A Naruto Role Play by Chiaki Megumi/Ange la Nuit and Kyou Kionkitchee
Disclaimer: Masashi Kishimoto
Genre: Romance/Drama
Rating: K-T (for save)
Pairing: SasuNaru (main), slight FugaMina
Warnings: AU, ShoAi, Yaoi, possible OOC. Don't like don't read, key?
-garisgarisgarisgaris-
[Chapter 11]
An End for a Beginning
-garisgarisgarisgaris-
Bersandar pada dada bidang pemuda yang kini tengah memeluk dari belakang, Naruto menatap langit yang perlahan melukiskan nyawa malam. Warna kejinggaan perlahan menghilang dari horizon cakrawala digantikan oleh warna laut yang menghitam. Bersamaan dengan itu, pemuda berambut pirang ini meraih sesuatu dari kantong celananya. Jemarinya mengutak-atik benda yang berada dalam genggamannya-ponsel-mengubahnya dari posisi mati menjadi menyala. Tak lama setelahnya, penyandang marga Namikaze-Uzumaki itu memejamkan matanya.
"Ne, Sasuke, setelah ini, kemana kau akan membawaku?" tanya Naruto.
Sasuke tidak langsung membalas pertanyaan itu. Ia sendiri masih ragu kemana mereka akan pergi.
"Kita akan mencari penginapan dulu," katanya pada akhirnya, "aku tidak punya kenalan di sini."
"Hmm, penginapan ya..." Naruto mengulang satu kata yang telah Sasuke ucapkan, "bagaimana kalau ke Ciel Ichiraku?" tawarnya. "Selain sebagai café, tempat itu juga merangkap sebagai losmen. Lagipula, dulu kita akrab dengan Teuchi-Oji-san kan?"
Sasuke berusaha mengingat-ingat nama itu dalam kepalanya.
"Tempatmu makan ramen waktu itu, dobe?" Sasuke memastikan. "Ide bagus. Semoga saja mereka masih buka sampai sekarang."
Seketika Naruto merekahkan senyum lebar. "YOSH! Kalau begitu ayo!" ajaknya dengan semangat sembari menarik Sasuke setelah ia berdiri. "Aku ingin cepat-cepat makan ramen nih!"
Sasuke hanya tersenyum tipis sembari berdiri dari duduknya.
Semoga saja senyum konyol Naruto itu bisa terus dilihatnya hingga nanti.
Akhirnya mereka pun kembali menuruni tangga besi 'terlupakan' Oto Gakuen dan melompati gerbang yang ternyata sudah ditutup. Segera mereka berjalan menuju tempat yang telah mereka sebutkan tadi. Tidak begitu jauh dari sekolah itu, hanya tinggal berbelok ke gang yang berada tepat di sampingnya. Tampaklah sebuah resto bertuliskan 'Ciel Ichiraku Café & Losmen'-yang kelihatan lebih besar dari terakhir mereka lihat dulu. Wajar, 12 tahun telah berlalu semenjak saat itu... meninggalkan begitu saja kenangan-kenangan indah di dalamnya.
"Wah, Teuchi-Oji-san sudah berjuang keras sepertinya," kagum Naruto-masih melihat etalase resto itu. "Entah kenapa jadi deg-degan..." tambahnya.
Sasuke tak membalas. Ia hanya terus melangkah sembari mengamati tempat itu. Entah kenapa, restoran ini justru terasa hampir benar-benar asing. Yang bisa digalinya dari ingatannya dulu tentang tempat ini hanyalah wajah Naruto-dan mulut yang penuh ramen.
Sasuke hampir menyeringai memikirkan kemungkinan fakta ini: apa dulu dia hanya terfokus pada wajah Naruto yang sedang makan ketimbang tempat makan mereka sendiri?
Entahlah!
Naruto membuka pintu geser resto itu perlahan. Ia pun menyibakkan tirai kain yang bertuliskan 'Irrasshaimase' yang digantung pada kusen pintu masuk. Dengan wajah sumringah, Naruto menyapa seseorang yang tengah berada di balik meja single.
"Teuchi-Ji-san, apa ka-" Kalimatnya terhenti bersamaan dengan mata birunya yang membelalak lebar. Di depannya terpampang sesuatu-seseorang, tidak, dua orang yang membuatnya menahan napas. Dua orang yang paling tidak ingin ia-dan Sasuke tentunya-temui saat ini.
"Otou-sama... Oji-sama..."
Fugaku segera menoleh mendengar suara tercekat itu. Mata onyx-nya bertemu pandang dengan mata biru Naruto sebelum akhirnya beralih ke arah sepasang mata onyx lain milik seorang pemuda, putra kandungnya.
Dalam diam, kedua kerabat ini hanya saling menatap. Sasuke tidak tahu harus berkata apa sementara Fugaku memang belum berminat untuk membuka mulut atau bahkan mengubah tatapan tanpa ekspresinya.
"Oh, Naruto dan Sasuke rupanya," Minato berkata menggantikan Fugaku yang masih diam. "Ternyata kalian juga masih ingat tempat ini ya," tambahnya sembari melambaikan tangan dengan santai seperti mengajak kedua pemuda yang masih mematung di depan pintu itu untuk bergabung dengan dirinya dan Fugaku.
Naruto tercengang. Bagaimana mungkin... bagaimana mungkin ayahnya begitu ringan melambaikan tangan mengajak mereka bergabung... dengan wajah santai pula? Apa gerangan yang telah terjadi? Bukankah seharusnya mereka sedang mencari dirinya yang 'menghilang' tiba-tiba?
"Jangan bengong saja, nanti ayam tetangga mati loh," ujar Minato becanda.
Kelakar? Ayahnya yang sudah sekian tahun terlalu formal itu mengeluarkan kelakar? Oh, Kami-sama, jangan-jangan pria yang ada di sana bukan ayahnya! Apa dunia sudah mau tamat?
