.
.
Aiko Shimazaki present
SUGA
.
a BTS fanfiction
.
.
Hari ini adalah hari dimana festival budaya di kampus Jimin akan dimulai. Tentu saja, kabar itu sudah sampai pada Jeon Jungkook. Dari kemarin, Jungkook sudah berada di Seoul, bahkan ia sudah menghubungi Yoongi untuk mengantarnya ke festival yang dimaksud.
Yoongi terdengar ogah-ogahan, namun Jungkook tahu kalau kakaknya satu itu pasti juga ingin menonton Jimin menari. Jungkook bahkan harus pura-pura merengek dan memberitahu kalau tidak ada lagi yang bisa dia mintai tolong.
Dan kini, di awal musim gugur, Jungkook dengan jaket tebalnya sudah duduk tenang di sebelah Yoongi yang tengah fokus menyetir. Radio di mobil menyala, dan Jungkook bisa mendengar lagu dari boyband favoritnya terputar begitu saja.
"Lagunya BTS!" Jungkook sontak memutar tombol volume sehingga suara radio membesar. Yoongi merasa telinganya berdenging. Jungkook dan beberapa perilaku sialannya, ia hanya bisa mendesah lelah.
"BTS, ya?" gumam Yoongi. Ia jadi teringat kalau komposer lagu-lagu BTS adalah teman baiknya, ia juga dihubungi oleh produser mereka, Bang Sihyuk, untuk membantu membuat lagu dan lirik. Yoongi belum mengiyakan hal tersebut, memang BTS memiliki warna sendiri dan mereka sedikit unik, Yoongi langsung menyukai mereka di waktu ia bertemu mereka pertama kali.
"Yoongi-hyung tahu, kan, BTS?" Jungkook bertanya disela-sela nyanyiannya. Ia terlihat bangga waktu Yoongi menganggukkan kepala kecil. "Eomma memarahiku waktu aku bilang menyukai BTS, " gerutu Jungkook, "Hyung tidak akan marah, kan?"
Yoongi menggeleng dan tersenyum lucu. "Eomma-mu hanya khawatir, Jungkook-ah. Dia takut kau menyukai BTS sampai anarkis."
Jungkook melotot tak terima. "Aku bukan anarkis!"
Yoongi tertawa. Menggoda Jungkook sampai anak itu marah adalah hal yang menyenangkan.
Pertengkaran Yoongi-Jungkook harus dihentikan karena mobil Yoongi sudah sampai di kampus Jimin. Setelah memarkirkan mobil di tempatnya, mereka segera keluar. Jungkook terlihat bersemangat, ia hampir berlari menuju lautan manusia yang juga ikut meramaikan festival.
Yoongi hampir saja tertinggal di belakang. Namun dengan pintar, lelaki itu menarik lengan Jungkook mundur. Menyeretnya hingga yang lebih muda mau tak mau berjalan bersisihan dengannya.
"Hyung!" Jungkook protes tidak terima. Namun Yoongi hanya acuh. Mereka akhirnya berjalan besama dengan Jungkook cemberut di sebelahnya.
"Jungkook-ah!"
Jungkook yang merasa mengenal suara itu langsung saja menolehkan kepalanya cepat. Dan ia mendapati Kim Taehyung berlari ke arahnya, dengan kaos biru muda khas panitia dan jaket terikat di pinggangnya. Taehyung masih terlihat tampan.
"Taehyung-hyung?" Jungkook balas menyapa dengan bahagia. "Apa kabar?"
Pertanyaan bodoh. Tentu saja Jungkook tahu benar kabar lelaki itu karena mereka kerap berkirim pesan bahkan menelepon satu sama lain.
Taehyung melempar cengiran lebar sebagai balasan.
Dan Yoongi hanya bisa mengangkat alis heran ketika ia melihat Jungkook melakukan tos dengan teman dekat Jimin tersebut. Pikirannya melayang, sejak kapan Jungkook dekat dengan Taehyung?
Seolah tahu apa yang ada di pikiran Yoongi, Jungkook tiba-tiba berujar, "Taehyung-hyung yang memberitahuku kalau hari ini ada festival," lelaki itu melempar cengiran khasnya.
"Apa kalian mau berkeliling? Atau mungkin mau melihat Jimin gladi resik?" tawar Taehyung. "Aku yakin dia ada di ruang klubnya."
Jungkook dan Yoongi memilih opsi kedua. Jungkook terlihat bersemangat begitu mengetahui kenyataan bahwa ia bisa bertemu dengan Jimin. Yoongi tidak begitu tahu alasannya, pria itu menebak kalau Jungkook begitu menghormati dan mengagumi Jimin. Seingat Yoongi, Jimin merupakan guru menari Jungkook.
Mereka berjalan menuju ruangan yang dimaksud Taehyung. Dari depan pintu, bisa terdengar teriakan yang menghitung langkah dan suara musik klasik. Yoongi mendapati dirinya nyaman berada dalam kondisi itu.
