.

.

Yasto

.

.

.

Pagi hari bus memang selalu ramai, terutama anak shs dari Danwon. Jin memang sering naik bus tapi, anehnya ia tak pernah bertemu Jimin sebelumnya. Padahal, mereka masih tetangga. Walaupun lingkungan rumah mereka bukan tipe tetangga yang akan tau nama marga yang tinggal di sebelahnya. Jin kini berdiri, tepat di sebelah siswi Danwon yang membicarakan ulang tahun. Jujur Jin paling tak suka kalau mendengar masalah usia. Ia itu trainee, dan di usianya belum juga debut. Biasanya trainee akan debut di usia belasan, dan Jin sudah 22thn sekarang. Jika lebih tua lagi Jin belum juga debut, maka ia akan jadi trainee yang tersingkir dari management. Jujur saja, industri akan kejam pada trainee yang belum debut di usianya. Ia akan jadi sasaran empuk produser hidung belang yang menawarinya iklan dan lain sebagainya. Tentu dengan syarat yang setimpal. Banyak dari trainee yang berakhir hanya dengan memuaskan para pekerja berjas di dunia hiburan. Memang ambisi itu seperti hukum alam. Seperti manusia yang akan menjadi kanibal ketika kelaparan di hutan. Jin juga sebenarnya dalam masa kritis. Hanya saja, ia beruntung karena tak ambisius.

Mengingat debutnya yang belum juga datang, Jin kembali teringat kata Ken. Saran tentang bagaimana ia harus debut. Keluar dari management nya yang sekarang, lalu memanfaatkan Namjoon. Memang benar, dulu ketika di BigHit dia bisa langsung duet dengan salah satu penyanyi di Immortal Song. BigHit selalu menitik beratkan pada artis dari bakatnya, jadi visual sangat jarang. Walaupun sekarang, gruop band yang dulunya memiliki wajah dibawah rata-rata bisa disulap make-up artis menjadi sosok yang super tampan. Jin terus memikirkan nasibnya, sampai mata indahnya melihat pria pucat yang sedang memarkir sepedanya. Jin merasa ia harus maju sedemikian rupa. Bagaimanapun juga Yoongi adalah teman Namjoon. Maka ia juga harus mendekati pria pucat satu ini.

"Yoongi-ah! Selamat pagi!"

Yoongi menoleh memandang siapa yang menyapanya dengan mata yang semanis Jimin. Itu Jin, tentu saja. Memang Jika dibandingkan semua wanita, Jin adalah gadis paling cantik yang pernah ia kenal.

"Noona! Selamat pagi!" Yoongi membungkuk untuk menunjukan rasa hormat.

"Bagaimana kabar Jimin? Dia pasti sangat shock kemarin," Senyum Yoongi terlihat masam. Jin yang menyadari perubahan tersebut jadi merasa khawatir. Sepertinya terjadi sesuatu dengan Jimin hingga Yoongi bereaksi seperti itu. "apa Jimin baik-baik saja?"

"Jiminnie dia sakit. DBD."

"Mwo?! Bagaimana bisa?!"

"Ruang tari kemarin."

"Ah! Pantas area itu kemarin dilakukan pembersihan. Aku minta maaf, lalu bagaimana keadaannya?"

"Masih sama. Jimin masih belum bisa bangun."

Jin yang khawatir berencana ikut ke rumah sakit setelah pulang kuliah dengan Yoongi. Tentu saja Jin mengatakannya pada yang lain. Bagaimanapun ketika Jimin hilang, mereka juga ada disana dan katakan saja bahwa dibalik semua itu juga, ia memiliki niat lain. Tujuannya adalah debut, Itu intinya. Mendekati Yoongi adalah cara terbaik agar bisa lebih dekat dengan Namjoon. Ken bilang Namjoon adalah keuntungan, dan ia harus memanfaatkan apapun yang ada di sekitarnya.

Yoongi hanya bisa tersenyum melihat kepedulian teman-temannya. Mereka berkumpul membicarakan persiapan untuk menjenguk kekasihnya.

Jin kembali membuat Namjoon terkesan. Tapi juga cemburu bersamaan. Pasalnya, ia terlihat terlalu dekat dengan Yoongi. Dan sepertinya Namjoon punya respon bagus. Bahkan mereka berjanji makan bersama.

