Previous Chap :
"Ya. Kita akan menyerang desa-desa ninja payah itu—lagi."
Kabuto diam sesaat, menegakkan badan dan melanjutkan kalimatnya. "Tapi bagaimana dengan Pein-sama dan permaisurinya? Bukankah sudah menjadi perjanjian bahwa Akatsuki akan menjaga desa Konoha sampai Sakura memiliki anak laki-laki?"
"Masalahnya aku sudah tak peduli dengan perjanjiannya." Katanya enteng. "Dia adalah ninja. Itu tandanya masih ada ninja yang tersisa di sana." Dia tarik sebuah katana dari salah satu sarung pedang. "Jadi lebih baik kita hancurkan Konoha di depan mata permaisuri itu, sebagai ucapan terima kasih untuknya. Bagaimana?"
Kabuto tak tersenyum, tak juga menampakkan raut sedih. Dia hanya mengangguk sopan.
"Ya, pasukan akan segera saya siapkan."
.
.
Brakh.
Pein meletakkan sebuah gulungan surat yang masih terbuka ke atas permukaan meja. Debaman yang cukup keras serta tatapan tajam ke Itachi yang ada di depannya membuktikan bahwa ada emosi yang ia lampiaskan. Ruang kerja yang saat ini diisi dua orang itu sepi senyap hingga Pein membuka suara.
"Siapa yang menyuruh tentara Akatsuki bersiaga untuk perang?"
"Mereka mendapatkan pesan ini dari Danzou-sama. Ada kemungkinan besar beliau dipengaruhi oleh Sasori."
"Sasori?" Pein mendengus pelan. Matanya ia pejamkan sebentar. "Anak itu... tsch."
"Mau bagaimanapun juga dari awal Sakura-sama sudah dicurigai sebagai kunoichi. Berita menyebar sedemikian cepat. Apalagi mengingat Danzou-sama paling tidak suka kalau ada desa yang masih menyimpan ninja-ninjanya." Pria bersurai hitam panjang itu menjelaskan. "Kalau kita tidak bertindak, ada kemungkinan perang akan kembali terjadi."
Mata ungu Rikudou Pein berpaling dan kemudian pria itu menegakkan tubuh, berdiri. "Itachi, suruh Deidara dan Tobi untuk mengawasi yang lainnya untuk tidak terpengaruh. Taruh Kakuzu dan Hidan di divisi pertahanan juga. Aku sama sekali tak ingin orang-orang yang kupercaya malah beralih ke kubu Sasori. Mengerti?"
Itachi tersenyum tipis dan memberikan hormat sebelum Pein pergi. "Baik, Kaisar."
Pein pun menggeser pintu ruangannya untuk keluar, tapi bertepatan dengan itu di depan sana sudah ada Sakura yang baru mau masuk. "Pein! Bagaimana penampilanku?" Bersama senyum riang gadis itu berputar sesaat, mengibaskan kimono corak bunga favoritnya. "Aku ingin Tsunade-shishou dan Shizune-san melihatku dengan kimono warna hijau. Mereka bilang aku paling cantik kalau memakai warna ini."
Sang kaisar menghela nafas. Niatnya ia langsung menghampiri Sasori—yang juga tinggal di istana ini, namun di paviliun yang berbeda dan cukup jauh dari bangunan inti—tapi kini malah ada halangan yang sedikit sulit ia hadapi. Pein hanya baru ingat kalau ia punya janji menginap selama beberapa hari di Konoha bersama Sakura.
"Pein? Kau mendengarku?"
Pein menatapnya lagi dan mengangguk singkat. "Bagus."
"Lalu bagaimana denganmu? Kau sudah siap? Kita pergi ke Konoha siang ini, kan?"
"Sakura." Suara Pein membuat senyum Sakura sirna. Nada berat itu membuatnya yakin bahwa ada hal buruk yang akan diucapkan. "Kelihatannya kita harus menunda acara kita."
"Apa?"
Bahu kecil gadis itu turun seketika. Bibir bawah dia naikan menyertai raut wajah lemasnya. "Lalu... kapan?"
Pein terdiam. Dia memandang Itachi yang ada di belakangnya. Pria bersurai hitam panjang itu membuka kedua telapak tangannya, mengaku tak bisa bantu menjawab. Pein kembali melihat Sakura dan berujar pelan sambil berlalu pergi. "Mungkin besok."
.
.
.
KING'S WIFE
"King's Wife" punya zo
Naruto by Masashi Kishimoto
[Pein Rikudou x Sakura Haruno]
Romance, Drama, Friendship
AU, OOC, Typos, Semi-M, etc.
(Setting zaman edo. Pein berwujud Yahiko, tapi punya sifat kayak Nagato)
.
.
ELEVENTH. Wisata
.
.
"Diundur? Lagi?"
Esoknya Sakura kembali merosot turun di atas tatami kamar saat Pein kembali menunda acara mereka. Kali ini alasannya mereka akan berangkat lusa. Sakura yang sudah bersiap-siap dari kapan hari pun mulai menampilkan wajah bete. Dia cemberut selama belasan jam. Hari ini dia habiskan dengan cara berdiam diri di kamar sambil memeluk bantal. Dia tidak mau ke mana-mana. Makanan yang diberikan Konan pun cuma dia makan satu-dua suap.
Saat ada yang menjelaskan bahwa Pein lagi sibuk mengurus desa ninja, Sakura tak mau dengar. Dia hanya menganggap itu sebagai alasan semata. Dia sudah ngambek duluan.
Dan nyatanya Pein tak begitu mengacuhkannya. Lusanya... masih sama.
"Kali ini diundur sampai minggu depan?"
Sakura menggeleng dengan rasa kecewa. Ia yang berada di ruang makan bersama Pein kelihatan frustasi di beri harapan palsu terus seperti ini. Gadis itu cuma memegang sumpitnya dengan keras dan menunduk lama hingga poninya menutupi mata.
"Kau bisa menunggu hari itu sambil bermain dengan Dei dan Tobi. Kudengar akhir-akhir ini kalian menjadi sahabat." Deidara pasti protes jika mendengar kalimat Pein yang barusan. Dan juga saat ini Sakura tak mau menjawabnya. Melihatnya pun enggan. Pein menyesap teh hijau pahitnya dengan pelan untuk membunuh waktu.
