the Last 2%

a YunJae fanfiction presented by Cherry YunJae.

.

Jaejoong, Yunho, Changmin, Siwon, Junsu, Go Ahra, and others.

YUNJAE.

T-M Rated.

Drama/Romance.

WARNING! GENDERSWITCH! Typos everywhere! Out of Character!

.

DON'T LIKE, DON'T READ! Told ya before!

.

.

[ © Sebuah remake dari novel milik Kim Rang dengan judul yang sama(2006), cerita sepenuhnya milik Kim Rang hanya beberapa yang saya ubah termasuk casts dan latar untuk keperluan cerita. ]

.

.

.

.

Bagian Kesepuluh.

.

.

.

[Appa, aku ingin memperkenalkan seorang laki-laki. Aku akan datang besok]

Seluruh anggota keluarga Jaejoong di Chungnam langsung sibuk mempersiapkan kedatangan Jaejoong.

Sang Ayah juga mengharuskan kedua anak laki-lakinya yang bekerja di pangkalan militer untuk mengambil libur dan pulang ke Chungnam.

Walau sang Ibu belum tentu akan menerima kenyataan kalau anak perempuan satu-satunya itu sedang memiliki hubungan dengan seorang laki-laki, tetap saja beliau mempersiapkan yang terbaik untuk menyambut kedatangan anaknya meski harus bekerja sampai larut malam.

"Sebaiknya kau minta bantuan Dahae."

Tidak tega melihat istrinya mempersiapkan segalanya sendirian, Ayah Jaejoong meminta Ibu Jaejoong memanggil menantunya. Tapi Ibu Jaejoong memilih untuk mengerjakannya sendirian.

"Dia sudah sibuk mengajar di sekolah dan mengurus rumahnya sendiri. Sudahlah, aku tidak apa-apa. Aku akan mengerjakannya pelan-pelan."

Menantu mereka juga mengajar di sekolah tempat suaminya bekerja. Karena dua-duanya sudah terlalu repot, Ibu Jaejoong tak ingin menambahkan beban lagi.

.

.

Hari berikutnya, hari dimana Jaejoong dan laki-laki pilihannya akan berkunjung.

Orang tua Jaejoong bangun pagi-pagi sekali. Ayah Jaejoong memastikan semua sudah siap lalu menghubungi ketiga kakak Jaejoong untuk menanyakan kedatangan mereka. Sementara itu, Ibu Jaejoong menyiapkan pakaian yang cukup bagus untuk dirinya sendiri.

"Coba saja kalau Jaejoongie bilang lebih awal, aku pasti bisa membeli baju baru."

Pakaian bagus yang dimiliki Ibu Jaejoong kini hanya sebuah hanbok. Tapi ia merasa pakaian itu terlalu formal.

"Aku harus pakai baju apa?"

"Terserah kau mau pakai baju apa saja."

"Aku sudah menyiapkan stelan jas untukmu, dan kau menyuruhku untuk memakai baju apa saja?"

Ibu Jaejoong melirik suaminya yang keluar rumah setelah meminta maaf. Hari ini dia menutup tokonya karena akan kedatangan tamu. Ia tak ingin lebih sibuk dan lebih repot.

Saat ini ia tengah menanti kedatangan tiga kakak Jaejoong. Sebelum Jaejoong datang, ia ingin mengumpulkan anggota keluarganya dulu. Ayah menanti dengan cemas, sampai akhurnya ia memutuskan untuk masuk ke dalam rumah lagi.

"Kenapa mereka belum datang juga? Coba kau telepon mereka."

"Aigoo... Kenapa kau begitu cemas? Bersabarlah."

Tidak lama, keluarga Dongwook sampai, disusul dengan Yoochun, dan yang datang terakhir adalah kakak Jaejoong yang kedua, Hyunjoong dan istrinya yang sedang hamil.

Sekarang hanya tinggal menanti kedatangan Jaejoong.

Tapi tiba-tiba seorang nenek datang karena ingin membeli beras merah untuk cucunya yang sedang berulang tahun.

