Disclimer : Bleach hanya milik Tite Kubo seorang

―bukan punya Yuuka―

.

.

.

Warning : Typo (yang selalu nongol), AU, contains fantasy terms, curse words, semi-canon, Gaje (Yuuka serahkan pada Readers semua), DLDR

.

'Human is weak, and the bitter hatred can't do lies.'

.

Enjoy and happy reading !

...


The Half-Blood

Akimoto Yuuka

Baru saja alarm darurat berbunyi lima menit yang lalu, kini para Soldier yang dikirim oleh Seireitei telah memenuhi seluruh Soul Society. Keempat gerbang utama dan pos komando sibuk bertukar informasi. Tapi dari sensor yang diselidiki lembaga I.P.P.S, kepadatan reishi yang berpindah-pindah masih dalam tahap stabil. Kira-kira bagaimana rasanya keluar dari tapal batas setelah sekian lama tak menyentuh dunia luar?

"Pasti mereka sangat senang," komentar Kiyone, dia melirik rekannya yang langsung menunjuk dirinya sendiri tak percaya.

"Astaga, kau selalu melempar hal seperti ini padaku tapi bersikap manis jika menyangkut Ukitake-san, dasar wanita!" gerutu Sentarou.

"Itu memang tugas seorang pria, kan? Dan tentu saja aku peduli pada Ukitake-san lebih dari pada dirimu, karena aku ini adalah ajudan kesayangannya!"

Sentarou berdecak, "Hanya orang bodoh yang bisa berpikir seperti itu, tahu! Pokoknya ini terakhir kali kau bisa menyuruhku." Dia turun ke bawah dan berteriak pada para Soldier yang sedang berjaga.

"Hoi, kalian semua! Cepat tutup gerbangnya!"

"Baik!"

"Kau juga bantulah mereka, dasar bodoh!"

"Kiyone, kau berisik!"

Ukitake Juushirou, seorang Paladin berambut putih sepinggang itu tersenyum memperhatikan dua ajudannya yang sangat bersemangat. Dia terbatuk sambil memegang dadanya.

"Rasanya efek karena tidak minum obat tadi pagi sudah terasa."

"Yah, kau punya dua ajudan untuk apa? Lagipula kau ini bukan Kurosaki Ichigo."

"Ada apa dengan Ichigo?"

"Memangnya ada lagi yang punya dua ajudan selain kau dan dia?"

Pria itu menoleh ke samping, tempat Hitsugaya Toshirou sedang melipat tangan tanpa minat. Karena sama-sama berambut putih, Ukitake selalu menganggap kalau mereka adalah rekan yang akrab. Bukannya itu hanya kebetulan memiliki nama yang belakangnya terdapat kata 'shiro'? Kelihatannya, yang menganggap itu takdir adalah orang yang berlebihan.

"Apa?" ketus Toushirou saat pria itu terus menatapnya.

Dilihat dari usianya, tentu Ukitake berada di generasi yang berbeda. Seorang Paladin Kelas S seperti Kyouraku dan sama-sama merupakan murid Genryuusai. Tapi asal kau tahu saja, saat tidak bertarung, sifatnya benar-benar menyebalkan―setidaknya bagi seseorang.

Ukitake mengambil sesuatu dari bajunya dan dengan senyum manis memberikannya pada Toshirou.

"Mau permen?"

"Kau sudah bosan hidup, ya?"

Sementara keadaan sepertinya mulai terkendali, di dalam kantor suram yang merupakan tempat percobaan-percobaan kepala lembaga I.P.P.S, ketegangan yang sebenarnya baru akan dimulai. Diantara tabung-tabung kaca dan puluhan kabel yang berserakan, Rukia bisa melihat sebuah organ dalam yang dia yakin adalah milik manusia terombang-ambing di dalam cairan berwarna kuning. Ugh, sudah pasti Kurotsuchi Mayuri tidak membual tentang hobinya.

"Ah, maaf, kuenya akan segera diantar. Kau tenang saja, ya."

Seperti biasa, kepribadiannya memang aneh. Rukia duduk di kursi dengan tidak nyaman. Keningnya mengkerut memperhatikan Mayuri sedang... bermain musik? Ah, yang benar saja. Itu keyboard yang bentuknya hanya mirip dengan piano, terhubung ke monitor versi tahun 1970 yang bercabang-cabang. Kalau dipikir-pikir lebih aneh lagi melihatnya bermain dengan laptop atau tablet di gua suram ini.