...

Sebuah taxi berhenti di depan rumah sakit, sang penumpang dengan rapi menutup kepalanya dengan masker dan kaca mata. Dia bukan public figeure atau penjahat. Dia adalah Kim Taehyung yang sedang berniat menjenguk Jimin. Gadis labil itu, bertindak konyol hanya karena takut akan ada teman sekolahnya yang tau. Pasalnya Jimin berada di posisi yang bisa menjatuhkan popularitasnya sebagai gadis paling keren di sekolah. Tapi ia cukup khawatir dan tak tega, maka hanya ide bodoh itu yang ia fikirkan. Ia terlalu takut menjadi hujatan orang lain tapi juga takut dimusuhi sahabatnya. Tapi sialnya nasib tak berkehendak sesuai maunya. Ia ke rumah sakit menjenguk seorang loser dan malah bertemu loser dari loser yang ada di sekolah. Dia Kim Jungkook siswa yang berkacamata tebal dan menjijikan dimata Taehyung. Dari semua loser yang ia hindari kenala ia harus bertemu orang paling cupu di shs. Padahal ia sudah mati-matian hindarin Jungkook karena takut teamnya mengira ia berteman dengan orang semacam Jungkook. "Taehyung-ah anyeong!"

Berharap dapat balasan salam? Dalam mimpi Jingkook saja. Gadis chic itu, sudah terlanjur kesal berbagi udara dengan Jungkook dan bukannya menjauh, Jungkook malah menyapanya.

"Kau mau menjenguk Jimin? Dia pasti senang kau datang!"

"Apa kau tak bosan menguntitku terus? Aku yang datang duluan jadi sebaiknya kau diam disini, karena aku tak mau berbagi udara denganmu."

Jungkook menaikan alisnya, terkesima dengan kepercayaan diri Taehyung. Tapi mau bagaimana lagi orang nakal seperti Taehyung adalah tipenya. Bagaimana cara gadis itu marah dan show off, Jungkook menyukainya. Lihat bagaimana gadis itu begitu arogan melempar rambutnya kebelakang. Itu sangat menantang.

"Ck! Kenapa masih menghalangi jalanku? Minggir!"

Dari begitu luasnya lobi rumah sakit, Taehyung meminta Jungkook yang minggir dari jalannya. Jungkook dengan patuh mempersilahkan sang puteri lewat. Namun naas, ia salah langkah dan terjatuh. Tidak hanya jatuh tapi ia juga menginjak kacamatanya sendiri.

"Dasar idiot!"

Lihat bagaimana arogannya seorang Kim Taehyung! Bukan menolong temannya yang jatuh, tapi ia malah menghinanya. Padahal kali ini Jungkook serius meminta bantuan, karena ia tak bisa melihat tanpa kaca matanya.

...

Cup!

Bibir tebal itu menempel kenyal dipipi putih pria bernama lengkap Yi Eun Min. Dia sedang menikmati me time bersama isterinya. Jujur saja, semenjak pria pucat itu lahir mereka tak pernah bisa bermesraan. Karena percuma saja, baru saja mereka menikmati moment, Yoongi entah dari mana akan muncul dan memarahi mereka. Bagi Yoongi, tak pantas orang yang sudah tua bermesraan seperti anak muda. Tapi masa-masa itu pergi, karena sekarang Yoongi tak di rumah. Memang sedikit sepi tapi setidaknya ia bisa menikmati waktu bersama isterinya.

"Evening hon!"

"Good evening sweet heart!"

"Apa kau sibuk minggu ini?"

"Weo? Kau ingin aku temani tiap hari?"

Cup! "Jimin sakit!"

"Sakit?"

"Demam berdarah! Sepertinya parah dan kita sepertinya harus kesana."

"Sayang! Minggu ini aku banyak sekali proyek."

"Kita kesana hanya sebentar saja. Sehari bisakan? Kita juga belum menjenguk anak kita bukan?"

"Akan aku usahakan sayang."

Cup! "Terimakasih!"

Cup! "Anything sweet heart. I can do anything for you."

...