Karena tak bisa membiarkan nenek itu begitu saja, Ayah Jaejoong membuka tokonya sebentar untuk menberikan beras merah pada si nenek.

Saat selesai, Ayah melihat sebuah mobil hitam mewah berhenti di depan rumahnya.

Yang pertama keluar adalah seorang laki-laki yang kemudian menuju pintu lainnya dan membukakannya.

"Jaejoong? Oi, keluar! Jaejoong sudah datang!"

Mendengar suara Ayah, seluruh anggota keluarga keluar dari dalam rumah.

"Tuan putriku sudah sampai rupanya."

"Iya, Appa..."

Jaejoong tersenyum lebar dan berjalan menuju ayahnya. Di belakang Jaejoong seorang laki-laki tinggi yang pertama Ayah lihat ikut tersenyum.

"Omo! Kau tinggi dan tampan."

"Wah! Mobilnya Benz keluaran terbaru."

Ibu bertanya pada Yoochun apakah mobil itu harganya mahal.

"Sangat mahal, eomma. Eomma pasti akan merinding jika mendengar harganya."

Bersama Yunho, Jaejoong melangkah menuju rumah.

"Appa... Eomma..."

Kedua orangtuanya menatap Jaejoong dan Yunho bergantian. Mereka terlihat sangat cocok.

"Perkenalkan, dia adalah Jung Yunho, orang yang ku maksud di pesan kemarin."

"Annyeonghasimnikka, abeonim, eomonim."

Yunho membungkukan badannya untuk memberi salam pada kedua orang tua Jaejoong. Kesan pertama yang diberikan oleh Yunho begitu bagus di mata orang tua Jaejoong.

"Omona... Kau tampan dan sopan sekali." puji Ibu Jaejoong.

"Nona muda! Kami juga datang." Kedua kakak ipar Jaejoong berseru.

"Ah! Unnie..." Dengan segera, Jaejoong memeluk kedua kakak iparnya itu.

"Astaga... Tuan putri kami cepat sekali bertambah dewasa." Celetuk Dongwook mengusap kepala maknae-nya.

"Dia bahkan membawa seorang pria hari ini, hyung. Jaejoong kecil sudah jadi wanita dewasa rupanya." sambung Hyunjoong yang dibalas senyuman oleh sang maknae.

"Baiklah, ayo masuk dulu. Kalian pasti lelah duduk lama."

"Tunggu sebentar, appa..." Jaejoong pun mengajak Yunho kembali ke mobil dan mengeluarkan beberapa bingkisan.

"Aigoo... Apa ini?" tanya appa saat menerima bingkisan itu.

"Yunho bilang tidak ingin datang dengan tangan kosong, jadi ia menyiapkan ini semua."

Yunho pun tersenyum ramah sambil menyerahkan bingkisan berisi daging dan beberapa barang lagi yang terbungkus rapi pada Ayah dan Yoochun.

.

.

Setelah seluruh hadiah dari Yunho tersusun rapi di dalam rumah, semua anggota keluarga duduk dan Yunho memberi salam lagi dengan lebih formal.

"Senang bertemu denganmu, Yunho."

Kedua orang tua Jaejoong menerima salam dari Yunho. Yunho juga berkenalan dengan kakak-kakak serta kakak ipar Jaejoong.

Di sela-sela perkenalan itu, kakak ipar Jaejoong bahkan memuji ketampanan Yunho.

Ya, bahkan ibu Jaejoong terlihat sangat bangga karena anaknya berhasil mendapatkan pria setampan ini.

"Abeonim, Eomonim, maksud kedatangan saya kesini adalah untuk meminta Jaejoong. Saya ingin menikahi Jaejoong."

Ekspresi kedua orang tua Jaejoong sama saat mendengar kalimat itu. Perasaan mereka campur aduk.

"Menikahi putri kami?" Ayah pun menoleh pada Jaejoong.

"Jaejoongie, apa kau juga ingin menikah dengan Yunho?"

Jaejoong memberi anggukan.

