ANNYEOOOOOOOOOOONG!
Sebelumnya, maaf chapter kemaren Liyya g bisa balas reviewnya satu-satu. Karena kemaren ntu Liyya dalam perjalanan mudik Aceh-Malang. Tapi chap ini dan seterusnya, Liyya pasti usahakan banget untuk bales review
*BOW
Sincerely
0312_luLuEXOtics
.
Title: 520
Author: Tinywings (dan diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh dikitlagisampe '1-5' dan 0312_luLuEXOtics)
Pairing: HunHan (SehunxLuhan)
Lenght: 13 Chapters
Rate: T
Genre: Romance, Drama, Fluff
Original fic: story/view/201184/520-kai-luhan-sehun-sehan-hunhan-sekai-selu
Disclaimer: Cerita ini sepenuhnya milik the wonderful Tinywings, tapi terjemahan ini milik Liyya.
.
Chapter 10: Nobody ever stayed
Seperti biasa, menghindari Jongin adalah sesuatu yang tidak mungkin. Dan Sehun bisa merasakan perubahan drastis dalam hubungan mereka karena hal itu. Dia melihat dengan jelas bagaimana Jongin melihatnya dengan tatapan kecewa tapi juga penuh rindu. Dan semua itu membuat Sehun sedih karena ia masih belum siap untuk perubahan yang akan terjadi. Dia memang bodoh, sangat bodoh, tapi tetap saja dia masih belum siap untuk menerima konsekuensi dari kebodohannya. Dia masih belum siap menghadapi kenyataan.
Mungkin karena itulah lebih baik Sehun tidak usah lagi bertemu dengan Luhan, daripada harus mengambil resiko untuk bertemu dengan Jongin di halte, atau mungkin di dalam bus itu sendiri. Apa yang ia lakukan saat ini memang sangat bodoh dan kekanakan, Sehun tahu itu, tapi dia hanya ingin melindungi dirinya sendiri. Dia telah kehilangan Jongin pada Kyungsoo. Jadi tidak perlu lagi membahas masa lalu ataupun yang sedang terjadi. Ya, dia memang masih belum dewasa, tapi Sehun hanya tidak mau menjadi lebih hancur lagi dari ini.
Tapi meski pada kenyataannya Sehun sudah berusaha untuk mengindarinya, dia masih merasa begitu sedih dan menyesali semua yang telah ia lewatkan. Pikiran-pikiran negatif berbondong-bondong masuk dan memenuhi benaknya. Rasanya, ia ingin menangis. Menangis kencang dan mengeluarkan semua bebannya. Karena berpura-pura tidaklah mudah, menghidari kenyataan juga tidak mungkin, dan dia sudah sangat lelah.
Namun kalimat Luhan kemarin masih terus merputar di kepalanya. Dan beberapa jam kemudian, setelah kelas berakhir dan seharusnya dia berada di rumah mengerjakan PR, Sehun malah berdiri di halte dan berharap kalau Luhan ada di dalam bus yang sedang ia tunggu. Ia berharap kalau hari ini ia bisa berbicara dengan pemuda itu. Karena jika ada seseorang yang dengan tulus mau mendengar keluh kesahnya, orang itu pastilah Luhan.
"Dan aku juga ingat, saat itu aku memintamu untuk mengatakan padaku, apakah keduanya adalah hal yang sama atau tidak."
Saat itu, ia hampir saja menjawab 'iya', perpisahan dan melepaskan adalah dua hal yang sama, tapi tatapan yang terpancar dari mata Luhan menghentikan Sehun, membuatnya harus berpikir ulang tentang jawabannya, tentang apa yang selama ini ia percaya. Tapi bahkan setelah berpikir lagi, Sehun tidak menemukan alasan apa pun untuk berpikir kalau keduanya adalah hal yang berbeda. Dan itu membuat kepalanya terasa semakin berat. Sehun hanya berharap kalau Luhan akan memberikan sebuah jawaban padanya. Mungkin alasan itulah yang pada akhirnya membawa kaki Sehun melangkah menuju halte bus yang begitu familiar ini.
Di dalam benarknya, Sehun masih sedikit khawatir untuk percaya pada Luhan. Namun di sisi lain, ia tidak tahu mengapa tapi ia percaya kalau Luhan dan dirinya memiliki sebuah ikatan yang membuat segalanya mungkin. Dan di tengah konflik batin itu, Sehun ingin sekali ini saja membiarkan sisi hatinya yang percaya pada Luhan untuk menang. Dia ingin sepenuhnya mempercayai pemuda itu, tapi semua tergantung bagaimana reaksi Luhan. Satu kata saja dari Luhan bisa langsung membuat nyali Sehun ciut, jadi semuanya benar-benar tergantung bagaimana sikap Luhan nantinya.