Hingga akhirnya seminggu terlewat dan hari yang dijanjikan—untuk yang berapa kalinya—oleh Pein tiba. Uchiha Itachi yang berada di ruangan kaisar dengan berat hati mengucapkan kalau sepertinya ia masih membutuhkan Pein di kerajaan ini dulu untuk memberi perintah atas segala pergerakan Sasori yang telah ia selidiki; berharap Pein tidak meninggalkan mereka untuk berlibur. Pein menghela nafas dan mengetukkan pipa rokoknya ke asbak bambu dan menyesapnya lagi.
"Aku akan menunda acara hari ini lagi."
"Tapi bagaimana dengan Sakura-sama?" Pria bermata oniks itu menghela nafas. "Terakhir aku dengar, saat kau menundanya lagi Sakura menangis dan curhat ke Konan. Dia terlihat sangat ingin ke Konoha walau cuma berlibur beberapa hari."
"Entahlah. Lagi pula ini keadaan darurat. Pergi berlibur bisa kapan saja."
Itachi terdiam dan mengangguk. "Kalau begitu aku permisi." Dia pun pergi dari ruangan tersebut, membiarkan Pein duduk sendiri di depan meja yang dipenuhi perkamen berisi laporan dari tiap desa. Banyak yang melapor bahwa perlakuan para samurai Akatsuki yang menyebar di desa sedikit lebih kejam dari biasanya.
Ruangan sedikit hening kala itu. Hingga saat Pein sudah menghabiskan satu jamnya begitu saja, ada seseorang yang kembali membuka pintu ruang kerjanya. Di awal ia kira itu Konan—gerakan pintunya begitu pelan dan lembut—tapi nyatanya saat ia melihat gadis bersurai pink yang menatapnya dengan pandangan sayu, Pein mengernyit. Gadis berambut merah muda itu lantas berjalan ke depan mejanya, duduk bersimpuh, lalu memegangi perutnya yang sudah membesar.
Ya, dan rasanya perut itu jauh lebih besar dari perut Sakura yang semalam.
"Ada apa?"
"Pein... bagaimana dengan janjimu hari ini?" Kata Sakura, masih membelai perutnya dan memasang wajah memelas. "Aku dengar kau ingin menundanya lagi, kan?"
Pein terdiam sesaat dan mengangguk. "Ya. Seperti yang Itachi katakan."
Sakura menelan ludah.
"Saat ini... usia kandunganku sudah hampir lima bulan." Sakura mencoba to the point. Mata hijaunya yang berselimut cairan bening membuat Pein mengabaikan rasa herannya untuk sesaat. Bukannya masih dua bulan? Atau tiga? "Kata Konan-san jika keinginan ibu hamil tidak dikabulkan, akan terjadi yang tidak-tidak pada kandungannya. A-Aku bisa saja keguguran..."
Konan yang berdiri di balik pintu ruangan ini—mencuri dengar omongan Sakura—cuma bisa sweatdrop.
"Karena itu... tolonglah, Pein... izinkan aku ke Konoha—ukh." Sakura mengernyit, memejamkan salah satu matanya—pura-pura kesakitan. "Dan sepertinya bayi ini baru saja mengeliat. Mungkin dia juga setuju dengan keinginanku."
"Tidak, Sakura. Ini penting." Pein berdiri, tapi Sakura langsung menahan tangannya.
"Pein ini demi aku... dan bayimu! Kumohon!"
Sakura lalu menangis terisak di dada Pein. Tangisannya yang cukup lebay membuat Pein cuma bisa menghela nafas. Tangan pria itu pun terangkat, merambat ke sela kimono Sakura yang longgar dan memasuki pakaiannya. Kulit Pein yang tak sengaja menyentuh kulitnya langsung membuat gadis itu bergidik.
"E-Eh! Pein! Apa yang kau lakukan!" Sakura langsung memekik dan akan menjauh darinya, tapi ada sesuatu yang terlebih dulu Pein dapatkan sehingga benda itu tertarik keluar...
Pluk.
Bantal kecil miliknya, yang Sakura taruh di balik bagian perut kimono, jatuh.
"Sebegitu inginnya ke Konoha?" Pein mengamati wajah Sakura yang tertekuk akibat penyamarannya yang sudah terbongkar. "Kalau kau terus merajuk seperti ini aku bisa menundanya lagi selama satu bulan."
Sakura terbelalak. Kali ini ia berdesis kesal. "Sekalian saja tidak jadi!"
Wajah gadis yang kini sudah berusia 18 tahun itu merah pekat. Air mata sungguhan langsung meluncur deras dari pelupuk matanya. "Kalau kau tidak mau membawaku ke sana, tidak usah bilang dari awal! Pein bodoh! Oranye bodoh! Aku membencimu!"
Sakura berlari keluar. Konan yang kaget Sakura membuka pintu tiba-tiba langsung terdiam saat sadar permaisurinya sudah menangis dan melarikan diri begitu saja. Ia lirik lagi Pein yang masih ada di dalam. Tatapannya berubah sedih. Baru saat Konan akan berbalik dan mengejar Sakura, ucapan Pein membuatnya tertahan.
"Tak perlu mengejarnya. Biarkan anak manja itu menenangkan diri."
Konan seram sendiri. Nada Pein yang begitu datar membuatnya ragu melirik ke belakang. Apa Pein juga kesal karena Sakura yang terlalu memaksakan dirinya agar ke Konoha? Pikirannya juga lagi dibebani oleh masalah-masalah Akatsuki, kan? Hal ini mungkin wajar.
Tapi saat ia melihat Pein yang sekarang malah menghela nafas pelan dan mengusap poni jabriknya ke belakang, pria itu berkata.
"Lagi pula kau punya tugas lain yang harus kau lakukan."
"Tugas apa?"
"Bereskan pakaian Sakura dan kusarankan cepat. Kita akan pergi ke Konoha nanti sore."
Konan terbelalak.
"E-Eh, baguslah. Tapi... apa maksudnya dengan... 'kita'...?"
