A Super Junior Fanfiction

~My Love, My Dongsaeng~

Pair : KyuMin and Other Official Pair.

Warning : Genderswitch, Gaje, Typo, tidak menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar.

.

.

.

Previous Chapter

Tangis Teukie pecah saat itu juga. Kangin yang ada disampingnya memeluk tubuh malaikatnya itu dengan erat. "bagaimana mungkin Minnie yang kita rawat sejak bayi hingga sekarang bukan anak kandung kita Kangin-ah?" Ucap Teukie disela tangisnya.

DEG…

Tak taukah kalian jika dibalik dinding pemisah itu ada yang mendengar pembicaraan kalian? Sungmin. Ya dia ada disana dan mendengar semua pembicaraan Kangteuk secara tidak sengaja. Dia membekap kedua tangannya dimulut guna meredam isakannya. Tak lupa airmata yang mengalir dengan lancar dari kedua bola matanya.

~CHAPTER 11~

Sungmin kembali ke kamarnya dengan perlahan. Dia tidak ingin kedua orangtuanya –masihkan dia boleh menyebutnya seperti itu?—mendengar tangisnya, dia membekap mulutnya dengan kedua tangannya dan kembali menangis terisak dengan hebatnya. Dia tidak ingin siapaun mendengar tangisan pilunya itu.

"hhh…" Sungmin merasakan dadanya sesak. Oksigen seakan tidak melewati(?) paru-parunya. Vertigo juga menyerangnya secara bersamaan. Dengan tangan gemetar, dia membuka laci dimeja nakasnya dan mengambil botol obatnya.

Prang…

Tidak sengaja dia menjatuhkan gelas berisi airputih yang memang sengaja Kyuhyun letakkan tadi. Sungmin mengumpat dalam hati dengan keadaannya yang lemah ini. Beberapa detik berikutnya, dia bisa mendengar deritan pintu kamarnya terbuka. Dalam hati berharap bukan kedua orangtua—yang bukan lagi—lah yang masuk kedalam kamarnya.

"Minnie?"

Sungmin mendesah lega. "hhh… kak Kyu." Panggilnya disela sesak nafasnya.

Kyuhyun langsung berlari kearah ranjang setelah mendengar panggilan lemah Sungmin. "astaga Minnie!" Kyuhyun tambah terkejut melihat keadaan Sungmin. Wajahnya pucat pasi, matanya memerah sehabis menangis. Dan jangan lupa liquid merah yang keluar dari hidungnya.

Kyuhyun berniat mengendong Sungmin, akan tetapi yeoja itu menolaknya. "hhh… tolong obatku." Pintanya.

Dengan segera Kyuhyun menyambar botol obat Sungmin yang berada didalam meja nakas lalu mengeluarkannya dengan cepat. "ayo diminum obatmu." Dia membantu Sungmin untuk duduk dan meminum obatnya. Setelah itu dia membuka botol air mineral yang tadi dibawanya untuk diminumkan untuk Sungmin.

"merasa lebih baik?" Sungmin menganggukan kepalanya dengan mata terpejam. Nafasnya sudah mulai teratur, akan tetapi vertigonya belum berkurang sedikit pun. Kyuhyun mengambil handuk dilemari Sungmin dan mengelap bawah hidung yeoja itu dengan lembut.

"apa tidak sebaiknya kita kerumah sakit saja?" Tawar Kyuhyun.

Sungmin menggelengkan kepala lalu membuka kedua matanya. Memandang langsung kearah Kyuhyun. "tidak, aku hanya perlu istirahat saja. Kak Kyu kembalilah, aku akan tidur." Ucap Sungmin pelan.

Kyuhyun mendekatkan wajahnya kearah Sungmin guna mencium dahi, kedua mata,hidung dan terakhir bibir Sungmin. "istirahatlah, saranghae." Ucapnya.

"nado."

Sungmin kembali meneteskan airmatanya saat sosok Kyuhyun sudah hilang dibalik pintu kamarnya. "ya Tuhan, apa yang harus aku lakukan?" Gumamnya pelan. Sungguh, kepalanya bertambah pusing dengan kenyataan yang barusaja diterimanya. Dirinya bukan anak kandung keluarga Cho? Jadi dimana orangtuanya?

o0o—

Sungmin berjalan pelan menuruni anak tangga. Tetapi langkahnya terhenti saat melihat sosok Kangin dan Leeteuk yang berada diruang makan. Hahh… menghela nafas pelan dan kembali berjalan untuk menghampiri keduanya. "selamat pagi."

Kangteuk menoleh. Kangin hanya memberikan senyum tipisnya dan kembali berkutat dengan majalah bisnis yang ada ditangannya, sedangkan Leeteuk tetap seperti biasa, tersenyum bak malaikat. Tetapi Sungmin menyadari satu hal, pancaran mata Leeteuk berbeda dari biasanya. Ada guratan kesedihan didalamnya.

"pagi. Dimana Kyuhyun?" Tanya Leeteuk.

"masih dikamarnya mungkin." Jawab Sungmin. Setelah itu suasana ruang makan itu begitu sunyi. Biasanya Sungmin dengan cerewetnya bercerita tentang pengalamannya disekolah ataupun hal-hal kecil yang menarik perhatiannya.

Kangin menyadari sikap Sungmin yang berbeda dari biasanya. Akan tetapi dia memilih tidak perduli dan lebih focus pada bacaan dihadapannya.

"lama menungguku?" Sontak ketiganya menoleh kearah Kyuhyun yang barusaja masuk kedalam ruang makan. Dia tersenyum dan menempatkan dirinya dikursi samping Sungmin.

Kangin menutup majalah bisnisnya dan mengisyaratkan mereka untuk memulai sarapan.

Tes…

Mata Sungmin membesar saat cairan merah itu jatuh dipunggung tangannya. Dengan segera dia menangkup tangan kanannya untuk menutupi hidungnya dan berbatuk pelan.

Kyuhyun menoleh dan menepuk punggung Sungmin dengan lembut. "gwenchana?"

Sungmin mengangguk lalu berdiri. Dia segera berlari ke kamar mandi yang berada disamping dapur. Dia mendongakan kepalanya agar darahnya berhenti. setelah cukup lama, dia menyalakan air dan membasuh bagian atas bibirnya.

Memandangi pantulan dirinya dicermin. Wajahnya semakin pucat dengan tonjolan pipi yang sudah mulai terlihat. Apakah ini efek dari penyakit yang dideritanya?

Tok tok…

Sungmin terkesiap saat mendengar pintu diketuk dari luar. "Minnie? Kau baik-baik saja?" Tanya Kyuhyun khawatir.

"ya. Aku baik-baik saja." Sekali lagi dia menoleh ke cermin. Jejak cairan merah itu tidak terlihat lagi, dia berjalan dan keluar dari kamar mandi dengan Kyuhyun yang ada dihadapannya.

"Ya. Gwenchana?"

Sungmin tersenyum lalu menjawab. "aku baik-baik saja. Jangan khawatir."

