War Prisoner (AkaKuro ver.)

.

Disclaimer

War Prisoner © Li Hua Yan Yu

Kuroko no Basuke © Tadatoshi Fujimaki

.

Cast

Akashi Seijuurou as Wanyan Xu

Kuroko Tetsuya as Su Yi

.

Warning : Yaoi

Cerita ini mungkin sedikit berbeda dengan cerita aslinya.

Chapter 11

Seperti kata pepatah.

* 'Kesedihan panjang ternyata sukacita.'

'Ketulusan menghancurkan emas dan batu.'

'Kerja keras terbayar untuk pria yang berusaha.'

Akashi akhirnya memahami semua artinya. Ekspresinya berubah sepersekian detik. Dia hampir berteriak kegirangan, dan secara naluriah merasa bahwa dia harus menutupi wajahnya dengan senyum, dan menahan air mata untuk mengungkapkan betapa bahagia dirinya. Jadi, yang Akashi lakukan hanyalah menatap kosong pada Kuroko. Tidak melakukan apa-apa, karena ia tidak mampu melakukan apapun.

Setelah waktu yang sangat lama berlalu. Ketika Kuroko bertanya-tanya apakah pria di hadapannya telah kehilangan kesadaran, Akashi akhirnya mengulurkan tangannya yang sedikit gemetar. Membuat beberapa gerakan sebelum meraih Kuroko kedalam pelukannya.

Kekuatan pelukan itu hampir membuat Kuroko tercekik. Terkejut, tapi ketika Kuroko baru saja akan menjauhkan pria yang menempel ditubuhnya, dia mendengar Akashi berbisik di telinganya.

"Tetsuya, Jika aku dapat memilikimu, aku tidak akan pernah menginginkan apapun lagi dalam hidupku."

.

Kuroko tertegun, ia menghentikan semua gerakannya. Untuk beberapa alasan, pernyataan yang diucapkan Akashi pada saat ini tidak membangkitkan rasa penghinaan bagi Kuroko. Sebaliknya ia hanya bisa merasakan kebenaran dalam setiap suku katanya. Kuroko mendesah dalam hati.

Meskipun orang ini adalah musuh terbesarku sepanjang hidup ini, ia juga teman dekat seumur hidupku. Terbukti, segala sesuatu di dunia ini tidak bisa lepas dari kata-kata ' nasib mempermainkan kehidupan seorang pria'.

Ketika mereka datang ke istana, mereka melihat kerumunan administrator istana berlari keluar dari gerbang. Menghentikan langkah tepat dihadapan Akashi, mereka berlutut. Seseorang di bagian paling depan kelompok itu berkata dengan nada ketakutan.

"Lapor ke Yang Mulia. Kami telah mendengar bahwa Yang Mulia akan tiba besok, karena itu kami gagal menyambut Yang Mulia. Kejahatan kami layak untuk sepuluh ribu kematian, kami meminta Yang Mulia memberi kami hukuman."

Akashi tersenyum ramah. "Berdirilah, aku sangat tidak sabar. Hingga aku tiba lebih cepat dari jadwal. Menjaga tempat ini pasti melelahkan, tidak ada kebutuhan lebih lanjut dari laporanmu. Kau telah merawat kota ini dengan baik, aku masuk dengan pakaian kasual dan aku melihat bahwa bahwa jalan-jalan yang ramai dengan aktivitas dalam keadaan normal. Belum terpengaruh oleh peristiwa perang, kau pasti begitu handal. Kalian semua aku hargai dengan baik."

Mendengar kata-kata itu, administrator yang berkumpul akhirnya bisa bernafas lega. Berkerumun di sekitar Akashi sebagai pendamping memasuki istana. Meski pada titik ini, itu sudah terlambat. Setelah makan, mereka memilih secara acak tempat peristirahatan mereka, menunggu kedatangan semua selir dan pejabat penting pada keesokan harinya sebelum membuat pengaturan lebih lanjut.

Rakuzan baru saja memindahkan ibukotanya ke Teiko, hal ini menyebabkan banyak kebingungan dan keributan. Sebagai penguasa, Akashi tidak boleh bermalas-malasan. Sampai-sampai ia bahkan tidak bisa mengunjungi Kuroko walau hanya untuk mengganggunya.