Sasuke tidak kalah terkejut, sementara Fugaku hampir tak bisa menahan senyum melihat ekspresi wajah mereka. Yah, tentu saja mereka bingung. Tentu mereka bertanya-tanya, mengapa mereka bukan dimarahi atau dipisahkan lagi? Apa sebenarnya yang terjadi? Sungguh sebuah pertanyaan besar untuk kedua otak muda itu.
"Duduklah dulu," ucap Fugaku, "kami pasti akan menjelaskannya."
Mendengar itu, Naruto menelan ludah. Ia masih was-was apa yang akan kedua pria itu lakukan sebenarnya. Benarkah hanya duduk dan bicara? Apa bukannya mereka akan menceramahi tentang betapa salahnya hal yang mereka lakukan? Kemudian memaksa mereka berpisah lagi? Apa ini jebakan?
Sepertinya pemikiran pemuda berambut pirang itu terbaca dengan mudah oleh Minato. Pria yang juga berambut pirang itu tertawa kecil, "Kalian tidak akan tahu apa yang kami rencanakan hanya dengan mematung di sana, Para Pemuda," sahutnya.
Sasuke memutuskan untuk percaya pada ayahnya.
Sungguh, ia lupa kapan terakhir sang ayah bersikap setenang ini untuk urusan Naruto. Dan ia yakin ketenangan kedua pria dewasa ini bukanlah sesuatu yang palsu ataupun buruk.
Digenggamnya bahu Naruto, dan dipandanginya mata biru langit itu-meyakinkannya untuk percaya.
Sejenak mata biru Naruto menatap lekat mata oniks Sasuke. Setelahnya, ia hanya menghembuskan napas kemudian tersenyum. Yah, kalau pemuda yang disayanginya itu memintanya untuk percaya, tidak ada alasan untuk tidak melakukannya. Lagipula, ia penasaran. Ia ingin tahu lebih lanjut mengenai hubungan kedua pria di meja no.7 itu.
Sasuke yang mengetahui pasti apa jawaban sang kekasih segera meraih jemari Naruto dan menuntunnya melangkah perlahan mendekati meja kedua pria itu.
Melihat bahwa memang tak ada celah di antara kedua pemuda yang kini berjalan berdampingan itu, Minato tersenyum penuh arti. Ia sedih karena mengingat masa lalunya yang menyakitkan, namun juga senang sebetulnya mengetahui betapa gigih puteranya mempertahankan seseorang yang berharga. Kalau saja waktu itu ia tetap mempertahankan Fugaku, mungkin ia tidak akan mengalami hal seperti ini. Tentu pula tidak akan bertemu dengan Naruto. Tidak. Ia lebih tak ingin hal itu terjadi. Bagaimana pun juga, Naruto merupakan harta karun baginya. Layaknya Fugaku dan Kushina, Naruto adalah salah satu bagian terpenting dalam hidupnya. Ia akan merasa sangat berdosa kalau membuat orang yang disayanginya menderita. Ia telah membuat puteranya menderita selama beberapa tahun ini. Ia tak ingin lagi mengulangi kesalahan yang sama.
Karena itu, ia memutuskan untuk menerima keadaan ini.
Begitu pun Fugaku. Ketimbang membayangkan Sasuke harus melewati hari-hari menyakitkan yang telah dilaluinya, ia memilih menyerah.
Yah, semoga saja Mikoto bisa mengerti nantinya. Tentu, Fugaku kini akan melakukan apapun agar wanita yang telah menjadi pendamping hidupnya selama lebih dari 20 tahun itu agar bisa menerima keputusannya ini.
"Teme," panggil Naruto pelan-masih berjalan dengan begitu pelannya menuju meja yang terletak di pojok ruangan namun dekat dengan jendela luar, "kau merasa ada yang berbeda dari Tou-sama dan Oji-sama nggak?" tanyanya. Ekspresinya melembut secara perlahan.
"Hn," gumam Sasuke menyetujui. Ada yang berbeda. Tapi mereka tidak tahu apa itu.
"Sepertinya..." Naruto kembali memulai perkataannya, "baru kali ini setelah sekian lama... aku melihat ekspresi Tou-sama yang tanpa beban..." ucapnya. "Aku... senang melihatnya."
"Hn," Sasuke menggumam lagi, kali ini benar-benar mengiyakan pernyataan Naruto... untuk ayahnya sendiri.
"Apa kami perlu 'menjemput' kalian agar bisa bergerak lebih cepat?" suara Minato yang setengah mengejek terdengar seakan lelah menunggu kedua pemuda itu. "Tidak masalah sih... meskipun rasanya malas juga," tambahnya sembari menopang dagu.
Naruto menggembungkan kedua pipinya, "Nggak usah, Tou-sama!" serunya. Langkahnya kini ia percepat-bersamaan dengan dirinya menarik Sasuke hingga sampai ke meja no.7 itu. Pemuda pirang itu pun mendudukkan Sasuke di sebelah sang Uchiha senior lalu ia sendiri di sebelah sang Namikaze senior. Lalu diam.
Minato yang melihat reaksi anaknya itu hanya mengangkat sebelah alis sebelum akhirnya menatap Fugaku, mempersilakan pria itu membuka pembicaraan mereka.
Fugaku sangat mengerti apa permintaan Minato padanya. Dan karena ini, ia hampir membuang nafas. Minato belum berubah, kadang masih seenaknya menyuruh orang lain untuk melakukan apa yang ia inginkan-dan yang menyebalkan, ia tidak pernah bisa melawan keinginan lelaki pirang ini.
"Begini," kata sang Uchiha membuka pembicaraan, "kami telah berbicara saat mencari kalian berdua tadi." Ia lalu menoleh sejenak ke arah Sasuke yang berada di sebelahnya, sebelum menatap pemuda bermata biru yang ada di sebelah Minato itu.
"Dan kami harus mengakui... kami telah salah."
Seperti mendengar suara bass yang benar-benar berat yang menggema ke penjuru arah, Naruto seakan tak paham kalimat yang diucapkan pria itu. Layaknya kata-kata yang saling bertumbukan, ia tak dapat menangkap jelas arti yang dibawanya. Atau mungkin lebih kepada tidak ingin mempercayai pendengarannya. Apa ia sudah sempat membersihkan telinganya pagi ini?
