.

.

.


HEART OF EMPEROR

Heart of Emperor

Heart of Emperor©Hachi Breeze

Character adapted©Naruto©Masashi Kishimoto

©SasuHina

©2013


.

.

.

Hinata menyerahkan barang yang baru di belinya kepada Itachi. Pemuda itu tersenyum sebelum mendekati shoji kamar dimana Hanabi berada. Ia meletakan kimono itu di depan shoji agar Hanabi bisa mengambilnya. Hinata berjalan menjauh dari tempat itu bersama Sasuke. Ia masih mengelus obi tepat dimana ada tali mantra yang berguna untuk menekan dan menyembunyikan energinya. Sasori membuka shoji dengan napas yang terangah-engah. Sasuke dan Hinata hanya menatap bingung.

"Kita –hah- harus segera –hah- pergi dari sini! SEKARANG!"

Dan semua orang pun jadi kalang kabut hingga membuat semua orang di penginapan jadi bingung.

"Ada apa ini?"

Sasuke membantu Hinata memasukan semua barang-barang ke dalam kain. Sementara Itachi mengetuk shoji dengan gelisah ketika Hanabi masih mengganti kimono. Naruto dan Sai masih terengah-engah di belakang Sasori. Ketiga pemuda itu masih berdiri di depan shoji sambil mengatur napas mereka. Gaara membantu Sakura dan Ino untuk membereskan barang-barang dengan cepat.

"Aku melihat, dalam pikiranku tentang masa depan … Orochimaru akan menemukan kita disini jika kita tak segera pergi."

"Apa?!"

Semua orang yang ada di dalam sana menjerit kecil ketika Sasori masih menjelaskan dengan aturan napasnya yang belum kembali normal. Pemuda Akasuna itu menghirup banyak-banyak oksigen untuk di hembuskan kembali menjadi sebuah energi. Hanabi membuka shoji dengan kimono yang baru dibeli Hinata. Itachi membereskan barang-barang sambil sesekali melirik Hanabi yang juga mulai berjalan menuju kamarnya. Tali mantra yang digunakan oleh Hanabi masih terpasang rapi di obi kimono barunya.

"Maaf, mungkin ini salahku. Tali mantra yang diberikan oleh Sasori-san, Sakura-san, dan Ino-san hilang sewaktu aku berada di desakan orang-orang tadi."

Hinata meraba kain obinya sambil menunduk. Sasori menggigit jemarinya sambil melirik Sakura dan Ino. "Itu benda yang sulit dibuat. Apalagi mantranya sangat rumit untuk ditulis. Membutuhkan berhari-hari untuk membuatnya."

"Aku masih memilikinya. Kau tenang saja."

Hanabi berjalan bersama Itachi mendekati Hinata. "Pergilah. Aku bisa menjaga diri,"

.

.

.

Sasuke memeluk tubuh Hinata dengan erat ketika menunggang kuda. Gadis itu sedikit duduk dengan gelisah ketika kimono yang dikenakannya terasa sesak. Di belakang mereka, Naruto dan Sakura menunggang kuda bersama. Di ikuti Sasori di belakang untuk berjaga-jaga. Mereka berlima menunggang kuda menuju bagian selatan wilayah kekuasaan kerajaan Sabaku. Memilih tempat terpencil dengan bantuan prediksi ramalan Sasori yang bersama dengan mereka, berjaga-jaga untuk Hinata yang tak memiliki perisai lagi.

Sakura menengok kebelakang memeriksa Sasori. Dada bidang Naruto menghalangi pandangan Sakura yang duduk di depannya. Naruto memandang sekilas Sakura yang memerhatikannya. Ia tersenyum kemudian menyambut pandangan Sakura. Rambut pirangnya bergerak cepat bersamaan angin yang menghembuskannya ketika berkuda. Sakura memalingkan pandangannya untuk memandang ke depan. Mencoba mengalihkannya dari wajah Naruto yang kini menatapnya bingung.

Kuda yang mereka tunggangi tak mengeluarkan suara apapun selain deruan napas berat dan derap langkah menggebu di kaki mereka ketika membelah jalanan yang sepi. Dahan-dahan pohon yang kering membuat suara berisik lainnya. Suara hewan yang bergerak juga menimbulkan suara lain yang mengisi ketenangan hutan kecil itu. Mereka berlima perlahan menurunkan kecepat berkuda mereka. Mulai berjalan pelan sambil menyusuri jalanan kecil di antara sela-sela pohon besar. Sasuke menatap wajah Hinata yang menyandarkan kepalanya di dada bidangnya. Gadis itu memejamkan matanya sambil mengatur napasnya yang sedikit berantakan.