Kyuhyun tidak percaya perkataan Sungmin sepenuhnya. Meskipun dia menjawab baik-baik saja. Itu berarti dia sedang tidak baik-baik saja. Kyuhyun tahu benar tabiat kekasihnya itu yang tidak ingin merepotkan orang lain.

"baiklah, ayo kita berangkat!" Ajak Kyuhyun sembari merangkul bahu Sungmin dan menuntunnya kembali ke ruang makan.

"Ayah, Bunda. Kami berangkat!" Pamit Kyuhyun.

Sungmin mengambil tasnya lalu membungkukan badannya kearah Leeteuk dan Kangin bergantian. "aku berangkat." Setelah itu dia berjalan mengikuti Kyuhyun yang sudah terlebih dahulu berjalan keluar.

Leeteuk terdiam dikursinya. Dia merasa agak aneh dengan sikap Sungmin pagi ini. Kentara sekali kecanggungan diantara mereka. Dan puncaknya adalah tadi, yang dimana saat akan berangkat sekolah Sungmin akan memeluk dan mencium pipinya begitu juga dengan Kangin. Tapi tadi?

"Kangin-ah, apa mungkin Sungmin—

"bergegaslah, kita akan pergi menjemput putri kita yang sesungguhnya." Potong Kangin sambil berdiri dan berjalan menjauh dari ruang makan.

Leeteuk masih terdiam ditempatnya. Matanya sedikit melirik kearah pigura besar yang merekam potret keluarga mereka. Dirinya, Kangin, Kyuhyun serta Sungmin yang tersenyum bahagia. Bahkan dia masih ingat bagaimana repotnya Sungmin memilih baju untuk dipakai untuk foto tersebut.

Senyum sendu terlukis diwajah bak malaikatnya. Rasanya dia masih tidak mempercayai kenyataan yang ada sekarang. Kenyataan bahwa Sungmin bukanlah anak kandung dirinya dan Kangin.

.

.

Lexus LFA biru metalik milik Kyuhyun berhenti digerbang SM High School. Mereka berdua masih terdiam dari meninggalkan kediaman keluarga Cho hingga sekarang. Kyuhyun menghela nafas pelan lalu memiringkan badannya untuk menghadap Sungmin.

"gwenchana?" Tanya Kyuhyun seolah menyadarkan Sungmin dari lamunannya.

Sungmin menoleh dan tersenyum tipis. "aniyo, kenapa terus bertanya seperti itu?"

Kyuhyun membelai pipi Sungmin yang sudah sedikit menirus itu. "entahlah, aku merasa kau sedang tidak baik-baik saja. Apa ada yang menganggu fikiranmu?" Tangan Kyuhyun beralih mengelus helai rambut halus milik Sungmin.

"aku hanya memikirkan pelajaran yang agak sulit belakangan ini. Tenanglah, aku tidak apa-apa. Jangan khawatir."

Sungmin mendekatkan wajahnya dan mencium bibir Kyuhyun sekilas. "aku masuk dulu. Sampai bertemu nanti." Setelah berujar demikian, dia membuka pintu mobil dan berjalan masuk kedalam halaman sekolah luasnya.

Kyuhyun memperhatikan punggung Sungmin hingga menghilang dari pandangannya. Setelah itu dia menstarter Lexus LFA nya untuk melanjutkan perjalanannya menuju kampus.

.

.

Sungmin mengeluarkan ponsel merah mudanya saat benda berbentuk persegi itu bergetar dari dalam saku jas bleazernya. Pesan dari Kyuhyun yang mengatakan bahwa dia tidak bisa menjemputnya karena ada sedikit urusan.

Helaan nafas dikeluarkan Sungmin. Dia melangkahkan kakinya perlahan hingga halte bus yang tepat berada didepan sekolahnya. Mendudukan dirinya dikursi tunggu dengan beberapa murid lainnya.

Tak berapa lama bus datang dan beberapa murid sudah berdiri dan masuk kedalam bus. Tetapi tidak dengan Sungmin. Dia masih duduk dikursi tunggu sembari memainkan ponselnya. Rasanya dia enggan kembali cepat kerumah hari ini.

Matanya mulai berembun saat membuka folder-folder foto yang merekam jelas kebersamaan dirinya dengan keluarga Cho. Dari perayaan ulangtahunnya tahun lalu, liburan musim semi mereka di Jepang. Dan yang paling berkesan adalah kejutan yang dirinya dan Kyuhyun buat untuk kedua orangtuanya untuk memperingati anniversary pernikahan mereka.

"aku menyayangi kalian. Tapi kenapa harus seperti ini~" Lirihnya.

Sungmin terlalu larut dalam kesedihannya hingga tidak menyadari ada sesosok namja yang berseragam SM High School berdiri dihadapannya. "hei!"

Sungmin mendongakan kepalanya. Senyum manis muncul disudut bibirnya. "Henry-ah."

Henry mendudukan dirinya tepat disamping Sungmin, lalu dengan keponya dia melirik kearah objek yang sedang diperhatikan oleh yeoja itu sedari tadi. "lucu sekali." Komentarnya.

Sungmin mengikuti arah pandang pemuda itu. Sebuah potret dirinya yang sedang menangis dan mengerucutkan bibirnya sembari mengelus seekor kelinci putih hadiah dari keluarganya. Kangteuk yang ada disampingnya mencium kedua pipinya sedangkan sosok Kyuhyun yang sedang tertawa dibelakang mereka.

"kenapa belum pulang?"

"kau sendiri?"

Sungmin mengerucutkan bibirnya. "aku bertanya padamu! Kenapa berbalik tanya."

Henry tertawa pelan dan mencubit pipi Sungmin gemas. "aku barusaja berlatih dan melihat yeoja cantik yang sedang merenung dipinggir jalan, makanya aku dekati." Jawabnya dengan senyum jahil khas namja itu.

"hahaha… terserahmu lah Henry Mochi." Sungmin tertawa mengejek kearah namja berpipi seperti kue mocha itu.

"Ya! Kau dan Eunhyuk sama saja! Berhenti memanggilku Mochi. Bisa jatuh reputasiku sebagai ace tim basket sekolah jika para penggemarku memanggilku seperti itu juga."

"yayaya~ jadi aku harus memanggilmu apa? Henry si tampan? Henry Lau yang bersinar? Atau Henry Lau si tampan yang bersinar berpipi seperti kue mochi?" Sungmin tersenyum menyebalkan –bagi Henry- diucapan terakhirnya.

Henry memandang datar kewajah Sungmin yang sedang tertawa geli dengan ucapannya barusan. "sudah-sudah! Ayo aku antar kau pulang!" Dia mengibaskan lengannya dan menarik lengan Sungmin menuju Hyundai Equus hitam miliknya.

Sungmin hanya menuruti dari belakang, tak menyadari bahwa Henry tersenyum lega karena melihat yeoja itu kembali ceria seperti biasanya. 'teruslah tersenyum, Sungmin-ah!' Ucapnya dalam hati.

.

.

Hyundai Equus milik Henry berhenti tepat didepan gerbang kediaman keluarga Cho. Setelah berbincang sebentar dan mengucapkan terima kasih, Sungmin keluar dari mobil tersebut dan berjalan masuk kedalam halaman rumahnya.

