Under The Sky [Ch. 11]

Tokoh dari Bbb milik Animonsta, saya minjem, Cerita dan OC disini milik saya, dll.

AU, Adventure, Family

OOC level max, Typos, No Pair, RnR

.

=CoffeyMilk=

.

.

Taufan berlari-lari kecil sambil membawa sebaskom air dan menyerahkannya ke Gempa, Gempa menyerahkannya pada seorang perawat. Sudah sejak sejam yang lalu kediaman Klan Li penuh dengan korban-korban yang terus berdatangan karena pengeboman yang terjadi.

Dua orang dokter tampak sibuk mengobati beberapa orang yang terluka cukup parah, beberapa perawat juga sedang mengobati pasien yang lain. Ochobot, dan kembar empat Boboiboy juga ikut membantu. Begitu pula beberapa pelayan yang sibuk membantu memberikan makan dan obat untuk para korban dan keluarga mereka.

Beberapa orang tampak menangisi salah satu anggota keluarga mereka yang sudah meninggal. Yang lain cemas karena luka parah yang diderita anggota keluarga mereka. Beberapa pekerja dan tentara Klan Li juga terluka.

"Kami membawa korban yang terluka lagi!" seru beberapa orang di depan pintu gerbang.

Ying memeriksa korban yang diangkat dengan tandu, lalu menyuruh mereka masuk. Para tentara lalu menaruh korban di tempat yang tersedia diatas lantai, hanya beralaskan selembar kain. Dan seorang perawat segera memeriksa pasien itu.

.

Korban terus berdatangan hingga tak terasa matahari telah tenggelam dan langit mulai menggelap. Suasana sudah mulai tenang, seluruh pasien sudah selesai di obati dan korban-korban yang berdatangan sudah berhenti.

.

Taufan mengusap peluh dari keningnya, ia baru saja selesai memindahkan pasien ke dalam ruangan dan itu tak hanya satu pasien dan satu ruangan. Ia mendudukkan dirinya diatas lantai kamar mereka di sebelah Gempa yang telah tertidur beberapa menit yang lalu dan Air yang kini memainkan serulingnya. Taufan diam, mendengarkan nada tenang yang dimainkan oleh Air. Ia tersenyum senang.

Air menghentikan permainan serulingnya, Taufan merengut, baru saja ia merasa rileks dan sekarang nada tenang itu berhenti.

"Mainkan sekali lagi." ucapnya pada Air.

Air menatapnya dengan pandangan datar, lalu menempelkan ujung seruling pada bibirnya dan meniupnya, memainkan sekali lagi nada tenang untuk Taufan.

"Terimakasih," ucap Taufan lalu merebahkan diri disamping Gempa.

Lama nada yang dimainkan Air memenuhi ruangan, hingga pada akhirnya Air menghentikan permainannya. Ia menatap kearah kedua kakaknya yang kini terlelap, Air mendengus, lalu tersenyum kecil. Ia bangkit, di ambilnya dua lembar selimut dari lemari dinding dan menyelimuti keduanya. Setelah itu ia keluar dari kamar.

.

Air mendapati Fang telah kembali, bajunya kotor oleh asap jelaga dan cipratan darah, wajahnya juga. Dibelakangnya ada dua orang yang mengalami nasib yang sama. Ying tengah menyambut mereka.

Fang menoleh kearahnya dan menaikkan tangannya, menyapanya dengan lambaian tangan. Air membalasnya. Dua orang yang sedari tadi di belakang Fang menghampirinya.

"Yo! Shui! Lama tak jumpa!" seru seorang pemuda berambut pirang panjang yang diikat sama sepertinya, tersenyum lebar sambil menepuk bahunya.

Air mengangguk, "Hai Liam."

"Aku dengar saudaramu ada disini, mana?" tanya salah seorang yang lain, rambutnya bewarna coklat kayu pendek.

"Lagi tidur." Jawab Air.

"Yaah.."

"Ada satu lagi, tapi gak tau dimana." Lanjut Air.

Keduanya merengut, "Kalau begitu nanti saja, aku mau mandi sekarang. Dah.." ucap Kou kemudian dan pergi.

Air mengangguk, di susul oleh Liam yang pergi kemudian. Air menoleh kearah Ying, sedikit bingunng tak mendapati lagi Fang di sana.

"Mana Fang?" tanya Air.

"Sudah pergi duluan." Jawab Ying.

Air mengangguk, "Halilintar?" tanyanya.

"Di dapur sama Ochobot dan koki lainnya, mereka kan dapat tugas bagian memasak, sampai sekarang belum kembali," Jawab Ying, "mau kesana?" tanyanya.

Air menggeleng.

.

.

=CM=

.

