"Sasukee~" Sakura langsung menghinggap pada Sasuke sambil senyam-senyum gaje.
Sasuke mengangkat sebelah alisnya. "Ada apa?" herannya.
"Tenten dan Neji akan menikah!" Sakura melonjak senang.
"Benarkah?" Sasuke tersenyum sewaktu Sakura menghadapkan mukanya yang super hepi padanya.
"Coba aku lihat,"
Sasuke menawarkan tangan dan undangan pun segera berpindah tangan.
"Tanggal 1-3 Juni, ya.."
"Benar! Katanya pestanya meriah! Tiga hari dua malam! Dan untuk kita teman-temannya, wajib ikut sepanjang acara! Katanya sudah disediakan kamar masing masing, lho!" Sakura makin mengembangkan tawanya saja.
"Gawat"
Satu kata tanpa intonasi dari Sasuke yang berhasil membuat kegembiraan Sakura menciut dalam sekejap.
"Ke.. Kenapa, Sasuke?" Sakura menaruh perhatian,
"Hari itu, 1 Juni aku ada janji double date dengan teman seperjuanganku."
.._..
.AUTUMN.. ..MAPLE.
.Desklaimer Tokoh:.. ..Masashi Kishimoto.
.Desklaimer cerita: Kinoshimizu Bie Uzumaki.
.Pairing: SasuSaku n GaaFEMNaru.
.Genre: Romance/Drama.
.Rating: T.
.Gaje.
A/N: Untuk chappy di Autumn Maple, terkadang ada lagu-lagu backsound yang menyertainya. Diusahakan punya, ya,.. Karena menurut Kino, lagu-lagu ini asik dan ngena banget ama suasana chara yang ada pada saat kejadian.
Enjoy it!
.._..
Chappy 10
"D-Double date?"
"Dengan siapa?" Sakura menyelidik muka Sasuke. Ia melonggarkan pelukannya pada Sasuke.
Sasuke mendengus. "Dia teman lamaku, Sabaku no Gaara." Jelas Sasuke.
"Sejak kapan kau buat janji dengannya?" Sakura cemberut. "Kenapa kau tak memberitahu aku, Sas?" Sakura membalikkan punggungnya membelakangi Sasuke setelah melepas pelukannya. Bersikap marah seolah baru saja ia dibohongi. Padahal tidak.
Sasuke menutup buku undangan yang tersampul dua nama Neji-Tenten. Alih-alih ia bertengger menopangkan badan atasnya pada siku-siku lengan bawahnya sendiri di pagar kecil yang lebih mirip disebut sebagai balkon rumah, di samping Sakura. Rumah Sasuke memang satu meter di atas tanah dengan sejumlah beton sebagai alasnya. Bukan untuk apa-apa. Hanya saja, klan Uchiha memang mempunyai berbagai budaya yang unik. Ini hanya termasuk salah satunya.
Mereka sama-sama menatap pucuk pohon gingko yang menguncup dari bawah ke atas. Tempat berkumpulnya unsur-unsur apikal berada. Membawa kambium dari batang pokok menjadi semakin menjulang ke langit beserta seluruh ranting-rantingnya.
"Gomen.." kata Sasuke datar. Sakura mendengus. Ia melirik Sasuke yang berada di sampingnya dengan ekor mata.
"Ya sudahlah.." ucap Sakura akhirnya. Sasuke menoleh ke arahnya dan mengembangkan sejumlah senyuman Uchiha yang tidak bisa dihitung oleh nilai nominal.
"Sankyuu.." ucapnya lembut.
"Hn." kata Sakura datar. Nampaknya wajah kesal masih saja membingkai rupa ayu yang melekat sejak lahir itu.
"Jangan meniru kata-kataku, Hana.."
Sakura menoleh. "Ha-Hana?" Ia memiringkan kepalanya tanda tak mengerti.
Sasuke menyimpulkan cengiran andalannya yang tak sedikit memicu emosi anak laki-laki lain itu. Cengiran menyebalkan.
