Akira's POV

TOK! TOK!

Ngh… Siapa yang mengetuk pintu pagi-pagi begini?

TOK! TOK!

Hhh… Aku bangkit dengan lemas dan pelan. Wajar, kan, masih ngantuk pagi-pagi begini?

Tanganku meraba-raba daerah bantal, dan segera mendapatkan benda yang kucari. Setelah membuka kunci dari ponsel lipat, mataku segera menangkap jam digital menampilkan pukul lima pagi. Tuh, masih sangat pagi, kan?

TOK! TOK! TOK!

"Tunggu sebentar…!" aku berteriak lemah sambil mengucek mata, "…" aku termenung sejenak, "!" lalu aku tersadar sedang berada di mana.

"Ah, tunggu, tunggu!" dengan tergopoh-gopoh aku segera menuju ke pintu kamar asrama ini.

"M-Maaf lama! Tadi—!" aku yang baru saja membukakan pintu segera kaget melihat tamu tak terpikirkan yang sedari tadi mengetuk pintu, "Kunikida-san?"

"Ah," Kunikida-san sepertinya menyadari keadaanku, "Maaf mengganggu tidurmu. Aku tidak bermaksud—"

"Tidak, tidak apa-apa! Masuklah!"

Kami berdua berjalan masuk dan duduk di ruangan yang semalam kutempati.

"Apa semalam tidurmu nyenyak?" tanyanya tiba-tiba.

"Ah, iya! Tidurku nyenyak! Ng…" aku memainkan jariku, "Maaf, penampilanku acak-acakan begini," ujarku sambil menyengir.

"Tak apa. Omong-omong, ini!" dia menyerahkan sebuah kantung kertas yang tadi dibawanya, "Titipan dari Yosano-sensei."

"?" aku menerimanya dengan bingung, "Woah…!" aku terkejut dengan isinya yang ternyata sepasang pakaian yang mirip seperti milikku dan Yosano-sensei.

"Eh? Tapi, bukannya kemarin Yosano-sensei pergi menemani Sachou bersama Ranpo-san ke kota lain?"

"Benar. Tapi, mereka baru saja pulang. Setelah mengetahui keadaanmu, Yosano-sensei bergegas pergi ke kamar asramanya dan keluar dengan membawa itu."

"Ooh, begitu," lalu aku segera tersadar akan sesuatu, "Lho? Kalau begitu, Kunikida-san sendiri?"

Kunikida-san yang tampaknya mengerti hal apa yang kutanyakan segera menjawab, "Aku yang menjemput mereka, karena itulah aku sedang tidak tidur jam segini. Lagipula, aku memang sudah terjaga dari jam empat kurang sepuluh menit dini hari tadi karena bersiap-siap menjemput mereka."

"Hee…" lalu aku membatin, 'Hal yang seperti itu memang Kunikida-san banget, ya.'

"Di mana Dazai?"

"Ah, mungkin Dazai-san belum bangun. Aku juga tidak melihatnya keluar kamar karena baru bangun."

Kunikida-san bangkit, membuatku heran, "Kunikida-san, apa kamu mau mengecek Dazai-san?"

"Bukan," aku menaikkan sebelah alisku merasa bingung, "Aku ingin membangunkannya."

"Eeh?!" aku segera berkata cepat saat dia berdiri di depan pintu geser dalam ruang ini, "Tidak perlu, Kunikida-san! Kasihan! Biarkan saja dia tidur!"

"Tidak seharusnya dia masih tidur di saat pekerjaan sedang menunggunya,"—"Eh? Tapi…"—"Dan juga, yang tadi duluan bangun dan merespon ketukanku malah kau, bukan dia!"

"…" oke, aku jadi skeptis seketika, 'Yah, kalau itu alasannya, aku tidak bisa melarang…'

GREEEK!

Tampaklah setengah bagian dari selimut yang mengembung seperti ulat bulu di dalam ruang kecil itu.

"Err… aku yakin Dazai-san di dalam selimut itu."

Kunikida-san berjongkok di ambang pintu geser itu, lalu dengan gerakan yang mustahil kulakukan secara cepat menarik selimut itu. Hal itu membuat orang yang kami bicarakan menubruk dinding kamar itu. Aku hanya bisa terdiam 'tak percaya dengan apa yang telah kulihat.

"BANGUN SEKARANG, JISATSU MANIAC! BISA-BISANYA KAU MASIH TIDUR DAN MEMBUAT TAMUMU MEMBUKAKAN PINTU!" teriak Kunikida-san sambil menunjuk Dazai-san yang tampaknya setengah sadar.

"Kunikida-kuuun… jahatnya kau…" lirih Dazai-san yang masih lemas sembari keluar dari kamar itu.

"Salah siapa yang membuat keadaanmu jadi begini? Kau yang menawarkan gadis itu untuk menginap di sini, tapi kau sendiri malah mengabaikan ketukan pintu kamar asramamu! Tuan rumah macam apa kau?!" balas Kunikida-san geram sambil berkacak pinggang.

"Sudahlah, Kunikida-kun. Tapi, ada hal lain yang lebih penting, lho!" ucap Dazai-san yang telah berhasil duduk sukses mengambil fokusku dan Kunikida-san, "Kau tahu? Jika membangunkan orang lain dengan cara seperti tadi bisa menyebabkan seseorang gagal jantung secara mendadak, lho! Untung saja aku kuat, kalau tidak…"

"He? Benarkah?"

"Nah, ayo cepat kau catat itu!"

"…" aku speechless ditempat, 'Itu pasti…'

Kunikida-san segera mencatatnya ke buku idealismenya, "Membangunkan… seseorang… dengan cara… menarik selimutnya… bisa menyebabkan… gagal jantu—"

"Uso dakedo."

KREEEK!

"GAAAH! MATI KAU!"

'…tipuan Dazai-san.'

Aku hanya bisa menghela nafas melihat Dazai-san kembali dicekik dan diguncang oleh Kunikida-san.

"Ah, tokoro de, Akira-chan,"—"?"—"Bagaimana tidurmu semalam?" tanya Dazai-san yang masih berada dalam cekikan Kunikida-san.

"Ah, tidurku semalam nyenyak, kok," jawabku riang, lalu aku berojigi sejenak, "Terima kasih atas bantuannya!"

"Douita!"

"Omong-omong, kalian berdua," aku dan Dazai-san serempak menatap Kunikida-san yang telah melepas cekikannya dan sekarang menyentuh kacamatanya, "segeralah bersiap-siap. Setelah ini kita akan segera ke kantor."

