Hi, I'm chrizzle and proudly presents the epilogue. (Walaupun telad, hahaha).
gomengomengomennnnn jel telattt banget ini update nyaa, terus agak pendek pula -_-. tapi inilah kesanggupankuuuuuuu :') hadiah akhir tahun untuk kalian teman-teman.
Disclaimer : Naruto is originally belongs to Masashi Kishimoto. Mencomot judul lagu sebagai judul chapter dari Brian McKnight.
.
.
.
The Final Chapter, Epilogue : Marry Your Daughter
.
.
.
Can I marry your daughter?
And make her my wife?
Can I marry your princess?
And make her my queen?
.
.
Naruto duduk bersimpuh tunduk, sehingga badannya menyentuh lantai kayu kediaman Hyuuga. Ia berbuat demikian di depan seorang bapak berumur enam puluh tahunan. Dari raut mukanya saja, sudah ketahuan kalau orang tua itu berada beberapa tingkat di atas kata 'tegas', terlebih dari buah bibir beberapa orang di sekitarnya kalau Hiashi Hyuuga itu adalah seorang bapak galak.
Hiashi Hyuuga?
Ya, Naruto Uzumaki kini duduk bersimpuh dengan tangan gemetaran di depan ayah kandung Hinata, pacarnya.
"Angkat badanmu." Kata Hiashi.
Naruto perlahan mengangkat badannya, menghadap ke Hiashi langsung. Mereka berdua sekarang berada di ruang pertemuan Hyuuga yang kebetulan ada di dalam mansion.
Beberapa jam yang lalu, Iruka dan Kakashi datang ke mansion Hyuuga sebagai wakil sekaligus pengganti orang tua Naruto untuk melamarkan Hinata sebagai istri sang calon hokage Konoha. Tapi, belum ada beberapa menit Kakashi berbicara untuk menyampaikan tujuannya, Hiashi malah menyuruh Naruto berbicara mengenai maksud kedatangannya kepada dirinya secara langsung dan tertutup.
Istilah zaman sekarang: interogasi.
Oke, kembali ke Naruto yang sedang diinterogasi oleh ayahnya Hinata.
"Jadi, sebenarnya kau ke sini sampai bawa-bawa Kakashi dan Iruka itu untuk apa?" Tanya Hiashi.
"A-aku ingin melamar Hinata, Hiashi-sama." Jawab Naruto pelan. Ia benar-benar gugup sekarang. Ia harus menghadapi calon mertuanya sendirian. Padahal kalau misalnya tadi ia diinterogasi bersama dengan Iruka dan Kakashi, mungkin ia akan mempunyai sedikit nyali untuk berbicara.
"Apa kau benar ingin melamar putriku? Kata-katamu saja tidak terdengar meyakinkan." Jawab Hiashi dengan nada yang sedikit meremehkan.
"Aku ingin melamar Hinata, Hiashi-sama!" Ulang Naruto. Kali ini suaranya lantang dan keras, disertai beberapa anggukan penuh percaya diri setelah ia menyelesaikan kata-katanya.
"Kali ini kau berkata seperti akan menculik putriku." Jawab Hiashi lagi.
"Uggh." Naruto gelisah sendiri. Apa yang dilakukannya serba salah. Sementara pak tua di hadapannya mendengus menahan tawa, karena ekspresi Naruto yang sejak tadi seperti orang yang terkena ambeyen. Hiashi bisa-bisa tertawa ngakak kalau begini terus.
"Jadi, ceritakan bagaimana putriku sehingga kau ingin melamarnya." Ujar Hiashi. Ia penasaran tentang kisah cinta mereka berdua kali ini. Ia sudah mendengar beberapa keping dari Hanabi, tapi bukankah lebih seru jika mendengarkannya langsung dari sang pemeran utamanya?
"Hi-hinata, ya?" Tanya Naruto gugup. Ia kembali bereaksi seperti orang ambeyen. Hiashi tak tahan, ia jadi sedikit kasihan pada pemuda di depannya itu.
"Santai saja. Aku tidak akan memakanmu." Katanya.
Jujur, kata-kata Hiashi membuat Naruto sedikit tenang dalam duduknya. Membuat jantungnya lebih jinak untuk diajak memompa darah.
"Pertama kali aku melihatnya, aku pikir dia anak yang aneh. Mukanya selalu merah, dan ia selalu bersembunyi tiap kali melihatku. Tapi semakin aku mengenalnya, ternyata dia pribadi yang ramah dan menyenangkan. Hinata itu benar-benar baik menurutku." Mulai Naruto. Ia melihat raut muka calon mertuanya. Hiashi terlihat sedikit melunak, tidak setegang tagi. Malah, ia tampak bangga akan cerita Naruto tentang putrinya. Naruto kembali merasa lega.
