Everything belong to JK Rowling, I'm just having fun.

Chapter 11

Suara kicauan burung serta wangi tanah yang terguyur hujan semalam bercampur dengan sinar matahari yang menerobos di setiap balik pepohonan membuat segalanya menjadi terasa sempurna. Hari ini menjadi sangat sempurna. Udara dan suasana musim panas menambah keceriaannya. Senyum yang terkembang dari semua orang terdekatku membuat semua ini terkesan benar-benar tak bercela. Tetapi, tidak dengan perasaanku. Aku dihinggapi perasaan yang tak karuan. Perutku mual tak menentu. Tubuhku menjadi panas dingin. Telapak tangaku terus menerus berkeringat tanpa aku tahu penyebabnya. Gaun putih itu tergantung apik di sudut ruangan sementara aku hanya menggunakan korset dengan rambut yang sudah tertata rapih dan riasan wajah yang sudah terpasang sejak beberapa saat yang lalu.

"Mione."

Aku terlonjak saat mendapati Ginny berada di ambang pintu kamar ini. "Bloody hell, Gin. Jangan mengejutkanku seperti itu lagi," racauku.

Ginny menatapku pongo lalu mengedutkan sudut bibirnya kemudian berjalan ke arahku. Sama sepertiku ia juga sudah menata rambut dan merias wajahnya serta telah menggunakan gaun pengiring pengantin bewarna lilac pilihannya. "Kau belum memakai gaunmu?" tanyanya yang duduk di kursi riaku tadi.

Aku menggeleng lalu menghela napas. "Wedding jitters?" ujarnya kemudian menggeser kursi itu hingga berada tepat di hadapanku.

"Perutku mual, tubuhku panas dingin, dan berkeringat seperti babi, Gin."

Dia tertawa mendengarku. "Aku kira wanita seperti Hermione Granger tak akan mengalami hal ini."

"Bukan waktu yang tepat untuk bercanda, Ginevra," ujarku ketus.

Dia mengangguk. "Baiklah, pernikahanmu akan diselenggarakan satu jam lagi. Jadi, sekarang katakan apa yang mengganjal di hatimu sebelum kau berubah menjadi Maggie Carpenter dan menggemparkan semua orang."

Alisku mengerut. "Maggie Carpenter? Runaway Bride?" tanyaku

Ia mengangguk. "Oh Gin, aku tak tahu bahwa kau menontonnya."

"Mione, kau kehilangan fokus. Bukan hal itu yang akan kita bahas sekarang," ujarnya kesal.

Aku terkekeh. "Entahlah, Gin. Aku takut bahwa semua ini adalah kesalahan. Bagaimana bila keputusan ini salah? Bagaimana bila Draco nanti bertemu dengan wanita yang lebih dariku dan memutuska untuk meninggalkanku? Bagaimana bila ia berubah pikiran dan menuntut anak dariku? Bagaimana bila Draco sadar bahwa sebenarnya ia tak begitu mencintaiku dan kami terjebak di dalam kehidupan tak bahagia selamanya?" aku menjabarkannya dengan terlalu cepat sampai rasanya volume oksigen di paru-paruku menipis.

Ginny hanya mengangguk-angguk. "Sudah selesai?" tanyanya santai.

"Oh Merlin, Ginny!"

"Hermione Granger, dengarkan aku. Apa yang terjadi di masa depan sudah ditakdirkan bahkan sebelum kau di lahirkan. Bila kau terus berpikir bagaimana bila ini dan bagaimana bila itu kau tak akan mendapatkan kebahagiaan dan kau bisa gila. Aku tak siap memiliki sahabat dengan gangguan mental seperti Malcom bersaudara itu."

Aku terkekeh mendengar komentar terakhirnya. "Aku tahu kau mencintai Draco dan begitupula sebaliknya. Kau sudah berada di titik ini. Di titik dimana kau akan memulai lembaran baru bersama Draco yaitu pernikahan. Kau tak bisa memprediksi apa yang akan terjadi di dalamnya. Jalani itu bersama suamimu nanti. Bila ada masalah kalian akan duduk dan mencoba menyelesaikannya bersama, itulah yang disebut pernikahan."

"Apa aku harus bertepuk tangan dan menghapus air mata karena mendengar motivasi pernikahanmu tadi?"

Ginny mendengus. "Jadi, kau siap menikah atau tidak?"

Ginny yang kukenal telah kembali. Dalam sekejap saja kearifan dan kebijaksanaannya tadi hilang begitu saja. Aku mendengus dan bangkit untuk mengambil gaunku. "Bantu aku memakainya, sebelum aku berubah menjadi Maggie Carpenter dan melarikan diri dari jendela ini."

000

Semilir dan matahari pagi serta suara dentingan piano menjadi penyambut ke datanganku. Di balik sepatu berhak tinggi dan gaun pernikahanku ini, embun yang masih tersisa di rerumputan halaman Malfoy Manor terasa menyejukan disana. Dengan kegugupan di atas rata-rata aku mulai berjalan dengan diapit oleh dua pria kesayangan di dalam hidupku. Aku menatap Harry dan Ron secara bergantian. "Kau siap?" bisik Ron dan aku mengangguk.

Seandainya ayah dan ibuku dapat menghadiri pernikahanku mungkin kebahagiaan ini akan menjadi lebih sempurna. Namun, secepat kilat aku menggeleng untuk mengenyahkan pikiran ini.