"Ah, apa ada pekerjaan baru?" tanyaku.

"Benar," aku ber-oh ria, namun langsung terdiam saat mendengar kelanjutan ucapan Kunikida-san, "Ini tentang apa yang telah terjadi pada apartemenmu semalam."

"…" aku termenung di tempat, 'Benar juga. Kejadian tadi malam itu…'

Kalau saja kejadian semalam yang menimpa apartemenku tidak ada, pastilah sekarang aku masih terlelap di kasurku dengan nyenyak.

=====Bungo Stray Dogs: The Lost Relatives=====

Chapter 9

Tanuki Berdarah (Bagian Pertama)

=====Bungo Stray Dogs: The Lost Relatives=====

Opening theme: Parabola – by Luck Life

DISCLAIMER:

Bungo Stray Dogs oleh Asagiri Kafka (story) dan Harukawa35 (art)

Bungo Stray Dogs: The Lost Relatives (sama Miyamura Akira, OC) oleh saya~ SarahMaula157Kila0ooo :)

Rated:

T / PG-13

Genre:

Drama, Supernatural, Hurt/Comfort, Family, Friendship, Humor, dll… (seiring waktu akan bertambah)

Warning:

Typo(s) bertebaran, gajeness, humornya gak kerasa, kata nonbaku yang sengaja dipakai, entah OOC ato gak, apalah ini-itu, dwwl…

A/N:

Saya gak dapet keuntungan apapun selain kesenangan batin (?) /plak


= Flashback = [Sekembalinya Akira, Kenji, Naomi, dan Junichirou dari kedai makan tradisional itu]

"Fuuaaah…!" aku segera menutup mulutku yang menguap untuk kesekian kalinya dengan kedua tangan.

Hari ini cukup melelahkan. Setelah tadi selesai makan di kedai tradisional itu, kami segera berjalan menuju kereta bawah tanah agar lebih cepat sampai ke kantor. Dan, kalau sempat kami akan langsung membuat laporan. Akan tetapi, perjalanan pulang kami terhambat karena adanya perbaikan kereta jurusan kami. Lalu… jadilah kami baru sampai di kantor pukul sepuluh malam.

Kalau tahu akan begitu, mending tadi kami naik bis saja, deh.

"Kalau tahu jadinya begini, mending tadi kita naik bis saja daripada menunggu keretanya!" ucap Naomi di tengah keheningan kami yang sedang berdiri di depan Gedung Buso Tantei-sha yang (tentu saja) sudah 'tak berpenghuni.

Wow, kita sepemikiran, ya, Naomi-chan!

"Iya, ya. Tapi, apa boleh buat. Yang sudah lewat tidak perlu dipikirkan!" ujarku menenangkan sambil menepuk-nepuk pundaknya.

"Kalau begitu, sekarang kita langsung saja kembali ke asrama," usul Tanizaki-kun.

Kami bertiga langsung menyetujuinya, dan aku segera berucap, "Kalau begitu, sampai besok, ya! Hati-hati di jalan!"

"Eh?" Tanizaki bersaudara terdiam sampai Kenji-kun mengingatkan, "Akira-san, kan, tidak tinggal bersama kita di asrama."

"Benar juga!" mereka terpekik karena baru mengingat hal itu—membuatku terkekeh geli—lalu Kenji-kun berucap, "Bagaimana kalau kita mengantarkan Akira-san?"

"Eh? Tidak perlu! Jangan khawatirkan aku! Lagipula, apartemenku cuma dua blok dari sini, kok!" tolakku sambil mengayunkan kedua tangan.

"Justru karena itu kami khawatir padamu, Akira-san! Kami bertiga, sedangkan kamu sendirian! Kalau ada apa-apa, gimana?" omel Naomi-chan sambil berkacak pinggang.

"Err… soal itu kalian tidak perlu khawatir, sih," aku terdiam sejenak melihat wajah ketiganya, "Hhh… baiklah! Silakan temani aku sampai ke apartemenku," ucapku pasrah.

Reaksi Naomi-chan yang gembira dan puas serta Tanizaki-kun dan Kenji-kun yang lega membuatku refleks tersenyum kecil.

Sepanjang perjalanan kami mengobrol tentang berbagai hal yang pernah terjadi di Buso Tantei-sha. Aku sesekali tertawa karena tidak bisa menahannya saat mereka bercerita tentang ujian masuk Atsushi-kun. Ya ampun! Kenapa kami berdua gampang sekali dipermainkan, ya?

Saat kami telah memasuki daerah blok tempat apartemenku berada, ada beberapa mobil pemadam kebakaran yang melewati kami dan juga memasuki daerah ini.

Ada apa, ya, pikirku.

"Ada kebakaran, ya?" gumam Naomi-chan.

"Iya. Tampaknya tidak jauh dari sini," sahut Tanizaki-kun.

"Semoga saja tidak ada korban jiwa, desu," timpal Kenji-kun yang langsung disetujui kami bertiga.

"?" aku teringat ucapan Tanizaki-kun barusan, "Tanizaki-kun, dari mana kamu tahu kalau kebakarannya tak jauh dari sini?"

"?" aku melihat reaksinya yang tampak heran dengan pertanyaanku, "Aku mengetahuinya saat mengikuti arah tuju mobil pemadam itu dan melihat banyak kepulan asap yang tampak baru. Di sana," jelasnya sambil menunjuk suatu arah yang terlihat dipenuhi asap.

"Oh, tidak," aku refleks bergumam, membuat mereka heran, "Aku punya firasat buruk tentang ini."

Tanpa mendengar ataupun menunggu mereka, aku segera berlari ke arah yang tadi dilewati mobil pemadam kebakaran itu. Tanpa menoleh pun aku tahu kalau mereka pasti mengejarku. Aku semakin memperlaju lariku ketika semakin mendekati apartemenku.

"!"

Setibanya di sana, aku dibuat tercengang 'tak percaya dengan pemandangan yang ada di depan mataku.

"Akira-san—!" aku yakin mereka bertiga juga sama terkejutnya denganku.

Bangunan apartemen yang kutinggali itu tampak dilahap oleh api yang berkobar-kobar, menghasilkan asap hitam pekat menyesakkan yang membumbung tinggi dan secara bergantian hilang menuju langit.