"Sehun-ssi," sapa Luhan seraya tersenyum lebar begitu ia melihat Sehun.
Sehun membalas senyum itu, tiba-tiba saja ia merasa malu tanpa alasan. "Hai, Luhan-ssi."
"Bagaimana kabarmu?" tanya Luhan penasaran.
Sehun mengambil tempat duduk paling belakang, tempat duduk yang sama yang diempati Luhan namun di sisi yang berbeda. Ia menatap Luhan dengan sebuah senyum yang seolah enggan untuk pergi dari bibirnya. Jika saja ia mau jujur pada dirinya sendiri, Sehun tahu kalau alasannya naik bus ini hanya karena ia ingin berjumpa dengan Luhan. Tapi Sehun tidak suka untuk jujur pada dirinya sendiri, jadi dia tidak mengakui itu sebagai alasan.
"Aku ingin bisa merasakan perjalanan bus yang menyenangkan untuk menjernihkan pikiranku," jawab Sehun.
Luhan mengangguk paham. "Memangnya harus bus ini ya?"
Sehun ikut menganggukkan kepala. "Ya, memang harus bus ini."
Keduanya tertawa setelah itu. Tidak ada alasan sebenarnya, hanya ingin tertawa. Rasanya menyenangkan bisa tertawa seperti ini. Dan Sehun memperhatikan bagaimana kedua mata Luhan akan membentuk bulan sabit saat tertawa, membuat kedua mata yang sebenarnya cukup lebar itu terlihat lebih kecil. Dia juga bisa melihat ujung bibir Luhan yang tertarik ke atas. Sehun tidak ingin mengakuinya, tapi sepertinya ia sedikit terlalu menyukainya. Ia sedikit terlalu menyukai suara tawa Luhan, sedikit terlalu menikmati kenyataan bahwa ia sedang menghabiskan waktu bersama Luhan, tapi Sehun tidak akan mengeluh tentang rasa suka yang sedikit terlalu banyak ini. Tidak akan pernah.
"Aku ingin bertanya sesuatu," ujar Sehun sesaat kemudian. Membuat Luhan menatapnya penasaran. "Apa kau punya waktu luang sekarang?"
Luhan menutup buku di tangannya kemudian tersenyum dan mengangguk. "Tentu saja, memangnya ada apa?"
Senyum Sehun menjadi semakin lebar. "Karena aku ingin bersenang-senang."
"Truth or Dare? Apa kau serius?" ujar Luhan sembari menggelengkan kepalanya, namun begitu kedua matanya berbinar cerah dengan sebuah senyum yang merekah di bibirnya.
"Ayolah! Bukankah ini menyenangkan?!" Sehun tersenyum senang. "Kau duluan! Truth atau dare?"
Mereka memutuskan untuk turun dari bus pada pemberhentian selanjutnya dan duduk di bangku yang tersedia di pinggir jalan. Lalu tiba-tiba saja Sehun mengajaknya untuk memainkan permainan itu, karena ia ingin bersenang-senang sepuas hatinya dulu sebelum membicarakan hal yang lebih serius nanti. Lagipula, dunia lebih menyukai Sehun yang ceria daripada dirinya yang lemah.
"Baiklah, baiklah," ujar Luhan kemudian berpikir sejenak. "Aku... Aku memilih truth."
"Hmmm..." Sehun mengetuk-ngetuk dagunya sambil memikirkan sesuatu. "Ah! Apa warna faforitmu?"
Luhan tergelak begitu mendengar pertanyaan random itu. "Apa kau tidak ada pertanyaan lain?" Ia tertawa kecil melihat wajah kesal Sehun. "Aku suka warna putih."
"Aku hanya berbaik hati padamu, karena ini baru permulaan," tukas Sehun sedikit cemberut. "Kalau begitu, aku pilih truth juga."
"Tidak, tidak. Kau seharusnya memilih dare," goda Luhan. "Kau sepertinya bukan tipe orang yang suka memilih truth."
"Tidak mau. Aku tetap memilih truth." Jawab Sehun tak mau kalah.
"Baiklah," Luhan tertawa. "Hmmmm, apa hobimu?"
"Menari." jawab Sehun dengan bangga.