Kami berjalan beriringan sampai tiba di tujuan awal kami yaitu Draco Malfoy. Ia berdiri tegak di bawah kanopi bunga bewarna lilac yang juga hasil ide kreatif Ginny dengan tuxedo hitam membuat kulitnya terlihat kontras dan sangat tampan. Saat pandangan kami bersatu aku baru sadar bahwa aku akan menikah dengan salah satu dewa di mitologi Yunani. Pikiran ini membuatku tersenyum seperti orang bodoh.

Saat Harry menyerahkan tanganku padanya ia tersenyum padaku. Kingsley yang kami minta untuk menikahkan kami telah berdiri menjulang di hadapan kami. "Kita berkumpul disini, di pagi yang cerah ini untuk menjadi saksi atas penyatuan dua insan. Bila ada yang merasa keberatan dengan pernikahan ini silahkan berbicara sekarang atau diam untuk selamanya."

Setelah tak ada respon apapun dari tamu yang datang Kingsley melanjutkannya. "Draco, Hermione, silahkan ucapkan janji pernikahan kalian."

Draco menatapku kemudian mengambil kedua tanganku dan menggenggamnya. Aku tahu ia sama gelisahnya denganku. Setelah ia menghela napas ia memulai janjinya. "Aku, Draco Lucius Malfoy berjanji padamu, Hermione Jane Granger untuk menjadikanmu istriku, menjadikanmu teman hidupku, menjadikanmu kekasihku selama-lamanya. Di hadapan Tuhan dan seluruh teman-teman kita aku berjanji untuk tetap mencintaimu tanpa syarat, dalam sehat ataupun sakit, dalam suka maupun duka. Aku akan tetap mencintaimu meski kau sedang meracau karena terlalu banyak alkohol di dalam darahmu atau disaat kau sedang marah dan membenciku. Aku berjanji sejak saat ini sampai maut memisahkan kita. Dan Hermione Granger, jangan pernah berhenti menggodaku."

Aku mendengar kekehan dari Blaise dan Theo di kursi sana dan senyumku ikut mengembang dibuatnya. Kugenggam tangan Draco semakin erat dan menatapnya sangat lekat. "Aku, Hermione Jane Granger memilihmu, Draco Lucius Malfoy untuk menjadi suamiku yang sah di mata Tuhan dan di mata masyarakat. Aku memilihmu untuk menemaniku selamanya. Aku memilihmu untuk menjadi teman, partner kerja, serta kekasihku sampai aku tak sanggup lagi bernapas. Aku akan mencintaimu tanpa syarat meski terkadang kau sangat menyebalkan dan tukang perintah. Aku akan menjadi milikmu di dalam sehat atau sakit, di dalam senang ataupun duka mulai sekarang sampai maut memisahkan kita. Dan yaa, Draco Malfoy. Aku tak akan pernah berhenti untuk menggodamu."

Kali ini bukan hanya Blaise dan Theo yang tertawa, tapi semua orang yang datang. Kingsley mengangkat tangannya. "Dengan kekuatan hukum sihir London yang dilimpahkan padaku, aku nyatakan kalian sebagai suami istri sekarang. Kau bisa mencium Nyonya Malfoy sekarang," ujarnya yang disambut dengan seringaian darinya lalu mendekatkan wajahnya kepadaku.

"Aku mencintaimu," bisiknya sebelum menciumku.

Tepuk tangan dari para tamu membuat ia melepaskanku. Dengan senyum terbahagiaku aku memegang pipinya. "Aku juga mencintaimu."

000

A year later

"Kau kenapa sebenarnya?" tanya Draco dengan suaranya yang mulai meninggi.

Aku hanya memandangnya kesal dan berjalan meninggalkannya ke dapur. Kubuka lemari pendingin dan mengeluarkan air mineral di dalamnya kemudian menenggaknya tak karuan. "Bicara, Hermione."

Aku masih menatapnya dingin dan tetap tak berbicara. Kuendus tubuhnya sesaat dan meninggalkannya kembali menuju kamar kami. "Hermione," panggilnya.

"Jangan berteriak, Draco. Ini tengah malam," ujarku saat ia sudah bergabung bersamaku di kamar.

"Bila kau tak ingin aku berteriak katakan apa yang sebenarnya terjadi. Kau memasang muka masam saat aku kembali dan mendiamkanku seperti ini."

Aku bersedekap di pinggir ranjang kami dan masih menatapnya dingin. "Kau darimana sebenarnya?" tanyaku.

Ia masih berdiri di hadapanku dengan alis yang mengerut. "Kau tahu aku kemana. Aku ke kantor sebentar lalu bertemu dengan investorku untuk sekadar minum."

"Di akhir pekan dan tengah malam. Kau berharap aku mempercayainya?" tandasku.

"Merlin, Hermione! Kau berpikir aku berselingkuh?"

"Tak ada yang tahu," jawabku cepat lalu bangkit dan masuk ke dalam kamar mandi mengganti bajuku dengan gaun tidur satinku.

Saat keluar Draco sudah duduk di tempatku tadi. "Kau berpikir bahwa aku akan berselingkuh dan berkhianat terhadapmu?" tanyanya.

Aku tak menjawabnya lalu duduk di depan meja riasku kemudian memulai untuk memakai krim malam untuk wajahku. "Aku bertanya padamu, Hermione."

Kali ini aku tak sanggup lagi menahannya. Aku bangkit dan berjalan ke hadapannya. "Benar! Aku berpikir seperti itu. Aku takut kau berkhianat seperti pada pernikahan pertamamu. Seperti yang kita lakukan dulu. Aku takut semua itu terjadi."

