TIME
.
Arlian Lee
.
Jung Taekwoon / Lee Jaehwan
..and many more...
.
Disclaimer: Chara's are not mine, this is pure fanfiction, Alternative universe, Out Of Character
.
Genre's: Angst, romance, hurt, drama
.
Pair : LeKen slight! Others.
.
Please don't! Blame, Bash, Plagiarize and other bad things
.
.
.
Chapter 10
.
Bukankah baru sebentar Taekwoon bisa tenang? Bisa merasakan kebebasan dari segala pertanyaan-pertanyaan tentang Jaehwan? Bukankah baru sebentar ia bisa merasakan yang namanya hidup lepas dari segalanya? Tapi kenapa pikiran berat kembali mengusiknya?
Oh, Taekwoon sungguh ingin menjerit dan melepas semua yang ada. Seolah ia memang tak pernah ditakdirkan untuk berada dalam ambang kebahagiaan. Seolah takdir yang digariskan padanya adalah tumpukan masalah yang harus ia kunyah dengan nyamannya. Taekwoon mengerang kesal. Bagaimana bisa takdir mempermainkannya dengan sedemikian rupa?
Kabar yang ia dengar dari Wonshik membuatnya bingung setengah mati. Darimana lelaki itu tahu hubungan yang ia jalin dengan Hakyeon. Sebenarnya Taekwoon tak mempermasalahkan hubungannya dengan Hakyeon diketahui orang lain. Tapi bukan orang-orang seperti Wonshik. Taekwoon masih cukup waras untuk menyadari siapa Wonshik. Karirnya bisa tamat seandainya banyak orang yang tahu tentang hubungan mereka.
Darimana? Darimana? Bukankah ia dan Hakyeon juga sama sekali tak mengumbar hubungan mereka?
"Aahhkk! Siaaal!" Taekwoon mengusak kasar surainya. Ia ingin membanting semua benda yang ada di dalam kamar ini. "Darimana dia bisa tahu! Aahkkkk!"
"Kau kenapa Taek?" Hakyeon buru-buru mendekat pada Taekwoon. Lelaki yang baru saja masuk ke dalam apartemen Taekwoon itu sedikit terkejut mendengar pekikan dari Taekwoon.
Taekwoon menghela nafasnya berat. Ia duduk di atas sofa dan menutup wajahnya.
"Masalah apa lagi?" Tanya Hakyeon dengan nada suara melembut. Tangannya dibawa untuk mengusap pipi Taekwoon dan menenangkan sang kekasih.
Lantas Taekwoon menarik tangan Hakyeon dan menggenggamnya. Ia bangkit dari posisi semula untuk duduk dengan tatapan menyorot pada Hakyeon. Sebelah alis Hakyeon terangkat sebagai reaksi dari tatapan itu.
"Apa kau mengumbar hubungan kita? Apa kau bercerita pada semua orang tentang hubungan kita?" Taekwoon tidak marah, tidak. Ia hanya ingin memastikan saja. Sungguh, perasaan kalut yang saat ini muncul begitu buruk membungkusnya. Ia tak bisa sekedar lepas dari bayang-bayang itu.
Sementara Hakyeon mendelik bingung. Apa maksud dari pertanyaan Taekwoon? Mengumbar? Mengumbar apa? Hubungan mereka?
"A-aku sama sekali tidak mengumbar hubungan kita."
Hakyeon masih bisa berpikir. Bagaimana mungkin ia melakukan itu. Hey, ia berada dalam sebuah hubungan yang orang bilang hubungan terlarang. Apa yang bisa ia banggakan dari hubungan ini? Yang ada malah ia akan mendapatkan banyak cemoohan dari orang lain. Perebut suami orang, tak punya rasa terima kasih. Lalu untuk apa Hakyeon mengumbar? Ada apa?
Pertanyaan itu juga tak membuat Hakyeon terpancing. Hanya saja ia sedikit penasaran dengan pertanyaan tiba-tiba dari Taekwoon.
