A/N : Biar reader nggak bingung, saya jelaskan dulu inti dari denah rumah kontrakan (soalnya ada juga yang saya lupa nggak sebutkan di chapter-chapter sebelumnya, hohoho). Jadi intinya, di atas ruang tamu lantai 1 itu teras lantai 2, di atas kamar Kise & ruang santai (yang berhadapan) itu kamarnya Kuroko & Murasakibara (yang berhadapan juga). Terus atasnya kamar Aomine dan Midorima itu gudang dan kamar mandi lantai 2. Selanjutnya di atas dapur dan kamar mandi lantai 1 itu beranda buat jemuran, dan dulunya juga dipake sebagai taman. Bisa kan bayangin denahnya? Saya buat simpel biar ga repot mendeskripsikannya #author pemalas.

Disclaimer : Sama seperti sebelumnya.


.

.

.

"Jadi bagaimana ini-ssu?" Kise menyesap coklat hangatnya. Wajahnya masih pucat dan ekspresinya murung. Yang lain juga kurang lebih berwajah sama. Wajar saja, ini pertama kalinya mereka diserang begitu. Biasanya si hantu hanya menakut-nakuti saja. Apakah karena mereka sudah mengganggu zona nyamannya?

"Kurasa dia marah. Kita sudah berusaha mengusirnya. Terlebih lagi seenaknya memasuki sarangnya—gudang itu." Kata Kuroko, yang tampak seperti gumpalan dengan selimut membungkus seluruh tubuhnya. Mereka semua berada di kamar Akashi, tengah merapatkan apa yang sebaiknya dilakukan. Besok hari sabtu, dan semuanya sepakat ijin ke sekolah dengan alasan sakit. Pokoknya masalah hantu ini harus diselesaikan secepatnya, takutnya nanti expired. Bisa gawat kalau hidup lima orang penghuni kontrakan itu juga ikut expired.

"Tapi kita sudah menemukan petunjuk, kan. Dia pasti dibunuh di gudang itu. Dan mayatnya kemungkinan ada di bawah lorong yang kemarin itu." Ujar Aomine, sok-sokan berlagak menjadi detektif.

"Mungkin dibalik lemari Aomine-nanodayo." Midorima membetulkan kacamatanya yang sudah betul.

"Haaah?"

"Itu benar, Aomine-kun. Kamarku ada di atas ruang santai, dan gudang ada di atas kamarmu. Ruang santai tampaknya tak menyembunyikan apa-apa, kan? Jadi kemungkinannya lorong itu ada di atas kamarmu, di balik lemari. Bukankah letak lemarimu sama seperti letak lemariku? Mungkin kalau diselidiki, ada juga ruangan tersembunyinya." Kuroko menimpali. Wajah Aomine langsung memucat.

"Ja-jadi…"

"Kemungkinan selama ini kau tidur bersama mayat, Mine-chin." Ujar Murasakibara sebelum memasukkan bongkahan coklat ke dalam mulutnya.

"Yah, tapi semuanya belum pasti." Kata Akashi.

"Maksudnya, Akashicchi?"

"Kunci."

"Kunci?" Semua orang menatap ke arah Akashi.

"Sewaktu Takao kesurupan, dia bertanya soal kunci, kan?"

"Iya. Tapi bukannya itu maksudnya kunci gudang, ya?"

"Kenapa dia ingin tahu dimana kunci gudang? Kita kan bisa mencapai gudang lewat pintu rahasia di kamar Tetsuya yang tidak terkunci."

"Benar juga-nanodayo. Dan kalau dilihat dari bekas darah di gudang, tidak ada tanda-tanda kalau wanita itu diseret lewat pintu gudang yang kuncinya hilang itu-nanodayo. Kalian lihat sendiri, kan? Bahkan kursinya saja menghadap ke arah pintu rahasia-nodayo. Dan bekas darahnya hanya ada di kursi di tengah ruangan dan sekitarnya. Yang paling jauh adalah di tembok, tapi sama sekali tak ada di bagian pintu-nanodayo."

"Memang benar. Dengan begitu kita bisa menyimpulkan kalau si pelaku keluar-masuk lewat lemari kamarku, ya." Kuroko berkata dengan suara melamun, keningnya mengernyit pelan.