"Jimin!" Taehyung membuka pintu ruangan itu tanpa tahu diri. Sontak, perbuatannya tersebut mengehentikan aktivitas di dalam ruangan tersebut. Tak sedikit yang menghela napas bosan bercampur kesal, sepertinya mereka tidak begitu asing lagi dengan sikap Taehyung.
Jimin yang sebelumnya membatu dalam posisinya hanya bisa mendengus dan menghampiri Taehyung, sedangkan anggota yang lain mulai membubarkan diri. "Apaan, sih, Tae? Kau menganggu kami latihan."
"Jadi kami mengganggu?" Yang menanggapi rutukan Jimin bukanlah Taehyung, melainkan lelaki yang berdiri di belakangnya.
Min Yoongi.
Jimin menelan ludahnya kasar. Ia tersenyum gugup dan menghampiri Yoongi dengan langkah ragu. "Yoongi-hyung datang juga? Kenapa tidak bilang-bilang?"
Kemudian Jimin menangkap sosok Jungkook yang juga berdiri di sana. "Jungkookie? Kau membolos sekolah lagi?"
Jungkook melempar cengiran nakal. Ia memeluk Jimin tanpa tahu tempat dan meletakkan kepalanya pada bahu Jimin. "Aku ingin bertemu dengan Jiminie-hyung..."
Jimin memutar kedua bola matanya. Sebagian dirinya memang merasa gemas, terbukti dari tangannya yang terangkat untuk mengacak surai gelap sang murid yang sudah ia anggap seperti adiknya sendiri. "Mau berkeliling festival? Aku sudah selesai untuk acara pembukaan pagi tadi, dan akan tampil kembali nanti menjelang malam."
"Hyungie sudah selesai tampil untuk yang solo?" tanya Jungkook. Ia mengerucutkan bibirnya kesal. "Kapan?"
"Tadi pagi, Jungkookie." Jimin menjepit hidung bangir Jungkook dengan jarinya. Ia terkekeh begitu mendapat raut tidak terima dari Jungkook. Jimin tak sengaja menoleh dan sedetik kemudian ia menyadari bahwa sedari tadi Yoongi tengah menatapnya intens, dan itu—tentu saja—membuat Jimin salah tingkah. "Uh, jadi, apa kalian mau berkeliling? Aku akan menraktirmu eskrim, Jungkook."
Jungkook mencebik kesal. Ia melewatkan pertunjukan Jimin, dan itu tidak sebanding dengan satu cup eskrim. Apa Jimin kira dirinya semurahan itu?
"Ditambah sekotak cheesecake kesukaanmu."
"Setuju."
Jungkook nyengir dan melepas pelukannya pada Jimin. Ia beralih memanggil Taehyung, yang tengah asyik berbicara pada anak klub tari lainnya, untuk ikut bergabung dengan mereka.
Taehyung menyetujui ajakan itu tanpa berpikir dua kali.
.
.
"Jadi, kita harus kemana dulu?" tanya Jimin. Ia berjalan bersisihan dengan Taehyung, di belakangnya ada Yoongi dan Jungkook. "Apa lebih baik menonton acara di panggung? Mereka mengundang guest star, kan?"
Taehyung mengangguk-anggukkan kepalanya setuju. "Sebentar lagi mereka akan muncul di panggung," beritahunya. Dan hal itu mengundang decakan kagum dari Jimin, ia bergumam 'panitia acara memang tahu segalanya, ya' dengan pelan.
Jadi, mereka berempat memutuskan untuk menuju ke depan panggung. Panggung tersebut sangat ramai dipenuhi orang-orang yang berdesakan. Tak jarang satu di antara mereka saling menarik untuk bisa mendapat tempat tepat di depan panggung.
Jimin mengabaikan itu. Ia tetap tenang di tempatnya dengan mata masih terpaku pada guest star yang sudah muncul di atas panggung. Menyapa semua penonton dengan semangat. Tidak menyadari bahwa dirinya terpisah dari Taehyung dan Jungkook.
Begitu musik pertama selesai, Jimin menoleh. "Tadi itu seru sekali!" teriaknya, berusaha mengalahkan dentuman musik yang masih tersisa. Dan detik itu lah ia sadar bahwa di sebelahnya hanya berdiri Min Yoongi dan sekumpulan orang asing lainnya.
"Loh, Hyung?" Jimin menarik lengan Yoongi mendekat. Hal itu membuat Yoongi mengalihkan pandangannya dari panggung ke arah Jimin. "Taehyung dan Jungkook dimana?"
Yoongi menunjuk ke arah panggung. Dan Jimin—dengan sedikit berjinjit—bisa melihat dua orang temannya itu berdiri dekat sekali dengan panggung. Ia mengangguk-angguk mengerti.