Ada helaan kasar yang lolos dari bibir tipis Taekwoon. Seperti dugaan Hakyeon, Taekwoon tidak dalam suasana yang baik.
"Kim Wonshik, tahu hubungan kita." Lirihnya.
Alis Hakyeon saling bertaut. "Wonshik? Siapa Wonshik?" Tanyanya bingung.
"Kau tidak tahu Wonshik?"
Hakyeon menggeleng. Ia benar-benar tidak tahu siapa Wonshik.
"Salah satu CEO dari Jungwoon Group. Putra tunggal Kim Jungwoon pemilik Jungwoon Group. Kau tahu kan kalau Wonshik dalam usia muda memiliki pengaruh yang cukup kuat."
"Lalu?"
Tak langsung menjawab, Taekwoon terdiam sejenak dan menelisik mata indah Hakyeon. Darisana ia tahu bahwa kekasihnya itu memang tak tahu menahu apapun tentang hal itu. Sedetik kemudian, ia menghembuskan nafasnya pelan.
"Aku takut kalau Wonshik akan mengatakan hal ini kepada semua orang terutama mereka yang memiliki kuasa. Kau tahu kan kalau Korea Selatan cukup sensitif dengan hal-hal seperti itu?"
Hakyeon paham. Ia lekas memeluk tubuh Taekwoon. "Ya, aku mengerti. Kita berharap saja semoga Wonshik tidak akan melakukan itu." Lalu Hakyeon mengecup pipi Taekwoon. "Sekarang jangan kau pikirkan ini terlalu dalam. Sebaiknya kau istirahat, eum? Kau tampak kelelahan."
Dan Taekwoon menurut saja. Mungkin rasa lelah yang muncul dari tubuhnya itu membuat rasa takut begitu kuat menerjang. Taekwoon pun berganti pakaian dan mulai membaringkan diri di ranjang. Sementara Hakyeon, ia menemani Taekwoon tidur di sebelahnya. Ia tak ikut memejam, pikirannya masih berkeliayaran entah kemana.
.
.
.
Sepuluh hari sudah Jaehwan di rawat di rumah sakit Kota Gwangju. Hari ini Hongbin dan Sanghyuk membawa Jaehwan ke Seoul. Awalnya Jaehwan menolak, tapi dengan sikap keukeuh dari Hongbin dan agyeo yang dilontarkan Sanghyuk berhasil membuat Jaehwan menurut dan berencana ikut ke Seoul.
Pagi ini Jaehwan membantu Sanghyuk membereskan barang-barang mereka. Semua pemeriksaan pun juga sudah dilakukan. Kesehatannya sudah membaik, hanya saja luka bakar yang ada di tangan kanan itu sedikit menghambat pergerakannya. Luka-luka yang mengering justru membuatnya sulit bergerak mengingat kulit luka itu bisa terkelupas.
"Semua sudah selesai!" Hongbin berseru seraya memasukkan ponselnya ke dalam saku jaket. Tas berisi barang-barangnya itu tertenteng di tangan. "Ayo kita berangkat pulang! Ah, Ken-ah! Kau sudah memasukkan obat-obatanmu?" Tanyanya sembari menoleh pada Jaehwan yang sibuk memakai jaket.
Sanghyuk yang tengah membantu Jaehwan memakai jaket menyahut.
"Aku sudah memasukkannya ke dalam, hyung!"
"Oke. Kaja kita berangkat."
Hongbin mengambil satu tas lagi milik Sanghyuk yang berada di sebelah Sanghyuk. Selama tas Sanghyuk dibawa oleh Hongbin, lelaki yang lebih muda itu menggandeng tangan Jaehwan untuk keluar bersama. Mereka juga berpamitan pada dokter, suster yang telah merawat Jaehwan. Rasa kehangatan jelas sekali ditunjukkan oleh Hongbin dan Sanghyuk, memberikan energi kembali pada Jaehwan. Semakin membuatnya yakin bahwa akan baik-baik saja bila ikut dengan mereka.