"Sakura akan lebih senang jika bersamamu, kan? Jangan lupa ajak Itachi, Deidara dan Tobi."
Ucapnya, lalu berlalu pergi.
.
.
~zo : king's wife~
.
.
"Tsunade..."
"Tsunade-shishou..." Ada suara cekikikan ala gadis kecil. "Masih sore kok sudah tidur?"
Diikuti dengan jari telunjuk yang menekan bahunya berkali-kali, Tsunade Senju tersentak dengan wajah setengah watt-nya. Wanita yang tak sengaja ketiduran di atas meja kerjanya itu meluruskan badan. Dia mengerjap pelan dan sesekali kepalanya terkantuk akibat kesadarannya yang belum pulih dengan sempurna. "Mm, hm? Apa?"
Ada tawa yang lagi-lagi keluar dari sosok merah muda yang berada di depannya. Tsunade mengernyit sebentar untuk memfokuskan matanya yang masih buram.
"Tebak siapa aku?"
"Err... Saku—Sakura?"
Bertepatan dengan itu Tsunade cuma bisa menahan posisinya agar tidak terjungkal. Sakura yang terlalu bahagia bisa bertemu lagi dengannya setelah satu tahun tak bertemu benar-benar menabraknya dengan sebuah pelukan hangat dan keras. Kepala desa Konoha yang satu ini pun terkejut bukan main. Tangannya memegang meja—menahan dirinya yang tadi nyaris jatuh dan jantungnya berdegup cepat.
"Sakura... kenapa kau berada di sini? Kau tidak sedang kabur, kan?"
Sakura menggeleng. Tsunade menelan ludah panik, lalu ia melirik pintu, tepat dimana Shizune sudah berdiri di depan ruangan sambil memeluk Tonton, babi peliharaannya. Tatapannya penuh haru saat melihat Sakura kembali, namun mau tidak mau ada berita lebih penting yang harus ia sampaikan terlebih dulu.
"Tsunade-sama, kaisar sudah ada di bawah."
"APA?"
.
.
~zo : king's wife~
.
.
Hari ini Konoha didatangi oleh tamu-tamu kehormatan, yang mana kedatangan mereka malah membuat syok sang kepala desa. Segala hal tak diduga ini membuat dapur rumah inti Konoha—yang untungnya masih ada orang yang bisa disuruh-suruh—sibuk. Orang-orang yang kerja di sana dan bahkan tetangga langsung dikerahkan untuk membuatkan masakan penyambut, membersihkan ruangan, juga bahkan mempercantik taman depan yang sudah lama tidak diurus. Semuanya sibuk kecuali Sakura dan Pein, tentunya.
Mereka, yang tak tahu ada pihak yang kini kalang kabut itu, hanya menunggu di sebuah ruangan. Atas permintaan Sakura juga, Deidara, Tobi, Itachi, dan Konan juga ikut di sana. Mereka semua menghabiskan waktu bersama, kecuali Rikudou Pein yang sedang menghisap cerutunya di ruangan sebelah yang sedikit lebih terbuka. Tampaknya ia lebih tertarik menikmati semilir angin sore daripada mengobrol di ruangan ramai.
"Permisi... kami menyiapkan makanan."
Setelah hampir satu jam menunggu, nampan-nampan dihidangkan. Sakura hanya menganga lebar melihat berbagai macam kue tradisional desa yang tersuguh di depan mata. Padahal kalau diingat-ingat tadi dia tidak minta makanan; hanya ingin Tsunade dan Shizune hadir di ruangan ini agar bisa mengobrol banyak dengannya.
"Bukannya ini masih sore?"
"Ini hanya kudapan. Makan malam akan disediakan nanti."
"Maaf karena telah merepotkan kalian..." Kedua mata Sakura berkedip manja. Tsunade jadi gemas sendiri melihatnya. Dalam hati ia merutuki anak didiknya yang satu itu karena tidak memberitahukan kepulangannya ke sini bersama kaisar. Bikin panik saja.
"Saya bantu." Konan dengan senyum ramahnya berdiri, ia bantu pelayan-pelayan lainnya untuk menghidangkan segala piringan kue ke meja panjang ini. Paras anggun yang wanita itu miliki jelas membuat nyaman semua orang Konoha yang ada di sana. Bahkan Shizune sudah mulai berani dan rileks saat berbicara bersamanya. Dia juga berjanji akan mengajarkan Konan bila dia ingin tau bagaimana cara membuat kue-kue mungil yang baru saja Shizune letakan.
"Shizune-san sama Tsunade-shishou tetap di sini dong. Ayo makan bersama." Sakura memasang wajah memelas saat Tsunade berkata ia harus pergi untuk kembali mengurusi kerjaannya. Dia tahan juga tangan Tenten dan Hinata—dua teman kunoichi-nya yang barusan hadir untuk menaruh makanan. "Kalian juga. Makanan ini terlalu banyak untuk kami. Iya, kan?" Gadis merah muda itu melirik teman-temannya dan yang lainnya hanya mengiyakan dengan gumaman ramah.
Toh, mumpung sang kaisar yang paling disegani di seantero negeri ini masih di luar, sibuk dengan pipa rokoknya dan pemandangan taman, satu per satu mulai duduk di meja berkaki rendah ini. Teman-teman yang menyertai Sakura juga sangat bersahabat. Jadilah mereka beramai-ramai makan dan mengobrol. Ada banyak cerita yang dilontarkan Sakura, Tenten dan Hinata saat itu. Jamuan sederhana yang terasa menyenangkan bagi sang permaisuri.
Setelah makanan di atas meja sudah hampir kandas, dengan tangan yang memegang cawan sake Tsunade melirik Sakura. "Jadi apa kau bisa menjelaskan kenapa tiba-tiba kau datang ke sini, Sakura? Mungkin jika kau memberikanku surat terlebih dulu aku bisa menyambut kalian dengan lebih baik." Dan yang ditanya pun hanya tersenyum sambil memiringkan wajah riangnya.
"Aku ingin jadikan ini sebagai kejutan. Kan tidak seru kalau datangnya biasa-biasa saja."
Wanita bergincu merah itu sweatdrop. "Bagaimana keadaamu di sana? Menyenangkan?"