Mata Luhan berbinar mendengar itu. "Benarkah? Kalau begitu tunjukkan padaku! Sekarang!"
Sehun menggeleng kuat, tidak mungkin dia akan menari di tengah jalan seperti ini meskipun Luhan menatapnya penuh harap. Dia tidak percaya diri untuk menari di tempat umum seperti ini, apalagi di depan Luhan. Jadi ia dengan cepat mengalihkan pembicaraan kembali ke permainan mereka dan bertanya apa yang akan Luhan pilih kali ini.
"Dare," tantang Luhan.
"Aku tantang kau untuk melakukan aegyo," ujar Sehun tersenyum jahil.
Kedua mata Luhan membulat kaget. "Aku tidak mau melakukannya!"
Sehun terkekeh melihat ekspresi menderita Luhan, tapi ia tetap menyuruh pemuda itu melakukan tantangannya. Sebenarnya dia cukup senang melihat wajah putus asa yang terpancar di wajah Luhan, ekspresi yang menunjukkan konflik batin antara harus melakukannya atau tetap menjaga harga dirinya. Sehun menghela nafas pelan saat melihat begitu banyak keraguan di wajah Luhan. Ia baru saja akan mengatakan kalau Luhan tidak perlu melakukan aegyo jika itu memang sangat melukai harga dirinya, saat tiba-tiba pemuda itu memposisikan kedua tangannya yang terkepal di samping wajahnya, kemudian mengucapkan buing buing dengan suara yang begitu pelan. Dan Sehun langsung tertawa begitu keras, karena Luhan benar-benar terlihat seperti anak kecil saat melakukannya.
"Aiiish! Kau selalu berhasil mengerjaiku!" ujar Luhan seraya melemparkan tatapan kesalnya pada Sehun.
"Ya Tuhan! Aku minta maaf," Sehun menggelengkan kepalanya. "Tadi itu benar-benar lucu, dan kau benar-benar terlihat seperti anak kecil!"
Luhan mengernyit tak suka. "Aku bukan anak kecil!" Ia menendang kaki Sehun pelan, nyaris membauat Sehun kembali tertawa. "Sekarang giliranmu!"
"Dare!' ujar Sehun, karena ia tahu kalau dia kembali memilih truth kali ini, Luhan pasti akan membunuhnya tanpa ragu.
Mata Luhan kembali berbinar. "Aku tantang kau untuk menari di depan semua orang. Sekarang!"
Tch. Sehun tahu pasti hal seperti ini akan terjadi. "Aku tidak mau!"
"Oh, benarkah? Tapi kau akan melakukannya," ujar Luhan girang. "Karena aku sudah melakukan dare-ku dan sekarang kau tidak akan bisa menolak. Anggap saja sebagai sebuah hukuman untukmu."
Sehun menghela nafasnya, dia tahu kalau Luhan pasti akan menyuruhnya melakukan ini begitu ia berkata kalau 'menari' adalah hobinya tadi. Sehun terlalu malu untuk melakukan hal-hal seperti ini, dia tidak punya keberanian yang cukup untuk mempermalukan dirinya sendiri di depan umum. Tapi Luhan lagi-lagi menatapnya dengan tatapan itu. Tatapan lekat dan tegas yang membuat ia akhirnya menelan mentah-mentah semua rasa takutnya dan berdiri, mencoba meyakinkan diri sendiri kalau mungkin ini bukanlah ide yang buruk.
"Ini sangat memalukan," ujar Sehun putus asa.
Kalimat itu sukses membuat Luhan tertawa. "Sudahlah, lakukan saja!"
Bahkan Jongin sekalipun tidak pernah berhasil membuatnya mau menari di depan umum. Tapi pemuda ini, tiba-tiba masuk ke dalam kehidupan datarnya dan membuatnya melakukan hal-hal yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya. Mungkin di mata orang lain, ini adalah hal kecil yang tidak begitu penting, tapi bagi Sehun, perubahan kecil ini sangat berarti.
Dan mungkin seharusnya Sehun merasa takut saat ini, karena seharusnya dia tidak terlalu mempercayai Luhan. Seharusnya dia tidak membiarkan Luhan masuk terlalu jauh ke dalam kehidupannya. Karena hubungan mereka hanyalah sebatas teman yang kebetulan bertemu di dalam bus. Hubungan mereka masih sangat lemah dan mudah sekali hancur. Dia tidak seharusnya ia membuat celah untuk pemuda itu bisa menyakiti dan meninggalkannya dengan begitu mudah suatu hari nanti.
