SQUEEZE

.

.

Disclaimer!!

Kuroko no Basuke by Fujimaki Tadatoshi

Original Story by me

.

.

Warning!!

BL, Typo, OOC, AU, M-Preg, Paragraf tidak sinkron, alur cepat dan kemungkinan tata bahasa yang masih penuh kecacatan.

.

.

DLDR/No Flame!!! Saya sudah mengingatkan!

~0~

Enjoy Read

~0~

Tetsuya merasakan semakin hari tubuhnya kian melemah, rasa pusing sering menghantui begitu pun mual yang tak pernah mampu ia tangani. Kulit putihnya kian memucat berkali lipat, begitu pun dengan warna merah alami pada bibir ranumnya tak lagi nampak terlihat.

Sehari, dua hari ia memutuskan untuk beristirahat, berharap rasa pusing dan mual yang menyakitkan itu secepatnya pergi hingga ia dapat beraktifitas seperti biasa lagi. Namun sayang, rupanya bawaan bayi mungil di dalam sana terlalu kuat, menyedot tenaga hampir seluruhnya, atau memang si bayi sudah berkonspirasi dengan sang ayah untuk ikut-ikutan menahan ibundanya agar tetap tinggal di rumah saja.

Tak kunjung merasa baikan juga, akhirnya dengan berat hati Tetsuya mengambil cuti, jadilah aktifitasnya lebih banyak dihabiskan dirumah, membuat dirinya merasa bertambah sakit apalagi kini intensitas pertemuannya dengan Seijurou kian bertambah, mengingat bagaimana protektifnya seoarang Akashi Seijurou, dengan alasan ingin menjaga isteri dan calon buah hati, dalam satu bulan terakhir pun si merah memutuskan untuk membawa seluruh pekerjaannya untuk dikerjakan di rumah. Sang ayah, Akashi masaomi jelas mendukung, apalagi demi calon cucu yang kelak akan menjadi penerus kerajaan bisnisnya.

"Sayang, makan dulu ya" satu nampan penuh berisi makanan dengan hati-hati di bawa oleh si calon ayah tampan.

Semangkuk bubur hangat dengan aroma menggoda, di sampingnya berdiri secangkir susu hangat yang masih mengeluarkan uap dan yang terakhir potongan berbagai buah yang sudah di kupas memenuhi piring putih bercorak bunga sakura disekeliling.

Tubuh yang sudah terbalut kemeja rapi tak sungkan mengarahkan satu sendok penuh bubur pada bibir yang tak jua membuka.

"Sayang, buka mulutmu. Aaa" dengan lembut Seijurou sabar membujuk Tetsuya agar mau membuka mulut.

"……" menghiraukan, sepasang azure tak sungkan mengalihkan pandangan. Seakan sosok lelaki merah itu tak berada disana.

"Sayang.., " entah kenapa Seijurou menjadi seratus kali lipat lebih sabaran dari biasanya, ia cukup maklum jika hamil muda berdampak pada mood yang suka naik turun, meski ia pun tahu jika tetsuya memang tak pernah menunjukkan mood yang bagus setiap kali mereka bersama.

"Aku tidak lapar!" ucap Tetsuya dingin, mencoba memutus percakapan yang akan berujung kontak fisik yang tak pernah ia inginkan, pandangannya tak sedikit pun tertuju pada lelaki tampan di depan, seolah sulur keemasan pada corak selimut yang menutupi setengah tubuhnya jauh lebih baik untuk ia pandangi.

"Sayang, sedikit saja ya. si kecil juga butuh nutrisi" masih dengan sisa kesabaran, kali ini tangan yang tak lagi memegang mangkuk bubur mengusap lembut pada perut yang masih terlihat datar, mengantar efek kilat mengejutkan tepat di dada kiri Tetsuya.

"Deg" Seketika jantung berdetak hebat, seirama dengan gerakan satu detik pada jarum jam namun rasanya sangat kuat hingga cukup membuat tubuh kecil sedikit tersentak, buru-buru ia singkirkan tangan itu dengan kasar dari perutnya yang masih terlihat datar.