Taufan terbangun, ia terduduk dan mendapati Halilintar dan Ochobot tidur tak jauh dari tempatnya tidur. Ia mengerjap, celingukan mencari seseorang yang tak ada di ruangan itu, Gempa.

Ia menggeser selimut dari atas tubuhnya, bangkit dari kasur lipat di bawahnya dan berjalan keluar dari ruangan, mencari Gempa.

Cahaya remang-remang membuat Taufan mempercepatkan jalannya menelusuri lorong. Angin malam menusuk pori-pori kulitnya membuatnya menggigil kedinginan.

"Gempa… kau dimana…" bisiknya, mencari-cari sosok Gempa.

Taufan mulai cemas dan takut, cemas karena ia sama sekali tak menemukan Gempa dan takut karena cahaya disekelilingnya semakin minim.

"Gempa…"

Grep.

"GY—AAAAA!" Taufan merasa jantungnya hampir saja lepas dari tempatnya, ia berbalik mendapati sosok yang tak asing baginya.

"Jangan berisik." Ucap orang itu, ditangannya ia memegang sebuah cawan berisi lilin sebagai penerangan.

"O—oh, Fang." ucap Taufan.

"Apa yang kau lakukan disini?" tanya Fang.

"Mencari Gempa, apa kau melihatnya?" tanya Taufan.

Fang menggeleng, "Memangnya dia kemana?" tanyanya.

"Aku terbangun dan dia tidak ada di kamar, jadi aku mencarinya." Jawab Taufan.

"Kau tidak memeriksa kamar mandi?" tanya Fang.

Taufan menatapnya, "Iya juga ya… Kalau begitu aku kembali dulu." Ucapnya lalu kembali melangkahkan kakinya menuju kamar.

.

Ia membuka pintu kamar, tak ada Gempa di sana. Ia lalu memeriksa kamar mandi, tetap saja Gempa tidak ada.

"Ada, tidak?" tanya Fang.

Taufan menoleh, "Kau mengikutiku?"

Fang mengangguk.

Taufan menggeleng, "Gempa tidak ada disini."

Fang mengangguk, lalu menatap langit-langit diatasnya, dan mengelus dagunya, pose berpikir. Semenit kemudian ia beralih pada Taufan.

"Ikuti aku, aku mungkin tahu dia dimana." Ucapnya kemudian.

Taufan menurut, keduanya lalu berjalan melintasi lorong dan berhenti di lorong terbuka. Ada sebuah taman dan Gempa sedang latihan pedang disana.

"Bagaimana bisa kau tahu dia disini?" tanya Taufan, berbisik.

"Aku mendengarnya." Jawab Fang.

"Hah?" Taufan bingung.

"Aku punya punya pendengaran yang bagus." Jawab Fang sambil menunjukkan telinganya.

Taufan mengangguk, keduanya lalu duduk sembari menonton Gempa berlatih.

"Kau tidak ikut dengannya?" tanya Taufan.

Fang meliriknya, "Fisikku lelah." Jawabnya.

"Ya sudah tidur sana." Ucap Taufan.

"Malam ini aku bertugas jaga malam, jadi tidak tidur." Balas Fang.

"Ketua juga bertugas?" tanya Taufan terkejut.

Fang mengangguk, "Aku yang memintanya." Jawab Fang.

Keduanya lalu terdiam dan memilih untuk melihat Gempa berlatih.

.

Gempa mengayunkan pedangnya, masih jelas teringat di benaknya jalan pertarungan Fang dan Halilintar. Ia mengayuunkan pedangnya ke kanan, berkali-kali, lalu berbalik, mengayunkan pedangnya lagi.

.

"Dia terus menerus mengayunkan pedangnya, terlihat membosankan." Keluh Taufan.

"Berlatih pedang memang begitu terus." Balas Fang.

"Tidak bosan?" tanya Taufan.

Fang menggeleng, "Tidak, justru semakin kau berlatih kau akan semakin kuat, ayunkan saja pedangmu saat berlatih. Itu jika sendiri. Kita bisa juga memakai boneka bambu untuk berlatih menebas musuh, dan akan lebih menyenangkan jika kau punya lawan untuk bertempur." Jawab Fang.

"Itu yang kau rasakan saat bertarung melawan Halilin tadi siang?" tanya Taufan.

Fang mengangguk.

Taufan mengangguk mengerti.

"Kau mahir menggunakan senjata apa?" tanya Fang kemudian.

"Bumerang dan cambuk." Jawab Taufan.

"Oh, wow. Aku ingin melihatnya." Ucap Fang sambil menoleh.

Taufan menaikkan alisnya, "Boleh." Taufan lalu menarik cambuk dari saku bajunya dan berdiri. Diliriknya Gempa yang masih berlatih mengayunkan pedang, dia tersenyum jahil. Diurainya tali cambuk dan mengangkatnya tinggi kebelakang dan melecutkannya.