"Silakan kuenya."

Tiba-tiba saja Nemu sudah muncul di samping Rukia, membawakan nampan berisi kue kering dan satu set peralatan minum teh. Sebelah alis Rukia berkedut. Apa mereka serius?

"Aku tidak peduli dengan kue. Dan lagi, mau sampai kapan Anda akan mengulur waktu begini, Profesor?" ujarnya kesal.

"Oh, santai saja, Kuchiki-san. Saat ini aku harus mempersiapkan semua peralatan dan data dengan benar atau kedatanganmu kemari hanya akan sia-sia. Kau tidak mau hal itu terjadi, bukan?"

Rukia mendengus, mengetuk-ngetukkan kakinya ke lantai dengan tidak sabar. Apa sebenarnya yang orang gila itu rencanakan? Yah, sebenarnya bukan cuma dia. Kalau dipikir-pikir, Kaien tadi bicara mengenai Central 46. Pengaruh Central 46 sama besarnya dengan penasehat yang ikut andil dalam keputusan pemimpin kekaisaran Seireitei, mereka bahkan memiliki wewenang tertentu di luar itu. Terdiri dari empat puluh orang bijak dan enam hakim yang bertanggung jawab sebagai lembaga peradilan dan pembuat hukum di Soul Society. Tentu saja tak ada yang salah jika klan Shiba yang memiliki pengaruh besar sampai ada sangkut pautnya dengan mereka, tapi ada apa dengan I.P.P.S?

Apa gadis itu salah jika berpikir bahwa Soul Society sedang membuat sebuah permainan dimana dia menjadi bidaknya? Karena hanya dia yang tak tahu permainan apa itu, dan sekarang dia sedang berada di kantor Kurotsuchi Mayuri tanpa penjelasan apapun. Rukia menggigit bibir dalamnya.

Lalu, apakah kebaikan Kaien beberapa hari yang lalu juga hanyalah kebohongan?

"Akon, kau datang tepat waktu."

Pria bertanduk itu masuk membawa sebuah kotak berwarna biru yang pernah disebut-sebut oleh pria bertentakel yang menjemputnya waktu itu. Saat Rukia sedang bertanya-tanya apa isinya, dia bertatapan dengan Akon.

"Silakan nikmati waktumu."

Apa? Sapaan macam apa itu? Menurutmu aku senang di sini?

"Akon, kau bantu aku. Nah, semua sudah siap sekarang," Mayuri mengambil duduk di depan Rukia yang hanya terdiam. "Perlu kuingatkan, mulai saat ini keselamatan dunia akan bergantung pada keputusan yang kau buat, Kuchiki-san. Apakah kau akan menerimanya atau tidak itu tergantung padamu. Aku juga tidak akan memaksa."

Saat pantulan cahaya remang di sudut ruangan memperlihatkan senyuman lebar Mayuri, Rukia bisa merasakan darahnya berdesir.

"Bagaimana jika kita mulai dengan 'apa yang sedang terjadi?'"

―Yuuka desu―

"Kaien-sama, di luar situasi sedang kacau. Anda dimohon tidak keluar untuk sementara waktu hingga bisa dipastikan keadaan kembali aman."

Kaien memandang datar ketiga pelayannya yang membungkuk hormat tanpa mendengarkan apa yang mereka katakan. Sebelah tangannya yang memegang pintu mengerat.

"Baiklah, aku akan berhati-hati."

Dia tersenyum sebelum menggeser pintu dan masuk ke ruangannya yang gelap. Di dalam sini, semua menjamin keselamatannya, tak ada yang perlu ditakutkan karena penjaga berada di luar selama 24 jam. Tapi kenapa jantungnya berdebar kencang? Ada seseorang di luar sana yang sedang dikorbankan. Hidupnya mungkin tak pernah mengenal rasa aman karena terus dikejar oleh bayang-bayang kematian.

"Memang tidak mudah untuk mengubah pandangan orang lain, tapi terus berusaha adalah satu-satunya yang bisa kulakukan. Aku sudah menetapkan keputusanku."

Apa dia akan membiarkannya begitu saja?

Mata Kaien menyipit. Terlambat. Untuk sekarang, tak ada lagi yang bisa dia lakukan.

"Itukah yang sedang kaupikirkan, Kaien?"