"Sakura.." Sasuke menunjukkan jari telunjuk kanannya pada Sakura. "itu Hana, 'kan?" telunjuk kirinya diangkat dan digabungkannya dengan telunjuk kanan yang tadi.
"Ohh.." Sakura meng-oh-kan beberapa kata yang keluar dari penjelasan Sasuke. "Maksudmu Sakura itu termasuk Hana*?"
*Hana=Bunga
"Hn."
"Ya, baiklah.. Panggil saja aku sesukamu, Uchiwa." Balas Sakura tak mau kalah.
"Hn. Aku memang Uchiwa, Hana.." tampangnya datar.
Lama-lama Sakura tak tahan juga untuk tersenyum. "Sasuke-Sasuke.. Dasar!" batinnya geli. Sedikit gatal untuk memeluk kekasihnya yang menggemaskan ini. Namun, gengsi masih tetap kokoh menjadi pedoman hidupnya yang nomor satu.
"Jadi, ya.. Tidak jadi meluk, deh.." batin Sakura sembari berkedip dan memeletkan lidahnya sendiri.
.._..
Beberapa hari setelahnya..
"Naruto! Naruto!"
"Ya ayah..!" Naruto tergopoh-gopoh turun dari tangga. "Ada apa?" tanyanya setelah duduk manis di kursi makan yang terletak tepat didepan kursi ayahnya.
"Besok, ayah akan pergi lagi selama tiga hari bersama ibumu. Ayah mohon kau datang ke tempat ini menggantikan ayah.. " Minato menggeserkan secarik undangan berwarna coklat elegan dengan pita emas yang rapi mengikatnya ke arah Naruto.
Naruto yang masih penasaran lansung saja membuka talinya dan membaca isi dari surat yang bersampul dua nama keluarga. Hyuuga Neji-Tenten
"Undangan pernikahan?" Naruto masih tak mengerti.
"Kau menggantikan ayah yang masih ada urusan dinas yang tak bisa ditinggal. Ayah mohon pengertianmu." Minato menampakkan wajah lembutnya dengan senyum memaksa.
Dengan loading yang agak lama, akhirnya RAM Naruto menangkap maksud dari sang ayah. "Tentu saja ayah!" cengirnya lebar bersemangat sambil mengangkat jempol andalannya.
"Hm.. Sankyuu." Minato tahu anak gadisnya akan bersedia. Dia memang anak yang baik. Dalam hati yang paling dalam, Minato bersyukur dengan adanya kesudahan peperangan antara Konoha dan Suna. Dalam konteks kali ini bukanlah sebagai jendral yang mengusahakan kemenangan dalam perang, namun sebagai ayah yang cemas akan mental anaknya yang kian down karena ditinggal bertugas oleh si cowok stoic. Naruto dapat kembali ceria seperti ini karena calon menantunya –Gaara- sudah pulang dari misinya yang lalu.
Minato menatap Naruto yang masih mengamati keindahan sampul undangan pernikahan yang ada di tangannya dengan senyuman lega seorang ayah.
"Syukurlah, Kami-sama.." ucapnya lirih penuh perasaan.
.._..
Bising hiruk pikuk kota. Tak memberikan celah sedikitpun untuk para pedagang agar istirahat semenit dalam berusaha. Sekedar melepas lelah saja harus menunggu barang dagangannya ludes. Namun, itu mereka lakukan demi keluarga yang masih harus dihidupi dalam masa-masa kebangkitan Konoha pasca perang.
Dan juga tak sedikit, para pedagang asing –termasuk dari Suna- mulai menggayungi beberapa koin yen dengan cara yang sama. Sebagian besar pedagang lokal Konoha menjual makanan dan bahan mentahnya. Sedangkan dari Kirigakure kebanyakan menjual mesin-mesin yang sangat berguna untuk keperluan masing-masing orang. Misalnya saja revolver –dalam keadaan saat itu masih diperbolehkan- dan alat-alat yang terbuat dari logam berat lainnya.
