" naaa "
" yaaa "
" pi pi "
Shixun bangkit dari duduk dengan berpegangan pada lengan kurus Jongin. Menunjukkan Vivi pada gadis yang ia anggap sebagai ibu. Jongin hanya tersenyum dan memegang tubuh mungil Shixun agar tidak jatuh.
" shixun duduk ya "
" nee "
Jawab sang bayi dan duduk kembali di samping Jongin dengan gumamam khas bayi. Jongin melanjutkan memotong timun dengan bibi Song.
" kemana sehun ?"
" mati "
" astaga jongin "
Jongin acuh, dia melanjutkan memotong timun
" hati-hati dengan omonganmu sayang "
" aku tidak peduli bi, Shixun kan bayinya tapi yang ada malah aku yang mengurus Shixun "
Bibi song menatap dengan alis bertaut dan menghentikan memotong daging.
" tapi apa memang benar jika Shixun ini bayi nya ?"
" bibi lihat saja, Shixun mirip dengan Sehun atau tidak "
Bibi song mengintip sebentar pada Shixun lalu meringis mengiyakan pernyataan Jongin. Sebelum anak sulung keluarga Wu lahir, bibi Song sudah bekerja disana. Jadi masa bayi Luhan dan Sehun, bibi Song tentu tahu. Merangkap sebagai kepala maid dan pengasuh putra keluarga Wu, bibi Song sudah diangkat sebagai keluarga sendiri oleh Yifan dan Joonmyeon.
" tidak memungkiri, Shixun memang mirip dengan sehun. Hanya mata bulatnya saja yang berbeda "
" apa ku bilang "
Jongin masih acuh, bibirnya tersenyum miring karena penuturan bibi Song. Hatinya bersorak menang melawan sehun.
Bibi song selesai memasak bulgogi, tinggal memasak makan siang untuk shixun. Biasanya hanya nasi lembek dengan campuran potongan kecil wortel dan brokoli. Mendengar tawa Shixun yang begitu keras sampai ke dapur, membuat bibi Song mengintip dari pintu dapur. Jongin memegang kedua tangan Shixun ke atas, mengajaknya untuk berjalan tapi yang ada malah Shixun berjongkok karena masih terlalu takut.
" xhun aah, ayo jalan "
" mmmhh mmhh "
" jalan, nunaa bantu yaa "
" naa "
'menggeleng'
Jongin berjongkok di depan Shixun lalu menarik kedua tangannya bayi tersebut ke atas, secara otomatis tubuh Shixun berdiri. Jongin tersenyum selanjutnya ia menyuruh Shixun untuk melangkah
" ayo,, satu… "
' berkedip '
" xhun aaa ayooo.. satu… "
" naaaa "
Bruk
Nihil, Shixun merengek tidak mau belajar berjalan. Ia memilih untuk merangkak dan duduk di hadapan Jongin sambil menggigit lengan sang gadis
" argh, astaga baby "
" hihihi "
Jongin mengangkat Shixun dan mencium hidungnya. Tertawa, deretan gusi merah muda masih dominan di dalam mulut si bayi.
" kau kesal ya sama nunaa,, ini sakit sayang huhuhu "
" naa naa naa "
" iya iya terserah "
Jongin memeluk Shixun dan mengajaknya ke dapur, mengintip bibi Song yang masih berkutat dengan panci kecilnya
" masih belum selesai bi ?"
" tunggu sebentar, apa kau lapar ?"
" tidak, aku makan setelah Shixun tidur saja "
X
X
X
x
" hy "
" hy nunaa, masuklah "
" terima kasih "
Sehun mempersilahkan pacar kakaknya, Minseok untuk masuk. Gadis dengan tinggi tidak lebih dari pundak Sehun segera masuk ke dalam. Ia lalu duduk di sofa sambil meletakkan kotak kue yang ia bawa.
" luhan masih dandan, nunaa tunggu saja "
" baiklah "
Jawab minseok dengan kikik an. Dia sudah sering melihat tingkah kakak beradik Wu. Lagipula sudah tak terhitung, berapa kali Minsoek datang kemari.
" hy cantik "
" selamat pagi nyonya wu "
" eeeiih biasa saja sayang. kalian mau kemana ?"
" aku hanya mau berkunjung kemari nyonya. Oh ya ini "
' menyerahkan kotak kue '
" tadi pagi aku membuatnya "
" waaah, selain cantik kau juga pintar. Cepatlah lulus dan terima lamaran Luhan ya "
Minseok tidak bisa untuk tidak memerah. pipi gembilnya memerah mendengar ucapan Joonmyeon. Meskipun sering datang kemari, tapi nyatanya Minseok sangat canggung untuk kemari.
" minseok, ibu tinggal dulu. Anggap saja rumah sendiri, jangan pedulikan Sehun. Kau tahu dia akhir-akhir ini sedikit gila "
Bisik joonmyeon
" aku mendengarnya bu "
Sehun menunjukkan raut wajah datar. Ia segera duduk di samping Minseok dan mengambil potongan kue dengan topping oreo
" nunaa buat sendiri ?"