Matanya memicing ketika melihat Jaguar milik Kangin dan LFA Kyuhyun yang terparkir manis dihalaman rumah. Jadi ini yang dibilang Kyuhyun ada urusan? Dengan keluarganya kah?

Dia membuka pelan pintu rumahnya, mengganti sepatu ketsnya dengan sandal rumahan dan berjalan pelan memasuki ruang keluarga. "aku pulang." Sungmin menundukan kepalanya seraya mengucapkan salam.

"oh, Sungmin-ah? Sudah pulang rupanya." Ucap Leeteuk.

"ne." Sungmin menegakan badannya. Dan alangkah terkejutnya dia melihat satu sosok yang sedang duduk diantara Leeteuk dan Kangin. "Kim Kibum?" Gumamnya.

"Sungmin kau sudah pulang?" Yeoja penyuka merah muda itu menoleh kearah Kyuhyun yang sepertinya baru kembali dari arah dapur.

"ne."

"Sungmin, sebaiknya kau ganti baju dahulu. Ada yang ingin kami bicarakan." Sungmin menganggukan kepalanya setelah mendengar perintah Kangin barusan.

Kyuhyun menatap jengah kearah Kangin dan dua wanita yang masih duduk diruang tamu, lalu matanya beralih kearah punggung Sungmin yang perlahan berjalan menaiki anak tangga. "apakah harus secepat ini? Kalian tidak merasa kasihan pada Sungmin?" Ujar Kyuhyun datar.

Kangin menatap putra bungsunya itu dengan tajam. "kau hanya perduli pada oranglain Kyuhyun. Tidakah kau memikirkan nasib adik kandungmu yang tinggal dengan oranglain?"

"apa peduliku? Hanya Sungmin yang ku kenal sebagai adikku, tidak ada yang lainnya."

"KYUHYUN! Jaga bicaramu!"

Kyuhyun tidak menghiraukan perkataan Kangin barusan, dia lebih memilih menaiki anak tangga hingga lantai dua dan mengetuk pintu kamar Sungmin. "Min, aku masuk."

Kyuhyun terdiam didepan pintu saat melihat Sungmin sedang meminum butir-butir obatnya yang lumayan banyak itu.

"ada apa?"

Kyuhyun tersenyum dan menggelengkan kepalanya. Dia berjalan mendekati Sungmin dan memeluk yeoja itu dari belakang. Sungmin hanya menatap pantulan Kyuhyun yang sedang mengecupi kepalanya tersebut dari cermin dihadapannya.

"bagaimana keadaanmu?"

"baik,"

"maaf aku tidak bisa menjemputmu tadi, Ayah menelpon ada urusan penting yang harus kami bicarakan."

Sungmin tersenyum tipis. "gwenchana. Aku diantar Henry tadi."

"benarkah?"

Sungmin mengangguk.

"apa ada masalah serius? Apa ini ada hubungannya dengan Kim Kibum?" Tanya Sungmin.

Kyuhyun hanya terdiam dan memandangi wajah Sungmin yang juga balik memandanginya. Tangannya terangkat untuk mengelus pipi Sungmin perlahan. "entahlah, kurasa iya."

Sungmin menangkap lengan Kyuhyun dan mengenggamnya didepan dada. "bagaimana perasaan kak Kyu?"

Kyuhyun menyerengitkan dahinya. "maksudmu?"

"bagaimana perasaan kak Kyu jika nanti aku pergi?"

"jangan berkata seperti itu!" Pandangan lembut Kyuhyun berubah tajam. Dan Sungmin yang ketakutan hanya menundukan wajahnya.

"Kyuhyun! Sungmin! ayo turun! Kita makan malam bersama." Suara Leeteuk masuk kependengaran keduanya. Kyuhyun menghela nafas perlahan lalu membimbing Sungmin untuk berdiri. "maafkan aku." Ucap Kyuhyun.

Sungmin yang berada didalam rangkulan Kyuhyun hanya menganggukan kepalanya.

Mereka berdua turun bersama. Dimeja makan, Leeteuk sedang menata hidangan makan malam mereka sedangkan Kangin dan Kibum sedang berbincang seru sampai keduanya tertawa.

Sungmin tersenyum tipis. Rasanya sudah lama sekali tidak melihat Kangin yang tersenyum lepas seperti itu. Dan belakangan ini dia juga jarang bertemu dengan Kangin. Kau beruntung Kibum. Gumamnya dalam hati.

"kalian, ayo duduk!" Ucapan Leeteuk membuat Kangin dan Kibum menoleh kearah Kyumin. Kyuhyun duduk disebelah kiri Kangin dengan Sungmin disampingnya, sementara Kibum duduk disamping kanan Kangin dengan Leeteuk disampingnya.

Mereka memulai makan malam itu dengan tenang. Sesekali Kangin menawari Kibum masakan istrinya yang harus dia coba.

Senyum sedih terlukis dibibir Sungmin. Dia memilih menundukan wajahnya dan memakan hidangan dihadapannya. Kyuhyun melirik kearah Kangin dan Kibum yang masih berbincang, kemudian kearah Sungmin yang sedang menyantap hidangan malam ini dengan diam.

Setelah makan malam selesai, Kangin mengintruksikan untuk seluruh anggota keluarganya berkumpul diruang tengah. Lagi. Kibum duduk diantara Kangteuk, sedangkan Sungmin duduk berdampingan dengan Kyuhyun.

"Sungmin."

"ne?"

Kangin menghela nafas perlahan dan kembali melanjutkan ucapannya. "sebelumnya kami minta maaf atas ini. Entah bagaimana ini bisa terjadi. Kibum, adalah putri kandung kami." Jelasnya.

Sungmin tersenyum sendu dan menundukan kepalanya. "ya, aku sudah mengetahuinya." Lirihnya.

Kyuhyun menoleh kaget kearah Sungmin. Bagaimana bisa?

"maksudmu?" Selidik Kangin.

Sungmin mengangkat wajahnya. "maafkan aku sebelumnya. Aku tidak sengaja mendengar ucapan kalian didapur beberapa hari yang lalu."

Leeteuk hanya dia dengan mata yang sudah berkaca-kaca. Jadi percakapan dengan suaminya beberapa hari yang lalu terdengar oleh Sungmin? Jadi ini yang menjadi alasan perubahan sikap Sungmin terhadap dirinya juga Kangin.

"yah, sekarang kau tau kebenarannya kan? Aku tidak memintamu untuk keluar dari keluarga ini. Tapi aku harap kau bisa menerima Kibum sebagai putri kandungku." Ucap Kangin.

"Ayah!"

"Kyuhyun-ah,"

Kyuhyun memandang geram kearah Kangin. "bagaimana—

Ucapannya terhenti ketika Sungmin mengenggam tangannya yang terkepal tersebut. "aku baik-baik saja. Tenanglah." Ucapnya.