"Dia sangat cerdas. Hanya saja kurang percaya diri dan minder. Dia selalu mengutamakan kepentingan orang lain dari pada kepentingannya. Waktu aku kecil, ia sering membantuku tanpa pamrih. Hanya Hinata satu-satunya dari semua tema-temanku yang menatapku dengan ramah. Tidak seperti orang lain yang menganggapku monster." Naruto tersenyum di sela-sela ceritanya, membayangkan bagaimana Hinata-nya waktu kecil.
"Dia semakin berkembang, dan semakin kuat. Hanya saja ia terlalu lembut. Dia terlalu pemaaf, dan tidak suka dengan kekerasan. Agak bertentangan dengan fakta kalau ia punya akurasi serangan paling tepat di Konoha, dan dia sendiri adalah seorang yamato nadeshiko." Hiashi terkekeh, menyetujui bagaimana putrinya yang diceritakan Naruto saat ini.
"Lalu saat invansi Pain, aku tidak menyangka ia punya pe-perasaan lebih padaku. Aku sangat kaget waktu itu, tapi aku juga senang. Seorang Hyuuga mau melirik padaku." Naruto tersenyum kembali, karena ingatannya akan pengakuan Hinata sudah sangat permanen berada di kepalanya. Ketika ia mengingatnya, debaran dan suhu tubuhnya akan selalu sama.
Gregetan.
Hiashi menaikkan satu alisnya. Ia menutup matanya dan berkata, "Hyuuga tidak sesombong yang kau kira, nak."
"I-iya. Aku yakin Hyuuga tidak sombong. Hanya saja kalian sangat disegani banyak orang. Dicintai oleh seorang tuan putri keluarga Hyuuga merupakan suatu kehormatan." Kata Naruto lagi.
Wow! Jawaban tepat, Naruto. Hiashi mengangguk setuju, menyukai bagaimana Naruto menanggapi kata-katanya tadi.
"Saat perang, hanya kata-katanya yang bisa aku dengar. Semangatnya menular ke semua orang, termasuk aku. Aku benar-benar bahagia saat itu, lalu aku memegang tangannya. Tangannya sangat hangat." Naruto berani menatap Hiashi, yang matanya memancarkan sedikit senyuman walau tak kentara.
"Ibunya pun juga mempunyai tangan yang hangat." Tanggap Hiashi kemudian.
"Ta-tapi aku pernah mengecewakannya sekali. Saat itu aku masih terjebak dengan cinta sesaatku waktu kecil. Dan karena alasan hutang budi, aku menerimanya sebagai kekasihku. Kemudian dia tahu tentang hal itu, dan terluka. Aku kira ia akan menangis berhari-hari dan membuat semua orang khawatir, ternyata tidak. Ia sangat kuat. Ia bisa bangkit dan kembali seperti Hinata biasanya. Ia bahkan menerima misi berat selama beberapa tahun." Kedua alis Hiashi terangkat. Apa yang diceritakan anak bungsunya tentang calon menantunya ini benar. Naruto pernah mengecewakan Hinata.
"Ketika dia pergi, aku jadi kehilangan. Lalu aku sadar siapa yang sebenarnya aku sayangi selama ini. Aku benar-benar mencintainya. Selama kepergiannya, aku hanya bisa menunggu saja. Aku kira, semua akan kembali seperti semula ketika ia kembali, ternyata tidak. Mendapatkannya kembali adalah hal tersulit yang pernah aku alami, Hiashi-sama." Naruto menggaruk kepala belakangnya yang tertutupi rambut kuning yang memanjang, lalu menatap Hiashi dengan sedikit ragu.
Namun ia tetap melanjutkan, "Anakmu adalah wanita yang paling aku sukuri keberadaannya dalam hidupku. Dicintai olehnya mengobati rasa sakitku akan masa lalu. Semua kasih sayang yang tidak kudapatkan dulu, bisa ia gantikan sekarang dengan dirinya sendiri. Aku ingin melindunginya, Hiashi-sama. Aku ingin dia jadi perempuan yang paling kucintai sampai mati. Jadi kumohon restuilah kami!"
Naruto kembali menunduk, menenggelamkan keseluruhan kepala dan badannya pada lantai, menutup mata erat-erat, berdoa pada Kami-sama agar Hiashi mau memberikannya restu.