"Lalu itu kunci apa dong, Aka-chin?"

"Entahlah. Tampaknya rumah itu punya banyak ruangan rahasia. Kenapa dulu dibangun seperti itu? Mungkin kau harus menanyakannya pada pelatihmu, Ryouta. Yah, meskipun paling cepat kita menyelidikinya langsung."

"Tapi kemungkinannya kita bisa diserang lagi-ssu. Kelihatannya dia sudah marah begitu tadi. Akashicchi tidak melakukan apa-apa padanya, kan-ssu?"

"Tidak, kok. Cuma melempar senterku saja." Jawab Akashi kalem. Yang lain langsung sweatdrop.

Pantesan marah. Batin mereka serempak.

.

.

.

Pukul delapan keesokan harinya, keenam orang pemuda bersiap-siap melanjutkan pertarungan hidup-mati mereka. Meskipun semalam sudah tidur nyenyak—maklum, kualitas kasur di rumah Akashi dan di rumah kontrakan beda jauh—tapi pagi ini mereka tampak tegang. Akashi sendiri membawa tas selempang berwarna merah yang isinya entah apa. Tampaknya tidak berat, tapi ada sesuatu yang membuat mereka enggan mengetahui isinya. Sampai Murasakibara dengan polosnya bertanya.

"Aka-chin, itu tasnya isinya apa? Makanan, ya?"

"Bukan, Atsushi." Saat itu Akashi membuka penutup tasnya, dan yang lain sweatdrop. Empat deret gunting merah terlihat berjajar rapi. Akashi menutup kembali tasnya, deretan gunting saling beradu menimbulkan bunyi gemerincing pelan.

"Aku butuh persiapan. Kemarin yang kulempar senter, kurang greget. Jadi aku memutuskan bawa gunting. Dari perak dan sudah kurendam air garam tiga hari tiga malam, dijamin ampuh."

Semua orang kembali sweatdrop. Akashi kan baru ketemu hantunya kemarin, kok sudah persiapan merendam gunting tiga hari tiga malam? Atau jangan-jangan jangakauan Emperor Eye sejauh itu?

"Bagus, Aka-chin, guntingnya bisa buat buka bungkus keripik kentang." Murasakibara berkata dengan ceria sambil menggendong tas ransel besar dan panjang yang bisa dijamin isinya camilan semua.

"Bagus, Akashi. Gunting adalah lucky item-mu hari ini-nanodayo." Midorima berkata dengan nada puas, seolah-olah hanya dengan membawa gunting Akashi tak akan mati meski dilindas truk. Akashi hanya menyeringai.

"Su-sudahlah-ssu. Ayo kita berangkat."

"Masing-masing sudah bawa senter dan masker?"

"Sudah."

"Jimat? Gunting?"

"Guntingmu itu cukup untuk kita berenam, Akashi."

"Oke. Kita berangkat sekarang."

.

.

.

Keenam orang pemuda berjalan melintasi halaman rumah kontrakan. Pagi itu cuaca mendung, angin sepoi-sepoi menggoyangkan sesemakan dan dedaunan kering. Udara dingin membuat keenam orang itu sedikit menggigil. Kise menatap rumah yang ditinggalinya bersama teman-temannya selama beberapa bulan terakhir. Rumah itu entah mengapa tampak lebih horror. Mungkin karena suasana mendung, dan tentu saja—karena mereka sudah tahu bahwa memang ada sesuatu yang mengerikan di dalam sana.

"Ayo masuk." Suara Aomine membuat Kise menoleh. Kuroko baru saja membuka pintu dan masuk, diikuti Akashi. Midorima mengikuti keduanya. Kise melangkah memasuki rumah. Dirasakannya hawa yang lebih dingin daripada di luar menggigit kulitnya. Kise menelan ludah gugup. Ditolehkannya kepala ke belakang, tepat pada saat pintu membanting tertutup dengan keras.

"Jangan dibanting pintunya, aho!" Seru Aomine pada Murasakibara yang berada paling belakang. Tapi Murasakibara hanya menatap pintu dengan ekspresi campur aduk—antara kaget, takut, juga gugup.

"Aku tidak menutup pintu, Mine-chin." Ujarnya dengan suara rendah.