Mereka akan menempuh perjalanan dari Gwangju menuju Seoul dengan mobil Hongbin. Jaehwan cukup terkesima dengan jalanan yang ada. Di sepanjang perjalanan, terasa sangat menyenangkan dengan sikap humor yang ditawarkan oleh Hongbin dan Sanghyuk. Sepasang kekasih itu tidak berhenti untuk membuat lelucon yang Jaehwan tertawa bersama. Suasanya itu terasa begitu hangat dan penuh dengan kebersamaan. Seolah mereka adalah keluarga.
Mata bulat Jaehwan terpaku pada pemandangan sekitar yang memabukkan. Ada sekelebat bayangan yang menghampirinya. Jaehwan memejam, semakin dekat bayangan itu semakin membuatnya pusing. Ah, Jaehwan tahu bayangan apa itu. Ia merasa tak asing dengan daerah ini. Ia merasa bahwa dirinya pernah melewati daerah ini. Semakin dalam Jaehwan mengorek tentang daerah ini, semakin sakit kepala ia derita.
"Aakkkhh!" Tiba-tiba Jaehwan berseru.
Sanghyuk yang tengah memainkan ponselnya lantas mendekat pada Jaehwan.
"Ken-ah! Kau kenapa?" Segera ia memegang pundak Jaehwan yang bergetar.
Jaehwan masih memegangi kepalanya. "O-obat! Obatku!" Pekiknya kesakitan.
Tak bertanya lagi, Sanghyuk pun lekas mengambilkan obat Jaehwan yang biasa digunakan untuk menenangkan sakit kepalanya. Ia juga menyodorkan air minum untuk Jaehwan. Beberapa detik kemudian, Jaehwan mulai meminum obat itu. Sedikit demi sedikit rasa sakit yang ada mulai menyingkir hilang.
Lalu Jaehwan kembali bersender pada kursi mobil.
"Kenapa, Ken? Apa kau ingat sesuatu?" Tanya Sanghyuk saat melihat Jaehwan mulai sedikit lebih baik.
Jaehwan mengangguk. "Ya, sepertinya aku pernah melewati jalanan ini." Sahutnya pelan.
"Kau yakin?"
"Eum, sangat yakin."
Sanghyuk dan Hongbin pun terdiam. Mereka hanya saling menatap untuk beberapa detik. Kemudian Hongbin kembali fokus pada jalanan mengingat ia saat ini tengah menyetir. Sementara Jaehwan, lelaki itu kembali menelanjangi jalanan dan berusaha mengingat kembali. Dengan siapa ia melalui jalanan ini. Dari mana ia datang dan kemana ia pergi. Meski sebesar apapun ia berusaha mengingat, nyatanya ia hanya bisa mengingat bahwa ia pernah melewati jalanan ini. Tak lebih dari itu.
.
.
.
Taekwoon merenggangkan otot-ototnya yang mulai kaku. Baru saja ia mengoreksi laporan tentang perkembangan bisnis yang dibuat sebelum dibagikan ke kalayak umum sebagai bahan nilai perusahaan. Rasanya sungguh menyiksa. Bukan hanya laporan yang harus ia kerjakan, melainkan juga beberapa proyek-proyek baru yang juga butuh perhatiannya.
Lalu ia memijat pelipisnya. Melirik sejenak pada kalender duduk yang ada di atas meja. Ia mencoba mengingat, sepertinya ada agenda yang harus ia selesaikan hari ini. Tapi apa? Lantas ia menelpon sekertarisnya.
"Ya, aku hanya tanya. Apa ada jadwal pertemuan hari ini?" Tanya Taekwoon dengan tatapan mengarah pada kalender itu.
"Tidak ada rapat sajangnim, tapi sajangnim mendapat undangan dari pimpinan Kaesang Ent. Ada undangan perayaan pernikahan pimpinan mereka yang akan dilaksanakan jam dua nanti, sajangnim."