Tanpa menunggu jawaban darinya aku menghambur keluar menuju ruang belajar kami. Kunyalakan perapian di dalamnya karena hawa November tak akan penah bersahabat di malam hari. Kutuangkan wine ke gelas dan duduk di depan perapian dengan air mata yang kutahan. Bagaimana mungkin aku bisa menjadi wanita sebodoh ini? Aku yakin Draco tak akan mengkhianatiku, tapi aku menjadi sangat pencemburu semenjak bersamanya. Kuseka air mata yang perlahan turun dengan ujung jubah tidurku dan sesekali menyesap minuman di tangan.

Kurasakan sofa di sampingku berderak dan Draco sudah duduk di sampingku. Ia mengambil gelas yang berada di tanganku lalu ikut menyesapnya. "Aku minta maaf bila menimbulkan perasaan seperti itu padamu. Aku tak akan pernah pulang melewati tengah malam lagi tanpa kau bersamaku. Aku tak akan pernah sanggup mengkhianatimu, love."

Aku menatapnya. "Aku yang seharusnya minta maaf karena meledak seperti itu. Tak seharusnya aku bertingkah seperti remaja ingusan. Aku tahu kau tak akan pernah melakukan hal itu padaku."

Draco meletakkan gelas yang ia pegang tadi dan menarikku ke dalam pelukannya. Aku bersandar di dadanya dengan dagunya yang nyaman berada di puncak kepalaku. Tangannya dengan lembut membelai rambutku. "Kau tahu, orang-orang mengatakan tahun pertama pernikahan adalah tahun terberat."

Aku terkekeh mendengarnya. "Kurasa teori itu benar."

"Ayo tidur. Besok masih akhir pekan, aku tak mau melewatkan sleepy lazy sex kita."

Aku mendengus dan berjalan ke kamar bersamanya.

000

The years later

Aku masih memandang dan menunggu sampai kapan para remaja perempuan itu yang dengan sangat antusiasnya memandang kedua lelaki itu pergi dari tempatnya. Masih dengan troli di hadapan yang berisi segala macam makanan serta kebutuhan bulanan kami aku memperhatikan mereka. Apa yang sebenarnya para remaja itu pikirkan saat melihat seorang pria dengan anak di gendongannya? Apakah mereka tak berpikir bahwa suamiku lebih cocok menjadi paman atau terlebih lagi ayahnya darpada objek cinta monyet mereka. Sesekali Draco memandangku dari kejauhan dan aku hanya mengedik dan ia kembali sibuk di memilih jus buah mana yang akan ia beli. Aku tersenyum melihat kedua lelaki favoritku itu. Benar sekali. Aku dan Draco telah memiliki seorang putra, Scorpius Abraxas Malfoy. Kutuk saja Draco karena memberikan nama seseram itu pada putra kami. Kudorong troliku menuju lorong berisi diapers dan mulai memilih mana yang cocok untuk Scorp. Tatapan tertuju pada pasangan muda dengan bayi mungil di tangannya. Ingatanku kembali pada saat Scorp masih bayi seperti itu dan saat pertama kali aku mengetahui bahwa aku hamil yang seluruhnya berada di luar kendaliku.

Pagi itu aku duduk dengan tatapan pongo melihat sebuah benda berbentuk batang dengan dua garis merah di hadapannya. Duniaku seakan-akan runtuh saat itu juga. Aku masih berpikir bahwa hal itu pastilah hanya sebuah mimpi. Mimpi buruk tepatnya. Apa yang harus aku lakukan dengan fakta yang tengah kupegang ini? Aku masih terduduk lemas di samping closet. Sesekali aku mengacak rambutku dan mencubit lenganku. Sakit rasanya. Dan hal itu berarti hal ini bukanlah mimpi.

Tok..tok..

Aku hanya menengadah menatap pintu kamar mandiku dan tak berniat sedikitpun untuk membukanya.

Tok..tok..

Suara itu terdengar lagi dan aku masih tak bergerak. "Love," suara Draco mulai terdengar dan aku masih membenamkan wajahku di pinggiran closet.

Kuhela napasku perlahan demi perlahan dan rasa panik masih melandaku.

Tok..tok..

Kali ini suaranya lebih kencang dari sebelumnya. "Hermione."

Dan aku tahu, bila kali ini aku belum keluar juga Draco pasti akan memantrai pintu ini dan meledakannya seketika. Kubuka gerendel pintu itu dan mendapatinya menatapku cemas sementara aku hanya melengos dan menjatuhkan diri di ranjang. Aku menelungkup dengan seluruh rambut mengubur wajahku. Suara gemericik hujan di luar terdengar bagai backsound hancurnya duniaku. Draco duduk di tepi ranjang dengan tangan yang memegang betisku. "Kau sakit? Tapi badamu tidak panas?"

Aku masih diam dan menggeleng. "Kau menstruasi? Perutmu sakit dan perasaanmu menjadi kacau?"

"Itu yang aku harapkan," jawabku cepat.

Dia masih duduk di tempatnya dengan tatapan yang masih terus menatapku. "Katakan apa yang terjadi, Hermione. Atau aku akan membawa Healer kesini."

Kata-kata itu membuatku bangkit dan duduk bersila di hadapannya. Kuserahkan benda itu kepadanya dan ia hanya menatapku bingung. Kutunjuk alat itu dan ia tetap menatapku bingung. Ia menatap benda di tangannya itu kemudian beralih kepadaku. "Apa ini?"

Aku mendengus lalu menghela napas. "Untuk ukuran penyihir yang memiliki berbagai macam alat Muggle kau bodoh juga."

Dia hanya menjentikan alisnya. "Itu testpack."

"Lalu?"

