Tangannya terulur.
Permata hazel menyala itu menampakkan tak adanya pengampunan darinya.
Bibir merah mudanya mengulas seringai kejam.
Ia tak menyadari bahwa jiwa-jiwa terkutuk di depannya menyimpan rencana besar untuknya.
Oh, bagaimana mungkin dia bisa menyadarinya?
Perintah wadah Roh Tanah saja sudah dilanggarnya. Apa lagi yang bisa menahan keinginan wadah Roh Udara untuk membunuh?
Tentu saja, selain Rajanya, siapa lagi yang bisa? Dia bahkan tak ingat dia punya 'keluarga' yang harus diutamakan. Saat itu, dia benar-benar terjebak dalam kebutaan.
Hingga semburan api yang menyala menghalangi pemandangannya dan membuat Raven hilang meninggalkan helaian-helaian bulu hitam malam.
Hermione Granger terjatuh. Hal terakhir yang dilihatnya sebelum terkubur dalam rimbunan daun pepohonan hanyalah lidah api yang menyambar-nyambar liar.
Artinya, Raja telah kembali.
.
.
Four Souls
Rozen91
Harry Potter © JK Rowling
Line 11: NagaTerakhirII
.
.
Sqied berlari secepat mungkin, sementara Pansy mengikut di belakangnya. Ia gemetar tatkala merasakan keberadaan wadah Roh Udara di sekitar Ely, kota kecil yang masih memiliki arsitektur jalan yang kuno, tempat Gerbang Udara berdiri dan menjaga perbatasan yang melintang dari Timur Laut hingga ke Tenggara. Dan pemuda itu tahu bahwa Hermione –selama Raja belum kembali- tak boleh mendekati gerbangnya sendiri.
"Sial!" teriaknya frustasi seraya mempercepat kakinya yang berlari bagi kilat. Pansy mengerutkan kedua alisnya dengan perasaan bersalah. Seandainya ia lebih hati-hati, mereka pasti tak akan memnemui masalah merepotkan ini. Merlin, ia benar-benar ketakutan.
Seandainya…
Seandainya saja…
Wadah Roh Udara mengikuti nafsunya,
maka mereka benar-benar dalam bahaya!
xxx
Hermione sadar ia telah melanggar perintah wadah Roh Tanah. Namun, Penguasa berada di bawah Raja dan wadah Roh Udara hanya mendengarkan Raja jika dia telah memberikan perintah. Tak apalah, lagipula ini hanya sebentar dan tak akan menimbulkan bencana, benar kan?
Saat itu, di lorong lantai 3, ia merasakan kehadiran 'mereka' dari arah timur dan ia lantas memangil Raven setelah merubah wujudnya saat itu juga. Beruntung, lorong itu sepi dan Parkinson tampaknya tak menyadari kepergiannya. Ia menyeringai senang saat tahu bahwa tak ada yang menyadari. Bahkan Penguasa sekalipun.
Dan dengan kekuatan Raven, dalam waktu kurang dari 20 menit ia telah sampai di Cambridge. Di sana, 'mereka' menunggu. Melarikan diri saat melihat burung hitam raksasa itu. Hermione semakin menyeringai lebar.
Ia tidak tahu.
Bahkan tak pernah terlintas di pikirannya.
Bahwa ia telah masuk dalam sebuah skenario yang mengerikan.
Mereka ketakutan, hanya itulah yang mampu dilihat oleh permata hazel itu.
Mereka ketakutan, hanya itulah pernyataan yang terus diulang-ulang di dalam pikirannya.
Kelompok itu melarikan diri hingga tersudutkan tepat di depan Gerbang Udara. Hermione mengulas senyum yang terkesan tak sabar. Aah, betapa ia ingin segera membunuh mereka. Ia tak sabar ingin menunjukkan kemampuannya pada dua orang yang menyombongkan diri terhadapnya. Mereka akan sadar seberapa kuat kemampuan prajurit spesial.
Wadah Roh Udara, julukannya sebagai favorit Raja bukanlah sekedar isapan jempol semata. Hermione akan membuktikannya dan dua orang itu tahu bahwa dia tak bisa dipermainkan. Dia adalah wadah Roh Udara, wadah spesial karena favorit Raja.
"K-kau tak bisa membunuh kami!" teriak salah satu dari mereka. Wajahnya pucat dan ketakutan. Hermione menaikkan alisnya.