"Jadi, kau pernah mengecewakan Hinata, ya." Kata Hiashi lambat-lambat dengan penekanan penuh amarah campur kecewa dalam kata-katanya.
Dalam tundukan kepalanya, Naruto semakin pesimis. Kata-kata Hiashi seakan ia tak ingin Naruto menjadi menantunya. Ia tak tahu bagaimana hidupnya kelak kalau Hiashi menolaknya dan memisahkannya jauh dari Hinata. Ia sungguh tak ingin itu terjadi.
Naruto semakin gelisah. Ia memejamkan matanya tambah erat. Kesepuluh jari-jari tangannya saling meremas kuat dan berkeringat. Degup jantungnya yang sempat jinak kini kembali berdetak abnormal.
Tuk.
Sebuah benda diletakkan di dekat kepala Naruto. Diletakkan di atas permukaan lantai kayu berwarna coklat, menimbulkan bunyi 'tuk' yang sangat nyaring di telinga tan Naruto.
Naruto mengangkat kepalanya, mengambil benda yang ternyata adalah kotak kecil itu. Ia lalu menatap Hiashi, meminta izin membuka isi dari kotak itu. Hiashi mengangguk sedikit, membuat perhatian Naruto kembali pada kotak itu.
Ketika ia membukanya, alangkah terkejutnya ia mendapati dua cincin berlian ada di dalamnya. Dengan haru ia menatap ayah Hinata yang secara tidak langsung menyetujui lamarannya itu.
Hiashi tersenyum, "Jadi, kau mau upacaranya berdasarkan tradisi klan Hyuuga atau Uzumaki?" Tanyanya antusias.
Naruto tersenyum, menyerahkan semua kegiatan pada ayah mertuanya itu.
.
Naruto dan Hiashi keluar dari ruangan interogasi dengan perasaan luar biasa gembira. Mereka berjalan ke tempat Kakashi dan Iruka menunggu.
Kakashi dan Iruka menunggu dengan was-was, karena mereka paham betul akan kecerobohan Naruto dalam berkata-kata. Tapi tak jarang kata-katanya dapat merubah dunia. Yah, mereka tetap saja cemas. Ketika mereka melihat Naruto dan Hiashi datang, mereka cepat-cepat berdiri.
"Bagaimana?" Tanya Iruka pada Naruto dengan antusias, sementara Kakashi tau, di balik senyum mereka Naruto, pasti kabar baik di dalamnya.
"Hmm... Biarkan ayah yang menjelaskan, aku mau menemui Hinata dulu." Kata Naruto, lalu segera melesat pergi dari hadapan mereka itu.
"Ha? A-ayah? Naruto! Jangan pergi dulu!" Teriak Iruka, meminta penjelasan lebih. Namun tak ada jawaban, Naruto sudah benar-benar menjauh dari mereka.
"Jadi, anda menerima lamaran Naruto, Hiashi-sama?" Tanya Iruka.
Hiashi tersenyum, menampakkan lengkung bibirnya yang Kakashi dan Iruka belum pernah lihat seumur hidup mereka.
"Ya. Aku akan punya anak laki-laki."
.
.
.
Naruto berlari cepat membelah keramaian di pusat Konoha. Senyum lebar tak lepas dari bibirnya selama ia berlari. Ia berlari sambil menyapa riang dengan siapapun yang dikenalnya, hingga ia memeluk Kiba dan Shino yang sedang berjalan mencari makanan Akamaru.
Ketika ia melihat rambut indigo dari kejauhan, ia semakin cepat berlari hingga ia akhirnya berhenti dan memeluk erat gadis itu dari belakang.
"Na-naruto-kun?!" Jerit Hinata kaget. Ia sedang berbicara pada Haru, Sakura, dan Sasuke ketika Naruto datang.
"Ada apa?" Tanya Hinata lagi karena yang sedang memeluknya tak kunjung menjawabnya.
Naruto semakin mempererat pelukannya. Hinata merasakannya, namun ia tak ambil pusing. Tangan kiri yang masih erat memeluk perut ramping Hinata, sedangkan tangan kanannya ia bawa ke arah sakunya, mengambil kotak yang tadi diberikan oleh Hiashi.
Setelah ia mengeluarkannya, ia membuka kotak itu dan mengacungkannya ke arah Hinata yang ada di depannya.
"Ci-cincin oka-san!" Seru Hinata. Ia melepaskan pelukan satu tangan Naruto dan berbalik menghadapnya.