Aku ingin memakinya idiot, tapi tak memiliki tenaga untuk hal itu. "Aku hamil."

Aku kira ia akan bersorak gembira saat kulontarkan berita ini, namun ia hanya diam mematung tak bergerak. "Kau yakin?" tanyanya.

"Aku sih tidak, tapi benda di tanganmu terlihat sangat yakin."

"Bagaimana bisa?"

"Karena kita bercinta."

"Hermione."

"Seingatku enam atau tujuh minggu lalu saat kita bercinta kau tak merapalkan mantra."

"Aku kira kau meminum ramuanmu."

"Dan aku kira kau akan merapalkan mantra."

"Aku tak pernah dapat berkonsentrasi merapalkan mantra bila kau sudah tanpa sehelai busanapun berdiri di hadapanku."

Aku mencebik saat mendengarnya dan kembali menelungkup di ranjang itu lagi. Kami diam tanpa suara sedikitpun. Aku berada di pikiranku dan ia juga berada di dalam pikirannya. Aku memang tak menginginkan seorangpun anak dalam hidupku, tapi aku juga bukan seorang pembunuh. Dia hanya menghela napas dan keluar dari kamar kami. Aku membelalak. Bloody hell.

Berhari-hari setelah kabar kehamilanku kami seakan menganggap hal itu tak ada. Aku sibuk dengan kegiatanku begitupula dengan dirinya. Tak ada sekalipun kami membahas masalah ini. Sampai satu pagi aku tak sanggup lagi bangkit dari pinggir closet. Perutku terasa dikuras habis. Aku tak henti-hentinya memuntahkan isi perutku yang tak lagi berisi. Kepalaku rasanya mau pecah dan yang lebih konyolnya adalah aku tak tahan mencium harum tubuh Draco. Harum tubuh yang selama ini menjadi kesukaanku di dunia ini mendadak menjadi satu-satunya bau yang ingin kujauhi. Awalnya ia sudah siap untuk pergi ke kantornya dan berubah menjadi sangat panik saat melihat keadaanku. Ketika kukatakan aku tak sanggup berada dekat dengannya karena rasanya sangat mual dia mengganti baju dan menyamarkan bau tubuhnya dengan mantra. "Ayo kita ke rumah sakit. Aku bisa ikut mati bila melihatmu semenderita ini," ujarnya setelah membopongku ke ranjang.

"Ini hanya morning sickness."

Alisnya berkerut. "Gejala biasa yang dialami oleh wanit hamil di trimester pertama."

Kali ini ia terdiam. Aku menatapnya dengan seksama dan tak dapat membaca apa yang ada di pikirannya saat ini. "Apa yang akan kau lakukan sekarang?" tanyanya ragu.

"Lakukan? Lakukan terhadap apa?"

Dia tak langsung menjawabnya. Dia mengalihkan pandangannya dariku menuju jendela kamar ini lalu kembali kepadaku. "Pada janin yang sedang kau kandung."

"Mungkin ini jawaban atas semua doamu," jawabku.

Dia memegang tanganku dan menggenggamnya. "Jangan lakukan apa yang tak ingin kau lakukan."

Kulepaskan tanganya lalu memegang pipinya dengan lembut. "Kau berpikir aku akan menggugurkannya?"

"Kau tak pernah menginginkan anak."

Aku menggeleng. "Lalu berubah menjadi pembunuh dan menghancurkan impianmu? Apa aku sekejam itu?"

"Hermione, jangan lakukan ini demi aku. Pikirkan dirimu."

"Aku sudah berpikir beberapa hari ini. Ginny selalu mengatakan bahwa aku wanita dengan sejuta pikiran dengan sejuta ketakutan di dalamnya. Memiliki anak menjadi salah satu dari ketakutan itu. Takut merasakan kehamilan. Takut sakit saat melahirkan. Takut tak dapat menjadi orang tua yang benar. Takut tak dapat memberikan kehidupan yang layak. Takut bahwa keadaan seketika berubah menjadi saat perang dulu. Tapi, itu sebelum aku mengenalmu. Aku tahu kau bisa meredam semua ketakutanku."

Dia semakin menggenggam erat tanganku. "Aku tahu kau akan menjadi ayah yang baik nanti."

Dia masih diam dan aku menyipitkan mata untuk menatapnya. "Atau jangan-jangan kau yang tak menginginkan anak saat ini?"

"Hentikan omong kosongmu, love."

Aku tertawa. "Lalu bagaimana dengan karirmu?"

"Banyak wanita karir yang memiliki anak sekarang dan sukses dikeduanya. Ingat janjimu saat menikahiku dulu? Kau akan menjadi partnerku dan mencintaku tanpa syarat?"

Ia mengangguk. "Kau akan merasakannya sekarang. Aku bertugas mengandung dan melahirkan sementara kau bertugas untuk mengasuhnya."

"Hermione," ujarnya menatapku malas dan aku tertawa lalu memeluknya.

"Selamat, Draco. Kau akan menjadi ayah," bisikku saat ia memelukku.

Dia masih memelukku erat lalu melepakanku sesaat kemudian. "Apa aku bermimpi?"

Aku masih tertawa kemudia menciumnya. "Bibirku nyata?" tanyaku.

Ia mengangguk. "Nyata. Cium aku lagi," ucapnya dan aku kembali menciumnya.

Senyumnya mengembang sangat lebar. Tatapannya beralih padaku lalu kepada perutku. "Aku akan menjadi ayah?" aku mengangguk.

"Kau mengandung anakku?"

Kembali aku mengangguk. "Anakku," ujarnya sangat pelan.

"Anak kita," koreksiku.

