Minnasan~~
ketemu lagi sama Grazee yang berganti nama menjadi Ice-cy. It's up to you to call me Grazee or Ice or Icy. XD
*gak penting

Sebelum chapter ini saya hidangkan, mari manyimak balasan reviews dari previous chapter.

Riviews corner:

Pooh: Iya~~ sebentar lagi udah mau tamat. :D
yang khianatin Ichi? Ntar deh, tunggu tanggal terbitnya *lhooh?. XD
Rukia hamil kah? Kalau pada mau Rukia hamil, bisa diatur kok! :D
*Ichigo nyengir*
Untuk SasuHina, bisa kok. Kebetulan memang sedang menggarap proyek SasuHina.:3

Wakamiya Hikaru: Waaah, suka lemon ya? Jaruk mau? XD
Waaahh, Gin lagi. Mari lihat chapter nanti saat waktunya tiba ya! X)

Voidy: Sereman mana sama Voidy? ._. *dijepret
itu lemon masa panas seh? O_O saya berusaha se-tidak-vulgar-mungkin. _
Untuk manis dan gak nahannya, saya ucapkan terimakasih. :3 XD
Iyah, kayaknya si Renji curiga ya sama Gin. Akiu juga curiga kalau Gin naksir aku. *ngarep tingkat dewa.

Mey Hanazaki: Yang ini curiga sama Renji. Akan terjawab saat tiba waktunya. XD
Di chapter ini, romantis ga? :3

Guest: kurang hot? O_Oa

Kim Na Na: i understand. ;_; wakarimashita. Menunggu itu nggak enak banget. Aku juga pernah nungguin fanfiksi, yang updatenya malah setahun sekali, eh ujung2nya ngilang. DX *curhat
Happy ending yah? Bisa dimasukkan deh ke kotak saran dulu. XD

Owwie Owl: wah ada Owwie ripiu. XD *dijitak

Lady Cha'py: Iyoooh. Ichi mesuuummm. (Ichigo: authornya yg mesum!) XD
aku juga pengan dong ke menara Tokyo! Kalau bisa, ajak2 ya! X)) *ngarep bgt
Gin emang aneh dan mencurigakan. Aku aja curiga kalau dia naksir aku. *halaaah*
Dipending dulu ya penasarannya. Mungkin di chappie ini ada. XD

Guest 2: udah apdet :D

Niel's ELF: kalau Rukianya gak mau terus, kasian Ichigo bisa mati bunuh diri gara2 frustasi. XD

Hai'. Terimakasih sudah menunggu, dan meninggalkan review. Terimakasih juga buat yang sudah menambahkan angka di daftar hits fanfiksi ini. :D

Dan jeng jeng.. inilah chapter untuk kali ini. :3

Selamat menikmati~~~

.

.

Never Changed by Time
BLEACH belongs to Tite Kubo

This story is Ice-cy

.

.

Chapter 11: Chance for the couple 2

.

.

Salju pertama jatuh ke bumi, disusul dengan butir-butir lembut berwarna putih yang lain. Mereka jatuh, menimpa tanah, dahan, dan segala sesuatu yang mereka jumpai pertama kali. Ini masih pagi. Bahkan sudut sembilan puluh derajat belum sempurna untuk menunjukkan waktu pukul sembilan pagi. Sepertinya musim dingin kali ini sangat bersemangat untuk segera turun ke bumi, atau, para dewi salju sedang bahagia? Mungkin. Namun bukanlah hal yang penting bagi pemuda yang saat ini masih bergulung nyaman di tempat tidurnya. Kalau memang para dewa atau dewi sedang bahagia, ia tak kalah bahagia dari mereka. Kini, ia sedang menikmati harinya. Hari baru? Dapat lah dikatakan demikian.

Pemuda itu menarik selimut hingga menutupi tubuh mereka sampai batas bahu. Tangan kirinya masih setia memeluk erat gadis yang ada di sampingnya. Namun begitu kedua iris musim gugurnya bertemu dengan jam yang terpajang di meja, kerutan permanen di keningnya bertambah jelas. Oh, andai saja tak ada telefon dari bawahannya sejam lalu, ia pasti tak akan beranjak dari tempat tidur ini. Tapi, pukul sembilan nanti ia harus pergi menangani sebuah urusan. Tunggu... bukankah tadi dia sedang bergelung nyaman di balik selimut tebalnya? Ya, tapi mari kita lihat pemuda yang sedang bangkit dari tidurnya itu. Ia sudah rapi dalam balutan kemeja berwarna hitam, dan bawahan berwarna hitam. Setengah jam lalu dia sudah rapi, dan siap berangkat. Namun karena melirik kekasihnya yang tampak menggoda, baginya, akhirnya ia memutuskan untuk bergabung di ranjang, meski hanya tiduran dan memeluk sang gadis. Namun apa mau dikata? Ini sudah waktunya ia pergi, karena ia tadi sudah menyuruh anak buahnya untuk menunda pertemuan barang satu jam.

