My big sin is existing.
(unknown)
WARNING
DLDR, OOC, EBI, miss typo.
DLL.
~~
'mampus'
Kise menghela gusar ketika polisi burik menghampiri mereka dengan angkuhnya. Mati aja, Kise sih yakin agresi yang sejak tadi jadi bahan rumpian Kuroko kini juga sedang menujunya.
Kise heran, apa si daki itu gak ada kerjaan apa? malah nongkrong dijalan.
(kenyataanya Kise lupa Aomine adalah polisi). Ia melirik Kuroko yang berada dibelakang nya.
"Kuroko-chii... harusnya Aku tidak mengangkutmu" Rengek Kise yang sukses dapat cubitan sayang dari Kuroko.
"Ittai... ya kan, Kalau agresi selalu dimulai dari Kuroko-chii dulu"
"maksud Kise-kun Aku pembawa sial" sahut Kuroko membuat Kise menggeleng panik seolah berkata bahwa Ia tidak bermaksud begitu.
"lupakan itu," Bisik Kuroko lalu, "Oh hallo Aomine-kun" Kuroko menyapa Aomine yang sudah berdiri di hadapan motor mereka. Aomine yang mendapat sapaan dari Kuroko hanya bergumam kecil tanpa niat menjawab Ia hanya terfokus pada kertas ditangannya.
'Cih, sombong sekali kurap paus ini' dongkol Kuroko dalam benaknya.
"Kau punya sim, Stnk?" Tanya Aomine pada Kise. Kise mendengus lalu mengambil sim dan stnknya dari dompet dan menyerahkannya pada Aomine.
"Bagus, tapi kalian tetap di tilang karena Kuroko tidak pake helm dan juga Aku meragukan mu" ujar Aomine membuat Kise garuk-garuk kepalanya kesal.
"Maksudnya meragukanku itu apa? Aku mengerti tentang helm, tapi kata ragu apa yang bisa menjurus Ke penilangan" Protes Kise.
"orang sakit dilarang mengemudi, apa Kau tidak tau itu? jangan-jangan sim mu hasil 'nembak' ya? Masa itu saja tidak tau" Ledek Aomine membuat Kise kesal. Apa-apaan itu, suudzon sekali sibuluk ini.
"Iya, nembak! nembak pak polisinya biar Mau jadi Seme Ku Puas!" Alih-alih menyangkal Kise malah melebarkan bendera tantangan yang membuat Aomine sukses berdecak. Aomine sih yakin Kise tidak bersungguh-sungguh dengan yang Ia katakan.
Sedang Kuroko hanya menghela lelah, apa-apaan.. mereka tampaknya lupa keberadaannya yang kepanasan dibelakang sini. Harusnya Ia tadi menyetop taxi dari pada menumpang si kuning ini, ini sih bikin urusan panjang. Kuroko mencoba mengingat-ingat, apa Ia sudah nabrak kucing atau buang sampah ditempat suci? kenapa hari ini Ia sial sekali?.
"Sepertinya, Kau benar-benar minta ditilang" Aomine mulai panas, apa-Apaan tadi Kise bilang? polisi Mana yang Nikung komandan ketcheh badai macam Dia? sepertinya sipolisi gak pernah makan sianida.
"Hah? Oi seenaknya saja! Lagi pula surat-surat Ku kan lengkap" Tangkas Kise Tak terima, Masa perkara lupa pake helm saja ribet begini?.
"Kurang lengkap" Aomine memeriksa kembali surat-Surat kendaraan di tangannya.
"Hah, Masa?" Kise terpelongo, Ia menjulurkan tubuhnya kedepan mengecheck apayang tengah diperhatikan sibuluk lalu mengambilnya cepat.
" Stnk, Sim, Ktp..." jeda "ini lengkap Ahominechiiii" Raung Kise kesal maksimal.
"Masih kurang Stm" ujar Aomine membuat Kise mengerutkan kening Tak mengerti begitu juga Kuroko yang sedang berpikir keras.