"Anakku."

Kecupan di pipiku membawaku kembali dari memoriku tadi. Draco sudah berdiri di belakangku dengan sebelah tangan penuh dengan jus dan susu sementara satu lagi menggendong Scorp. "Sudah selesai memilih jus dan menebar pesonamu pada remaja-remaja centil itu?"

Dia hanya mengedik. "Remaja centil itu bukan sainganmu."

"Tentu bukan," jawabku cepat

Dia tertawa. "Hanya aku yang dapat membuatmu bertahan di ranjang lebih dari 24 jam, love," tambahku.

"Hanya kau," kekehnya.

"Kau sudah selesai?" tanyanya lagi dan aku mengangguk.

"Ayo pulang, anakku sudah lelah. Lihat dia sampai ketiduran."

Aku melihat Scorp yang sudah meletakkan pipi merahnya di bahu Draco. Matanya terpejam dan napasnya begitu teratur. "Anakmu itu anakku juga, Draco."

Draco hanya mengedik. "Anak kita sudah lelah, love. Ayo pulang."

Aku hanya mencebik dan mendorong troli ini.

000

Another years later

"Jadi, putraku tak sakit apapun?"

Seorang Healer anak kemudian menggeleng dan tersenyum padaku sembari memegang pipi Avior. "Demamnya hanya gejala dari giginya yang mulai tumbuh," jelas Healer di hadapanku ini.

Aku kemudian mengangguk. "Bukankah dia putra keduamu?"

"Scorp tak memiliki gejala apapun saat tumbuh gigi. Tak ada deman, tak menangis, atau gejala apapun."

"Setiap anak memiliki gejala dan ketahanan tubuh yang berbeda. Sebut saja kakaknya lebih kuat."

Aku kembali mengangguk. Dia kemudian memberikan resep ramuan pengurang rasa sakit dan tatapanku beralih pada Scorpius yang tengah duduk dengan tenangnya di sofa di sudut ruangan ini. "Sudah selesai?" tanyanya saat melihat aku menghampirinya dengan Avior di dekapanku.

"Sudah, sweetheart. Ayo pulang," ajakku padanya yang langsung turun dari sofa itu dan mengenggam tanganku.

Kami berjalan bergandengan dengan Avior yang tertidur di alam gendonganku. "Apakah Av sakit parah?"

Aku menggeleng dengan terus menggengam jemari mungilnya. "Hanya sedikit," seperti sangat paham dengan apa yang kukatakan ia mengangguk.

Seketika pandanganku teralihkan pada sosok yang sedikit terengah di hadapanku dengan tatapan sangat khawatir pada kami. "Anakku kenapa?"

Aku hanya memandangnya malas. "Baiklah, anak kita kenapa?"

"Sedikit demam karena giginya akan tumbuh."

"Kau memimggalkan kantor jam segini?"

"Itu kantorku, love."

Aku hanya tertawa mendengarnya. "Kau sudah minta ramuan untuk pengurang rasa sakit atau Healer sudah merapalkan mantra pada Avior?" tanyanya lagi.

Aku kembali tertawa melihat kepanikan pada dirinya. Anak kedua bukan jaminan bahwa seorang Draco Malfoy akan berubah menjadi lebih tenang menghadapi hal-hal seperti ini. "Jangan tertawa, love. Kasihan anakku jika bila menahan sakit seperti itu."

Aku berjinjit dan mengecup lembut pipinya. "Anakmu tak apa-apa. Hanya tumbuh gigi, ASI dariku sudah sangat cukup untuk mengurangi sakit serta demamnya, tapi ada resep ramuan yang akan membantu mempercepat prosesnya. Jangan panik."

Ada secercah kelegaan di wajahnya. "Aku tak panik."

Aku mendengus dan mencubit lengannya. Pandangannya teralih pada Scorp yang masih menggenggam tanganku. "Kau lapar, mate?" tanyanya.

Ia mengannguk. "Mau makan apa?"

"Pizza."

Draco hanya tertawa kemudian membuka lengannya untuk menggendong anak sulung kami ini. Scorp mengerutkan dahinya kemudian menggeleng. "Aku sudah besar."

Draco dan aku saling bertukar pandang dan ia mengangguk-angguk. "Baiklah, aku mengerti Tuan Scorpius Malfoy," goda Draco.

"Jadi, kau mau es krim untuk makanan penutupnya?" tambah Draco lagi.

Scorp mengangguk dengan sangat bersemangat. "Dengan cokelat lumer dan taburan cookies yang banyak."

"Siap, kapten."

Kami berjalan beriringan keluar dari rumah sakit ini dengan Scorp yang akhirnya menyerah karena Draco ngotot ingin menggendongnya.

Terbangun di pagi hari dengan Draco yang memelukku dari belakang, Scorpius yang memeluk perutku dari depan serta Avior yang menelusupkan kepalanya di dadaku merupakan hal yang rutin terjadi padaku di setiap paginya. Badanku hampir mati rasa dengan ketiga pria ini yang menempeliku semalaman. Aku tak tahu apa enaknya, tapi mereka selalu menempeliku seperti ini setiap harinya. Walaupun saat akan tidur kami benar-benar berada di posisi yang normal namun setiap bangun pasti mereka sudah menempel padaku seperti pukang. Saat aku menggerakkan tubuh Draco terbangun dan mencium lembut leherku. "Pagi, love."

"Minggir sedikit," ujarku padanya.

"Ini akhir pekan, kau mau kemana?" tanyanya masih menciumi tubuhku.