"Ap—"

"Sudahlah, Daiki." Akashi menyela. "Tidak ada gunanya memperdebatkan itu. Lagipula sepertinya dia sudah menunggu kita." Seolah-olah membenarkan ucapan Akashi, tiba-tiba angin bertiup dari arah lorong. Semua orang terhenyak.

"Kita akan mengecek langsung dari lemari kamar Daiki. Ayo." Tanpa menunggu jawaban Akashi melangkahkan kaki ke dalam.

Keenam orang pemuda itu berjalan memasuki lorong. Suasana rumah terasa sangat suram dan dingin. Terlebih dengan mendung di luar, sehingga hanya ada cahaya redup yang masuk lewat jendela dapur dan ruang tamu. Kuroko menjangkau saklar di lorong, bermaksud menyalakan lampu. Namun ternyata lampu tidak menyala mekipun saklar ditekan berkali-kali.

"Lampunya tidak nyala. Apa listrik mati?" Gumam Kuroko.

"Sudahlah, kita langsung ke kamar Aomine saja-nanodayo." Sahut Midorima, tampak tak nyaman berlama-lama berdiri di lorong. Kuroko hanya mengangguk singkat dan mengikuti Akashi yang berada paling depan, menuju kamar Aomine.

Akashi membuka pintu kamar paling ujung itu. Kamar Aomine lebih gelap dibanding lorong karena jendela yang tertutup gorden. Si penghuni kamar berjalan menuju jendela dan membuka gorden, membuat cahaya redup memasuki kamar.

Kelima orang lainnya berdiri menatap lemari kamar. Letaknya sama persis dengan kamar Kuroko, tepat di hadapan ranjang. Hanya saja lemari ini tidak ada cerminnya.

"Katanya cerminnya pernah pecah, jadi dicopot semuanya-ssu. Sebagai gantinya dipasang cermin itu." Kise berkata sambil menunjuk ke arah cermin ukuran sedang di sisi lain kamar. Cermin segi empat ukuran sedang dengan bingkai kayu sederhana—sama sekali tidak tampak horor.

"Baiklah. Ayo kita lihat, apa benar ada ruangan di balik lemari ini." Akashi berkata sambil membuka lemari. Deretan pakaian yang berjajar rapi terlihat.

"Di luar dugaan kau rapi juga, Daiki." Komentar Akashi sambil menyibakkan jersey dan seragam ke samping.

"Itu karena Momoi-san baru membereskannya beberapa hari yang lalu." Komentar Kuroko datar. Aomine menggaruk belakang kepalanya.

Akashi tidak berkomentar, melainkan mulai meraba-raba bagian dalam lemari. Sesuai dugaan, tangannya menangkap cekungan kecil yang membuat papan kayu itu bisa digeser—sama seperti lemari di kamar Kuroko. Ia pun menjangkau pakaian Aomine dan mengeluarkannya.

"Ayo bantu." Kata Akashi, dan yang lain pun ikut memindahkan isi lemari, melemparkannya asal ke atas ranjang.

Akashi kemudian masuk ke dalam lemari. Dengan menggunakan kedua tangannya, pemuda itu menarik cekungan kecil yang berfungsi sebagai kenop pintu. Pintu di bagian dalam lemari bergeser.

Midorima, yang berada di belakang Akashi—di luar lemari, menyalakan senternya dan menyorotkannya ke ruangan di balik dinding. Tampak sawang memenuhi dinding. Akashi mengambil senternya sendiri dan memasuki pintu di dalam lemari itu. Ruangan itu luasnya sama seperti ruangan di balik lemari Kuroko.

"Ada tangga di sini." Ujar Akashi, berdiri sambil menatap sebelah kanannya. Midorima memasuki lemari, sedikit menunduk menghindari palang, dan ikut melongok ke dalam. Akashi bergeser sedikit untuk memberi Midorima ruangan. Di ujung kanan ruangan yang berbentuk lorong itu, terdapat tangga kayu kecil dan sempit yang mengarah ke atas.

"Tak ada bekas darah di tangga-nanodayo." Komentar Midorima dengan kening berkerut. Pemuda itu menggerakkan senternya menelusuri tangga sampai ke atas. Ada garis segiempat di atas mereka, tepat di atas tangga. Itu adalah pintu di lantai dua yang dilihat mereka kemarin.