"Aku bilang aku tidak lapar" ucapnya pelan penuh penekanan ditambah sorot mata sayu namun sangat tajam sarat akan kebencian, menyembunyikan cepat eskpresi tak terbaca barusan. Sukses memancing emosi seijurou hingga muncul ke permukaan.

"Tetsuya, jangan memaksaku untuk berbuat kasar" sendok dalam pegangan masih terlihat melayang, Rupanya si calon ayah muda masih berusaha menahan diri.

"………" Tetsuya menghiraukannya kembali, membuat kesabaran terasa terkuras hingga wajah tampan itu pun berubah mengeras, tatapan yang melembut pun perlahan hilang, terganti dengan sorot dingin nan tajam. Seijurou akhirnya kalah, ia tak mampu lagi menahan dirinya.

"Makan, makananmu!!" ucapnya pelan sarat akan perintah dengan penekanan.

"Aku tidak peduli kau lapar atau tidak" nada suara kian memberat diirigi dengan tubuh yang mulai beranjak dari posisi duduknya, kesabaran Seijurou rupanya mulai terkikis, sendok yang sedari tadi ia pegang pun di lemparkan dengan kasar hingga terdengar bunyi klontang saat tepat mengenai nampan, dan pagi seperti biasa pun kembali terulang.

Langkah kaki kian pasti untuk pergi, tak kuat jika terlalu lama berada dalam situasi yang ia tahu seperti apa kelajutannya nanti.

"Kau tidak suka ini kan-" sebuah kalimat gantung terucap, sukses mebuat langkah seijurou tiba-tiba terhenti.

Dia tak ingin terpancing lalu membalas, namun rupanya keinginan hati tak kuat untuk meredam emosi hingga satu kata balasan bernada tak kalah dingin pun terucap.

"Iya".

"Kalau begitu, sudahi semuanya. Ceraikan aku! Karena aku pun tidak suka hal ini"

ucapan si biru muda terlampau datar, hingga sukses membuat langkah kaki seijurou terhenti sempurna lalu berbalik dan kembali.

Pandangan manic biru muda masih fokus ke depan, tak peduli jika seijurou telah berbalik kembali dan kini tepat berdiri di sisinya.

Dagu kecil diapit telunjuk dan ibu jari, memaksa pandangan matanya kini menghadapa wajah tampan yang tak kalah dinginnya. masih dalam keadaan berdiri, seijurou sedikit membungkukkan tubuhnya hanya untuk menyamkan tepat posisi wajahnya dengan Tetsuya.

Dalam hitungan yang nyaris tak berjeda, hanya sepersekian detik dari pandangan kosong yang sama-sama dilempar keduanya. Seijurou meraup bibir yang menjadi candunya penuh tuntutan, membungkam dengan lumatan dan hisapan, jelas terlihat penuh paksaan namun Tetsuya tak bergeming walau hanya secuil, bibirnya dicumbu habis-habisan, menempel erat tanpa ada niat untuk dilepaskan, tak ada desah ataupun erangan sebagai balasan, hanya tatapan kosong yang ia lemparkan. Seakan pasrah, menyerah tanpa perlawanan.

Cukup lama, akhirnya seijurou melepaskan. Saliva meninggalkan jejak basah mengkilat, ditambah bengkak yang jelas terlihat namun tatapan dari iris biru muda masih tetap sama, datar tak ikut bergejolak, tak terpengaruh walau sentuhan bibir seijurou begitu panas seakan membakar.

"tidak akan kubiarkan lagi kau mengucap kata 'haram' itu" ucap seijurou dengan kilatan marah luar biasa pada manic beda warna miliknya.

Tubuh tinggi kembali berpaling, tak berniat menambah rentetan emosi yang bisa saja meledak jika terus berdiam diri disana. Meski jauh dalam hati ia ingin menghabiskan waktu bersama dengan si penakluk hati.