Begitu Yoongi menyelesaikan tugas kampusnya, mereka langsung berangkat bersama ke rumah sakit. Sampai di lobi, Jin heran melihat adik manisnya duduk diam tanpa kaca mata. Jin tentu panik, adiknya benar-benar buta tanpa kaca mata dan dengan penampilan seperti sekarang dia terlihat sangat malang.

"Jungkook!"

Bak mendengar suara malaikat. Jungkook langsung merasa lega mendengar suara kakaknya. Ia bisa saja apa-apa sendiri, tapi tidak jika ia tak bisa melihat. Jungkook akan sangat needy tanpa kaca mata.

"Noona?"

"Kemana kaca matamu?"

"Aku menginjaknya!"

"Eee?" Jin merebut kacamata pecah dari tangan Jungkook. Itu jelas tak bisa di pakai lagi. Jujur melihat Jungkook ke rumah sakit dengan kacamata rusak, ia fikir adiknya pergi ke dokter mata. Tapi bunga mawar merah di tangan Jungkook membuatnya lebih heran.

"Kau membawa bunga?"

"Aku ingin menjenguk Jimin."

Mata Yoongi naik. Bunga? Poin sialan manis yang Yoongi bahkan tak terfikir di kepalanya. Lagi-lagi ia merasa kalah selangkah, meskipun Jimin kekasihnya. Itu mawar merah. Anak itu bisa-bisanya bawa mawar merah untuk kekasihnya. Apa itu ancaman? Yoongi mengawasi adik Jin yang dengan terlihat bodoh itu memeluk lengan kakaknya. Lain hal Yoongi yang menatap penuh pengawasan, Namjoon justru senyum melihat betapa Jin menyangi adiknya. Sepertinya, Namjoon benar-benar jatuh cinta pada malaikat.

...

"Taehyungah!"

Yoseob langsung memeluk sahabat puterinya itu. Mencium pipinya sedikit gemas.

"Ahnjungma maaf aku baru datang! Aku sedang mempersiapkan kompetisi untuk festival. Jadi aku baru kemari."

"Padahal Jimin menunggumu!"

"Jiminah!"

Tae mencium pipi Jimin dan reflek menutup bibirnya karena menempel di sesuatu yang panas.

"Kau panas sekali!"

Jimin hanya tertawa lemah. Jika saja Jimin sehat, ia pasti sudah menertawakan kebodohan temannya itu. Jimin sedang demam, tentu saja ia panas.

Entah sial atau beruntung, Taehyung liat Hoseok, Jungkook dan yang lainnya datang. Sepertinya timingnya salah. Harusnya ia menjenguk Jimin lebih awal. Taehyung duduk saja, menjadi benda mati ketika semua orang memperhatikan Jimin. Apa penyakit temanya separah itu hingga seluruh teman Yoongi datang? Bahkan Kim Namjoon saja datang. Itu gila tapi sepertinya Jimin lebih popular di kampus daripada di sekolahnya. Bukankah itu keren? Berteman dengan orang-orang kampus?

"Tenggorokannya kering karena panas. Jadi uri Jimin hanya bisa menggumam saja!" Yoseob menerangkan kondisi puterinya. Menjelskan bahwa Jimin tak bisa bicara.

"Apa separah itu?" Jin memegang tangan Jimin untuk memberi kekuatan.

"Jimin hanya bisa berbaring karena panas tubuhnya terlalu tinggi. Bahkan untuk makan saja sepertinya uri Jimin terlihat sangat kesulitan."

"Busange!" Tidak, kali ini Jin tak berpura-pura. "Kami membawakanmu buah Jimin! Semoga kau cepat sembuh!"

"Omo! Gumawosoyo!" Yooseob menwrimanya dengan penuh keramahan. Ia tersanjung dengan perhatian teman-teman Yoongi. Namun detik berikutnya ia terkejut dengan sebuah bouquet bunga mawar merah.
"Jiminah untukmu! Aku sudah sangat merindukanmu berada di sekolah!"

Slinggg! Mata Yoongi langsung melirik tajam Jungkook. Pria mana yang akan tersenyum jika ada pria lain mengatakan rindu pada kekasihnya?

"Wah bunga yang cantik! Terimakasih!" ucap Yoseob hati-hati sambil melirik Yoongi. Takut anak itu akan berfikir kalau ibu kekasihnya suka dengan bunga itu. Walau ia tau Yoongi orang yang dewasa dan ia yakin bahwa Jungkook tak tau makna dari mawar merah.