Sungmin menoleh kearah Kangteuk dan Kibum. "terima kasih atas kebaikan kalian. Aku tidak akan melupakannya. Dan soal Kibum, aku akan menerimanya dengan senang hati." Ucapnya.

"hmm… apakah aku boleh keluar sebentar? Kebetulan aku melupakan beberapa perlengkapan untuk praktek besok." Izin Sungmin.

Kangteuk menganggukan kepalanya.

"biar aku mengantarmu." Sela Kyuhyun.

"ani, aku bisa sendiri. Aku sudah berjanji dengan Hyukie akan bertemu dengannya nanti." Cegah Sungmin.

"tapi Min—

"kak Kyu! Aku sudah janjian dengan Hyukie. Dia sudah menungguku diujung jalan. Jadi tidak usah mengantarku." Sungmin bangkit dari duduknya lalu membungkukan sedikit badannya kearah Kangteuk setelahnya dia berjalan keluar rumah.

"Kyuhyun, aku harap kau bisa menerima Kibum sebagai adik kandungmu." Kangin membuka suaranya setelah kepergian Sungmin.

Kyuhyun hanya memandang kedua orangtua dan Kibum secara bergantian. Tanpa mengatakan apapun dia bangkit dan berjalan kearah kamarnya dilantai dua. Tidak diperdulikannya teriakan Kangin maupun Leeteuk yang memanggilnya.

.

.

Sungmin mendudukan dirinya dibangku taman kota yang tidak jauh dari perumahannya. Dia berbohong tentang bertemu Eunhyuk. Alasan utamanya pergi keluar adalah untuk menenangkan diri.

Matanya mengedar untuk melihat beberapa remaja seusianya yang sedang meliukan badannya dengan iringan lagu dance yang cukup sering didengarnya(dipaksa Eunhyuk untuk mendengarnya), ada komunitas skateboard, dan banyak lagi.

Dia terlalu larut dalam keheningan itu tanpa menyadari bahwa Siwon berjalan dan duduk disamping kanannya.

"hei!"

Sungmin terkesiap mendengar suara yang dikenalnya itu dari jarak dekat. Dia langsung menoleh kearah kanan dan mendapati wajah Siwon yang tersenyum kearahnya. "kenapa melamun? Ada masalah?"

"kenapa Ka Siwon bisa ada disini?"

Siwon tertawa pelan mendengar pertanyaan Sungmin barusan. "ya tentu saja bisa. Ini taman kota dan terbuka untuk umum. Dan berarti aku bisa kesini kapanpun aku mau."

Sungmin menganggukan kepalanya.

"kenapa keluar malam-malam seperti ini? Dimana Kyuhyun?"

Sungmin menoleh kearah Siwon dan tersenyum kecil. "aku sedang menenangkan diri."

Alis Siwon saling bertautan mendengar jawaban Sungmin. "menenangkan diri? Kau sedang ada masalah?" Sungmin menganggukan kepalanya.

"apa sulit?"

"entahlah, bisa dibilang seperti itu."

Siwon mengelus bahu Sungmin dengan lembut. "kau bisa cerita padaku jika tidak keberatan." Ucapnya.

Sungmin tersenyum kecil lalu menundukan wajahnya. "aku bukan putri kandung keluarga Cho." Jujurnya.

Gerakan tangan Siwon berhenti perlahan. Diwajahnya tergambar jelas raut keterkejutan yang luar biasa. "maksudmu?"

"yah, aku bukan siapa-siapa bagi keluarga Cho. Aku hanya orang asing yang ada diantara mereka. Entahlah, aku juga tidak tau siapa diriku yang sebenarnya. Hah… kasihan sekalikan diriku ini?" Ucap Sungmin pelan.

Siwon langsung membawa tubuh mungil itu kedalam pelukannya. Mengelus punggung Sungmin dengan lembut. Dan perlakuan lembut Siwon itu membuat Sungmin terisak pelan.

"aku menyedihkan sekali bukan?" Siwon menggelengkan kepalanya mendengar pertanyaan lirih Sungmin barusan.

"aku tidak tau siapa diriku sebenarnya. Siapa orangtuaku." Gumamnya ditengah isakan tangisnya.

"Sungmin," Siwon hanya berusaha memberikan kelembutan dan kehangatan yang dibutuhkan Sungmin. Dia hanya memeluk dan mengelus helai rambut Sungmin guna menenangkan yeoja itu.

Beberapa menit kemudian Sungmin melepaskan pelukan mereka dengan perlahan. Tangan Siwon refleks untuk menghapus bulir-bulir airmata yang masih berada dipipi Sungmin. "ini adalah ujian untukmu. Dan yakinlah, bahwa Tuhan tidak akan memberikan ujian melebihi kemampuan umatnya." Ucapan Siwon barusan membuat Sungmin tersenyum geli.

"iya, aku tau itu. Pastor Choi!"

Siwon mengacak pelan rambut Sungmin lalu berdiri. Dia mengulurkan lengan kanannya kearah Sungmin. "ayo! Aku akan mengantarmu pulang!"

Sungmin meraih tangan itu dan segera berdiri. Menyetujui ajakan Siwon untuk mengantarnya.

.

.

Kyuhyun berdiri gusar didepan teras rumahnya. Jam ditangannya sudah hampir menunjukan pukul 10 malam, akan tetapi Sungmin belum juga kembali. Dia mengumpati tindakannya yang hanya mendiamkan Sungmin untuk pergi sendiri tanpa mengikutinya.

Bagaimana jika Sungmin pingsan dijalan?

"oh Shit!"

Dia barusaja berlari dan membuka pintu mobilnya, tetapi gerakannya terhenti ketika mendengar suara Sungmin yang sedang mengucapkan terimakasih kepada seseorang.

"Sungmin!"

Sungmin dan Siwon menoleh kearah Kyuhyun. Siwon tersenyum dan menundukan badannya. "kau masuklah, ini sudah hampir malam." Ucapnya pada Sungmin.

Sungmin menganggukan kepalanya dan berujar terima kasih. Siwon berjalan menjauh dan Sungmin terus memperhatikannya sampai bayangan namja berdimple smile itu menghilang digerbang perumahan mereka.

"Sungmin! Aku baru saja akan menjemputmu." Kyuhyun berlari menghampiri Sungmin.

"tidak perlu, aku baik-baik saja."

"bagaimana bisa Siwon yang mengantarmu pulang?" Selidik Kyuhyun.

"kami bertemu dijalan, dan dia ingin mengantarku pulang."

Kyuhyun menghentikan langkah Sungmin lalu memegang kedua bahu yeoja itu. "kau benar baik-baik saja?"

Sungmin memutar kedua matanya. "kak Kyu sudah menanyakan 'apakah kau baik-baik saja' seharian ini. Apa tidak bosan? Aku saja yang mendengarnya bosan!"

"aku hanya khawatir padamu. Apa itu salah?"

Sungmin terdiam mendengar jawaban Kyuhyun yang sepertinya tersinggung dengan kata-katanya. "tidak, aku hanya merasa kak Kyu memperlakukanku secara berlebihan. Padahal aku bukan siapa-siapa lagi bagi keluarga ini." Ucapannya melemah diakhir.