Taekwoon mengerutkan keningnya. Kembali ia menggali ingatan yang mungkin tertumpuk beberapa hari yang lalu.
"Ah, iya, aku ingat. Undangan dari Kim Junmyun? Apa kau sudah menyiapkan kado yang akan aku bawa?"
"Sudah, Sajangnim. Ada di meja saya. Saya akan antarkan ke ruangana Sajangnim kalau Sajangnim sudah siap pergi."
"Lima belas menit lagi aku akan berangkat."
"Baik sajangnim."
Taekwoon segera bangkit dari duduknya dan bersiap-siap. Ia sempat merasa aneh dengan undangan perayaan ulang tahun pernikahan pimpinan Kaesang Ent itu. Umumnya mereka akan menggelar pesta itu pada malam hari. Tapi kenapa siang-siang seperti ini? Apalagi mereka adalah keluarga terpandang dengan kekayaan yang melimpah. Bukankah akan sangat menyenangkan bila pesta dilaksanakan malam hari?
Tak mau berpikir yang tidak-tidak, Taekwoon segera menyelesaikan persiapannya dan datang ke pesta itu. Lagipula datang ke pesta juga akan menambah daftar relasinya. Siapa tahu ia akan bertemu dengan rekan kerja yang bisa diajak berbisnis dengan baik.
.
Dan Taekwoon dibuat terkagum-kagum oleh suasana pesta yang ada. Pesta itu digelar di sebuah ballroom super luas di salah satu hotel milik Kaesang Ent. Tatanannya pun cukup memuaskan bagi mereka yang memiliki selera tinggi. Namun bagi Taekwoon ini lebih dari mewah. Ia penasaran, berapa banyak uang yang harus dikeluarkan oleh Junmyun demi sebuah pesta ini?
Ada yang lebih menggelitik Taekwoon sebenarnya. Ini adalah pesta hari jadi pertama pernikahan Junmyun dan istrinya Kyungsoo. Tapi asal kalian tahu, Taekwoon sama sekali belum pernah melihat istri dan tidak tahu sama sekali tentang Do Kyungsoo. Ia juga tak menghadiri pesta pernikahan keduanya. Hal itu jelas menumbuhkan rasa penasaran dalam diri Taekwoon. Seperti apa rupa istri dari seorang konglomerat macam Kim Junmyun.
"Oh, itu mereka." Dan sepasang mata Taekwoon mengalih pada pintu dimana Junmyun datang bersama dengan istrinya, Do Kyungsoo. Taekwoon cukup tercengang saat melihat istri dari Junmyun yang duduk di atas kursi roda. Kenapa duduk di atas kursi roda? Apa Kyungsoo sedang sakit?
"Wahh, sepertinya kabar itu memang benar."
Taekwoon menoleh pada sosok di sebelahnya yang tengah kasak-kusuk membicarakan sepasang itu. Ada apa dengan mereka? Kabar apa?
Tak mau terlalu larut dengan ucapan mereka, Taekwoon memperhatikan Junmyun yang saat ini sedang memberikan sambutan. Tak lupa juga Junmyun memperkenalkan Kyungsoo kepada para tamu undangan. Junmyun menjelaskan kalau Kyungsoo sedang sakit sehingga ia harus hadir di atas roda. Semua tamu undangan maklum. Lagi-lagi sesuatu tak kasat mata menggelitik hati Taekwoon. Entah mengapa melihat Kyungsoo membuatnya perih. Perasaan itu jelas membuat salah satu bilik hati Taekwoon menangis. Rasanya menyedihkan sekali.
Dan Taekwoon cukup tahu, itu bukan karena sekedar melihat Kyungsoo seperti itu. Namun ada hal lain yang enggan untuk Taekwoon akui.
Setelah sambutan dan beberapa kata pengantar dari keluarga, para tamu diarahkan untuk makan. Taekwoon pun mengikuti prosesi pesta itu. Bersama dengan teman-teman yang ia kenal, Taekwoon mulai mengambil makanan yang disediakan.