Suna tak mau ketinggalan. Pedagang-pedagang barunya menjual berbagai merk pakaian yang berbahan sangat kuat dan memikat mata. Dan dua sejoli kita rupa-rupanya tertarik dengan jualan mereka.
"Kau mau yang mana, Gaara...?"
Suara sopran menggugah seorang cowok berambut merah bata untuk menghentikan aktifitasnya sebentar dari banyak baju yang menarik dan mulai menyunggingkan perhatian pada baju yang mirip jas berwarna hijau lumut yang dipegang oleh seorang gadis manis.
"Yang ini mau?" tawar gadis pirang tersebut sambil mendekatkan setelan jas tersebut kepada Gaara.
Gaara masih dalam muka datar. "Apa saja yang kau pilihkan," Gaara diam sejenak.
Naruto memiringkan kepalanya. Tak mengerti.
Gaara tersenyum kecil, "aku pasti mau, kok.." lanjutnya.
Seketika warna pelangi merah membuncah hadir membersit sebagian besar muka Naruto. Ia menundukkan kepalanya seraya makin mendekatkan diri pada Gaara. Tanpa mengambil hati omongan Gaara yang baru saja -bohong-, Naruto menempelkan baju yang masih rapi tersebut ke dada Gaara. Mencoba mematchingkan jas warna gelap tersebut dengan proporsional Gaara.
"Coba pegang ini sebentar," pinta Naruto sambil menawarkan benda itu pada Gaara. Gaara menuruti kata-kata Naruto. Naruto mengambil beberapa meter dan melihat pemuda stoic itu dari kejauhan.
"Bagus juga.." kata Naruto dengan gaya memegang dagu mirip style Shinichi Kudo yang sedang memikirkan suatu kasus sambil menjinjitkan sebelah alisnya.
Naruto nyengir. "Kau tak ingin mencoba memakainya sebentar? Siapa tahu ternyata nggak nyaman saat kau pakai."
Cerocos Naruto segera disambut oleh lirikan beserta deathglare mengerikan dari si pedagang. Naruto yang sadar, hanya menunjukkan tada peace dengan dua jarinya kepada si pedagang.
Maklumlah, orang Suna memang mudah tersinggung. Mungkin pengaruh itu semua tak lepas dari panasnya suhu disana. Jadi otaknya terbiasa mendidih. Begitu kata orang-orang Konoha yang sudah sekian lama berhadapan dengan mereka.
Pedagang itu marah-marah membela dagangannya. Naruto masih membentuk tanda peace dengan cengiran kecut. Gaara tertawa tertahan melihat tingkah Naruto. Tapi itulah yang Gaara suka dari Naruto. Tak ada sedikitpun rasa segannya pada orang lain. Gadis itu mampu menempatkan dirinya yang kapan harus menjadi orang cerewet, kapan jadi pendiam, kapan mengeluarkan pendapat, kapan saat-saat ia harus menolak kemesuman Gaara, dan kapan waktu yang tepat untuk memberikan reaksi pervert Gaara. (?)
Kurasa dia adalah yang terbaik untukku..
"Aku ambil yang ini." Kata Gaara memberikan setelan jas pilihan Naruto tadi pada si pedagang yang langsung disambut dengan mata berbinar.
"Kamu bener-bener nggak mau nyoba?" tanya Naruto memeleng pada Gaara.
"Aku percaya sama kamu."
Bisikan ditelinga Naruto itu berhasil mengembalikan semburat merah yang sempat berkunjung beberapa menit yang lalu.
.._..
Di jam yang sama..
Nada-nada kecil terdengar. Gesekan-gesekan ranting berbunyi tatkala angin berhembus terbang di sela-selanya. Angin mencoba membuktikan diri bahwa ia ada dan selalu menemani meskipun tak tertangkap mata. Daun bintang merah yang bersudut tujuh berguguran indah satu demi satu. Salah satunya menjatuhkan diri pada rambut si jabrik keren dengan pasrah.