Seharusnya begitu.
Tapi, jika itu adalah Luhan, semua rasa takut itu tidaklah berarti lagi baginya. Jika itu adalah Luhan, Sehun ingin mencoba untuk percaya, bahwa mungkin, kali ini dia akhirnya menemukan seseorang yang akan selalu ada di sampingnya.
Jadi Sehun berdiri di depan Luhan, menari dengan mau-malu dan mengabaikan tatapan aneh yang diberikan oleh para pejalan kaki yang lain. Kepala ia tundukkan dalam-dalam untuk menyembunyikan rona merah di pipinya meski sia-sia karena Luhan masih bisa melihatnya dengan jelas dan Sehun masih bisa mendengar pemuda itu tertawa. Tapi meski begitu, tawa itu tak terdengar seperti tawa mengejek, tidak terdengar buruk sama sekali. Dan Sehun sebenarnya menikmati suara tawa Luhan. Jadi dia terus menari dan menari, tanpa tahu mengapa dia mau mempermalukan dirinya sendiri seperti ini. Yang dia tahu, suara tawa Luhan seperti sebuah candu yang membuatnya terus dan terus menari.
"Sehun, kau benar-benar luar biasa!"
Dan dengan itu, sebuah senyum cerah terukir di bibir Sehun, karena sekarang dia yakin, bahwa mempercayai Luhan bukanlah sebuah kesia-siaan.
Suara air yang mengalir selalu terdengar lembut di telinga Sehun. Berdiri di atas jembatan sambil mendengarkan suara yang menenangkan pikirannya seperti ini adalah satu hal yang ia harap bisa ia lakukan setiap hari. Karena entah bagaimana, rasanya ia seperti terlindungi dari dunia luar, dan dia juga bisa membuat dunianya di sini. Mungkin karena alasan itu lah mengapa sebuah senyum cerah dan sarat akan ketulusan terukir di wajah Sehun saat itu, sambil terus melihat pemandangan di depannya. Keduanya tengah berdiri di atas sebuah jembatan kecil, tanpa ada seorang pun di sana yang mungkin bisa mengganggu momen indah ini.
"Berdiri di atas sini, sambil melihat pemandangan di sana, membuatmu merasa lebih tenang, iya kan?" tanya Sehun seraya menoleh pada Luhan.
Luhan mengangguk pelan. "Kau benar. Ini membuatku merasa tenang."
Sehun bukanlah seorang pemuda yang suka menghabiskan malam dengan berpesta apalagi berkeliaran dengan botol alkohol di tangan. Tapi, dia menikmati pemandangan langit malam yang gelap, yang hanya diterangi beberapa bintang saja. Dia suka kegelapan karena kegelapan membuatnya merasa damai dan menarik semua masalahnya. Kegelapan, seolah membawanya pada sebuah dunia dimana tidak ada masalah apa pun di sana.
"Aku takut," aku Sehun.
"Aku sudah menduganya," ujar Luhan, dengan senyum yang seolah tak pernah hilang.
Sehun mengangguk, membiarkan angin malam menerpa wajahnya. "Aku... Aku benci kenyataan bahwa orang-orang datang dan pergi dari kehidupanku dengan sangat mudah, seolah itu tidak berarti apa-apa untuk mereka. Seolah aku tidak berarti apa-apa untuk mereka."
Sebuah tawa kecil yang terdengar begitu kosong terdengar dari mulutnya. Kedua tangan menggenggam erat palang dingin yang menghalanginya agar tidak terjatuh ke dalam air yang begitu dingin di bawah sana. Kilasan kenangan masa lalu tiba-tiba terbayang di depan matanya seperti sebuah film, memperlihatkan kenangan-kenangan yang mungkin selalu ada di dalam benaknya.
"Aku... Aku ingat teman masa kecilku, Zitao. Dia seorang Chinese, sama sepertimu, yang tinggal di sebelah rumahku. Kami selalu bermain bersama. Kami membangun istana dan menganggap diri kami sebagai pahlawan super. Membuat kenangan-kenangan indah yang masih sangat berarti untukku. Dia berjanji akan selalu menjadi temanku, selamanya. Tapi suatu hari, dia harus pergi, pindah ke tempat lain, dan meskipun kami telah berjanji untuk saling berkirim surat, itu adalah sebuah akhir. Aku tahu kalau itu adalah sebuah akhir, sebuah perpisahan. Surat-surat itu tidak ada artinya saat kau tahu kalau kesempatan untuk bertemu lagi amat sangat kecil." Sehun tertawa, sembari menggelengkan kepalanya. "Dia mengirimkan tiga surat padaku sebelum akhirnya berhenti sama sekali."