Gerakan Gempa terhenti saat ia merasakan pedangnya dililit oleh sesuatu. Ia menoleh, mendapati Taufan tersenyum lebar kearahnya sambil memagang cambuk. Taufan menarik cambuk kuat hingga Gempa melepaskan pegangannya pada pedang dan membuat pedang itu terlempar beberapa centimeter diatasnya, pedang itu hampir saja akan terhunus kearahnya jika Taufan tak menarik tali cambuknya dan mendapatkan pedangnya.

Gempa terdiam saat Taufan memutar pedang milik Gempa dengan tangannya. Ia juga melihat Fang duduk bersila di sebelah Taufan yang berdiri.

"Kalian tidak tidur?" tanya Gempa dan menghampiri mereka.

"Aku terbangun dan melihatmu tidak ada dikamar, jadi aku mencarimu." Jawab Taufan.

"Maaf.." ucap Gempa, lalu menoleh kearah Fang, "Kau?"

"Sedang bertugas." Jawab Fang.

Gempa mengangguk.

"Kau sendiri kenapa tidak tidur?" tanya Taufan sambil mengembalikan pedang milik Gempa dan mengulung cambuknya.

Gempa memasukkan pedangnya ke dalam sarung pedang, "Kan sudah, jadi karena bosan lebih baik aku latihan!" jawab Gempa, lalu duduk disebelah Taufan.

Fang menatap langit, ia samar-samar mendengar suara seruling. Ia memejamkan mata, menajamkan pendengarannya, berusaha fokus mendengar suara seruling yang berbunyi berulang-ulang setelah 10 detik. Bunyinya panjang-pendek-pendek—pendek-panjang—panjang-pendek—panjang-panjang-pendek—pendek—pendek-panjang-pendek, terus berulang kali. Fang segera berdiri, membuat dua kembar menoleh kearahnya.

"Maaf aku harus pergi dulu, kembali bertugas." Ucap Fang.

Taufan dan Gempa mengangguk, "Selamat bertugas.."

Fang pun pergi dan hilang dalam gelapnya lorong. Taufan dan Gempa saling menatap.

"Aku pikir dia berjalan sangat terburu." Ucap Gempa.

"Aku juga berpikir begitu," ia lalu kembali menatap lorong, "ada apa ya?" tanya Taufan.

"Mungkin ia baru saja mendengar sesuatu, tingkahnya aneh sekali tadi." jawab Gempa.

"Tapi aku tidak mendengar sesuatu yang aneh tadi." ucap Taufan.

"Apa kau tidak tahu sesuatu tentang pendengarannya yang bagus? Aku rasa karena itu." Ucap Gempa.

"Oh iya, ya.." Taufan menatap langit, "lalu, apa yang ia dengar?" tanyanya.

Gempa menggeleng.

.

.

.

Fang berjalan menuju sebuah menara, di langkahkannya kakinya menaki tangga spiral di dalam menara. Setelah beberapa menit ia menaiki tangga, ia sampai di tempat tujuannya. Di sana Air telah menunggu sambil masih membunyikan sandi dengan serulingnya.

"Shui."

Air menghentikan kegiatannya dan menoleh.

"Ada apa?" tanya Fang.

"Aku melihatnya, pasukan musuh, di perbatasan beberapa ratus meter dekat kota." Jawab Air.

Fang mengambil sebuah teropong dari atas meja yang ada disana, berjalan mendekat kearah beranda dan memasang teropong di depan matanya.

"Tiga puluh derajat searah jarum jam." Ucap Air.

Fang menggeser teropong, mengikuti arah yang ditunjuk Air. Melalui teropong, ia bisa melihat sebuah wilayah yang terlihat terang oleh api unggun, tidak hanya satu api unggun, ada sebanyak lima sampai delapan.

"Shui, jam berapa sekarang?" tanya Fang.

"Jam dua dini hari." Jawab Air.

Fang menurunkan teropongnya dan mengangguk, "Kita harus bersiap."

.

.

=CoffeyMilk=

.

Lapangan telah terisi penuh oleh pasukan-pasukan tentara Klan Li, mereka berdiri tegak membentuk barisan rapi sesuai pasukan dibelakang komandan masing-masing. Diatas podium, Fang berdiri tegap menatap pasukan Klannya dengan mata berkilat.

"PERHATIAAN!" teriaknya.

"Pasukan musuh telah terlihat diperbatasan kota! Dan kita akan menyambut mereka sebelum mereka memasuki kota! Tujuan kita adalah menolak untuk menyerahkan Shui untuk mereka, jika mereka tidak menerimanya, tidak ada jalan lain untuk berperang!"

