kejadian sebenarnya yang terjadi dimansion Yahiko. Lengkap dengan yang terjadi setelahnya dengan Hinata.
"Astaga. Jika Temari tau kejadian itu dan sekarang aku terlibat dengan kalian, dia bisa mencekikku. Temari itu sudah menyayangi Hinata seperti adiknya sendiri." Shikamaru tidak bisa membayangkan kemarahan Temari jika tau karier yang bangun Hinata bersama adiknya, Gaara, sekarang terancam karena kebodohan tiga pria dihadapannya ini.
Tidak ada yang bisa membalas perkataan Shikamaru. Mereka terdiam sambil menyesap sekaleng bir untuk menenangkan pikiran mereka.
"Lalu, mau apa kau melihat Hinata di event itu Naruto?" Shikamaru kembali bertanya pada Naruto.
"Aku hanya.." Naruto kemudian membisu.
Hanya apa?
Naruto tidak yakin apa yang ingin dilakukannya disana. Ia hanya merasa perlu berada disana untuk memastikan gadis itu baik-baik saja. Memastikan tidak akan ada lagi yang mungkin akan mengacaukan keadaan gadis itu seperti yang pernah dilakukannya.
Mungkin seperti bentuk penebusan rasa bersalahnya.
"Hanya apa, Naruto?"
Naruto tersadar dari lamunannya ketika mendengar suara Sasuke yang bertanya padanya. Ia menatap bergantian kearah mereka bertiga yang masih menunggu jawaban darinya.
"Hanya ingin memastikan semuanya baik-baik saja." sahut Naruto.
Ketiga pria itu mengerutkan kening mendengar jawaban tersebut. Sasuke dan Sai sedikit banyak mengerti keengganan Naruto untuk menyadari hal-hal seperti itu, tapi bagi Shikamaru ketertarikan Naruto pada mantan kekasih calon adik iparnya itu agak mengganggunya.
"Kau menyukai Hinata ya, Naruto?"
Shikamaru pikir Naruto setidaknya akan berpikir sejenak untuk menjawab pertanyaannya tersebut, namun ternyata Naruto langsung mengangguk.
"Tentu saja, dia teman yang menyenangkan."
Itu sama sekali bukan jawaban yang diharapkan Shikamaru dan ditunggu oleh Sasuke dan Sai.
"Bukan suka seperti itu maksudku, tapi menyukainya sebagai seorang wanita, apa kau mencintai Hinata?" Shikamaru mencoba pertanyaan yang lebih spesifik.
Cinta?
Naruto tidak berpikir yang ia rasakan ini cinta.
Naruto ingat ketika sedang berada dikamp militer ada anak buahnya yang sedang membaca surat dari kekasihnya. Dan Naruto berani sumpah itu pertama kalinya ia melihat wajah konyol dari anak buahnya.
Saat itu Naruto bertanya pada prajurit tersebut seperti apa rasanya jatuh cinta. Naruto yakin prajuritnya itu menatap dirinya seakan Naruto makhluk langka yang hampir punah, tapi Naruto mengabaikannya saja sebelum akhirnya prajurit itu menjawab.
"Rasanya ada ribuan kupu-kupu yang beterbangan diperutmu, dadamu akan terasa sesak karena jantungmu yang berdebar dua kali lebih keras bahkan menggila, dan kau akan tersenyum sepanjang hari memikirkan dirinya."
Saat itu juga Naruto menyuruh prajurit itu memeriksakan kesehatannya, karena bagi Naruto semua hal itu menandakan tubuhnya sedang tidak normal, mungkin saja ia sedang mengidap penyakit mematikan.
Naruto masih ingat tekukan wajah yang diterimanya setelah kata-katanya waktu itu.
Naruto membandingkan kembali keadaanya sekarang dengan kata-kata itu.
Ia tidak merasakan adanya ribuan kupu-kupu yang beterbangan diperutnya. Dadanya memang sesak ketika bersama Hinata, tapi jantungnya berdetak normal. Ia juga kadang-kadang teringat Hinata, tapi ia tidak tersenyum sama sekali saat itu.
Jadi Naruto menyimpulkan dirinya tidak sedang jatuh cinta.