Selain itu, para warga yang tinggal di sekitar sini sibuk untuk berusaha memadamkan api tersebut yang dibantu oleh para petugas pemadam kebakaran yang baru tiba itu.

Aku merasa tubuhku mulai lunglai dan lemas karena syok, dan dengan sigap segera dipapah oleh Naomi-chan dan Kenji-kun yang berada paling dekat denganku.

Setelah Tanizaki-kun dan Kenji-kun berbicara dengan salah satu petugas pemadam kebakaran—menggantikan aku yang duduk lemas untuk menenangkan diri dengan Naomi-chan menemaniku—keduanya lalu melangkah ke arah kami dan mengatakan bahwa untuk malam ini aku harus mengungsi (maksudnya, menginap) ke tempat lain.

Kami sempat terdiam lama memikirkan hal itu. Tempat yang langsung terbersit di pikiranku adalah asrama agen Tantei-sha. Namun, di kamarnya siapa? Mereka pun juga bingung dengan hal itu.

"Bagaimana jika di kamar asrama Atsushi-kun?"

"Ah, kalau itu tidak bisa. Atsushi-kun berbagi kamar dengan Kyouka-chan."

"Ah, benar juga. Selain itu, mereka pasti sudah tidur," aku kembali berpikir, "Kalau begitu, di kamar Yosano-sensei?"

"Yosano-sensei sedang bertugas bersama Ranpo-san, jadi sekarang tidak berada di asrama, desu."

"Hm… jadi, di kamar asrama siapa, ya…?"

"…"

"Ah, itu kita pikirkan dalam perjalanan menuju asrama saja, deh."

Akhirnya, kami berangkat menuju asrama Tantei-sha, terkantuk-kantuk di dalam bis, dan begitu sampai kami kembali bingung.

"Jadi, malam ini aku akan menginap di kamar asrama siapa?"

TRRRT! TRRRT! TRRRT!

Nada dering panggilan ponsel Tanizaki-kun mengejutkan kami yang sedang berpikir, dan dia segera mengangkatnya.

"Moshi-moshi. Eh? Ya, kami sudah tiba. Tidak, kami berempat sedang berdiri di depan gedung asrama. Ya? Ah, ha'i."

"Ada apa?"

"Dazai-san menelepon. Katanya, dia ingin menemui kita—"

"Konbanwa~!" sapaan itu mengejutkan kami, dan saat menoleh tampak Dazai-san yang entah muncul dari mana melangkah mendekati kami dengan lambaian tangan.

"Jadi, Akira-chan,"—"Eh?"—"sudah memutuskan akan menginap di kamar asrama siapa?" tanya Dazai-san, membuatku kembali membeo, "He?"

"Dari mana kamu tahu keadaanku?" tanyaku spontan.

"Oh, soal itu," dia memasang senyum simpulnya (lagi-lagi), "Di televisi sudah ada beritanya. Selain itu, aku sudah menduga akan terjadi sesuatu pada apartemenmu."

'Hah?'

"Rupanya, sudah ada yang meliput kejadian itu," ucap Tanizaki-kun, membuat perhatianku teralihkan.

"Kalau begitu, kita akan langsung ke inti pembicaraan," Dazai-san menginterupsi, "Aku menyarankan agar Akira-chan menginap di kamar asramaku saja. Selain untuk keselamatan pribadinya, aku juga sudah bersih-bersih."

"Hah?" kali ini aku tidak bisa menyembunyikan keterkejutanku, 'Apa hubungannya dengan sudah bersih-bersih?'

"Lagipula, ini hanya sekadar saran. Dan, ini adalah saran terbaik dariku," tambahnya.

Ugh! Sejujurnya, aku agak ogah harus seatap dengan Dazai-san (karena berbagai alasan yang tidak bisa kujelaskan), tetapi jika dia sampai berkata begitu… mau tidak mau lebih baik kuturuti saja, kan?

"B-Baiklah… Untuk malam ini aku akan menginap di tempatmu, Dazai-san."

Reaksi yang kudapat adalah Dazai-san yang tampak puas dan mereka bertiga yang tampak lega.

Hhh… daripada terjadi sesuatu yang tidak diingingkan, lebih baik begini saja, kan?

Setelahnya, kami pergi ke kamar asrama masing-masing. Aku mengekori Dazai-san sambil menahan rasa kantuk yang makin menjadi-jadi. Akan tetapi, saat dia membuka pintu dan mempersilakan aku untuk masuk, tiba-tiba aku teringat sebuah ucapan Dazai-san tadi.

"Dazai-san,"—"Ya?" sahutnya sambil mengunci pintu—"Apa maksudmu tadi yang tentang selain untuk keselamatan pribadiku?"

Kalimatku selesai terucap bersamaan dengan dia membalik badan serta menatapku dengan serius, membuatku jadi gugup namun juga penasaran.

"Ah, itu, ya," Dazai-san kembali ke dirinya yang biasa, "Tidak apa-apa. Firasatku bilang, kamu punya sedikit gangguan tidur. Jadi, kupikir, aku bisa membantumu walau sedikit," dia melangkah mendahuluiku ke dalam sambil mengacak rambutku untuk sesaat, "Ayo, masuk!"

"…" aku termenung sejenak, 'Eh? Gangguan tidur?' aku menggeleng cepat lalu segera menyusulnya, 'Mungkin dia hanya asal tebak…'

"Kamu akan tidur di ruang ini. Dan, ini adalah piyamaku yang sudah kekecilan. Kamu boleh memakainya," jelasnya sambil menyerahkan sepasang piyama berwarna gelap padaku, "Omong-omong, kamarku berada di sebelah. Jika ada apa-apa, panggil aku dan buka saja pintunya," tambahnya sambil menunjuk sebuah kamar berpintu geser di dalam ruang ini, "Dan, anggap saja seperti rumah sendiri!"

"Kamu sudah menyiapkan ini untukku?" tanyaku sambil menatap piyama dalam pelukanku.

"Sudah kubilang, tadi aku bersih-bersih, dan aku memprediksi keadaanmu."

"Ooh, souka…" aku berpikir sejenak, "Dazai-san, di mana kamar mandinya?"

"Di sana. Kalau sudah selesai, segeralah tidur, oke?"

"Ya."

Aku segera memasuki kamar mandi itu dan membersihkan diri, namun aku tidak berani untuk berkeramas. Aku tidak mau mengambil resiko terkena flu. Keadaan akan menjadi semakin merepotkan. Hhh!