Yoongi menyentuh pundak Jimin. Dan Jimin meletakkan kembali fokusnya pada Yoongi. Lelaki itu berbicara sesuatu namun Jimin tidak bisa mendengarnya karena lagi-lagi suasana kembali riuh oleh tepuk tangan dan sorakan penonton.
"Apa, Hyung?" tanya Jimin.
Yoongi nampak bingung. Ia melihat sekeliling dan menyadari bahwa tidak ada tanda-tanda keriuhan tersebut akan segera berhenti. Maka, ia menarik lengan Jimin. Meletakkan wajahnya di samping kepala Jimin, "Bagaimana kalau kita jalan-jalan saja? Berdua."
Dan Jimin merasa jantungnya berhenti di detik itu sebelum kembali berpacu kencang. Suara dentuman drum yang dipukul seolah berlomba-lomba dengan suara debaran jantungnya yang gila. Jimin mendesis, sebagian dirinya takut apabila suara debarannya tersebut bisa sampai terdengar oleh lelaki di hadapannya.
Apalagi napas Yoongi yang terasa panas di sebelah telinganya. Jimin merasa ia kehilangan kewarasannya detik itu juga. Ia menganggukkan kepalanya tanpa berpikir. Dan satu-satunya hal yang bisa ia sadari kemudian adalah, Yoongi menggenggam tangannya erat. Menariknya lembut keluar dari kerumunan tanpa berbicara apa-apa.
.
.
"Jadi, makan siang?" Yoongi bertanya ketika mereka sudah berjalan cukup jauh dari panggung.
Jimin mengangguk lucu. Ia menatap sekeliling dan mencari stand penjual makanan. Entah mengapa ia sedang sangat ingin memakan tteokbokki. Jimin menarik lengan Yoongi menuju salah kedai makanan tanpa banyak bicara. Yoongi sendiri membiarkan Jimin melakukan apa yang ia inginkan.
Yoongi melihat Jimin berbicara dengan anak-anak pengurus kedai yang mereka kunjungi. Sepertinya mereka lebih dari sekedar kenal. Jimin tertawa manis sekali, barulah ia menyebutkan pesanannya.
"Hyung, mau makan apa?" tanya Jimin pada Yoongi.
"Samakan saja."
Setelah pesanan mereka datang, Jimin dan Yoongi makan dalam keadaan hening.
Yoongi memerhatikan Jimin dalam diam. Ia terkekeh tanpa suara ketika mendapati Jimin kepedasan. Ia mengipas-ngipas wajahnya dan tangannya sibuk menggapai gelas berisi air di hadapannya. Ekspresi Jimin sangat lucu, bahkan setelah ia selesai meminum air, bibirnya mengerucut. Juga setitik air di ujung matanya malah membuat dirinya semakin menggemaskan.
"Apa sepedas itu?" tanya Yoongi, ia sama sekali tidak merasa kepedasan dengan makanannya padahal mereka memakan makanan yang sama. Dan lagi, Yoongi makan dengan cepat, semangkuk tteokbokki seolah bukanlah apa-apa baginya.
Jimin menggeleng. "Hanya panas, kok." Ia melirik mangkuk Yoongi dan terkejut, "Hyung, makanmu cepat sekali!"
Yoongi hanya tersenyum, ia memakan lagi tteokbokki-nya dalam satu suapan besar. "Setelah ini, mau kemana?" tanyanya tanpa membalas ucapan Jimin barusan.
Jimin terlihat berpikir dengan mulut masih penuh dengan tteokbokki. Tidak banyak yang bisa dilakukan di festival. Kedai-kedai kebanyakan menjual makanan, atau beberapa pernak-pernik buatan mahasiswa. Kemudian, Jimin teringat kalau ada yang membuka rumah hantu kecil-kecilan. Lee Taemin yang memberitahunya karena ia ikut mengambil bagian dalam pembuatan rumah hantu itu.
Jadi, mereka pun memutuskan untuk pergi ke sana.
.
.
"Jimin?" Yoongi menolehkan kepalanya untuk memastikan bahwa Jimin tengah menggenggam lengannya erat sekali—erat dan brutal. Mereka telah sampai pada rumah hantu yang tadi disebut-sebut Jimin. Yoongi menemukan wajah Jimin yang terlihat pucat dan ekspresi takut yang terpapar jelas.
Yoongi baru saja akan membawa Jimin pergi, namun sebuah lengan sudah menahan lelaki merah muda itu dari arah belakang.
"Jiminie! Kau datang kemari juga akhirnya!"
"Taemin-hyung!" Jimin hampir menjerit karena terkejut. "Kau mengejutkanku!"
Yang disebut-sebut sebagai Taemin hanya tertawa kecil. Ia mengerling melihat Yoongi dan bagaimana tangan Jimin berpegangan pada lengan pria itu. "Oh, jadi ini pacarmu?"
Jimin melotot, ia hendak menyela namun Taemin sudah mendorong punggungnya dan punggung Yoongi sekuat tenaga.