"Sehun—"
"Waktu SD, aku juga memiliki seorang teman dekat. Namanya Baekhyun. Kami membangun istana pasir bersama, saling berlomba dengan menggunakan sepeda roda tiga yang kami punya, berbagi bekal makan siang, dan tumbuh bersama. Aku adalah orang yang melindunginya saat anak bernama Chanyeol itu selalu mengejek baju dan model rambut Baekhyun. Aku merelakan waktu istirahat siangku untuk menunggunya di kelas saat ia masih belum menyelesaikan tugasnya. Aku selalu menjadi orang pertama yang memberinya selamat saat ia ulang tahun. Aku memberikan mainan faforitku padanya karena dia kehilangan mainannya. Tapi suatu hari, dia jadi begitu dekat dengan Chanyeol. Mereka tiba-tiba saja menjadi teman baik, dan meskipun dia masih berbicara denganku, semuanya tidak sama lagi. Chanyeol lebih lucu, lebih populer, dan aku hanya seorang Sehun. Seorang Sehun yang begitu biasa, yang sangat pemalu dan sangat sulit untuk didekati."
Sehun merasakan bulir-bulir air mata yang menggenang di matanya. Ia merasakan rasa sakit yang menyeruak dari dalam jiwanya dan menyebar ke seluruh sel-sel tubuhnya dengan begitu cepat. Ia merasakan gumpalan yang memenuhi tenggorokannya, membuat keraguan untuk melanjutkan apa yang ingin dikeluarkannya semakin besar. Tapi Sehun tetap melakukannya, dia masih tetap ingin mengungkapkan semuanya. Selama ini, tidak ada satu orang pun yang membuatnya ingin mengatakan ini semua, karena meski sebenarnya ia ingin, tidak ada seorang pung yang akan mau mendengarkannya. Tidak ada seorang pun yang tetap tinggal bersamanya cukup lama untuk mendengarkannya.
"Jongin pernah mengirimkan sebuah pesan padaku. Dia bilang, dia mulai menyukai seseorang. Aku merasa takut, sangat takut kalau dia juga akan meninggalkanku untuk orang itu. Ada begitu banyak orang yang bisa masuk dalam kehidupan seseorang, dan orang ini bisa saja menggantikan tempatku begitu saja, mendesakku keluar dari kehidupan Jongin seolah aku tidak pernah ada di sana. Karena itu, aku menghapusnya, berpura-pura seolah pesan itu tidak pernah ada, dan bersikap seolah Jongin tidak pernah mengambil satu langkah menuju akhir dari hubungan kami. Tapi ternyata aku salah, sangat salah."
Sehun menggigit bibir bawahnya sekuat mungkin saat mengingat lagi tentang hal itu. "Dari sekian banyak orang yang ada, seseorang yang disukai oleh Jongin ternyata adalah aku. Seseorang yang membuatku begitu ketakutan ternyata adalah diriku sendiri. Dan aku adalah orang yang telah menyebabkan hubungan kami menjadi renggang, memberikan bekas luka yang seharusnya tidak pernah ada. Akulah yang bersikap seperti anak kecil yang tidak mau menghadapi kenyataan, dan aku mendapatkan hukumanku sekarang. Dan yang paling menggelikan adalah, anak kecil ini masih tidak mau menghadapi kenyataan." Setetes air mata mengalir di sudut matanya saat ia berkata, "Aku masih tidak mau menghadapi kenyataan."
Sehun mengira kalau Luhan akan menghakiminya. Kalau Luhan akan melihatnya dengan tatapan tak setuju, karena dia adalah seseorang yang begitu bodoh dan tolol, dan dia pantas untuk dicela. Tapi ternyata tidak. Luhan tidak melakukan apa yang ia pikirkan. Luhan justru tersenyum padanya, senyuman yang membuat Sehun hampir percaya kalau Luhan benar-benar mengerti, kalau pemuda itu menghormati perasaannya. Mata Luhan sama sekali tidak menunjukkan sesuatu yang negatif, dan Sehun hampir saja bertanya apakah dia mendengar apa yang baru saja ia katakan atau tidak. Karena tidak seorang pun pernah melihatnya dengan tatapan seperti itu. Tidak pernah ada yang mau tetap bersamanya sampai akhir, saat hatinya tengah terluka dan berdarah.