Selesai memakai sepatunya, ia menyempatkan diri untuk mendaratkan sebuah kecupan lembut di kening tuan putrinya. Tak ada balasan, karena memang ia masih tertidur pulas.

"Sepertinya aku bermain terlalu lama ya?" Tanya Ichigo pada dirinya sendiri, dan sedikit tertawa pelan.

Ia lalu meninggalkan kamar, dan segera pergi ke markas untuk menemui the Guardian yang pasti sudah menunggunya.

.

.

"Uhn." Rukia mulai kembali dari alam mimpinya. Pertama kali membuka mata, yang terlilhat adalah pemandangan di luar jendela yang begitu cerah. Ada hal yang membuatnya tertarik. Embun di kaca yang tak biasa. Ia beranjak, hendak mendekati jendela. Namun sayang, langkahnya terhenti sejenak saat ia merasakan sedikit nyeri di bagian tubuh bawwahnya. Seketika ingatan semalam kembali menari-nari di pikirannya. Wajahnya memerah.

"Sial sekali." Rutuknya. Ia menyembunyikan wajah manisnya di telapak tangannya yang menengadah. Malu. Ia terlalu malu untuk mengakui bahwa akhir-akhir ini ia mudah sekali jatuh ke tangan pemuda itu. Rasanya, semua perkataannya pada Hisagi dulu, seperti omong kosong. Apa dulu dia bilang? Dia ingin menjaga dirinya untuk orang yang akan menjadi pendamping hidupnya? Dia tak ingin menyerahkan diri dengan mudahnya pada tangan lelaki manapun? Sungguh. Hal itu sangatlah mudah dilakukan saat dengan mantan kekasihnya dulu. Tapi... dengan pemuda yang satu ini... ia seperti merasa nyaman di tangan pemuda itu. Ia seperti percaya sepenuhnya, dan rela menyerahkan semua kepercayaannya. Padahal, bisa saja Ichigo meninggalkannya, membuangnya, atau apa saja hal menyakitkan yang biasa lelaki lakukan jika mereka sudah bosan. Kenyataannya memang begitu, bukan?

Rukia beranjak. Rasa perih itu sudah berangsur tidak terasa. Ia berjalan menuju jendela. Dari jendela besar itu, samar-samar bayangan Rukia terpantul. Kaca itu menampilkan gambar samar seorang gadis yang hanya mengenakan kemeja polos berwarna coklat muda.

Kemeja? Sepertinya saat Ichigo tahu salju turun tadi, ia tak ingin kekasihnya merasakan dingin. Akhirnya ia mengambil praktis saja dengan memakaikan kemejanya. Cukup hangat. Rukia menunduk, melihat ke ujung kemeja yang menutup hingga atas lututnya. Sependek itu kah dia? Entahlah, mungkin Ichigo saja yang terlalu tinggi.

Lagi, rona merah menyapu samar-samar pipi gadis itu. Ia hanya melihat saja kemeja itu. Namun lama-kelamaan dengan menyadari kemeja itu milik siapa, dan aroma khas Kurosaki yang menguar samar, membuatnya mengingat lagi semua peristiwa manis yang ia alami bersama cinta pertamanya itu.

"Kami-sama. Apa aku bisa mempercayainya?" Gumam Rukia. Jemarinya bermain-main sebentar dengan kaca yang berembun itu. Perlahan jari telunjuknya mengukir halus dan meninggalkan jejak. Sebuah tulisan tertoreh di sana.

Ichigo

Sebuah nama yang selalu sulit untuk diucapkannya. Padahal mereka sudah melakukan banyak hal, dengan status sebagai kekasih. Namun menyebut nama itu saja, rasanya susah sekali.

"I...chi...go..." Gumamnya perlahan, dan detik kemudian rona merah kembali menghiasi wajahnya. Buru-buru ia menggelengkan wajahnya, berharap warna menyebalkan itu memudar dari wajahnya. Tak ingin fantasinya semakin jauh, ia mengalihkan perhatiannya. Ia pergi ke kamar mandi, dan memilih untuk menghangatkan dirinya dengan berendam di air hangat.

Sembari menunggu bathtub penuh, ia melepaskan kemeja itu, dan menggantungkannya di sebelah pintu masuk kamar mandi. Setelahnya, ia membersihkan tubuhnya di bawah shower sebelum menikmati berendam di air hangat. Titik-titik air yang banyak itu turun bersamaan dan membasuh tubuh Rukia, seiring dengan gerakan gerakan tangan Rukia yang menyapukan sabun ke seluruh tubuhnya. Tak berapa lama kemudian, ia sudah selesai, dan siap untuk menikmati onsen mini-nya. Tak ada air yang meluber saat ia masuk ke dalam bathtub, karena ia tak sampai penuh mengisinya.