Ketidakhadiran Akashi seperti berkah untuk Kuroko, dan dia bisa mulai untuk bersantai. Meskipun Kuroko masih memiliki keinginan untuk melarikan diri, ia tidak melakukannya karena untuk satu alasan. Akashi telah menugaskan penjaga untuk terus mendampinginya.

Untuk hal yang lain, ia tahu betul bahwa bahkan jika ia berhasil melarikan diri sendiri. Kuroko tidak akan mungkin mampu menyelamatkan semua orang dari Seirin. Kelemahan terbesarnya yang telah dikuasai oleh Akashi, baginya untuk melarikan diri dari telapak tangan iblis adalah sesulit mencapai langit.

Pada hari ini setelah makan pagi, Putra Mahkota Akashi Seiya, menerobos santai ke tempat Kuroko. Anak itu hanya tersenyum misterius, dan terus tersenyum sampai Kuroko bingung dengan tingkah lakunya.

Beberapa menit kemudian Seiya berkenan untuk berbicara. "Kau masih memiliki mood untuk membaca saat ini? Tidak bisakah kau melihat bahwa Taman Merriment sudah diperbaiki dan siap untuk ditempati?" Katanya santai.

Kuroko melirik luar jendela. Rasa sakit di hati yang dicampur dengan kebencian, membuatnya merasa jauh lebih baik. Untuk membangun istana mewah ini, Raja Seirin telah mengalihkan dana yang dimaksudkan untuk militer, menyebabkan pasukannya melemah dan mudah dikalahkan. Pada dasarnya, hal itu secara tidak langsung menyebabkan mereka kehilangan tempat mewah itu. Kuroko berbalik, tidak terlalu ingin untuk terlibat percakapan dengan Seiya.

"Ini adalah momok yang telah menyebabkan jatuhnya negaraku, apa yang perlu dikagumi?"

Seiya menganguk. "Oh, tentu saja. Bisa dipahami kenapa kau marah. Aku dengar bahwa Rajamu menghabiskan seluruh dana militer untuk membangun tempat itu. Dia membodohi semua orang. Menghabiskan banyak pikiran dan energi tapi malah membawa keberuntungan bagi kami. Aku penasaran apa yang dipikirkannya saat ini di bawah tanah?"

"Kau datang kesini untuk mengatakan itu? Jika ya, aku sudah mendengarnya, jadi tolong pergilah." Ucap Kuroko dingin.

Seiya tidak merasa tersinggung, anak itu malah tertawa. "Tentu saja tidak. Ketika Taman Merriment telah benar-benar selesai, ayahku akan menobatkan ratu yang baru. Apa hal itu tidak membuatmu khawatir?"

Kuroko mengangkat wajahnya, menatap mata pria kecil itu. Ia tersenyum mengejek. "Penobatan Ratu tidak ada hubungannya denganku. Kenapa aku harus merasa khawatir? Kalian, kau dan ayahmu tidak pernah berpikir ketika berbicara."

Seiya sangat terkejut, matanya membesar. "Apa? Apa ayahku tidak memberimu sebuah clue kecil? Dia terlalu lamban. Bukankah itu berarti kau tidak tahu bahwa Ratu baru yang akan dinobatkan tidak lain dan tidak bukan adalah kau?"

Dengan suara gedebuk besar, buku yang ada dalam genggaman Kuroko terjatuh disamping meja. Wajah Kuroko memerah hingga ketelinganya.

"Kau anak kecil, dan Putra Mahkota negara ini. Kenapa kau tidak menyaring kata katamu ketika berbicara? Tidak perlu, kau bisa membunuhku sesukamu. Ayahmu menggunakan rakyatku untuk mengancamku. Bukankah itu sudah cukup untuk kalian berdua? Apakah sangat penting anak sepertimu mempermainkanku? Meski aku memeliki hati, aku tidak bisa menahannya lagi. Ketika aku dipaksa dimana tidak ada jalan selain kematian, apapun alasannya, mereka tidak akan membiarkanku bertahan di dunia ini." Teriaknya.