Like son like father, atau like father like son? Ah, apapun itu. Minato sangat mengerti raut wajah yang ditampakkan puteranya saat ini. Seakan tahu anak itu tak mempercayai apa yang telah didengarnya, ia pun menambahkan, "Singkatnya, kami... hmm, apa ya sebutannya?" Minato berpikir sejenak. Tak lama, ia pun menemukan kata yang tepat.
"Kami takkan mengganggu hubungan kalian lagi."
Entah itu kalimat yang tepat atau tidak, Minato yakin kedua pemuda di hadapannya mengerti maksudnya.
Rasanya jantung Sasuke berdetak lebih lambat. Mata onyx ini melebar dalam rasa terkejut dan ketidakpercayaan. Pelan, ia menoleh pada seseorang yang berada di sebelahnya. Dipandanginya sepasang mata onyx lain yang tidak lain adalah milik ayahnya sendiri demi mencari pembenaran atas kalimat ayah Naruto-bukan, mencari pemusnah atas keraguannya sendiri.
Dan yang ia dapati adalah seorang Uchiha Fugaku yang mengangguk pelan setelah menatapnya dalam.
"Be-benarkah? Sungguh? Aku... kami nggak salah dengar kan?" tanya Naruto masih ragu untuk percaya.
Minato menjulurkan tangannya untuk kemudian mengacak-acak helaian pirang puteranya. "Pendengaranmu masih bagus kan? Lagipula..."
"ADUH!" ringis Naruto ketika sang ayah mencubit pipinya. "Tou-sama apa-apaan sih?"
"Sakit kan? Berarti kau tidak sedang bermimpi, Na-ru-chan," ucap Minato sambil menyengir lebar.
Rasanya sebuah senyum lebar hampir terukir di bibir Sasuke-tapi hampir tetap saja hampir. Mungkin mereka memang mendapatkan izin untuk bersama, tapi ia toh belum mendapat izin untuk 'mempermalukan' keluarga Uchiha seperti itu. Lagipula, sebuah tanya masih terukir di kepalanya.
Bagaimana bisa mereka sampai ke keputusan ini?
Sasuke menoleh ke arah sang ayah, mendapati pria itu menatap lembut ke arah pria dewasa lain di meja mereka. Tak ada senyum, tapi sebagai anaknya, Sasuke tentu bisa membaca apa arti tatapan itu.
...begitu rupanya.
Yah, setidaknya Sasuke telah mendapat jawaban dari pertanyaan tadi.
"Tou-sama, Oji-sama," panggil Naruto, "kalian sepertinya memang setuju, tapi bagaimana dengan yang lainnya?" tanyanya pelan. "Bukannya aku nggak puas, tapi... daijoubu ka?"
"Tidak apa-apa," jawab Fugaku mewakili Minato, "kami akan mencoba membuat yang lain bisa menerima ini."
"Yep, worth trying, isn't it?" Minato menimpali, kali ini dengan senyuman yang lebih lembut dari biasanya. Entah mengapa, ia yakin istrinya, Kushina, dan Iruka dapat menerima keputusan ini dengan baik. Mungkin yang harus mereka waspadai adalah bagaimana reaksi keluarga besar Namikaze, para leluhur tertua dalam menghadapi hal ini. Ketika dulu mereka dengan keras menindak 'hubungan'nya dengan Fugaku, Minato hanya bisa berontak sementara. Kini tidak lagi. Saat ia dengan yakin akan mempertahankan seseorang yang berharga baginya yang juga berjuang mempertahankan apa yang berharga, ia akan berusaha keras. Ia akan menemukan cara untuk meyakinkan mereka semua. Kali ini mereka, ia dan Fugaku, akan memperjuangkan putera-putera mereka sampai tiba pada garis yang akhirnya takluk di tangan mereka.
Rasanya Sasuke kehabisan kata-kata. Ia tak pernah menyangka bahwa dua orang yang tadinya sangat menentang hubungan mereka malah akan berusaha untuk melindungi mereka. Ditundukkan kepalanya dalam-dalam, dan dengan bibir yang hampir bergetar, ia berucap,
"Terima kasih... Ayah, Minato-ji-san..."
Mendengar itu, Minato tersenyum bijaksana. Rasanya sudah lama sekali ia tak mendapatkan ucapan setulus itu... juga sudah lama ia tak mendapat pelukan hangat-secara tiba-tiba- dari anak semata-wayangnya yang begitu erat pertanda bahagia dan rasa terima kasih yang tak terhingga.
Naruto memeluk sang ayah sesaat setelah Sasuke mengucapkan 'terima kasih'. Tak perlu diragukan lagi, air mata telah membanjiri wajah kecoklatan bergaris itu. Dengan tubuh yang gemetar, ia berkata sembari sesunggukan, "Tou-sama... hiks... arigatou..."
Pria yang dipeluk Naruto itu memejamkan mata masih dengan senyum tulus di wajahnya. Ketika ia membuka matanya lagi, tatapan yang memiliki sejuta makna itu mengarah pada mata oniks sang Uchiha Fugaku. Tatapan yang mengandung arti yang hanya mereka berdua yang mengerti.
Fugaku membalas lekat tatapan Minato, sementara tangannya menyentuh kepala Sasuke dengan lembut.
Melihat para pengunjung lain mulai memperhatikan mereka sejak Naruto memeluk Minato, Fugaku akhirnya berkata, "Pesanlah makanan dulu. Aku yakin kalian juga lapar."
Minato kembali memejamkan matanya. Jemarinya kini memainkan helaian keemasan milik pemuda yang memeluknya itu. "Teuchi-san punya menu baru loh, Naru-chan. Ramen Ekstra Pedas Jumbo dan Ramen Pedas Mantap Jumbo," ucapnya memberitahu. "Kau mau yang ma-"
"Keduanya, masing-masing 5 porsi," potong Naruto cepat—masih dalam posisi memeluk—yang membuat Minato tertawa renyah.