Gitar membunyikan kunci-kunci nada yang hidup di setiap ritme kalemnya. Membuat siapapun yang mendengar, tak tahan untuk ikut bergabung membentuk sebuah instrumental sejati antara alat musik dengan pita suara.
Mengiringi alunan resonansi yang bersumber dari dawai indah sang Yunani, walaupun orang yang memainkannya bukan berasal dari Yunani. Dia orang Konoha asli. Klan Uchiha.
"Sasuke Uchiwa.." bisik Sakura sambil mengambilkan daun yang menyentuh dan bertengger di poni Sasuke yang berbantal di pangkuannya.
"Mudah sekali daun ini terpukau akan ketampananmu, Sasuke.." Cengir Sakura pada daun yang diputar-putarnya seperti baling-baling itu. Lengkung nada dari kata-katanya barusan adalah sindiran. Yang mungkin menurut beberapa orang itu terdengar seperti suatu pujian lokal.
"Hn." Sasuke masih memperdengarkan nada-nada indah dari gitar yang dibawakan Sakura dari rumahnya. Sasuke sendiri tak punya alat musik tersebut. Tak ada waktu untuk mengasah kemampuannya bermusik di tengah ujian antara hidup dan mati dalam pertempuran Konoha-Suna yang masih terasa membayang-bayangi di setiap langkah kakinya berjalan.
Merebahkan diri dengan bebas di rerumputan yang berlapis daun-daun merah menjadi salah satu kegiatan favorit Sasuke akhir-akhir ini. Lengkap ditemani oleh gadis berambut pink yang setiap saat mengayomi hatinya dengan kasih sayang dan kesetiaan.
"Hana.."
"Ya, Uchiwa.."
Sasuke terjaga dari rebahan di pangkuan Sakura dan bersikap duduk, menyebabkan tulang punggungnya sedikit berbunyi. Gitar coklat di sandarkannya sementara pada batang pohon yang juga menjadi tumpuan Sakura.
Kini, Sasuke memandang Sakura dari mata onyx kelam yang mencerminkan kesedihan luar biasa. Bukan Sakura namanya jikalau dia tak menyadari itu.
"Kau kenapa, Sasuke?" selidik Sakura pada wajah Uchiha bungsu cemas. Kedua tangannya ikut ambil andil dengan membawa muka Sasuke mendekat. Sasuke sayu dan mengalihkan pandangannya ke tanah. Ia tak meneruskan lagi kata-katanya sendiri.
"Kau demam?" tangan kecil gadis pink menyentuh dahi Sasuke yang tertutup poni panjang itu. Benar. Sasuke demam.
"A.. Ayo kita pulang!" ajak Sakura segera sambil berdiri menarik salah satu tangan Sasuke untuk mengikutinya menegakkan tubuh. Sasuke masih tak berkutik dalam duduk silanya. "Sasuke.. Ayo pulang.." elus Sakura membujuk kekasihnya yang terkadang susah diberi pengertian. Dasar pemuda yang semaunya sendiri.
"Disini saja. Kau dengan aku. Itu cukup." Jawabnya tanpa intonasi yang jelas.
"Tapi mukamu pucat begitu!"
Sasuke diam. Dia memilih bergerak kecil untuk bersandar pada pohon dan menarik balik tangan Sakura. Membawa tubuh Sakura mau tak mau mengikuti apa yang Sasuke inginkan.
Sakura mendengus. "Oke, oke.."
Ia duduk di samping Sasuke.
Diam.
Pandangan mereka menuju ke arah berbeda namun dengan kenampakan yang sama. Merah. Kemelut hati Sasuke akhir-akhir ini menbuncah paksa. Hati yang terkoyak sebagai dampak dari semuanya. Salahnya sendiri.
Sasuke menoleh ke arah Sakura yang hampir tak tertangkap mata. Tulang punggung Sasuke seakan meleleh. Ototnya melebur bersamaan dengan rutukan cacian yang ia tujukan pada tubuh yang punya detak dan denyut mengalir di dalamnya itu.
Dia benci dirinya sendiri.
Hatinya sakit.