"Selamat malam! Ini waktunya makan malam dan waktunya Jimin meminum obatnya!"

Semua orang mendadak menyingkir dari ranjang Jimin untuk memberi ruang pada perawat. Taehyung menyingkir dan mendekati Hoseok, Namjoon tentu saja mempersilahkan princessnya duduk di sofa bersama adiknya. Yoseob ada di sisi ranjang satunya, bersebrangan dengan perawat. Sedangkan Yoongi membantu menaikan bagian atas ranjang Jimin agar gadis itu bisa duduk dan makan sambil bersandar.

"Dia pacar yang sangat perhatian!," bisik Seokjin. "padahal Yoongi itu dingin sekali!"

"Pria akan melakukan apapun untuk wanita yang dicintainya!"

Itu Rapmon yang menjawab mur-mur Seokjin. Mereka saling tatap dan diam-diam tersenyum. Saling lirik sebelum mereka melihat Jimin menangis. Disana mereka melihat Yoongi membujuk Jimin makan tetapi sepertinya Jimin tak bisa menelannya lagi. Mereka jadi iba melihat betapa sakitnya Jimin. Jimin terus menangis lemah, merengek pada Yoongi untuk berhenti makan tapi Yoongi terus saja memegang sendok di depan mulut Jimin. Yoseob mengelap air mata Jimin sambil menahan tangis. Merasakan bagaimana menderitanya puterinya yang manis. Jimin yang biasanya penuh semangat, kini hanya bisa berbaring lemah. Jimin hanya makan sedikit pagi dan siang tadi, ia fikir karena tak ada Yoongi. Tapi sekarang, ada Yoongipun Jimin tetap menolak. Sepertinya tenggorokan puterinya memang sangat sakit. Ia melirik Yoongi yang meletakan kembali sesendok bubur itu pada mangkok. Sepertinya Yoongi juga tak tega memaksa Jimin.

"Jimin hanya makan sedikit pagi dan siang."

"Jiminah kau! ... oppa tau itu sakit tapi itu akan lebih sakit lagi jika kau membiarkan penyakitmu."

"shirro!"

"Jiminah jebal! Berhentilah membuat kami khawatir! Tidakah kau ingin cepat sembuh dan membuat kami berhenti khawatir? Lihat eomamu menagis setiap kali kau kesakitan! Apa kau mau melihat kami menangis untukmu? Apa kau ingin membuat kami ikut sakit karena mengkhawatirkanmu setiap saat?," Jimin diam sejenak sebelum ia menggeleng. "sekarang habiskan makananmu, mengerti?"

Kepala Jimin mengangguk dan akhirnya makan meski air matanya tak berhenti menetes. Ibunya terus lap air mata Jimin.

"Dia itu sebenarnya membujuk, memarahi atau memerintah? Tega sekali tapi kenapa rasanya tetap menyentuh?"

"Mungkin karena Jimin kekasihnya jadi Yoongi memarahi Jimin dengan nada rendah. Itulah kenapa tetap terdengar menyentuh. Percayalah! Jika itu aku yang sakit, dia akan menyumpahiku untuk mati saja daripada tak mematuhi perawat."

Taehyung menahan tawa. Apa yang ia lihat dan apa yang Hoseok ceritakan sangatlah berbanding terbalik. Ia tak pernah melihat sisi dingin Yoongi karena setiap kali Taehyung melihat Yoongi, pasti Yoongi selalu perhatian pada Jimin. kecuali malam saat Jimin terkurung di kampus, saat itu Yoongi memang menyeramkan.

Melihat bagaimana Yoongi begitu perhatian menyuapi Jimin. Semua orang yang menjenguk agak tidak enak karena sepertinya mereka salah waktu. Lihat bagaimana Yoongi menyuapi Jimin dengan hati-hati kemudiam mengelap air mata kekasihnya ketika air mata Jimin yang selalu jatuh setiap kali menelan. Hubungan macam apa itu, bahkan ibu Jimin dan ayah Jimin hanya bisa melihat puterinya yang begitu penurut di hadapan Yoongi.

