Disclaimer: Shin Megami Tensei: Persona 4 dan series lainnya tepat punya ATLUS. Dan...Sig Sauer P220 Combat...dapet dari Wikipedia.

Genre: Adventure, Suspense

Warning(s): Multichapter, drabble, mungkin saja tidak -ganti POV, Chara death.

A/N: Sedikit variasi, sekarang Author Notes ada diatas *plak* yak, saya mau ngejelasin soal background setting fanfic ini. Malebolge, Cocytus, Caina, Antenora, Ptolomea, Judecca, Empyrean adalah nama-nama pintu yang saya ambil dari Abyss of Time dari P3FES, jadi bila judul chapternya berawal dari nama-nama pintu itu, berarti chapter itu merajuk pada petunjuk selanjutnya...yah, begitulah kira-kira penjelasan saya, ada yang mau ditanyakan?

Oh ya bocoran lagi, pintu kedua ini bukan menuju memori seseorang. *dihajar* Dan, yah, selamat membaca dan terima kasih sudah memberikan review dan support...ini cerita saya dengan reviewer terbanyak saat ini *tebar-tebar sedot WC* ...Ehem.

Well, let us begin the second part of five Cocytus parts. Keep R&R/Con-Crits semuanyaaaa~!


A Lone Prayer

Kuroi-Oneesan (c) 2011


.

Cocytus, Rage

"Ah, ini dia kabut itu..." ucap Kanji seraya mereka berdua turun dari bus. Kabut yang ia lihat beberapa waktu lalu tengah menyelimuti kota. Naoto yang ikut disana berbekal diri sebuah pistol dan peluru terbatas, tetapi Kanji sendiri tidak membawa senjata.

"Kau tidak punya senjata, Tatsumi Kanji?"

"Jangan khawatir, di dekat sini ada toko senjata..."

"Kalau kau mencuri, kau akan kupenjarakan setelah ini,"

"Hah, dasar cewek sok tahu aturan." Kanji mendengus.

"Tung—KAU! Kenapa kau bisa tahu aku ini wanita!"

"Oh? Entahlah," jawabnya santai. "Ayo maju, detektif."

Kedua orang itupun maju, walaupun terhalang kabut, mereka menyusuri trotoar mencari jalan. Dan mereka berdua pun bertemu tiga orang yang belum juga bergerak dari tempatnya tepat di sekitar Daidara Metalworks.

"Jangan bergerak!" Naoto menggertak, memamerkan moncong Sig Sauer P220 miliknya pada tiga orang tersebut.

"Kanji-kun, Naoto-kun!" Rise yang mengenali suara tersebut malah terdengar menyapa mereka—membuat dua orang itu bingung—yah, tidak untuk Kanji. Naoto sendiri tampak mengenali Yukiko—gadis yang ia beri label 'mencurigakan' yang ia tak sengaja temui beberapa hari yang lalu.

"Ohh, kau lagi Kujikawa?" seru sang preman. "Sedang apa kau...disini? Dan...oh, hai, Amagi-senpai, tidak kusangka kau tahu tentang Kujikawa."

"Kami? Kami sedang bersiap-siap," jawab Rise. "Kalian sendiri, kenapa kalian kemari? Kalian—"

"Ah, saya disini hanya ingin membuktikan apa yang dikatakan Tatsumi Kanji ini benar," Naoto dengan cepat menjawab—ia benci kalau malahan ia yang diinterogasi.

Yukiko tidak berkata apapun, ia hanya memperhatikan keadaan tanpa berani masuk ke dalam pembicaraan. Teddie masih asyik dengan kacamata selagi pembicaraan ketiga adik kelas itu berlangsung.

"Hmm, jadi Kanji-kun melawan Shadows dan tiba-tiba setelah kabut hilang Shadows itu kembali ke manusia?" Rise menyimpulkan. "Jadi teori senpai dan Teddie benar,"

"Teori?" Naoto menaikkan alisnya. "Maksudmu apa, Kujikawa-san? Tampaknya ada jurang di obrolan ki—"

Sayangnya, waktu tenang mereka harus terganggu oleh suara berisik dan gemuruh yang berlangsung dalam waktu detik. Sebuah—tepatnya—shadow tinggi yang tersusun dari tiga orang murid wanita dengan seorang wanita berambut panjang hitam yang bahkan menyentuh jalanan aspal serta mengenakan topeng berwarna kuning dengan pecut sebagai senjata mendekati mereka.

