Previous Chapter
"Waktu eomma- ku meninggal, aku sama sekali tidak merasa sedih. Tidak sama sekali. Aku berpikir bahwa aku begitu jahat. Henry bahkan tidak berhenti menangis seminggu penuh, atau bahkan sampai sekarang dia masih suka menangisi kepergian Eomma diam-diam."
Kyuhyun kembali melirik Kibum yang masih tidak mengalihkan pandangannya. Semula ia tidak tertarik dengan pertanyaan Kibum. Tapi, begitu mendengar apa yang Kibum katakan barusan, mau tidak mau menarik perhatiannya juga. Mendengar Kibum bercerita apalagi tentang dirinya adalah hal yang paling mustahil. Tapi, kali ini entah untuk alasan apa, namja irit kata itu dengan sangat lancar dan tentu saja panjang lebar bercerita tentang kehidupannya. Itu adalah hal yang sangat langka. Kesempatan yang bagus untuk Kyuhyun menyelami lebih jauh lagi tentang namja itu.
"Aku… tidak ingat kenapa aku bisa terluka seperti ini. Tapi…" Kibum menggantungkan kalimatnya. Tampak berpikir dan mengingat keras.
Kyuhyun mengernyit. Menunggu kalimat Kibum setelahnya. "Tapi?"
"Aku... rasanya… Kyuhyun-a!" Kibum tiba-tiba memandang Kyuhyun dan meraih bahu teman sebangkunya itu sehingga mau tidak mau membuat Kyuhyun tersentak kaget. "Bunuh aku, Kyuhyun-a. Bunuhlah aku! Kumohon…"
"MWO?!"
Chapter 11
Aura dingin dan kepanikan masih tersisa di ruangan beraroma obat-obatan itu. Dan Kyuhyun masih terpaku di tempat yang sama meski sepuluh menit sudah berlalu saat Kibum dibawa pulang oleh Jung Ahjussi—sopir pribadi keluarga Kim—yang meski terlambat datang, tapi berhasil membebaskan Kyuhyun dari aksi tak waras Kibum. Kyuhyun bahkan masih bisa merasakan guncangan tangan Kibum di bahunya yang terasa mengguncang jiwanya juga. Dalam situasi seperti ini, ingatannya tentang Donghae semakin mengakar kuat saja. Harusnya Donghae ada di sisinya untuk membantunya menangani Kibum saat ini.
Hyung, kau lihat? Aku tidak bisa apa-apa untuk menenangkan Kibum tadi. Kau harusnya tak meninggalkanku. Aku bahkan tidak tahu apa yang lebih parah dari ini.
Di saat seperti ini, membuat Kyuhyun lupa kalau ia sudah berjanji tidak akan lagi meratapi kepergian Donghae yang sudah tenang di alam lain. Merasa suasana hatinya tak akan membaik jika tetap tinggal di ruangan berbau obat-obatan itu, Kyuhyun memutuskan untuk segera pergi. Sempurna tubuhnya melewati ambang pintu, Kyuhyun melihat sosok yang begitu dikenalnya terduduk lesu di sisi pintu.
"Henry-a?"
Merasa namanya terpanggil, Henry segera berdiri dari duduknya. Sebentar ia mengusap wajahnya sebelum akhirnya memberanikan diri untuk menatap Kyuhyun. "Kyu Hyung… aku menunggumu sejak tadi," ujar Henry riang sembari mengapit lengan Kyuhyun protektif. Lantas berjalan beriringan melewati beranda kelas yang sepi. Jam istirahat sudah berlalu sepuluh menit yang lalu.
Mendengar kalimat Henry, sontak saja membuat kedua alis tebal Kyuhyun saling menyatu. Di sela kebingungannya, ditatapnya wajah Henry lamat-lamat. "Kenapa menungguku? Kenapa tidak menunggu kibum?" tanyanya.