Meski salah satu diantara keduanya memilih pergi namun dalam hati keduanya jelas tak ada yang mau mengalah, Tetsuya yang masih dilingkupi kebencian, belum bisa menerima keadaannya saat ini dan Seijurou yang masih belum cukup dengan kesabaran yang ia miliki.

~0o0~

Tahukah dirimu

Setiap kali aku melihat sorot mata yang selalu ku puja mengguratkan bagaimana luka yang begitu dalam, aku tak kalah terlukanya.

Tiada yang paling menyedihkan bagiku selain menyaksikan dengan mata kepalaku sendiri jika penyebab luka itu adalah diriku.

Aku terus melukai mu, terus dan terus hingga aku pun melukai diriku sendiri. Sebanyak yang kau alami atau lebih banyak dari itu. Karena satu lukamu adalah seribu luka bagiku.

Jika kau sudi, aku ingin menjadi pengobat, rasanya tak kuat lagi bagiku terus menjadi penyebab. Namun rupanya kau menghukumku terlalu hebat, hingga aku terus menjadi pendosa yang tak akan pernah berhenti menggores luka berkali-kali.

Luka untukmu dan luka untukku. (Akashi Seijurou PoV).

"Ku mohon jangan lakukan lagi sayang" tangan besar menyentuh pipi Tetsuya penuh sayang. Aliran darah sepertinya tak mengalir ke wajah hingga pigmen pucat putih masih tetap tak beranjak dari sana. tak pernah ia memohon apapun sebelumnya, ditambah sejelas ini pula.

"kau dan dia-" tangan besar kini beranjak mengelus gundukan bulat pada perut Tetsuya yang mulai terlihat.

"adalah hidupku. Jika aku kehilangan salah satu atau kedua dari kalian aku mungkin bisa gila, hidupku akan hancur karena tak ada artinya lagi" satu kecupan pun mendarat pada bulatan yang masih tak cukup besar. Lalu beralih pada tangan dengan pergelangan yang terbalut perban.

"jadi begitu-" senyum remeh tersungging pada kedua sudut bibir tipis Tetsuya. Tangan yang digenggam dan dihujani ciuman pada bagian punggung ia tarik perlahan.

"Aku bisa membalasmu Akashi Seijurou" ucapnya dingin dengan senyum sinis yang masih setia terlukis.

Seijurou tersentak, matanya membulat sesaat ketika mendapati ekspresi dingin tak biasa dari wajah yang menjadi favoritnya, meski senyum masih tersungging disana, senyum berbahaya yang mampu membuat Akashi Seijurou merasa takut untuk pertama kalinya.

Emperor eye miliknya jelas mampu menangkap arti dari setiap ekspresi itu, ditambah nada dingin dari setiap kalimat yang terucap.

"Apa maksudmu?"

"Kau jelas tahu maksudku kan" balas Tetsuya dengan nada dingin yang tak berubah jua.

"Tidak! Kau tidak bisa melakukannya" ada nada khawatir terdengar dalam setiap kata yang diucap.

"….." Tetsuya tak menjawab, membuat Seijurou merasakan kekhawatiran yang kian mendalam.

Dia tahu jika saat ini Tetsuya sedang dalam kondisi emosional yang kacau, dia bisa saja melakukan hal-hal nekat yang mampu membahayakan dirinya dan bayi mungil yang tengah berada dalam kandungannya.

"Sayang," Upaya untuk membujuk masih coba Seijurou lakukan, ia tak bisa berdiam diri lagi kali ini.

Cukup beberapa menit yang lalu ia merasakan bagaimana perasaan berkecamuk ketika mendapati orang yang ia cintai hampir terbujur kaku karena kehilangan cukup banyak darah, Tetsuya memotong pergelangan tangannya sendiri dengan sengaja.

Tak terbayangkan baginya jika kehilangan kedua orang yang paling penting dalam hidupnya, Meski salah satunya belum melihat dunia tapi keduanya sama pentingnya. kehilangan pelita yang mulai menerangi hari-harinya yang dahulu gelap gulita, mengalirkan rasa cinta yang sebelumnya tak pernah ia percaya keberadaannya.