"hei, kau juga bagian dari keluarga ini. Apapun yang terjadi, kau tetap adik dan kekasihku yang paling kusayangi."

"tapi aku—

CHU~

Ucapan Sungmin terhenti saat Kyuhyun mendaratkan bibirnya tepat diatas bibir Sungmin. Hanya ciuman singkat dibibir Sungmin dan membuat yeoja itu terdiam. "sudah malam, sebaiknya kau istirahat." Kyuhyun mengelus pipi Sungmin sebentar lalu menggandengnya masuk kedalam rumah.

Mereka tidak menyadari jika sepasang mata dari balkon lantai dua yang melihat semua adegan yang baru saja terjadi itu.

o0o—

Pagi ini sama seperti sebelumnya. Tetapi berbeda bagi Sungmin. Dimana status dirinya yang bukan lagi bagian dari keluarga Cho telah menyebar keseluruh bagian SM High School. Saat dirinya berjalan dikoridor, banyak murid-murid membicarakannya.

Sungmin memilih jalan untuk ketaman belakang sekolah. Dia tidak berniat masuk kedalam ruang kelas saat ini. Memilih mendudukan dirinya ditaman luas yang biasa digunakan murid-murid jika jam istirahat.

Mendudukan dirinya disalah satu kursi besi dan memandang sendu kearah danau buatan yang ada dihadapannya.

Sedangkan diruang kelas, Eunhyuk sudah bolak-balik keluar kelas hanya untuk melihat apakah Sungmin sudah datang apa belum. Tidak biasanya yeoja itu belum datang hingga bel berbunyi beberapa menit yang lalu.

"dimana dia itu sih?!" Gumamnya.

"mencari sahabatmu, Lee Hyukjae?" Eunhyuk memutar bola matanya malas saat mendengar pertanyaan yang dilontarkan oleh Kibum.

"bukan urusanmu!"

Kibum tertawa pelan. "harusnya kau memberikan dukungan pada sahabatmu itu. Jika kau tidak ingin menemukan mayatnya tergantung di pintu toilet wanita." Ucap Seulgi. Salah satu teman satu genk Kibum.

"apa maksudmu?"

"sahabat macam apa kau ini? Kau tidak dengar gossip yang beredar hari ini yang menyatakan jika Sungmin bukanlah putri kandung keluarga Cho?"

Eunhyuk mendelik kearah Kibum dan kawan-kawan. "apa kau bercanda? Yang benar saja!" Dengusnya.

"itu sih urusanmu! Aku hanya memberitahumu." Eunhyuk memutar kedua matanya saat Kibum dan kawan-kawannya berjalan meninggalkannya.

Diantara rasa percaya dan tidaknya. Dia berjalan keluar kelas untuk mencari keadaan Sungmin. Biarlah kali ini dia bolos dipelajaran pertama. Yang terpenting adalah menemukan Sungmin dan mencaritahu kebenaran akan apa yang diucapkan Kibum dan kawan-kawannya itu.

"kau ini dimana Sungmin!" Gumamnya. Dia mengedarkan pandangannya disekitar taman belakang. Itu dia. Pekiknya dalam hati. Saat melihat sosok berambut pirang duduk dibangku besi dan menghadap danau.

"Sungmin-ah!"

Sungmin menoleh dan tersenyum kearah Eunhyuk yang duduk disebelahnya. "wae? Kenapa tidak dikelas?"

"aku mencarimu." Eunhyuk memiringkan badannya kearah Sungmin. "Min, tentang gossip yang beredar pagi ini—

"ya, itu benar!"

Eunhyuk terdiam dibuatnya. "maksudmu?"

Sungmin tersenyum kearah Eunhyuk lalu memandang danau buatan yang ada didepan mereka. "berita yang mengatakan bahwa aku bukan putri kandung keluarga Cho dan Kibum adalah putri kandung keluarga Cho yang sesungguhnya. Itu benar."

"Kibum?"

Sungmin menganggukan kepalanya.

Eunhyuk terenyuh melihat Sungmin. Bagaimana bisa gadis ini begitu tenang dengan kenyataan yang menimpanya kini. Mungkin jika kejadian ini terjadi padanya dia akan memilih bunuh diri.

"lalu?"

Sungmin menoleh dengan wajah bingung. "lalu?"

"keluarga kandungmu?"

Sungmin menaikan bahunya. "aku tidak tahu. Menyedihkan sekali bukan diriku? Bahkan aku tidak tau harus menggunakan marga apa didepan namaku."

Mata Eunhyuk sudah berkaca-kaca. "Sungmin~" Yeoja yang gemar menari itu langsung memeluk Sungmin dengan erat dan menangis sesengukan.

"ya! Kenapa kau yang menangis Hyuk?" Tanya Sungmin geli. Tapi tidak dipungkiri bahwa matanya sudah terlapisi krystal bening yang siap turun kapan saja.

"bagaimana bisa kau setegar itu Sungmin-ah?" Ucapnya ditengah isakan.

Sungmin hanya terdiam dan mengelus punggung Eunhyuk dengan lembut. Dia sedikit terkejut saat Eunhyuk melepaskan pelukan mereka dengan cepat.

"bagaimana jika kau diasuh oleh keluargaku dan mengunakan marga Lee. Lee Sungmin? Tidak buruk juga." Ucap Eunhyuk. "lagipula, aku ingin merasakan punya kakak perempuan. Ya! Sungmin-ah, kau mau kan?" Bujuknya.

Sungmin hanya tertawa menanggapi ucapan Eunhyuk barusan. Eunhyuk bersyukur, sosok dihadapannya ini sudah kembali tertawa. Dia bersumpah akan selalu ada disamping Sungmin, dia tidak ingin melihat wajah cantik itu dipenuhi oleh guratan kesedihan ataupun tatapan kosong.

o0o—

Next Day

Mobil Lexus LFA milik Kyuhyun berhenti didepan gerbang SM High School. Kibum yang hari ini berangkat bersama Kyumin sudah terlebih dahulu keluar setelah mengucapkan terima kasih pada Kyuhyun.

"kenapa tidak masuk?" Kyuhyun bertanya kepada Sungmin yang tidak kunjung keluar dari mobilnya.

Sungmin menoleh dan menganggukan kepalanya. Mencium pipi Kyuhyun dengan kilat dan langsung berjalan masuk bersama murid-murid SM High School lainnya.

Kyuhyun menatap bahu Sungmin sebentar dan langsung melajukan mobilnya untuk pergi ke Kyunghee University. Tempatnya menuntut ilmu kini.

Setelah mobil Kyuhyun benar-benar menjauh dari gerbang, Sungmin melongokan kepalanya sembari berjalan keluar. Suatu keuntungan baginya karena penjaga gerbang sekolah sepertinya belum terlihat karena ini masih jam 7 pagi. Biasanya penjaga datang pada jam 7.30.

Dia menyebrang jalan dan menyusuri pertokoan lalu berhenti di toilet umum. Tak beberapa lama kemudian, Sungmin keluar dengan pakaian santai. Celana jeans biru dongker dan baju panjang berhodie putih. Dia melangkahkan kakinya dan berhenti dihalte bus.