"Rumah hantu sangat cocok untuk sepasang kekasih! Masuklah, masuklah!"
Jimin hanya bisa menelan ludahnya gugup. "Maafkan dia, Hyung, dia memang suka bicara seenaknya," gumamnya pada Yoongi. Dan kemudian, Jimin tidak lagi bisa berpikir jernih ketika mereka benar-benar masuk ke dalam rumah hantu mini. Di dalam sangatlah gelap, hal itu membuat Jimin mengeratkan pegangannya pada Yoongi.
Yoongi, tanpa diberitahu, pun paham kalau Jimin itu tidak begitu kuat dengan hal-hal berbau horror. Bahkan lelaki itu hampir menjerit ketika sepasang tangan muncul begitu saja di dinding sebelah kiri, hampir menyentuh lengan Jimin. Yoongi melarikan tangannya, mendekap Jimin agar mendekat ke arahnya. Mengusap lengannya, meyakinkan Jimin bahwa semuanya akan baik-baik saja.
Pada akhirnya mereka bisa keluar dari rumah hantu dengan selamat. Setelah Jimin yang harus memekik karena ia terus saja menahan teriakannya—hei, laki-laki tidak seharusnya berteriak di rumah hantu, kan?—pun, akhirnya ia bisa bernapas lega. Taemin dan yang lain benar-benar mengeluarkan segalanya di rumah hantu mereka. Jimin sampai tidak yakin, wanita berbaju putih yang tadi menatapnya di belokan menuju pintu keluar tadi adalah manusia atau bukan.
"Bagaimana menurutmu, Jimin?" Taemin menghampiri mereka lagi. Wajahnya terlihat antusias.
Jimin mengangguk lemah, "Sangat bagus, Hyung."
.
.
Yoongi bertemu Jungkook lagi ketika Jimin hendak pamit untuk kembali ke ruang klubnya. Mereka akan segera tampil tiga puluh menit lagi. Dan langit dengan cepat sudah berubah warna menjadi oranye. Yoongi bahkan tidak ingat ia dan Jimin sudah mengitari stand apa saja.
"Yoongi-hyung! Tega sekali kau meninggalkanku!" Jungkook merengut. Ia melipat kedua tangannya di depan dada. Matanya memandang Yoongi dan Jimin dengan tatapan sengit. "Dan Jimin-hyung, jangan lupa eskrim dan cheesecake yang kau janjikan!"
Jimin meringis. Kemudian ia menangkap sosok Taehyung yang berjalan santai di belakang Jungkook dengan tangan penuh membawa makanan. Yang paling mencolok adalah arum manis berwarna merah muda.
"Untung saja Taehyung-hyung berbaik hati dan menemaniku," ketus Jungkook. Bibirnya masih mengerucut. "Padahal aku, kan, mau main dengan Jimin-hyung."
Jimin terkekeh. Jungkook itu sebenarnya manis, kalau saja ia tidak memiliki hobi suka menghabiskan uang orang, atau kejahilannya yang luar biasa menyebalkan. Jimin mencubit hidung Jungkook gemas. "Makanya, kau masuk sini, ya? Kita bisa sering main kalau begitu."
Jungkook menepis tangan Jimin dan membuang muka.
"Jungkookie, jangan bersikap seperti itu. Tidak sopan," Yoongi menyahut. Lelaki itu mengangkat tangannya dan mengusak rambut Jungkook gemas.
"Jangan mengusak rambutku, Hyung! Kau bukan anak kecil!" Jungkook berseru kesal, namun ia tidak menepis tangan Yoongi karena—ya, ia tidak mau Yoongi marah. Itu sangat menakutkan. Kemudian, Jungkook beralih pada Taehyung. "Hyungie, mana arum manisku?"
Taehyung memberikan arum manis merah muda tadi pada Jungkook sambil menggeleng-gelengkan kepala gemas. Jungkook tidak mau disebut anak kecil padahal sikapnya sangat persis dengan anak berumur lima tahun.
"Ya sudah. Aku akan membayar hutangku nanti, oke, Jungkookie? Aku akan mengajakmu pergi seharian," Jimin tersenyum manis pada Jungkook. "Sekarang aku harus segera kembali untuk bersiap tampil."
"Oh, sebentar lagi acaranya akan selesai?" tanya Jungkook. Sungguh, festival ini terasa sangat singkat baginya.
Jimin mengangguk. "Sebenarnya ada acara kembang api nanti. Tapi…" Jimin melirik Yoongi dengan tatapan penuh arti.
Yoongi yang paham akan hal itu segera menyahut. "Aku mengajak Jimin makan malam nanti. Berdua."
Jungkook sudah siap-siap akan merengek lagi, dan sebelum itu terjadi, Jimin sudah pergi dari sana. Berlari kecil menuju ruang klubnya.
.
.