"Apa kau tahu kisah mereka berdua?" Taekwoon sedikit melambatkan gerakannya saat mendengar seseorang bertanya pada orang lain. "Mereka benar-benar contoh cinta sejati yang tak bisa dipisahkan."
Taekwoon lalu menyelesaikan gerakannya dalam mengambil makanan dan mengikuti dua orang yang lebih dulu meninggalkan Taekwoon setelah membuatnya penasaran dengan perkataannya tadi.
"Kau tahu? Kyungsoo bukan dari kalangan orang berada. Bahkan semua orang bilang kalau Kyungsoo adalah anak itik yang beruntung bisa mendapatkan seekor merak." Ucap seseorang dengan semangat. Taekwoon menyendokkan perlahan makanannya dengan telinga terus mendengarkan percakapan mereka. "Perjalanan cinta mereka bak drama."
Taekwoon yang tak tahan dengan acara mengupingnya pun membalikkan badan dan menatap dalam dua orang di depannya. "Kalian sedang membicarakan apa? Kenapa dengan hubungan mereka?" Tanyanya.
"Kau ingin tahu? Hubungan mereka itu sempat ditentang oleh Keluarga Kim." Seseorang yang Taekwoon kenal dengan nama Byun Baekhyun berceletuk. "Kyungsoo bukan orang kaya. Dia adalah anak dari panti asuhan dan orangtuanya sudah meninggal. Yang semakin membuat keluarga Kim menolak hubungan mereka adalah Kyungsoo memiliki penyakit ganas dan dipastikan dia tidak bisa melakukan kewajibannya sebagai seorang istri nantinya. Tapi entah bagaimana keluarga itu bisa menerima Kyungsoo hingga mereka bisa bertahan selama setahun ini."
Taekwoon menyimak dengan seksama setiap cerita yang terlontar dari Baekhyun maupun Chanyeol. Dari beberapa poin yang dapat Taekwoon tangkap, Kyungsoo adalah seorang anak yatim piatu yang memiliki penyakit dimana ia tidak bisa tahan dengan angin malam –ini menjadi alasan mengapa mereka melakukan pesta siang hari-, Kyungsoo juga bukan anak orang kaya, Kyungsoo juga tak bisa memberikan keturunan –Taekwoon percaya beberapa lelaki bisa memiliki keturunan-, Kyungsoo hanya menjadi penambah beban dalam keluarga Kim. Namun cinta Junmyun kepada Kyungsoo seakan tak bisa dipisahkan. Sekeras apapun keluarga Kim menolak hubungan keduanya, Junmyun tetap menang melawan mereka. Hingga akhirnya mereka bisa bersama sampai pada hari ini.
Tiba-tiba Taekwoon merasa perih merambat dalam hatinya. Sesuatu meremas begitu kuat hati yang ia miliki. Sesuatu menghujam disana hingga menimbulkan rasa sakit yang teramat. Seolah tertarik oleh sesuatu yang lain, reflek Taekwoon meletakkan piring makanannya dan mendekat pada Junmyun juga Kyungsoo. Keduanya berada di salah satu sisi ruangan. Tak ada orang yang berada di dekat mereka. Tampaknya para tamu lebih tertarik untuk menikmati hidangan ketimbang bercakap dengan sang pemilik pesta.
"Oh, Taekwoon-sshi! Kau datang?" Junmyun terlanjur memergoki Taekwoon yang ingin pergi selepas melihat keadaan Kyungsoo.
Mau lari pun tak bisa, pada akhirnya Taekwoon tersenyum dan mendekat pada mereka. Tatapannya mengiba saat melihat Kyungsoo berbaring lemah di tempat tidur yang disediakan.
"Kesehatannya menurun, aku sudah menyuruhnya untuk istirahat di dalam namun dia menolak. Dia ingin melihat para tamu. Katanya melihat banyak orang bisa menambah semangatnya." Tukas Junmyun seakan menjawab tanya yang tampak jelas dari raut Taekwoon.