Setiap orang dalam pasukan mendengar degan seksama, mereka lalu berteriak tanda setuju sembari mengangkat tangan beramai-ramai.

"YYAA!"

"Kita tak bisa membiarkan mereka menyentuh barang satu jari saja pada keturunan sah raja terdahulu!" Fang berteriak sekali lagi lalu terdiam.

"YYAA!"

"UNTUK KLAN LI!" seorang komandan berteriak.

"YYA!"

"UNTUK KLAN LI!" komandan yang lain ikut berteriak.

"YYA!"

Fang terdiam menatap pasukan Klan Li di depannya, ia kemudian menoleh, mendapati Taufan, Gempa dan Halilintar di bawah podium menunggunya dengan wajah bingung. Di sebelah mereka Air tertidur sambil berdiri. Fang mengangkat tangannya ke arah mereka, memberi isyarat agar mereka naik keatas podium. Gempa menggeleng cepat.

"Untuk apa?" bisiknya berteriak.

Senyum Fang mengembang, "Sudah naik saja." Jawabnya, "ajak Shui juga."

Keempatnya lalu naik keatas podium dengan perasaan was-was. Seluruh pasukan kini terdiam saat melihat mereka berdiri berjejer diatas podium.

Fang berdehem, "Mungkin beberapa dari kalian sudah tahu mereka, tapi sekali lagi akan ku perkenalkan pada kalian. Mereka adalah saudara kembar Boboiboy Air! Mulai dari kanan, Boboiboy Gempa! Berikutnya Boboiboy Halilintar! Selanjutnya Bobobiboy Taufan."

Lapangan kembali riuh, tampak senang dengan kehadiran mereka.

.

.

"Sekarang aku mau membahas strategi." Ucap Fang.

Empat kembar dan beberapa komandan segera memperhatikan apa yang akan dibicarakan oleh Fang.

"Untuk pertama, aku akan mencoba untuk berdiskusi dengan pemimpin mereka, jika mereka tetap bersikeras agar kita menyerahkan Shui, seperti yang kukatakan tadi kita harus berperang." Ucap Fang.

"Tidakkah ada jalan lain selain berperang, Ketua?" tanya Liam.

Fang menatapnya dan menggeleng, "Mereka sendiri telah mengakibatkan pengeboman yang kemarin terjadi, suatu perbuatan yang sama sekali tidak beralasan menyakiti orang tak bersalah dan tidak ada hubungannya sama sekali dengan Klan, tak ada jalan lain kecuali memerangi mereka." Jawabnya.

Liam mengangguk dan tersenyum kecil, "Aah… begitulah ketua kita," ucapnya ringan sambil menggeleng kecil lalu menatap Fang, "tapi aku akan tetap mengikutimu, Ketua." Ucapnya.

Fang lalu menatap para bawahannya dan juga empat kembar.

"Apakah ada yang keberatan?" tanyanya.

Semuanya serentak menggeleng. Lalu seseorang komandan mengangkat tangannya.

"Ada apa, Yon?" tanya Fang.

"Bagaimana jika ada kemungkinan? Seperti jika musuh memiliki pasukan bantuan ditengah-tengah peperangan." Jawabnya.

Fang mengangguk kecil, "Segera kondisikan pasukan, hadapi seluruh musuh, hadapi mereka hingga salah satu pihak menyerah mundur, kita ataupun mereka." Ucapnya.

Seluruh komandan mengangguk mengerti.

"Untuk jalannya pertarungan, aku sudah mendapatkan formasi mereka. Mereka akan menggunakan pasukan berkuda untuk permulaan, disaat mereka mulai menyerang aku ingin pasukan pemanah bersiap dan membidik mereka jika mereka mulai dekat dengan pasukan kita, Kau mengerti Zhuo?" Ucap Fang.

"Baik ketua." Jawab komandan pasukan pemanah, Zhuo.

"Selanjutnya pasukan berkuda maju, disusul pasukan berpedang dan pasukan lainnya.."

Para komandan itu mengangguk.

"Lalu, aku tidak akan memaafkan bagi orang yang berani meninggalkan medan perang sebelum ada perintah, ingat? Katakan pada pasukan kalian, oh ya, dan satu lagi, jangan ada yang maju sebelum perintah di berikan."

Semua orang di ruangan itu mengangguk. Fang menepukkan tangannya dua kali.

"Baiklah, ayo!"

.

.

=CoffeyMilk=

.

Kota terlihat sepi, tak ada yang berani untuk keluar saat Fang dan pasukannya melewati kota. Di belakang pasukan Klan Li empat kembar mengikuti. Mereka keluar dari kota dan segera membentuk formasi. Beberapa kilometer dihadapan mereka, pasukan kerajaan mulai mendekat.