Rukia duduk bersandar di salah satu ujung bathtub-nya. Kedua kakinya yang tak ia tekuk, tak sampai ke ujung satunya.

"Bathtub ini terlalu besar rupanya." Ucap Rukia. Andai saja Ichigo mendengarnya, ia pasti akan tertawa geli. Karena untuk Ichigo, bathtub ini cukup baginya. Catat ini. Cukup.

Hening.

Rukia menenggelamkan tubuhnya hingga hanya kepalanya saja yang masih menyembul di atas air.

"Rukia!" Rukia terkejut saat suara yang familiar itu memanggil namanya. Itu suara Ichigo.

Ia lupa kalau ada Ichigo. Tapi, darimana saja dia?

"Rukia. Apa kau di dalam?" Pertanyaan itu terdengar tepat dari balik pintu kamar mandi setelah suara ketukan menyapa Rukia, "Rukia, jawab aku."

"Ii..iya. Ada urusan apa kau?"

"Kalau begitu, bergegaslah. Aku ingin mengajakmu keluar."

Entah mengapa, Rukia menurut. Ia rela menyudahi acara berendamnya begitu saja, dan segera keluar memakai bathrobe yang selalu tersedia. Begitu pintu kamar mandi itu dibuka, pandangan matanya bertemu dengan hazel Ichigo yang juga tersita perhatiannya saat terdengar suara pintu terbuka. Samar-samar, sebuah seringaian tipis terlukis di wajah pemuda itu.

"Rukia, kemarilah." Titah Ichigo.

Rukia merutuki dirinya, yang secara sadar perlahan mendekat ke arah Ichigo. Ia seakan tunduk padanya. Gadis itu melangkah pelan, tanpa melepaskan kontak mata dengan Ichigo. Begitu Rukia ada di depannya, Ichigo tiba-tiba menarik lengan Rukia dan menindihnya, dengan posisi kaki mereka menggantung di samping ranjang. Rasa senang yang bercampur hassrat tersampaikan melalui ciuman yang Ichigo berikan. Namun sayangnya ia tak dapat menjahili Rukia terlalu lama, karena Rukia dengan kuat segera mendorong tubuhnya menjauh, sebelum ia kehilangan kekuatan untuk bergerak karena terlena oleh buaian Ichigo.

"Kau! Jeruk mesum!" Hanya kata-kata itu yang Rukia lontarkan untuk memprotes perlakuan Ichigo. Ia beranjak, tak memperdulikan Ichigo yang tertawa dan masih berbaring di tempat tidur. Ia segera berjalan ke arah almari, dan mengambil sebuah onepiece untuk ia kenakan, dan pergi ke ruang ganti. Ia menunggu. Namun ini sudah lewat batas kewajaran lama waktu untuk berganti baju. Ichigo bangkit dari posisinya, dan berjalan menuju ke ruang ganti.

"Rukia, cepat. Kita segera pergi."

"Aku tak mau pergi!"

"Sayangnya ini bukan tawaran, melainkan sebuah perintah. Kau sudah siap?"

Rukia diam tak menjawab.

"Kalau kau diam saja, aku akan mendobrak pintu ini. Aku hitung sampai sepuluh."

"Coba saja."

"Sepuluh!"

Brakk!

Ichigo benar-benar mendobrak pintu itu, mendapati Rukia yang terkejut di dalam ruangan.

"Ck, kau ini lama sekali." Ucap Ichigo dan segera membawa pergi Rukia. Rukia bahkan tak sempat memakai sepatunya, karena Ichigo langsung membawa tubuh gadis yang lebih pendek darinya itu. Bercanda atau tidak, yang jelas saat ini Rukia pasrah tersangkut di pundak pria itu, dan berakhir di kursi mobil Ichigo. Tak ingin mendengar protes, pemuda itu menutup pintu mobilnya dan segera duduk di bangku kemudi dan melajukan mobil, meninggalkan kediaman Kurosaki.

Perjalanan yang cukup lama, karena setengah jam kemudian mereka baru tiba di tempat yang menjadi tujuan Ichigo. Sebuah butik.

"Ayo, Rukia." Ucap Ichigo sembari membukakan pintu di samping tempat duduk Rukia.

"Tapi aku tidak memakai sepatu, Ichigo!"

"Kau menyebut namaku dengan benar, nona." Ichigo membungkuk ke arah Rukia, "Aku suka." Ucap Ichigo dan memindahkan Rukia ke kedua lengannya, membawa gadis itu masuk ke sebuah butik yang terbilang mewah. Dapat dikatakan juga, sangat mewah. Nuansa warna soft ligth-blue mendominasi ruangan dengan hiasan tirai besar berwarna gading. Ichigo mendudukkan rukia di sebuah kursi yang ada di samping kaca, dan tak lama setelah mereka datang, beberapa pelayan menghampiri mereka dengan senyum ramah, dan siap untuk melayani kebutuhan pelanggannya.

"Ada yang bisa kami bantu, Tuan, Nona?"