Pria itu terkejut. Tubuhnya kaku saat menemukan mata pedang berwarna hitam terjulur dingin di depan lehernya. Menunggu, sementara lilin yang berjajar rapi di atas meja menunjukkan bayangan seseorang dengan jelas, berdiri diam di belakangnya tanpa gerakan. Kaien tak perlu menebak siapa yang memiliki pedang itu dan suara yang selalu bernada datar tak berperasaan saat bicara padanya. Karena hanya ada satu orang yang selalu melakukan itu.

"Aku selalu berharap menjadi orang yang akan membunuhmu. Baik dulu maupun sekarang."

Kaien terdiam mendengar suara dingin itu, tersenyum miris. Ah, sejak kapan dia ada di situ? Dia bahkan tidak merasakan reiatsunya. Jadi jika orang itu mau, dia bisa jadi sangat menyeramkan seperti ini.

"Ya, kau pantas melakukannya."

"Apa kau tidak akan membela diri, seperti yang selalu kau lakukan?"

"Kau mengharapkan itu?"

Orang itu menancapkan pedangnya ke lantai, dengan kasar mencengkeram baju Kaien agar pria itu bisa melihatnya. Mata yang penuh kemarahan itu berkilat tajam. Kebenciannya terlihat jelas di kedua hazelnya yang terang. Sekarang ini, dia―Kurosaki Ichigo benar-benar marah.

Dia menarik napas, tak bisa tenang. Saat wajah Kaien hanya berupa tatapan datar tanpa dosa. Entah siapa yang tahu pedang itu nantinya berakhir dengan noda darah atau tidak.

"Brengsek kau, Kaien," desisnya.

"Ya."

Rahang Ichigo mulai menonjol, darah naik ke kepalanya yang sudah panas, hampir meledak. Mencoba untuk tenang adalah hal yang sia-sia.

"Mengenal Rukia membuatmu ingin berubah, kan?" katanya. "Aku mempercayakan dia padamu. Aku bahkan mencoba melakukannya."

Kaien hanya bisa diam. Sementara napas Ichigo semakin tak teratur, merasa dikhianati dan dikecewakan. Untuk pertama kali seumur hidupnya dia merasa begitu ingin membunuh pria itu. Apa yang terjadi jika seseorang menyimpan dendam terlalu lama? Rasanya hal itu sudah tidak penting. Sekarang ini yang ada di kepalanya hanya Rukia, Rukia dan Rukia... tak ada yang lain. Jadi saat dunia ikut mengambilnya, sejak saat itu mungkin dia sudah gila.

"Katakan sesuatu."

"Kau boleh memukulku."

BUAGHH!

Tubuh Kaien terjatuh ke lantai dan terbatuk. Bibirnya sobek, darah mengalir ke dagunya dan menetes di lantai kayu. Tapi dia sudah mempersiapkannya. Dia tak akan membalas, karena dia pantas mendapatkan ini. Belum sempat Kaien menghapus darahnya, Ichigo menariknya dan kembali melayangkan tinju ke pipi yang lain. Bibirnya perih, tapi Ichigo tak memberikan jeda dan langsung memojokkannya ke dinding. Dia benar-benar tak bisa bergerak sekarang. Berada di bawah tekanan mata bengis dan tajam seakan memberitahukan pria itu bahwa Ichigo sedang serius. Dia serius terhadap Kuchiki Rukia. Tak ada orang yang tak bisa melihat itu di matanya.

"Kau bersamanya setiap waktu, menurutmu aku tidak tahu? Dia bahkan tak pernah mengatakan apapun. Kenapa dia melakukan itu...? Kutanya padamu, kenapa dia melakukan hal itu?"

"..."

Cengkeraman Ichigo mengerat, "Karena dia tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi padamu."

Mendengar itu, mata Kaien melebar. Mulutnya terbuka, namun suaranya tercekat di tenggorokan. Tanpa sadar kepalan tangannya melemah dan menyisakan darah yang tak sedikit di sana. Seberapa sakit dia mendengar hal itu?

"Kau bekerja sama dengan Central 46 untuk membawanya ke I.P.P.S, dari awal kau hanya ingin melihat reaksiku saja, kan? Apa yang akan kulakukan jika aku tahu... nyatanya, aku memang sudah tahu―semuanya," kata Ichigo. "Aku membiarkanmu untuk melihat apakah kau akan berubah pikiran. Tapi kau membiarkannya pergi begitu saja dan sekarang, kau menyerah. Kau menyerah dengan begitu mudahnya."