"Kenapa tidak?" tanyanya dingin dengan senyum meremehkan.
"Aah, kau pasti wadah pemula yang lemah itu." Hermione memicing tidak suka. Lelaki fana berpakaian muggle itu mengulas senyum membodohi. "Lihatlah, dia hanya bisa menghabisi kita saja!" Wadah Roh Udara meremas ganggang pedang peraknya.
"Apa yang ingin kau katakan, Soul Thief?" geramnya penuh kemarahan. Si pencuri roh menyeringai.
"Di luar gerbang ini, kami semua menunggumu." Hermione memandang sekilas gerbangnya. Mereka menantangnya? Sungguh berani.
"'Semua', katamu?" Hermione terkekeh. "Aku tak akan sungkan kalau begitu." Musuh-musuhnya terdiam menahan nafas. Sedikit lagi. Ya, tinggal sedikit lagi. Jika gadis bodoh itu telah membuka gerbangnya, maka keberadaan tunggangan yang dicari oleh 'dia' bisa mereka dapatkan. Si gadis bodoh mengulurkan tangannya ke arah gerbang. Raven masih mengepak-ngepakkan sayapnya. Penunggangnya tersenyum dengan tamak. Jiwa-jiwa tak tertolong mengepalkan tangan, berusaha bersabar agar tak segera memakan jiwa si penunggang. Diam-diam mereka menyeringai keji.
"KKOAAAAKKKK!"
Hermione terlonjak kaget. Lengkingan Raven memekakkan telinganya. Ia membelalakkan matanya. Jantungnya berdetak keras. Tangannya gemetar tatkala melihat api menyambar-nyambar di depannya. Ia terpaku hingga helaian-helaian bulu hitam kelam menghujaninya saat terjatuh. Raven tiba-tiba saja menghilang dan gadis itu tak memerhatikannya. Jantungnya berdetak keras.
"R-Raja…" batinnya tak percaya. Rimbunan daun-daun pepohonan menelannya hingga birunya langit tak terlihat lagi oleh kedua matanya. Ia bahkan tak bisa mengerahkan kekuatannya untuk mempertahankan tubuhnya di udara. Ia sudah lupa. Lupa saat ketakutan mulai menggerogoti hatinya.
Mereka ketakutan. Beberapa sudah lari tunggang langgang, namun tetap saja dibakar habis oleh api yang menyala dengan bentuk bagai cambuk panjang. Gadis yang memakai jubah wadah Roh Api itu mengangkat wajahnya. Dan mereka yang tersudutkan disapu seperti debu oleh cambuk apinya. Mereka memekik kesakitan memohon ampunan. Namun, sang Raja tak memberi ampun dan dalam sekejap, mereka telah berubah menjadi serpihan-serpihan kaca yang berkilau di bawah sinar matahari. Perlahan sang api menghilang. Kucing bertubuh raksasa di samping Raja menggeram pelan, menunjukkan kepuasannya.
"…sepertinya aku melewatkan tontonan bagus," ujar seseorang di belakang si gadis. Ia menahan nafas, bersiap menerima komentar pedas saat aura si Raja mulai mengancamnya.
"Kau lupa apa yang telah kuperintahkan padamu?" tanya sang Raja dengan retoris tanpa menoleh. Pemuda itu menghela nafas berat. Tangannya gemetar.
"Raja," ucap seorang gadis yang baru saja datang. Ia kelelahan karena harus menggunakan 'mana'-nya hanya untuk berdiri di atas udara. Kunciran panjang pemuda di depannya bergoyang ditiup angin. Pemuda itu memejamkan kedua matanya erat, sementara keningnya berkerut. Dan dari air mukanya, ia jelas menunjukkan ketegangan.
"Pans, turunlah. Cari Hermione," perintah pemuda itu tanpa menoleh. Pansy mengangguk ragu, matanya terus terpatri pada punggung Raja, sebelum membiarkan tubuhnya tertarik gravitasi bumi. Merlin, ia benar-benar lelah!
Angin kembali bertiup. Mengitari 3 makhluk yang masih berdiri di depan gerbang Udara. Sqied menunduk sebelum berlutut di belakang gadis itu. Angin kembali berhembus.
"Apa kau meremehkanku, wadah Roh Tanah?"
"Tidak."
"Kau dendam?"
"Tidak."
"Kau marah?"
"Tidak."
"Lalu, kenapa kau tak laksanakan perintah?"