"Aku tidak menyangka bisa melihat bagaimana putus asanya dirimu" kali ini Tetsuya tersenyum penuh kesinisan.

"ya, Tetsuya benar. Aku benar-benar putus asa sekarang, jadi apa tetsuya mau bernegosiasi denganku" rasanya seijurou tak bisa melewatkan kesempatan begitu saja. Ia tak ingin melewatkan kesempatan yang berujung pada hal-hal yang tak ingin ia bayangkan.

"Kau sedang dalam keadaan tak berhak melakukan penawaran" balas Tetsuya ringan tanpa beban, tangan kirinya yang berbalut perban sesekali mengelus perut yang mulai terlihat bulat.

"Bagaimana jika aku mengabulkan hal yang paling Tetsuya inginkan" Seijurou akhirnya memberanikan diri melakukan pertaruhan besar, demi menyelematkan keselamatan buah hati tercinta yang sekarang menjadi prioritas utama.

"….." alis berwarna yang sama dengan irisnya terangkat salah satunya.

"Aku akan menceraikan Tetsuya" berat rasanya ia mengucap lagi kata yang telah ia haramkan dulu untuk Tetsuya.

"Tapi dengan syarat-" Seijurou sengaja menjeda kalimatnya.

"Biarkan bayi kita tetap aman dalam rahim Tetsuya, dan begitu Tetsuya melahirkan aku akan menandatangani surat cerainya" wajah tampan itu Nampak terlihat serius, meskipun dilubuk hatinya ia merasakan luka yang teramat nyata.

"Penawaran yang cukup bagus, tapi aku juga punya syarat".

"Aku tak ingin melihat wajahmu selama itu, aku tak ingin kau muncul dihadapanku, melihatmu membuatku merasakan sesak, aku muak denganmu. Muak dengan sikapmu yang terus menekanku. Jadi aku akan pergi dari rumah ini". Meski ia menyuarakan isi hati terdalam, namun raut wajahnya tetap datar dan tenang, seakan tak ada gejolak emosi yang menyertai setiap kata yang terucap dari mulutnya.

"Tidak!" ucap seijurou tegas yang membuat sorot mata dari manic biru muda berubah menjadi tak suka.

"Tetsuya tidak boleh meninggalkan rumah ini, karena disinilah tempat yang paling aman untukmu dan anak kita. Aku yang akan keluar dari sini"

bagaimana pun Seijurou tak akan tenang jika Tetsuya tidak dalam penanganan orang-orang yang dipercayainya, dan hanya di mansion inilah tempat dimana seijurou bis mempercayakan dua orang paling berharga baginya untuk tetap nyaman dan terjamin segala kebutuhannya.

Hubungan penuh tekanan itu pun akhirnya memasuki babak baru, babak dimana pertaruhan akan dilakukan, antara tetap mempertahankan genggaman atau melepaskan dengan kesurelaan.

~0o0~

Tahukah kau betapa kejamnya dirimu.

Kau tak hanya merebut hidupku, kau pun membuatku mulai mempertanyakan keyakinanku pada cinta yang selama ini teguh ku pegang.

Kau tak tahu betapa menyakitnya berada pada situasi dimana perasaanku menghianatiku. Meamaksaku untuk membenarkan keberadaan dirimu.

Mengecewakan, rasanya sungguh menyakitkan.

Menerima kebenaran bagaimana perasaanku bertaut pada orang yang hanya menginginkan tubuhku semata. Karena bagiku cinta tak seperti itu,

cinta tak pernah berkiblat pada kebutuhan fisik dan kesenangan. Cinta juga bukan tentang kenikmatan sekejap yang meninggalkan luka mendalam. Cinta itu murni saling menerima, tulus saling menjaga. (Akashi Tetsuya. PoV).