Sakura tersenyum. "Seperti yang kau lihat sekarang, Shishou. Aku bersyukur memiliki mereka."
Tobi berdeham bangga dan Dei hanya memasang tampang malas—sebenarnya dia senang bisa mendengar kalimat seperti itu dari Sakura, namun juga kesal karena jelas 'rasa bersyukur' yang Sakura ucapkan tak ia praktikan saat bersama mereka.
"Lagi pula ada informasi yang kusampaikan."
"Hmm, apa itu?" Tenten mencoba antusias.
"Aku sedang hamil."
"HAMIL?"
.
.
~zo : king's wife~
.
.
Hinata, Tenten dan Shizune ribut setengah mati saat tau Sakura hamil. Sudah pasti janin yang ada di kandungannya adalah anak kaisar. Kaisar Akatsuki. Siapa lagi, memangnya? Jadilah dengan berbondong-bondong mereka hujani Sakura dengan ratusan pertanyaan heboh. Sakura jadi meringis, sedikit menyesali keputusannya untuk curhat di muka umum. Jadilah ia hanya bisa menjawabnya satu-satu dengan singkat, padat, dan sesuai pengetahuannya saja. Untuk mengalihkan topik tak jarang Sakura memaksa mereka yang berbagi cerita. Ternyata Shizune sering berkutat dengan buku-buku medisnya, mimpi untuk mendirikan sekolah dokter masih belum surut. Juga Tsunade yang masih sibuk dengan tuags-tugas desanya. Ia 11:12 dengan Pein, mengerjakan hal yang tidak ia mengerti. Sedangkan untuk Tenten dan Hinata, kelihatannya kehidupan mereka lebih bahagia di sini. Tenten lagi fokus di usaha toko mainan kecil-kecilannya yang akhir-akhir ini menjadi populer di kalangan anak-anak. Sedangkan untuk Hinata, ada seorang pria dari desa sebelah yang baru saja melamar Hinata. Namanya Toneri. Mereka bertemu saat pria itu datang ke sini untuk menemui Tsunade, meminta izin agar dapat membuka usaha di Konoha. Toneri berpapasan dengan Hinata dan langsung berusaha mendekatinya. Hubungan mereka yang terus berjalan hingga setengah tahun membuat Hinata menerima pinangan pria—yang dikabarkan sangat tampan—itu.
Sedangkan untuk Ino—yang baru Sakura sadari tak kelihatan batang hidungnya—dikabarkan sudah pindah dari Konoha setelah dinikahi oleh Shimura Sai, seorang kaligrafer sukses desa Oto. Tenten juga menunjukkan lukisan tinta cina Sai yang menggambarkan sketsa kasar wajah Ino bersama bayi pertamanya. Dan kelihatan sekali kalau Ino sudah bahagia di sana.
Selesai kedua gadis itu bercerita, kini giliran Tobi dan Deidara yang bersuara. Berbeda dari cerita gadis-gadis, segala hal yang dibahas dua samurai kebanggaan Akatsuki itu hanya seputar keburukan Sakura di dalam istana. Banyak yang tertawa karenanya. Mereka sama sekali tak mengira Sakura tetap membawa sifat aslinya di kerajaan seformal Akatsuki.
Sampai akhirnya di sela keramaian ini Tsunade mencoba untuk menatap Sakura yang sedang memukuli Deidara dengan gelak tawa. Gadis itu nyatanya tak banyak berubah. Wajahnya cerah—sungguh berbeda dari rautnya saat pelepasan Sakura ke Akatsuki. Rambutnya saja yang sepertinya sedikit terawat sehingga terlihat halus dan lembut.
Dia benar-benar masih seperti Sakura yang dulu ia kenal. Anak perempuan yang sudah ia rasa seperti darah daging sendiri.
Tsunade mendadak berdiri, pamit sebentar. Lalu ia kembali ke dapur sambil membawakan beberapa potong kue manju berwarna pink. Wanita berambut pirang itu menghela nafas sebentar, lalu memberanikan diri melangkah melewati ruangan Sakura dan lainnya, dan malah keluar ruangan untuk menemui Pein yang berada di teras luar. Dia meletakkan piring camilan itu di tatami sebelah kaisar.
Wanita pirang itu juga duduk di sebelahnya.
"Ini... camilan kesukaan Sakura. Sejak kecil dia sering merengek untuk memintaku membuatkannya." Katanya, lalu tersenyum. "Siapa tau bisa membantunya saat tidak mau makan. Dia anak yang merepotkan bukan?"
Pein mendengus, sedikit geli memang. Lalu ia meletakkan abu cerutunya di asbak bambunya. "Sangat merepotkan."
"Dia anak kadang bertingkah seperti anak kecil, tapi dia anak yang sangat kusayangi. Kuharap kau terus menjaganya."
Pein akhirnya menatap Tsunade. Wanita itu menggigit bibir. Matanya berkaca-kaca hingga beberapa kali meneteskan air mata. Pein pun terdiam, dan kemudian memejamkan mata.
"Ya."
.
.
~zo : king's wife~
.
.
Tiga hari terlewat dan Sakura sudah sangat menikmati kepulangannya di desa tercintanya ini. Berbeda dari kerajaan Akatsuki yang seolah mengurungnya dari dunia luar, disini dia bisa ke mana saja tanpa ada yang memarahi. Pein bahkan menyediakan waktu untuk Sakura keluar sendiri bersama teman-temannya tanpa penjagaan dari pihaknya. Terkadang seorang perempuan memang butuh privasi, kan?
Karenanya tak heran tiap hari gadis itu selalu tersenyum dan tertawa. Mata hijaunya pun terlihat dua kali lebih bersinar dari biasanya. Dan hal itu sedikit membuat Pein berpikir, mungkin kapan-kapan ia akan mengajak Sakura kembali ke sini.
Hembusan angin yang tenang meraba, menjadi petanda bahwa siang telah menyentuh sore. Di bawah awan-awan yang teduh, genangan air danau yang tadinya tenang bergoyang pelan. Tiga perahu kecil tepi dermaga yang disewa mulai dinaiki.