Ichigo menarik napas dalam-dalam, "Aku memberimu kesempatan, tapi pada akhirnya kau masih Shiba Kaien yang pengecut seperti dulu,"

Dia melepaskan Kaien yang tak merespon. Pikirannya berada di tempat lain. Hari-hari yang dilewatinya bersama gadis itu, bagaimana dia bicara dan tertawa. Kaien tidak bohong saat berkata bahwa dia menikmati waktunya, hanya saja... kenapa saat itu dia menerima misi ini?

Karena kau ingin Ichigo menderita.

Kaien tersentak saat bawah sadarnya berbicara. Hati tak pernah berbohong, jadi... apakah itu hal yang dia inginkan?

Seperti yang kau katakan pada gadis itu. Kau iri padanya. Kau iri karena Ichigo selalu melampaui dirimu.

Lucu sekali. Kenapa dia harus merasa iri?

Kaien memukul tembok, tapi Ichigo mengerti apa yang sedang dipikirkannya. Ikatan yang ada di antara mereka sudah rusak sejak dulu. Sejak klan Shiba memutuskan jalan yang harus mereka tempuh masing-masing. Kaien dituntut oleh aturan, dan Ichigo dikelilingi kebebasan. Sejak awal, semuanya sudah tidak adil baginya. Kenapa dia harus jadi klan terkuat? Kenapa dia berada di perpustakaan dan Ichigo bermain di atas langit?

Kenapa dia seorang Shiba dan Ichigo seorang Kurosaki?

"Aku akan menyimpan pedang ini untukmu nanti," Ichigo berkata, memandang Kaien di bawah.

Kepalan tangan Kaien menguat. Ichigo yang melihat itu mulai berbalik dan mencabut pedangnya. Dia belum memaafkan pria itu, tidak akan, tapi saat ini bicara saja sudah tidak berguna. Ichigo melirik Kaien sekali lagi, sebelum memutuskan untuk meninggalkannya di ruangan itu dengan luka yang dia berikan. Tapi baru saja dia mencapai pintu, sebuah goncangan hebat terjadi. Ichigo tersentak.

Jangan-jangan itu mereka?!

Tepat di arah gerbang selatan berada, asap yang tebal berwarna putih membumbung tinggi ke langit. Itu ledakan yang besar. Dari sini, Ichigo bisa merasakan kepekatan reishi yang berada di atas normal. Secepat ini, para Sternritter itu benar-benar bersemangat. Dia harus pergi ke tempat yang lebih tinggi. Saat memikirkan hal itu, para pelayan berlari ke ruangan Kaien untuk melihat keadaannya. Sementara penjagaan di kediaman Shiba mulai diperketat, Ichigo memutuskan untuk pergi bershunpo ke sebuah atap bangunan yang tinggi.

Sebenarnya, suasana hatinya sedang tidak baik, tapi meski bibirnya terus mengumpat keadaan tak bisa diubah begitu saja. Ichigo berdecak, menyapu pandangan jauh ke depan. Tunggu, dia melihat sesuatu. Sesaat setelah asap sedikit memudar, langit menampakkan sebuah lubang yang sangat familiar. Sial, Garganta!

"Kurosaki-sama!" seorang Shinigami yang sedang berlari berhenti dan memanggilnya dari bawah. Ichigo menoleh.

"Para Sternritter itu membawa Summoner agar bisa masuk lewat Garganta. Panggil yang lainnya dan tunggu di luar! Mereka mungkin akan memanggil Hollow ke kota."

"Baik!"

Tch, sial! Semoga saja Shuuhei dan Ikkaku tidak mencarinya sekarang, karena dia akan melakukan hal gila. Persetan dengan peraturan. Dia akan menculik Rukia sekarang.

"Tunggu aku, Rukia."

―Yuuka desu―

Langit dan awan benar-benar berduka. Gravitasi berubah menjadi lebih berat beberapa menit sebelum ledakan besar terjadi. Data yang masuk ke badan I.P.P.S menunjukkan jalur luar dimensi yang menjadi perantara Dunia Manusia dengan Soul Society. Terbukti dengan lubang tak rata yang muncul di atas langit siang itu. Garganta. Sebuah dimensi antar ruang yang bisa dipanggil dimana saja. Tentu saja itu merepotkan, tapi mulai sekarang tak ada gunanya berpikir seperti itu. Karena semuanya akan belajar arti kata merepotkan yang sesungguhnya.