"…Maafkan kelengahan saya." Ia tak bisa menjawab pertanyaan itu. Jelas sekali, bahwa Raja telah mengetahui jawaban dari pertanyaan itu. Ia hanya dapat memohon keibaan gadis itu lagi. Bahunya menegang tatkala aura Raja semakin melingkupinya hingga membuat nafasnya sesak.
"Angkat wajahmu, Tuan Penguasa. Biar kuingatkan sekali lagi akibat dari kebodohanmu," perintahnya dingin. Sqied mengangkat wajahnya. Membalas sorot mata dingin yang seolah menyiratkan bahwa gadis itu berhati es. Da-
PLAK!
Tamparan keras mendarat di pipi kirinya, dan dalam sekejap ia ingat rasa sakit saat pertama kali menerimanya. Panas. Rahangnya serasa terbakar. Tipikal Raja.
…Dan darah. Ia ingat darah yang mengalir dari sela bibirnya saat Ein pertama kali menamparnya.
"Berpikirlah sekali lagi sebelum memutuskan apa yang akan kau lakukan." Ia mendengarnya lagi. Pernyataan yang sama seperti yang dilontarkan Raja setelah menamparnya. Sqied menunduk, membiarkan rambut depannya menutupi sebagian wajahnya.
"Aku mengerti."
Setelah itu, aura Raja tak lagi menekannya. Ia menghela nafas sebelum berdiri, tatkala gadis itu telah turun ke bawah. Entah bagaimana wadah Roh Udara akan mengatasi kemarahan Rajanya.
Sqied memandang gerbang tinggi di depannya. Ia mengulas senyum tipis saat mengingat malam itu. Di sini, tepat di depan Gerbang Udara. Di saat dirinya yang masih berumur 12 tahun melihat dengan jelas bagaimana Ein sendiri yang menghunuskan pedangnya di depan wadah Roh Udara yang tengah berlutut pasrah di depannya. Ia hanya diam. Ya, dia hanya bisa diam. Melihat Ein yang saat itu masih berumur 10 tahun mengangkat pedangnya dan menghujamkannya tanpa ekspresi. Dan di malam yang menyedihkan itu, badai terjadi. Angin bertiup kencang seolah menangisi kejadian itu.
Ein tidak beranjak dari tempatnya.
Pedangnya masih tergenggam erat.
Sang Raja masih berdiri tegar, walau pun telah menghilangkan bawahannya dengan tangannya sendiri.
"Dia adalah wadah Roh Udara yang tangguh, setia, dan pemberani." Hanya itulah yang mampu Sqied ucapkan kepada suami wadah Roh Udara itu. Matanya yang berwarna biru menatapnya tak percaya. Berkali-kali ia menggigit jari tangannya dengan gelisah. Sqied menebak bahwa pria itu sedang menahan air mata. Suara datar dan dingin membuatnya menahan nafas.
"Tak perlu bersedih. Seharusnya, kau sudah tahu konsekuensi dari menikahi seorang wadah Roh…" Gadis itu berdiri di depan jendela yang menyajikan malam berbadai yang dingin. Sqied menunduk iba. Si suami hanya bisa terduduk diam dengan tatapan hampa, tak mampu membalas kata-kata gadis itu.
"…benar, bukan, Xenophilius?"
Sqied kembali memejamkan kedua matanya. Ia sudah lama tak melihat Xenophilius lagi semenjak hari itu. Semenjak hari yang menyedihkan itu terjadi.
Ia menggelengkan kepalanya dengan air muka sedih, namun senyum tetap terulas. Dia melangkah dan menyentuh gerbang di depannya.
Aah, rasanya seperti menyentuh angin.
Ia tersenyum lagi sebelum berpaling pergi ke bawah. Ia tidak perlu tergesa-gesa untuk turun seperti Pansy yang belum bisa mengendalikan mana-nya. Ia adalah seorang anak laki-laki yang telah dilatih untuk perkejaan yang 'keras' dan 'kotor' sejak berumur 5 tahun. Semua hal harus terlihat mudah baginya. Tak terkecuali, kehilangan rekan ataupun kawan berharga.
xxx
Pansy masih diam menatap Hermione yang terduduk kaku di tanah. Dari wajahnya yang pucat dapat dijelaskan bahwa ia sangat tertekan dengan kejadian itu.
Ia telah melanggar perintah Tuan Penguasa yang jelas merupakan wakil Sang Raja.