Aku masih menyukai caranya memperlakukan seperti ini. Anak bukan akhir dari sifat manis dan romantisnya padaku. "Aku butuh ke toilet."

Ia menyingkir dan aku bangkit perlahan agar Scorp dan Avior tak ikut terbangun. Saat aku kembali Draco sudah bangkit dan duduk di pinggir ranjang kami dengan kedua putra kami yang masih tertidur dengan damainya di tengah ranjang. Aku menghampirinya dan ia memelukku . Kepalanya bersandar nyaman di dadanku dengan tangan yang melingkari pinggangku. "Ayo mandi bersama," ujarnya menggodaku.

"Sebelum mereka bangun dan memonopoli dirimu."

Aku hanya tertawa mendengarnya. "Kita bisa membuat project baby number three."

Aku langsung melepaskan pelukannya dan memegang kedua pipinya. "Bermimpilah, Draco."

"Kau butuh teman belanja kelak, anak perempuan pasti akan membuatmu bahagia."

Aku mencebik mendengarnya. Saat melahirkan Scorpius aku berjanji tak akan ada lagi bayi selanjutnya, namun kenyataan berkata lain. Avior Benjamin Malfoy lahir tiga tahun setelahnya. Dan aku kini aku sudah cukup lelah bila harus menambahnya lagi. Aku, Hermione Granger yang tak pernah ingin memiliki anak dan tak percaya pada pernikahan sekarang menjadi wanita dengan dua putra serta kehidupan pernikahan yang sangat membahagiakan. Keajaiban dunia mungkin harus direvisi dan ditambah dengan fakta yang terjadi kepadaku.

"Bila kau yang mengandung dan melahirkan, aku tak masalah," jawabku.

"Manor terlalu besar untuk kita berempat."

Aku menggeleng. "Ranjang kita terlalu kecil untuk satu penghuni lagi," ujarku.

"Kita bisa memperbesarnya."

"Biarkam Scorp tidur di kamarnya," balasku.

"Nanti bila saatnya tiba."

"Kapan?"

"Beberapa tahun lagi. Kau tak serius membiarkan anakku tidur sendirian di kamarnya?"

Aku berkacak pinggang. "Aku serius."

Draco menggeleng. "Bagaimana bila ia terbangun di malam hari?"

"Kau bisa tidur bersamanya," jawabku enteng.

Kali ini ia menggeleng secepatnya. "Aku tak akan tidur tanpamu."

"Jika begitu, tak ada wacana untuk menambah anak," ujarku tersenyum lalu mengecupnya kemudian melenggang keluar dari kamar kami.

Sedikit aku mengintipnya dari balik bahu saag ia mendengus. "Ayolah, Hermione."

"Satu lagi."

"Tidak."

"Anak perempuan."

"Tidak."

"Love."

"Tidak."

000

Many years later and still counting

Aku masih duduk di kursi besar di sudut ruangan ini dengan wanita muda yang sibuk mencoba semua baju dari walk-in closet miliknya. Sesekali ia memperhatikan dirinya di depan cermin dengan sebuah dress yang ia tempelkan di tubuhnya lalu kemudian berbalik menatapku. "Bagaimana?" tanyanya.

"Cantik."

Dia menggeleng. "Kau tidak membantu, Mum."

"Tapi itu benar-benar cantik. Kau cantik," jawabku yang membuatnya semakin kesal.

Mengetahui hal itu, aku bangkit dan memilihkan salah satu summer dress miliknya dan menyerahkan kepadanya. "Bila kalian hanya akan menonton film dan makan malam, kenakan dress ini. Simpel dan cantik. Kau sudah sangat cantik, sweetheart. Tak perlu sesuatu yang berlebihan lagi."

"Kenapa tidak dari tadi, Mum."

Aku tertawa dan membantunya mengancingkan dress yang kupilihkan padanya. Sebuah mini dress dengan corak bunga merah muda dan peach membuatnya terlihat sangat cantik. Rambut pirang kecokelatan ikalnya membuatnya benar-benar terlihat seperti paduan antara aku dan Draco.

"Kau mau kemana?"

Suara itu membuat kami mengalihkan pandangan pada sosok itu. Draco berdiri di ambang pintu walk-in closet ini sambil bersedekap. "Pergi untuk nonton film dan makan malam," jawab Harper kemudian kembali sibuk dengan kegiatan menyisir rambutnya.

"Kau akan berkencan?"

Dari suaranya aku tahu bahwa Draco akan mempersulit hal ini. Sikap protektifnya semakin menjadi-jadi saat Harper sudah tumbuh menjadi remaja yang disukai oleh banyak pria.

"Dad," jawab Harper saat melihatnya.

"Bajumu terlalu terbuka dan lihatlah, Hermione. Baju itu terlalu pendek," tambah Draco.

"Ini selutut, Dad. Lagipula Matt pria yang baik dan ia tak akan macam-macam terhadapku."

Draco menghela napas dan terlihat mulai panik melihat anak perempuan kesayangannya akan pergi berkencan. "Semua pria itu sama. Dia tak akan sanggup melihat wanita secantik dirimu di sekitarnya tanpa memikirkan hal-hal yang tak baik untuk dipikirkan."

Harper menatap Draco lalu menyeringai. "Sama seperti yang Dad pikirkan saat melihat Mum dulu?"

"Harper Grace."

Aku bangkit dan berjalan mendekati Draco. "Mereka hanya nonton dan makan malam, jangan berlebihan."

"Love."

"Jangan berlebihan," aku menenangkannya.

"Apakah ada pertemuan keluarga dan aku tak diajak?"