"APA-APAAN ITU!" teriak Kanji melihat makhluk besar itu mendekat. Pemuda itu entah kenapa merasa gentar, tetapi makhluk itu—ia merasa familiar—dan ia ingin melawannya.

"...Cih, apalagi ini..." Naoto menggeram melihat makhluk yang tak pernah ada dalam fantasinya tersebut. Sama seperti Kanji, ada keinginan untuk menjatuhkan makhluk tersebut. Dipegangnya erat Sig Sauer P220 itu dan mulai mengarahkannya ke arah Shadow tersebut.

"Naoto-kun, jangan tembak!" Rise menghentikan gerakan tangan detektif muda itu.

"S-S-Shadows, kumaaaaa~!" pekik Teddie panik, kacamata setengah jadi yang ia pegang nyaris saja jatuh pecah.

Yukiko mengambil posisi depan, kartu tarot serta kipas andalannya tengah berada di genggamannya. "Rise-chan, aku percaya dengan analisismu dan Teddie—"

"Aku ikut Yuki-chan melawan Shadows, kuma!" Teddie memposisikan diri di sebelah Yukiko.

"Amagi-senpai, aku ikut!"

"Amagi Yukiko-san, izinkan aku ikut serta!"

"Tidak, Kanji-kun, Naoto-kun, ini berbahaya!"

"Lebih berbahaya lagi kalau kau bertempur berdua saja, senpai!" sergah Kanji. "Tenang saja, tanpa senjata pun, Tatsumi Kanji ini tak terkalahkan!"

"Hei Kanji-kun, pakai ini, pakai ini!" Rise menunjukkan sebuah kursi lipat—sepertinya ia dapat dari dalam ruang baca di toko buku terdekat. Kanji langsung mengambilnya tanpa banyak bertanya.

"Baiklah...serang, kumaaaaaa!"

Dalam komando, Rise mundur agak jauh dan memanggil Kanzeon-nya dan berusaha mencari kelemahan musuh. Naoto dan Kanji berada di garis belakang dengan senjata mereka masing-masing, Yukiko dan Teddie berada di lini depan, siap memanggil Persona kapanpun.

Shadows itu berhenti bergerak, kini ia tepat di jarak tembak para Persona-users.

"Aku adalah Shadows, diri yang sebenarnya." Suara Shadows itu lumayan memekakkan telinga. "Yukiko... pendosa sepertimu, kau akan mati di tanganku!"

Sesaat sebelum melayangkan serangan pertama, gadis berbando merah itu menghentikan langkahnya, membiarkan Kanji menghantamnya duluan menggunakan kursi lipat.

"Senpai? Ada apa?" navigator party itu bertanya.

Yukiko bergumam, "Chie...?"

.

Sementara itu, sang wanita berambut putih pualam itu duduk di atas rumah dimana Daidara Metalworks berada. Ia kembali seperti saat itu, tidak bereaksi, tidak membantu, hanya sekedar pengamat. Ia hanya melihat pertarungan dengan mata kuningnya seraya duduk menikmati tebalnya kabut yang menyelimuti kota.

"Jadi... Shadows-Shadows yang ia lawan berkumpul ke arahnya...?" entah kenapa ia tersenyum, seperti menemukan sebuah harta karun. "Jadi kunci yang kuberikan padanya itu berguna,"

Kunci, ya, kunci. Kunci tak berwarna yang ia temukan tepat di dalam Compendium milik Seta Souji setelah sang pemilik buku itu meninggal, Margaret sendiri sebagai pemegang buku tersebut tidak tahu apa arti kunci tersebut. Igor sendiri tak bisa menyimpulkan apapun, yang master Velvet Room tahu, kunci itu bernama Boundary Key.

Dari pengamatan Margaret sendiri, ia menyadari bahwa setelah ia memberikan kunci itu kepada tamu Velvet Room yang sekarang, kunci itu mulai menunjukkan warna—kunci itu berwarna merah muda setelah ia melalui pintu menuju ingatan sang gadis navigator. Margaret pun menyimpulkan, gadis berbando merah itu mungkin 'kunci' yang ia cari.

Demi menemukan Souji.

Wanita itu turun dari atas gedung dengan sekali lompatan sempurna. Ia berusaha menikmati pertarungan itu dari dekat tanpa terlacak oleh sang navigator.

"Hmhm..." senyumnya makin meruncing. "Apa aku rebut saja kunci itu darinya...? Ia pasti masih memegangnya."

.

To be continued.