"Ya, Appa. Satu-satunya orang yang ingin ku nikahi adalah Yunho. Aku juga sudah menerima lamarannya." Jawab Jaejoong sambil memperlihatkan cincin yang melingkari jari manisnya.

Jiyoung dan Dahae—kakak ipar Jaejoong segera mendekati ibu, dan sembari menyentuh tangan Jaejoong, mereka berkata pada Ibu bahwa yang dipakai Jaejoong adalah cincin berlian.

"Omo! Itu benar-benar berlian?"

Ayah segera menyikut Ibu karena malu dengan tingkah kampungan Ibu sejak tadi.

"Maaf, kau pasti tahu aku sedang merasa begitu senang." elak Ibu malu-malu pada Yunho.

Yunho hanya tersenyum memaklumi.

"Tentu saja. Kalau kita lihat situasi sekarang, pasti semua sedang senang." Jawab Ayah.

"Oh ya, tadi kau bilang kalau kau menyukai anak kami dan Jaejoong pun menyukaimu. Tapi kalian tidak bisa hidup hanya dengan bermodalkan rasa suka atau cinta. Bicara tentang pernikahan, bahkan modal fisik dan kekayaan juga tidak cukup. Selama lima puluh tahun lebih kami menua bersama. Dan tak ada yang membuat kami lebih bahagia daripada melihat anak-anak yang terdidik dengan baik. Kau mengerti kan? Kau harus punya mentalitas yang baik untuk keluargamu juga."

Yunho mengangguk.

"Kau masih punya orang tua?"

"Masih, eomonim."

"Bagaimana kabar mereka? Sehat?"

"Iya. Kakek dan nenek saya juga masih ada, dan mereka sehat."

"Wah! Kau dari keluarga yang berusia panjang rupanya... Bagus, bagus." raut Ayah dan Ibu melunak kini.

"Satu lagi, sebagai laki-laki, kau harus mau berusaha dan bekerja keras untuk memberi kehidupan yang layak demi keluargamu kelak. Apa pekerjaanmu?"

"Sekarang ini, saya sedang membantu bisnis Ayah saya."

"Bisnis? Bagus. Kami juga punya bisnis disini. Meski berjualan beras kedengaran konyol tapi tetap saja disebut bisnis kan?"

Mereka pun tertawa.

"Tentu saja, abeonim."

"Ayahmu menjalankan bisnis apa?"

"Sebuah perusahaan film di Amerika."

"Perusahaan film?! Maksudmu film yang... harus ditonton di bioskop itu?"

"Iya."

"Film apa saja yang sudah pernah kau buat?" tanya Yoochun yang aslinya memang pecinta film.

"Aku saja yang menceritakannya. Perusahaan Yunho adalah Walden Pictures yang merupakan afiliasi dari Walden Group. Oppa, kalian sudah pernah menonton tooth dan Barakhan kan? Itu film yang dibuat oleh Walden Pictures. Dan tidak hanya itu, masih banyak film lain yang diproduksi Walden Pictures. Kompetisi menulis skenario yang ku ikuti kemarin juga diadakan oleh Walden Korea. Nah, Walden Korea juga salah satu cabang dari Walden Group dan yang menjalankannya adalah kakak sepupu Yunho."

"Kalau begitu... Yunho adalah bagian dari... Walden Group?"

Yoochun terdengar seperti kehabisan nafas.

"Iya."

"Memangnya perusahaan itu bagus, Yoochunah?" Mendengar pertanyaan Ibunya, Yoochun segera menjawab.

"Tentu saja, Eomma. Bukan hanya bagus, itu artinya dia sangat kaya."

"Omo!" lagi, kejutan lain dengan sosok Jung Yunho sebagai sumbernya.

Ayah dan Ibu Yunho semakin berbinar menatap calon menantunya itu.

"Ohya Appa... Aku berhasil menang di kompetisi itu."

"Kau serius?"

Jaejoong mengangguk antusias.

"Aigoo! Tuan putri... benar kan yang appa bilang?"