Henry bungkam untuk beberapa saat. Langkahnya perlahan memelan sebelum akhirnya berhenti, membuat Kyuhyun mau tidak mau turut menghentikan langkahnya juga. Dilihatnya namja mungil itu sefokus mungkin. "Henry?" panggil Kyuhyun. Menyadarkan Henry yang hanya menatap kosong ujung koridor sekolah yang sepi.
"Ne, Hyung?"
"Liat aku…" Kyuhyun menuntun tubuh Henry untuk menghadap ke arahnya sehingga ia bisa melihat lebih rinci lagi apa yang tengah Henry sembunyikan di balik mata gelapnya.
"Haha… kita tampak seperti orang yang sedang berpacaran saja, Hyung. Jangan seperti ini nan—"
"Menangislah!" Sungguh, dari sejak bertemu dan kenal dekat dengan Henry, Kyuhyun baru menyadari bahwa ada banyak warna gelap di balik bola mata bocah mungil itu saat ini. Mungkin, jauh-jauh hari sebelumnya Henry bisa menyembunyikan semua kisah kelam itu darinya. Namun, tidak untuk hari ini. Tatapan sayunya baru saja menampar keras Kyuhyun, menyadarkan Kyuhyun, bahwa namja yang sudah ia anggap sebagai dongsaeng-nya sendiri itu tidak seceria kelihatannya.
"Wae? Kenapa aku harus menangis? Haha… kau aneh sekali, Hyung. Apa virus keanehan kibum Hyung menular padamu? Haha…"
Kyuhyun sadar, sejak pindah ke Seoul, hidupnya berantakan dan ia terlalu fokus pada penderitaannya, pada segala sakitnya saja. Tidak pernah mencoba memandang ke arah lain, sehingga ia tidak tahu bahkan orang terdekatnya jauh lebih menderita darinya.
"Hyung?" Henry berheni tertawa begitu melihat Kyuhyun hanya diam menatapnya.
Kyuhyun melepaskan cengkraman tangannya di bahu Henry. Menarik napas dalam-dalam sebelum akhirnya mengembuskannya dalam satu helaan saja. Masih menatap mata Henry yang meski kotak pandora penuh kesedihan yang sempat disembunyikan di balik mata sok cerianya berhasil Kyuhyun jebol, namja mungil itu masih saja mengelak.
"Benar, aku Hyung-mu, Henry-a. Jadi, jangan pernah mencoba menyembunyikan apa pun dari Hyung-mu ini. Sekarang… menangislah!"
Henry tertawa lagi, kali ini lebih keras. "Hyung, kau ini bercanda terus. Memangnya aku harus menangis karena apa? Apa karena Kibum Hyung sakit? Jangan becanda, Hyung… Kibum Hyung itu kuat, dia tidak akan mati hanya karena demam. Aku tidak perlu menangis untuk hal biasa. Aku baik-baik saja. Serius…"
Ternyata pertahanan Henry masih cukup tangguh. Alhasil, Kyuhyun memilih untuk diam, menunggu sejauh mana Henry bersikap defensif seperti ini. Selama beberapa saat Kyuhyun memerhatikan Henry dalam diam. Adik dari Kim Kibum itu masih tertawa sampai—entah di detik ke berapa—tawa itu perlahan memudar. Berganti dengan isak tangis pilu. Disusul dengan—
BRUK!
—rasa hangat tiba-tiba menjalar di tubuh Kyuhyun. Henry memeluk erat dirinya.
"Hentikan semua ini, Hyung. Hentikan semua ini. Aku mohon!" Henry menangis dengan keras. Jika saja wajahnya tidak terbenam di dada Kyuhyun, Henry yakin tangisnya akan terdengar hingga ujung koridor, mengusik siswa-siswa lain yang sedang fokus belajar. Meskipun begitu, Henry tidak peduli. Salahkan saja Kyuhyun yang malah memaksanya menangis.
"Untuk apa Tuhan menciptakan air mata jika tidak kau gunakan dengan baik? Mereka diciptakan untuk menemani kita saat sedih. Bukankah seperti ini jauh lebih baik?" Kyuhyun mendekap Henry lebih kuat lagi.
"Aku melihatnya, Hyung."