Kenapa?
Kenapa hatiku harus terbelah dua saat dia menumpahkan seluruh kasih sayangnya padaku? Baka Sasuke! Kau tak lebih dari binatang yang tak punya perasaan! Bahkan hewan masih bisa menyayangi pasangannya dengan baik dan tak poligami. Kenapa aku tega?
Kenapa aku harus punya dua cinta?
Jelas-jelas aku hanya punya satu hati.
Seharusnya hanya dia yang tersimpan rapat di dalam tubuhku.
Tiada keluh yang bisa ia sampaikan secuilpun pada Sakura. Padahal salah satu rasa yang ada, Sasuke sangat ingin membagi perasaan yang mengganjal ini. Sasuke meremas kemeja di dada kirinya. Seakan penuh tujuan untuk menghancurkan sekepal benda yang berdetak perlahan dengan frekuensi yang melambat namun amplitudonya meningkat tajam.
Tapi tidak.
Sasuke tak akan sampai hati tega mencurahkan semua yang ia rasakan saat ini.
Jangan sampai Sakura tahu.
Jangan sampai..
"Sasuke.." desah Sakura.
"Hn."
Sakura menelan ludahnya sebentar. Bersiap mengeluarkan suaranya yang berbuih bagai suara bidadari.
"Apa yang kau rasakan saat aku bersamamu seperti ini?"
Bom C4 meledak seketika saat Sakura mendentangkan pertanyaan yang begitu menusuk.
"Tentu saja aku nyaman bersamamu Sakura.." katanya tanpa menunjukkan wajah. Menyembunyikannya di balik poni hitam yang panjang.
Sakura mengembangkan senyuman tulusnya seperti malaikat yang berbando lingkaran cahaya cerah berbalut keindahan.
Sasuke menyimpulkan sendiri bahwa setelah ini, ia tak akan mampu berkata-kata lagi.
Naruto.
Sudah cukup kau buat aku mendurhakai dia yang kusayang.
Aku tak akan pernah mengingatmu lagi. Dengan sekuat aku bisa, aku akan berusaha. Dan aku pasti bisa!
Sasuke menyandarkan kepalanya yang agak pusing pada bahu Sakura yang kecil dan lembut. Sakura yang semula membelalakkan emeraldnya, mulai menyamankan diri sebagai sandaran pemuda yang sangat dicintainya sepenuh hati.
"Sasuke.." bisik Sakura.
"Berjanjilah bahwa kita akan terus bersama, tak akan keluar jalur dalam area kepercayaan dan kesetiaan."
Sasuke memejamkan matanya. Mengistirahatkan sepasang onyx yang sejak tadi membuatnya kesulitan untuk menghambat kerja kelenjar air mata.
"Aku berjanji." Setetes air bening turun di pipi Sasuke.
.._..
Kerlap-kerlip lampu hias segera menyambut mata ketika sampai di pelabuhan. Beberapa pelayan sibuk membawa satu botol hijau sampanye beserta beberapa gelas yang ditampung dalam satu cawan kesana kemari. Dapat segera disimpulkan bahwa itu adalah minuman sake. Dari gerbang pemberhentian mesin laut ini kemeriahan pesta pernikahan Neji-sama terlihat bagus dan indah.
"Waahh... Dekorasinya keren, ya Sasuke.." decak kagum Sakura seraya menggaet lengan Sasuke yang berlapis setelan jas hitam bercami biru.
"Hn." Sasuke ikut menyelidik bagian yang enak dipandang keseluruh tempat itu. Gorden ungu muda panjang menyeret lantai, menampakkan suasana anggun yang luar biasa.
Sedang lantainya beralaskan karpet ungu gelap. Sangat serasi dengan bunga lily putih yang menjadi penghias diseluruh sudut kapal tersebut.
"Mari.." Seorang pelayan muda bertato taring merah dipipinya segera mengulurkan tangan menawarkan diri membawakan koper Sasuke dan Sakura yang semula diseret sendirian oleh Sasuke. Sasuke merelakan koper mereka.