Gadis itu mengepalkan tangannya saat merasakan aura Raja mendekat. Pansy lantas bergerak menjauh darinya. Well, jelas sekali kalau dia pun takut dengan kemarahan wadah Roh Api. Yeah, dia pun sangat ingin memaki gadis Gryffindor itu.
Tap.
Hermione mendongak dan menatap punggung gadis itu. Wajah sok tahu yang ia miliki tak lagi ia tunjukkan. Ia berdebar-debar tentang apa yang akan dikatakan gadis yang masih berwujud roh itu. Tak jauh dari tempat mereka, Pansy dan Sqied yang masih berada dalam wujud roh menonton mereka berdua.
"Roh udara tenggelam dalam kehampaan. Ia menyadari bahwa tangannya tak lagi memegang apa pun. Ia terjatuh dalam jurang kekalahan. Tak ada yang menolongnya. Tak terkecuali wadahnya sendiri."
Mata hitam Ein menatap dingin gadis Gryffindor itu dari balik bahunya dan melangkah pergi. Jantung Hermione serasa merosot jatuh dari tempatnya. Wajahnya memucat dan ia memilih untuk tak memperlihatkannya pada rekan-rekan lain yang tengah menuju ke arahnya.
"Kau tahu, kau benar-benar menyebalkan, Granger." Pansy melipat tangannya di depan dada sambil tersenyum sinis saat ia berdiri tepat di depan gadis yang tampak seperti orang yang sedang putus asa. Hermione tak menjawab, apalagi menatapnya. Gadis Slytherin itu memutar bola matanya. "Hebat sekali, kau berencana bertarung sendirian," Pansy menatap marah puncak kepala gadis itu. Ia hendak pergi saat wajahnya mengulas senyum sinis lagi. "Seharusnya Dumbledore memberi poin tambahan untuk Gryffindor, karena salah satu siswinya berhasil membuat Ein marah. kau tahu, aku tak pernah melihat tatapan seperti itu darinya sebelumnya," ucapnya sarkastis sambil melangkah pergi. Hermione menggigit bibir bawahnya agar ia tak membela diri dengan alasan-alasan konyol yang ia miliki, seperti 'aku melakukannya untuk melindungi kalian, seharusnya kalian berterima kasih padaku!'. Mana bisa ia mengutarakannya, jika jelas-jelas kelakuannya di lapangan menyatakan apa maksud dari perbuatannya, bertarung demi nafsunya sendiri.
"Cih!" Hermione mendecih kesal. ia menggerakan bola matanya saat menyadari bahwa ia sedang tak sendirian di tempat itu. Sqied yang telah merubah wujudnya menjadi manusia, berjongkok di depannya.
"Tumpahkan saja amarahmu padaku dan pergilah segera," ucap gadis tahun keempat itu sarkastis. Hening. Sqied menghela nafas.
"Aku memang marah padamu, tapi aku tak bisa membebankannya padamu." perlahan, Hermione mengangkat wajahnya dan mendapati Sqied yang melempar pemandangan pohon-pohon pinus yang tak jauh di samping mereka. Tatapannya cukup menjelaskan kemarahannya, tak ramah. "Lagi pula, apa boleh buat, 'kan? Itu merupakan hal mendasar di dalam dirimu dan roh itu," mata gadis itu melebar, "naluri yang sudah menjadi sifatmu," lanjutnya. Hermione menunduk. lama terdiam, hingga gadis itu membuka mulut. Namu-
"Kau pasti mengerti apa yang ingin dikatakan, Ein." Sqied menatapanya dingin. Hermione menggeleng lemah. Pemuda di depannya hanya menghela nafas. Ia tahu, sepintar apa pun seorang Hermione Granger tapi jika sudah dimarahi oleh Raja, otaknya pasti menjadi beku.
"Roh Udara berperan sebagai prajurit spesial, karena nafsu membunuh yang kuat. Nafsu itu akan ikut menulari jiwa yang mereka pilih. Dan wadah Roh Udara, jika tak memiliki pengendalian diri yang kuat, akan mudah terjebak. Sekali saja lengah pengawasan kami terhadapmu, pilihan kematianmu ada dua, yaitu mati karena dimakan atau…"-Ia meliriknya sekilas-"mati karena bunuh diri."
"Bagaimana bisa kami akan membunuh diri kami sendiri? Itu tidak masuk akal!"