"Ayo, Deidara, Tobi! Cepat! Kalian hebat berpedang tapi kenapa payah dalam mengayuh perahu kecil?" Sakura terlihat senang saat dirinya sedang berada di tengah danau Konoha bersama yang lain. Karena satu perahu hanya bisa diisi oleh dua orang, ada satu perahu yang ditempati Sakura dan Pein. Itachi dan Konan sudah pasti berdua, dan sisanya, Deidara dan Tobi. Kini mereka bertiga sudah sama-sama menjauh dari dermaga ke tengah danau hijau kebiruan yang lumayan jernih. Sakura terkikik geli saat melihat kedua sahabat lelakinya itu sedang sibuk menyeimbangkan perahu mereka.
"Ini bukan masalah hebat atau tidaknya, bodoh; ini masalah berat badan!" Deidara berdesis, tak lupa masih memegangi pinggiran perahu dengan wajah pucat. Bayangkan saja. Berat dia dan Tobi sepertinya sudah melebihi batas maksimum kapal. Jika Itachi beruntung karena bersama Konan, dan juga Pein yang bersama Sakura, ia malah memiliki Tobi yang beratnya nyaris sama dengannya.
"Senpai kalau jatuh aku akan tenggelam, ya? Danau ini dalam, tidak?" Si jabrik Tobi mulai memegangi mulut.
"Awas kalau kau muntah di sini!"
Keramaian disana membuat kakek tua penjaga danau tertawa kecil. Tak ia sangka orang-orang Akatsuki yang dikabarkan sadis bisa senormal ini juga.
Sakura mengayuh kapalnya sendiri ke arah yang mendekati tebing di tepi danau. Jika sedikit mengadah, tersuguhlah sebuah pemandangan menakjubkan dari bawah sini. Ada tebing tinggi yang diselimuti ribuan tumbuhan merambat. Bunga warna-warni yang menghiasinya seolah menjadi bumbu penyegar mata. Sapuan angin yang lembut mengibarkan surai merah muda. Aroma yang menenangkan. Sakura menghirup banyak udara sampai perutnyanya mengecil.
"Pein! Coba lihat itu!"
Seraya tersenyum lebar ia hela nafasnya sambil menarik-narik baju Pein. Ia sebenarnya ingin menunjukkan keindahan desanya yang hanya bisa dia lihat di musim tertentu seperti ini, namun kelihatannya Pein tidak terlalu berminat.
"Iya, aku lihat."
"Aku tau kau belum membuka mata."
Kini kedua mata ungunya terbuka. Masih datar seperti biasa. Ia sedikit mengadah dan kemudian memejamkan matanya lagi. "Bagus."
"Hmph. Payah." Sakura melipat kedua tangannya di dada dan mengerucutkan bibir. Dia diam selama beberapa saat, berharap Pein akan membujuknya. Tapi karena hal seperti itu tak mungkin dilakukan oleh suaminya, ia pun melirik Pein lagi dan mengamatinya lama-lama.
Sosok itu duduk rapi di atas perahu, hanya menikmati semilir angin yang berlalu lalang. Bibirnya masih menyatu dengan ujung pipa rokok yang kelihatan mahal. Parasnya tenang, tampan, dan tak bisa diganggu gugat. Sakura pun menggembungkan pipinya, sebal.
"Hei, Pein... aku ke sini untuk bersenang-senang. Bukan untuk menjadi pembantumu dan mengayuh perahu tau. Bantu aku..."
Pein membuka matanya dan kemudian menghela nafas kecil. "Bantu apa?"
Walau wajah Pein masih menunjukkan ekspresi yang sama, Sakura tetap mengangguk dan menyeringai pelan. "Karena sudah membuat wanita hamil mengayuh sedemikian jauh, sekarang giliranmu yang mendayung. Ini!"
Kini pipa rokok itu sudah ditaruh ke kotak bambu yang ada di tengah kapal, digantikan oleh dua buah tongkat panjang yang kini mengisi tangan Pein. Pria yang biasanya hanya berkutat dengan pedang, gulungan informasi negara dan juga pipa rokok itu kini mengayuh perahu yang mereka berdua naiki. Tak ada tujuan yang pasti, hanya mengikuti arah tunjukan jari Sakura yang kadang mau ke kanan dan kiri danau. Ia tidak peduli. Posisi mereka yang berhadapan kadang membuat Sakura cekikikan beberapa kali saat melihatnya mengayuh perahu. "Senang rasanya bisa menyuruh-nyuruh seorang kaisar seperti ini..."
Pein cuma menghela nafas—lagi. Ayunan pelan dari tungkai kayu yang Pein gerakan membuat Sakura lebih bisa menikmati angin desa daun ini. Konoha-nya yang indah, Konoha-nya yang tenang. Langit biru, hijaunya pepohonan, air yang jernih, serta guguran bunga dan daun cantik yang melayang-layang di udara begitu memanjakannya.
Sekali lagi Sakura tersenyum lebar. Sampai melupakan bahwa sudah ada Pein yang menatapnya lama, hingga tatapannya melembut dan ada sebuah senyum lembut nan samar terpajang di sana.
Cpluk!
Tiba-tiba saja ada cipratan air yang menghajar wajah Sakura. Kelihatan jelas bahwa itu adalah perbuatan Tobi yang baru saja menyampingkan kapalnya ke kapal mereka.
"Awas ya, kalian!"
Bukannya marah gadis itu malah membalas Deidara dan Tobi dengan cipratan melalui tangannya. Deidara yang tak bersalah hanya mendayung tanpa niatan bercanda sampai kelilipan akibat lemparan air dengan ranting kecil yang mengenai matanya.
"Hei, jangan main-main!"
Saking serunya perang air yang makin memanas, Sakura berdiri, perahu kecil mereka oleng, dan Pein hanya bisa melihat Sakura dengan tatapan sweatdrop.
"Ayo buat Sakura-sama jatuh!"
"Itu namanya kau mau bunuh diri bodoh! Ada Pein di perahunya!"
Sakura seolah tak mendengar, dia tendang perahu mereka yang berdekatan. Untuk mengantisipasinya Tobi buru-buru berdiri dan menahan tangan Sakura.
"Tobi, Lepaskan dia! Kau mau jatuh, hah!"