Sasori berganti posisi mengisi barisan terdepan dengan kuda yang ditungganginya. Pemuda itu mengeluarkan sesuatu dari dalam kimononya. Rambut merahnya berantakan. Ia menatap sesuatu yang kini di pegangnya sambil menghembuskan napas pelan. Omikuji yang ada ditangannya hanya dipandangi sambil melafalkan beberapa mantra. Sakura menuruni kuda yang ditungganginya bersama Naruto. Ia berganti kuda untuk bersama Sasori. Ia melafalkan mantra yang sama dan mengikuti apa yang dilafalkan oleh pemuda itu dengan hati-hati. Mereka berdua membuat sebuah mantra pelindung. Hutan kecil yang tak begitu menyeramkan mengantarkan mereka pada ladang rumput yang luas. Di ujung sana terdapat gubuk kecil. Sasori dan Sakura sudah selesai membuat mantra pelindung untuk daerah ini, membuat sebuah dinding yang awam untuk di tembus.

"Kita bisa sedikit lebih santai setelah ini. Selebihnya, keadaan akan baik-baik saja kedepannya."

Mereka berlima melanjutkan untuk menuju ke gubuk.

Hinata masih menyandarkan kepalanya di dada Sasuke. Gadis itu masih terlelap disana dengan iringan debaran jantung Sasuke sebagai penenangnya. Sasuke menerawang jauh ke depan. Sesekali ia membelai lembut wajah Hinata dengan sebelah tangannya. Hanya Naruto satu-satunya yang merupakan seorang Inggris dengan pengetahuan yang luas berkat didikan keluarganya. Pria perpaduan Inggris dengan Jepang membuatnya memiliki banyak sekali wawasan. Ia sudah menyiapkan siasat bersama Sasori di depan.

"Aku bisa menyiapkan senjata dari negeriku jika kalian tidak keberatan. Kami memiliki senjata yang tak akan bisa kalian duga."ucap Naruto dengan sedikit menyeringai.

"Kita bisa membuat jebakan jika mereka menyerang. Kita gunakan hutan sebelum mereka menemukan kita, lalu kita akan menggunakan tembak dan meriam jika perlu."

"N-Naruto-san, itu mengerikan sekali kedengarannya."

"Habisnya, katana sangat sulit untuk digunakan! Menembak akan lebih cepat."

.

.

.

Gaara masih melirik kuda yang ditunggangi oleh Itachi dan Hanabi yang ada di depannya. Keduanya masih bercakap-cakap. Sai yang menunggang kuda bersama Ino di sampingnya masih terabaikan oleh pandangan Gaara. Ino masih menuliskan beberapa mantra di atas kuda putih Sai. Pemuda yang duduk di belakangnya tidak keberatan dengan tindakan sang miiko itu. Malah ia sering bertanya dengan apa maksud mantra yang dituliskan di atas kuda putih kesayangannya itu. Ino hanya tersenyum sambil mengeluarkan beberapa peralatan lain dari kimono kuningnya. Mereka berlima memilih jalur memutar menuju bagian Utara untuk melewati kerajaan Sabaku sebelum pada akhirnya kembali ke kerajaan Uchiha. Hanabi masih tersenyum kecil sambil menggenggam erat tali yang mengendalikan kuda. Desa yang mereka lewati tak begitu sepi dan juga tak begitu ramai. Hanya orang-orang yang berlalu lalang tanpa tujuan. Beberapa toko juga buka.

Orochimaru masih menunggang kuda dengan melirik beberapa rumah mencari sesuatu. Hanabi dan Ino hanya memalingkan wajah mereka sambil menutup mata ketika pria itu berpapasan melewati mereka. Orochimaru hanya memandang sebelah mata dengan kehadiran mereka, hanya saja ia tak terlalu peduli karena tujuannya memang bukan itu. Ino menghembuskan napasnya berat sambil melirik rambut-rambut kuda.

"Kurasa ini sedikit berbahaya Hanabi-san,"

"Kita harus tetap lanjutkan Ino-san, tak kusangka jika ramalan sederhana Sasori memang ada benarnya."

Ino menghembuskan napasnya pelan sambil menggulung mantra yang sudah ia persiapkan.

.

.

.

"Jadi, apa yang harus kita lakukan saat ini?"

Sasuke memandang Sasori yang masih meniup-niup ayam panggang yang baru saja Sakura bakar. Gadis itu menggunakan beberapa mantra untuk memanaskan kayu bakar dengan cepat. Sementara Naruto tiduran karena kekenyangan, pemuda itu sungguh rakus sekali jika makan.

"Kita harus melawannya."

"T-Tunggu Hinata-sama, ki-kita-"

Hinata memalingkan wajahnya menatap Sasori dengan tajam, bukan seperti Hinata yang biasanya. Walaupun Sasuke bisa melihat bahu bergetar Hinata, pemuda itu hanya diam dan memerhatikan saja. Gadis ini sudah banyak berubah setelah kain penutup wajahnya ia tinggalkan. Sasuke hanya tersenyum tipis jika mengingat itu.

"Dia sudah banyak menciptakan penderitaan, aku ingin menghentikannya."