"Kuro- Maksudku, Ichigo. Mau apa kita ke sini?"

Ichigo yang berlutut di bawah Rukia hanya memamerkan senyum terbaiknya, dan beralih ke ketiga pelayan di samping mereka, "Aku ingin gaun terbaik dari tempat ini."

"Baik, Tuan." Salah satu mereka hendak beranjak, namun berhenti saat Ichigo kembali membuka suara.

"Aku ingin yang berwarna putih."

"Baik."

Rukia terdiam, dan mengamati sekeliling. Beberapa gaun cantik terpajang di beberapa sudut ruangan. Tiga buah manekin yang terbalut gaun berwarna biru, merah muda, dan gading, terpajang anggun di depan etalase. Di seberangnya, sebuah rak kayu tinggi terpampang apik, memamerkan berbagai perhiasan cantik. Gelang permata, anting mutiara, kalung berlian, dan tiara perak, lengkap terpajang. Ia lalu mengalihkan perhatiannya ke sudut lain. Sebuah rak sepatu, terdapat beberapa sepatu cantik berjajar rapi nan cantik. Hal yang selanjutnya tertangkap oleh violet itu adalah beberapa foto wanita cantik mengenakan gaun pengantin, lengkap dengan buket bunga.

"Aku yakin, kau pasti akan jadi lebih cantik dari mereka." Ucap Ichigo yang ternyata sedari tadi memperhatikan gadisnya.

"Apa maksudnya kau membawaku ke tempat seperti ini?"

"Mencarikan gaun pengantin untukmu, my lady."

"Aa- apa?"

"Maaf, Tuan. Ini beberapa gaun terbaik yang ada di butik kami."

"Bawa dia." Ucap Ichigo, "Dan kau, Rukia, pilih saja mana yang kau suka."

"Tt- tunggu! Aku tidak bilang kalau aku setuju!"

"Aku tak perlu mendengarkan jawabanmu."

"Mari, Nona." Ajak pelayan itu dengan ramah.

"Lebih baik kau menurut, atau kau akan menyesal." Ancam Ichigo, yang tentu saja dapat mudah dimengerti oleh Rukia yang sudah sering menjadi korban pemuda itu. Akhirnya ia menurut, dan mengikuti ketiga pelayan tadi ke ruang ganti.

Sembari menunggu Rukia selesai dengan gaunnya, ia memilih untuk melihat-lihat beberapa tiara yang berjajar cantik di atas meja. 'Pearl Princess-crown', 'Pure Queen-crown', 'Black Diamond', 'Blue Pearl', 'Midnight Diamond', 'Silver Leaves', 'Midnight-blue C Lover', dan masih banyak lagi nama-nama yang terpajang di label yang ada di samping tiara-tiara cantik itu. Namun Ichigo lebih tertarik dengan sebuah tiara kecil sepanjang jari kelingkingnya, yang bertahtakan sebuah permata putih berbentuk bulan sabit. 'The Moonlight'. Tiara ini dari sebuah batu permata yang dibentuk, bukannya butiran-butiran kecil yang disusun dalam sebuah kerangka. Ia mengambil benda berkilauan itu. Sebuah benda kecil cantik yang juga dihiasi mutiara-mutiara berwarna putih bersih di kedua sisinya tersusun rapi membentuk sebuah garis lengkung ke samping membentuk setengah lingkaran. Gerigi sisir halus menjadi penopang utama hiasan kepala itu.

"Bagaimana menurutmu dengan ini, Ichigo?" Ucap Rukia yang keluar dari tempat ganti.

"Bagus." Jawab Ichigo, yang malah membuat Rukia kesal. Bagaimana tidak? Pemuda itu menjawab tanpa melihat ke arahnya sedikitpun.

"Kau sama sekali tak-"

"Aku yakin kau cantik, Rukia. Kembalilah, dan ambil gaun itu. Kalau ada yang kau rasa kurang, katakan saja pada mereka." Jawab Ichigo yang kini tengah mengambil tiara yang menyita perhatiannya tadi.

Dengan langkah kesal, ia kembali ke dalam, dan melepas gaun yang baru ia kenakan beberapa menit. Ia tak habis pikir. Ichigo membawanya kemari untuk memilih sebuah gaun, tapi saat ditanya pendapatnya, ia malah tak menggubris sama sekali? Ingin rasanya Rukia melayangkan sebuah tinju manis ke wajah pemuda yang kini tersenyum di seberangnya. Rukia sudah kembali mengenakan dress putih yang ia kenakan semula. Ichigo berjalan ke arahnya, dengan sesuatu di tangan kanannya.