"Eoh?"
"Aku melihat semuanya, Hyung. Aku selalu melihatnya, tapi aku tidak pernah bisa berbuat apa-apa."
"Mwoya?"
Henry tak menjawab. Ia malah terisak dan menangis lebih pilu. Kyuhyun memilih untuk diam, menunggu Henry lebih tenang dulu. Perlahan namja berkulit putih pucat itu menuntun Henry untuk duduk di bangku terdekat.
"Hyung… apa Kibum Hyung gila?"
"Eh?"
Jeda lama setelahnya. Henry menghapus air matanya dan berusaha mengumpulkan oksigen dalam dadanya. Kyuhyun memilih untuk menatap Henry dengan hampa. Dissociative Identitiy Disorder memang penyakit kelainan mental, tapi Kyuhyun tak cukup berani mengatakan Kibum gila. Lagipula Kyuhyun belum tahu pasti apa Kibum mengidap penyakit itu atau penyakit kejiwaan lainnya. Kibum mungkin perlu dibawa ke psikolog dan menjalani banyak pemeriksaan.
"Awalnya aku tidak begitu mempermasalahkan kenapa Kibum Hyung gampang lupa. Aku berpikir mungkin dia memang pelupa. Tapi belakangan aku mulai menyadari kalau Kibum Hyung menjadi lebih aneh. Kadang dia begitu manis, kadang dia begitu kasar, kadang dia begitu hangat, kadang dia begitu dingin. Dia benar-benar aneh, Hyung. Dia bisa berubah dalam waktu kurang dari satu hari. Dia bisa dengan tiba-tiba pintar berbahasa inggris dan tiba-tiba tak bisa mengerjakan matematika kelas 3 SD, padahal di jenius matematika."
Kyuhyun hanya bisa menelan ludahnya kesat. Dirangkulnya tubuh Henry, berusaha menguatkan agar namja itu tidak menangis dulu sebelum menceritakan semuanya dengan tuntas.
"Semalam, Appa bilang kalau dia akan menikah lagi. Aku cukup terkejut, tapi tidak sampai mengamuk seperti Kibum Hyung sehingga Appa marah dan menyiksanya. Tapi yang lebih mengagetkanku—sebenarnya aku menguping apa yang kalian bicarakan di UKS tadi, Hyung. Dan aku begitu terkejut begitu Kibum Hyung bilang tidak ingat kenapa ia terluka dan memintamu untuk merahasiakan itu dariku, padahal ia tahu sendiri kalau aku ada di sampingnya saat Appa memukulinya. Dan saat Kibum Hyung memaksamu untuk membunuhnya, aku pikir dia itu gila."
"Wae? Kenapa kau berpikir seperti itu?"
"Soalnya, aku sering melihat Kibum Hyung berusaha melakukan percobaan bunuh diri."
"Mwo?"
Sudah sejauh itukah?
.
.
Dipaksa berpikir terlalu keras membuat kepala Kyuhyun rasanya akan pecah hanya dalam hitungan detik saja. Percakapannya dengan Henry memaksanya untuk mengetahui lebih jauh lagi tentang penyakit yang—mungkin—Kibum derita. Hingga jam sembilan malam ini ia bahkan masih anteng duduk di meja belajarnya, membaca buku milik Donghae seserius mungkin.
Kyuhyun tahu itu tidak berpengaruh banyak karena Kibum membutuhkan psikolog yang benar-benar psikolog. Penyakit Kibum—sesuai dengan yang Henry ceritakan—Kyuhyun rasa sudah mencapai klimaks dan sudah pada tahap gawat darurat. Lagipula, Kyuhyun sudah menyarankan Henry untuk segera membawa Kibum ke psikolog. Tidak ada yang perlu dicemaskan sebernarnya.
Benar, tidak ada yang perlu dicemaskan.
Justru dirinyalah yang seharusnya dicemaskan. Karena baru saja ada sesuatu berwarna merah pekat yang menetes, membasahi permukaan buku yang sedang Kyuhyun baca.