Dan sungguh, tidak pernah ada seorang pun yang pernah merangkulnya, memberikan pelukan hangat yang selalu ia impikan. Tidak pernah ada yang mau tinggal di sisinya dalam diam seperti yang selalu ia inginkan, seseorang yang mau mengerti kalau kata-kata tidak berarti apa-apa dan keheningan adalah segalanya. Tidak pernah ada yang mau tetap bersamanya.
Air mata berlomba-lomba membasahi pipi tirus Sehun saat ia membalas pelukan Luhan dengan begitu erat, membenamkan wajahnya pada pundak mungil pemuda itu.
Tidak pernah ada yang mau tetap tinggal bersamanya.
"Apakah aku benar-benar kekanakan?" tanya Sehun pelan, suaranya terdengar serak karena menangis.
Luhan menggeleng pelan. "Sama sekali tidak, Sehun. Kau sama sekali tidak kekanakan."
Semua orang selalu melihat Sehun sebagai seseorang yang masih belum dewasa dan kekanakan. Karena dia selalu mempercayai seseorang dengan sangat mudah. Selalu berusaha keras dan dengan begitu menyedihkan hanya agar orang-orang tidak meninggalkannya sendirian. Semua orang datang dan pergi, itu adalah hal yang wajar, tapi yang Sehun inginkan adalah seseorang yang tidak akan pergi. Seseorang yang tidak akan meninggalkannya saat ia menjadi terlalu manja, terlalu bergantung. Seseorang yang tidak akan merasa tebebani karena itu semua. Sehun telah mengorbankan dirinya sendiri dengan menerima semua kekurangan mereka, dia memeluk mereka saat mereka sedang patah hati, tapi tidak pernah ada seorang pun yang mau tinggal bersamanya untuk menyembuhkan luka darinya yang selalu menjadi sandaran di hari-hari terburuk mereka.
Orang-orang menyebutnya kekanakan, tapi bagi Sehun, semua itu hanyalah sebuah keinginan besar akan sesuatu yang bisa membuatnya merasa diterima, membuatnya merasa layak untuk mendapatkan cinta yang selama ini selalu ia impikan. Dia hanya ingin seseorang membuktikan padanya kalau apa yang selama ini ia pikirkan adalah sala. Kalau cinta itu bukanlah sesuatu yang buruk, dan dia juga layak mendapatkannya.
"Kau tahu, Sehun?" Luhan mengeluarkan suaranya setelah terdiam cukup lama. "Apa kau akan mempercayaiku jika aku berkata..."
Perlahan, Luhan melepaskan pelukannya. Membuat hati Sehun hampir hancur lagi kalau bukan karena ia melihat ada begitu banyak kekaguman yang terpancar di mata Luhan. Sehun terpana. Mata itu sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda kalau Luhan akan meninggalkannya sendiri. Tentu saja dinding pertahanan itu masih ada. Dia masih merasakan kecemasan karena telah berkali-kali diperdaya dan ditinggalkan. Tapi Luhan sangat hebat dalam menghancurkan dinding itu. Amat sangat hebat.
"Apa kau akan percaya padaku jika aku berkata, bahwa dari semua orang yang aku kenal, kau adalah seseorang yang memiliki cinta yang paling indah?"
Dan dengan kalimat itu, dinding pertahanan yang telah ia bangun selama bertahun-tahun hancur seketika dan berubah menjadi butiran debu yang tak berarti. Seolah dinding itu memang tidak pernah ada sama sekali.
To be continued
A/N:
Annyeoooong^^
Sedikit cerita dari masa lalu Sehun dan mengapa dia bisa menjadi seorang yang sangat penakut dan insecure kayak gitu. Dan tentu saja, hubungan HunHan yang selangkah lebih maju.
Chapter depan, ada yang *uhuk*kissing*uhuk*! *winkwink ;)
Yang punya pertanyaan, atau ada yang kurang jelas dari translate yang gak jelas ini, bisa tanya di kotak review *modus* ato langsung PM Liyya aja. Selama pertanyaan gak beresiko ngasih spoiler apapun, pasti Liyya jawab kok.
Liyya ucapin banyak-banyak terima kasih buat yang mau, baca, follow dan atau Fav, n review. Tinywings pasti seneng kalau responnya bagus. Buat yang punya akun, Liyya udah balas di PM masing-masing ya ^_^
See you Next Chapters ya!^^
With Love,
Liyya