Anggota keluarga yang lain pun ikut memberi selamat pada Jaejoong sementara Ibu mendekati Yunho dan menggenggam tangannya.

"Kau pria yang sangat baik."

"Terima kasih, eomonim."

"Kau sungguh-sungguh ingin menikah dengan Jaejoong?"

"Iya, eomonim. Saya ingin membahagiakan Jaejoong dan saya yakin bisa melakuknnya. Tolong beri saya kepercayaan."

Ibu tersenyum hangat.

"Tentu saja aku percaya padamu, aku merasa kalian memang cocok."

"Terima kasih, eomonim."

"Tapi, kau yang ke berapa?"

"Maaf?"

"Saudaramu... Maksudku, kau anak ke berapa?"

"Dia anak laki-laki tertua, eomma."

Mendengar jawaban Jaejoong, raut ibu berubah.

"Anak laki-laki tertua? Kau punya saudara?"

"Ada. Saya punya dua adik perempuan."

Raut Ibu semakin kecewa, sementara Yunho terlihat bingung saat Ibu kembali beranjak untuk duduk di samping Ayah.

"Kenapa harus anak sulung? Aku sangat menyukaimu, tapi kalau kau anak sulung..."

"Aishh... Kau ini." Ayah segera menyenggol Ibu.

Yunho bingung, sementara Jaejoong hanya bisa diam karena yakin hal ini akan terjadi.

"Begini, Yunho... Aku sudah berjanji pada diriku sendiri untuk tidak memberikan Jaejoong pada anak pertama. Dia anak perempuan satu-satunya dan anak bungsu di keluarga ini, aku tidak tahu apa yang harus ku lakukan."

Ayah tidak menyangka kalau Ibu akan bicara segamblang itu.

"Bagaimanapun, di masa tua nanti aku pasti akan minta bantuan Jaejoong. Aku bukan bermaksud ingin merepotkannya, tapi kalau tinggal di rumah mertuanya, Jaejoong pasti akan lebih memilih untuk menjaga mertuanya juga sibuk mengurusi rumah."

Tidak hanya Ayah, tapi kakak-kakak Jaejoong dan iparnya pun berusaha menghentikan ucapan Ibu.

"Aku harus mengatakan apa yang ingin ku katakan. Aku tidak ingin menyesal karena membiarkannya pergi."

Yunho yang melihat raut cemas di wajah Ibu segera menggenggan tangan wanita tua itu.

"Eomonim tidak perlu khawatir. Karena saya tidak akan membiarkan hal itu terjadi. Saya janji." Yunho berusaha menenangkan calon ibu mertuanya.

"Eomma... Orang tua Yunho tinggal di Amerika, dan mereka punya ahjumma yang membantu mengerjakan pekerjaan rumah. Semuanya ada empat orang, eomma."

"Empat orang?"

"Dan, nanti ketika menikah dengan Yunho, Yunho ingin aku fokus pada pekerjaanku dan tidak akan membiarkanku bekerja berat."

"Benarkah?"

"Iya, Eomonim. Nanti, ketika kedua orang tua kami sudah mencapai usia senja, tentu saja saya dan Jaejoong akan merawat mereka. Tapi sampai sekarang, mereka masih sehat, jadi saya tidak akan membebani Jaejoongie."

Yunho tetap berusaha meyakinkan calon Ayah dan Ibu mertuanya kalau ia takkan membuat hidup Jaejoong menderita.

Usahanya berhasil, karena kini Ibu kembali tersenyum.

"Lalu... Kalian sepertinya akan tinggal di Amerika. Kalau kalian jadi menikah, apa kalian akan langsung pergi ke sana?"

Bagian itu yang paling Ayah khawatirkan.

"Saya sudah membicarakannya dengan Jaejoong dan orang tua saya. Tentu ini akan menjadi hal yang berat bagi orang tua kami, jadi kami berencana tinggal di Korea dulu sekitar satu tahun, sesudah itu meski tinggal di Amerika, tentu kami akan datang sesering mungkin. Kami akan tetap mengunjungi Abeonim dan Eomonim."