Seolah itu hal yang biasa, Kyuhyun tampak biasa menghadapi hal itu. Ia mendongakan kepalanya, meraih tisu yang sejak beberapa minggu ini lebih rajin dibelinya dan mencoba menghentikan darah itu.
Sial! Darahnya banyak sekali. Kyuhyun menggerutu. Ia tahu kalau penyakitnya semakin parah. Entahlah… sejak kepergian Donghae, ia tidak ingin mengurusi soal penyakit itu. Ia sudah tidak pernah lagi berkunjung ke rumah sakit dan menemui Dokter Han. Ia lebih memilih membiarkan penyakit itu menjadi temannya. Meski kerap kali penyakit itu bermain-main dengan tiap sendi tubuhnya. Rasanya sakit. Tapi bagi Kyuhyun, rasa sakit itu jauh lebih baik. Luka kehilangan bahkan jauh lebih menyakitkan dari apa pun.
Serekat mungkin Kyuhyun rapatkan matanya. Berusaha menahan nyeri yang tiba-tiba saja menyerang kepalanya. Dicengkramnya surai kecokelatannya dengan kuat. Sakitnya lebih hebat dari kemarin. Ingin saja ia berteriak dan mengerang sekeras mungkin untuk melampiaskan segala sakitnya. Namun, keadaan kamarnya yang sempit dan bersebelahan dengan kamar Eomma pasti membuat suara erangannya terdengar dengan mudah. Sungguh! Kyuhyun tidak ingin Eomma atau Siwon Hyung tahu keadaannya saat ini.
Selama beberapa menit Kyuhyun melewati waktu yang cukup sulit. Ia harus menghentikan aksi mimisannya dan menahan sakit yang bukan buatan menyiksanya. Baru setelah semuanya berakhir, sakit itu mereda dan mimisannya juga berhenti, Kyuhyun memutuskan untuk beranjak. Dengan tertatih dan langkah terseok, ia menyeret kakinya keluar kamar untuk mengambil air minum. Tenggorokannya benar-benar sakit dan kering. Ia butuh minum.
Tapi, baru saja ia membuka pintu kamar, ia melihat Eomma dan juga Siwon tengah duduk di ruang depan. Tampaknya mereka tengah membicarakan sesuatu. Kyuhyun tak begitu tertarik dengan pembicaraan mereka. Tujuannya hanya dapur dan lagipula ia tidak ingin anggota keluarganya itu mengetahu kondisinya yang super kacau seperti sekarang ini.
Dan tepat ketika ia sampai di dapur dan meminum setengah air di dalam gelas yang baru saja dituangkannya, kata-kata Eomma yang terdengar hingga dapur, sesaat saja menghentikan pergerakannya. Kyuhyun mematung di tempatnya. Napasnya tercekat dan detakan jantungnya tiba-tiba terasa berhenti. Sebelum gelas yang digenggamnya jatuh, Kyuhyun menyimpan gelas itu dan sesegera mungkin mencari pegangan untuk menopang tubuhnya yang tiba-tiba saja limbung. Kepalanya mendadak pening kembali.
Apa yang Eomma pikirkan sebenarnya? Kyuhyun membatin.
.
.
"Kau bisa sakit, Hyung." Henry menyampirkan baju hangat di punggung Kyuhyun. Cukup heran dengan sikap Kyuhyun yang tiba-tiba menghubunginya dan meminta mereka bertemu di malam-malam seperti sekarang ini. Belum lagi cuaca dingin karena turunnya salju.
"Aku sudah sakit, Henry-a."
Henry hanya tersenyum kecut mendengar kata-kata Kyuhyun. Ia tidak melupakan hal itu. Henry satu-satunya orang, setelah Dokter Han, yang tahu penyakit yang saat ini tengah Kyuhyun derita. Rasanya situasi saat ini terasa seperti sedang mengejek mereka saat ini.
"Sebenarnya ada apa, Hyung?" tanya Henry, mencoba mengalihkan pembicaraan.