Drtt…

Sungmin mengeluarkan ponselnya dan membaca pesan singkat yang dikirim oleh Eunhyuk. Yang berisikan dia harus hati-hati dan jaga kesehatan, juga meminta maaf karena tidak bisa menemaninya. Bus yang ditunggunya datang dan dia melangkah masuk kedalam bis dan mendudukan dirinya dikursi paling belakang.

Setelah perjalanan kurang lebih 2 jam. Papan penunjuk jalan memberitahukan bahwa bus yang ditumpanginya kini sudah memasuki kawasan Ilsan, Sungmin mengedarkan pandangan kearah jendela luar.

Beberapa menit kemudian, dia berdiri setelah dirasa tujuannya sudah hampir sampai.

Ting…

Pintu bus terbuka dan dia melangkah keluar. Tepat berhenti didepan sebuah sekolah dasar yang cukup terkenal didaerah tersebut. Ini adalah sekolah lamanya dulu sebelum dia pindah ke Seoul.

Melangkah dengan perlahan menyusuri jalanan kota kelahirannya dengan langkah tenang dan langkahnya terhenti didepan sebuah bagunan besar bertuliskan Ilsan Hospital. Dia melangkah masuk dan berdiri didepan meja resepsionis.

"ada yang bisa kami bantu Nona?" Tanya perawat berambut hitam itu.

Sungmin mengigit bibirnya gelisah. Apa yang harus dia katakan sekarang?. "hm… aku mau mencari data tentang orangtuaku."

Perawat berambut hitam itu menaikan alisnya. "apakah orangtua anda dirawat dirumah sakit ini?"

"aniya, aku dilahirkan dirumah sakit ini. Tetapi aku tidak pernah bertemu dengan kedua orangtuaku. Bisakah kau memberitahu siapa orangtuaku? Kumohon!" Pinta Sungmin.

"maaf, segala informasi tentang pasien disini tidak bisa diberikan kepada sembarang orang. Kami harus memastikan bahwa anda benar-benar keluarga pasien."

"tapi—

"maaf. Itu sudah kebijakan rumah sakit dan kami tidak bisa melanggarnya." Sungmin mengangguk mengerti dan beringsut menjauh dari meja resepsionis itu. Hah… bagaimana dia mencari tahu dimana orangtuanya kini?

Dia mendudukan dirinya dikursi yang berada ditaman rumah sakit. Sedikit bingung kemana tujuannya setelah ini.

"Jae?" Tepukan pelan dipundaknya membuat Sungmin menoleh. Matanya menangkap sosok perawat yang berusia sekitar 40 tahunan itu berdiri dibelakangnya.

"maaf, aku bukan Jae. Mungkin anda salah orang." Ucap Sungmin sopan sambil tersenyum.

Sosok perawat itu membulatnya matanya setelah melihat senyum Sungmin. Senyuman itu persis dengan seseorang yang sangat dikenalnya beberapa tahun silam. Dengan perasaan bahagia yang membuncah, perawat tersebut memeluk Sungmin penuh rindu.

"akhirnya aku bisa melihatmu."

Sungmin melepaskan pelukan perawat tersebut dengan pelan. "apakah anda mengenalku?" Tanya Sungmin.

Sosok perawat itu memandang sendu kearah Sungmin. "aku tidak mengenalmu, aku hanya melihatmu sewaktu kecil." Jawabnya.

Mata Sungmin berkilat senang. Apa mungkin perawat dihadapannya ini mengenal orangtuanya saat melahirkan dirinya dulu?

"suster—"

"Oh Hyunjung, panggil saja suster Oh."

Sungmin menganggukan kepalanya. "suster Oh, apa anda mengenal orangtuaku?" Tanya Sungmin.

"aku sangat mengenal ibumu." Lirihnya.

Sungmin dapat menangkap kesedihan diucapan suster Oh itu. "dimana sekarang ibuku berada?"

Suster Oh menarik lengan Sungmin untuk berdiri. "ayo—

"Sungmin. Panggil aku Sungmin!"

Suster Oh tersenyum dan mengangguk. "ayo Sungmin-ah, aku akan mengantarmu bertemu dengan ibumu." Ajaknya. Sungmin tersenyum senang. Akhirnya perjalanannya kini tidak sia-sia. Dia bisa bertemu dengan keluarganya dan keluar dari kediaman keluarga Cho.

.

.

Sungmin menyerengit heran saat suster Oh membawanya keatas sebuah bukit. Agak jauh dari rumah-rumah penduduk dibawah sana. Jadi, ibunya tinggal diatas bukit?

Suster Oh berhenti melangkah begitu juga dengan Sungmin didepan sebuah gundukan tanah berumput. Wanita berpakaian perawat itu membalikan badannya untuk menghadap Sungmin. "kau sudah bertemu dengannya, Sungmin-ah."

Sungmin berjalan maju. Iris beningnya mulai berkaca-kaca saat melihat sebuah potret wanita cantik berambut pirang-sepertinya- diletakan diujung nisan. Kim Jaejoong. Nisan itu terukir dengan cantik Hangeul untuk Kim Jaejoong.

Rintik hujan mulai turun dari langit. Sepertinya langit mengerti dengan apa yang dialami yeoja muda itu. Suster Oh menuntun Sungmin untuk kembali kerumahnya sebelum hujan semakin deras.

.

.

Hari semakin sore dan hujan juga belum akan berhenti. Sungmin memandang kearah bukit dimana makam ibunya berada. Dari beranda rumah suster Oh, dia bisa melihat dengan jelas.

"Sungmin-ah, sebaiknya kau menginap saja disini dahulu. Sepertinya hujan akan berhenti esok pagi jika begini." Suster Oh berkata sembari memberikan secangkir coklat panas pada Sungmin.

"terimakasih suster Oh."

"kau sangat mirip dengan ibumu." Ucap Suster Oh.

"bisakah suster menceritakan bagaimana ibuku? Dan apakah aku punya seorang ayah?"

Suster Oh terdiam sebentar mendengar pertanyaan terakhir Sungmin. "kau sangat mirip denganya. Hidung. Bibir. Cara kalian berbicara dan tersenyum. Kalian sangat mirip."

"lalu Ayahku?"

Suster Oh menghela nafas panjang. "Ayahmu—

Suster Oh menceritakan semua apapun yang menjadi rahasia yang dipegangnya selama kurang lebih 17 tahun ini. Tentang Sungmin, Jaejoong dan Ayahnya.

.

.

Eunhyuk berjalan santai keluar gerbang. Senyum yang dilukisnya untuk Donghae memudar saat melihat sosok Kyuhyun yang sedang bersandar di Lexus biru metalik miliknya.

"hei chagi," Eunhyuk hanya tersenyum kaku untuk menjawab sapaan Donghae barusan.

"dimana Sungmin?"

Great! Eunhyuk hanya bisa merutuki kebodohannya. Kenapa dia bisa lupa jika Kyuhyun dan Donghae pasti bersama-sama untuk menjemput dirinya dan Sungmin. Eunhyuk barusaja akan membuka bibirnya, tetapi disela oleh suara lain.

