Disclaimer: Kuroko no Basuke was created by Tadatoshi Fujimaki

Pair: Kuroko x OC

Warning: OC, OOC, Typo, tak sesuai EYD dsb

Summary: Akhirnya pada bulan ke-9, kandunganku semakin membesar. Sudah saatnya buah cintaku dengan Tetsuya-kun akan lahir ke dunia. Ah, rasanya bahagia sekali! Tapi, bagaimana kisahnya? Baca saja! ;)

Part 11

Hari demi hari, minggu demi minggu...

Tak terasa, kandunganku ini sudah memasuki bulan ke-9. Ah, akhirnya perjuanganku menjaga putraku ini tak sia-sia. Kalian sudah tahu, kan kalau sebentar lagi putraku akan lahir! Oh, senangnya! Tak hanya aku yang senang, Tetsuya-kun, suamiku juga demikian. Dia tak dapat lagi menyembunyikan kebahagiaannya sejak mendengar berita itu. Yah, pasangan muda mana yang tak senang menyambut kelahiran anak mereka?

Sebelumnya, aku dan Tetsuya-kun mengunjungi orangtua kami sebelum malam Tahun Baru. Tapi yang pertama kami kunjungi adalah orangtua Tetsuya-kun. Ayah, Ibu dan Nenek mertuaku kelihatannya senang begitu tahu kalau buah cinta kami akan segera lahir. Itu pun kami berdua yang menceritakannya pada mereka.

"Sepertinya... Sebentar lagi Tou-san akan jadi kakek," kata Ayah mertua dengan wajah datarnya.

"Wah, ini luar biasa! Kaa-san akan punya cucu dan menjadi neneknya. Pasti dia mirip sekali denganmu, Tetsuya-kun..." sahut Ibu mertua pada Tetsuya-kun sambil tersenyum bangga.

"Eh, umurku yang sudah lanjut begini akan memiliki cicit yang mirip dengan cucuku. Tetsuya, jadilah ayah yang baik dan kamu, Rizuki, jadilah ibu yang penyayang," ucap Nenek mertua pada kami berdua sekaligus memberinya nasihat.

Begitulah kata-kata yang mereka lontarkan padaku dan Tetsuya-kun.

Setelah itu, kami melanjutkan untuk mengunjungi orangtuaku. Reaksinya sama seperti orangtua Tetsuya-kun. Bahagia mendengar berita kalau kami berdua akan segera memiliki anak. Namun, mereka malah bahagia luar biasa.

"Ah, putri kesayangan Papa akan punya anak! Senangnya..." ujar Papa padaku. "Sebentar lagi Papa akan jadi kakek. Hehe..." lanjutnya sambil terkekeh.

"Kyaaa! Mama tak menyangka kalau anakku ini akan jadi ibu. Dan Mama akan jadi nenek!" seru Mama sambil memelukku erat. "Pasti putramu itu mirip dengan suamimu, Kiki-chan. Ayahnya tampan, masa anaknya nggak tampan? Lucu, dong. Hihi..."

Lah, candaan ini membuat Tetsuya-kun sampai sweatdrop mendengarnya. Namun dia tetap memasang wajah datarnya. Sedangkan aku hanya bisa geleng-geleng kepala.

Tapi aku bersyukur kalau kedua pihak orangtua kami senang mendengar kabar menggembirakan itu. Tak hanya orangtua kami yang senang, teman-teman beserta pasangan mereka juga begitu. Itu karena kami berdua menceritakannya pada saat pesta kembang api Tahun Baru. Reaksi mereka juga sama. Mereka memberiku dan Tetsuya-kun selamat dan berharap kami akan menjadi orangtua yang baik bagi anak kami.

"Omedeto! Semoga anak kalian lahir dengan selamat dan kalian akan menjadi orangtua yang baik." Begitulah kata mereka pada kami.

Aku mengingat semua itu sambil menatap butiran salju berjatuhan dari atas langit penuh awan berwarna abu-abu. Pohon dan tanaman lain tak kuasa mengeluarkan semburat hijau pada batang mereka sebab udara yang dingin. Hampir seluruh halaman rumahku ditutupi selimut salju putih nan tebal. Kalau dilihat dari pemandangan seperti ini, tandanya hari ini memasuki musim dingin.