"Naluri itu. Karena naluri itu, roh udara yang baru saja memilih wadah mudah terkena jebakan. Akhirnya, mereka lenyap dan," ia menggantungkan kalimatnya, "wadahnya membunuh dirinya sendiri karena putus asa."
"Tidak mungkin," tukas wadah Roh Udara.
"Ini kenyataan," Hermione menatap tatapan dingin Sqied, "yang menyebabkan wadah Roh Udara dipilih dalam jangka waktu yang sangat lama. Kau sendiri pun, seharusnya sudah tahu itu." Gadis itu terdiam bersamaan dengan tubuh Sqied yang berbalik dan melangkah pergi. Ia memang tahu. Roh Udara sendiri telah mengatakan bahwa ia telah diawasi sejak lama dan baru dipilih setelah 2 bulan lamanya.
Bagaimana bisa ia melupakan hal sepenting itu?
Ia telah dipilih untuk meniti takdir sebagai wadah Roh Udara, bukan sebagai pembunuh berotak binatang!
Bodoh!
"Hei! Sampai kapan kau mau duduk di situ!" Hermione mengangkat wajahnya. Matanya melebar saat menyadari bahwa ketiga wadah roh itu tidak meninggalkannya seperti dugaannya. Ia melihat Pansy yang sedang berkacak pinggang dengan wajah bosan di sana. Melihat respon yang tak diharapkan, Pansy menghela nafas dan berjalan ke arahnya. "Bangun! Kau mau membuat kami menunggu sampai kapan, hah?" kesalnya sambil melipat tangannya di depan dada. Hermione menunduk sehingga poni rambutnya menutupi wajahnya. Ia merasa malu terhadap apa yang telah ia pikirkan tentang mereka. Ia telah salah, benar-benar salah.
"I, iya," jawabnya pelan. Ia mencoba bangun, namun ia terjatuh kembali sebelum berhasil menegakkan lutut kanannya. Gadis itu baru saja menyadari bahwa sedari tadi ia merasa lemas, sejak Ein menegurnya. Ia hanya bisa mengerutkan dahinya dengan mata berkaca-kaca yang hampir menumpahkan air mata. Ia tak pernah menyangka akan merasa selemah ini. Pansy memutar bola matanya. Ia berjongkok di samping gadis berambut semak-semak itu dan menarik lengan gadis itu sebelum menyampirkannya di bahunya.
"Lemas, hah?" gadis Slytherin itu mengejek, ia membantu Hermione berdiri. "Yaah, aku akan sepertimu jika saja Sqied tidak mencegahku mendekati kalian tadi," matanya melirik kaki Hermione yang berjalan dengan sedikit bergetar. "Aku beruntung, karena aku tidak perlu berjalan bak lansia seperti caramu itu," ucapnya dengan sorot mata meremehkan. Hermione mendengus.
"Kau ini terpaksa membantuku, ya?" sindirnya. Pansy menatapnya takjub.
"Mengerti juga rupanya," ia menyeringai. Hermione membuang muka.
"Huh!" kesalnya. Pansy menyeringai lebar dan berhenti saat mereka sampai di depan Ein yang memunggungi mereka dan Sqied yang telah berubah mood secara drastic.
"Aku yakin ada yang ingin kau ucapkan pada kami, Hermione," gadis Granger itu menunduk dengan pipi merona merah. Ia mengambil nafas dalam-dalam dan mengacuhkan seluruh ketakutan dan harga dirinya. Hening. Ia membuka mulut.
"Ma, maaf!" ucapnya keras dengan tangan terkepal kuat. Hening. Pansy dan Sqied menatap takjub sekaligus kaget. Hingga akhirnya-
"Hahahaha!" Pansy tertawa keras hingga air mata keluar dari matanya, Sqied menahan tawa dan seperti biasanya, Ein tetap diam. Pemuda yang bermata zamrud menepuk-nepuk pelan kepala Hermione yang wajahnya memerah.
"Bagus! Bagus!" puji Sqied. Pansy menyeka air mata di pipinya dengan tangannya yang bebas. Ia menyeringai dengan jenis yang sangat mencurigakan.
"Aaah! gadis ini berat sekali! Pantas saja jatah makan malam asrama Slytherin dikurangi, semua karena gadis Gryffindor yang makan banyak ini!" Pansy berbicara keras sambil berekspresi lelah yang dibuat-buat. Hermione Granger nyaris terbatuk dengan pernyataan Pansy itu. Sqied menyeringai.