"Kalau sudah menyangkut ramen, kau ini memang cepat ya!" seru Minato. Kemudian, ia mengalihkan pandangannya pada pemuda raven yang masih menunduk itu. "Kalau kau mau apa, Sasuke?" tanyanya.
Pemuda yang ditanyai tak langsung menjawab. Sasuke hampir melongo mendengar dua menu yang disebutkan Minato. Bukannya itu-
"Apa bedanya Ramen Ekstra Pedas Jumbo dan Ramen Pedas Mantap Jumbo?" didengarnya sang Ayah bertanya.
Sasuke menoleh sejenak ke arah Fugaku, sebelum akhirnya meledak terkikik.
Benar kata pepatah:
Like Father, Like Son!
Otomatis Minato melebarkan mata biru lautnya mendengar pertanyaan Fugaku. Ekspresinya seakan menyiratkan sebuah keterkejutan yang amat sangat. "Fugaku-san tidak tahu perbedaan menu selezat itu?" herannya tak percaya. "Ramen Ekstra Pedas Jumbo itu ramen biasa porsi besar yang dicampur wasabi. Ramen Pedas Mantap Jumbo itu ramen spesial porsi besar dicampur wasabi super pedas. Masa' hal umum seperti itu tidak tahu?"
Naruto-sudah melepaskan diri dari Minato-menaikkan sebelah alisnya melihat interaksi ayahnya dan ayah Sasuke. "Sepertinya aku kenal adegan ini..." gumamnya. Tak lama ia tersentak sebelum akhirnya tertawa menyusul Sasuke yang sudah lebih dahulu menyadari adegan itu.
-garisgarisgarisgaris-
Pagi datang lagi. Seorang pemuda berambut hitam membuka pintu rumahnya lebar sebelum akhirnya ia berjalan keluar.
"Ayah, Ibu, aku berangkat," katanya pada dua orang yang berada tidak jauh di belakangnya, seorang pria yang tidak lain adalah ayahnya sendiri, Uchiha Fugaku, dan ibunya, Uchiha Mikoto.
Saat ia melirik, didapatinya kedua orang itu masih sibuk dengan satu hal: dasi merah sang ayah.
Seulas senyum tipis terukir di bibirnya saat ia mulai mengambil langkah menuju sekolah seperti biasanya.
Sepeninggal putra bungsu mereka, Mikoto tersenyum manis pada sang suami dan mulai membuka pembicaraan.
"Sebenarnya aku heran..."-ia masih terus mengikat aksesoris berwarna merah yang telah tersampir di kerah kemeja putih suaminya ini-"sejak kapan kau tidak bisa mengikat dasi sendiri?"
Fugaku hanya sedikit mengerutkan dahi tanpa membuka mulutnya, mungkin memang berniat untuk tidak menjawab-atau tidak tahu harus menjawab apa.
"Seingatku kau mulai manja begini sejak pulang dari Oto waktu itu," ucap Mikoto lagi, sambil mengeratkan ikatan dasi itu di leher suaminya, membuat pria itu sempat membuka mulutnya dalam rintihan sunyi.
"Memangnya-" Fugaku terhenti sejenak sembari merasakan ibu dari anak-anaknya itu melonggarkan sejenak ikatan sang dasi sembari mengaturnya, "-tidak boleh? Kalau memang mengganggumu, katakan saja."
Mikoto menggeleng sembari tersenyum. Dipandanginya mata onyx hitam dari pria yang paling dicintainya itu sembari berkata, "Aku justru senang. Akhirnya kau benar-benar mau memperlakukanku sebagai istri akhir-akhir ini."
Sinar di mata Fugaku terlihat agak meredup. Lirih ia berkata, "Maafka-"
Tapi terhenti saat dirasakannya jari Mikoto menyentuh kedua bibirnya.
Wanita berambut hitam panjang itu menggeleng sembari tersenyum. Tanda bahwa ia tidak ingin mendengar kata maaf apapun dari pria ini-karena sudah sejak dulu ia memaafkannya.
Mikoto lalu berjinjit, memberanikan diri untuk mengambil ciuman selamat paginya.
Fugaku kini memberikannya dengan senang hati.
-garisgarisgarisgaris-
"Naruto, mau tidur sampai kapan? Kau bisa terlambat nanti!" seru Iruka sembari menggedor-gedor pintu kamar seseorang yang kini menjadi putera angkatnya. "Apa perlu aku merusak pintu ini lalu 'mendandani'mu layaknya manekin?" Sepertinya pria ini benar-benar sudah dibuat kesal oleh sang anak yang sudah dari sejam yang lalu dibangunkan.
Pintu kamar bernuansa oranye itu pun menjeblak lebar, memperlihatkan sosok pemuda yang rambut pirangnya menutupi separuh atas wajahnya dan ia masih dalam keadaan memakai piyama yang berantakan. "SEKARANG HARI PERTAMA AKU MASUK KEMBALI SECARA RESMI KAN? GAWAT!" paniknya. Dengan segera Naruto mengambil handuk yang disampirkan pada kursi belajarnya kemudian berlari secepat kilat menuju kamar 'suci' untuk membersihkan dirinya.
"Waktumu tinggal 45 menit lagi, Anak muda! Kuharap kau cepat!" seru Iruka lagi yang masih berada di depan kamar oranye itu.
"Ha'i, Tou-chan!" balas Naruto dengan nada riang-entah mengapa.
"Dasar anak itu..." Iruka menggelengkan kepalanya. Namun, sebuah senyum merekah di bibirnya. Memang sudah sebulan semenjak Naruto tinggal bersamanya atas permintaan Minato dan Naruto sendiri-diam-diam ia juga berharap begitu-tapi tetap saja panggilan baru, 'tou-chan', tak pernah gagal membuatnya tersenyum. Ia memang sangat menyayangi anak itu seperti ia menyayangi sang Namikaze yang kini berada di negeri fashion bersama sang istri tercinta. Keadaan baik pun mulai merekah ke permukaan ketika kabar bahwa Minato berhasil meraih penghargaan Cannes hanya dalam waktu tiga minggu menyebar cepat sampai ke Jepang. Memang tak diragukan lagi kharisma yang dimiliki pria pirang itu.