"Eh? Tidak ada? Tapi bukankah jejak darahnya mengarah ke pintu di lantai-ssu?" Tanya Kise dari luar lemari.

"Karena mayatnya dilempar ke bawah, bukan diseret." Ujar Akashi tenang sambil menyoroti tangga paling bawah. Ada bekas darah yang menghitam di sana. Pemuda itu melangkah ke dalam lorong. Midorima hanya menatap punggung Akashi, sampai punggungnya didorong dari belakang.

"Aku juga ingin masuk, Midorima-kun." Ujar Kuroko, membuat Midorima berdecak pelan dan masuk ke dalam. Dia berjalan menuju Akashi yang sudah sampai di depan tangga.

"Atau mungkin bukan 'mayat', karena dia masih hidup." Kata Akashi lagi.

"Maksudmu dia dilempar dari atas dalam keadaan hidup?!" Seru Midorima terkejut. Seberapa kejamkah pembunuh itu, melempar seseorang dari lantai dua? Selain itu tidak ada jejak darah di tangga, artinya tubuh si perempuan pastilah tidak menyentuh tangga. Dilempar langsung dari lantai dua dan langsung membentur lantai satu… Pasti sakit sekali.

"Lihat? Ini bekas tangan. Dia masih hidup ketika dilempar dari atas. Lebih tepatnya mungkin 'dijatuhkan'. Pelakunya mengangkat tubuh si perempuan dan dia dijatuhkan ke bawah dalam keadaan tegak. Tubuh perempuan itu kan tidak terlalu besar. Kalau pelakunya laki-laki bertubuh besar pasti kuat. Kakinya tiba lebih dulu, dan tangannya otomatis menggapai dinding."

Akashi menyoroti bagian samping tangga yang sudah ia singkirkan sawangnya. Ada garis kehitaman memanjang dari atas. Begitu pula samping tangga yang lain.

"Perempuan itu mungkin berusaha menghentikan laju jatuhnya dengan kedua tangan menjangkau dinding, tapi tidak berhasil. Hal itu wajar mengingat dia baru disiksa dan salah satu kakinya patah, tentunya dia tak akan punya tenaga untuk menahan tubuh hanya dengan kedua tangan seperti pemain sirkus." Lanjut Akashi dengan suara tenang. Pemuda itu menyorotkan senternya ke bawah tangga. Tampak bekas darah menggenang di situ. Bekas itu juga ada di lantai lorong sesudah tangga.

"Kakinya yang setengah terpotong pastilah jatuh lebih dulu, melihat banyaknya darah di sini. Lalu dia bergerak menuju lemari Daiki dengan menyeret tubuh memakai tangan, berusaha menghindari si pembunuh." Akashi bergumam, menyoroti bekas darah yang seperti terseret. Kening Midorima mengernyit mendengar penjelasan Akashi yang terlalu detil.

"Di sini ada sesuatu, Akashi." Aomine berkata, menyoroti sebuah garis berbentuk persegi panjang yang berjarak sekitar satu meter dari pintu lemari. Pemuda itu sudah masuk ke dalam, berdiri tepat di depan pintu rahasia lemari. Kuroko yang entah sejak kapan ada di belakang Midorima berjalan lebih dulu, mendekati garis yang cukup lebar itu—yang tampaknya seperti pintu lain ke bawah. Warnanya tampak sedikit berbeda dari lantai kayu di sekitarnya.

"Ada sesuatu di situ-ssu." Kise, yang melongok dari dalam lemari, menunjuk ke salah satu sisi garis dengan senternya. Tampak sesuatu yang berbeda di salah satu tepi garis yang sudah tertutup debu.

Aomine mendekati garis segi panjang—yang pastinya adalah pintu, berjongkok dan dengan ujung senternya membersihkan debu di bagian yang ditunjuk Kise. Kise sendiri masuk dan berdiri di depan pintu lemari, di belakang Aomine. Pemuda itu menjulurkan kepalanya untuk melihat pintu di lantai. Murasakibara berjongkok di dalam lemari, melongokkan kepalanya di samping Kise. Tampaknya sulit baginya untuk masuk karena lorong itu sudah penuh.