Seiya lebih merasa takut daripada khawatir. Namun ia tersenyum. "Aku sangat menghargai moral Jendral Kuroko, tapi tidak sepatah katapun dari ucapanku adalah kebohongan. Kau akan tahu segera, jika kau mau melakukan apa yang aku katakan, dan menjaga kehidupan rakyatmu. Tidak akan ada yang bisa menahanmu jika kau ingin mati. Tapi, aku sangat memahami ayahku. Dia pasti akan membalasnya dengan darah. Sesuatu yang bahkan tidak pernah bisa kau bayangan. Baiklah, lihat dan tunggu saja." Seiya memberikan sebuah tawa dan pergi.

Kuroko merosot ke tempat tidur. Dia bisa dengan jelas mengingat kata-kata Akashi kepadanya malam itu. Awalnya Kuroko pikir itu hanya untuk mempermainkannya, tidak lebih.

Berpikir kembali, bisa jadi sangat serius? Berpikir tentang ini, ia tidak bisa tidak merasa sangat shock dan ketakutan. Kuroko terkejut bahwa Akashi memiliki keberanian untuk menentang dunia dan menobatkan ratu yang seorang laki-laki. Ketakutannya berasal dari kemungkinan jika dia menolaknya. Akashi mungkin benar-benar melepaskan badai pembalasan berdarah atas rakyatnya.

Tidak peduli bagaimana Kuroko berpikir tentang hal ini, ia tidak bisa melihat apakah dia masih punya ruang untuk bertahan atau tidak. Menghela napas panjang, bahkan setelah Kuroko mengalami banyak penderitaan dan telah menemukan cara untuk mengatasi penghinaan untuk terus hidup tanpa tujuan. Mungkinkah, Surga masih belum selesai mengujinya?

.

Ketika malam tiba, Akashi yang tidak dilihatnya selama beberapa hari datang menghampiri Kuroko. Wajahnya tidak secerah biasanya. Kuroko menatap Akashi dingin. Mencatat bahwa ekspresi biasanya hilang dan hanya ada jejak kecemasan yang mendalam di matanya.

Dengan ketakutan besar di dalam hatinya, Kuroko perlahan mendekat dan duduk di hadapan Akashi. "Apakah kau memiliki sesuatu untuk dikatakan padaku?" Katanya muram.

Akashi menatapnya heran, memaksakan sebuah tawa. "Seiya pasti datang dan memberimu sakit kepala. Itu bagus, karena dia telah mengatakannya padamu. Aku bisa menghemat kesulitan karena harus mencari kata-kata. Tetsuya, perasaanku untukmu bahkan diketahui oleh semua roh dan dewa yang ada di surga dan di bumi. Aku ingin menghiburmu di setiap masalahmu. Tapi masalah ini sangat penting, meskipun aku tahu bahwa kau lebih suka menderita sepuluh ribu kematian, sebelum menyetujui. Hal ini di luar kendaliku. Aku hanya menyarankanmu untuk menerima sesegera mungkin, jika tidak, jangan salahkan jika aku menjadi kejam."

Kuroko terdiam untuk waktu yang lama. "Jangan memberitahuku bahwa kau benar-benar berniat untuk menobatkanku sebagai permaisurimu?" Meskipun hatinya sudah tahu jawabannya, ia masih memiliki sedikit harapan. Harapan bahwa ia akan mendengar jawaban yang berbeda dari bibir Akashi.

Akashi tidak tahan melihat secercah harapan di mata Kuroko. Membuang muka, ia mengeraskan hatinya dan berkata melalui gigi yang terkatup.

"Benar, aku ingin menobatkanmu sebagai Ratuku. Seirin dan Rakuzan akan bersatu melalui persatuan kita. Sekarang kita akan benar-benar menjadi seperti sebuah keluarga."

Kuroko menatap langsung ke dalam mata Akashi. Suaranya gemetar. "Akashi-san, haruskah kau benar-benar mempermalukan aku seperti ini? Ini hanya akan menyebabkan orang-orang Seirin mengejekku karena menjual negaraku. Aku tidak akan bisa berjalan di jalanan tanpa harus menderita ejekan dan orang-orang akan meludahiku. Apakah kau akan puas ketika itu terjadi?"