Keheningan tercipta saat kedua belah pihak saling berhadapan. Fang lalu maju diikuti oleh pemimpin pasukan musuh dan salah satu prajuritnya.

"Siapa kau?" tanya prajurit.

Fang tersenyum lebar, "Aku Li Fang, ketua Klan Li, pemimpin pasukan."

"Tak usah berbasa-basi. Langsung ke inti saja, Li Fang." ucap Sang Pemimpin dari atas kuda.

Fang mendongak, "Kau benar."

"Jadi, bagaimana? Kau akan menyerahkan pewaris sah terkutuk itu?" tanya si pemimpin.

"Sayangnya tidak, Tuan Baron." Fang menjawab.

Baron menggertakkan giginya, mendecih tidak suka.

"Apa-apaan kalian? Masih terus akan mengkhianati kerajaan? Sungguh tidak tahu diri!"

Fang menatapnya tajam, "Aku sama sekali tidak pernah mengakui kerajaan sejak 13 tahun lalu." Jawabnya tenang.

"Kurang ajar! Aku pikir kalian akan segera berlutut setelah pengeboman kemarin!"

Fang tersenyum kecil, "Jadi kau yang telah memerintah mereka, bagaimana keadaan mereka? Apakah sudah mati?" tanya Fang.

"Cih! Sudahlah! Kembali ke awal! Serahkah Boboiboy Air atau kami akan memerangi kalian!"

"Sayangnya kami tidak akan menyerahkannya, sama seperti jawaban kami beberapa hari yang lalu."

Pemimpin musuh itu tampak marah, "Baiklah, berarti kau memilih perang. Jadi bersiaplah, kami akan menumpaskan seluruh anggota klan mu." Ucapnya.

"Jika kau bisa." Ucap Fang lalu berbalik, berjalan kearah pasukannya.

Sang pemimpin menyuruh prajuritnya mengendap ke belakang Fang. Prajurit itu mengangguk, berjalan mengikuti Fang sambil menarik pedangnya secara diam-diam dan bersiap menikam Fang dari belakang.

Fang tersenyum lebar, ia berbalik dan menarik pedangnya lalu segera menebas prajurit itu. Prajurit itu langsung tumbang bersimbah darah. Fang tersenyum lebar pada sang pemimpin musuh.

"Bersikaplah lebih jantan. Jangan terlalu membiasakan dengan cara diam-diam dari belakang." Ucapnya pada Baron.

Baron bergetar murka, ia menaikkan tangannya, memberi aba-aba.

"BERSIAAAP!" teriaknya, pasukan kerajaan tampak menunggu perintah berikutnya.

"PASUKAN BERKUDAAA! SERAAANG!"

Pasukan berkuda kerajaan maju.

Fang menatap seluruh pasukannya, menaikkan tangannya.

"SELURUH PASUKAN KLAN LI! BERSIAAAP!" teriaknya.

Pasukan musuh mulai mendekat kearah pasukan Klan Li. Di bagian atas bukit, tempat pasukan pemanah bersiaga.

"PASUKAN PEMANAH, BERSIAP!" teriak Zhuo.

Pasukan pemanah menyiapkan busur dan anak panah mereka di tangan.

"Bidikkan pada sasaran!" teriak Zhuo lagi.

Ia menunggu aba-aba dari gerakan tangan Fang dengan menghitung mundur, selagi pasukan musuh semakin mendekat.

"Lima.. empat.. tiga… dua.. satu…" tepat setelah ia menghiting mundur, jari telunjuk Fang terangkat keatas, memberi aba-aba pada pasukan pemanah.

"SERAANG!" teriak Zhuo, serempak seluruh pasukan melepaskan anak panah mereka masing-masing. Anak-anak panah itu melambung, lalu melayang turun menuju pasukan musuh. Dalam sekejap hujan panah membuat beberapa pasukan musuh terjatuh.

.

Fang yang masih mengangkat tangannya, hingga waktu yang tepat ia segera menurunkan tangannya dengan tegas.

"SERAAAANG!" teriaknya.

Pasukan berkuda segera maju. Perang meletus, saling menjatuhkan musuh. Begitu sengit. Fang kembali menarik pedangnya, dan maju dengan pedang terhunus.

.

.

Halilintar menebas satu persatu musuh yang mendekat padanya. Lalu melompat menghindari serangan dari musuh yang lain. Ia tertawa, menebas musuh yang lain. Seorang musuh berlari kearahnya dengan pedang terhunus dari belakang, hendak menikamnya. Sebelum ia tersadar, Gempa menebas musuh di belakang Halilintar.

"Punggungmu terbuka." Ucap Gempa.

"Ah, thanks!" seru Halilintar.