' Stm? Bukannya itu sejenis sekolah ya?' ya...si sensei muda pun tampaknya tidak tahu menahu Surat apayang disebut kan si buluk didepannya.
"Apaan tuh? " Sewot Kise yang berpikir tentang Surat yang rasanya Tak pernah bergaum di telinganya.
" Surat Tanda Menikah" sahut Aomine menyeringai.
hell!!
Kise yang greget maksimal Inginnya langsung menggeplak kepala Aomine keras, tapi Kise masih ingat bahwa Aomine itu seorang polisi, ingat! po-li-si. Ia tidak Mau jadi viral gara-gara menghajar polisi dijalanan, itu bukan impiannya Sumpah meskipun Kise itu model Ter,Ter,Ter badaiii.
"Maksudnya apa coba? apa hubungan nya!"Raung Kise kesal akan tingkah polisi item ini. sedang Kuroko yang jadi pendengar sejak tadi hanya memutar bola mata jengah.
'Gombal yang dilakukan gembel ternyata'
Kuroko malas menanggapi sebenarnya, tapI ini panas bikin keki maksimal.
"Kau harus menikah kalau Mau dapat Surat itu dan tentu saja" jeda Aomine" Dengan Ku" Lanjut Aomine sambil memasang wajah blink blink.
Plakk!
Bodo amat, kepala Kise sudah berasap. dengan keras Ia geplak belakang kepala si polisi membuat Aomine meringis sambil mengusap-usap kepalanya. viral, viral sekalian Kise gak peduli!.
Inginnya Kuroko ikut menginterupsi Kalau saja tiba-tiba sebuah Mobil Audy R8 tiba-tiba ikut berhenti dibahu jalan membuat seseorang ketar-ketir menyadari sipemilik Mobil yang keluar dari sana sambil menyeringai penuh keangkuhan dan-tampan.
"Kan, Tetsuya seharusnya ikut bersama Ku bukannya lari tunggang langgang dengan si spongebob dan berakhir ditilang" Kuroko memicing mendengar perkataan Akashi yang tersenyum kearahnya tanpa dosa setelah mengejeknya barusan.
Kedua orang yang jadi pendengar hanya merotasikan bola matanya. Lalu Aomine berdecak dan berkata.
"Kau ingin ditilang juga Akashi?"
"Kau ingin mati juga Daiki?" serta merta si polisi ciut mendengar Nada intimidasi dari si emperor. Apa-Apaan itu, harusnya Akashi takut padanya! Rutuk Aomine dalam benaknya.
"Apayang Kau lakukan disini Akashi-kun?" Tanya Kuroko yang jengah melihat si surai merah didepannya kini. Sungguh Ia tidak mengerti,kenapa Tak ada habisnya pemuda itu mengikutinya sampai kesini.
"Pulang tentu saja, tapi Aku melihat orang yang Kabur tadi tampak sedang kesulitan dan-kepanasan jadi Aku harus berhenti" Kuroko mengerucutkan bibirnya membuatnya tampak terlihat menggemaskan dimata Akashi.
"Awww, Kurokoochiiiiiii imutnyaa" yahhh, bukan Menurut Akashi juga sih, tapi tampaknya Kise lupa diri sampai berani mengutarakan kegemasannya itu. Ia lupa ada mata yang menatapnya dengan pandang membunuh dan mata kesal setengah matI menuju kearahnya.
"Daiki, Aku pastikan jabatan mu turun karena kelalaian" Akashi mengeluarkan ultimatum yang membuat Daiki berdecak. Sedang Kise yang sejak tadi terpesona meneguk ludah, sadar kondisi.
"Ehehe" Cengiran canggung nan ketar-ketir Kise torehkan diwajah nya membuat Akashi sebal.
"Ayo turun Tetsuya" Ujar Akashi membuat Kuroko mengernyit Tak mengerti.
"untuk apa?"
"Pulang tentu saja" Akashi berdecak Ketika si sadar peka si babyblue nyaris nol yang memerlukan penjabaran setara kamis oxford.