Dan Taekwoon hanya mengangguk paham. "Happy anniversary, Junmyun-sshi!" Tak lupa Taekwoon mengucapkan selamat untuk Jumnyun.
"Oh terima kasih."
Lalu keadaan menghening beberapa jenak. Mata musang Taekwoon tak bisa untuk tak melepas pandang dari wajah Kyungsoo. Wajah itu tampak begitu damai. Meski kenyataan mengatakan bahwa lelaki mungil itu tengah berjuang dari penyakitnya, namun apa yang dipancarkan oleh aura wajahnya mengatakan sebaliknya. Kyungsoo tampak begitu bahagia dengan wajah tenang dan damai. Tiba-tiba wajah damai Kyungsoo itu menampar kuat Taekwoon. Tiba-tiba wajah tenang Kyungsoo mengingatkan Taekwoon pada seseorang.
Ya, seseorang. Taekwoon memejam manakala tumpukan bayangan tentang Jaehwan bermain-main di otaknya. Bayangan dimana Jaehwan begitu kesakitan setelah tersiram air panas, dimana Jaehwan meringis menahan sakit saat ia berusaha menariknya, dan wajah penuh luka saat sebelum ia mendorong Jaehwan masuk ke dalam sungai. Semua bayangan itu menohok hati dan memelintir hatinya. Menimbulkan pedih, perih dan sesak secara bersamaan.
"Oh, ya aku turut berduka cita."
Taekwoon yang masih bergelut dengan rasa perihnya itu menoleh pada Junmyun.
"Aku turut berduka cita atas menghilangnya istrimu." Junmyun mengucapkannya dengan nada penuh penyesalan. Mungkin lelaki itu merasakan betapa sedihnya kehilangan sosok seorang istri.
Taekwoon tak menjawab, ia hanya mengulas sebuah senyum. Tak menyangka jika kabar itu telah menyebar begitu luasnya. Tak tahu apakah harus senang atau sedih, Taekwoon merasa aneh saat orang-orang mulai menganggap bahwa Jaehwan sudah meninggal.
"Pasti sangat menyedihkan kehilangan seorang istri yang kau cintai." Suara lirih Junmyun memaksa Taekwoon untuk menoleh. Lelaki yang lebih tua itu menatap dalam Junmyun. Lelaki di depannya itu tampak begitu serius memaku pandang pada lantai di bawah. "Aku tidak akan setegar kau jika mendapatkan kenyataan bahwa istriku menghilang."
Tak tahu mengapa, ekspresi yang ditawarkan oleh Junmyun membuat Taekwoon diam seribu bahasa. Tak menanggapi apapun yang dikatakan oleh Junmyun, sehingga membuat sang pembicara melontarkan lagi ucapannya.
"Kau tampak tegar, kau masih bisa bekerja dengan tenang, hadir ke pesta dan melakukan aktivitas lainnya. Sementara istrimu telah menghilang." Lelaki itu mendongak, Taekwoon bisa melihat dengan jelas ada titik air di sudut matanya. "Kalau aku berada di posisimu dan aku harus kehilangan Kyungsoo-" Ia melirik ke arah Kyungsoo sekilas. "Mungkin aku akan gila. Aku mencintai Kyungsoo sepenuh hati. Aku amat sangat mencintainya. Sedetikpun berpisah darinya itu sulit bagiku. Aku akan memilih ikut mati bersamanya daripada hidup tanpa dirinya."
Lagi dan lagi hati Taekwoon rasanya ditusuk tombak yang sangat besar. Bukan hanya itu, wajahnyapun terasa seperti ditampar tangan-tangan jahat nan besar. Membuat sekujur tubuhnya perih, panas dan sakit. Dadanya nyeri, sesak dan perasaan aneh mulai menjalar. Bahkan longlongan tawa, ejekan dan hinaan satu persatu menghampiri bilik-bilik hatinya.