"Tetsuya-sama, anda tidak boleh pergi sendiri" lelaki paruh baya masih bersikukuh untuk menemani, meski tetsuya mayakinkan jika semua akan baik-baik saja meski ia tak ditemani.

"Saya mohon Tetsuya-sama, ini adalah amanat dan bagian dari pekerjaan saya" pinta lelaki itu tulus, melihatnya Tetsuya jadi tak tega, mengingat hatinya yang mudah luluh apalagi pada orang tua yang mengingatkan dia pada sang ayah yang kini tinggal jauh di Tokyo sana.

"Baiklah, Fujiwara san bisa menemani saya" akhirnya sang majikan mengalah juga, membuat pelayan yang menjadi kepercayaan keluarga Akashi itu bernafas lega.

Usia kandungan yang semakin menua, tepatnya sudah memasuki pertengahan bulan ke tujuh, kurang dua minggu lagi sudah masuk bulan ke delapan. Sesuai jadwal rutin yang memang bagian dari kesepakatan dengan sang suami yang mungkin sebentar lagi menjadi mantan, Tetsuya harus rutin memeriksa keadaan bayi mereka.

Meski tak menjaganya bersama karena keputusan pisah rumah, namun Tetsuya merasa punya tanggung jawab sebagai seoarang ibu untuk memastikan bahwa anaknya tetap dalam keadaan baik-baik saja, tentu saja ia melakukan segala pemeriksaan rutin bukan karena kesepakatan itu semata, tapi karena memang dia adalah ibu dari anaknya.

Mata biru bulat fokus memandang arah jalannya, tangannya sesekali menopang, lalu mengelus sayang bulatan bundar yang kian memberat pada perutnya.

Dari hasil pemeriksaan yang baru saja ia lakukan, bayinya masih dalam keadaan sehat dan baik-baik saja, untuk menambah kondisi fit tubuh sang ibu, dokter hanya memberi beberapa resep berupa vitamin untuk menambah tenaga.

Langkah kaki terhenti, begitu mendapati sosok lama yang tak ia temui berdiri tepat dihadapannya.

"lama tak bertemu, bagaimana keadaanmu"

shintarou berinisiatif menyapa duluan, semenjak memutuskan berjalan bersisian lalu mengambil duduk disalah satu bangku taman Rumah sakit keduanya seolah kompak untuk tak bersuara.

"Seperti yang kau lihat" balasnya disertai dengan senyum tipis.

"Bagaimana bayimu?"

"Baik"

Suasana masih tak juga kunjung mencair, terlihat dari bagaimana kakunya percakapan dari keduanya yang disertai dengan jeda keheningan yang cukup lama.

"Tetsuya"

akhirnya nama itu kembali terucap dari belah bibirnya. Nama yang butuh waktu berbulan-bulan untuk bisa ia lupakan.

"Hmmm" Tetsuya pun sepertinya merasakan hal yang sama, rasanya terlalu canggung untuk kembali terlibat percakapan yang biasa.

"Bagaimana hubunganmu dengan Seijurou"

"………" Tetsuya memilih diam, baginya orang itu bukanlah topic yang harus ia bicarakan.

"Aku tak tahu bagaimana perasaanmu saat ini, tapi kuharap kau tak membohongi dirimu, aku tak ingin kau terluka lagi" ucap Shintarou jujur.

"tak ingin aku terluka ya" bibir tipis mengulas senyum samar.

"bukankah aku sudah terluka" ucapnya dengan nada datar, tak disertai emosi yang menguar.

"masa lalu tak baik diungkit, kau ahrus mulai membuka pikiranmu untuk masa yang akan kau jalani nantinya-" Sesaat shintarou menjeda ucapannya.

"awalnya, aku mungkin tak percaya dengan Seijurou. Melihat bagaimana dirinya, Aku sudah hafal pengarainya karena kami tumbuh bersama. Tapi satu hal yang ingin ku beritahu. Perasaannya padamu memang benar adanya, bukan karena ia terobsesi atau semacamnya. Dia banyak berubah setelah kalian menikah" Shintaraou bermonolog panjang lebar.