Akashi tidak mencoba untuk menghindari kontak matanya dengan Kuroko. "Hatiku sejelas air. Dengan langit, bumi, matahari dan bulan sebagai saksi. Sudut pandang kita berbeda, jika kau bersikeras bahwa niat tulusku memang jadi tak tertahankan, tidak ada lagi yang bisa kukatakan. Tiga bulan lagi, aku berniat mengadakan upacara besar untuk memahkotai permaisuri pada hari itu. Kau harus mulai mempersiapkan diri dari sekarang."

.

.

Kuroko mulai tenang. Memandang Akashi, ia tersenyum sedih. "Baiklah, jika kau bertekad untuk melakukan hal ini aku tidak bisa mengubah pikiranmu. Kau bisa yakin, aku akan mempersiapkan diri dengan baik dan kau pasti akan puas. Tapi ada masalah lain yang ingin aku bahas. Bisakah kau memenuhi janjimu untuk melepaskan pasukanku yang telah kau tangkap. Membiarkan mereka kembali ke rumah mereka dan menghabiskan sisa hidup mereka sebagai petani, aman bersama keluarga mereka?

Akashi tertegun, ia tidak pernah berharap bahwa Kuroko akan setuju begitu mudah. Ketika dia telah sadar ia hampir berteriak dengan sukacita. Mengambil beberapa langkah maju, merapatkan tubuh mereka dan melingkarkan lengannya memeluk Kuroko erat. Menyandarkan kepala pria itu kedadanya.

"Tetsuya-ku yang baik, karena kau telah berjanji untuk menjadi ratuku. Bahkan jika kau membuat seratus permintaan atau seribu permintaanpun, aku akan menyetujui semuanya. Tak perlu diingatkan, aku pasti akan menepati janjiku untuk melepaskan prajuritmu."

Setelah berkata demikian, Akashi memberikan kecupan kecil pada pucuk Kuroko. Akashi berbalik menghadap pintu. "Momoi, masuklah."

Momoi berhati-hati mendengarkan percakapan mereka di luar ruangan. Mendengar Akashi memanggilnya, gadis bergegas masuk.

"Yang Mulia, apa instruksi anda?"

Akashi tersenyum. "Mulai sekarang, kau tidak harus mengikutiku. Sebagai gantinya, kau akan melayani Kuroko. Bantu dia dengan semua aturan untuk penobatan. Aku ingin menikahi Tetsuya dalam upacara yang besar. Aku ingin seluruh dunia untuk berbahagia bagi kami. Aku akan meninggalkanmu untuk membuat persiapan sekarang."

Secepat kilat, Akashi mengecup pipi Kuroko. Kemudian, dengan kegembiraan seperti anak-anak ia meninggalkan ruangan.

Momoi juga terlihat berseri-seri, tetapi ketika gadis itu berbalik dan melihat wajah Kuroko yang pucat. Gadis cantik itu tersenyum lembut.

"Tuan muda, anda tidak perlu merasa sedih. Saya berani menjamin jika perasaan bahagia Yang Mulia Raja saat ini benar benar nyata. Anda berdua dapat dianggap sebagai orang biasa yang luar biasa. Kalian bisa menjadi sepasang kepercayaan yang benar-benar mampu memahami satu sama lain. Jika kalian dapat menghadapi kesulitan bersama-sama dan bersama-sama berbagi dalam nasib baik, bahkan jika itu adalah kasus, dua laki-laki yang mencintai satu sama lain, saya akan berani mengatakan jika kalian diberkati oleh Dewa." Nasehatnya.

Kuroko tidak menjawab.

"Momoi-san, set baju besi perak yang aku pakai dan pedang berharga milikku ketika aku ditangkap, apa mereka masih ada? Atau telah di hancurkan?"

"Tidak. Yang Mulia Raja memerintahkanku untuk merawat mereka. Mengapa anda tiba-tiba teringat dengan benda itu?" Jawab Momoi cepat.