"Aku rasa ini cocok sekali untukmu." Ucap Ichigo yang kini tengah memasangkan tiara pilihannya di atas kepala Rukia, "Aku yakin, kau pasti akan menjadi pengantin wanita paling cantik yang pernah ada." Puji Ichigo yang sedetik kemudian mendaratkan sebuah kecupan di bibir mungil Rukia. Tak elak, hal itu membuat Rukia merona dan buru-buru memalingkan wajahnya. Ichigo tersenyum lembut. Sebuah senyuman yang jarang Rukia lihat, karena biasanya hanya ada seringaian jahat yang terpampang di wajah rupawan itu.

"Tolong simpan yang ini. Aku ambil yang ini." Ucap Ichigo pada seorang pelayan yang tengah merapikan gaun yang tadi dicoba Rukia dan memberikan tiara yang tadi diambilnya. Meninggalkan itu, ia pergi ke sebuah rak sepatu, dan kembali membawa dua pasang sepatu cantik di tangannya. Ia berlutut di depan Rukia. Meraih kaki mungil itu, dan memasangkan sebuah sepatu peep-toe berwarna putih yang dilapisi kain sutera dengan hiasan tiga permata berbentuk hati di sepanjang samping belakang sepatu.

"Keh. Sepertinya tidak ada yang tidak cocok untukmu, Rukia."

Setelah melepaskan sepatu, ia memberikannya pada sang pelayan. Ichigo lalu pergi ke counter dan membayar semua barang yang sudah diambilnya. Namun meskipun demikian, Ichigo tak mengambil barang itu. Ia baru akan mengambilnya bersamaan dengan gaun Rukia yang harus dibuat karena ukurannya yang tidak sesuai. Mereka lalu meninggalkan butik. Keluar dari pintu, ucapan terimakasih mengiringi mereka.

Saat ini Rukia sudah duduk di dalam mobil, namun Ichigo masih di sampingnya, bersandar pada badan samping mobil. Pintu di samping Rukia belum tertutup.

"Sekarang kita pulang?"

"Tidak. Jarang-jarang ku bisa bebas seperti ini. Kita akan pergi dulu."

"Kau sadar bukan, aku tak mengenakan sepatu!"

Ichigo tak manjawab, ia malah menutup pintu, dan bergegas masuk ke mobil, duduk di depan kemudi, "Kita akan membeli sepasang, di toko yang akan kita lewati nanti."

Gadis itu hanya mendengus kesal, dan memilih menikmati pemandangan berjalan yang ada di luar jendela. Mobil melaju dengan kecepatan sedang menyusuri jalan. Setelah tikungan ke tiga, Ichigo menghentikan mobilnya di tepi jalan dan keluar dari mobil. Ia tak turun bersama Rukia, dan menghilang di balik pintu sebuah toko sepatu. Tak lama selang setelah bermarga Kurosaki itu keluar dengan membawa sebuah kantung belanjaan. Ia berdiri di samping pintu yang ada di samping Rukia dan membukanya.

"Kemarikan kakimu." Perintah Ichigo yang lalu dituruti oleh Rukia. Gadis itu menyampingkan kedua kakinya keluar, dan duduk menghadap Ichigo yang kini berjongkok di depannya. Satu per satu Ichigo memakaikan alas kaki berupa sepatu dengan model short wedges berwarna putih pada Rukia. Baiklah, kini sudah tak ada alasan lagi bagi Rukia untuk menolak ajakan Ichigo. Ichigo hanya tersenyum setelah memakaikan sepatu wanita itu dan segera kembali ke tempatnya. Namun saat memasang sabuk pengaman, sebuah suara aneh terdengan sampai ke pendengarannya. Ia menoleh ke arah Rukia, yang saat ini tertunduk malu menjadi pelaku yang mengeluarkan suara aneh barusan sembari memegangi perutnya. Ichigo tertawwa kecil.

"Sepertinya kita harus menunda kencan kita dulu untuk pergi makan." Ichigo tersenyum –mengejek- pada Rukia, dan dibalas dengan tatapan kesal gadis itu.

Lagipula, ini juga salah pemuda itu, kan? Tadi pagi membawa Rukia pergi begitu saja dari rumah.

My Sushi

Mereka berhenti di sebuah restoran sushi yang dulu juga pernah mereka datangi. Bedanya, kalau dulu datang sebagai penculik dan yang diculik, kini mereka datang sebagai sepasang kekasih.

Mereka berdua masuk ke restoran tersebut.

"Selamat datang." Seorang pelayan yang bertugas menyambut tamu, memberikan sapaan terhangat terbaik mereka. Berusaha memberikan kesan baik tentang restoran ini pada pelanggannya. Ichigo dan Rukia tersenyum. Sebuah tempat duduk di sudut kanan ruangan menjadi pilihan Ichigo. Tak lama setelah mereka menyamankan diri, seorang pelayan datang, siap untuk mencatat pesanan.

"Aku pesan Sashmi. Kau pesan apa, Rukia?"

"Aku pesan Tako Sushi, dan teh."

"Ada yang lain, Tuan, Nona?"

"Tidak. Terimakasih."