Seorang pria berjubah hitam keluar di sela-sela asap, tersenyum penuh kesenangan. Dia bisa menghirup aroma masa lalu yang tak asing dari udara di sana. Seireitei, ibukota Soul Society. Lama tak jumpa.

"Sebaiknya kita tak usah buru-buru. Ada banyak orang yang perlu kusapa, tapi bagaimana jika kita mulai dari orang-orang ini?"

Pemimpin ras Sternritter yang sedang dalam mood bagus tersenyum begitu melihat para Soldier bergumul di dekat gerbang. Shinigami, mereka sudah pasti bersiap demi hal yang sia-sia. Tak ada yang bisa menghentikannya sekarang.

"Hancurkan yang menghalangi," perintah Jugram pada anak buah mereka yang langsung menurutinya tanpa banyak bicara. "Yang Mulia, apa Anda akan langsung menjemputnya?"

"Jugram anakku, ambillah waktumu untuk bersenang-senang. Cuaca sedang cerah sekarang dan ini membuatku tidak sabar untuk menyapa kawan lamaku."

Pria berambut pirang di belakangnya membungkuk, "Aku akan terus berada di samping Anda, Yang Mulia."

Seakan puas mendengar jawaban itu, mereka berjalan dengan santai di udara, menuju bangunan paling tinggi yang berada di tengah-tengah ibukota. Istana Seireitei―tempat dimana Genryuusai sedang menunggunya.

"Kau lihat yang barusan itu? Dia memerintah kita seakan-akan kita adalah anak buahnya. Aku benar-benar membenci sikapnya tadi. Dan sekarang dia bahkan pergi bersama Yang Mulia meninggalkan kita di sini mati kebosanan. Memuakkan sekali, orang itu hanya memikirkan dirinya sendiri."

Duduk di sebuah atap di tengah-tengah para Hollow yang sedang mengamuk, Bambietta melipat tangan dan menggerutu berlebihan. Hanya dia yang tak punya niat untuk bergabung dengan yang lainnya. Membabi buta di tengah-tengah kota begitu, apa untungnya?

"Oh, Bambietta, tak ada kata 'kita' di sini. Jadi kurasa yang sedang mati kebosanan adalah dirimu. Kenapa kau tidak mencari seseorang yang kuat? Di belakang gerbang pasti ada banyak sekali."

Bambietta melirik gadis berambut panjang yang tak bisa diam di depannya, melompat kesana kemari hingga membuatnya kesal.

"Tak ada yang bicara padamu, Gisselle!"

"Oops, moodmu buruk sekali, aku jadi ketakutan," gadis itu―Gisselle Gewelle―tertawa. "Hmm, lupakan saja, saat kau jadi mayat aku akan membuatmu jadi lebih sering tersenyum."

"Heh, lihat dengan siapa kau bicara," Bambietta menoleh. "Meninas, berhenti mengurusi Hollow-Hollow itu. Kau memiliki keuntungan karena pernah melawan Shinigami di Dunia Manusia sebelumnya. Harusnya kau bertarung di garis depan."

Wanita bertubuh sintal itu menoleh dengan ekspresi polos, rambut pirang bergelombangnya agak berantakan karena tertiup angin. Meninas McAllon, Summoner peringkat atas yang tidak pernah berkata bohong seumur hidupnya.

"Umm... apakah harus? Aku lebih ingin berada di samping Bambietta, sih."

"Eh? Kau pernah bertarung di Dunia Manusia? Siapa Shinigami itu? Apa dia kuat?"

"Gisselle, kubilang tutup mulutmu!"

"Well, kalau tidak salah namanya Kurosaki Ichigo, dia benar-benar kuat. Jika waktu itu Candice tidak menghalanginya, mungkin yang mati waktu itu bukan dia tapi aku," jawab Meninas.

Senyum Gisselle melebar, "Benarkah? Meski kau setingkat dengan Kelas S? Si Kurosaki Ichigo itu pastinya bukan orang sembarangan, ya?"

"Kalau kau bilang begitu..."

"Benar-benar omong kosong," Bambietta menggaruk belakang kepalanya. "Tentu saja itu salah Candice yang terlalu ceroboh. Bukan berarti aku berpikir kalau Jugram salah telah mengangkatnya menjadi seorang A, tapi sifat aslinya yang hiper itu sendirilah yang membuatnya jadi terbunuh malam itu."