Avior muncul dari balik Draco. Rambutnya masih terlihat berantakan akibat seharian bergelung di ranjang. Akhir pekan akan selalu digunakanya untuk tidur seharian dan membaca tanpa perlu keluar dari ranjangnya.

Harper terlihat kesal dengan kehadiran Draco dan Avior. Dia menatapku untuk meminta bantuan dan aku hanya mengedik lalu tertawa. "Dia mau keluar nonton dan makan malam," ujar Draco yang masih terdengar kesal.

"Wow wow little sister, kau akan berkencan? Dengan siapa?"

"Matt," jawab Harper cepat.

"Matt?" Avior masih menunggu adiknya melanjutkan nama pria itu.

Harper menghela napas. "Matthew Maclaggan."

"Kau tidak boleh pergi," sontak Draco berujar.

"Dad!"

"Ayahnya menggoda ibumu dulu saat di Hogwarts," tandas Draco.

Aku ingin sekali tertawa melihat sikap kekanakan suamiku ini, namun aku tahu Harper pasti akan mengamuk bila aku membela ayahnya. "Ayolah, sayang," bujukku.

Draco masih menggeleng. "Draco."

Dan saat itu juga suara bel dari Manor berbunyi. "Matt," ujar Harper yang langsung sibuk mencari tasnya dan sebelum ia keluar Avior sudah berlari meninggalkan ruangan ini.

"Aku akan menilainya terlebih dahulu, little sist," teriak kakaknya saat keluar dari ruangan ini.

"Avior!"

"Bloody hell, Av!"

Harper segera keluar dari ruangan ini mengejar kakaknya sementara aku baru saja menghentikan Draco yang ingin ikut bersama mereka. "Jangan," ujarku lembut.

"Aku hanya ingin melihatnya dari jauh."

"Janji?"

Aku menyipitkan mata untuk menatapnya. "Kapan aku pernah melanggar janjiku?" tanyanya.

"Sering," jawabku.

Dia hanya tersenyum dan mengangguk-angguk. Draco menunduk dan mencium puncak kepalaku. "Aku hanya ingin melihat rupanya dari jauh saja, love."

"Baiklah."

Saat aku bergabung dengan mereka di ruang tengah bukan hanya Avior dan Draco saja yang sudah pasang badan menghadapi Matt saat ini, Scorpius juga. Aku tak tahu apakah harus bahagia atau kasihan terhadap nasib Harper yang memiliki tiga pria posesif di hidupnya. Aku memerhatikan mereka dari dekat tangga. Wajah Harper terlihat kesal sekaligus pasrah menghadapi ayah dan kedua kakak lelakinya itu.

"Apakah mereka selalu seperti itu terhadap semua teman pria Harper?"

Aku menoleh dan mendapati Rose yang ikut berdiri di sampingku. Aku tertawa dan mengangguk. "Sangat overprotektif dan posesif," ujarku.

"Seperti Scorpius," jawab Rose yang terlihat sangat cantik di sampingku.

Aku masih kagum dengan otaknya yang pintar dan sikapnya yang elegan melihat ia keturunan dari Ron, sahabat konyolku. "Menurun dari ayahnya," balasku dan ia tertawa mendengarnya.

Kami terdiam dan kembali fokus mendengarkan apa yang dikatakan mereka pada si malang Matt.

"Sebelum jam 10 malam kalian harus sudah kembali," ujar ayahnya.

"Bila terlambat aku akan mencarimu," kini Avior yang membuka suaranya.

Jeda sebentar dan Scorp akhirnya membuka suara. "Bila ia menangis aku yang akan turun tangan mencarimu."

"Aku mengerti," jawab Matt gugup.

Harper mendengus. "Bloody hell," umpatnya dan aku melihat ia menarik tangan Matt untuk keluar dari sarang macan ini.

"Hati-hati, sweetheart," teriakku.

Sesaat ia menoleh dan melambaikan tangan padaku. "Bye, Mum."

"Have fun, little sister," goda Avior yang tak digubris oleh adiknya

Scorp dan Avior tertawa lalu bergabung bersamaku dan Rose di ruang tengah Manor ini. "Kalian menakuti anak itu. Demi Merlin mereka masih lima belas tahun," ujarku.

"Justru karena mereka masih lima belas tahun, Mum."

"Scorp," protes Rose dan ia hanya mengedik.

Draco bergabung bersama kami setelah memastikan bahwa anak perempuannya telah menghilang dari balik pagar Manor. "Dia seharusnya menghabiskan sisa musim panasnya dengan kita sebelum kembali ke Hogwarts, bukannya pergi dengan anak itu."

"Dia remaja, Draco," jawabku.

"Tapi dia anakku."

Aku dan Rose hanya saling tatap dan tertawa. "Dan kau, Scorp. Jangan buat Rose bekerja di akhir pekan," ujarku pada anak sulung keluarga ini.

"Ada beberapa berkas yang harus kami pelajari, Aunt Mione. Tak apa-apa," jawab Rose.

"Mum dengar sendiri, bukan? Dia suka bekerja apalagi dengan kekasihnya di akhir pekan, bukan begitu Rose?"

"Scorpius!"

Dan lagi-lagi ia tak perlu menjawab Rose, hanya kedikan bahu dan seringaian khasnya yang menjawab. "Kau sudah siap?"

Rose mengangguk. "Kalian tak tinggal untuk makan malam?" tanya Draco.

Mereka berdua menggeleng. "Rose akan makan malam bersama dengan keluarganya."

"Kau ikut?" tanya Avior.

Scorp menggeleng. "Hanya mengantarnya lalu pergi bertemu dengan Albus. Kau mau bergabung, Av?" tanyanya pada adik lelaki satu-satunya ini.