Diam. Tak ada yang membuka percakapan, namun Ichigo masih setia memperhatikan Rukia. Rukia mengalihkan perhatiannya, karena ia juga sadar ada sepasang mata yang melihatnya. Baiklah, siapapun juga pasti tahu kalau pemuda itu tak melepaskan kedua hazelnya dari Rukia.

"Berhenti melihatku, Ichigo!" Ucap Rukia akhirnya saat Ichigo masih tak menghentikan tatapannya saat mereka sudah mulai makan sekalipun.

"Hah. Entahlah, Rukia. Sepertinya aku ingin sekali berlama-lama melihatmu." Jawab Ichigo santai sambil menyuapkan sepotong daging salmon ke mulutnya.

"Ichigo, apa kau ini benar-benar seorang mafia?" Tanya Rukia yang sukses membuat Ichigo menghentikan kegiatan makannya, meski hanya beberapa saat dan kembali menyuapkan beberapa potongan daging ikan di piringnya.

"Nanti saja, Rukia. Habiskan dulu makananmu."

Rukia pun diam, dan sibuk dengan hidangan yang ada di depannya. Selesai dengan acara makan, mereka pergi ke Tokyo Disneyland. Cukup jauh memang, perjalanan yang harus ditempuh. Tapi kalau memang itu bisa membuat Rukia senang, kenapa tidak?

Ichigo menoleh, mengalihkan perhatian dari jalanan ke Rukia untuk beberapa saat saja. gadis itu tertidur. Mungkin lelah perjalanan. Namun karena saat ini mereka sudah sampai di tempat, maka mau tidak mau, sang putri harus bangun dari tidurnya.

Rukia mengerjapkan matanya beberapa kali sebelum akhirnya sadar sepenuhnya. Ichigo membangunkannya agar mereka dapat segera berjalan-jalan menikmati tempat wisata ini, sebuah taman bermain disney.

Hari ini cuaca sepertinya memang mendukung mereka untuk melanjutkan kencan. Kencan di disneyland? Ichigo ngawur atau apa? Tidak. Bukan karena dia ngawur, atau karena ia menganggap Rukia anak kecil. Mengingat lagi memori saat ia mengajak Rukia ke taman bermain dulu, gadis ini tampak menyukai tempat yang menyenangkan seperti ini.Jadi, ia mencoret makan malam romantis, buket mawar besar, restoran mewah dengan interior indah, atau segala hal yang berbau keromantisan dari daftar hal yang akan ia lakukan saat berkencan dengan Rukia.

Tak salah perkiraan Ichigo. Gadis itu langsung berbinar-binar begitu memasuki gerbang disneyland. Jika ingin tahu ekspresi macam apa yang terpampang di wajah Rukia saat ini, bayangkan saja anak SD yang diajak ke disneyland. Sama persis.

Ichigo tersenyum, antara geli dan senang, melihat Rukia di depan sana, sedang tertawa menyambut uluran tangan Mickey Mouse, Mini Mouse, Duffy Duck, Daisy Duck dan Pluto, yang menyambut para pengunjung tak jauh dari gerbang masuk. Tak ingin menyia-nyiakan kesempatan, Ichigo segera mengambil ponselnya dan mengabadikan setiap ekspresi gadisnya. Sepertinya hari ini akan menjadi hari yang menyenangkan untuk Ichigo, juga Rukia.

Selesai dengan para tokoh kartun disney itu, Rukia melambai pada Ichigo, memberi isyarat untuk mengajak pemuda itu berkeliling. Ichigo melangkahkan kaki, menerima ajakan gadisnya, dan menggandeng tangan mungil itu begitu saja untuk ia bawa berjalan, menyusuri jalan yang sepertinya menuju ke sebuah istana megah.

.

.

"Gin, buatkan aku satu." Ucap Ggio yang tengah berdiri di belakang Gin yang barusaja selesai menyarangkan sebuah peluruke papan sasaran di seberang sana.

Gin menoleh, melepaskan side blinders dan ear protection yang tadi dikenakannya.

"Senjata seperti apa yang kau inginkan?" Tanya Gin dan menaruh senjata di meja.

Ggio menyandarkan dirinya di dinding samping puntu masuk ruang latihan. Tangan kanan yang tadi terlipat di depan dada, kini terangkat dan tertopang di dagu, menyiratkan dia memikirkan sesuatu.

"Kau pandai membuat senjata, Gin. Aku yakin kau lebih tahu. Ya, kau tahu aku orang yang seperti apa, dan bisakah kau membuatkan yang cocok dengan karakterku?"

Gin melepaskan sarung tangannya, dan berjalan ke arah pintu. Ia membuka benda pemisah ruangan itu, dan berhenti sebentar untuk menjawab Ggio, "Akan aku buatkan." Jawabnya sembari memamerkan senyuman khas Gin Ichimaru.

"Benarkah? Kau baik sekali!" Ucap Ggio senang, dan mengikuti Gin yang meninggalkan tempat latihan. Di tengah perjalanan, mereka bertemu Ishida dan Toushiro di koridor markas.