"Hoho... kelihatannya kau sangat mengerti dirinya, Bambietta. Waktu itu kau khawatir, kan, karena itu kau meminta Jugram untuk mengirimmu ke Karakura. Sudah kuduga kau ini tsun yang terjebak dalam karakter yandere."

Bambietta menatap tajam gadis yang sedang tertawa itu. Sejak dulu, mereka memang tidak pernah akrab.

"Rasanya aku ingin menyobek mulutmu yang tidak bisa diam itu. Apa kau masih bisa tertawa setelah aku melakukannya, Gisselle?"

"Yah, lakukan saja. Lagipula aku tidak bisa mati," gadis itu tersenyum licik, membuat Bambietta mengeratkan gigi karena terlampau kesal.

"Apa kau menantangku? Mau bermain? Yang paling banyak membunuh boleh melakukan apapun yang dia suka pada yang kalah, setuju?"

Gisselle menaikkan satu alisnya dan tersenyum puas, "Hoho... menarik sekali. Kuterima dengan senang hati."

"U-Umm... teman-teman...?"

Di sela-sela rengekan Meninas, justru kekuatan Sternritter semakin tampak lebih unggul. Saat ini, gerbang selatan telah hancur dan beberapa yang lain mulai mengobrak-abrik di dalamnya. Yhwach sedang menuju ke istana, tenang dan percaya diri. Apakah arogansi dan kesombongan yang tersembunyi di balik kata 'perdamaian' itu akan benar-benar menyelamatkannya? Tapi selain tapak kaki yang terus membawa penderitaan, di depan ada seseorang yang bisa menghalau nyanyian kegelapan itu darinya. Seseorang yang sama kuatnya dan tak ada lagi yang dapat menandinginya.

"Maaf membuatmu menunggu, Genryuusai, sulit sekali rasanya untuk bisa masuk ke dalam Soul Society yang sudah berubah drastis ini," Yhwach berkata penuh keangkuhan. "Terima kasih karena telah menyambutku, ini kehormatan yang besar."

Genryuusai yang menopang tubuh di tongkatnya membuka mata, "Apa kau perlu basa-basi sekarang, karena menganggap kau sudah menang?"

"Apakah salah jika aku berpikir begitu? Bukankah kau yang mengundangku kemari, dengan membawa gadis Kuchiki itu dari Dunia Manusia? Kau membawa akhir ke Soul Society dan seluruh dunia."

"Kaulah sumber kehancuran itu, Yhwach. Kau dan sihir hitammu yang terkutuk itu telah menodai perjanjian seribu tahun yang telah disepakati bersama."

Yhwach tersenyum, "Tujuanku sudah jelas, kau tidak akan bisa menghentikanku sekarang. Saat pemilik darah Elementalist berada di tanganku, berakhirlah sudah!"

Dengan nada penuh kemenangan, Yhwach mengangkat kedua tangannya senang. Matanya berkilat bengis, lebih kejam dari siapapun. Hanya dia kebencian yang sesungguhnya, yang tenggelam dalam dendam dan terus mengejar kegelapan. Bibirnya yang tak bisa berhenti tersenyum itu kini menampakkan seringai.

"Tapi sebelum itu, mari kita bertegur sapa dulu. Kelihatannya, kau masih bugar di dalam tubuh kakek tua yang memegang tongkat."

Genryuusai bersiap, mengangkat punggungnya yang senantiasa membungkuk dalam waktu lama. Saat dadanya dibusungkan, saat itulah darahnya mulai membakar di setiap hembusan napas. Di balik haori putih berlambang Komandan itu, otot-ototnya meregang, menyambut pedang yang lama tak menggores angin, namun masih cukup tajam untuk mengoyak nadi dan tulang. Genryuusai menatap tajam Yhwach yang menyeringai.

"Tunjukkan padaku kekalahanmu yang dulu."

Sasakibe menjauh dari arena, mengawasi Jugram yang juga melakukan hal yang sama. Saat pertarungan kedua legenda perang seribu tahun telah dimulai, Rukia baru saja keluar dari rasa sakit tak tertahankan yang berasal dari perutnya. Obat bius pemberian Akon hanya bertahan selama sepuluh menit, dan dia terus disuntik untuk menghilangkan rasa sakit di tubuhnya. Rukia tidak bisa berteriak lagi setelah apa yang terjadi, matanya berkunang-kunang dan berat. Tapi di ruangan yang suram itu, proses pemasangan bom telah selesai.