"Sungmin tidak masuk kelas hari ini." Eunhaekyu menoleh kebelakang. Tepat dimana Kibum berjalan santai kearah mereka bertiga.

"apa maksudmu, Kibum?"

Kibum mendekat kearah Kyuhyun. "Sungmin tidak masuk ke kelas hari ini. Bahkan dari jam pelajaran pertama."

Kyuhyun mematung mendengar ucapan Kibum barusan. Bukankah tadi dia melihat Sungmin masuk kedalam gedung sekolahnya? Kenapa tidak masuk kelas. Jadi kemana yeoja itu sekarang berada?

"kau tau dimana Sungmin, Eunhyuk-ah?" Tanya Kyuhyun langsung.

Eunhyuk tergugup. Antara memberitahu Kyuhyun atau tidak. Pasalnya dirinya sudah terlanjur janji pada yeoja itu untuk tidak memberitahu pada siapapun. Termasuk Kyuhyun.

"Hyuk! Tolong! Aku tidak bisa membiarkan dirinya berada diluar sana sendirian. Dia tidak sesehat kelihatannya." Mohon Kyuhyun.

Eunhyuk mengigit bibir bawahnya ragu. Haruskah? Dia melirik kearah Donghae yang balik memandangnya sembari menganggukan kepalanya. "Sungmin, pergi ke Ilsan."

"sial! Kenapa tidak terfikirkan!" Kyuhyun mengumpat dan dengan segera masuk kedalam mobil dan menggas Lexus LFA itu dengan kecepatan diatas rata-rata. Meninggalkan Haehyuk dan Kibum yang berteriak memanggilnya.

"haish, anak itu!" Gerutu Donghae.

Eunhyuk mengoyangkan lengan Donghae. "ayo kak Hae kita pulang." Ajaknya.

Donghae menganggukan kepalanya dan menoleh kearah Kibum. "mau pulang bersama dengan kami, Kibum-ah?" Tawarnya.

Eunhyuk melotot heboh mendengar tawaran Donghae untuk yeoja dingin itu. Oh ayolah ikan! Kekasihmu ini sangat membenci yeoja dingin itu.

"tidak terima kasih." Setelah berujar demikian, Kibum berjalan menjauh dari Haehyuk dan menyetop sebuah taksi.

Eunhyuk mendecih sebal melihat tingkah angkuh Kibum. Makin besar kepala sekali dia. Gumamnya dalam hati.

.

.

Kyuhyun mengerem mobilnya dalam saat dirinya sudah sampai didepan rumahnya. Tanpa mengucapkan salam ataupun mengganti sepatunya dengan sandal rumahan.

Brak…

Kangin dan Leeteuk yang sedang bersantai diruang keluarga tersentak mendengar suara bantingan pintu yang begitu keras. Tak lama muncul Kyuhyun yang berjalan cepat-setengah berlari- untuk menaiki anak tangga yang berada tepat didepan ruang keluarga.

"Kyuhyun! Mana sopan santunmu pada orangtua!" Tegur Kangin. Sebenarnya dia agak heran dengan anak laki-lakinya itu. Biasanya Kyuhyun memberisalam dengan sopan dan sedikit berbincang dengannya atau istrinya baru kembali kekamar.

Kyuhyun menghentikan langkahnya. Memutar badannya untuk menatap kedua orangtuanya dengan wajah dinginnya. "kalian puas sekarang?" Ucapnya datar.

"apa maksudmu, Kyuhyun-ah?" Suara Leeteuk terdengar.

"Sungmin pergi. Kalian puas sekarang? Ini kah yang kalian inginkan?" Nada bicaranya sudah naik satu oktaf. Tanpa menunggu tanggapan kedua orangtuanya, dia berlari menaiki anak tangga. Masuk kedalam kamarnya lalu mengeluarkan ransel besar dan memasukan asal baju-bajunya kedalam ransel.

Dia berlari menuruni anak tangga, tetapi langkahnya terhenti dibawah anak tangga dimana Kangin dan Leeteuk berdiri berdampingan.

"mau kemana kau?"

"mencari Sungmin!"

Leeteuk memagang lengan Kyuhyun. "dimana Sungmin, Kyuhyun-ah? Apa ada sesuatu yang terjadi dengannya?" Tanyanya khawatir.

"maaf Bunda, aku juga tidak tahu. Tapi aku tahu kemana tujuan Sungmin pergi." Kyuhyun melepaskan lengan Leeteuk dan langsung berjalan keluar dengan tergesa. Bahkan dia tidak mengindahkan sapaan Kibum yang baru masuk kedalam rumah.

"Ayah, Bunda ada apa? kenapa Kak Kyu bawa ransel sebesar itu?" Tanya Kibum.

Kangin menoleh, tersenyum dan menggelengkan kepalanya. "kau masuklah kekamarmu. Nanti kita makan malam bersama." Suruhnya.

Kibum mengangguk dan menaiki anak tangga. Berjalan pelan menuju kamarnya dilantai dua. Samar-samar dia bisa mendengar percakapan Kangin dengan bawahannya mungkin-via telfon- menyuruh mereka untuk mengikuti Kyuhyun sekaligus mencari Sungmin.

.

.

Sosok yeoja bermata sipit itu berdiri didepan sebuah rumah besar bergaya Victoria. Kediaman keluarga Lee. Dikedua tangannya terdapat sebuah kotak berukuran sedang berwarna biru yang terbungkus dengan rapih.

Dia menekan bel dan tak lama kemudian pagar kecil yang berada didepannya itu terbuka. Nampaklah sesosok namja tegang berpakaian hitam dihadapannya. "ada yang bisa saya bantu?"

Yeoja itu tersenyum tipis. "bisa tolong sampaikan ini pada Lee Zhoumi?" Yeoja itu mengulurkan kotak ditangannya pada sosok didepannya dand penjaga itu menerimanya dengan segera. "kalau boleh tahu, anda siapanya Tuan muda?"

"saya temannya. Tolong sampaikan dengan segera pada Lee Zhoumi, saya mohon." Pintanya.

Penjaga itu menganggukan kepalanya. "terimakasih." Yeoja itu berujar sembari membungkukan badannya. Lalu dia berjalan menjauh dan menaiki sebuah Hyundai Equus hitam yang berada didepannya.

Donghae dan Eunhyuk sedang duduk santai diruang tv keluarga Lee. Tak lama, sosok Zhoumi turun dan mendudukan dirinya di single sofa yang berdampingan dengan Haehyuk.

"kalian baru kembali?"

Eunhyuk menoleh kearah Zhoumi. "iya, ada sedikit masalah tadi." Jawabnya.

"soal?"

Donghae membuka suaranya. "kau tau kan apa yang dikatakan Kyuhyun tadi?" Zhoumi menganggukan kepalanya. "mungkin karena itu, Sungmin pergi ke Ilsan untuk mencari keluarganya." Donghae berpendapat.