"Gin, Ggio. Baru saja latihan?" Tanya Toushiro pada mereka yang sedang berjalan mendekat.

"Uhm, ya. Aku barusaja menemani Gin mencoba senjatanya."

"Senjata baru lagi. Aku saja, katana-ku masih sama dari dulu."

"Apa kau mau kubuatkan?" Sela Gin yang membuat mereka terkejut.

"Eeh? Kau bisa membuat pedang juga?"

Gin tersenyum, "Sedikit. Tapi mungkin hasilnya lumayan."

"Kau baik sekali, Gin!"

"Kalian sendiri sedang apa?"

"Tidak ada kerjaan membuatku melakukan hal yang kerang kerjaan." Jawab Ishida sambl membenarkan letak kacamatnya yang melorot.

"Kami membuat sebuah alat pelacak."

"Hah? Bukankah kau bisa membelinya dengan mudah, kalau hanya sekadar alat pelacak?" Tanya Ggio.

"Ini bukan alat pelacak biasa." Toushiro mewakili Ishida.

"Benar. Ini untuk Kuchiki-sama. Kalian tahu sendiri jika dia sudah tertangkap musuh beberapa kali."

"Wah. Ada apa kalian ramai-ramai di sini?" Tegur seorang pemuda berambut merah panjang yang barusaja muncul.

"Ah, Renji. Darimana saja kau? Tidak, kami hanya sedang latihan saja." Jawab Toushiro.

"Renji, bagaimana menurutmu dengan alat ini?" Tanya Ishida dan menunjukkan sebuah handphone flip berwarna putih padanya.

"Memang ada apa dengan handphone ini?" tanya Renji dan mengambil benda yang yang sudah tak asing baginya itu.

"Ini adalah handphone untuk Kuchiki-sama. Handphone biasa yang sudah aku beri sedikit perubahan. Aku memberikan sensor pelacak di dalamnya. Ini akan memudahkan kita jika seandainya ada yang menculik Kuchiki-sama lagi."

"Idemu bagus sekali. Ini akan sangat berguna." Jawab Renji, yang ternyata sedang melirik ke arah Gin, dab begitupula Gin yang ternyata juga sedang melihat Renji. Pemuda berambut merah itu menyerahkan kembali benda komunikasi itu pada Ishida.

"Aku masih harus mengurusi data-data transaksi di beberapa daerah kita, aku pergi dulu." Pamit Renji.

"Lalu kalian mau ke mana?" Ggio bertanya tak lama setelah Renji menghilang dari pandangan mereka.

"Ke tempat Kurosaki-sama, untuk memberikan ini."

"Sepertinya kami ikut saja, kami sudah tak ada kerjaan." Ucap Gin, yang dibalas anggukkan oleh Toushiro.

Mereka berempat lalu pergi ke kediaman Kurosaki, untuk memberikan benda berguna untuk pimpinannya. Mereka selalu berpikir untuk dapat selalu berguna bagi Ichigo, meski hanya sedikit. Namun kejadian yang menimpa Rukia, membuat mereka merasa menjadi sang guardian yang tak berguna. Tak heran, jika akhir-akhir ini mereka lebih sibuk dari biasanya.

"Ada sesuatu yang aneh dari kejadian kemarin." Ucap Ishida yang memecah keheningan di dalam mobil. Ggio yang ada di samping kemudi, menengok kebelakang, Toushiro melihat ke sampingnya, dan Gin hanya melirik sesekali dari spion mobil.

"Ada apa memangnya, Ishida?" Tanya Toushiro pada rekan yang kini duduk di sampingnya.

"Tentang Grimmjow." Ishida memberikan jeda beberapa saat, "Dua hari sebelum kita pergi ke markasnya, aku sudah melacak keberadaannya, dan dia bukan di sana. Aku menemukan ia berada jauh di utara Tokyo. Aku yakin meski dataku itu masih samar-samar. Tapi hanya dalam waktu satu malam, ia sudah berpindah tempat dengan jarak yang sangat jauh. Apa yang ia lakukan sebenarnya?"

"Benarkah itu?" Tanya Ggio.

"Ini jadi terlihat seperti Grimmjow adalah suruhan seseorang. Kalian dengar juga kan, yang Grimmjow ucapkan sebelum Kurosaki-sama menghabisinya?"

"Tentang kematian orangtuanya yang ia tuduhkan pada Kurosaki-sama?" Jawab Gin.

"Benar. Tentang itu, berkali-kali Kurosaki-sama mengatakan kalau ia tak tahu menahu, dan itu tak terdengar seperti sebuah kebohongan untuk mengelakkan diri." Toushiro memberikan pendapatnya.