Keduanya saling menjaga punggung dan menebas musuh yang terus berdatangan kearah mereka.

"Kau tampak senang, Hali." Ucap Gempa.

"Tentu, aku selalu ingin mengikuti peperangan seperti ini!" jawab Halilintar, menebas musuh didepannya.

Gempa tertawa, ia memutar pedangnya dan menusuk tubuh musuh di depannya, lalu menebas musuh yang lain.

"Bagaimana dengan Taufan dan Air?" tanya Halilintar.

"Taufan tampak senang sepertimu, sejak tadi ia tertawa seperti orang kesurupan, lihatlah." Jawab Gempa sambil menunjuk ke arah Taufan berada.

Halilintar melirik kearah Taufan. Di sana, Taufan tampak tertawa sambil melecutkan cambuknya kearah pasukan musuh dan menjerat mereka, ia juga melemparkan bumerangnya berkali-kali dan menangkapnya kembali setelah mengenai kepala musuh.

"Dia seperti psikopat." Ucap Halilintar lalu kembali fokus ke musuh.

Gempa mengangguk.

"Bagaimana dengan Air?" tanya Halilintar.

"Dengan santai menumbangkan musuhnya." Jawab Gempa, kali ini menunjuk kearah Air.

Halilintar melirik lagi, dilihatnya Air menerbangkan sseluruh musuhnya dengan tongkat dalam sekali pukulan. Wajahnya datar dan tak segan menumbangkan musuhnya.

"Dia terlihat sangat semangat, bukan?" tanya Gempa.

Halilintar mengangguk, "Bagaimana denganmu?" tanyanya balik.

"Aku? Aku baik-baik saja!" jawab Gempa, kembali menebas beberapa musuh.

Halilintar tersenyum, tak ada percakapan lagi diantara mereka berdua untuk berikutnya.

.

.

CM

.

Sudah setengah dari kedua belah pasukan telah tumbang, menyisakan setengah pasukan yang masih bertahan. Dan Fang tengah bertarung melawan Baron.

"Lihatlah! Pasukanmu mulai berkurang satu demi satu!" seru Baron.

"Pasukanmu juga." Balas Fang.

Baron tertawa kencang, suara pedang keduanya beradu berkali-kali, "Tapi kalian lah yang akan kalah! Karena sebentar lagi, bantuan kami akan tiba!" serunya.

"Hmm.." Fang tidak berniat membalas dan hanya tersenyum menyeringai.

Keduanya terus bertarung hingga terjadi keributan besar, Baron menyeringai senang, "Lihatlah! Pasukan bantuan kami telah datang!" serunya.

Fang melompat menghindari ayunan pedang Baron, ia melirik pasukan bantuan musuh yang baru datang. Pasukan itu memakai seragam yang tidak asing dengan para petugas yang sering berkeliaran di kota, Fang tertawa.

"Kau tak usah khawatir, Baron! Karena pasukanku yang masih bertahan adalah yang terkuat dari semua yang terkuat! Mereka takkan mudah tumbang! Lihat saja apa yang akan terjadi!" seru Fang.

Baron tertawa mencemooh, "Apa katamu?! Disaat terdesak kau masih bisa menyombongkan diri?"

Fang tertawa, "Begitulah aku!"

.

.

.

"AKU LOUIS! IKUTI AKU! TUMPAS SELURUH PASUKAN KLAN LI!"

"YYAA!"

Perang kembali meletus, Gempa, Halilintar, Taufan dan Air kembali beraksi. Menghabisi musuh-musuh mereka. Satu persatu musuh mulai berjatuhan.

Air berlari masih dengan membawa tongkatnya menuju pemimpin dari pasukan bantuan musuh. Diputarnya tongkat ditangannya, menghentakkannya ke tanah lalu ia melambungkan tubuhnya. Dilayangkannya tendangan kearah pemimpin sasarannya yang sedang menaiki kuda itu.

Pemimpin pasukan yang bernama Louis itu terlempar beberapa meter, ia bangkit dan segera menoleh kearah orang yang suda menendangnya. Air mendarat di tanah dengan mulus.

"Ha! Kau rupanya!" seru Louis sambil memandangnya remeh.

Air hanya diam sambil memegang tongkatnya.

"Tidakkah kau menyerahkan diri? Lihat hanya gara-gara kau banyak orang yang terluka!" seru Louis.

Air tetap diam.

"Lebih baik kau segera menyerahkan dirimu jika kau tak ingin orang lain terluka lebih banyak!" seru Louis lagi dan tertawa puas.

Air diam, tak berniat menanggapi. Louis menghentikan tawanya dan menatap Air kesal. Ia mengeluarkan pedang dari sarungnya dan berlari kearah Air.

Traaak!