Suara telepon berdering di ruang tengah seakan menggoda untuk diangkat. Iruka pun segera turun ke lantai satu ruang apartemennya yang telah ia perbesar dan menyambut benda berwarna salem tersebut.
"Halo, kediaman Umino di sini?" Iruka menyapa. "Ah, Minato-san! Apa kabar?" tanyanya begitu mengetahui lawan bicaranya.
-garisgarisgarisgaris-
Naruto akhirnya selesai berkutat dengan dirinya sendiri. Kini ia telah rapi dengan balutan seragam sekolahnya dan tak lupa, rambut pirang itu disisir mencuat ke segala arah-style khas Uzumaki Naruto. Mungkin ada yang heran kenapa ia memakai marga Uzumaki dibandingkan Namikaze. Alasannya sederhana, karena ia merasa marga itu lebih cocok untuknya. Sang ayah pun setuju, karena bagaimanapun juga ia memang replika sang ibu dalam segi semangat masa muda dan berbuat onar. Bukan bermaksud kasar, dua frasa itu justru menjadi hak paten yang membuat mentari seakan bersinar lebih terang. Singkatnya, tidak masalah.
"Tou-chan, aku berangkat dulu!" Naruto pamit pada Iruka yang masih berbincang di telepon. Dilihatnya sang ayah angkat menutup telepon itu dan berjalan ke arahnya. Sentuhan hangat ia rasakan pada sebelah pipinya ketika Iruka meletakkan telapak tangannya.
"Hari ini hari pertamamu kembali ke sekolah," Iruka berhenti sejenak, "kuharap kau menikmatinya, Naruto."
Mengangguk antusias, Naruto menjawab, "Pasti!" kemudian ia pun pergi.
"Jangan matikan ponselmu, ya! Minato-san akan meneleponmu nanti!" seru Iruka.
"Ha-" belum selesai Naruto menjawab, ponselnya berbunyi. Pada layarnya tertera nama pria yang ia rindukan. Ia pun segera mengangkatnya. "TOU-SAMA!" sahutnya antusias.
"A ha ha~ tak perlu berteriak begitu, Naru-chan!" jawab Minato dari jaringan seberang. "Bagaimana hari-harimu? Menyenangkan?"
"Tentu! Sasuke dan Iruka-Tou-chan menunjukkanku berbagai macam tempat dua minggu ini!" balas Naruto. "Oh, iya! Selamat atas trophy Cannes-nya! Kami terkejut loh!" tambahnya. Kini ia tengah berjalan menuju sekolahnya.
"Hmm~ merci boucoup, Monsieur,"
"Tou-sama, aku nggak ngerti bahasa Perancis tahu!" sungut Naruto. Ia berbelok keluar gang menuju jalan raya. "Pakai bahasa yang aku ngerti do-"
Karena sempat tak melihat depan, Naruto menabrak sesuatu-seseorang, lebih tepatnya.
Tak ayal, pemuda yang ditabrak segera menoleh ke arah Naruto.
"Ah, Naruto-kun," ucap pemuda itu, yang tidak lain dan tidak bukan adalah wakil ketua kelas yang ditempati Naruto, Sai.
"SAI!" seru Naruto dengan wajah sumringah-langsung menerjang pemuda itu dengan pelukan erat. "Lama tak jumpa!" Sepertinya ia rindu pada teman pertamanya di sekolah.
Awalnya Sai terkejut mendapat reaksi seperti itu dari Naruto. Namun akhirnya ia balas memeluk Naruto erat dan berkata, "Apa kau mau foto kita masuk ke koran sekolah juga, Naruto-kun? Aku sih tidak keberatan."
"Eh?" kaget Naruto mendengar ucapan Sai, "maksudnya?"
"Kalau itu aku yang keberatan!" seru seseorang tiba-tiba. "Lebih baik aku mengambil potret sepasang monyet yang sedang ciuman daripada harus mengambil potretmu dengan Naru-chan!"
Seketika Naruto menoleh ke arah suara itu. Tampaklah Kiba yang tengah menggenggam kameranya dengan raut wajah kesal. Seharusnya ia kesal juga karena pemuda itu memanggilnya 'Naru-chan' tanpa izin, tapi tak dapat dipungkiri, pemuda berambut pirang itu pun merindukan pemuda berambut coklat itu beserta sifatnya yang begitu antusias dengan apapun. Saat itu pula, Naruto melepaskan pelukannya pada Sai hanya untuk berpindah memeluk Kiba.
"KIBAAA!" seru Naruto. "Lama tak jumpa jugaa!"
"O-OI! NA-NANI YO?" Kiba histeris menerima perlakuan itu dari pemuda yang pernah menjadi sumber beritanya-yang sepertinya akan menjadi sumber beritanya lagi. Wajahnya memerah hebat seperti habis berendam di onsen. "Le-Lepasin!" Kiba berusaha melepaskan diri dari pelukan Naruto. Kalau tidak, kemungkinan ia akan mati kehabisan napas.
Sai tersenyum pada Kiba yang masih kesulitan menghadapi pelukan Naruto, "Apa bukan karena gambar kami terlalu bagus untuk kameramu, Kiba-kun?"
Ia menarik Naruto hingga terlepas dari pemuda berambut cokelat itu sembari berkata, "ketimbang memeluknya begitu, kita lanjutkan saja pelukan kita, Naruto-kun."
"NGGAK BOLEH!" Kiba berseru kembali sembari menahan Naruto agar tetap bersamanya. "Kau bisa hamil nanti kalau bersamanya!" tambahnya mengada-ada.
Mata biru Naruto membelalak, "Ha-hamil? Maksudnya?"
"Dia itu orang yang harus kau waspadai! Entah sudah berapa cewek yang takluk di tangannya... jangan sampai kau menjadi korbannya yang ke-1000!"