Bola mataku terus berpaku pada pemandangan musim dingin itu. Tanganku menyentuh dan mengelus perutku lembut dimana putraku masih di dalamnya. Tanganku yang sebelahnya lagi mengetatkan sweater yang terbalut di tubuhku karena kedinginan. Kurebahkan tubuhku ke kursi roda dimana aku dari tadi duduk di situ. Lho? Kenapa aku duduk di kursi roda? Itu karena aku tak sanggup berjalan dengan kandunganku yang semakin membesar. Oleh karena itulah, Dokter Miyamoto menyarankanku untuk duduk di atas kursi roda.

"Saya tak ingin ada masalah dengan kandunganmu kalau kamu tak hati-hati berjalan." Begitu katanya padaku.

"Hufft..." Aku menghela napas panjang. Karena kandunganku ini, aku tidak bisa melanjutkan pekerjaan menggambar manga-ku. Aku tak bisa apa-apa lagi selain duduk di kursi roda dan menunggu kelahiran putraku. Tak lama lagi, putraku akan lahir ke dunia. Tapi kapan? Menurut Dokter Miyamoto, sebentar lagi bayiku lahir. Dan itu... Pasti akan terjadi. Hanya saja aku tak tahu kapan. Apakah sedetik lagi? Semenit? Sejam? Atau sehari? Yah, aku hanya bisa menunggu waktunya.

Aku juga tidak bisa melakukan pekerjaan rumah seperti mencuci, memasak, menyapu dan lain sebagainya. Itu semua Tetsuya-kun yang melakukannya. Kasihan sekali suamiku. Dia rela menggantikanku untuk mengerjakan semua itu demi aku dan anakku. Waktu aku membujuknya agar aku yang melakukannya, dia malah menolak dengan halus.

"Sumimasen, Kiki-chan. Aku nggak mau kamu kelelahan kalau kamu yang melakukan ini. Aku takut kalau itu akan mempengaruhi anak kita di kandunganmu. Lebih baik aku saja. Ini semua kulakukan demi kamu dan anak kita..." katanya sambil tersenyum kecil.

"Hmm..." Aku bergumam sendiri. "Aku tak tahu apa yang harus kulakukan. Semua orang bilang kalau aku hanya tinggal menunggu kamu lahir, Sayang. Kuharap Mama bisa melihat wajahmu yang lucu..." bisikku lembut sambil mengelus kandunganku. "Setelah itu, Mama akan mengurusmu, merawatmu dan membesarkanmu dengan penuh kasih. Bersabarlah, Nak. Kamu pasti bisa menemui Mama dan Papamu di sini."

Tiba-tiba aku merasakan ada tendangan di perutku. Ah, ini tandanya dia juga tak sabar menemuiku! Aku tersenyum. Sepertinya putraku juga merasakan apa yang kurasakan saat ini.

"Hehe..." Aku tertawa geli. "Sungguh beruntung Mama memiliki suami seperti Papa. Dia perhatian sekali pada Mama. Sampai-sampai dia rela menggantikan Mama mengerjakan pekerjaan yang seharusnya Mama lakukan. Waktu Mama memintanya berhenti, Papa menolak. Dia melakukan itu demi cintanya pada Mama dan kamu, Sayang. Melihat sikap Papamu, Mama jadi yakin kalau Papa akan jadi ayah yang baik untukmu..."

Lalu, ada sepasang lengan merangkulku hangat. Aku terenyak dan menoleh. Siapa yang merangkulku? Jangan-jangan...

"Te, Tetsuya-kun...?" gumamku pelan ketika aku melihat ada suamiku yang sedang merangkulku sambil menatapku datar, namun ekspresinya itu mudah kubaca. Apakah dia...

"Dari tadi kamu terus melamunkan tentang kelahiran anak kita, ya?" tebaknya. "Aku sudah di sini berdiri tepat di belakangmu. Hanya saja aku tak mau mengagetkanmu. Makanya itulah, aku cuma bisa mendengar kamu berbisik ke putra kita."

"Eh? Kamu mendengarnya, Tetsuya-kun?" tanyaku tak yakin. Tetsuya-kun mengangguk pelan.

"Ng, a... Ano..."

"Kamu benar-benar ibu yang baik, Kiki-chan."

Mendengar itu, wajahku merona. "Ho, hontou?"

"Hontou desu. Dari kata-katamu, kamu terlihat tulus mengatakannya. Dan juga... Aku sudah tak sabar menunggu untuk bisa bertemu putra kita," jawabnya. "Kiki-chan, aku bersyukur sekali kalau kamu akhirnya bisa menjaga bayi di kandunganmu sampai saat ini. Kamu telah menepati janjimu..."