"Tidak, kurasa tidak." sahut Naruto.
Jika Sakura dan Ino mendengar hal ini, mereka mungkin akan mengutuk Naruto. Sasuke tidak berniat sama sekali untuk ikut campur masalah perasaan Naruto, temannya ini memang tidak cocok dengan hal romantis. Tapi sedikit memberikan gambaran mungkin bisa membuat keadaan lebih baik.
"Apa kau yakin, dobe?"
"Tentang apa?"
"Kau hanya menyukai Hinata sebagai teman?"
"Aku yakin."
Tapi Sasuke tidak seyakin itu. "Apa kau peduli padanya?"
"Tentu saja." sahut Naruto dengan yakin.
"Menurutmu kenapa kau peduli padanya? Hinata saja sekarang tidak peduli padamu, dia tidak mau lagi berteman denganmu, kenapa kau harus berusaha sekeras ini?"
Naruto lagi-lagi terdiam. Ia memikirkan baik-baik jawaban untuk pertanyaan Sasuke itu. Sekeras apapun dia bepikir jawabannya tetaplah sama. Naruto merasa bersalah pada Hinata.
"Aku tidak mencoba sekeras itu, teme. Aku hanya benar-benar merasa menyesal pada Hinata. Aku -kita- menghancurkan bisnisnya, itu bisnis yang dibangunnya bersama kekasihnya."
"Aku juga merasa sangat menyesal dobe, tapi aku mengikuti saran Sakura untuk memberikan Hinata waktu menenangkan diri. Tapi kau? kenapa kau tidak bisa membiarkannya?"
Naruto hanya tidak ingin membuang waktu seperti yang Sakura atau Ino lakukan, semakin cepat masalah mereka selesai, semakin bagus untuk ketenangan hidup Naruto. "Aku tidak bisa membiarkannya begitu saja. Aku merasa dia itu mirip dengan diriku yang dulu." Naruto pikir menunda-nunda juga tidak ada gunanya, dia tau apa yang dirasakan Hinata.
Sasuke mengela nafas. "Ya, kuakui Hinata sekarang memang mirip dengan dirimu dulu. Tapi kau yang sekarang sama sekali mirip dirimu."
Apa benar ini sama sekali bukan seperti dirinya? memangnya bagaimana dirinya itu?
Kenapa teman-temannya bersikeras untuk mengetahui apa yang sebenarnya dirasakan Naruto? Naruto hanya peduli pada Hinata karena gadis itu temannya. Selain itu Naruto juga merasa sangat bersalah pada Hinata.
Naruto tidak tau apa sebutan yang tepat untuk itu, tapi yang jelas itu bukan cinta, sama sekali bukan. Apa saja, asalkan bukan cinta. Ia tidak mungkin merasakan yang satu itu.
"Lebih baik pikirkan dengan benar apa yang kau inginkan sekarang. Pikirkan sebagai seorang mahasiswa biasa, bukan prajurit pasukan khusus. Tidak ada yang akan memaksamu melepaskan apa yang ingin kau pertahankan." Sasuke kembali meneguk birnya. Rasanya sudah cukup memberikan gambaran pada temannya ini. Selanjutnya tergantung pada Naruto sendiri.
Sai dan Shikamaru hanya bisa menyimak pembicaraan dua orang sahabat baik itu. Mereka sepenuhnya setuju dengan apa yabg dikatakan Sasuke.
Ternyata Naruto masih berkubang dalam kegelapannya bahkan setelah bertahun-tahun. Naruto lebih memilih mendorong kesedihannya ke sudut yang gelap dan menyembunyikannya dibanding menghadapinya dan melewatkan setiap kesempatan untuk mencintai.
Hinata sendiri tidak jauh berbeda dari Naruto. Ia memilih hidup dalam kenangan yang hanya membuatnya semakin terluka. Baginya rasa sakit mungkin membuatnya lebih hidup. Atau mungkin Hinata hanya tidak tau apa yang harus dilakukannya terhadap lubang besar yang menganga di dalam dadanya.
Mungkin memang tidak ada harapan untuk mereka berdua...
.
.
.
TBC