'Tapi Hinata-sama, dalam keadaan jiwa yang setengah seperti anda dan Hanabi-sama pasti sangat sulit. Harusnya … harusnya …,'

Naruto bangun dan sedikit tersenyum. Pemuda asing itu memejamkan matanya dan menunjukan senyuman paling hangat miliknya, "Tenanglah Hyuuga, jika kau ingin bertarung maka aku akan membantumu dengan senjata yang paling baru!"

Hinata tertegun. Bahunya juga berhenti gemetar. "A-Aku juga, Hinata-sama. Aku akan berusaha sekuat tenaga untuk membuat mantra pelindung dan mengembalikan kondisi anda yang baik."

"Kau masih memilikiku, ingat? Aku juga seorang samurai tangguh. Aku petarung hebat, aku akan bertarung untukmu jadi berkonsentrasilah dan jangan jauh-jauh dariku."

Tangan lembut Sasuke membuat Hinata ingin menangis. Sakura dan Naruto juga sama tersenyumnya. Api unggun yang mereka lingkari tengah malam hari itu dengan mantra penghalang yang melindungi mereka dari sihir jahat membuat kehangat tersendiri, hanya saja disana Sasori masih bingung harus menjelaskan bagaimana kedepannya tentang ramalannya.

"Tapi," suara Sasori yang pelan membuat semua yang ada disana berhenti dan mendengarkan pemuda itu.

"Tapi, jika anda melakukan itu … Hinata-sama, harusnya … harusnya … kedua jiwa anda dan Hanabi-sama harus menjadi satu. Tidak boleh terpisah."

"M-Maksudmu harus ada salah satu yang dikorbankan?!"

Sasori hanya mengangguk perlahan, kemudian suasana mendadak hening tenggelam dalam keterkejutan yang mencekat.

"Dengarkan aku Sasuke-san, di omikuji terakhir ini … masa depan akan terlihat jelas jika kau bisa menjaga Hinata-sama hingga akhir. Menjaga roh bulan yang ada di tubuh Hinata-sama untuk tetap utuh. Bukan berarti Hanabi-sama harus dikorbankan, kita hanya harus menjaga keduanya tetap stabil. Tidak boleh saling mencuri, jika semua ini berhasil … masa depan akan untuk kita semua akan terjamin."

"Dan?"

"Sebenarnya, akan ada sesuatu."

Sasuke tercekat. Tiba-tiba ia mengingat percakapannya dengan Sasori ketika sebelum dirinya dan Hinata hampir tenggelam. Ia mendongak dan mendapati wajah gelisah Sasori. Jadi, maksud perkataannya waktu itu adalah ini.

"Tapi bukankah dulu kau pernah bilang jika tidak boleh-"

"AKU TAHU ITU! Tapi kondisinya sekarang sedang berantakan. Ada kabut tebal yang menghalangi penglihatanku. Masih samar untuk menentukannya sekarang, hanya saja jika ada yang bisa kita lakukan hanya ada dua. Maju dengan mengorbankan salah satu, atau kita maju bersama-sama dengan kekuatan seadanya."

"Aku akan memilih Hanabi, aku percaya padanya."

Semuanya terkejut memandang Hinata yang mengucapkannya dengan tegas. "Tapi,"

"Jika kalian tetap memertahankanku hanya karena alasan roh dewa bulan yang suci ini, aku tidak bisa membiarkan adik ku terbunuh. Aku tak peduli jika air dan api tidak bisa bersatu, aku tetap percaya padanya. Aku tidak peduli jika aku yang di korbankan, d-daridulu … daridulu selalu aku yang dikorban-"

"Jangan berkata bodoh." Air mata Hinata menetes tepat di pundak Sasuke. Pelukan pemuda itu mengetahui semua kebohongan yang sudah ditahannya sejak tadi, ketakutan yang disembunyikannya sedari tadi. Sasuke daridulu selalu mengetahuinya.

"M-Mau bagaimana lagi? K-kita tidak punya pili-"

"Bukankah ada pilihan kedua? Aku kan sudah mengatakan kepadamu juga jika aku akan bertarung untukmu."

"Kalau begitu, kita buat itu sebagai rencana cadangan. Anda pastinya sudah tahu bukan bagaimana caranya mengambil atau menyerahkan roh?"

"Ya,"

"Kau seakan-akan semuanya akan berakhir saja. Kita harus mencobanya."

"S-Sasuke … ," 'a-aku tidak ingin mati.'

.

.

.

Hanabi membuka matanya secara tiba-tiba. Mengejutkan Itachi yang berada di sampingnya. "Ada apa?"

"Kita susul yang lainnya, perasaanku berkata tidak enak."

"Baiklah, besok kita akan bersiap-siap."

"Sekarang, kumohon. Sebelum semuanya terlambat dan perasaan ini semakin membuatku merasa tidak enak."

.

.

.

"Perang baru saja dimulai."


[To be Continued]


Maaf saya tidak bisa membalas Reviewnya satu-satu. saya sangat berterima kasih karena telah menunggu. chapter depan adalah yang terakhir.

Terima kasih.

-Hachi Breeze