"Untuk penutupan, akan berlangsung di aula," beritahu Taehyung. Ia bahkan terpaksa menjadi penunjuk jalan bagi Jungkook dan Yoongi. Aula ada di lantai tiga, bersyukurlah ada lift yang bisa digunakan khusus untuk panitia sehingga mereka tidak perlu repot-repot naik tangga.
Yoongi hanya diam saja selama mereka berjalan. Jungkook sesekali bertanya pada Taehyung dan Taehyung menjawabnya dengan sabar, namun selebihnya ia disibukkan dengan makanan yang sudah ia beli tadi siang.
Begitu mereka sampai di aula yang dimaksud, Yoongi baru sadar kalau sudah banyak orang berada di sana. Seolah-olah pertunjukan ini sudah ditunggu oleh mereka.
"Teman-teman Jimin-hyung adalah orang-orang terkenal, Hyung," beritahu Jungkook. Mereka berdua mendapat tempat duduk di barisan ketiga dari belakang. Taehyung izin undur diri karena harus mengurus acara kembang api yang akan diadakan nanti malam. "Aku dengar di antara mereka ada yang menjadi artis."
"Itu hebat," ucap Yoongi penuh dengan rasa kekaguman. Matanya menatap tajam ke arah panggung yang lampunya masih padam.
Lagu tiba-tiba mengalun lembut. Lampu di panggung menyala dan di sana, sosok Park Jimin yang berbeda berdiri seorang diri. Mengenakan pakaian serba hitam dan rambut ditata sedemikian rupa.
Yoongi terperangah.
Ia tahu itu adalah Jimin. Park Jimin yang sama yang kemarin ia traktir sate kambing. Park Jimin yang merengek padanya untuk tidak segera pulang. Park Jimin yang baru saja menghabiskan setengah hari bersamanya.
Namun, Yoongi malah merasa bahwa ia belum pernah mengenal Jimin yang kini berdiri di atas panggung. Meliuk cantik mengikuti irama lagu. Tatapan matanya sangat kuat, seolah ia dapat menghipnotis siapa saja dengan maniknya tersebut.
Dan memang seperti itu kenyataannya.
Karena Yoongi, hanya dengan melihat penampilan itu selama kurang dari satu menit, sudah berhasil jatuh dalam hipnotis yang entah sebenarnya diciptakan oleh siapa.
Anggota lain ikut masuk ke atas panggung tak lama kemudian. Semuanya mengenakan pakaian serba hitam. Namun, fokus Yoongi sama sekali tidak bisa lepas dari keberadaan Jimin. Bahkan ketika Jimin berhenti untuk mengambil napas di barisan belakang, Yoongi masih terpukau.
Pertunjukan itu berakhir dengan cepat. Tepuk tangan menggema, beberapa penonton memberikan standing applause sedangkan Yoongi hanya bisa duduk mematung, matanya sama sekali tidak berkedip. Bahkan, Jungkook di sebelahnya sudah bertepuk tangan dengan riuh sama sekali tidak ia pedulikan.
Kemudian, Yoongi merasa waktu berhenti di tempat ketika mata Jimin bersirobok dengan matanya.
Ya, Tuhan.
Pernahkah kamu merasa waktu mendadak lenyap namun bumi masih berputar pada porosnya?
…karena itulah yang Yoongi rasakan sekarang.
.
.
Jimin duduk manis di kursi mobil Yoongi. Langit sudah sepenuhnya gelap. Lelaki itu terkekeh pelan begitu ingat bagaimana wajah merengut Jungkook barusan. Jungkook benar-benar kesal karena ia diculik oleh Yoongi, apalagi Jungkook sama sekali tidak diberitahu sebelumnya akan rencana makan malam ini.
Untung saja Taehyung berhasil mengalihkan perhatiannya. Taehyung menawarkan diri untuk menjaga Jungkook, bahkan ia berjanji akan mengantarnya pulang nanti sebelum jam sembilan malam.
"Kenapa tertawa?" Yoongi bertanya dari balik kemudi tanpa mengalihkan pandangannya sama sekali. Wajahnya terlihat santai dan Jimin suka itu.
"Hanya teringat wajah Jungkook tadi," jawab Jimin sambil terkikik.
Entah mengapa, kikikan kecil itu berhasil membuat Yoongi merasa hangat. Dan hal itu berhasil memancing sebuah senyum tipis untuk terukir di wajahnya. Ah, Park Jimin benar-benar...
Mobil mereka sampai di restoran yang dimaksud tidak lama kemudian. Yoongi membukakan pintu untuk Jimin ketika lelaki itu masih sibuk berkutat dengan seatbelt-nya yang tak kunjung terbuka.
"Terima kasih, Hyung," ujar Jimin separuh malu ketika Yoongi harus turun tangan untuk melepaskan seatbelt tersebut. Yoongi hanya tersenyum tipis.