"Hm. Dari itu semua, mereka seperti dua anak yang diadu domba. Lalu tentang Kuchiki-sama. Hal yang ia lami, juga tak diketahui oleh Grimmjow. Grimmjow, setahuku, adalah orang yang akan lantang mengakui semua perbuatannya untuk menjatuhkan mental musuhnya. Eantah itu ia membunuh, menculik, atau yang lain, walaupun ia hanya melakukan sekali, saat dulu ia dengan arogannya mengatakan bahwa ia lah yang membakar markas kita, sampai akhirnya terjadi perkelahian sengit di antara mereka dan berakhir dengan menghilangnya keberadaan Grimmjow setelah kalah telak, dan muncul lagi beberapa waktu lalu." Ishida mulai mengutarakan pendapatnya pada ketiga teman-temannya.

"Lalu Ishida, apa kau bermaksud mengatakan bahwa-"

"Ada seseorang di balik semua ini." Pertanyaan Ggio dipotong oleh pernyataan Gin.

"Nah, itu yang aku pikirkan."

"Tapi, kira-kira siapa yang mengadu domba mereka?" Toushiro mencoba mencari simpulan.

"Aku masih belum tahu. Musuh-musuh Kurosaki-sama banyak di luar sana. Tapi selama ini, kebanyakan dari mereka hanya menyerang langsung, dan tak ada yang menggunakan cara seperti ini."

"Hah. Jika memang benar ada yang seperti itu, kita hanya butuh lebih waspada." Ucap Ggio yang kembali menghadap ke depan.

"Aku setuju." Toushiro mengiyakan perkataan Ggio.

"Kali ini bukan hanya Kurosaki-sama, tapi juga Kuchiki-sama." Ishida mengingtkan mereka pada kehadiran calon pendamping pemimpin mereka.

Percakapan mereka bertiga ditutup oleh seringaian tipis dari Gin, yang masih berkosentrasi pada jalan meski tak meluputkan satupun percakapan ketiga rekannya.

.

.

Pukul delapan malam, mereka sudah sampai di rumah. Ichigo membawa Rukia masuk ke rumah. Gadis itu sudah tertidur sejak satu jam yang lalu. Berjalan-jalan di disneyland sama sekali tak membuatnya lelah saat menikmati taman fantasi itu. Ia sangat bersemangat. Tersenyum ceria pada setiap tokoh yang ia hampiri maupun mengahmpirinya. Princess Snow White, Cinderella, The Chipmunks, Stitch, dan para tokoh disney lainnya. Memory di handphone-nya pun penuh dengan foto-foto Rukia. Salah satu yang ia suka adalah ekspresi manis gadisnya yang berfoto dengan karakter Mickey Mouse. Dalam foto itu, Rukia merendahkan badannya sembari mengangkat rendah kedua ujung samping rok-nya, berpose seperti seorang putri yang menerima ajakan dansa, dan tersenyum pada tokoh Mickey yang mengenakan yukata di depannya, yang tengah mengulurkan tangan pada Rukia.

Ichigo memandang wajah polos Rukia yang ada di rengkuhan kedua tangannya. Ia tersenyum. Menurunkan wajahnya untuk mengecup kening gadis itu. Saat sampai di pintu depan rumah, ia melihat mobil the Guardian terparkir. Ia mempercepat langkah, dan setelah memasuki rumah, ia menjumpai keempat guardian itu tengah duduk di rung tamu.

"Wow. Tak biasanya kalian datang bersama-sama seperti ini. Apa ada sesuatu terjadi?"

"Tidak ada apa-apa, Kurosaki-sama. Sebaiknya Anda membawa Kuchiki-sama ke kamar dulu." Jawab Ishida.

"Baiklah. Tunggu sebentar." Jawab Ichigo dan membawa Rukia ke kamarnya, lalu kembali untuk menemui the Guardian.

.

.

Te Be Ce

Sepertinya saya sedang bersemangat untuk segera mengakhiri fanfiksi ini. ._.
Bagaimana dengan chapter ini? Jangan bosen sama IchiRuki yak. XD
Sepertinya yang Gomenasai akan tertunda sampai ini taman. #eaaaa

Tolong buat yang nunggu, jangan bunuh saya yak!
(Nggak ada yang nunggu -_-")

Oh ya.. mohon bantuannya. Ada yang tahu fanfiksi dengan judul Rapido y Furiouso? Ya, seperti itu tulisannya kira-kira. Fanfiksi tentang GrimmIchi. Ichi jadi sensei, dan Grimmjow dengan Drift King-nya. Cerita ini dengan bumbu balapan mobil, atau drifting gitu. Saya pengen baca lagi, tapi waktu dicari di ffn gak ada. Sudah dengan macam2 filter all rated, pairing GrimmIchi only, dan status juga saya buat all. Tapi gak ketemu juga. :( tolong yang tau authornya atau punya ceritanya, kasih tau yak. Onegai~~

Nee... akhir cuap-cuap saya kali ini, terimakasih banyak sudah membaca fanfiksi ini. :)

See ya next chapter! :D