"Biar kugantikan, Pans," ucapnya sambil menggendong Hermione yang hendak memerotes. "Wo-ooough! Kau benar, Pans! Dia memang berat!" wajah gadis itu memerah karena malu bercampur marah saat mereka telah berjalan di sebuah jalan kecil yang agak sepi untuk menikmati pemandangan kota Ely sebelum kembali menuju kastil Hogwarts, Skotlandia. Pansy tertawa.
"Sepertinya ada karung beras yang bertransfigurasi menjadi Hermione, Sqied!" Hermione berusaha menarik nafas dan membuangnya secara teratur seperti ibu hamil agar tali kesabarannya tidak putus dan ia tidak akan berbuat konyol, seperti meninju rahang Sqied sebagai orang yang berada di dekatnya.
"Aduh! Rasanya tanganku akan patah!" Sedikit demi sedikit tali kesabaran mulai memutuskan benang-benangnya.
"Waah! Bertahanlah! Jika kita meninggalkannya di sini, tak akan ada lagi orang yang bisa mengalahkan berat Millicent Bulstrode, Sqied!" Tik. Tik. Tik. Hitungan mundur telah dimulai.
"Oh, ya! Kalau begitu, aku akan berusaha! Pinjamkan aku kekuatanmu, Pans!" Tik. Tik. Tik. 3.
"Oke! Ah, kastil sudah terlihat. Hmm, aku yakin, gadis ini sudah mencium aroma muffin dari dapur Hogwarts." Tik. Tik. Tik. 2, tak ada alasan yang bisa merubah keadaan selanjutnya.
"Wuooh! benarkah itu, Herm-"
"Buaakkk!" Maaf, rupanya putusnya tali kesabaran tak sesuai prediksi.
Pansy mematung. Sqied tertelungkup dengan pipi lebam. Hermione berdiri dengan wajah berang dan tangan terkepal. Ia menatap tajam Pansy yang sudah berkeringat dingin.
"A, ah, kau sudah tak lemas lagi? Syukurlah!" Pansy tersenyum gugup. Gadis itu tak mampu membalas tatapan tajam si rambut coklat.
"Ooh, kau mau coba merasakan tinju Millicent Bulstrode tiruan, Pans?" gadis itu melihat seringai iblis Hermione sebelum akhirnya berlari kabur dari tempat itu. Mata Hermione melebar dan dengan seluruh kegusarannya ia mengejar gadis Slytherin itu.
"Jangan lari, Pansy Parkinsoooonnn!"
"Tidaaakk!"
xxx
"Aah, pengalihan suasana Pansy berhasil juga," Sqied mengelus pipinya yang lebam. Ia melirik gadis berambut hitam panjang yang sedang berjalan di sampingnya itu. "Seharusnya, kau ikut berakting juga, Ein."
"Mengapa?"
"Tentu saja untuk-… 'Mengapa' apanya?" Sqied bertanya bingung. Tidak biasanya gadis itu mau ikut dalam kekonyolan mereka.
"Mengapa 'mereka' tahu kalau wadah roh udara sudah dipilih?"
"Biasanya selalu begitu, 'kan? wadah roh di bagian Jerman dan Austria juga begitu."
"Hermione Granger sudah menutup gerbang udara." Mata zamrud pemuda itu melebar. Para Pencuri seharusnya tak bisa masuk karena 4 gerbang telah ditutup. Dia bisa mengerti kenapa roh udara lainnya mudah terjebak apalgi sampai tercium keberadaannya, itu semua karena mereka belum bisa menutup gerbang. Lalu, mengapa Pencuri level 2 bisa masuk ke tempat ini, kastil Hogwarts dengan 4 gerbang yang tak terbuka sedikitpun? Sqied berkedip.
"… Jangan-jangan-" ia menelan ludah.
"Penyusup berkeliaran di Britania Raya" Ein mengakhiri. Mata hitamnya berkilat misterius.
-To be continued -
"Bunuh dia, Pansy."
Wadah Roh Air tertawa nyaring,
memecahkan keheningan malam yang dingin.
"Terkutuklah kau, Soul Thief!
Ahahahaaaa!"
Line 12: A Forgotten Sacrifice
Spesial thanks for Diggory Malfoy-san, Abcd-san, DAN nyan-himeko-san atas reviewnya!
Thanks for reading!
{Touch Of Air}
-Rozen91-