Sebuah mata lavender menangkap sejoli ini. "Sasuke..!" teriaknya.
Sasuke menoleh ke arah suara yang memanggil namanya diikuti Sakura. Sasuke melambaikan tangannya dan beranjak menuju orang tersebut.
"Kau selalu mendahului aku dalam hal apapun, Neji." Sasuke menjabat tangan orang tersebut. Neji tersenyum, "Itu saja yang kau terlalu mengulur waktumu, Sasuke..". Neji melepaskan jabatannya pada Sasuke dan kemudian menjabat tangan Sakura.
"Jadi ini calonmu...?" Senyum Neji pada Sakura. Sakura balas tersenyum dengan rona wajah yang sedikit memerah. "Ya, dia anak Jendral Haruno." Lirik Sasuke singkat pada Sakura.
Neji spontan membelalakkan lavendernya. "Putri Jendral Haruno?" tanya Neji pada Sakura untuk membuktikan kebenaran kata-kata Sasuke. Sakura nyengir, "Maafkan kalau ayahku banyak merepotkanmu, ya Neji-sama.." bungkuk Sakura sopan pada Neji.
"Ah, bukan! Justru saya yang selalu merepoti beliau." bungkuk Neji balik. "Salam kenal, Sakura-chan. Dan lagi, tolong jangan panggil saya dengan embel-embel 'sama'. Saya bukan orang yang besar." Neji mengangkat sebelah alisnya dengan sedikit cengiran segan.
Sakura memanjangkan lengkung bibirnya. "Lalu, mana calon istrimu, Neji?"
Neji memutar pinggangnya mencoba menemukan sosok gadis bercepol dua. "Mungkin dia belum keluar kamar. Maklum, dia memang anak yang cuek." Kata Neji setelah ia tak menemukan objek sasaran.
"Sepertinya dia tipemu sekali, ya.." sindir Sasuke yang segera mendapat sebuah cubitan Sakura dipinggangnya. Neji menyunggingkan sebelah ujung bibirnya. "Biar."
Pelayan bertato taring merah dipipi mendekati Sakura. "Permisi, Nona." Tegurnya yang segera mendapat tolehan dari gadis cantik berambut pink. "Ini kunci pintu kamar anda.." Pelayan tersebut menawarkan sebuah kunci berbandul angka 73. "Kamar anda dilantai dua.." katanya sopan sambil menunjuk tangga dengan jempol tangan kanannya. "Terimakasih banyak." Ucap Sakura. Pelayan tersebut segera berlalu setelah Sakura memberikannya sejumlah uang tip.
"Kita satu kamar...?" sadar Sakura setelah ia berfikir lama sembari memandangi kunci kamar tersebut yang cuma berbandul satu. Sasuke terdiam melihat kunci yang dipegang Sakura. Ia melirik Neji. Neji mencuatkan jempol tangannya. Sasuke tak tahan menarik sebelah bibirnya sedikit lebar, membenarkan apa yang Neji rencanakan.
Sakura menciutkan kedua kelopak matanya. "Apa yang kalian rencanakan..?" tanyanya BeTe. Neji segera bersiul dan pamit menemui Tenten sebentar meninggalkan Sasuke dan Sakura berdua.
"Ayo kita jalan-jalan.. Tamu lain yang menginap belum banyak yang datang. Kapal masih sepi." Ajak Sasuke tanpa memperhatikan wajah Sakura yang terlihat suram.
Mereka berjalan menyusuri koridor, dek, dan luar kapal yang tenang. Ombak menerpa badan bawah kapal. Lumayan berisik, namun membuat perasaan nyaman.
"Sunsetnya indah, ya Sasuke.." kagum Sakura menyandarkan kepalanya ke pundak Sasuke. Jingga indah menaburi awan-awan yang menggumpal di depan mata. Matahari yang menyilaukan dan berwarna oranye pekat membawa kedamaian bagi yang melihat. Berdiri di dek samping kapal berdua dengan Sasuke adalah salah satu harapan Sakura sejak dulu. Untunglah impian itu tercapai hari ini. Saat ini. Bersama Sasuke.