"Cincin ini? Naruto kenapa cin–"
Tanpa basa-basi, Naruto menarik tangan kanan Hinata dan memakaikan cincin itu di jari manisnya.
Pas.
"Na-naru ini–"
Kata-kata gadis itu kembali terpotong ketika Naruto memperlihatkan jari manisnya yang dihiasi cincin dengan bentuk yang sama, hanya berbeda ukuran.
"Itu kan cincin–"
"Otou-sama." Potong Naruto, menekankan bahwa ia juga memanggil Hiashi dengan sebutan yang sama dengan Hinata.
Hinata menutup mulutnya terharu. Naruto berbalik, mencari sesuatu dengan buru-buru. Ketika melihat sepeda ungu Ino terparkir di sebuah pelataran toko, ia langsung menuju ke sana, tak peduli dengan arah mata semua orang yang sedari tadi mengikutinya.
Naruto berlari dan menyambar sebuah buket bunga mawar dari keranjang sepeda Ino, lalu berlari kembali ke hadapan Hinata.
Ia menyodorkan buket bunga itu ke Hinata.
"Hinata Hyuuga, menikahlah denganku." Ujarnya dengan serius.
Semua orang terpana dengan muka merona merah, hingga,
"Baka dobe. Kau sudah memasangkan cincin nikah pada Hinata, tapi baru mengajaknya nikah sekarang?" Ujar seseorang yang pastinya sudah diketahui siapa.
Naruto menoleh ke samping kanan, dan mendapati Sasuke, Sakura dan Haru menatap mereka antusias.
"Te-teme? Sakura-chan? Haru? Sejak kapan di sini?" Tanyanya. Ia lalu melihat ke sekeliling. Hampir semua penduduk menghentikan aktivitasnya untuk mengerubungi dan melihat mereka berdua. "Sejak kapan kalian semua di sini?" Tanyanya dengan ekspresi bingung.
Semua orang sweat-dropped.
"Cincin nikah belum dipakai saat lamaran, Naruto." Celetuk Tenten.
Alih-alih malu karena kesalahannya, Naruto malah tersenyum lebar. "Sebelum lamaran pun, aku sudah tahu suatu saat kami akan menikah." Lagi-lagi semua orang terpesona akibat ulah pemuda itu.
"Lagipula, aku sudah tahu pasti jawaban calon istriku ini. Iya kan, Hinata?" Ia kembali menatap Hinata dengan mata birunya yang memesona. Ah, semua gadis yang ada di sana iri setengah mati pada Hinata.
Sang gadis mengangguk beberapa kali, membuat beberapa orang bahkan berteriak ikut senang.
"Hei Naruto! Kembalikan buket bungaku! Itu sudah dipesan orang!" Teriak Ino marah, sementara Naruto menarik tangan Hinata untuk mulai berlari kabur.
.
.
.
.
Naruto masih terjaga. Ia belum tidur sejak tadi. Walau matanya sudah lelah, namun entah apa yang membuatnya tak bisa tidur kali ini. Ia berguling ke samping, menatap ke arah istri sahnya yang sedang tertidur pulas.
Mereka kini berada di apartemen baru Naruto yang lebih besar dan lebih strategis, tempat ia akan menghabiskan banyak waktu bersama Hinata.
Naruto memandang lagi istri yang benar-benar sudah utuh menjadi miliknya itu dengan intens, merekahkan senyum di wajahnya.
Hinata tersenyum dalam tidur, terseret jauh dalam buaian mimpi indahnya. Begitu jauh, membuat Naruto bertanya sedang mimpi apakah Hinata? Apakah yang ia lihat sekarang?
Naruto begitu senang, ia tak ingin tertidur. Ia mungkin bisa terus terjaga untuk melihat senyum Hinata saat tidur, meskipun ia tahu akan setiap hari mendapatkannya lagi. Jika ia tertidur, ia merasa akan merindukan Hinata dalam delapan jam tidur normalnya.
Walaupun nantinya ia akan bermimpi tentang Hinata, ia rasa mimpi seindah apapun tak sebanding dengan apa yang ia lihat saat ini.
Desah nafas teratur Hinata di balik selimut itu terdengar bagai musik yang seirama dengan detak jantungnya. Naruto memajukan wajahnya, mengecup bahu polos sang istri.
Tak ia sangka, Hinata terbangun.