Ternyata ada sesuatu yang mirip lubang di tempat yang ditunjuk Kise. Aomine memasukkan jari telunjuknya ke cekungan itu dan mengangkatnya ke atas. Sebuah kotak dangkal berukuran lima senti terlihat. Di dalamnya ada gembok kecil, yang mengunci pintu berukuran 1x1,5 meter itu. Aomine menarik gemboknya, dan pintu itu berbunyi gaduh. Aomine mengerutkan kening karena bunyinya berbeda. Dia berdiri dan membersihkan debu tebal dari atas pintu itu dengan kakinya. Teman-temannya yang lain mengernyit sambil menutup hidung ketika debu membumbung.

"Ini bukan kayu," ujar Aomine. "Pintu ini dari besi." Setelah debu disingkirkan kini terlihat jelas warna pintu itu berbeda dari lantai kayu. Warnanya abu-abu gelap dan tentu saja lebih berat. "Dan pintu ini terkunci." Tambahnya, menyorot gembok.

"Yang dimaksud pastilah kunci ruangan ini." Komentar Kuroko, yang juga ikut berjongkok di sisi lain pintu di lantai, mengamati pintu besi itu dan gemboknya. Di belakangnya membungkuk Midorima, dan di belakang Midorima ada Akashi yang menatap datar pintu rahasia di lantai.

"Atsushi, kau membawa linggis seperti yang kusuruh, kan?" Tanya Akashi tiba-tiba.

"Eehh? Iya, sih." Sahut Murasakibara malas.

"Coba ambil. Kita akan membuka paksa gemboknya." Perintah Akashi, dan Murasakibara dengan gerakan malas keluar dari lemari untuk mengambil linggis di dalam tas besarnya.

"Akashi-kun sudah menduga hal seperti ini?" Kuroko menolehkan kepalanya ke belakang, menatap Akashi.

"Yah, kalau ada pintu rahasia dari lantai dua ke lantai satu, mungkin juga ada pintu dari lantai satu ke ruang bawah tanah. Dan kalau bentuk pintunya di lantai, artinya kemungkinan besar dikunci memakai gembok. Tapi itu hanya spekulasi, bisa saja kuncinya kunci pintu biasa dan juga tidak ada ruang bawah tanah. Linggis hanya untuk jaga-jaga karena kita tidak punya kunci yang disebut-sebut dia."

"Aka-chin, linggisnya." Terdengar suara Murasakibara. Kepala ungu menyembul dari dalam lemari. Tangannya mengulurkan linggis yang diterima oleh Kise dan diangsurkan pada Aomine. Pemuda tan itu mengangkatnya, dan memukulkannya dengan keras ke arah gembok. Butuh usaha beberapa kali sampai gembok itu rusak dan bisa dibuka.

Aomine mengangkat pintu dari besi itu sedikit, dan bau busuk sekaligus pengap menyerbu hidung mereka. Dengan segera pemuda tan itu menutup kembali pintunya.

"Ini, Aomine-kun." Kuroko mengangsurkan masker pada Aomine yang langsung memakainya.

"Thanks Tetsu."

Akashi juga mengeluarkan masker dari tas selempangnya, begitu pula Midorima dari tas pinggangnya—yang adalah lucky item hari ini. Kuroko memberikan dua buah masker pada Kise, satunya untuk Murasakibara—yang sudah menghilang dari lemari.

"Murasakibaracchi? Di mana kau?" Kise melongok keluar dan melihat Murasakibara duduk di depan meja belajar Aomine, menatapnya tanpa ekspresi. Kamar Aomine semakin gelap dan rasanya suhu udara lebih dingin daripada tadi. Kise memasang telinga dan mendengar suara hujan di luar.

"Ini. Di luar hujan, ya?" Kise memberikan masker pada Murasakibara sambil menengok jendela. Rintik gerimis membentur jendela, dan dilihatnya halaman samping basah. Pemuda itu kemudian kembali lagi memasuki lemari, melihat teman-temannya menunduk memandang pintu besi yang menganga. Melalui senter Kuroko mereka bisa melihat tangga kayu ke bawah.

"Bagaimana? Kita turun?" Tanya Aomine sambil mendongak menatap Akashi.