Deidara panik dan dia berniat menjauhkan perahunya dari perahu Sakura, tapi karena tangan Tobi dan sakura masih terkait, kelihatannya akan terjadi hal yang mengejutkan di sini.
Sakura terbelalak. Saat tangan pria childish itu melepaskannya, dia seolah terdorong ke arah luar kapal oleh gravitasi. Dia akan jatuh ke permukaan air. Pein pun lantas bergerak cepat, menggerakkan tubuh perahunya ke samping, juga melingkarkan tangannya ke pinggang Sakura, lalu ia keluarkan pedangnya yang masih disarungkan untuk diayunkan ke kapal sebelah.
Suara pukulan keras yang disusul ceburan air pun menghantam telinga.
Sakura meringis saat ia jatuh terduduk di atas kapal. Dia buka matanya dan tau-tau sudah ada Deidara juga Tobi yang sudah tenggelam di danau. Tobi yang syok meminta tolong untuk diselamatkan, tapi Deidara langsung memukul kepalanya dan berdiri, ternyata jarak air hanya sebatas dada mereka.
Dengan tawa riang Sakura melirik Pein dengan wajah riang. "Mereka jatuh Pein! Kau hebat!"
Pein mendengus geli.
"Deidara, Tobi, cepatlah naik. Anginnya sudah mulai kencang." Dengan datangnya kapal Itachi dan Konan, mereka bantu kapal Deidara dan Tobi kembali berdiri.
"Iya, nanti kalian bisa sakit." Menahan tawa Sakura langsung sok baik di depan mereka, membuat Deidara memasang wajah bete.
"Tunggu saja pembalasannya."
"Deidara-chan jahat deh. Kau dengar itu kan, Pein? Masa Dei—aw!"
Serentak semua orang langsung menatap Sakura yang kini mengaduh kesakitan. Tangannya kini menutupi dahinya yang memiliki luka gores yang kelihatan baru. Pein berdiri dan menoleh, orang-orang juga mengikuti arah dari mana lemparan batu itu berasal; dataran pendek di tepi danau.
"Pergi dari sini, dasar monster!"
Ternyata itu dari seorang anak kecil berkuncir dua—sekitar sepuluh tahunan. Masih ada beberapa bongkah batu yang digenggam tangan mungilnya.
Dengan wajah memerah yang diselingi keringat, perempuan cilik itu akhirnya berbalik dan berniat melarikan diri. Tapi kelihatannya hal itu mustahil karena sekarang Itachi sudah langsung berlari di atas permukaan danau untuk mengejarnya. Pedang yang berada di sisi pinggangnya ia tarik keluar.
Sakura terbelalak. Dia nyaris lupa kalau Itachi Uchiha adalah keturunan ninja. "Tu-Tunggu! Itachi-san, tolong jangan melukainya!"
Itachi mendengar teriakan Sakura. Karena itulah ia hanya melompat mendahului anak itu dan langsung menebas tanah di depannya hingga anak itu memekik dan jatuh ketakutan.
"Jangan melarikan diri kalau tak ingin tebasan kedua mengenai jari-jari kakimu."
Suara Itachi begitu pelan—dia tak ingin kalimatnya di dengar yang lain—namun bocah itu telanjur menahan ngeri. Air mata mulai bercucuran menyelingi hidungnya yang ingusan. Dan disertai anggukan, tangannya ditarik Itachi. Dia disuruh berdiri dan akhirnya dia di bawa ke hadapan Pein dan lainnya yang sudah menepi.
"Bagaimana lukamu?" Konan yang sedang menyembuhkan luka di keningnya dengan chakra medis membuat Sakura mengangguk pelan. Dia raba lagi keningnya dan luka terbuka yang sempat ia rasakan tadi tak sesakit sebelumnya. Luka tersebut juga sudah mengering. Mungkin kapan-kapan Sakura akan memohon ke Konan untuk mengajarkannya. Kini gadis yang sudah menggulung rambut panjangnya itu hanya menatap bocah berambut jingga yang terisak di depannya.
"Ah, tunggu... kau..." Sakura mengingat-ingat namanya. Ia merasa pernah kenal dengan anak ini. "Moegi-chan, ya?"
"Pergilah dari sini!" Raungan nekat Moegi membuat Sakura terkejut.
"Ada apa, Moegi? Kamu kenapa?"
Telapak tangan Sakura ingin menyentuh pipinya namun Moegi menepisnya kasar. Lagi-lagi ia menangis. "Belakangan ini d-desa Konoha semakin terpuruk. Anggota Akatsuki jadi semakin jahat pada kami..." Adunya. "Tapi kalian malah ke sini dan bersenang-senang di atas penderitaan kami! Kau juga, Sakura-san! Aku salah menilaimu! Aku benci Sakura-san!"
Terus terang saja Sakura masih belum mengerti apa permasalahan yang Moegi ucapkan. Tapi dengan kehangatannya ia coba memeluk anak itu dan membiarkannya terus menghinanya sampai uneg-unegnya tuntas. Tak peduli seberapa keras kakinya yang menendang atau tangannya yang memukul. Sakura ingin mendengarnya.
"Apa yang terjadi pada Konoha?" Ucapnya. "Coba jelaskan supaya aku tau permasalahannya."
.
.
~zo : king's wife~
.
.
Sore berganti ke malam dan bersama keheningan ini mereka pulang. Sakura berjalan paling depan. Wajahnya tertekuk dan beberapa kali ia berdecak dan menghela nafas lesu. Kedua telapak tangan yang sempat terkepal jadi lemas di masing-masing sisi tubuhnya.
"Aku... benar-benar mengerikan, ya?" Nyaris sampai ke rumah induk Konoha, Sakura memutar badan. Memandangi teman-teman Akatsuki-nya yang dari tadi berjalan di belakangnya. "Kenapa aku tidak tau masalah ini lebih cepat?"
Pein yang masih berjalan melewati Sakura. Deidara dan Tobi yang ditugaskan oleh Pein untuk mengikutinya hanya bisa menepuk pundak Sakura dan pergi—mereka bertiga masuk ke tempat Tsunade. Itachi dan Konan lah yang sekarang menemaninya.
"Lebih baik kita bicarakan di dalam, Sakura-sama. Di luar sudah dingin."