"Kulitmu akan segera menutup jahitannya, tak perlu khawatir, ini benang jahit khusus yang kupersiapkan jadi dia tidak akan meninggalkan bekas," ucap Mayuri, sarung tangannya penuh oleh darah. Dia memperhatikan Rukia yang sekarat.

"Masih sakit, ya? Perlu kusuntikkan bius lagi?"

"Tidak usah, Akon. Dia akan segera tertidur setelah ini. Kita harus terus mengecek keadaannya lewat monitor jarak jauh. Nemu, ambilkan air dan kain."

"Segera, Mayuri-sama."

Begitu Mayuri berbalik untuk memberesi gunting-gunting bedah di belakangnya, bibir Rukia menggumamkan kata-kata samar. Akon masih sibuk di depan layar, jadi hanya dia yang bisa mendengarnya. Ucapan gadis itu membuatnya terkejut.

"...Percaya... Ichigo..."

Sekali lagi Mayuri terbengong kaget.

"Aku percaya... padamu... Ichigo."

.

To be Continued

.


Author's note :

Yosh, satu chapter selesai! Mulai chapter ini ke depan akan muncul adegan pertarungan. Sternritter sudah datang! Dan proses pemasangan bom bunuh diri Rukia sudah selesai! Yuuka sengaja nggak langsung nyeritain prosesnya sih, tau-tau udah selesai hehe. Mungkin di chapter selanjutnya dan selanjutnya akan ada banyak flashback. Baik dari Rukia maupun masa lalu Ichigo dengan Kaien. Wow, bener kan Ichigo ngamuk? *ketawa devil. Di sini Kaien bener-bener menyesal karena perbuatannya yang membiarkan Rukia pergi ke I.P.P.S. Oh ya, kemarin reviewnya agak bermasalah, ya? Yuuka nggak bisa lihat review di Ffn, tapi keluar di email. Ada juga review yang dobel bahkan sampe tiga kali. Tapi syukurlah kayaknya sekarang udah diperbaiki. Semoga Yuuka nggak WB, semoga Yuuka nggak WB... *komat kamit. Susah sih bawaannya kalau udah sampe adegan pertarungan, Yuuka juga harus hati-hati karena banyak banget tokoh yang muncul. Semoga pembaca sekalian menikmatinya yaaa. Yuuka ucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya dari dukungan kalian baik yang sudah membaca, mereview, memfollow atau memfav cerita ini. Kritik dan saran sangat diterima! Terakhir tapi bukan terakhir, tell me what you're thinking?

Balasan bagi yang tidak log in:

Kurosaki2241 : terima kasih reviewnyaa ^^ yupp Rukia bener-bener dipasangin bom bunuh diri, dan prosesnya sakiiitttt bangett *tega kau author! Haha sudah update kok, semoga kamu suka yaa

Black shadow : halooo makasih reviewnya yaa *-* waahh seneng deh kalo kamu suka ^^ haha mungkin itu udah takdirnya Kaien? Dia kan paling cocok jadi orang ketiga hahahahaha wah, kalo update cepet kayaknya belum bisa dehh maaf yaa ini aja sering nelat kok *ditabok. Ini sudah update, silakan dibacaa

Ina : Ina-saannnn holaaaaa makasih reviewnya yaaa :3 nah, ini yang Yuuka maksud sama kotak review yang error. Haha Ina-san jadi ngirim review yang sama tiga kali ya, tapi walaupun gitu makasih banyak lhooo wkwkwk iya nih, bagian yang banyak tokohnya suka Yuuka sambung-sambungin karena biasanya ada di waktu yang sama. Hehe syukurlah... kirain garing hahaha. Ini sudah lanjut ^^

BLEACHvers : makasih reviewnyaa ^^ waahh lagi kumpul yaa? Rame nih *di balik senyum menyembunyikan air mata karena baca kata 'doi'. Akui saja Yuuka kamu kan masih s*ngle *ups. Hahaha lupakan curcol barusan, sudah update nihh wah iya, ada typo. Yuuka juga baru sadar hehe maklumlah otak udah mentok diperes jadi cuma cek ala kadarnya. Btw terima kasih semangatnya yaa