Oh, hentikan Kiba.
Sejenak, Naruto terdiam. Kemudian...
"HEI! AKU BUKAN CEWEK!" protesnya pada Kiba. "Kau mau aku membantingmu lagi, hah?" ancamnya sembari menarik kerah pemuda bertato itu. Belum sempat Kiba bereaksi apa-apa, terdengar suara tawa dari benda dalam genggamannya. Ia lupa kalau ia masih dalam kondisi 'on' dengan sang ayah.
"Tou-sama, jangan tertawa!" ketusnya pada Minato seraya merapatkan kembali ponselnya itu.
"Go-gomen ne, Naru-chan... a ha ha ha~ kau memang bukan cewek ya~ hahahahahahaha~" ledakan tawa terdengar dari pria itu secara gamblang.
"MOU, TOU-SAMA!"
Masih tertawa, Minato berucap, "Ya sudah... nanti ayah telepon lagi. Auo revoir, Mademoiselle~" Kemudian pembicaraan pun terputus.
Naruto tahu arti kata terakhir. Sehembus napas keluar dari mulutnya, "Sampai Tou-sama pun menyebutku nona..."
Sai tersenyum melihat ekspresi Naruto-kali ini, benar-benar tersenyum. Ia bahkan tidak menghiraukan kata-kata tajam Kiba tadi tentangnya.
Naruto memang makhluk yang 'unik'... bahkan indah. Tapi ia tahu ia tak akan pernah bisa memaksa untuk mengejar Naruto seperti apa yang telah dilakukan Sasuke menurut cerita wali kelas mereka. Naruto masih berada di sini, di Jepang, tidak lepas dari usaha keras pemuda berambut hitam itu. Usaha dari pemuda yang sempat Naruto anggap sebagai kakaknya.
Karenanya, melihat Naruto bisa bahagia seperti ini saja Sai sudah merasa lebih dari senang.
"Ne, Naruto-kun," panggil Sai, menggenggam tangan pemuda pirang itu, "ayo kita pergi. Nanti kita terlambat. Tidak usah kau hiraukan kata-kata Kiba-kun."
"SAI! JANGAN SEMBARANGAN PEGANG TANGANNYA!" Entah sampai kapan Kiba akan berseru, yang pasti kini tangannya mengamit lengan Naruto yang bebas. Jadilah pemuda pirang itu bergandengan bertiga dengannya dan Sai.
"Ano saa, bagaimana kalau kalian melepas tanganku? Rasanya... gerah..." ujar Naruto-bingung dengan keadaan.
"Akan ku lepaskan kalau dia melepaskannya duluan!" tegas Kiba sambil menunjuk Sai.
"Tentu saja aku tidak akan melepaskannya, Kiba-kun," balas Sai dengan senyum palsunya. "Maaf ne, Naruto-kun, sepertinya satu-satunya penawar dari rabies yang dibawa si kameramen itu hanyalah dengan aku yang tetap menggenggam tanganmu. Jadi tak apa 'kan?"
Oh, Sai ternyata sama sekali tidak peduli dengan betapa konyolnya posisi mereka bertiga sekarang.
Kiba terkesiap, "RABIES KAU BILANG?" sejenak ia seperti mengambil ancang-ancang untuk menerkam mangsa. Dan benar, sejurus kemudian pemuda penggila anjing itu menerjang Sai dan membuatnya lepas dari Naruto. "Lebih baik terkena rabies daripada racun hormon-mu itu, Pelukis gadungan!"
Ohoho, betapa Kiba tak tahu hal itu justru menarik minat sang Uzumaki.
"Pelukis? Sai, kau seorang pelukis?" tanya Naruto dengan nada kagum. "Wah, kebetulan sekali! Aku juga suka melukis!" serunya riang.
'Oh, crap!' batin Kiba. Namun perlahan, ia melepaskan cengkeramannya pada Sai dan membantunya berdiri. Well, setidaknya topik awal telah beralih... mungkin.
Setelah bangkit, Sai memandang Kiba tanpa ekspresi-tanda kekesalannya. "Aku memang cukup sering melukis," katanya sembari merapikan seragamnya yang berantakan karena Kiba, "kau suka melukis apa, Naruto-kun?"
Cengiran di wajah Naruto semakin melebar. Sepertinya ia senang bertemu dengan teman yang memiliki hobi sepertinya. "Aku suka melukis perasaan dalam diri manusia!" serunya. Kemudian, suaranya melembut, "Warna apa yang rasa itu miliki, bagaimana bentuknya, juga seperti apa rasa itu mempengaruhi hati, aku tertarik pada keabstrakan seperti itu," jelasnya.
Ketika mendengar itu, Kiba langsung menaikkan kameranya, fokus pada shutter-nya, lalu mengambil satu potret pemuda yang tengah tersenyum dengan segala kemurniannya itu. Hasil yang tertera pada lensa perekamnya mampu membuatnya menyunggingkan senyum penuh kepuasan, seakan ia mendapatkan apa yang selama ini diinginkannya.
"Ekspresi yang bagus..." gumam Kiba sambil menatap Naruto lekat. Pemuda yang ditatap hanya menunjukkan tampang bahwa ia tidak mengerti.
Tanpa sadar, Sai ikut tersenyum tipis. "Kiba-kun," panggilnya, "bagi foto itu denganku ya? Sebagai pengganti lecet karena jatuh terdorong olehmu tadi."
Kiba-kembali menatap hasil fotonya-hanya menyeringai kecil sebelum akhirnya mata coklatnya beralih menatap Sai. "Tentu, kau pasti akan mendapatkannya," sahutnya. Lalu bergerak ke arah Naruto hingga berhenti tepat di sebelahnya. Ditepuknya pelan pundak yang menyangga tas oranye itu seraya berseru,
"Selamat datang kembali, Manis!"
Lalu kabur sebelum sang pemuda sempat bereaksi apa. Dari kejauhan, pemuda berambut coklat itu berbalik, "Kau harus dapatkan koran baru besok kalau mau memiliki foto tadi, Sai!"