"Jadi kau membelanya sekarang-" ia masih tersenyum

"secepat itukah kau melupakanku" ucapan itu keluar begitu saja, tak ada niat tersembunyi dibaliknya, Tetsuya hanya sekedar menggoda tapi sukses membuat shintarou salah tingkah namun dengan cepat disembunyikannya.

"aku tak pernah lupa tentangmu, tapi aku harus melupakan tentang kita. Karena kita hanya berada di masa lalu, dan sekarang kau punya kehidupan sendiri begitu pun denganku" shintarou terlihat berhati-hati, bagaimanapun ia tak ingin menyinggung ataupun menyakiti, apalagi orang itu pernah menjadi yang tertinggi di dalam hati.

"aku bercanda" Tetsuya akhirnya mengklarisifikasi, ia tak tega untuk menggoda sang mantan lebih jauh yang ternyata kini semakin dewasa, tak hanya penampilan namun juga cara pikirnya.

Keduanya akhirnya berbicara tentang banyak hal, tanpa sadar suasana pun ikut mencair dengan sendirinya hingga percakapan itu harus berakahir ketika shintarou kembali pada aktifitasnya, dan Tetsuya pun harus kembali ke kediamannya.

"Bagaimana keadaannya? Kau sudah pastikan semuanya baik-baik saja" samar-samar Tetsuya tak sengaja menangkap pembicaraan sang pelayang dengan seseorang lewat telepon genggam.

Merasa bukan urusannya, ia tak perlu melanjutkan untuk menguping dan langsug masuk ke dalam mobil.

Meski Tetsuya adalah seorang majikan, namun jika sang pelayan punya urusan pribadi semisal melakukan atau menerima panggilan telepon, ia masih punya hati untuk tak menginterupsi meski jelas ia punya wewenang untuk berbuat demikian, hal inilah yang membuat Tetsuya mendapatkan tak hanya rasa hormat dan perhatian namun rasa sayang dari setiap pelayan yang ia anggap sudah seperti keluarga sendiri.

"Maafkan saya Tetsuya-sama, anda jadi menunggu seperti ini" ucap sang pelayan penuh penyesalan.

"Tidak apa fujiwara-san".

~0o0~

Sepasang kaki jenjang berjalan dengan tergesa, gesekkan alas mahal sepatunya dengan lantai terdengar begitu jelasnya. Mungkin karena malam yang semakin larut, ditambah sunyinya mansion megah yang hanya meninggalkan seoarang pelayan yang sepertinya sudah tahu akan kedatangan sang majikan.

"Apa Tetsuya sudah tidur?" tanyanya sambil tak sedikitpun menghentikan langkah, mata dengan iris beda warnanya melirik pergelangan tangan yang dilingkari tari rantai keperakkan. Tengah malam lewat 30 menit, langkahnya semakin ia percepat, tak ingin membuang waktu lebih lama ditambah rasa rindu yang kian menggelora setiap kali bayangan orang tercinta muncul dalam benaknya.

Ia berjalan sendiri karena sejak kaki menginjak tangga pertama, sang pelayan sudah cukup hafal untuk tak terus mengikuti tuannya.

Tangannya membuka pintu dengan hati-hati lalu kembali menutupnya dengan kehati-hatian yang sama, tak ingin membangunkan sosok yang tengah tertidur damai di atas ranjangnya. Seulas senyum tulus terlukis. Selalu seperti itu setiap kali ia melihat bagaimana teduhnya wajah malaikat biru mudanya.

Ia mendekat, lalu mengambil posisi duduk di sisi ranjang yang kosong. Tatapan penuh sayang yang setiap malam ia bagi tanpa diketahui oleh Tetsuya.

"Bagaimana kabarmu hari ini jagoan"

Seijurou mulai bermenolog seperti malam-malam sebelumnya. Berbicara dengan lugasnya pada sosok makhluk hidup yang masih berada dalam rahim ibunya.