Setelah selesai membersihkan diri dan berpakaian, aku melakukan sedikit peregangan. Aku sempat bingung akan menaruh pakaianku di mana, namun akhirnya kuputuskan menaruhnya di bak khusus pakaian kotor milik Dazai-san yang kosong. Aku harus ingat untuk mencucinya nanti.

Aku keluar dari kamar mandi dan melihat kamar sebelah yang tertutup.

'Apa dia sudah tidur?'

Aku merasa tidak enak hati bila langsung tidur tanpa mengatakan apa-apa pada tuan rumah. Selain itu, aku merasa haus. Jadi, tidak ada salahnya sedikit mengganggunya, bukan?

Aku melangkah dengan pelan, dan mencoba menarik nafas dengan stabil saat sudah bersimpuh di depan kamar Dazai-san. Dengan mengetuk sepelan dan setegas mungkin, aku berucap dengan suara yang agak kukecilkan, "Dazai-san? Kamu sudah tidur?"

"…" hening, tidak ada jawaban. Sepertinya, Dazai-san memang sudah tidur.

Kuputuskan untuk melihat keadaannya dengan menggeser pintu ini. Lalu, yang muncul adalah tubuh Dazai-san yang membelakangi pintu geser ini telah berselimut futon. Tampak kepala bersurai bak kopi itu menyembul setengah.

"…" aku terdiam sejenak, tidak tahu harus apa.

"Dazai-san," aku berbicara dengan bisikan yang agak jelas, "aku izin untuk minta air minummu," sebelum benar-benar kembali menutup pintunya aku berkata, "Oyasuminasai, Dazai-san."

Sesaat sebelum pintu geser ini benar-benar tertutup, sayup-sayup aku mendengar suara Dazai-san yang membalas perkataanku, "Oyasumi mo."

"…" aku terdiam memikirkan hal barusan, 'Apa tanpa kusadari abilityku masih aktif? Atau… tadi hanya ilusi? Ataukah hanya hembusan angin?' lalu kuhela nafas, "Sudahlah. Yang mana pun boleh."

Setelahnya, aku segera pergi ke dapur untuk meminum segelas air, dan segera membaringkan diri agar bisa terlelap dengan cepat—mengingat besok pasti akan ada pekerjaan yang menunggu.

= Flashback end =

Haaah… Hanya dengan mengingat kejadian semalam saja sudah membuatku lesu. Rasanya, keadaan tubuh dan pikiranku sedang bertolak belakang.

Sambil mengeringkan rambutku dengan handuk (yang juga dipinjamkan Dazai-san), aku mengamati seluk-beluk wajahku yang terlihat cerah namun sayu secara bersamaan.

Aku menghela nafas, lagi-lagi.

Perhatianku teralihkan pada pakaian yang saat ini kukenakan—pakaian yang diberi oleh Yosano-sensei. Dazai-san sepertinya tidak mempunyai cermin besar, jadi aku hanya bisa melihat bagian atas pantulan diriku dari cermin kamar mandi ini. Walau begitu, hal itu bisa membuatku lega dan puas. Pakaian ini sepertinya cocok untukku.

Pakaian ini sebenarnya cukup sederhana—persis seperti milikku dan Yosano-sensei. Atasannya adalah kemeja putih polos berlengan sepertiga dengan beberapa kerutan memanjang yang dimulai dari kancing ketiga (hitungannya juga termasuk kancing pada kerah). Bawahannya adalah flared skirt berbahan kain katun berwarna hitam polos. Pakaian ini benar-benar seperti modifikasi dari pakaian milikku.

Aku harus berterima kasih pada Yosano-sensei nanti.

Setelah membenahi diri sebentar, aku langsung keluar kamar mandi untuk menemui mereka berdua.

Aku menghampiri keduanya dan ikut duduk, "Apakah sekarang ada yang ingin dibahas?"

"Kita akan membahas hal itu saat akan ke kantor. Jadi, sekarang kita mengobrol saja!" jawab Dazai-san santai, membuatku berpikir bahwa dia memutuskan itu secara sepihak.

"Benar. Dan, sekarang adalah giliranmu untuk bersiap-siap!" sahut Kunikida-san yang tampak fokus dengan buku idealismenya.

"Ha'i, ha'i," Dazai-san lalu bangkit dengan malas untuk mengambil handuknya dan segera menuju kamar mandi.

"Souyeba, Akira-chan," aku kaget saat Dazai-san kembali muncul, "kalau handuk itu sudah selesai kau pakai, tolong jemur di beranda, ya!" ucapnya dengan senyum simpul serta jari telunjuk mengarah ke handuk yang kusampirkan di leher.

"Ha'i," aku menjawab sambil mengangguk, lalu Dazai-san pergi—membuatku merasa canggung terhadap Kunikida-san.

"Um… Kunikida-san?"

"Apa?"

Ya ampun! Cepat sekali dia menanggapinya! Dengan senyum kaku aku bertanya, "Apa asrama agen Tantei-sha pernah direnovasi?"

Aku melihatnya menaikkan sebelah alis sambil menatapku dari balik bukunya, "Tentu saja. Beberapa bulan yang lalu kami mengganti genteng asrama. Dan, rencananya, tahun baru nanti, kami akan mencat ulang asrama," jelasnya, lalu kembali fokus ke bukunya.

Aku berkedip-kedip mendengarnya, lalu dengan sungkan bertanya lagi, "Apa… tidak ada rencana untuk menambah gedung asrama?"

Aku kembali kaget karena reaksi yang sama kembali diberikan Kunikida-san, "Butuh banyak dana untuk itu. Lagipula, para anggota baru Tantei-sha masih bisa mengatasi masalah tempat tinggalnya," dan sekali lagi dia kembali fokus pada buku idealismenya.

Aku ber-oh ria namun sedikit kecewa dalam hati. Yah, aku juga lancang menanyakan hal itu, sih. Dasar diriku…

"Kami juga tak menyangka akan mendapat anggota baru sebanyak ini. Mungkin, hal itu bisa dimasukkan ke daftar perencanaan pembangunan dan dana," tambahnya tiba-tiba.

"…" aku terdiam mendengar tanggapannya, lalu berpikir untuk mencari bahan pembicaraan lain, "Apa ada orang lain yang pernah menginap di kamar asrama Dazai-san?" tanyaku sambil memerhatikan ruang ini.

Jeda sesaat sebelum aku menyadari pertanyaanku barusan. Astaga! Apa-apaan aku ini?!