Kyuhyun tak menjawab. Dipusatkannnya pandangannya ke arah hamparan kota yang hanya dipenuhi warna putih. Warna putih yang selalu menggambarkan ketulusan itu cenderung terlihat menggambarkan kehampaan saat ini. Tangannya yang terkepal, meremas pagar besi atap gedung mall yang saat ini menjadi lokasi pertemuan itu, melampiaskan segala emosi yang terpendam dalam dada.
Merasa tidak ada jawaban, Henry memutuskan untuk diam, menunggu Kyuhyun menyelesaikan lamunan panjangnya. Tak ingin terlalu memaksa untuk segera mendengar jawaban Kyuhyun meski ia juga sudah mulai merasakan hawa dingin menciumi kulitnya, padahal ia sudah mengenakan mantel super tebal.
Cukup lama waktu dihamburkan oleh kesunyian yang masih menyelimuti. Keduanya masih tenggelam dalam kebisuan. Baik Kyuhyun maupun Henry, sama-sama memfokuskan titik matanya pada pemandangan di hadapannya. Sejauh mata memandang, warna putih dihiasi lampu-lamu rumah yang menyala, memenuhi pandangan mereka. Membuat Henry berpikir, bahwa sehampa apa pun perasaannya, segelap apa pun jiwanya, selalu ada titik terang yang dengan setia merengkuh dan meyakinkannya bahwa semuanya akan selalu baik-baik saja. Titik terang itu bernama harapan.
"Henry-a…"
"Hn?"
"Apa seperti ini rasanya?"
Henry mengernyit. "Apa?"
"Apa seperti ini yang kau dan juga Kibum rasakan saat mendengar bahwa orangtua kalian akan menikah lagi?"
Untuk beberapa detik Henry terdiam, memproses dengan baik pertanyaan Kyuhyun. Baru di detik setelahnya, Henry mulai paham dan mengerti. Ia tersenyum tipis, sebuah senyuman miris dan lirih. "Entahlah… tapi rasanya seperti berharap Kibum Hyung datang ke kamarku dan membangunkanku. Aku merasa tengah bermimpi buruk, tapi tak ada yang bisa membangunkanku. Semuanya terlalu nyata saat ini."
"Rasanya aku ingin menyusul Hae Hyung saja."
Henry menarik napas berat mendengar hal itu. "Kalau begitu, apa bedanya kau dengan Kibum Hyung? Kenapa kau tidak memintaku untuk membunuhmu saja seperti yang Kibum Hyung lakukan padamu? Jika hanya karena masalah seperti ini membuat kalian berpikir kalau mati adalah jawaban terbaik, aku pikir, mungkin yang gila itu aku. Karena hanya aku yang masih percaya bhawa semuanya akan baik-baik saja setelahnya."
Kyuhyun menoleh dengan cepat ke arah Henry saat itu juga. Mata Henry tampak berkca-kaca.
"Ternyata tidak ada yang benar-benar menyayangiku. " Henry melangkah meninggalkan Kyuhyun.
"Henry-a?"
"Katakan bagaimana aku menepati janjiku pada Changmin Hyung jika kau berakhir menyusul Donghae Hyung?"
Kyuhyun membatu saat itu juga.
.
.
TBC
.
.
Selanjutnya… aku yakin kalian bisa menebak apa yang akan terjadi setelah ini. Maaf ya, chapter ini gak memuaskan… dan aku masih belum bisa ngasih tahu apa penyakit Kyuhyun. Yeah! Jawabannya Karena aku sendiri tidak tahu. Kan yang tahu cuma Kyuhyun, Henry, Dokter Han, dan Donghae… jadi, tunggu mereka ngasih tau aja ya?
.
.
Sebelumnya, terima kasih banyak yang udah kasih review dan nyemangatin aku. Kalian satu-satunya alasan yang membuat aku tidak bisa meninggalkan gwaenchanha ini.
.
.
Last, Follow me
Twitter : nhyea1225
Wattpad : naesu13
Wordpress : www. Naemochi.
Blog : www. Nia-sumiati. Blogspot. Com
Line : naesu13