"Aku akan menyusulmu."

Scorp mengangguk. "Aku pergi dulu, Mum."

"Bye, Aunt Mione. Mister Malfoy," pamit Rose pada kami lalu mengecup pipiku dan mengangguk pada Draco yang berdiri di sampingku.

Saat mereka pergi, Avior menggaruk kepalanya. "Aku kembali ke kamar dulu."

"Jangan lupa mandi," ujarku padanya saat ia menaiki tangga.

"Kalau mood-ku bagus, Mum."

Draco hanya mendengus melihat tingkah laku anak keduanya itu. "Jorok sekali."

"Aku mendengarmu, Dad," teriaknya.

Draco akhirnya tertawa. "Mereka cepat sekali dewasa," ujarku saat berjalan bersamanya menuju ruang keluarga Manor ini.

Kami duduk di sofa dengan Draco yang melingkarkan lengannya di bahuku. "Dan kita semakin tua."

Aku mengangguk dan mengecup pipinya.

000

Kegiatan rutin aku dan Draco adalah mengunjugi rumah Muggle-nya untuk menghabiskan akhir pekan disana. Terutama saat Harper sudah kembali ke Hogwarts dan Scorp serta Avior sibuk dengan urusannya beberapa tahun belakangan ini aku mengundurkan diri dari posisiku di Kementerian dan begitupula Draco. Ia hanya sibuk di perusahaan. Dan kesibukannya menurun drastis saat Scorp dan Avior bergabung di dalamnya. Jadilah, sekarang aku dan Draco tengah duduk di teras belakang rumah ini dengan kepalanya yang nyaman berada di pangkuanku. Masing-masing dari kami membaca buku dan tenggelam di pikiran masing-masing dengan matahari senja yang menemaninya.

"I love you without knowing how, or when, or from where. I love you straightforwardly, without complexities or pride. So I love you because I know no other way than this. Where I doesn't exist, nor you. So close that your hand on my chest is my hand. So close that your eyes close as I fall asleep."

Aku bangkit dari menyandar dan ia ikut bangkit lalu menatapku. Matanya tersenyum begitupula dengan bibirnya. "Sonet 17? Pablo Neruda?" tanyaku bingung padanya.

Ia mengangguk lalu mengeluarkan sebuah kotak dan memakaikan isinya di pergelangan tanganku. "Happy anniversary, love."

Aku hanya mampu tersenyum. "Aku kira kau melupakannya," balasku.

"Kau pikir bertahun-tahun hidup bersamamu lantas aku akan melupakannya? Tak akan pernah."

"Aku mencintaimu," ujarku.

"Aku lebih mencintaimu," balasnya lalu menunduk untuk menciumku.

Dua puluh tujuh tahun menjadi wanita di hidup pria ini merupakan tahun-tahun terindah di hidupku. Dia mengubahku. Aku memiliki keluarga yang bahagia dengan ketiga anak yang bahkan dulu aku tak sanggup membayangkannya. Dan kini bahkan aku tak sanggup menjalani hari bila tak ada mereka di sisiku.

"Bloody hell, Mum, Dad, kaliankan bukan anak muda lagi," suara Harper membuat Draco melepaskan bibirnya dariku.

Aku menengadah dan melihat Harper berdiri di ambang pintu kaca teras belakang ini disusul dengan Scorp dan Avior yang ikut bergabung bersamanya. "Wow kalian menyerbu rumah ini?" tanya Draco.

"Happy anniversary," ujar Avior dengan kue tart di tangannya.

Scorp mengangkat sebuah botol wine di tangannya. "Le Pin, kesukaan kalian," ucapnya.

Aku dan Draco saling bertukar pandang dan tersenyum. Tanpa menunggu jawaban dariku lagi mereka bergabung bersama kami. Harper memeluk ayahnya dan mengecup pipinya begitu pula yang dilakukan Avior padaku sementara Scorp masih menuangkan isi botol itu ke gelas.

"Aku tak dapat?" protes Harper.

Scorp mengedikkan bahu. "Mum?" bujuknya padaku.

Aku menggeleng begitu juga dengan Draco. Harper mendengus dan kami semua tertawa. Dulu definisi dari kesempurnaan adalah saat aku mendapatkan peringkat pertama di Hogwarts atau mengerjakan sesuatu lalu mendapat pujian dari semua orang. Lalu definisi itu meningkat menjadi ketika aku mendapatkan pekerjaan yang aku idamkan dengan gaji yang bisa membuat semua orang mati karena iri. Definisi itu semakin berlanjut ketika akhirnya aku mendaptkan pria yang sanggup mencintaiku apa adanya dan melewati setiap rintangan bersama. Dan sekarang definisi dari kesempurnaan di hidupku adalah mereka. Aku melihat Scorp yang sedang menggulung lengan kemejanya dengan senyum tipisnya, Avior yang sedang menyesap perlahan wine yang dilanjutkan dengan gurauan bersama Harper yang masih bergelayut manja di lengan Draco. Kesempurnaan adalah saat aku bersama mereka. Suami dan ketiga anakku.

000

THE END

A/N: Thank you for this three months, you guys rock. I love you! Thanks for favorites, alerts, reviews, and PM. I'm really flattered:). And thank you for all of my favorites musicians who inspires this story. Thanks to Sam Smith for his song 'I'm not the only one' for Ed Sheeran, John Mayer, and Sara Barailles. And my big thanks for all of my lovely reader. Trust me I really love you guys. So I hope you still leave your review for this final chapter. THANKS! :))

AchernarEve