"Ya, ada."

Jawaban singkat dari Kunikida-san membuatku agak bingung. Pertanyaanku tadi hanya sekadar pertanyaan asal-asalan, tetapi… Ada apa dengannya? Kenapa reaksinya berkesan murung begitu?

"Um… kalau boleh tahu, siapa dia?"

"Dia seorang wanita bernama Sasaki Nobuko," aku kaget karena malah suara Dazai-san yang menjawab, "Dia menginap di sini sebagai korban dari sebuah kasus yang waktu itu kami tangani," dia menuju salah satu sisi jendela dan diam di sana.

"Korban dari kasus?" tanpa sadar aku mengulang beberapa kata Dazai-san.

"Ya. Saat itu kami menangani kasus penculikan dan malah bertemu dengan kasus Utusan Azure. Mungkin kau melihatnya di koran," jelas Dazai-san sambil mengeringkan rambutnya menggunakan handuk dengan sebelah tangan.

"Ah, iya. Aku sempat membacanya. Kasus Utusan Azure yang berhubungan dengan Raja Azure yang telah meledakkan diri," ruang ini menjadi hening sesaat, lalu aku berpikir sejenak, "Tunggu. Kau membiarkan seorang wanita yang menjadi korban tidur di kamarmu?!"

"Hm? Iya," Dazai-san berhenti melakukan kegiatannya dan menatapku, lalu sedetik kemudian wajahnya berubah menjadi jenaka, "Apa ini? Jangan-jangan Akira-chan merasa cemburu?"

"Hah?" butuh beberapa detik untuk otakku memproses ucapannya barusan, dan seketika aku memasang wajah bagaimana-bisa-kau-berpikir-begitu? dengan agak tersipu (tentu saja karena digoda seperti itu—aku jarang digoda orang lain, dan tidak tahu harus berbuat apa jika diperlakukan seperti itu!).

"Maaf, Dazai-san. Sayangnya, aku tidak merasakan apa yang kau ucapkan barusan. Satu-satunya alasan mengapa aku begitu terkejut akan hal itu adalah betapa beraninya dirimu mengajaknya untuk menginap di kamarmu, padahal kalian berdua sama-sama orang dewasa," jelasku dalam satu tarikan nafas sebelum Dazai-san kembali menyahutiku dengan berbagai macam ejekan dan godaannya.

"Oh, Akira-chan! Pengakuanmu itu membuat hatiku sedih dan kecewa~!" ucap Dazai-san sambil menyentuh dadanya dan memasang ekspresi sedih yang dibuat-buat.

Aku memasang wajah datar tak berminat sambil membatin, 'Baguslah kalau begitu!'

"Ayo, kalian berdua," kami menoleh pada Kunikida-san yang tiba-tiba bangkit, "Kita harus bergegas ke kantor."

.

"Tanuki Berdarah?" aku mengulang kata-kata pada kalimat yang diucapkan Kunikida-san dengan bingung dan penasaran.

"Benar. Kamu sedang kembali ke desa saat kejadian itu kembali berlangsung," ucap Dazai-san.

"Tapi, bukti apa yang membuatmu yakin kalau insiden di apartemenku itu ada hubungannya dengan Tanuki Berdarah? Lalu, siapa sebenarnya Tanuki Berdarah itu?" tanyaku berturut-turut.

"Tanuki Berdarah adalah pembunuh berantai. Ciri khasnya adalah selalu membakar kediaman calon korbannya. Lalu, di saat si sasaran sedang lengah karena memikirkan tempat tinggalnya, dia akan mengambil kesempatan itu untuk membunuhnya," jelas Kunikida-san serius, membuatku bergidik ngeri, "Namun, yang jadi masalah adalah motifnya. Sampai saat ini belum diketahui motifnya melakukan hal keji itu."

"Apa kamu pernah membuat seseorang sakit hati, Akira-chan?" tanya Dazai-san.

"Aku yakin tidak pernah membuat orang lain sakit hati, kecuali para preman yang pernah kuhajar saat berada di Tokyo dulu," jawabku tegas, namun aku baru teringat akan sesuatu, "Ah, tapi, ada kemungkinan saat itu…"

"Saat itu kapan?"

"Ah, tidak! Tidak apa-apa! Hanya… ada hal lain," jawabku dengan menyembunyikan rasa cemas sambil menyengir dan menggaruk pipi.

"Begitukah?"

Sementara Dazai-san dan Kunikida-san membahas hal-hal yang tidak kumengerti, aku merenung dan melamun.

'Kenapa Tanuki Berdarah mengincarku?' aku melirik kedua pria yang lebih tua itu sedang berjalan di depanku ini, 'Aku juga jadi penasaran tentang kasus Raja dan Utusan Azure itu.'

Aku ingat atmosfer yang seketika berubah ketika kami membahas tentang Utusan Azure.

'Apa yang telah terjadi sebelum aku bergabung, ya?'

.

Setibanya kami di Kantor Buso Tantei-sha, Kunikida-san dan Dazai-san segera pergi entah ke mana. Dan, membiarkanku seorang diri bersama Ranpo-san yang sedang tiduran di meja kerjanya. Aku jadi merasa seperti anak hilang yang tidak tahu tujuan. Setelah memikirkan beberapa hal, aku memutuskan untuk duduk di kursi-meja kerjaku dan mencari-cari apakah ada laporan atau tugas yang belum kukerjakan.

Selang kurang lebih sepuluh menit, akhirnya mereka berdua kembali muncul dan mendekati diriku yang spontan berdiri.

"Kalian ke mana tadi? Apa yang kalian dapatkan?" tanyaku blak-blakan.

"Tadi kami menemui Sachou untuk meminta saran atas keadaanmu," jawab Kunikida-san tenang—"Sa-Sachou?!" aku terpekik kaget—lalu dia melanjutkan, "Sebelumnya, kami sangat jarang mendapati keadaan seperti ini. Keadaan di mana salah seorang anggota Buso Tantei-sha mendapat masalah yang perlu diselesaikan oleh agensinya."

"Karena itu, setelah mempertimbangkannya, kami bisa mengambil kasus ini jika kau bersedia menjadi seorang klien," sambung Dazai-san.

"Apa? Menjadi se-seorang klien?!"

"Kami baru bisa menanganinya jika kau menjadi seorang klien, sesuai dengan prosedur yang ada," tambah Kunikida-san.