"Tapi aku jadi tak punya muka untuk bertemu Tsunade-shishou. Mungkin dia sebenarnya sudah tau keadaan ini tapi mencoba menutupinya dariku."
Konan terdiam. Memang, beberapa saat yang lalu mereka semua berbicara panjang lebar dengan Moegi—walau anggota Akatsuki lebih banyak mendengarkan. Susah payah gadis itu memberi tau Sakura segala kenyataan di balik wajah bahagia Tsunade yang menyambutnya di Konoha. Kalau bisa jujur, tak ada rakyat yang senang dengan kedatangan Sakura dan lainnya di sini. Anggap saja Tsunade, Shizune, Hinata maupun Tenten pun termasuk di dalamnya.
Alasan yang Moegi katakan hanya satu; karena Konoha telah dikhianati oleh Akatsuki.
Kemakmuran yang Akatsuki janjikan—saat Sakura terpilih menjadi istrinya—pun kembali dipertanyakan. Hal yang terjadi malah sebaliknya. Semakin banyak penduduk Konoha yang semakin miskin. Beberapa penguasa kecil gulung tikar, petani-petani merana, hingga wabah penyakit yang kerap sekali muncul akibat tak adanya kebutuhan medis yang tak terjangkau.
Sakura sendiri jadi bingung dalam menyikapi hal tersebut. Dia memang enggan kalau menganggap dirinya dijual oleh Konoha, tapi jelas dia juga tidak senang saat desa tercintanya ini tidak mendapatkan sesuatu yang awalnya diiming-imingi Akatsuki. Semunya jelas membingungkan.
"Kenapa Pein tega membohongiku?" Sakura menjadikan bangku taman sebagai tempat duduknya. Dia mengangkat kaki dan memeluk lutut; menunduk dalam.
Itachi pun mengeluarkan komentar. Rautnya serius. "Kami semua pun tak mengerti. Sudah bagian dalam perjanjian bahwa Akatsuki akan membantu sektor pertanian, pendidikan dan keamanan di Konoha. Dan sejak hari pertama kau tiba di istana, tentu saja kebijakan itu sudah diterapkan ke desa ini—memang seharusnya begitu."
"Tapi Moegi bilang Akatsuki hanya membantu desa selama beberapa bulan saja; sekarang sudah tidak. Bahkan ada beberapa orang Akatsuki yang kembali mengacau dan memalak penduduk." Sakura menggigit bibir. "Dan aku... aku malah bersenang-senang di atas penderitaan mereka..."
"Mungkin karena kita kurang mengawasi orang-orang yang berjaga di sini." Konan mencoba bersuara.
"Tidak mungkin. Selama ini Pein sering mendapatkan laporan bahwa desa Konoha masih tentram dan sejahtera." Itachi meralat, namun dia malah terdiam dan menatap istrinya dalam-dalam. "Apa mungkin ada yang memberikan informasi palsu?"
Sakura terlonjak. Inginnya menjawab kalimat dugaan dari Itachi namun kedua iris emerald-nya sudah terlebih dulu terpaku pada sosok yang baru muncul dari gerbang taman—beberapa meter di belakang Itachi.
"Berkhianat, hm? Apa itu yang ingin kalian katakan?"
Suara bariton yang lumayan familliar itu membuat Itachi dan Konan bersamaan berbalik. Mata mereka terbuka lebar, persis dengan apa yang baru dilakukan oleh Sakura. Mereka tak hanya terkejut dengan kehadiran Akasuna Sasori di pusat desa Konoha ini, melainkan dengan pakaian yang dia kenakan saat ini.
Baju perang, lengkap dengan katana kebanggannya di pinggang.
"Kalau memang itu caramu menyebut 'kami', kurasa kalianlah yang salah. Pein lah yang mengkhianati Akatsuki." Senyum yang pria itu rilis mampu membuat bulu kuduk Sakura meremang.
"Sa-Sasori?" Sakura nyaris tak sanggup untuk berkata lagi. Firasatnya buruk tentang ini. "Untuk apa kau ada di sini?"
"Aku?" lalu pria bermata hazel itu melirik ke arah hutan. Bertepatan dengan itu ada sebuah ledakan besar yang mampu menggoyangkan pijakan tanah. Asap tebal mulai mewarnai bagian atas hutan. "Aku hanya ingin sedikit mengacau. Menggantikan tugas kaisar yang bisa kubilang... gagal, mungkin?"
Itachi mengeluarkan pedangnya dan tanpa perlu banyak bicara dia menyerang Sasori. Tapi pria itu menghindar di langkah pertama, kemudian menangkis serangan Itachi di langkah kedua. Dentingan pedang yang beradu berlangsung selama sepersekian detik, lalu Sasori melompat mundur sambil terkekeh geli.
"Jangan macam-macam, Sasori! Kau yang melanggar peraturan, tapi malah kau juga yang menghina kaisar! Ini penghianatan namanya! Hukuman gantung pantas untukmu!"
Sakura tercengang. Intonasi yang biasa Itachi keluarkan berubah drastis. Kali ini emosinya terasa meletup-letup. Dia marah besar tampaknya.
"Tujuan Akatsuki adalah menghancurkan desa ninja! Untuk apa aku terus mematuhi kaisar yang berbeda haluan seperti itu! Justru kulihat dia semakin ingin memajukan desa-desa ninja! Pein lah yang berkhianat di Akatsuki!"
"Itachi-san! Desa Sunagakure sedang berperang! Katanya atasan Akatsuki yang menyuruh mereka menyerang!"
Tobi yang baru datang langsung menghentikan langkahnya saat ia melihat kehadiran Sasori di sana. Dia ingin bertanya ada apa yang sedang terjadi, namun pria bersurai merah acak-acakan itu lantas mengeluarkan sebuah bom sebesar kepalan tangan dan kemudian tersenyum. "Ya. Mari berperang."
Bom itu dilemparkan oleh Sasori ke udara. Dari lambungannya jelas bom itu mengarah pada Sakura yang masih berdiri kaku di tempatnya.