Mereka berjalan masuk ke dalam restoran. Kali ini tidak ada jemari yang bertautan, namun bahu masing-masing menempel sangat erat. Seolah enggan terpisah.
Jimin sedikit bingung ketika Yoongi tidak masuk ke dalam pintu utama. Lelaki itu mengambil jalan memutar. "Hyung, bukannya kita harus masuk lewat sini?" tanyanya.
Yoongi tersenyum dan menggeleng. Akhirnya ia mengamit jemari Jimin yang terlihat ragu. Menariknya lembut di sisinya. Dan Jimin tidak memiliki alasan apapun untuk menolak tindakan itu.
Mereka menuju ke sisi lain restoran. Terdapat tangga melingkar yang sangat apik berwarna hitam di sana. Yoongi memberi isyarat untuk segera naik ke lantai atas.
Jimin mengikuti perintah Yoongi tanpa banyak bicara. Ia percaya sepenuhnya pada Yoongi.
Begitu sampai di atas, Jimin melihat pintu putih dengan bel masuk di sisinya. Tempat ini terlihat seperti tempat tinggal seseorang.
"Kita akan mendapat kursi VIP di sini," beritahu Yoongi. Ia menekan bel masuk satu kali. Tak lama, seseorang membukakan pintu putih itu untuk mereka.
"Woah! Yoongi-ya, kenapa kau tidak bilang kalau akan mampir?" seru orang tersebut sedikit heboh.
Yoongi menghela napas pendek dan melempar senyum tipis. "Halo, Seokjin-hyung."
Kim Seokjin, adalah pemilik restoran terkenal ini. Ia memiliki dapur percobaan yang merangkap rumah keduanya di sisi restoran. Tidak banyak yang tahu akan hal tersebut. Yoongi tahu karena memang mereka sudah berteman cukup lama.
Seokjin menawarkan Yoongi untuk masuk ke dalam. Kemudian barulah ia menyadari keberadaan orang selain Yoongi di sana.
"Halo," sapa Jimin gugup. Ia melempar senyum abstrak yang entah mengapa masih saja telrihat menggemaskan.
Seokjin memekik. Ia menangkup pipi Jimin tanpa izin. "Apa kau kekasih Yoongi, hm? Akhirnya bocah itu memiliki kekasih juga..."
Jimin meringis. Kenapa banyak sekali yang mengira ia dan Yoongi adalah sepasang kekasih? Yah, walaupun ia sama sekali tidak keberatan dengan hal tersebut tapi tetap saja. "Uh, bukan... Aku temannya."
Seokjin nampak sedikit kecewa dengan fakta yang baru saha dilemparkan Jimin. Namun itu tidak mengurangi keantusiasannya. "Oh, teman. Teman Yoongi adalah temanku juga. Masuklah."
"Terima kasih, um—"
"Seokjin. Kim Seokjin. Kau bisa memanggilku Hyung kalau mau."
"Seokjin-hyung."
Seokjin gemas, Jimin dan suaranya yang mengalun lirih itu sangatlah lucu. Ia harus menahan diri untuk tidak memekik keras saking gemasnya. "Siapa namamu?"
"Park Jimin." Jimin memperkenalkan diri sambil memamerkan senyum terbaiknya malam itu.
"Nama yang cantik. Seperti orangnya," puji Seokjin sedikit berlebihan. Mereka masuk ke dalam ruangan itu menyusul Yoongi.
Jimin dibuat terpukau dengan beberapa barang antik yang menghiasi sudut-sudut ruangan. Ia masih belum tahu tempat apa ini sebenarnya. Apakah ini benar-benar bagian dari ruangan VIP restoran?
Melihat Jimin yang bingung, Seokjin segera menjelaskan. "Bisa disebut ini rumah keduaku. Selamat datang."
Raut wajah Jimin seketika berubah cerah. Ia mengangguk semangat dan mengekor pada Seokjin yang membawanya ke meja makan berisi enam kursi. Di atas meja sudah disusun beberapa alat makan seperti mangkuk, piring dan sendok-garpu.
"Mau membantuku menyusun makanan?" tanya Seokjin pada Jimin. "Hari ini aku memasak ayam dan japchae. Kalau tahu Yoongi akan kemari, aku akan menyiapkan daging."
Jimin hanya diam saja mendengar gerutuan Seokjin. Namun ia tetap mengikuti lelaki itu menuju dapur. Di sana, aroma rempah-rempah tercium dengan sangat jelas, dan tentu saja aromanya sangat nikmat.
Mereka menyusun makanan pada meja dan selama itu Jimin tidak mendapati keberadaan Yoongi dimanapun. Entah dimana lelaki itu bersembunyi.
Seokjin tersenyum senang begitu melihat makanannya sudah tertata rapi di atas meja. "Yoongi ada di balkon. Aku yakin dia sedang menelepon Namjoon untuk segera pulang."