"Aku akan pulang dengan Kise-kun" keukeh Kuroko mengundang hela Akashi.
"Dan kepanasan disini bersama dua orang idiot ini?"
"Hei! siapa yang Kau bilang idiot" Niat hati sih Aomine ingin protes tapi ekspektasi tak terealisasi ketika tatapan tajam dan sentakan setara tombak diluncurkan pemuda Akashi itu menyuruhnya membungkam.
"Diam daki" lain Aomine lain Kise yang tadinya cemberut dikatakan idiot kini terkikik atas perkataan Akashi dan ekspresi yang dikeluarkan Aomine.
"Pokoknya Aku akan bersama Kise-kun!" Akashi kembali memfokuskan diri pada pemuda mungil yang keras kepala nyaris setara batu itu.
"Pergilah duluan Tetsu, lagi pula Kise mungin akan tertahan disini lebih lama, karena Dia harus mempertanggung jawabkan perbuatannya." Kali ini Daiki mencoba membantu sang ex-kapten dan juga-dirinya yang ingin setidaknya berlama-lama dengan sikuning.
Kuroko bimbang, Kuroko galau...
menunggu disini hanya akan membuatnya kulit pualamnya gosong, dan Kuroko Tak Mau itu itu terjadi apalagi berubah menjadi sodara Aomine. Oh tidak! itu mimpi buruk. TapI bersama Akashi pun tidak menjaminkan apapun tentang hatinya yang bisa kapan saja goyah jika terus membiarkan Akashi memasuki teritorinya.
"Kuroko-chii..." Rengek Kise menanti jawaban Kuroko dengan harap-harap cemas takut ditinggal sendiri dengan makhluk astral yang bwrdalih menilangnya tadi. Kise yakin Kuroko-chiinya pasti setia kawan ya, pasti,
pa-s-ti...
"Baiklah Aku ikut" Datar Kuroko sambil turun dari motor matic Kise yang sukses membuat Kise merengek dengan air mata imajiner...
"Kuroko-chiiii, jangan tinggalkan Aku ssu..."
"Maaf Kise-kun, Aku hanya tidak ingin bertransformasi jadi saudaranya Aomine-kun" Ujar Kuroko tak ayal membuat Kise semakin merengek, Aomine yang mendelik dak Akashi yang menyeringai penuh kemenangan.
"Mari Tetsuya.." Akashi mempersilahkan Tetsuya berjalan terlebih dahulu menuju mobilnya dan memperlakukan Kuroko layaknya putri dengan membukakan pintu mobilnya.
Sementara itu Kise masih meratapi nasibnya yang tertawan si dekil tiba-tiba mendelik kesal pada si tersangka.
"Ini semua gara-gara Aominechii!!" hardik Kise.
"Salah Ku?"
"Arghhh..." Frustasi sudah Kise membenturkan kepalanya Ke motornya sendiri, berharap Ia bisa mati ditempat.
Sementara itu Kuroko yang termenung dalam mobil Akashi hanya bisa memasang wajah tembok nya. Kuroko sih sebenarnya prihatin dengan kondisi Kise, tapi Sungguh Ia Kali ini harus mengkhianati pemuda kuning itu demi kesejahteraan kulit mulus purbararangnya.
"Tetsuya Mau Ke kafe dulu?" Tanya Akashi memecahkan keheningan. Kuroko hanya menoleh sesaat lalu mengalihkan kembali atensinya Ke jendela mobil tanpa niat menjawab.
Kuroko jengah sebenarnya, jengah akan dentuman didadanya yang mengeras hanya karena keberadaan pemuda itu disisinya. Ia takut sesuatu yang Ia halau dengan tembok Ia bangun, kembali muncul kepermukaan. Tapi pikir lainnya berkata, Bukankah setiap orang berhak memiliki kesempatan kedua?.
Yahh... itu benar...