"Di luar hujan-ssu. Tidak ada gunanya juga kita pulang sekarang." Sahut Kise di belakang Aomine.

"Ayo kita masuk." Akashi berkata. Kuroko menegakkan tubuh dan merapat ke dinding.

"Silahkan duluan, Midorima-kun." Ujarnya datar.

"Kenapa tidak kau duluan saja-nanodayo?" Midorima berdecak sebal.

"Mundur sini, Shintarou. Aku akan masuk duluan." Akashi merapatkan tubuhnya ke dinding, memberi Midorima jalan untuk bergeser ke belakang. Tanpa berkata apa-apa Midorima memiringkan tubuhnya dan bergerak menyamping melewati Akashi.

Si pemuda berambut merah bergerak mendekati lubang menganga itu. Tidak terlalu dalam, ia bisa melihat tanahnya dari atas. Dengan hati-hati Akashi menuruni tangga ke bawah. Tangga ini lebih lebar daripada tangga kayu yang menuju lantai dua di ujung lorong. Disorotkannya senter ke bawah lubang. Tidak ada jejak darah, artinya si pelaku pastilah menggendong perempuan itu.

Sesampainya di bawah Akashi mengedarkan senternya ke sekeliling. Ruangan itu luas, mungkin lebih luas dari ruang santai. Dari yang dilihatnya, berjajar rapi rak-rak dalam jarak yang sama. Akashi langsung mengenali ruangan itu.

"Bagaimana, Akashi-kun?" Terdengar suara dari atas.

"Ini wine cellar." Jawab Akashi. Suaranya yang teredam masker bergema di dalam ruangan pengap itu.

"Hah? Wain apa?"

"Wine cellar, aho. Itu tempat menyimpan wine-nanodayo. Tapi kenapa ada cellar di sini? Pelatihmu tidak tahu soal ini, Kise?"

"Tidak tahu-ssu. Dia tidak bilang apa-apa soal tempat menyimpan wine." Kise menggeleng pelan. Dia melongok ke bawah, di mana cahaya senter Akashi sudah tak tampak.

"Akashi-kun?" Panggil Kuroko. Tidak ada jawaban. "Akashi-kun!" Kuroko memanggil lagi, mulai cemas. Masih tak ada jawaban. Pemuda berambut biru muda itu bertukar pandang cemas dengan Aomine dan Kise.

"Aku akan masuk." Ujar Aomine segera, dan tanpa menunggu lagi pemuda itu sudah menuruni tangga. "Oi, Akashi!" Serunya ketika sudah sampai di bawah.

"Huh? Ya. Aku di sini." Terdengar sahutan samar-samar Akashi, dan Aomine mengarahkan senternya ke arah kanan. Didapatinya Akashi sedang berdiri sambil menatap sebuah botol wine. Aomine menghembuskan napas lega.

"Dia baik-baik saja." Serunya sambil mendongak. Teman-temannya yang lain menghembuskan napas lega.

"Ayo turun." Suara Murasakibara membuat Kise terlonjak dan menoleh.

"Murasakibaracchi!" Seru Kise kaget.

"Ayo turun." Ulang pemuda bongsor berambut ungu itu sambil mendorong punggung Kise.

"Iya, iya." Gerutu Kise sebal. "Dasar tidak sabaran-ssu." Lanjutnya sembari menuruni tangga dengan hati-hati. Murasakibara mengikutinya di belakang, diikuti Kuroko dan terakhir Midorima.

Ruangan gelap itu kini diterangi oleh enam senter. Aomine sudah berdiri di samping Akashi, melihatnya mengamati botol-botol wine.

"Melihat keadaan di sini, pelatihmu pasti tidak tahu soal cellar ini-nanodayo." Ujar Midorima pada Kise.

"Kelihatannya begitu-ssu. Penuh sarang laba-laba begini-ssu. Dikunci lagi ruangannya."

"Apa dia penggemar wine, Ryouta?" Tanya Akashi tiba-tiba.

"Hah? Entahlah-ssu. Tapi aku pernah dengar dia tidak terlalu suka minuman beralkohol-ssu."

"Kalau begitu dia pastilah tidak tahu apa-apa soal wine cellar ini."