Sai hanya bisa tersenyum melihat ulah Kiba. Entah berita gila apa lagi yang akan datang esok hari!
"Tunggu," ucap Naruto pada akhirnya setelah ia mendapatkan ide apa yang terjadi, "apa dia barusan mengambil fotoku, Sai?" ragunya sambil menunjuk ke arah sosok yang telah berlalu itu.
"Tidak," jawab Sai sambil tersenyum manis, "Kiba-kun hanya mengambil gambar wajah indahmu."
"I-indah darimana!" Naruto tersentak dengan semburat merah mewarnai kedua pipi bergarisnya. Sejenak, ia tampak seperti berpikir. Kemudian...
"AH! Jangan-jangan fotoku yang memalukan ya?" paniknya. "TUNGGU, KIBAAA!" seru Naruto-kini langsung berlari mengejar Kiba yang sudah berada nun jauh di sana.
Pemuda yang ditinggalkan di belakang hanya bisa tersenyum simpul sembari mulai berjalan mengikuti mereka dengan pelan.
-garisgarisgarisgaris-
Di lain tempat, tepat di depan halaman sekolah mereka...
Sasuke baru saja akan memasuki gerbang. Dengan langkah perlahan tapi pasti, pemuda bermata onyx ini berjalan. Dipandangnya gedung sekolahnya, tempatnya menuntut ilmu... juga tempatnya bertemu kembali dengan 'dia' setelah sekian lama.
Ah, betapa tidak sabar rasanya menunggu kapan pemuda pirang itu akan kembali ke sekolah. Ia memang baru berada di kelas mereka selama beberapa minggu, tetapi Sasuke kini merasa sangat kehilangan jika harus menjalani beberapa jam di sekolah tanpa kehadiran si murid baru. Meski harus diakui, ia sendiri hampir setiap hari menyempatkan diri singgah di kediaman Iruka untuk menemui Naruto.
Kira-kira... kapan dia akan kembali ke sekolah?
"KIBAAA! BERHENTI KAU! BIAR KU RUSAK KAMERAMU!" tanpa aba-aba, suara tinggi nan cempreng yang familiar terdengar dari luar gerbang.
"No waa~y, Sweety~!" sahut pemuda yang berada di depannya yang berlari dengan kecepatan tinggi. Memasuki gerbang, Kiba berpapasan dengan sang Uchiha yang tengah memandangi gedung sekolah mereka-dan pastinya kini memandang si sumber polusi suara. Dengan seringai kecil di wajahnya, ia menoleh untuk melihat pemuda yang masih mengejarnya.
"Fotomu pa~sti akan dengan sempurna menghiasi koran besok pagi, Naru-chan!" seru Kiba ketika dengan tepat melewati Sasuke. "Ohayou, Ketua kelas!" sapanya lalu segera lenyap bagai ninja.
"TUNGGU DULU KA-" raungan Naruto terhenti saat melihat pemuda berambut raven di hadapannya. "Sasuke~" sapanya sambil melambaikan tangan.
Ingin rasanya Sasuke sweatdrop melihat perubahan drastis sikap Naruto. Sungguh.
Tapi di atas itu semua, ia hanya bisa bahagia melihat pemuda pirang yang berdiri di hadapannya itu... lengkap dengan seragam sekolah mereka.
Naruto segera berlari ke arah Sasuke dan langsung menerjangnya dengan sebuah pelukan riang. "Ehehe~ dari dulu aku ingin melakukan ini!" Kelihatannya pemuda berambut pirang itu tidak peduli dengan reaksi sekitar.
Sasuke terkejut dengan kelakuan Naruto barusan, tapi ia hanya bisa balas memeluk pemuda itu tanpa peduli pada murid-murid lain yang kini memandangi mereka.
"Kenapa kau tidak bilang kalau kau mulai sekolah hari ini, Dobe?"
Pemuda bermata langit itu menarik wajahnya dari lekuk leher Sasuke, namun masih tetap melingkarkan lengannya pada leher jenjang putih itu. Bibirnya memainkan selengkung senyum manis yang memang hanya ia tunjukkan pada saat berinteraksi dengan sang Uchiha.
"Surprise, Teme!" seru Naruto sembari melepas senyumnya dan menggantinya dengan cengiran.
Sebuah senyum yang juga sangat jarang terbentuk di wajah Sasuke, akhirnya terpampang di wajah berkulit putih itu. "Dasar dobe..." ucapnya, masih dengan senyum itu.
Naruto kembali mengekeh, memperlihatkan deretan gigi putihnya yang rapi. "Tapi kau senang, 'kan?" tanyanya-lagi-lagi tanpa mempedulikan 'perhatian' orang-orang di sekitar mereka.
"Hn, Dobe," balas Sasuke, "apapun katamu."
Ah. Betapa ingin Sasuke maju beberapa puluh senti lagi dan meraih bibir itu. Tapi... dipanggil ke ruang Kepala Sekolah untuk yang kedua kali?
Tidak. Ia belum segila itu.
BLITZ! BLITZ!
"AHA! DAPAT LAGI!" seru Kiba yang entah muncul darimana tak tahu arah yang tiba-tiba berdiri di hadapan kedua pemuda yang masih bertautan itu.
"AAKH! KEMARIKAN KAMERAMU!" Naruto pun berseru setelah melepaskan pelukannya pada Sasuke lalu berlari mengejar Kiba. Mereka berlari memutari halaman sekolah hingga akhirnya sang Inuzuka menabrak seseorang.
"Ah, gomen!" maaf Kiba pada pemuda yang ia tabrak. "Eh? Shikamaru toh."
"Mendokusai," ucap pemuda dengan rambut yang diikat seperti daun nanas itu. "Kalian mau sampai kapan main kejar-kejaran begitu?" tanyanya, sambil melirik Kiba yang ada di hadapannya. Ia lalu menoleh dan menatap Sasuke.