"Aigoo... Jadi aku harus rela melepasmu?"

Ucapan Yunho tentang mereka akan menetap di Korea selama beberapa bulan ternyata tak mengurangi kesedihan Ayah.

"Appa... Aku pasti akan sering main kesini."

"Memang, tapi kan..."

"Abeoji, waktu makan siang sudah hampir lewat, pasti Yunho dan Jaejoong sudah lapar." Mendengar ucapan Dahae, Ibu terkejut dan langsung bangkit dari duduknya.

"Omo! Jung Yunho, kau pasti sudah lapar. Maafkan aku."

Tanpa disadari, status Yunho sudah mulai berubah di keluarga ini.

Ayah pun meminta semua beranjak untuk makan.

.

.

.

Setelah menyantap samgyetang, dan beberapa lauk lain buatan Ibu, Ayah dan tiga kakak Jaejoong mengajak Yunho untuk ikut mandi ke pemandian umum.

Sepertinya pria itu diterima dengan baik di keluarga Kim. Bahkan Dongwook, Hyunjoong, dan Yoochun tak lagi canggung dengan direktur muda itu.

Yang paling mengejutkan adalah saat Ayah sempat melihat bagian bawah tubuh Yunho di tempat pemandian umum. Kepala keluarga Kim itu segera bersorak senang.

"Lolos! Jaejoong punya masa depan yang cerah rupanya. Apapun yang terjadi, kau lolos sebagai menantuku!"

.

.

.

Yunho dan Jaejoong dipaksa untuk bermalam di Rumah Beras. Tapi timbul masalah baru karena kamar yang ada di rumah itu kurang.

Mereka tidur dengan pasangan masing-masing kecuali Yoochun juga Yunho yang dilarang keras oleh Ayah untuk tidur sekamar dengan Jaejoong.

"Kau bisa tidur di kamarku, biar aku yang tidur dengan Appa dan Eomma." tawar Yoochun, tapi lagi-lagi Ayah tidak mengijinkan.

"Bagaimana mungkin Yunho tidur di kamarmu yang berantakan itu? Dia akan segera menjadi anggota keluarga kita, kalau bukan sekarang, kapan lagi dia akan tidur dengan ayah dan ibu mertuanya? Mari tidur."

Akhirnya Ayah memutuskan supaya Yunho tidur di kamar bersama mereka.

Tapi sebelum Yunho mengekor Ayah, Jaejoong sudah terlebih dulu menarik tangannya.

"Kau pasti tidak akan nyaman disana, bagaimana ini?"

Jaejoong meminta maaf atas ketidaknyamanan yang dirasakan Yunho. Tapi Yunho sendiri tidak merasa keberatan sama sekali.

"Tenang saja. Aku senang, karena ini artinya aku diterima dengan baik di keluargamu."

"Kalau mereka sudah tidur, kabur dan datang ke kamarku saja ya?"

"Kabur?"

"Iya, seru kan?"

Ide yang Jaejoong lontarkan membuat Yunho cemas. Yang ada di dalam kepalanya kini benar-benar hanya cara bagaimana kabur dari kamar mertuanya.

Sejujurnya, Yunho senang menerima ajakan Ayah Jaejoong untuk tidur bersama mereka karena kalau bukan sekarang, kapan lagi. Tapi dia tetap berharap calon mertuanya cepat tidur supaya ia bisa segera bertemu dengan Jaejoong.

Posisi Ayah ada diantara Ibu dan Yunho. Melihat Yunho berbaring di atas kasur lipat di sampingnya, Ayah bisa merasakan hatinya tenang dan hangat.

Ia tak lagi menganggap Yunho sebagai menantu, melainkan sebagai anak mereka.

Yunho adalah pria yang akan mencintai dan juha memperlakukan putrinya dengan baik, sepanjang hidupnya. Ayah memang tidak tahu sehebat apa Yunho, tapi setelah melihat dan mendengar langsung dari Jaejoong, Ayah yakin kalau Yunho bisa membahagiakan putrinya dengan baik.