Tapi, hatinya masih memiliki ketakutan itu, bukan tidak mungkin kejadian dulu terulang lagi, mengingat riwayat Akashi si casanova bertitle the heirs dari Akashi corp membuatnya bisa melakukan apa saja yang Ia mau dan dengan banyak wanita dan laki-laki diluar sana rela jadi jalang atau lebih layak menjadi pendamping Akashi dibandingkan dirinya yang tidak ada apa-apanya.
Saat termenung dengan latar jalanan yang terlewat, tiba-tiba Ia melihat plang sebuah klinik yang Tak asing bagi Kuroko.
'klinik tempat Takao-kun bekerja' benaknya mendapat ide cepat dan langsung direalisasikan.
"Stop Akashi-kun!" Akashi terheran ketika Kuroko tiba-tiba meminta berhenti setelah aksi mogok bicara Kuroko barusan.
Tanpa bantahan Akashi berhenti tepat di depan klinik dan serta merta Ia bertanya.
"Untuk apa Tetsuya kemari?"
"bertemu Takao-kun" Jawab Kuroko seadanya.
"Mau apa Kau bertemu dengannya?"
"Bukan urusan mu" Ketus Kuroko Tak membuat Akashi mundur untuk mengintrogasi.
"Tetsuya selingkuh?" Tanya Akashi yang berjalan bersampingan dengan Kuroko dengan nada posesif nya.
Kuroko memicing dan mendelik cepat serta merta berkata "Tentu saja tidak!"
jeda sesaat " kenapa Akashi-kin bisa berpikir begitu sih!" Gerutu Kuroko kemudian.
"Baiklah, Aku percaya Tetsuya tidak berselingkuh" Perkataan Akashi seolah
menyadarkannya akan satu Hal.
"Yak lagi pula aku berselingkuh dari siapa? Aku ini singgle! bukan urusan Akashi-kun jika Aku Mau dekat dengan siapa pun!" Kuroko terlanjur meradang, Ia tidak mengerti kenapa otaknya ikut macet seperti pemuda gila ini sih?
Akashi hanya menyeringai dalam diam lalu berkata, " lupakan itu" jedanya "memang nya Kazunari tidak sibuk Kau mengunjunginya dijam begini?"
Kuroko mendengus "Kalau Dia sibuk Aku pergi, lagi pula ini sudah masuk jam makan siang"
"Bisa saja kan Dia sedang sibuk dengan si magane" Akashi dongkol sedikit sebenarnya, karena tampaknya si biru lebih berniat mengajak makan Juliet nya si Midorima dibandingkan bersamanya.
Kuroko mengabaikan perdebatan mereka dan mulai berbelok berjalan menuju tempat istirahat para perawat disana yang berada di pojok klinik. Tempat nya sangat tenang dan sepi, Takao bilang biasanya tempat ini digunakan perawat untuk tidur dan beristirat saat ship bergantian dan Kuroko sering menemui pemuda itu disini.
Aneh
Tiba-tiba pemikiran itu terlintas dibenak Kuroko ketika Tak menemui satupun perawat yang ada disini. Setahunya meskipun sepi ruang ini tetap slalu ada penghuninya, baik perawat yang istirahat ataupun sekedar mengambil laporan.
Tapi, Kuroko melihat sedikit celah dipintu yang menghubungkannya dengan tempat singgle bed yang tersedia di kamar istirahat perawat disana. Ia membuka pintu itu sedikit dan kemudian terbelalak sambil menutup mulutnya dengan tangannya.
"Ada apa Tetsuya?"
"Sst..." Kuroko memberi isyarat pada Akashi untuk diam.
Akashi ikut melongok dan kemudian menyeringai sambil berkata.
"Tuh kan Tetsuya, Kita mengganggu Kazunari dan Shintaro yang sedang..."
"berciuman..."
Tbc
#~~~#
An
err... Aku tau kalian setidaknya ingin ngebacok Saya...
hueeeeeeee gomennasaaaii
Saya sedang berusaha, berusaha dalam segala Hal...
so sorry for everything I've done
sorry for these fic.
sorry for late update.
and..
review please?