"Ini suapan terakhir, setelah ini kau minum obatmu! arrachi?," Jimin mengangguk lagi dengan senggukan sisa menangis. Jimin meneguk beberapa obat bersama air putih. Jimin meminum air itu sekali, dua kali dan seterusnya hingga air di dalam gelas itu benar-benar habis. "maaf jika ini menyakitimu! Oppa hanya ingin kau sembuh dan melihatmu tersenyum lagi.

Beku. Semua orang mendadak diam. mereka saling lirik karena merasakan sensasi aneh dari perkataan Yoongi barusan. Mereka sama-sama merasa bahwa dunia melempar mereka jauh untuk membiarkan Yoongi dan Jimin berdua. Menyadari keadaan, Hoseok memberi kode untuk pergi saja, Jin yang mengerti langsung mengangguk kemudian berdiri.

"Jiminie appa, Jimin eomonie! Sepertinya Jimin butuh istirahat, jadi kami permisi untuk pulang."

"Weo? Kalian baru saja sampai, kami bahkan belum memberi kalian minum!"

"Ania gwenchana! Jiminah semoga cepat sembuh!"

"Ne! Terimakasih banyak karena telah menjenguk Jimin!" Jawab Doojoon sambil mengantar mereka kelur ruang rawat. Mereka semua keluar dengan tenang sebelum pintu ruangan tertutup, mereka langsung ribut dengan atmoshpire aneh di dalam ruangan tadi.

"Owwwhhh! Rasanya aku seperti ditendang ke luar angkasa saat Yoongi mengatakan ingin melihat senyum Jimin!"

"Sssppp itu manis tapi aneh rasanya jika Yoongi yang mengatakannya."

"Weo? Itu tadi terdengar sangat manis! Lebih baik daripada sebuah drama." celetuk Jungkook dan membuat orang-orang berhenti melangkah.

"Em! Aku juga merasa begitu! Yoongi sangat perhatian dan manis."

"Yoongi oppa memang selalu baik, ramah dan penyayang. Memang rasanya seperti dunia milik mereka dan kita hanya debu. Tapi wanita manapun akan meleleh jika diperhatikan seperti itu."

Namjoon dan Hoseok saling lirik, menyadari hanya mereka yang sepertinya merasa aneh berdua. Mereka kenal Yoongi yang dingin dan baru tadi ia melihat sisi romantis seorang Min Yoongi. Siapa yang tak akan merasa aneh?

"Sepertinya hanya kami yang merasa canggung, apa mungkin karena kami terbiasa melihat sisi menyebalkan Min Yoongi?"

"Yoongi pria baik bagaimana kalian mengatakan dia menyebalkan?"

"Dia pria baik, hanya saja sedikit kasar dengan kata-katanya!"

"Kau Kim Taehyung! Kaukan teman Jimin. Kau pasti sering melihat Yoongi memarahi Jimin."

"Saat Jimin terkurung waktu itu. selain itu aku tak pernah mendengar Jimin mengeluh mengenai sifat dingin Yoongi oppa! Jimin selalu bilang kalau oppanya adalah pria paling baik."

"Berhentilah membicarakan Yoongi! Jimin itu pacarnya jadi wajar saja kalau Yoongi manis dan kalian, mungkin karena kalian itu sering membuat masalah maka Yoongi sering berkata kasar."

"Ah molla. Aku ada janji dengan dokter saraf!"

"oppa appo?"

"Ania hanya ada beberapa otot yang tidak pada tempatnya."

"Gwenchana?"

"Gwenchana! Ini terapi terakhir jadi akan baik-baik saja. Aku pergi!"

"Ne oppa cepat sembuh!... Aku juga ada janji dengan dokter kulit. Aku permisi!"

Kepergian Taehyung dan Hoseok membuatkerutan di kening Jungkook, Jin dan Namjoon.

"Mwoya isange!"

"Mereka pergi ke dokter? Bersamaan?"

"Apa mereka berencana kencan sembunyi-sembunyi?"

Namjoon melirik Jin dan Jungkook. Sebenarnya mereka juga berencana makan bersama. Tapi sepertinya tidak bisa berdua karena bertambah satu orang lagi. Memang seharusnya tak masalah, toh pria manis yang Jin pegang adalah calon adik iparnya di masa depan. Namjoon melihat situasi dan berfikir lebih baik menolong adiknya Jin karena point kesan baik akan lebih di mata Jin, dariapada egois memikirkan dirinya.