Bunyi pedang dan tongkat beradu.

"Aku bisa saja memotong tongkatmu!" seru Louis sambil mengayunkan pedangnya kearah Air yang menggunakan tongkatnya sebagai tameng.

"Sayang sekali, tongkatku terbuat dari baja." Jawab Air tenang, ia lalu memutar tongkatnya dan memukul Louis.

"Cih! Dasar bocah tak tahu diri! Kalian semua anak muda yang sombong! Menyerahlah! Kekuatan kalian tidak akan bisa menandingi kerajaan! Apa lagi menandingi Yang Mulia Raja!" seru Louis.

Air menggeleng pelan, "Aku tak mau." Ucapnya.

"Kalau begitu aku akan memburu seisi kota! Akan kubuat mereka menjadi budak! Jika kau tak segera menyerah!"

Mata Air membulat.

Louid tertawa keras, pedang dan tongkat kembali beradu. Air diam sambil menangkis semua serangan Louis. Louis terus tertawa tak henti-henti, hingga dua buah benda dari arah yang berbeda membentur kepalanya dengan keras. Air melompat menghindar sembari terkejut dengan apa yang terjadi.

"APA YANG—" Louis tidak terima.

Air menoleh kearah kanan, mendapatkan Taufan yang menangkap bumerang lalu tersenyum manis kearahnya.

"Suara tawanya mengganggu pendengaranku." Ucap Taufan sambil menunjuk telinganya, kemudian melecutkan cambuknya kearah musuh.

Air lalu menoleh ke arah kiri, mendapatkan Gempa yang nyengir lebar kearah Louis.

"Maaf tuan! Tanganku terpleset!" serunya lalu mengedipkan mata kearah Air.

"KURANG AJAR! HEI KALIAN, BUNUH MEREKA BERDUA!" seru Louis pada pasukannya yang berada dibelakangnya.

Air menghela napas dan tertawa kecil, diangkatnya tongkatnya tinggi-tinggi dan mengarahkannya kearah kepala Louis.

BLETAK!

Suara keras akibat benturan tongkat dengan kepala terdengar, selanjutnya Louis tumbang tak sadarkan diri. Pasukannya terdiam melihat kejadian itu, kemudian mereka marah dan mengamuk. Air segera bersiap untuk melawan mereka.

.

.

Fang dan Baron masih terus betarung, suara pedang mereka berbunyi berkali-kali saat pedang mereka beradu.

"Ah, lihat. Bagaimana itu Baron? Pemimpin pasukan bantuan malah sudah tumbang.." ucap Fang, ia mengayunkan pedangnya dan melukai pinggang Baron.

"Cih! Sial! Dasar tidak bisa diandalkan!" seru Baron, membalas serangan Fang.

Fang berhasil menghindar, ia tertawa. Baron mengamuk, ia menyerang Fang bertubi-tubi.

"Pasukanmu makin terdesak, Baron. Bagaimana denganmu?" tanya Fang.

Baron mengumpat kesal, masih terus berusaha melukai Fang. Fang dengan gesit menghindar.

"Kau semakin lama semakin brutal. Apakah pandanganmu menggelap, Baron?" tanya Fang.

Baron tak menjawab, ia tertawa kecil saat ia melukai lengan Fang. Fang tersenyum lebar, ia mengayunkan pedangnya kearah Baron.

Baron menghindar. Fang menghela napas panjang, ia mengambil sesuatu dari lengan bajunya. Sebuah kacamata, lalu memakainya.

Baron berlari kearahnya dengan pedang terhunus, teriakannya meraung.

"HYYYAAAAAHHH!"

Fang menyeringai, di putarnya pedang miliknya sembari berjalan pelan membiarkan Baron berlari kearahnya.

Fang mengayunkan pedangnya, ujung pedang itu menggores tubuh Baron. Darah memuncrat kemana-mana. Baron tumbang sambil meringis kesakitan.

Fang mengayunkan pedangnya, menghilangkan darah yang menempel di seluruh pedangnya. Kemudian ia memasukkannya kedalam sarung pedang.

"Tarik kembali pasukanmu, Baron. Semuanya. Sebelum aku membunuh mereka. Dan, jangan menginjakkan kaki kalian lagi di kota." Ucap Fang, lalu berbalik.

Pasukan Baron terkejut saat melihat pemimpin mereka telah tumbang, serentak seluruh komandan yang tersisa segera mengambil langkah darurat.

"SEMUA PASUKAN! MUNDUUUR! MUNDUUR!"

.

Seluruh pasukan musuh yang tinggal sedikit serentak mundur, mereka meninggalkan medan peran dengan kepala tertunduk. Kalah.

.