Sebelum ledakan terdengar Itachi dengan berpindah tempat ke depan Sakura dan memukul bom itu dengan permukaan datar pedang sampai menabrak pohon yang langsung meledak dan hancur berkeping-keping. Puingnya yang terlempar berserakan ke mana-mana hingga ke depan Sakura. Gadis merah muda itu jatuh terduduk. Dia ketakutan. Nafasnya tersengal secara otomatis. Bahkan ia sampai tak lagi sanggup melihat Itachi yang kini sudah menggunakan sharingan-nya, menatap Sasori dengan tatapan sinis yang teramat dalam.
Sasori hanya tersenyum tipis. "Ah, sharingan. Semakin banyak ninja yang menunjukkan jati dirinya." Dia pun bersiul singkat dan muncullah seekor kuda yang bisa dia naiki. "Sepertinya kau harus menjilat kalimatmu sendiri, Itachi Uchiha-san. Kau, wanitamu, dan Pein lah yang akan dikenai hukuman gantung nantinya."
Tawanya membahana. Lalu ia pun menarik kudanya dan menyeringai tajam.
"Kita perang, Konoha. Siapkan diri kalian."
.
.
TO BE CONTINUED
.
.
Author's Note :
Jangan bosen nungguin karena penantian lama kalian akan selesai setelah chap depan update (iya, fict ini tamat di chap 12). Oh, ya. Mari mampir ke profile-ku untuk tau informasi lebih tentang ARTFORZO! :)
.
.
Thankyou for Read & Review!
Special Thanks to :
Sabila Foster, VeeQueenAir, AriyaniAjahlah, Shuben, Bofit, un, Apa aja deh, Lala Yoichi, kHaLerie Hikari, Guest, sa-chan, Namikaze Eiji, kaicchi, zeedezly-clalucindtha, Arum Junnie, Mademoisellenna, adriana, nathalie-ichino, zuzu-chan, nchie-ainie, nanana, Natsume Rokunami, Kimaru-Z, Shuuhi-sama, AoRizuki, Mimo Rain, anita-indah-777, Guest, Amu B, Gazuharu Hana, yuma, berry uchiha, miskiyatuleviana, dianarndraha, yamazukiyora, VampireDPS, dina-abu, Ai, Moody Auguste, tsubakichan, Guest, ChiTao, Rosachi-hime, Iwahashi Hani, fii-chan, Cherry853, Miss Utun, palvaction, leinalvin775, uchiha clan, yahikosan, Rin, Arina marioka-darkbrown eyes, Summer Soo, kiddo hatake, KiRei Apple, dwi2, Virgo Shaka Mia, mikazuki, Ay Seijuurou, ribka, PinKrystal, HestyEclair, Secretly D Ar, Afra onyx, rara chan, sonia, Nurulita as Lita-san, Pucherry, NatashAurel, yuri rahma, cherry, mrs sasori, Miharu348, febri, Guest, ghostgirl20, peinsaku, d3rin, Guest, arisahagiwara chan, IndahP, nelvacs9b, T434124, JOIDpainxx, afifahfebri235, Riri Aurynda, Guest 21, Namikaze Minto, Sasya547, riyanti, intanm, febri, MysteriOues Girl, L-casei shirota strain, Yukicchi, miss, BlackHead394, Fifin, flo, pinka-chan, Annchan602, gabriella, A l r, Shire-chan, Hyuuga Halima, Changeling Naii, Mrs. Uchiha, hyugarasetsugma, evjrs, Friendstyas, Stella T-I-F-F, Nadia kara anabelle, yuukaharu, red tomato, Fitriaisyah, ZeZerona, Dafara White, HinaTama, Guest, Nama emi, Sinta Hyuga, vannie schifki, wowwoh-geegee, jenny, Itachi Uchiha, fansanime, Kekasihku, febri, Krystal Cintia A, riyanti, angels0410, ferrish0407, kaiLa wu, RairaHikari, Eiliyah Sakura, uzumakisina, Lullama, Ichi54n, Abdul azis, haebaby.
.
.
Pojok Balas Review :
Dipercepat sedikit update-nya. Setelah chap depan kalian ngga akan nungguin fict ini lagi kok. Pas liburan ke Konoha Tobi dkk pada ikut, ngga? Ikut dong. Anak Sakura bakal cewek atau cowok? :) Kalo Sasori suka Sakura pasti seru. Iya, terus ngga tau kapan tamatnya, haha. Kenapa Sasori benci sama ninja? Pernah diceritain di chap delapan. Intinya Akatsuki (mayoritas samurai) benci sama ninja karena ninja dulunya banyak yang menyalah-gunakan kekuatannya. Dulu aku ngga baca ini karena takut sama Pein. Lol. Sabar, ya. Kasih scene Sakura melahirkan, ya. Haha. Pein udah cinta sama Sakura atau belum? Sepertinya udah sih. Ngga keliatan, ya? Pas Konoha pertama kali diserang umurnya berapa? Umur 17 tahun kalo dari penjelasan chap satu. Itachi dan Konan diambil dari desa mana? Konoha juga. Aku suka karakter PeinSaku yang ada di sini. Serasi dan cocok. Thankss. Setengah tahun lagi ya update-nya? Bisa jadi. Hidan, Kakuzu, Kisame, dll, pada kemana? Mereka panglima perang, kan? Pengennya sih mereka ngga terlalu diekspos supaya ceritanya ga gitu panjang, hmm. Aku sampai mimpiin fict King's Wife. Wah, bisa ya begitu... Salut sama Zo, ceritanya bagus-bagus. Ini juga berkat kalian kok. Makasih ya segala masukan dan dukungannya :') Pengen liat Pein marah besar. Aku juga pengen liat sih. Kesannya kok kekuasaan Sasori lebih besar ya dari Pein? Mungkin Pein udah males sama kerjaannya /bukan. Kok Sakura dibuat bodoh dan lemah? Beda sama dia di anime-nya. Bodoh? Ngga juga. Aku cuma masukin unsur polos dan ceroboh ke karakter Sakura di fict ini. Buat sekedar bumbu humor aja. Kalau ada yang nganggep lemah ya mungkin karena aku emang ngga pinter buat scene action.
.
.
Review kalian adalah semangatku :')
Mind to Review?
.
.
THANKYOU