Kuroko menampilkan senyum yang di paksakan. "Sejak ekspedisi militer pertamaku. Aku memakai baju besi perak dan pedang berharga itu bersamaku. Sekarang aku tidak lagi seorang Jenderal Kerajaan Seirin, aku tidak berguna lagi bagi mereka. Tapi mereka telah bersama denganku untuk waktu yang lama, mereka benda-benda yang secara alami sulit untuk dipisahkan denganku. Aku ingin memiliki mereka denganku selama tiga bulan ke depan. Setelah upacara pernikahan besar, aku akan menghancurkan mereka sebagai lambang jika aku telah melepaskan keinginanku untuk mati demi negaraku. Bagaimana menurutmu?"

Momoi tidak berpikir untuk mempertanyakan kata-katanya. "Tentu, itu hal yang baik. Silakan tunggu sebentar, aku akan pergi untuk mengambilnya." Dia berbalik pergi.

Kuroko mundur kebelakang dan hilang keseimbangan. Meskipun ia tersenyum. Di balik itu, ada penderitaan yang tak terlukiskan di dalam hatinya.

Hari-hari berganti, setengah bulanpun telah berlalu. Karena Akashi telah menetapkan bahwa 'saat pertama' Kuroko adalah ketika malam pengantin, maka ia tidak mengganggunya untuk sementara waktu. Kuroko telah membuat rencana sendiri, pada hari ini ketika dua dari mereka berbincang bersama setelah makan malam.

"Janjimu padaku tentang melepaskan tentaraku, bagaimana prosesnya?" Kuroko mencoba bertanya.

"Apakah aku berani untuk mengabaikan kata-kata Tetsuya? Mereka telah lama dibebaskan. Karena terlalu banyak urusan, aku jadi lupa memberitahumu. Jadi apa yang kau pikirkan? Kali ini kau pasti senang dan puas." Jawab Kaisar Rakuzan itu riang.

Kuroko terdiam untuk waktu yang lama sebelum mengangguk. "Sangat baik, terima kasih."

Kuroko selalu menjadi dirinya sendiri, jadi meskipun nadanya jelas suram Akashi berpikir bahwa itu hanya karena ia sedang memikirkan kehancuran negaranya lagi. Dia merasakan sakit yang mendalam dalam hatinya dan tidak mau memikirkan soal dirinya, bukannya memilih untuk memperhatikan Kuroko dan lebih siaga.

Kuroko terus memasang ekspresi kosong, jelas ia tidak terlalu tertarik dalam percakapan. Sejak Akashi harus menghadiri pengadilan pagi-pagi, ia berkata.

"Sudah semakin larut, kau harus banyak istirahat. Aku akan datang untuk menemanimu lagi besok."

Karena itu, Akashi meninggalkan ruangan. Untuk Momoi dan pelayan istana lain yang sedang menunggu di luar dia memberi perintah.

"Rawat dia dengan baik, dan aku akan membalas kalian dengan sangat baik di masa depan."

Midorima buru-buru memegang jubah berat itu, sementara beberapa gadis istana dan kasim menyiapkan lentera. Mereka menemaninya kembali ke kediamannya sendiri.

Di dalam, Kuroko menyaksikannya dari jendela. Ketika Akashi meninggalkan tempatnya, ia terus melihat sampai siluet Akashi yang telah benar-benar menghilang. Ketika Momoi melihat apa yang dilakukan Kuroko, ia tidak bisa menahan tawanya.

"Tuan Muda sudah merindukan Yang Mulia Raja lagi? Biarkan aku pergi, dan mengatakan padanya. Aku jamin bahwa dia akan kembali segera, lebih cepat dari seekor elang. Saya takut anda tidak tahu, tetapi alasan Raja takut untuk menghabiskan malam-malamnya di sini adalah karena takut jika ia tidak akan mampu mengendalikan keinginannya. Sejak anda berhasil menangkap hatinya, ia belum pernah lagi mengunjungi selirnya. Bahkan mereka yang sebelumnya disukai Yang Mulia. Ia tidak pernah menahannya begitu lama seperti ini. Dan tentu saja itu alasan kenapa Yang Mulia tidak berani terlalu dekat dengan anda."