Fang mengumpulkan seluruh komandannya, empat kembar, dan pasukan Klan Li yang masih tersisa. Ia tersenyum lebar, lalu mengangkat tangannya yang terkepal.

"KITA MENANG!"

"YYEEAAH!"

Sorakan kemenangan memenuhi tempat yang sebelumnya berubah menjadi medang perang itu. Fang lalu menoleh kearah empat kembar dan tersenyum.

"Terimakasih sudah membantu." Ucap Fang.

"Tidak apa-apa." Balas Gempa.

Halilinta mengangguk, Taufan tertawa kecil.

"Aku lah yang seharusnya berterimakasih.." ucap Air membuat saudaranya dan Fang menoleh kearahnya.

"Kenapa harus?" tanya Taufan.

"Karena kalian telah melakukan semua itu untukku." Jawab Air.

Taufan mencubit pipi Air, Halilintar tersenyum tipis.

"Kami tidak melakukan semuanya hanya untukmu, ini untuk kita semua juga." Ucap Gempa.

Air mengangguk.

"Pede sekali dia mengatakan hal itu," ucap Fang.

Air mengerjapkan matanya, "Tapi, tetap, terimakasih.." ucapnya.

"Sama-sama.." Gempa, Halilintar, Taufan dan Fang tersenyum.

.

Fang lalu kembali beralih pada pasukan Klan Li yang masih bersorak bahagia. Ia menepuk tangannya dua kali.

"Perhatian!" serunya.

Semuanya terdiam.

"Karena divisi kesehatan akan segera tiba, segera kumpulkan semuanya yang terluka! Kita akan mengobati mereka!" seru Fang.

"SIAP, KETUA!"

.

.

TBC~

Halo! Aku kembali dengan membawa chap 11! Ada yang nunggu? :3

Maaf ya, lama update. Soalnya sempat bingung, uring-uringan ngelanjut chapter ini. Karena aku jarang melihat tentang sesuatu yang berbau perang u,u jadi harus cari refrensi juga. :3 setidaknya untung aku libur sejak sabtu kemarin/sombongamat, jadi bisa ngelanjutin ch ini :3 apakah di chapter ini ada yg aneh? Kalau iya aku minta maaf~

Dan untuk Ochobot dan Ying, maafkan aku karna mereka di sini cuma muncul sedikit, bagian Halilintarnya juga (o_o)/

Oke, aku mau balas review dulu~

Untuk DesyNAP : thanks :3 oke, ini udah lanjut :3

Untuk Fajrin : Fang keren, Halilintar keren, authornya keren juga nggak? :3 /disepak

Untuk Annisa AT : Api masih muncul satu atau dua chapter lagi, sabar ya~ thanks utk semangatnya :3

Untuk Azure : Iyap, Fang Black Lucifer, iya dia salah satu yang di blg Kiyoshi. Knife Lady bukan Ying. Ntar nanti ada kok clue siapa Knife lady itu. Beard Monsternya kayaknya bukan Tok Aba, hehe. Kalo red gemini, itu memang OC nanti.. untuk permintaannya saya pikir dulu XD thanks utk jempolnya :3 oke, ini udah lanjut :3

Untuk Haruka Yuki : terimakasih/bow. Iya, chapter ini banyak pertarungannya. :3 Yaya sudah pernah muncul di chapter sebelumnya, waktu Taufan pertama kali muncul. Thanks untuk semangatnya, maaf juga saya gak bisa bahasa Malaysia. Tapi begini ngerti kan? Thanks uda baca ff aku :3 oke, ini udah update

Untuk Guest : sabar ya~ eh, masa kurang panjang? Haduh~ aku harap ini udah panjang ya :3

Untuk Guest (lagi) : sabar ya, Api nya masih muncul satu atau dua chap lagi~ terimakasih~ ini udah lanjut~ :3

Untuk NurHalimah : iya :3 Api masih satu atau dua chap lagi munculnya, sabar ya~ :3 Yaya gak saya munculin lagi. ini udah lanjut :3

Untuk Tazkya : kasian kalo kamu colong, entar bel sekolahnya gimana? Terserah mau manggil pake apa :3 FB? Punya kok~ aku sudah add kamu btw, cari aja, pp ku gambar Luffy lagi ngupil XD si Api petarung jarak jauh :3 untuk gambarnya, aku udah liat! Seneng banget, aduuh~ makasih ya~ X3 oke, ini udah lanjut~

Untuk Asih : sabar ya, dia muncul satu atau dua chap lagi XD thanks kembali :3

Selesai~ ini btw, pada gak sabar Api muncul ya? Haduuh~ maap ya~ :3

Thanks yang uda review kemarin! Thanks juga buat yang uda baca chap ini dan menyempatkan diri untuk review~ :3 /kedip-kedip

Sampai jumpa~