Poni Sasuke membelai lembut mengikuti arah angin laut. Membawa aroma mint ke pembauan Sakura dan membuat gadis ini berbuai mengangan indah.
Matahari mengucapkan kata selamat tinggal pada keduanya. Melambaikan efek Tyndall yang terakhir di hari ini. Setelah beberapa menit, bulatan sinara itu karam dan menghilang. Udara jadi semakin menekan ke arah temporalis menimbulkan turunnya suhu.
Bulan terlihat samar dia atas mereka, bentuk sabit tentu saja. Karena hari ini baru tanggal 1 Juni, permulaan bulan baru.
"Sakura.. Kau tidak kedinginan...?" tanya Sasuke setelah menyadari kalau Sakura Cuma memakai gaun pink semu dengan kainnya yang cukup tipis. Sakura mendekatkan tubuhnya, "Tak apa.. Aku belum kedinginan, kok. Masih mau disini." Jawabnya yang membuat Sasuke kehabisan kata-kata.
"Ayo!" Dekapan Sasuke segera hadir di tubuh mungil Sakura dan mencengkeram, membimbing Sakura masuk ke dalam dek kapal. Sakura membulatkan emeraldnya, kaget dengan reaksi Sasuke yang spontan.
Baru saja Sakura akan memberontak, Sasuke membisikkan sesuatu padanya. Entah apa yang dikatakan Sasuke, Sakura bermuka merah padam setelah mendengarnya.
Mau tahu apa kata Sasuke..?
Dia membisikkan satu kata saja, 'kamar'.
Setelah melewati tangga, sebuah koridor yang lumayan panjang dan membentuk labirin sederhana tertangkap mata. Di kanan kiri koridor terpasang pintu-pintu yang bernomor urut. Sasuke menyelidik dan mencari alamat kamar mereka. Di ujung koridor tersebut, tampak seseorang berambut merah maroon. Seorang pemuda tegap berjas hijau lumut. Tampak keren sekali.
Sasuke menyipitkan onyxnya. Begitu mendekat dan memperjelas fokus dan memperpendek jarak pandang, segeralah ia menyimpulkan bahwa pemuda itu adalah sahabatnya.
"Gaara!" panggil Sasuke kepada pemuda yang sedang mengotak-atik kunci didepan salah satu pintu kamar itu. Sepertinya itu adalah kamarnya sendiri. Gaara menoleh. Senyuman spontan bersarang di wajah stoic keduanya. "Sasuke!" jawab Gaara.
Sasuke mendekat ke arah Gaara dan sepertinya mengabaikan Sakura yang bertampang heran. "Siapa dia Sasuke?" tanya Sakura sembari berjalan ke Gaara.
"Dia Gaara. Orang yang berjanji akan doubledate dengan kita hari ini." Senyum Sasuke. Sakura mengangguk mengerti.
Setelah mereka berhadapan, Gaara terlihat menyelidik ke arah gadis yang mempunyai jenis mata yang sama dengannya. "Ini gadismu, Sasuke?" tanya Gaara.
"Benar. Bagaimana? Cantik, kan?" sindir Sasuke.
"Ya. Cantik." Kata Gaara datar, tetap dalam stoicnya. Sakura nyengir mengetahui ternyata sahabat Sasuke memang sama dinginnya dengan makhluk es yang sedang menggandengnya ini.
Pintu yang beberapa detik lalu baru dibuka Gaara dengan kuncinya terbuka. Seorang gadis keluar dari dalamnya. Gaara tersenyum melihatnya.
"Nah, ini gadisku. Manis 'kan?" kata Gaara enteng.
Cewek berambut pirang panjang menyembul dan sejurus kemudian mata saphire dan onyx membelalak hampir lepas dari kelopaknya.
"Ka-kau.." Naru menunjuk ke arah Sasuke. Sakura mengangkat sebelah alisnya melihat Naru dan Sasuke yang sepertinya kaget saling melihat. Gaara memandang Naru heran.