Aku berpikir keras untuk sesaat, dan merasa kalau tidak ada yang salah dengan hal ini, aku menghela nafas lalu menjawab, "Baiklah. Aku akan menjadi seorang klien."

"Baiklah, kalau begitu kita—"

"Tapi," aku memotong ucapannya dengan cepat, membuat mereka penasaran, "aku juga ingin ikut dalam penyelidikan ini. Maksudku, dengan kata lain, aku menjadi seorang klien sekaligus bertugas sebagai agen Tantei-sha dalam kasusku," aku memberi jeda karena tersadar akan anehnya ucapanku, "Bolehkah?"

Mereka berdua berkedip-kedip mendengar ucapan meyakinkanku yang sekarang kurasa terdengar konyol, lalu membuatku merasa heran melihat reaksi mereka: Kunikida-san yang menghela nafas, dan Dazai-san yang mendengus geli.

"Kalau hanya itu, tentu saja kau diizinkan, Akira-chan!"

"Asal kau tidak merepotkan dan melanggar prosedur, Komusume!"

Aku spontan tersenyum lebar mendengar hal itu, "HA'I!"

.

Kami akhirnya tiba di apartemenku. Setibanya di sini, aku segera dicerocosi berbagai pertanyaan maupun pernyataan dari Mizuno-san. Untung saja kami datang pagi, jadi Yuu-kun dan Yui-chan tidak perlu menambahi kalimat yang memenuhi kepalaku. Tapi, aku jadi rindu mereka. Kira-kira, mereka sedang jam pelajaran apa, ya?

Setelah semua itu, Mizuno-san berbincang-bincang dengan Kunikida-san dan Dazai-san. Aku melihat interaksi ketiganya dengan helaan nafas lega—mengingat sekarang aku tidak disemburi dengan kata-kata dari beliau. Saat mengingat waktu kami tidak banyak, Kunikida-san segera mengingatkan Mizuno-san kalau kami ingin memeriksa kamar apartemenku, dan dia segera menemani kami.

Aku dan Mizuno-san berjalan di depan Kunikida-san dan Dazai-san yang mengikuti kami.

Mizuno-san merapat padaku lalu berbisik, "Nee, Akira-chan, siapa kedua pria muda itu?"

"Oh, mereka adalah senior saya dan kolega di Buso Tantei-sha. Memangnya ada apa?"

"Yang berkacamata adalah pria yang konsisten, dan yang berambut gelombang adalah pria yang perhatian. Kira-kira siapa yang kau pilih, Akira-chan?" tanyanya dengan nada yang dimain-mainkan serta senyum simpul yang mengembang.

"…" aku terdiam memproses, lalu tersadar, "Mizuno-san, godaan Anda tidak mempan untuk saya. Lagipula, mereka berdua sangat baik pada saya. Mana mungkin saya membandingkan keduanya," jawabku sambil ikut berbisik namun dengan tegas, "Yah, kalau soal siapa yang paling rajin, mungkin aku ingin membandingkan mereka," gumamku spontan.

Mizuno-san terkikik mengetahui reaksiku, "Gadis seusiamu biasanya sudah mulai mengetahui yang namanya 'Jatuh Cinta'. Apa kau tidak tertarik dengan hal itu?"

"Ai, ka…" aku bergumam tanpa sadar, membuatnya bertanya-tanya, "Saya masih bertanya-tanya apa itu cinta. Sepertinya, tidak mudah untuk mempelajari dan memahami apa itu cinta," ujarku sambil setengah menerawang.

Aku merasakan Mizuno-san memandangku, lalu aku kaget saat dia merangkulku dengan lembut, "Kalau kamu dan aku mempunyai waktu luang, mari kita saling mengobrol tentang hal itu. Tentu saja, tidak hanya tentang cinta."

Aku terkesiap sejenak, merasakan kehangatan dan kelembutan Mizuno-san yang layaknya seorang kakak perempuan, "Boleh!" balasku disertai senyum yang mengembang.

Tak terasa kami sudah tiba di depan pintu kamar apartemenku.

"Aku akan pergi bekerja. Silakan melakukan penyelidikan kalian!"

Kami bertiga berojigi singkat, lalu setelah Mizuno-san pergi, aku segera membuka pintu dengan tegang. Dan, ketika kami memasuki apartemenku hingga tiba ke ruang utamanya, yang tampak adalah seluruh hal yang ada di sini telah hangus. Abu yang mulai menyatu dengan udara karena langkah kaki membuat kami bertiga refleks menutup indra penciuman kami dengan sebelah tangan.

"Benar-benar terbakar tanpa terkecuali, ya," komentar Dazai-san, dan aku bergumam menyetujui.

"Kita akan memulai penyelidikannya," Kunikida-san tiba-tiba berbicara, memberi pengarahan, "Dazai periksa bagian dapur, aku memeriksa ruang tamu ini, dan kau periksa bagian kamarmu. Jika mendapat sesuatu yang mencurigakan, segeralah melapor. Mengerti?"

"Ha'i!"

Dengan begitu, penyelidikan dimulai.

[Sejam kemudian…]

"Haaaaahh…!" aku dan Dazai-san menghela nafas kompak, sementara Kunikida-san mendengus lelah sambil menyentuh kacamata—saat ini kami tengah bersandar di bagian belakang sofaku yang dilapisi koran agar tidak mengotori pakaian.

"Bagaimana ini? Kenapa tidak ada apapun yang bisa menjadi petunjuk?" tanyaku lebih kepada diri sendiri dengan lesu.

"Setelah lima menit, kita akan kembali menyelidikinya," ujar Kunikida-san yang mulai mengecek buku idealismenya.

"Haaa'i…!"

Aku terbawa dalam lamunan karena memikirkan kasusku ini. Hal apa yang terlewatkan? Apakah ada sesuatu yang 'tak kusadari bisa menjadi petunjuk?

Aku menghela nafas singkat, lalu memerhatikan penjuru ruang apartemenku ini yang tertangkap mata.

Terbakar… namun tidak menyebar ke kamar apartemen lain.

Pelakunya jelas ada… namun tidak tertangkap kamera cctv.

Seperti kemampuan teleportasi… namun bukan.

Itu…

Tunggu!

"Chotto matte!" aku refleks berdiri tegap, membuat kedua orang yang berada masing-masing di sampingku merasa bingung.

"Akira-chan? Ada apa?"

"Tidak mungkin! Masa' sih?!" aku berbicara sendiri, membuat mereka berdua makin bingung dan penasaran.