" tentu "
" kekasihku juga jago memasak "
" benarkah? "
" ya "
" tapi, kekasihmu yang mana lagi ?"
" ohok ohok "
Tersedak, Sehun tersedak kue dan Minseok segera menepuk tengkuk Sehun perlahan. Minseok bingung, jika tidak segera ditolong Sehun akan celaka. Ia segera berlari ke dapur, mengambil air mineral dan memberikannya pada Sehun.
" pelan-pelan saja,astaga "
" haah haa haah nu… haah naaa "
" iya iya ada apa ? apa aku salah bicara ?"
Tanya Minseok dengan polos. Luhan turun dari atas dan segera berlari begitu melihat posisi duduk pacar dan adiknya yang terlalu dekat.
" minggir "
Duaag
" GE "
" aarrgh "
Teriak Minseok spontan, Sehun jatuh berguling karena di tendang oleh Luhan. Ia segera membantu Sehun untuk berdiri
" YAAA MINSEOK "
" LUHAN "
Minseok menatap Luhan marah, ia mendudukkan Sehun dan memijit tengkuk Sehun. Sial amat Hun wkwkwk
" bodoh, apa yang kau lakukan? Dia tersedak han "
" kau duduk terlalu dekat "
" aku hanya menolong "
Jawab minseok sekenanya, ia ikut mengusap pinggang Sehun yang sedikit memerah.
" aargh nunaa "
" kenapa kau buka baju sialan "
Nyuuuttt
Minseok sudah lebih dulu mencubit lengan Luhan, biar saja memar. Luhan keterlaluan. Sehun tidak melepas bajunya, hanya menyikap sedikit dna kembali menutupnya
" hun aah, sakit ?"
'mengangguk'
" ayo aku antar ke kamar "
Dengan perlahan, Minseok menuntun Sehun untuk berjalan. Mengabaikan Luhan yang menatap iri. Sehun melirik sebentar dan ber smirk ria.
" seokkkiiieeeee "
.
.
.
.
" bii, minggu depan aku ke pulau Nami. Jadi tidak kemari yaa "
" berapa hari ?"
" 5 hari "
" lama sekali "
" ada tugas juga bi, lagipula kapan itu liburan terakhir sebelum naik kelas 3 "
" baiklah, hati-hati disana. Jangan terlalu senang dengan liburan. Jangan lupa berdoa juga "
" siap "
Bibi Song tersenyum. Ia mengusap rambut Jongin dan menyesap kembali teh hangatnya. Ia kembali menatap Jongin, ada 1 pertanyaan yang ada dibenaknya
" jongin "
" ya "
Jongin mengalihkan dunianya dari ponsel dan menatap bibi Song
" apa orang tuamu tahu, jika setiap hari kau pulang larut ?"
Jongin diam, ia memandang bibi Song lama. Menghela nafas, jongin mengangguk
" ya, tapi aku selalu berkata kalau ada tambahan pelajaran dan pergi ke rumah teman"
Jawabnya lirih. Ada rasa bersalah karena membohongi orang tua. Senakal-nakalnya Jongin, ia takut juga dengan ibu bebeknya
" kau tidak seharusnya berbohong, tapi jika aku di posisimu juga aku pasti berkata seperti itu. Tapi, kurasa kau harus secepatnya memberitahu ayah ibumu "
" bibi "
" ….. "
" aku tidak tahu lagi apa yang harus kulakukan. Begitu mendadak. Shixun bukan bayiku, tapi aku merasa dia adalah bayiku. Aku tahu aku harus bertanggung jawab, tapi tidak untuk sekarang. Maksudku apa yang harus aku jelaskan nantinya "
Bibi Song melihat raut wajah Jongin yang kentara sekali jika ia cemas.
" bibi tidak bermaksud menakutimu, tapi lebih baik kau bicara "
" bibi song "
Jongin memeluk tubuh bibi Song erat. Tubuhnya hangat seperti ibunya.
X
X
X
X
Setelah berpamitan, Jongin pulang ke rumah sore hari. Shixun sudah tidak rewel, ia sudah mengerti jika Jongin hanya berkunjung kemari. Sekarang, bayi itu akan melambaikan tangan dan mengecup basah pipi gembil Jongin. ia berjalan di trotoar sendirian. Niat hati setelah pulang akan beli beberapa camilan, langsung ambyar ketika ucapan bibi Song ia ingat. Tidak mungkin jika harus disana sampai bayi itu besar. Dan juga aksinya ini akan mengundang curiga dari sang ibu. Jongin sampai tidak sadar, jika langkah kaki kurusnya sampai di depan pintu rumah. Ia membuka pintu tersebut dan menatap ke depan. dalam sekejap, mata sayu tersebut berubah bulat ketika melihat ibunya berdiri dengan mata penuh intimidasi. Tapi ada 1 hal lagi yang membuat jantungnya copot. Untuk apa Momo datang kemari ? sial…
" pergi ke rumah momo, karena mengerjakan tugas. Dan ini yang kau sebut dengan mengerjakan tugas? "
" i.. ibu "
" baiklah, bisa kau jelaskan siapa teman Momo mu yang lain? "
X
X
X
X
tebeceh