"Tetsuya-kun... Arigato," ucapku terharu sambil menghapus air mataku. "Aku juga bersyukur karena kamu telah menjagaku. Kamu juga sudah menepati janjimu."

Kemudian, Tetsuya-kun menatapku lekat-lekat seraya mendekatkan wajahnya ke arahku. Tangannya menggenggam tanganku dan memberi pijatan kecil di sela-sela jariku. Oh, nyaman sekali. Perasaan ini... Entah muncul dari mana kalau suamiku memperlakukanku manis seperti ini. Tapi aku menikmatinya.

"Kiki-chan, aku mencintaimu..." bisik Tetsuya-kun.

Aku malah tersenyum malu dengan semburat merah di pipiku. Tapi aku tak dapat membalasnya selain, "Aku juga mencintaimu, Tetsuya-kun..."

Tak lama, ciuman lembut mendarat di bibirku. Aku membalasnya sambil membelai wajah Tetsuya-kun. Sedangkan Tetsuya-kun merangkulku semakin erat. Sudah lama kami terbuai dalam kemesraan ini sampai aku merasakan ada tendangan di perutku.

Aku segera melepaskan ciumanku dari Tetsuya-kun. "Sumimasen, Tetsu-kun... Ke, kelihatannya dia menendang perutku lagi," ucapku.

Tetsuya-kun sontak terbelalak. "Sou desuka? Yah, padahal aku ingin merasakannya juga..." katanya menyesal.

"Tak apa. Itu tandanya dia senang mendengar kita bermesraan tadi. Makanya, dia menggoda kita dengan menendang perutku. Hihi..." ujarku sambil terkikik dengan semburat merah yang menghiasi pipiku.

Mendadak wajah suamiku memanas. "Ah, ternyata anakku ini jahil..." sahutnya datar.

Tiba-tiba aku menurunkan kepala Tetsuya-kun ke kandunganku dan menyuruhnya untuk duduk di lantai.

"Ki, Kiki-chan? Apa yang kamu lakukan?" tanyanya.

"Katanya ingin merasakan tendangan putra kita," jawabku sambil tersenyum. "Ayolah, buruan. Anak kita di sini ingin menemui ayahnya."

Mendengar jawabanku, Tetsuya-kun membalas senyumanku. Kelihatannya dia mengerti.

"Hai, anakku..." bisik Tetsuya-kun lembut ke perutku. "Kamu baik-baik saja di situ? Kamu tahu, kalau Papa juga tak sabar untuk menemuimu. Sama seperti Mamamu. Kudoakan semoga kamu bisa lahir dengan selamat ke dunia ini dan bertemu dengan kami, anakku."

Tanpa sadar, aku menitikkan air mataku. Tetsuya-kun memang calon ayah yang baik persis dengan dugaanku. Dilihat dari wajahnya, dia bahagia bahwa dia akan punya anak setelah menunggu satu tahun lamanya. Semoga saja di masa anakku lahir ke dunia, Tetsuya-kun akan mendidiknya dan menjaganya dengan tulus seperti saat dia mendidik murid-muridnya ketika dia bekerja sebagai guru TK.

"Ah, Kiki-chan!" Tiba-tiba lamunanku mendadak buyar seketika begitu suamiku menyebut namaku. "Dia menendang perutmu lagi..."

"Oh, dia kelihatannya senang melihatmu sekaligus ingin bertemu denganmu, Tetsu-kun."

-to be continued-

Hai, minna-san~! Sudah lama aku nggak melanjutkan FF pertamaku ini. Yah, habis ideku mentok banget untuk melanjutkan ceritanya. Sampai FF ini terbengkalai... /ups

Karena itulah, aku tak hanya melanjutkannya saja. Tapi juga memperbaiki sekaligus mengedit ulang cerita ini. Jadi, buat kalian yang masih membacanya sampai sekarang, kalian pasti terkejut melihat ceritanya sudah lain dari yang dulu. Maaf, maksudku bukan jalan ceritanya yang diubah, melainkan tulisannya sudah rapi dan enak untuk dibaca. I hope you like it...

Apakah kalian masih ingin aku melanjutkan cerita ini? Mohon maaf, ya kalau masih ada kesalahan dan ceritanya semakin tak nyambung. Hiks... *pundung*

OK, kurasa sudah saatnya kita berpisah sampai di sini. See you! :D /