"Hoi, Komusume! Ada apa?"

"Tidak, aku hanya terpikirkan sebuah hipotesis, tapi…" aku kembali terbawa ke pikiranku, "Kalau yang kupikirkan ini memang benar… aku benar-benar harus menghakimi bocah itu!"

"Hah? Siapa?"

"Mohon tunggu sebentar! Aku ingin mengecek sesuatu!" aku segera mengaktifkan kemampuan khususku, dan mempertajam indra penciumanku, "!"

"?"

"Hoi, apa ada sesuatu?"

"Sialan…"—"Eh?" mereka berdua membeo heran—"Aku akan benar-benar menghabisi bocah kurang ajar itu!" gumamku geram dengan sebelah tangan dikepal erat.

Awas kau, Ayatsuno… Tunggu penghakimanku padamu, Bocah Kurang Ajar!

Normal POV

Kunikida dan Dazai hanya bisa sweatdrop melihat Akira yang tampak terbakar api dendam (?).

"Ekspresi Akira-chan saat sedang kesal benar-benar unik, ya!"

"Dia terlihat seperti seorang ibu yang ingin menghabisi anaknya yang ketahuan bolos."

Akira menarik-menghela nafas untuk menenangkan diri, tetapi tiba-tiba dia terbatuk-batuk seakan tersedak sesuatu. Kunikida dan Dazai yang kaget spontan menoleh ke arah gadis itu. 'Astaga, jangan-jangan ini karena abu yang ada di sini?' pikir Akira.

Saat tengah sibuk meredakan batuknya, Akira merasakan tepukan ringan di punggung yang seolah-olah ingin membantunya. Dia melirik asal tangan yang melakukan itu dan menemukan Dazai memandanginya. 'Aneh… Kenapa sekarang batukku mulai mereda?' batinnya bertanya.

"Sudah baikan?"

Akira mengangguk sebagai balasan karena masih 'tak sanggup bicara.

"Aneh," kedua pria itu tampak heran, "Batukku langsung reda. Apa kamu melakukan sesuatu, Dazai-san?" ujar Akira di sela-sela batuk.

"Hanya hal kecil," jawab Dazai diiringi senyum simpulnya, "Kamu lupa menonaktifkan kemampuanmu, kau tahu?"

"Eh? Benarkah?" rupanya Dazai telah menetralkan Akira, "Sepertinya aku melupakan hal sepele itu."

"Dan, hal sepele yang kau abaikan itu membuatmu kesusahan seperti ini," celetuk Kunikida yang sedang bersedekap, membuat Akira meringis di sela batuk kecilnya.

Kunikida seketika mengingat hal yang tadi ingin ditanyakannya, "Jadi… apa kau mengetahui sesuatu yang telah terjadi di sini?"

"Ya!" jawaban cepat Akira membuat dua pria itu berjengit di tempat, "Yang membakar kamar apartemenku ini bukan Tanuki Berdarah!" ucapnya dengan kedua alis menekuk ke bawah serta sorot mata yang tajam.

"Hah? Dari mana kau dapat keyakinan kuat seperti ini?"

"Karena!"

"Karena?" kedua pria itu mengulang kata Akira dengan penasaran.

"Karena…" suara Akira mulai mengecil dan dia kembali dalam lamunannya, "Benar juga! Aku bahkan tidak tahu sama sekali tentang kasus Tanuki Berdarah!" gumamnya spontan dan jelas, membuat yang lain sweatdrop.

Kunikida menghela nafas cepat, "Nah, sekarang kau sudah tahu sendiri di mana letak kesalahanmu dalam membuat hipotesis?"

"Tapi," Akira menyergah, "aku yakin kalau pelaku dalam kasusku ini bukan Tanuki Berdarah!"

Dengan sabar Kunikida mengulang pertanyaannya, "Maka dari itu, dari mana kau dapat keyakinan kuat seperti ini?"

"Insting," Akira menjawab cepat dengan kepala menunduk, "Memang konyol, tapi aku juga tahu mana yang benar dan salah," lanjutnya dengan sorot mata penuh keyakinan.

Kunikida dan Dazai diam sejenak untuk meresapi keyakinan junior baru mereka itu. Lalu, mereka memberikan persetujuan dengan cara yang berbeda. Dazai mendengus geli sambil mengangguk. Sementara, Kunikida mengecek buku idealismenya sambil berujar, "Untuk mengecek hal itu, setelah ini kita pergi ke lokasi terakhir dari kasus Tanuki Berdarah itu."

"Ha'i!"

.

"Kita lewat sini?"

"Ya, karena lokasi itu paling cepat dicapai lewat jalan ini."

"Memangnya ada apa?"

"Ah, tidak. Hanya saja, aku menelusuri jalan ini waktu pertama kali sampai di Yokohama. Tidak kusangka akan kembali melewati jalan ini."

Saat ini mereka tengah berada di salah satu pusat perbelanjaan Yokohama. Kunikida memperbincangkan hal-hal lain sementara Akira yang berada di tengah keduanya menyimak dengan bingung. Gadis itu dengan khidmat selalu mendengarkan kata-kata yang terucap sambil bergantian menatap siapa pun yang bicara.

"Aku ingin meminta akses pada Katai, tapi kalau mengingat kejadian waktu itu…"

'Siapa itu 'Katai'?'

"Tidak perlu melakukan itu, Kunikida-kun. Aku yakin dalam waktu dekat ini kita akan segera mendapatkan petunjuk!"

'Bagaimana Dazai-san bisa seyakin itu?'

"Terserah kau saja. Untuk sekarang, kita harus segera menunjukkan TKP terakhir dari kasus Tanuki Berdarah pada bocah ini, yang kasusnya baru saja diterima Tantei-sha lusa kemarin."

'Jadi, kasusnya baru diberikan pihak kepolisian lusa lalu, ya.'

"Tokoro de, mumpung kita sedang berada di pusat perbelanjaan yang ramai ini," Akira melirik si empu suara, "mari bantu aku mencari wanita cantik untuk bunuh diri gandaku—Ouw!" Dazai menghentikan ucapannya sambil melihat penyebab benturan mengagetkan yang sudah dibantu untuk berdiri tegak oleh Akira, "Siapa nona kecil ini?" tanyanya sambil mengerjapkan mata.