"Kenapa kau ada disini...?" kata Sasuke dan Naru bersamaan.
To Be Continued..
A/N : Gomen lama apdetnyaaa... DXX Ada ujian kenaikan. *nangis darah liat nilai*
Buat Iik ma dobenya, maaf yah apdetnya telat beberapa jam.. Habis wifi di skula lagi ngadat, tadi.. Huoohhh.. DX
Balesan ripiu :
Rinha : Hehehe.. ^^ Masih tetep dg pair awal, kok.. ShikaTema? Hm.. Boleh juga. *dapat ide cemerlang* -halah- Arigatou udah repiu, yah.. Repiu yg selanjutnya di tunggu..
MissUchiwa : Hahaha.. makasih.. Kau terlalu memuji Uchiwa-san.. ^^ Saia tidak se-ngeh itu. wkwkwkwk.. Oce, kita liat saja, yh.. Arigatou dh mw baca dan repiu.. Repiu yg selanjutnya ditunggu.. ^^
Kuroneko Hime-un : Woke, Gregetan? Makan aja tuh orang. Haha *dilempar panci* Arigatou dah mw baca dan repiu, yah Hime.. Repiu yg selanjutnya ditunggu.. ^^
Sabakuzumakiuchiha : hahaha.. itu baru saya peluk. Belum saya cium, kok.. *ditebas yg punya* wkwkwk Arigatou dah baca dan sempetin repiu.. Repiu selanjutnya ditunggu, yh.. ^^
So-Chand 'Luph pLend' : yupzy.. ^^b Arigatou dah baca n sempet repiu, ya.. Repiu yg selanjutnya d tunggu.. ^^
Ella-cHan as NaGi-sAn : Owow.. hehehe.. 'Shiniteruyo' ini Kino dapat dari lagu indonesia yang judulnya Aishiteru, loh Ella.. ^^V Arigatou dh baca n sempetin bwt repiu, nyah.. Repiu selanjutnya d tunggu.. ^^
Micon : hahaha... Micon selalu semangat, yah.. XD Semangad muda! Hehe *Lee mode ON* Sabar.. Sabar.. Nggak akan lari kemana kok si Saskay.. Sakura mw kamu monopoli? Nanti kalu dichidori Sasu gimana? :3 wkwkwkwk.. arigatou, yah an baca n sepat ripiu.. Saya selalu menantikan repiu Micon loh.. hehe *ngerayu mode ON*
Naru-mania : ... *nyengir* Naru tau saja, yah.. Wah.. Tenang saja.. Kino memang 'agak' hilang kendali pas ngetik fict ini. Tapi jelas saja Kino masih pegang kemudi buat jalan di pair SasuSaku, kok.. ^^ Makasih ya Naru sudah ngingetin.. ^^ Arigatou jg karena dah baca n repiu.. Repiu yg selanjutnya d tunggu.. ^^
Uchiha Cesa : Yuhuw, CesaChan! Kissmark? Bekasnya kira-kira dua ampe tiga bulan, CesaChan.. O,oa Kalu nggak salah sih gitu.. hmm.. Yupz.. ^^ Arigatou dah baca n sempetin bwt repiu, yah.. Repiu yg selanjutnya d tunggu, loh..^^
Simple saja : hehehe.. Kau selalu simple, SimpleChan! XD Woke.. Makasih udah baca n sempetin bwt repiu, yah.. Repiu selanjutnya di tunggu.. ^^
Nacchi Cullen: Nacc, kau ngebut, yah bacanya..? O.o'? Kau mmg bener2 temen sejati.. hiks.. *lebay mode ON* :P Hahaha.. Lesung pipitnya Cuma muncul d saat2 tertentu doank, kok.. –emang Kyuubi?-hehehe... Arigatou, yah dah fave n sempetin baca, repiu n dukung Kino. Repiu selanjutnya d tunggu.. ^^
REPIU PLISS.. *melas*