Jadi, tak ada yang perlu dikhawatirkan.

Rasanya tidak perlu bertanya apa-apa lagi, karena Yunho pasti sanggup memberi jawaban yang baik dan bisa membuatnya tenang.

Yunho tahu cara menghormati orang tua, dan rasa cinta Yunho pada Jaejoong pun bisa dirasakan dari tiap kata yang diucapkannya. Mereka bisa tenang jika melepas Jaejoong untuk Yunho.

Sementara hati Ayah dan Ibu Jaejoong mulai tenang, Yunho mulai gelisah. Sudah lewat tengah malam, tapi Ayah dan Ibu belum juga tidur. Mereka justru masih mengajak Yunho mengobrol untuk beberapa saat.

Yunho lega karena setelah menunggu beberapa puluh menit, akhirnya ia mendengar suara dengkuran Ayah.

Sepertinya mereka berdua sudah tidur, dan Yunho memang tak sabar ingin segera kembali ke pelukan Jaejoong.

Dengan hati-hati Yunho memperhatikan Ayah dan Ibu. Saat sudah mengambil ancang-ancang untuk bangun, suara dengkuran Ayah terdengar semakin keras.

Baru saja ia akan beranjak tapi Ayah tiba-tiba berganti posisi, menghadap ke arahnya.

'Bagaimana ini?'

Yunho tak tahu harus bagaimana, karena kalau sampai Ayah terbangun dan melihatnya sedang berusaha kabur, Ayah pasti akan mengikat kakinya.

Di tengah kebingungannya, tiba-tiba Ibu menjatuhkan kakinya di atas tubuh Ayah agar suaminya itu tidak bisa bergerak.

Ternyata Ibu tahu rencana Yunho, dan dengan gerakan tangan, Ibu menyuruh Yunho keluar.

Yunho tersenyum sebagai ungkapan terima kasih. Sebelum keluar kamar, ia sempat mendengar suara Ayah berdeham namun Ibu segera memeluk dan menutup mulut suaminya.

Saat pintu sudah ditutup, Ayah segera duduk dan terlihat gusar.

"Apa yang kau lakukan?"

"Apanya? Kau kan tahu rasanya berhadapan dengan mertua yang galak. Sudah diam saja dan biarkan mereka."

Ternyata Ayah pun hanya berpura-pura tidur sejak tadi untuk mengawasi Yunho.

Ayah yang akhirnya tak mau ambil pusing pun segera kembali berbaring sambil memikirkan perkataan istrinya barusan.

.

.

.

Yunho membuka pintu kamar Jaejoong yang tak jauh dari kamar mertuanya dan melihat wanitanya itu terbangun dengan posisi duduk.

"Kenapa kau lama sekali?"

"Orang tuamu belum tidur."

"Oh? Lalu... Bagaimana kau bisa keluar?"

"Omonim yang membantuku." Jawab Yunho sambil masuk ke dalam selimut.

Jaejoong pun ikut kembali menenggelamkan tubuh yang segera dipeluk oleh Yunho.

Rasanya nyaman dan begitu hangat.

"Kenapa kau memintaku kabur dan datang kesini?"

"Kenapa? Tentu saja karena aku ingin menyambut pagi dengan orang yang ku cintai." Sedikit menengadah, Jaejoong mengecup singkat bibir Yunho.

"Manis. Kalau begitu kita sama." Yunho mengeratkan pelukannya dan membalas ciuman itu.

"Apa aku sudah pernah bilang kalau aku mencintaimu, Jung Yunho?"

"Sudah, dan aku mengingat dengan baik setiap kau mengucapkannya."

"Syukurlah, rasanya aku semakin mencintaimu." Jaejoong bermanja-manja dengan menenggelamkan wajah di dada bidang Yunho.

"Kau mau tidur?"

"Hm? Tentu saja... Memangnya kenapa?"

"Kau menyuruhku bersusah payah kabur kesini hanya untuk tidur?"