"Apa Jungkook punya kacamata cadangan?"

"Tidak! Dulu dia menggunakan lens tapi lens dia juga hilang. Sekarang aku harus pergi ke optik dulu untuk memeriksa mata Jungkook dan membelikanya kontak mata."

"Noona aku ingin kaca mata saja!"
"Kau terlihat seperti benar-benar bodoh dengan kacamata! Tidak! Tidak ada kacamata. Kau harus gunakan lens."

"Apa kalian punya dokter mata langganan?"

"Ani! Kami di Jepang ada tapi di korea kami tak punya."
"Aku punya kenalan dokter mata yang bagus dan kalian bisa mendapat layanan terbaik jika kalian mau pergi bersamaku?"

"Bagaimana Jungkookah?"

"Apa mahal?"

"Dia pamanku! Pasti kalian akan mendapat diskon utuk itu."

"Baiklah! Jika memang itu yang terbaik."

...

"Yoongiah! Ini sudah larut. Biar bibik yang menunggu Jimin. Kau istirahatlah!"

Yoongi menoleh saat tangan hangat Yoseob memegang pundaknya. Yoongi tak menyadari jika waktu telah berjalan. Baginya itu terasa terlalu cepat, ia bahkan tak menyadari waktu sudah menunjukan pukul dua belas. Jujur ia masih ingin bersama Jimin, tapi Yoongi tetap bangkit dari kursinya.

Gep! Yoongi merasakan tangan panas menggenggam pergelangan tangannya. Itu tangan Jimin yang menggenggamnya erat.

"Oppa jangan pulang!"

Jimin merengek membuat suasana menjadi canggung. Mata Yoongi dan Yoseob bertemu. Sama-sama bingung harus bagaimana.

"Sayang! Biar appa yang menemanimu malam ini." Doojoon membujuk dengan lembut. Namun tangan itu tak kunjung melepas tangan Yoongi. Matanya meminta permohonan dalam diam. Meminta Yoseob mengizinkannya tinggal.

"Bagaimana dengan tugas kuliahmu?"

"Aku sudah menyelesaikannya setiap ada waktu senggang di kampus."

Jika memang benar apa yang Yoongi katakan, maka Yoseob tak memiliki pilihan. Mereka sedang dalam masa remaja yang saling mencintai. Apa yang bisa Yoseob cegah? Terlebih lagi ia masih teringat rasa bersalah pada puterinya atas perpisahan dimasa lampau. Hingga akhirnya, Doojoon memutuskan untuk pulang. Meninggalkan isterinya menjaga Jimin. Karena memang ibu adalah hal terbaik dalam menjaga anaknya meski keberadaan kekasih sepertinya lebih berharga dimata Jimin. Namun apa daya ketika ia teringat cinta pada isterinya dulu.

Malampun tiba. Ketika Yoongi dan semuanya tertidur pulas diruangan itu, sebuah ponsel bergetar dari saku Yoseob. Mengganggu mimpi yang baru saja mulai. Mimpi itu hilang bersamaan datangnya kabar buruk dari Busan.

Yoongi terbangun saat mendengar suara tangis. Sangat lirih tapi di tengah kesunyian malam, suara kecil jadi terdengar mendominasi. Yoongi benar-benar membuka mata dan bangkit dari sandarannya di ranjang Jimin. Yoseob bicara pada Yoongi dengan berbisik agar tak membangunkan Jimin. Yoongi lalu menelfon ibunya dan meminta mereka datang ke Ansan saat ini juga. Kemudian Yoseob terpaksa pergi menitipkan puterinya pada Yoongi.

"Aku sangat percaya padamu! Tolong jaga Jimin untukku!"

"Tentu saja bibik! Pergilah! Eoma dan appa akan datang besok. Kami akan menyusul begitu Jimin sembuh."

"Ne! Gumawoyo Yoongi-ah!"

.

.

.

tbc

.

.

.

Thanks for Hanami96 dan Skybaby yang sudah membantu ciptakan mood buat lanjut nulis Yasto.