"Apa kau menjaga ibumu dengan baik hari ini" ia mulai menyentuh dengan amat pelan. Seakan tengah memegang sepasang tangan mungil sang jagoan yang sudah ia tahu adalah laki-laki, seperti harapannya.

"Jagoan ayah sangat pintar, tak menyusahkan ibumu hari ini" senyum tulus tak hentinya ia umbar. Lalu tatapan itu kini beralih pada si ibu bayi yang terlihat begitu nyaman dalam tidunya.

"bagaimana kabarmu sayang" telapak tangannya tergoda untuk membelai pipi yang kini terlihat lebih berisi. Namun ia urungkan, takut menganggu tidur nyenyak yang jarang bisa dinikmati oleh Tetsuyanya.

Sejak hamil, Tetsuya kadang mengalami beberapa hal yang tak mengenakkan, termasuk posisi tidur yang tak pernah terasa nyaman, terjadi terus menerus di trimester pertama kehamilannya dan seijurou merasa cukup bersalah karena harus meninggalkan Tetsuya yang menderita sendirian, untungnya memasuki bulan ke empat dan seterusnya, gangguan itu seedikit berkurang, hingga tak ia dapati lagi kantong mata yang melingkar pada wajah Tetsuya setiap ia berkunjung malamnya secara diam-diam.

"Aku merindukanmu, sayang" ia kembali bermonolog sendiri. Mengucap tentang bagaimana rindunya ia seperti malam-malam sebelumnya, bagaimana ia bekerja dengan terus terbayang wajah Tetsuya yang kian bulat karena hamil membuatnya kadang tertawa sendiri.

Seijurou terus berbicara seolah tetsuya, mendengarkan dan menanggapi setiap ceritanya. Baginya terasa cukup menyenangkan, sampai kadang ia bisa berbicara sampai menjelang pagi, dan ia sangat benci akan hal itu karena harus pergi sebelum Tetsuyanya bangun.

"Aku ingin sekali memelukmu, mendekap anak kita bersama-sama, pasti ia akan sangat menyenangkan ya" maniknya menyiratkan keinginan itu begitu dalam, sangat sederhana namun ternyata tak bisa ia wujudkan. Tanpa sadar waktu berjalan terasa cepat, hinggap pagi yang dia benci mulai menunjukkan diri, itu artinya Seijurou harus segera pergi.

Berat rasanya berpisah dengan anak dan isterinya, namun ia masih punya waktu lagi tengah malam nanti untuk mengunjungi keduanya kembali. Seperti biasa, kunjungannya malam menjelang pagi itu pun di tutup dengan satu kecupan penuh cinta tepat di kening putih Tetsuya.

Seijurou menguatkan dirinya untuk segera beranjak, sesekali ia menengok untuk memastikan kembali jika kedua orang yang paling penting baginya akan baik-baik saja. Hingga pandangannya pun harus terputus ketika daun pintu kembali tertutup rapat.

Iris biru muda membuka, tangan kecil yang terlihat membengkak sampai pada jari-jarinya mengusap lembut pada bekas kecupan yang masih jelas terasa.

~TBC~

Hay-hay, setelah 46 hari lewat akhirnya muncul kembali di fic ini ya. . hahaha

Saya bukannya lupa kok, atau mau kabur dari sini.

Dan lagi, lagi dan lagi

Sebenarnya mau berencana end disini, padahal kemarin chapter 10 mau end

Dan 11 juga (meski rencana) karena saya gak kuat ngetik dan ngeditnya. . . jadi maafkan daku ya yang kembali memperpanjang lagi satu chapter. . hihihi

Dan lagi Masih sama dengan drama yang belum putus juga ya di fic ini. . sampai buat reders bosan. Tapi, udah mulai ada titik terang walau secuilkan. . Ckck

Spesial thanks yang masih mau baca, yang review, follow dan favorit. .

Fic ini tanpa kalian mah tak ada apa-apanya. .

See u next chap