Jaejoong mencium hal aneh dari nada bicara Yunho.

"Kalau yang kau maksud sama seperti tebakanku, aku tidak mau." tegas Jaejoong.

Yunho justru menyeringai.

"Memangnya tebakanmu apa? Beritahu aku..."

Iseng, tangan Yunho tiba-tiba sudah ada di balik baju Jaejoong dan tanpa kompromi lagi melepas kaitan bra uang dipakai Jaejoong.

"Yunho, jangan! Kau sudah gila? Kalau kita ketahuan bagaimana?"

"Bukannya kau ingin sesuatu yang seru?"

"Yunho jangan! Ahh..."

"Sshh... Pelankan suaramu."

.

.

.

Paginya, Jaejoong dan Yunho memutuskan untuk mendaki bukit yang tak jauh dari rumah.

Menyaksikan matahari terbit bersama membuat keduanya begitu bahagia dan berpikir bahwa hari itu adalah hari terindah.

Saat hari merangkak siang, Jaejoong dan Yunho berpamitan untuk kembali ke Seoul karena mereka juga masih punya pekerjaan yang harus di selesaikan.

Jaejoong memeluk Ayah dan Ibunya saat berpamitan.

"Jaga dirimu baik-baik, tuan putri." Ucap Ibu.

Entah karena apa, Jaejoong bisa melihat genangan Airmata di pelupuk mata indah Ibunya.

"Tenanglah, eomma. Aku juga selalu menjaga diri dengan baik kan selama delapan tahun ini?"

Ibu hanya menjawab dengan senyuman.

Yunho pun ikut berpamitan dan memberi salam pada kedua calon mertuanya itu.

"Yunho... Tolong jaga Jaejoong kami dengan baik. Kami percaya padamu."

"Tentu saja, Abeonim, Eomonim... Kalian tidak perlu khawatir.

Dan setelah memberi lambaian ringan, mobil mewah milik Yunho itu bergerak menjauh meninggalkan rumah keluarga Kim.

Ibu masih melambai sampai ia yakin mobil Yunho tak lagi terlihat.

Airmata haru tak lagi tertahankan.

"Ah... Padahal sama seperti melepas Jaejoong kembali ke Seoul biasanya, tapi kenapa rasanya aku tidak rela?"

Ibu dengan cepat mengusap airmata dengan ujung bajunya. Sementara Ayah merangkul seraya mengusap bahu Ibu.

"Benar. Perginya Jaejoong hari ini rasanya begitu sulit diterima. Aku melihat Jaejoong yang berbeda dan semakin dewasa karena Yunho. Tugas kita selesai, yeobo. Anak perempuan kita sudah menemukan penjaganya."

Ayah pun tak mampu menahan haru. Sementara Ibu masih berusaha menahan tangisnya.

"Jja... Sebaiknya kita masuk." ajak Ayah sambil menuntun Ibu.

"Ah, rumah ini jadi terasa begitu sepi." lirih Ayah sebelum menutup kembali pintu rumah mereka.

.

.

.

Oktober 2012

Hampir dua bulan berlalu sejak lamaran Yunho kepada keluarga Kim.

Sejak hari itu, banyak hal yang terjadi termasuk Yunho yang akhirnya membawa Jaejoong menemui neneknya.

Sesuai dugaan, nenek Yunho tentu saja antusias menyambut niat baik Yunho untuk segera menikahi Jaejoong.

Pembicaraan antar orang tua pun sudah terjalin dengan lancar.

Meski butuh waktu yang cukup lama, tapi persiapan pernikahan mereka berjalan lancar.

Ditandai dengan datangnya orang tua Yunho ke Korea untuk bertemu orang tua Jaejoong dan juga mempersiapkan acara pernikahan keduanya di Korea.

Ayah dan Ibu dari keluarga Jung itu pun akhirnya meluangkan waktu selama sebulan untuk mempersiapkan pesta megah pernikahan anak pertamanya.

Dan hari yang ditunggu pun tiba.