"Kau juga," katanya, "jangan bermesraan di depan sekolah pagi-pagi begini. Mengganggu pemandangan."
Kalimat tadi sukses membuat si pemuda Uchiha hampir bersemu merah. Shikamaru lalu bergerak meninggalkan mereka, berjalan menuju gedung sekolah setelah memberi satu lambaian malas.
Yah, walaupun kata-katanya tak begitu enak, toh itu justru bentuk perhatian Shikamaru yang memang lebih sering cuek ketimbang menegur seperti tadi.
Naruto berhenti dari kegiatan berlarinya, membuat Kiba lolos dengan sempurna. Mata birunya menatap pemuda yang tadi ditabrak Kiba yang kini berjalan di depan mereka. Satu pertanyaan yang kerap menggema di kepalanya; sebenarnya pemuda itu siapa?
"Ne, Sasuke. Dia siapa sih?" tanya Naruto.
Sasuke tersenyum tipis pada Naruto menyambut pertanyaan itu, "Nara Shikamaru," katanya, "sahabatku."
"Hee, sahabat Sasuke ya?" ucap Naruto. Sekilas, mata birunya menatap pemuda berambut nenas yang nyaris menghilang dari pandangan mereka sebelum kembali pada sang Uchiha, "Syukurlah," tambahnya pelan.
"Memangnya kenapa, Dobe?" tanya Sasuke, "Kau cemburu?"
Naruto mengangkat bahunya, "Yah, gimana ya? Bagaimanapun juga dia kan yang selama ini dekat denganmu," ucapnya. "Wajar 'kan aku merasa sedikit... cemburu..." tambahnya dengan pipi yang merona merah.
Seulas senyum kembali terukir di wajah Sasuke ketika melihat ekspresi kekasihnya itu. Ia lalu menekan-nekan pipi merona itu dengan telunjuknya. "Sejak dulu, tak pernah ada yang bisa menggantikan posisimu, Usuratonkachi," ucapnya lembut. Ia lalu menempelkan kedua dahi mereka dan berkata sembari memandang tepat pada mata biru Naruto.
"Sejak dulu..." katanya lagi, "hanya kau yang kucintai."
Mau tak mau kini warna merah telah berhasil menghiasi keseluruhan wajah kecoklatan Naruto. Mata biru yang masih bertumbukan dengan mata oniks Sasuke itu sedikit melebar akibat efek kata-kata yang tadi terucap dari mulut sang Uchiha. Pemuda berambut pirang itu pun menggembungkan satu sisi pipinya.
"Sampai kapan kau mau membuatku sakit jantung, Teme?" tanya Naruto—mengetahui debaran kencang dalam dadanya. Ekspresi yang seolah kesal itu justru membuatnya tampak manis. Oh, jangan sampai kata itu terdengar di telinganya! Nanti ia bisa membanting seseorang seperti yang pernah ia lakukan pada Kiba. Namun, bagaimanapun juga, pemuda itu merasa senang dengan penuturan Sasuke. Baginya, keberadaan sang Uchiha pun tak ada yang bisa menggantikan.
Hanya Sasuke yang paling Naruto cintai.
"Kau memang harus pandai-pandai menjaga kondisi jantungmu kalau ingin terus berada di sisiku, Dobe," balas pemuda Uchiha itu, lengkap dengan sebuah seringai jahil.
Merasa Sasuke menggodanya, Naruto menonjok pelan bahu pemuda Uchiha itu. Namun, kali ini dengan cengiran di wajahnya. "Ehehe~ pokoknya kau yang tanggung jawab kalau tiba-tiba aku gagal jantung ya!" serunya. Lalu mata birunya pun tak sengaja melihat jam besar yang terpasang tepat di tengah bangunan sekolah mereka, dan otomatis membuatnya menahan napas.
"Gawat," gumam Naruto-masih menahan napasnya, "aku harus segera ke ruang kepala sekolah!" paniknya.
Dengan tenang, Sasuke membalas, "Biar kuantar."
"Arigatou, Teme!" riang Naruto sembari melangkah.
Sasuke mencoba menghentikan langkah pemuda itu dengan berjalan lalu berhenti tepat di depannya. Dengan sebuah senyum angkuh, Sasuke mengulurkan tangan dan berkata, "Biar kuantarkan sampai ke kerajaan sebelah, Tuan Putri."
Kalimat itu sukses membuat Naruto terpaku. Kata-kata layaknya bangsawan kelas atas, senyum angkuh yang senantiasa dimiliki mereka yang berderajat tinggi, dan satu uluran tangan penghormatan, kini terpampang di hadapannya. Rasanya sudah beberapa kali ia dipanggil dengan sebutan itu, yang memang membuatnya kesal karena malu. Namun, sekarang tidak terasa seperti itu. Malahan, debar yang ia rasakan dalam dadanya, serta desir yang mati-matian ingin ia sembunyikan, terasa begitu tenang bagai aliran air hilir yang memenuhi hulu. Begitu damai bagaikan mendengar lantunan melodi kerajaan yang megah dan memesona.
Pemuda berambut pirang itu pun akhirnya tersenyum. Perlahan, ia ayunkan tangannya dengan elegan, menampakkan segala keindahan yang dimilikinya. Ketika berhasil bersentuhan dengan sang 'tuan rumah', saat itulah Naruto yakin bahwa ia telah menemukan pangerannya.
[END]
Baiklah, Wrong Mistakes tamat di sini. Maaf kalo ada typo(s) dan OOC yang keterlaluan. Kyou Kionkitchee dan Ange la Nuit mengucapkan terima kasih atas partisipasinya, bagi yang sudah membaca, meripiu dan menjadikan fic ini sebagai favorit kami benar-benar senang. Maaf kalau ada kesalahan dalam penulisan dan penggambaran, bagaimana pun juga kami adalah manusia yang tak luput dari kesalahan. Maklum aja ya~
Apakah ending ini berkenan? Kami takkan tahu kalau anda tak meripiunya.
Mungkin setelah ini masih ada epilog? Mau?
So, review?
Don't waste your time for leaving us flames.