"Siapa yang kamu panggil 'nona kecil'?!" perempuan berperawakan mungil itu segera menatap Dazai dengan berang, "Dengar, ya! Usiaku sudah tidak pantas menggunakan panggilan bocah seperti itu! Dan lagi, aku yakin usiaku sebaya dengan cewek ini!" ujarnya dengan dagu terangkat serta sebelah tangan digunakan untuk berkacak pinggang dan tangan yang lain untuk menggandeng Akira yang terkejut dan bingung.

Tiba-tiba perempuan itu tersentak sendiri, teringat akan sesuatu yang penting saat tatapannya jatuh ke Kunikida, "Kunikida Doppo-san dari Buso Tantei-sha, benar?" Kunikida dan Akira keheranan dan terkejut di tempat sementara Dazai menatapnya dengan penasaran, "Sebaiknya sekarang kalian ikut aku."

.

"!" Akira, Kunikida, dan Dazai tengah terperangah melihat pemandangan di depan mata, sementara perempuan itu berdiri 'tak jauh di depan ketiganya dengan mimik muka serius.

"Tanuki Berdarah kembali bergerak…" ucap Dazai rendah.

Perhatian ketiganya sedikit teralihkan sebab ponsel Akira berdering yang menandakan adanya panggilan masuk. Tertera nama Atsushi pada layar panggilan yang membuat Akira segera mengangkatnya. Gadis itu baru saja akan mengucapkan sesuatu, namun suara di seberang sana telah mendahuluinya.

"Akira-san? Kalian bertiga ada di mana?" terdengar suara panik Atsushi di indra pendengarannya, "Akira-san, sebenarnya aku punya kabar buruk. Ada laporan dari Kepolisian Kota kalau di sekitar daerah Motomachi bagian Blok E ada kebakaran!"

"Atsushi-kun," Akira menjeda ucapannya dengan nafas berat, "sebenarnya, kami baru saja sampai di lokasi kejadian yang kamu sebutkan."

"Nani? Kalau begitu syu—Eh? Ada ap—" Akira sempat kebingungan dengan reaksi lawan bicaranya di seberang sana sampai suara lain membuatnya paham, "Yare yare, sepertinya keadaan menjadi semakin parah, ya?"

"Ranpo-san?!"

"Sudah korban ke berapa ini? Tujuh? Delapan? Ah, ralat, ralat! Sudah delapan korban Tanuki Berdarah, dan ini calon korbannya yang ke sembilan!"

"Maaf?"

"Dengar, Akira-chan," nada suara Ranpo tiba-tiba berubah menjadi serius, "Kasus ini ditangani oleh tim kalian—walaupun Atsushi-kun tidak ikut—jadi aku tidak bisa banyak membantu. Namun, aku akan memberitahu sesuatu," Akira semakin memfokuskan indra pendengarannya dengan gugup, "Ini semua tentang relasi antara kasus yang pernah kau pelajari."

"Ha'i?"

"Sore jaa, semoga beruntung, Akira-chan!" panggilan itu langsung terputus tanpa memberi Akira kesempatan untuk membalasnya.

"Apa yang dikatakan Ranpo-san?" tanya Kunikida.

"Ada beberapa hal, dan begitu acak," Akira menatap ponselnya sejenak sebelum menyimpannya, "Aku tidak begitu yakin bisa memahami petunjuk yang diberi Ranpo-san…" ucapnya dengan kening berkerut khawatir.


Selanjutnya, Bungou Stray Dogs: The Lost Relatives Chapter 10,

Tanuki Berdarah (Bagian Terakhir)


~ Author ground ~

Author: MOSHI-MOSHI YO MINNA-SAN~!

Yah, kali ini saya gak bakalan banyak cap-cip-cup kayak biasanya karena berbagai alasan, jadi langsung ke intinya, okay?

Pertama, saya udah menentukan op dan ed theme season atau buku pertama ini (panggilan yang bener yang mana, sih?). Untuk ed udah dapat penyesuaiannya, namun untuk op walau udah pergi ke ujung samudra milik Mbah Gugel saya tetep gak ketemu. Jadi, ya udah gini aja. Semoga kalian bisa mendapatkan feeling tersendiri dari OST-nya.

Kedua, urutan beberapa chapter ada yang saya ubah, dan itu belum saya cek keseluruhan. Jadi, jika ada kekeliruan dan kesalahan, tolong tegur saya, ya. #onegaishimasu

Ketiga, walau udah berapa kalipun saya mengedit semua chapter, tetap saja masih tertinggal kesalahan. Jadi… tolong maklumi saya sebagai ciptaan Tuhan yang pasti memiliki kekurangan. #sumimasen_deshita

Keempat, saya akan membocorkan sesuatu agar kalian sedikit paham. Op dan ed theme akan berubah sebentar lagi! Jadi, bersiap-siap mencari tahu tentang lagu lain itu. #Hehe~ (Dark Sarah: Apaan, sih? -_- )

Kelima… Selamat memasuki Bulan Ramadhan~! :D Dan… selamat memulai puasa bagi yang menjalankan seperti saya~! :)

Karena ini memasuki bulan suci, dan saya punya adek kecil (alias balita), kemungkinan besar kelanjutan fanfic saya ini bakalan lebih ngaret daripada biasanya. Jadi… mohon mengerti dan memaklumi keadaan saya… #Onegaishimasu_to_Arigatou_Gozaimasu!

Oh, iya! Korubase otanjoubi omedetou for Nakahara Chuuya and Nakajima Atsushi and other chara~! :D Trus, bentar lagi bakalan ada yang ultah lagi, ya… /duh

Okay, balasan reviewnya! :D

~ rara ~

Eh, ah, yah, begitulah. Si Akira berdansa sama tokoh baru. Sejujurnya, itu gak masuk perhitungan saat membuat chapter itu. _|| Yap, sebenarnya, sejak kemunculan Akira di Yokohama, semua organisasi yang ada di sana mulai tertarik padanya, termasuk Chuuya yang merupakan eksekutif Port Mafia. Omong-omong, kamu suka pair ChuuyaxAtsushi atau ChuuyaxFem!Atsushi gak?

Rasio & Dark Sarah: Baiklah, sampai di sini kali ini! Sampai jumpa di lain waktu dan kesempatan! :)

All: Akhir kata, hontou ni arigatou gozaimasu, terima kasih atas pengertiannya, dan sampai jumpa~! :D O:) Mohon kritik, saran, dan responnya dalam bentuk apapun! Silakan juga memberi usulan dan yang lain! RnR? :)