Seorang wanita cantik berbalut gaun putih suci duduk tenang di depan meja rias. Seorang penata rias belum selesai membubuhkan blush-on di pipinya.

Sementara penata busananya sibuk memakaikan mahkota kecil di atas rambut coklat Jaejoong yang digelung rapi.

Pintu terbuka tepat saat mereka selesai merias Jaejoong menjadi pengantin tercantik hari ini.

Kedua orang yang bertugas mempercantik sang mempelai wanita pun pamit saat tahu bahwa yang masuk adalah sang mempelai pria.

Mereka terkikik melihat wajah terkejut Yunho saat menuju pintu.

Jaejoong sendiri memberi senyum termanisnya dengan tangan memegang sebuah buket bunga lily putih.

Yunho benar-benar terperangah dengan kecantikan Jaejoong hari ini. Tidak. Jaejoong memang selalu berhasil membuatnya tak berdaya dengan kecantikannya.

"Kau sudah siap?"

"Ya. Tinggal menunggu Ayah menjemputku. Pergilah duluan, lima menit lagi acaranya akan dimulai."

Yunho tersenyum dan segera mendekati Jaejoong.

Ia hampir mencium pengantinnya itu kalau saja Jaejoong tak menahannya.

"Aku tidak mau riasanku berantakan lagi, Yun..."

"Ayolah, sedikit saja. Aku gugup. Jadi beri aku sedikit kekuatan."

"Tidakkah kau pikir sebaiknya aku menyimpan ciuman hari ini untuk reward setelah kita selesai mengucap sumpah?"

Yunho terkekeh.

"Baiklah. Kau menang. Aku pergi sekarang." Yunho melepas tangannya yang semula bertengger manis di pinggul Jaejoong.

"Akan ku temui kau di depan altar." jawab Jaejoong saat Yunho berjalan menuju pintu.

"Kutunggu itu, pengantin cantikku."

.

.

.

Sumpah janji setia pun diucap, kini Yunho dan Jaejoong telah resmi menjadi sepasang suami istri di mata hukum dan juga di hadapan Tuhan.

Ciuman sebagai pembuka status baru mereka pun diiringi tepuk tangan meriah dari pada undangan yang menatap iri sekaligus bahagia.

Jaejoong tak bisa menahan senyum saat Yunho melepas ciuman mereka dan menatap ke dalam matanya.

"Terima kasih sudah mengisi dua persen terakhirku."

"Kau yang mengajarinya, sayang. Kau yang membantuku melengkapi dua persen terakhir itu. Aku mencintaimu selamanya."

Dan akhir bahagia seperti sebuah cerita dongeng pun mengakhiri perjalanan takdir keduanya di depan altar suci.

.

.

Pernikahan bukanlah kisah cinta sederhana, itu adalah cobaan dan cobaan itu adalah pengorbanan ego untuk suatu hubungan dimana dua telah menjadi salah satu.

.

.

.

The Last 2% END

.

.

Finally! Saya berhasil nyelesein novel ini.

Makasih buat semua dukungan kalian yang mau nyemangatin saya di review, pm, maupun bbm. Buat semua temen2 disini juga sahabat2 di twitter, line, & bbm, Saya sayang kalian :'*

Maaf juga buat beberapa permintaan untuk ff ini yang gak bisa saya realisasikan.

Juga maaf buat semua ketidaksempurnaan saya dalam me-remake ff ini.

Saya seneng denger banyak dari temen2 yang akhirnya tertarik ama novel ini karena remake-an saya. Mari apresiasi cerita keren bikinan Kim Rang ini! Karena sekali lagi, cerita ini sepenuhnya punya Kim Rang cuma saya ubah dan tambah beberapa aja.

Tinggal epilog yang semoga bisa saya update tanpa nunggu minggu depan.

Once again, terima kasih banyak buat kalian semua. Semoga gak bosen baca tulisanku yang lain.

See ya!

.

.

.

Hugs and Kisses for all of u :*

Sign,

Cherry YunJae.