Kuroko tertawa pahit. "Kau adalah seorang perempuan, tapi kau bisa mengatakan hal seperti itu. Kau tidak takut diejek orang lain?"

Momoi merasa bahwa ia mungkin berbicara terlalu lancang. Wajahnya memerah, ia menundukkan kepala. "Bukan seperti itu. Kami Rakuzan tidak seperti Seirin. Kami tidak mengikuti aturan-aturan kuno. Tidak ada yang salah dengan berbicara sedikit tentang hal-hal seperti itu."

Kuroko tersenyum. "Ya, kau memang benar. Aku ingin tahu siapa yang akan menjadi rekan malang yang akhirnya menikah denganmu. Aku bertanya-tanya bagaimana kau akan menyiksanya."

Wajah Momoi memerah mendengar kata-kata Kuroko. "Tuan Muda, masih mengolokku. Bagaimana dengan Anda?" Setelah berkata demikian, gadis itu berbalik pergi. Kuroko menunggu untuk waktu yang lama, tapi ia tidak datang kembali. Pergi keluar untuk melihat-lihat, tapi gadis itu tidak terlihat. Hanya ada selusin pelayan istana yang berbisik dan bercanda di antara mereka sendiri.

"Aku mengerharapkan beberapa ketenangan. Kalian semua bisa pergi. Momoi akan segera kembali, dia bisa menjagaku." Perintahnya pada para pelayan.

Pelayan istana bergegas untuk mematuhi. Kuroko menunggu lagi sampai semua dari mereka telah meninggalkan ruangan sebelum masuk kembali ke kamarnya. Dia berdiri di depan lemari besar, dimana di dalamnya ada armor perak dan pedang berharga miliknya. Namun, mereka dijaga oleh kunci besar. Kunci-kunci ini disimpan oleh Momoi dan dia tidak pernah melepaskannya. Dengan demikian, gadis itu berharap untuk mencegahnya dari menyakiti dirinya sendiri. Memang, kunci itu besar dan berat. Tetapi itu tidak cukup untuk menghentikan Kuroko. Berkonsentrasi, dan dengan kekuatan tangannya lemari itu terbuka.

Kuroko cepat membuka pintu lemari dan mengambil baju besi perak dan pedang berharganya. Setelah membelai mereka, ia membuka lapisan terluar dari pakaiannya, menggantinya dengan baju besi perak. Menggenggam pedangnya hati-hati, Kuroko berjalan ke pusat bangunan menghadap ke selatan, lalu berlutut. Dengan air mata di pipinya, ia berkata.

"Dengan langit sebagai saksinya, meskipun Kuroko Tetsuya telah berjuang dan berpartisipasi dalam banyak pertempuran. Aku akhirnya tidak dapat melestarikan lahan ini untuk negaraku. Sekarang, ibu pertiwi telah dihancurkan. Kuroko Tetsuya telah mempermalukan hidupnya sampai hari ini, dan tidak dapat menjelaskan kepada semua tentara yang telah mengorbankan hidup mereka untuk negara kita. Aku hanya bisa memohon pada Surga agar dapat mengerti bahwa aku memiliki kesulitan dan memungkinkan diriku untuk menemani negaraku dalam kematian."

Setelah menyelesaikan pidatonya, Kuroko menarik pedang keluar dari sarungnya. Pedang itu berkilauan seperti es, teman lama ini sangat tajam di masa lalu. Khawatir bahwa penundaan lebih lanjut akan membawanya pada kemalangan, dia tidak ragu-ragu untuk membawa pedang itu pada posisi horizontal tepat di lehernya. Dalam beberapa saat, seorang pria dengan karakter pantang menyerah akan kehilangan hidupnya di istana. Tanah airnya.

"Tuan Muda, apa yang anda lakukan?!"

Sebelum kalimat itu selesai. Seperti kilat, Momoi melompat melalui jendela dan masuk ke dalam ruangan.

.

.

.

To be Continue

.

.

.

*saya tidak tahu artinya. Maaf...

Terimakasih pada, nimuix, kurochin, Park RinHyun- Uchiha, dan Classical Violin yang sudah mereview chapter sebelumnya. Maaf saya tidak bisa membalas review untuk sementara ini.