Ketika Hinata membuka mata, yang ia lihat adalah wajah Naruto yang tersenyum padanya. Ia tersenyum balik, merapatkan badan pada suaminya itu. Tidur dalam keadaan polos dengan hanya satu selimut di atas tubuhnya membuat ia menggigil.
"Dingin?" Tanya Naruto.
Hinata mengangguk.
Dalam selimutnya, Naruto melingkarkan tangannya ke pinggang Hinata, membuat wanita itu sedikit memekik, merasakan panas dan geli yang dihantar Naruto.
"Belum tidur?" Tanya Hinata dengan suara serak khas baru bangun tidur.
Naruto menggeleng.
Hening sempat meraja di antara suami istri ini. Membuat Hinata kembali merasa ngantuk.
"Apa kamu menyesal?" Tanya Naruto tiba-tiba.
Seketika, kantuk Hinata hilang. "Menyesal kenapa, Naruto-kun?"
"Mungkin saja kamu sudah merasa menyesal menikah denganku. Mungkin aku sudah berbuat kesalahan dan menyakiti hatimu lagi. Mungkin kamu akan meninggalkanku seperti dulu. Atau kamu malu punya suami bodoh sepertiku–"
Kata-kata Naruto terhenti karena bibir Hinata membungkamnya. Naruto terpana beberapa saat, setelah itu ia mendapati muka tegas Hinata ditujukan padanya.
"Jangan pernah berpikir seperti itu lagi, Naruto-kun." Katanya.
Setelah itu tatapannya kembali melembut.
"Aku memberikanmu takdirku, Naruto-kun. Aku memberikanmu jiwaku, hidupku, semuanya. Itu semua tanpa syarat, Naruto-kun. Aku akan selalu memaafkan kesalahanmu asalkan kamu mau mempertanggung jawabkannya. Kamu tak perlu menjadi jenius, tampan, atau yang paling hebat di dunia. Kamu hanya perlu menjadi Naruto-kun-ku. Naruto-kun yang mencintaiku." Kata Hinata lembut sambil membelai pipi Naruto.
Setetes air mata bahagia turun dari mata biru Naruto, menetes melewati hidung mancungnya, jatuh tanpa arah karena ia sedang menoleh ke samping.
Hinata menyekanya, lalu tersenyum.
"Aku tak akan minta apa-apa lagi pada Kami-sama. Kehadiranmu sudah cukup memenuhi apa yang kubutuhkan. Aku mencintaimu." Balas Naruto.
"Aku juga mencintaimu." Balas Hinata. Serbuan rona merah menyapu wajahnya, entah mengapa ia selalu gregetan mendengar kata-kata itu dari Naruto.
"Ayo tidur. Kamu punya banyak kerja sebagai hokage baru besok." Ajak Hinata.
Naruto mengangguk, mengecup bibir Hinata singkat, lalu mengecup matanya yang terpejam. Dan mereka kembali tidur.
Dalam pejaman matanya, Naruto berulang kali meneriakkan syukur dalam hatinya, bersyukur karena mereka kini adalah satu.
.
.
Kamu adalah kejaiban terbesar dalam hidupku. Kehadiranmu menepis semua sepi dan kecewa yang kualami dulu.
Satu cintamu cukup untuk memenuhi ribuan kasih sayang yang kutuntut saat aku kecil.
Waktu yang kuhabiskan bersamamu, adalah waktu yang paling berharga.
Aku ingin terus bersamamu, dalam saat apapun, selamanya.
.
.
.
.
.
OWARI
.
.
.
Tenoooot! Tamat lohh.. Jel mau minta maaf lagi soalnya telat sangat sangat telat sangat telat telat sangat sangat untuk update. Jujur nih, ya, agak sakit kepala mikirin fic ini. Wb muluk T.T Mikirin konflik ternyate lebih gampang dari mikirin ending. Tapi akhirnya jadi juga kan? (dengan gajenya gituloh) Fiuhhh.. #lap keringet.
Makasihhhhhhh banget buat temen-temen yang udh nyempetin waktu buat baca, buat review, ngefav, ngefollow, atau balas pm ijel
Makasih juga buat yang selalu ngingetin jel buat update. Terima kasih karena benar- benar sabar menghadapi author php janji sepertiku.
KALIAN YANG TERBAIK! HOHOHO.
Udah libur ajaa. Selamat Natal buat kalian yang merayakannya. Happy Holiday and Happy New Year buat kita cemuanah!
Last, HAPPY BIRTHDAY HINATA! BE FOREVER HAPPY WITH NARUTO! #asal ngga diphp-in mbah masashi aja. #plak!
So, mau review lagi?