"Namjoon-ssi?" tanya Jimin. Ia mengerjapkan matanya lucu dan mendudukkan diri di samping Seokjin ketika lelaki itu memberinya isyarat untuk duduk. Jimin baru tahu kalau Namjoon juga mengenal Seokjin.
Seokjin mengangguk dan entah mengapa ia terlihat lebih bahagia ketika Jimin bertanya seperti itu. Senyumnya lebih manis dan matanya berbinar senang. "Yoongi tidak memberitahumu?" tanyanya memastikan.
Jimin menggeleng. Ia menjadi antusias sendiri karena Seokjin kini menggigit bibir bawahnya malu-malu. "Beritahu aku, Hyung~"
Seokjin terkekeh sebentar lalu berujar, "Namjoon adalah tunanganku."
Jimin sama sekali tidak berusaha menutupi wajah terkejutnya kemudian. Matanya terbuka lebar dan mulutnya pun juga. Wajahnya sangat aneh namun lebih aneh lagi karena Seokjin menganggap ekspresi itu sangatlah imut. "Bagaimana bisa, Hyung? Makudku… wow, Yoongi-hyung sama sekali tidak cerita padaku."
Jimin merasa sedikit aneh. Ternyata SUGA yang ia sukai sudah memiliki kekasih. Yah, namun itu tidak masalah. Jimin memandangi Seokjin dan ia malah bersyukur karena SUGA memilih pria ini.
"Kalian sepertinya seru sekali," Yoongi datang dari arah balkon dengan tangan memegang ponselnya. "Aku menelepon Namjoon dan sepertinya ia akan pulang malam."
Seokjin mendengus. Raut bahagianya langsung tergantikan dengan wajah tertekuk sebal. "Aish, anak itu. Menyebalkan sekali, sih." Ia mendengus sekali lagi dan menatap makanan di hadapannya, "Ya sudah. Ayo kita mulai makan saja."
Mereka bertiga pun makan malam dengan diselingi candaan yang dilontarkan Seokjin. Dari sudut padang Yoongi, lelaki itu menilai bahwa Jimin dan Seokjin memiliki selera humor yang sama. Buktinya Jimin terus-terusan tertawa—bahkan sampai tersedak. Namun Yoongi tidak sampai hati untuk memarahi Seokjin untuk hal itu, karena… siapa yang tega memarahi orang yang membuat Jimin bisa tertawa seperti itu?
Yoongi merasa hatinya mendadak menghangat. Tiap kali ia mendengar suara tawa Jimin, yang ada di pikirannya adalah satu.
Ia ingin tawa itu selalu hadir dalam hidupnya.
.
.
"Drop into the ocean~"
Jimin tertawa terbahak. Lagi-lagi Seokjin melontarkan candaan padanya. Sungguh, Jimin tidak kuat lagi. "S-sudah, Hyung—hahaha… astaga…" Jimin mengatur napasnya yang masih putus-putus karena terlalu banyak tertawa.
Sudut matanya melirik Yoongi yang masih asyik menyantap makannya tanpa memedulikan candaan yang Seokjin lontarkan. Ia sempat berpikir kalau Yoongi merasa diabaikan atau mungkin lelaki itu tidak nyaman berada di sini. Namun begitu melihat Yoongi yang tersenyum sekilas padanya karena ia kepergok memandangi lelaki itu, Jimin bisa menyimpulkan kalau Yoongi sama sekali tidak marah.
Makan malam selesai dengan cepat dan Jimin sangat puas. Makanan Seokjin benar-benar enak. Ia jadi tahu banyak kalau Seokjin dan Namjoon membangun restoran ini bersama, namun Seokjin lah yang kemudian menjadi pemiliknya. Ia bekerja sebagai kepala koki.
Jimin membantu mencuci piring. Ia bersenandung senang sambil menggosok piring-piring bekas makan malam. Di sebelahnya, Seokjin melakukan hal yang sama.
"Bagaimana Seokjin-hyung bisa bertunangan dengan SUGA?"
"Hah?" Seokjin menghentikan usapan pada piring kotornya. "SUGA?"
"SUGA," Jimin mengulangi ucapannya dan mengangguk-anggukkan kepalanya lucu. "Namjoon-hyung adalah SUGA, kan?"
Seokjin tergelak. Ia hampir tertawa kalau saja ia tidak menangkap raut wajah Jimin yang sama sekali tidak berniat bercanda. "Apa maksudmu, Jimin-ah? SUGA itu Yoongi. Namjoon itu memiliki nama panggung Rap Monster."
Jimin mematung. "Apa?" tanyanya. Pikirannya mendadak kosong, ia meletakkan piring dan spons berbusanya begitu saja. Fokusnya ia alihkan penuh pada Seokjin. "Apa, Hyung?"
"Kau benar-benar tidak tahu, eoh? SUGA itu Yoongi, Min Yoongi yang kau kenal," ujar Seokjin santai. "Bagaimana bisa kau itu tidak tahu? Padahal kau dan Yoongi terlihat dekat."