"Huh? Kenapa?" Aomine menatap Akashi yang membungkuk dan mengecek koleksi wine dengan cahaya senternya. Kise meraih salah satu botol, menatap huruf-huruf melengkung elegan yang tidak bisa dia eja.

"Kalau dia tahu pasti sudah dia jual. Dia tidak suka minuman beralkohol, kan? Akan lebih menguntungkan kalau semua wine ini dijual. Setidaknya bisa menghidupi keluarganya dalam setahun."

"Hah?! Ap—apa?!" Aomine ternganga.

"Lihat wine ini?" Akashi menunjuk salah satu botol. "Ini Henri-Jayer Richebourg Grand Cru. Harga rata-ratanya sekitar 16 ribu US dolar, artinya sekitar hampir dua juta yen per botol (sekitar 200 juta rupiah)."

"Se-semahal itu?!"

"Ya." Jawab Akashi datar. Pemuda itu menyapukan cahaya senternya ke sepanjang rak di sampingnya. "Koleksinya hebat. Bagian rak yang ini isinya Romanée-Conti. Harga rata-ratanya 4 – 12 ribu USD, tapi kalau dijual bisa sampai 54 ribu USD per botol atau sekitar 6,5 juta yen (sekitar 700 juta rupiah). Semua koleksinya paling murah sekitar 2 ribu USD per botol. Kalau Pelatihmu menjual semuanya dia bisa kaya, Ryouta. Mungkin aku juga harus beli beberapa…." Akashi berpaling pada Teman-temannya yang membeku di tempat. Pemuda itu mengangkat alis.

"Kenapa kalian?"

"Ka-kalau kita ada di gudang harta begini ha-harus hati-hati, kan? Mi-misalnya jangan asal sentuh…" Aomine tiba-tiba jadi gagap. Akashi menatapnya geli.

"Iya. Kalian bisa dituntut kalau sampai ada yang pecah. Ganti ruginya mahal lho." Sahut Akashi sambil menyeringai, membuat Kise yang sedang memegang salah satu botol langsung gemetaran.

"Gawat, Kise! Cepat letakkan kembali wine-nya!"

"Kise-kun, kalau sampai terjadi sesuatu kau bisa disuruh bayar dua kali lipat, lho."

"Mungkin itu gaji orangtuamu satu bulan-nodayo."

"Ta-tapi tanganku tidak bisa bergerak-ssu!" Seru Kise panik. Akashi tersenyum geli sambil mengambil botol dari tangan Kise dan mengembalikannya ke rak. Pemuda berambut kuning itu mendesah lega.

"Di mana Atsushi?" Tanya Akashi tiba-tiba, heran karena hanya pemuda bongsor itu yang tidak ikut ambil suara.

"Di sini." Tiba-tiba suara Murasakibara terdengar. Akashi berbalik dan menyorotkan senternya ke arah suara. Murasakibara berdiri menghadap sesuatu yang sepertinya pintu.

"Murasakibaracchi?" Kise ikut menyorotkan senternya ke arah Murasakibara. Akashi melangkah menuju Murasakibara, diikuti yang lain.

"Di sini." Ujar Murasakibara lagi, masih tidak bergerak dari tempatnya. Akashi bergerak ke sampingnya.

Murasakibara berdiri di depan sebuah pintu dari kayu. Senter dan maskernya sama sekali tidak digunakan. Kedua tangannya terkulai di samping tubuh. Ketika Akashi menyorotkan senter ke wajahnya, pemuda itu sama sekali tidak berkedip. Wajahnya menatap kosong pada pintu. Akashi ikut menatap pintu itu. Diarahkannya senter ke arah pegangan pintu. Ada noda di pegangannya yang terbuat dari besi, warnanya hitam. Bahkan tanpa berpikir pun Akashi tahu apa itu.

"Apa mayatmu ada di sini?" Tanya Akashi tiba-tiba.

"A-Akashi!" Seru Aomine. Bulu kuduknya meremang. Suhu udara tiba-tiba menjadi lebih rendah. Kise merapatkan tubuh pada Aomine yang berdiri di sampingnya, menelan ludah. Kuroko juga menggeser tubuh mendekati dua orang itu, sementara Midorima berdiri di samping Kuroko dengan wajah pucat.