"yeah, Kyuhyun sangat mencintai Sungmin. Sudah pasti dia akan mencari kekasihnya itu." Ujar Zhoumi.

Eunhyuk mengerutkan keningnya mendengar percakapan kekasih dan kakak laki-lakinya itu. "apa maksud kalian dengan mencintai dan kekasih? Kak Kyu dan Sungmin?" Tanyanya.

"Sungmin tidak cerita padamu chagi?" Eunhyuk menggelengkan kepalanya mendengar pertanyaan Donghae.

"mereka berdua adalah sepasang kekasih,chagi."

"benarkah? Sungmin tidak pernah berkata apapun padaku." Ucap Eunhyuk.

"mungkin belum waktunya."

"maaf Tuan Muda, ada paket kiriman untuk anda." Tiba-tiba seorang bodyguard muncul dan berdiri dihadapan ketiganya.

Zhoumi menerima kotak itu dengan dahi berkerut. "dari siapa?"

"maaf Tuan, Nona itu tidak menyebutkan namanya. Hanya mengatakan bahwa dia adalah teman anda." Jawabnya.

"yeoja?" Celetuk Eunhyuk. Dengan rasa kepo yang tinggi, dia bangkit dari duduknya dan menghampiri Zhoumi. Mendudukan dirinya dipinggiran sofa yang diduduki Zhoumi.

"ayo buka! Apa isinya?"

Sembari berfikir, Zhoumi membuka kotak berwarna biru tersebut. Hanya ada boneka toy story woody kesuakannya dan Mario Bross. Dan dua pucuk surat?

"ya! Kenapa pengemarmu mengirimimu boneka? Seperti perempuan saja!" Celetuk Donghae sambil terkekeh.

Zhoumi tidak menghiraukan godaan Donghae maupun adiknya yang sedang mengangkat tinggi-tinggi dua boneka itu. Tangannya mengambil dua surat tersebut. Surat pertama berwarna biru dan satunya lagi surat dengan logo rumah sakit international yang berada diSeoul.

Hanya satu orang yang tahu akan kesukaannya dengan kedua benda itu. Seolah membuktikan,pertama dia membuka surat berwarna biru itu dan membacanya dengan seksama. Sesekali ekspresi terkejut tergambar diwajah tampannya. Setelah itu dia membaca surat yang kedua, matanya membulat kaget saat membaca data-data tentang hasil penelitian. Dan disana tertulis dengan jelas kata Xian Hua dan sirosis?

Dengan tergesa Zhoumi segera bangkit dari duduknya. "Hae, kupinjam mobilmu!" Pintanya.

"untuk apa? kau kan punya mobil sendiri." Jawabnya dengan nada menyebalkan.

Zhoumi mengendus pelan. "ayolah Hae! Ini sangat darurat!"

Donghae mengangguk lalu merogoh kantung celananya dan menyerahkannya pada Zhoumi. Setelah kunci ada ditangannya, Zhoumi segera berlari keluar secepat mungkin. Tidak dihiraukannya teriakan Eunhyuk juga Donghae.

'Xian, please. Tunggu aku.' Gumamnya dalam hati.

o0o—

Kyuhyun melajukan mobilnya di hari yang masih pagi. Padahal dia sudah sampai Ilsan dari kemarin sore. Tetapi hujan deras dan angin yang cukup kencang membuat dirinya mengurungkan niatnya untuk mencari Sungmin demi keselamatannya juga.

Dia menghentikan Lexus LFA nya didepan sebuah rumah sakit. Ilsan Hospital.

Hawa dingin serta kabut sisa hujan deras semalam masih terasa. Akan tetapi tidak dengan sesosok yeoja yang tengah berdiri didepan sebuah gundukan tanah basah. Ditangan kanannya terdapat satu ikan bunga Lily putih. Bunga kesukaan ibunya-menurut cerita suster Oh-.

"eomma, aku datang." Ucapnya.

Sungmin perlahan merendahkan tubuhnya untuk berjongkok dan menaruh bunga Lily putih itu disamping pigura ibunya. Mengelus wajah cantik dari bingkai itu dengan lembut. "eomma, kenapa kau meninggalkanku secepat ini? aku bahkan belum bertemu denganmu dan mengucapkan terima kasih karena telah melahirkanku."

Hanya hembusan angin pelan yang menjawab segala ucapan Sungmin.

"eomma, apakah aku akan bernasib sama sepertimu? Meninggal karena Leukimia?"

Bulir-bulir airmata sudah menggenang dipelupuk matanya. "eomma~ aku kesepian. Hiks… Aku sendirian dan tidak punya siapa-siapa lagi selain dirimu. Hiks… kenapa kau meninggalkanku secepat ini!" Ucapnya sambil terisak hebat dan memeluk nisan itu dengan erat.

"eomma~" Lirihnya.

Sungmin bisa merasakan cairan hangat keluar dari hidungnya. Refleks tangannya mengelap cairan itu. "eomma lihatkan? Aku akan mati dengan penyakit ini."

"Sungmin,"

Yeoja itu menegakan badannya. Lalu memutar pandangannya kebelakang. Sosok Kyuhyun berdiri tegap dihadapannya. "Kak Kyu." Lirihnya.

Grep…

Kyuhyun langsung berjongkok dan memeluk Sungmin dengan rindu. "Sungmin, jangan pernah tinggalkan aku." Ucapnya.

Sungmin mengangguk dalam pelukan Kyuhyun. Dia membutuhkan ini, butuh pelukan Kyuhyun yang menenangkannya.

Dari jarak yang lumayan jauh dari mereka berdua. Terlihat seorang laki-laki tinggi memakai topi dan berkupluk itu memandangi mereka berdua dengan tatapan sendu. Setangkai bunga Lily putih terlihat disela-sela tangannya.

.

.

To Be Continue

Oke, kalian semua gak usah nimpuk saya pake apapun itu karena updatenya yang supeeeer duper lama. Well, kalo kalian sering baca karyaku pasti tau dong *wink. Oke, kayaknya Chapter depan bakalan ending, sebenernya mau dijadiin satu sih tapi kayaknya kepanjangan banget yaa jadi ditunggu aja #plak. Yosh! Semoga Chapter ini memuaskan ya, ini udah lebih dari 5000words lho.

Untuk yang udah sempetin baca dan review aku ucapin makasih banget loh. Ditunggu tanggepannya lagi ya :D. well, untuk pertanyaan siapa anak kandung Kangteuk dan penyakitnya Xian udah kejawab ya. See you in last chapter (maybe)~~

Thanks to : zoldyk | zaAra evilkyu | love haehyuk | clouds1489 | kyumin07 | Cho meiwa | JOYELPEU137 | kyuminkyumin | 8687 | Heldamagnae | Reyza Apriliyani | HaeSan | cho nichi | Chacha | ika cho seundul | lee sunri hyun | SungrinLoveKyuMin | young | Seiqas | KimHyunRaELF | Tyas rachma | rani | Kyumin Town | 137Lvoe and guest | maaf jika salah tulis nama ya ^^.

.

.

.

Last, Review?

-Thania Lee-