Jimin tidak bisa mendengar ucapan Seokjin setelahnya dengan jelas. Tubuhnya mematung, bahkan rasanya, untuk mendetakkan jantung saja begitu berat. Jimin menarik napas dengan susah payah dan berusaha mencerna apa yang baru saja diucapkan oleh Seokjin.
Min Yoongi adalah SUGA.
Bagaimana bisa?
.
.
to be continued.
Authors' :
Maaf karena telat update! Semoga kalian suka dengan chapter ini;) Dan ya, ini sepertinya menjadi chapter yang sangat ditunggu. Ketika Jimin tahu kalau Yoongi adalah SUGA.
Nah, ini dia sudah tahu;) Hayoloh, berikutnya gimana ini. Haha.
Untuk chapter depan dan (mungkin) seterusnya, bakal slow-update lagi. Maaf ya:') Ini gegara saya lelah /ga/ Cuma, yea, terlalu banyak hal yang harus dilakukan di real life. Semangat menunggunya! I really really really love you, guys:*
Balesan review :
JirinHope : YANG DI VLIVE. Yaampun, saya berusaha tetap tenang ketika menonton itu:) Apalagi sama Seokjin langsung diomongin 'he wants hold your hand because he likes you' hahaha. Sumpah lucu banget apalagi Namjoon heboh banget teriak 'ooooh!'-nya. Yoongi di sini lagi jadi anak baik, dia mainnya alus sekarang;)
LittleOoh : Iya ini buatnya chapter 10 sama 9 barengan. Jadi sama-sama manis gitu. Hehehe. Jadiannya? Tunggu saja ya;) Ini aja Jimin baru tau kalau SUGA itu Yoongi, wkwk.
joah : Yoongi sudah kuat imannya;) Itu padahal godaan banget si Jimin ngusel-ngusel di lehernya. Bayangin deh:') Manis bangeeet:')
MinPark : Yaampun sampai segitunya demi baca ff ini:') Makasih banget ya:D Ini sudah tahu kok kalau Yoongi itu SUGA. Perihal jadian nanti dulu ya;) Taekook? Apa itu Taekook? Saya tahunya Cuma Yoonmin;) /ga/ Wkwk. Semoga masa penantianmu yang panjang kemarin bisa terbalaskan dengan chap ini ya:) Semoga suka! Makasih sudah mau baca:D
maiolibel : Hahaha. Bisa kok, pasti suatu saat nanti kamu (dan semua ARMY) ketemu sama Bangtan:) Kita hanya butuh percaya dan always usaha ya:') Pasti bisa kok! Iya kamarnya Kookie menurut saya malah kaya toko komputer, wkwk. Sumpah barang-barang elektroniknya banyak banget. Ini sudah dilanjut;) Wah, Vkook momen? Tidak janji ya;) Hehe…
JungKimCaca : Ini sudah dilanjut:D Semoga suka sama chapter ini;)
rafizalpp : Terima kasih:') Sampai speechless gitu ya, hehe. Semoga kamu suka sama chapter ini ya:)
GeniusMYG : Yoongi-nya gemesin banget emang:') Dia gentle abis gak sih di sini:') Saya yang buat aja iri sama Jimin:')
shienya : Yoongi berusaha memantaskan diri buat Jimin:') He wants to protect our little mochi:') Jadinya dia gini deh… manis ya:') Saya aja gakuat nulisnya, bawaannya iri terus sama Jimin:'')
ChiminsCake : Nah, tolong puji Yoongi lagi ya karena dia sudah berhasil menguatkan imannya:') Gainget apa dulu main nyosor-nyosor aja wkwk. Tapi di sudah berubah because he do love our Jimin. Jadinya ya, dia manis begini:') Kalau saya yang ngeliat Jimin gitu—ah, khilaf mah saya:')
honeymon : Iya wkwk, karena Yoongi suka daging kambing saya jadi pengen buat dia makan daging kambing /ga/ Tapi ya meski hanya lewat ff ya:') /mendadaksedih/ Dan saya gatau sih Jimin bisa makan engga aslinya, cuma yang hobi banget itu kan si Jungkook sama Yoongi, haha. Coba kalo Jimin gitu di depan saya, sudah khilaf saya:') /ga/ Terima kasih sudah setia menunggu;) Semoga puas dengan chapter ini ya!
zheend : Ini sudah dilanjut! Semoga suka ya;)
itsathenazi : Hahaha, sumpah sedih banget Yoongi. Si Jimin suka SUGA, dan Yoongi suka Jimin. Mereka sadar gak sih, kalau sama-sama suka!? /lah/ Tapi ini Jimin sudah tahu nih;) Gimana ya reaksinya nanti:) Taehyung idaman yak;) Tembak sono gih, sebelum Jungkook mulai start;)
see you next chapter!