"Hiks. Hiks." Murasakibara tiba-tiba menunduk, airmata mengalir di pipinya. Akashi menyoroti wajahnya. Tanpa berkata apa-apa, Akashi mengeluarkan saputangan dari dalam sakunya dan dengan dilapisi saputangan dia membuka pintu. Bau busuk menyengat langsung menyerbu mereka meskipun hidung mereka sudah tertutup masker.

Akashi menyoroti bagian dalam ruangan. Ruangan itu setidaknya berukuran tiga kali tiga. Ada sofa lapuk di sebelah kiri, merapat pada dinding. Di sampingnya ada meja bundar, di atasnya terdapat sebuah botol wine dan gelas berkaki. Semuanya sudah tampak berdebu. Kemudian di ujung lain ruangan, terduduk seonggok mayat.

Mayat itu sudah menjadi kerangka, memakai sebuah dress berwarna putih kusam tanpa lengan. Kerangka itu duduk bersandar pada tembok. Kedua tangan terkulai di samping tubuh, dan kaki terjulur. Tulang betis kanannya patah.

Murasakibara tiba-tiba jatuh berlutut, dan tangisnya makin keras. Semua orang terdiam memandang Murasakibara selama beberapa menit, sampai tanpa diduga Kuroko melangkah mendekat. Ia melingkarkan tangannya di sekeliling bahu pemuda bongsor itu.

"Tidak apa-apa, tidak apa-apa. Kami sudah menemukannya." Ujar Kuroko dengan suara rendah. Tangannya membelai pundak Murasakibara dengan lembut. Tangis Murasakibara perlahan berubah menjadi sesenggukan kecil. Kepalanya semakin menunduk sampai-sampai dagunya mencapai dada.

"Kami akan lapor polisi dan mereka akan menyelidiki kasus ini." Kata Kuroko lagi dengan suara lembut.

"Be-benar-ssu. Mereka pasti akan menemukan siapa pembunuhmu-ssu!" Ujar Kise, mulai memberanikan diri bicara. Sesenggukan Murasakibara tidak terdengar lagi.

"Ka-kami juga akan menguburkan mayatmu baik-baik-nanodayo." Timpal Midorima.

"Kau tidak perlu khawatir lagi!" Kali ini Aomine yang bicara.

Murasakibara hanya diam, kepalanya masih tertunduk.

"E-Etto…. Yuurei-san?" Kise memberanikan diri untuk melangkahkan kakinya mendekat.

"Lalu?" Tiba-tiba Murasakibara bicara. Suaranya datar dan aneh, mengingatkan Midorima pada saat Takao kesurupan. "Lalu, kalian pikir semua selesai kalau kasus selesai dan mayatku dikuburkan?"

Kuroko membeku di tempatnya. Begitu pula yang lain. Dalam hitungan detik, Murasakibara tiba-tiba bergerak mendorong Kuroko ke tanah, mencekik lehernya.

.

.

.


A/N : Penasaran kan? Penasaran kaaaaannn? Hahahahaha *ketawa evil*

Oke, ada beberapa catatan di sini. Pertama, saya ga tau di jepang hari sabtu SMA libur apa ga, tapi anggep aja ga libur lah ya, disamain sama Indonesia. Kedua, harga-harga wine yang disebutkan di atas itu bukan harga pas, hanya kisaran saja. Kalau pengin tahu harga pasnya (siapa tahu mau beli) silahkan tanya mbah gugel yang know everything (saya nyari harganya juga lewat mbah gugel, sih, hohoho). Romanée-Conti itu nama domaine terkenal, dan Henri Jayer itu nama pembuat wine terkenal. Saya tahu nama2 itu karena baca The Drop of God (sumber pengetahuan saya dari komik sih ya).

Terus ketiga, buat yang ga tahu, Yuurei itu sebutan buat hantu atau arwah penasaran di Jepang. Berhubung ga tahu namanya, Kise manggil dia Yuurei. Kalo diterjemahin ya Kise manggil dia mbak hantu, gitu.

Chapter depan yang terakhir yaa. Real battle loh #plak Ganbatte reader-tachi! Saya juga mesti ganbatte ini, hohoho…

Oke deh makasih buat yang udah baca *bow* See you next chapter !