"Jika memang nanti istrimu ditemukan, aku berharap dia masih hidup, jagalah dia sepenuh hati, Taekwoon. Karena kau tidak akan pernah tahu bahwa kehilangan sosok yang kita cintai itu sangat menyakitkan." Junmyun menyematkan sebuah senyum di antara bait kata yang terucap.
Sungguh, kali ini perasaan Taekwoon bagaikan diaduk-aduk. Rasa bersalah, rasa kesal, amarah, sakit dan berbagai macam tumpah ruah di dalam hatinya. Kenapa? Kenapa tiba-tiba Taekwoon menjadi lemah seperti ini? Apalagi saat ini bayang-bayang sosok Jaehwan begitu jelas melayang-layang di benaknya. Jaehwan yang dulu tersenyum saat bertemu dengannya, Jaehwan yang begitu hangat melayaninya dan Jaehwan yang meringis kesakitan. Semuanya membuat Taekwoon mengerang pilu di dalam hati. Kenapa tiba-tiba seperti ini?
Taekwoon tak tahu lagi. Yang pasti perasaannya saat ini bimbang dan penuh ketidakpastian.
.
.
.
Cahaya mentari rupanya telah menembus jendela apartemen yang berada pada lantai enam belas itu. Cahaya yang cukup terang untuk membangunkan sang penghuni apartemen. Sosok pertama yang terbangun pagi ini adalah Lee Jaehwan. Lelaki itu telah membuka kelopak matanya dan siap melakukan aktivitas pagi ini.
Ya, kemarin sore ia tiba di apartemen Hongbin. Kedua bocah yang telah menolongnya itu ternyata tinggal bersama. Jaehwan cukup terkagum dengan apartemen tempat mereka tinggal. Bukan apartemen yang mewah namun tak bisa dikategorikan apartemen biasa saja. Lumayan nyaman dan luas untuk ditinggali dua orang saja. Dan Jaehwan menempati kamar Sanghyuk. Untuk sementara, Jaehwan akan tinggal di tempat ini bersama Hongbin dan Sanghyuk.
Segera ia turun dari ranjang. Ia harus membersihkan diri dan membuat makanan untuk penghuni yang lain sebagai ungkapan terima kasihnya. Tidak mungkin kan, Jaehwan hanya menumpang tidur dan tak melakukan apapun?
Sekitar tiga puluh menit berselang, Jaehwan berjalan menuju dapur. Sebelum ia memutuskan ingin memasak apa, lebih dulu ia mengecek bahan makanan di dalam lemari es. Ia pun membuka lemari es dan tak mendapati banyak bahan makanan disana. Hanya ada telur dan keju saja. Oh, Jaehwan lupa bukankah mereka memang meninggalkan tempat ini dalam kurun waktu yang lama? Lalu ia memutuskan untuk membuat telur mata sapi dan menanak sedikit nasi saja.
Dengan tiga telur di tangan, Jaehwan membawanya ke meja makan. Meletakkannya disana kemudian ia menyiapkan alat untuk memasak. Saat ia hendak meletakkan wajan di atas kompor. Bayang-bayang ingatan kembali menghampirinya.
Jaehwan tahu pasti apa yang ada di dalam ingatannya. Jaehwan tahu apa yang sedang ia ingat. Adegan dimana ia menyenggol kompornya saat ia tengah merebus air. Jaehwan ingat dengan jelas tangan kanannya terkena air panas itu saat didorong seseorang. Namun ia tak bisa mengenali siapa yang mendorongnya. Jaehwan tak bisa meraih sejauh sana. Sekuat ia mencoba mengingat. Kepalanya akan berdengung keras.
Jika biasanya Jaehwan akan berteriak, kali ini ia memilih meringkuk di bawah kompor dengan tangan memegang kepala. Ia merapatkan tubuh dan memegang kepalanya dengan sangat kuat. Tetap berada pada posisi itu hingga Hongbin pergi ke dapur.
"Astaga Ken!" Hongbin berseru melihat Jaehwan yang terdiam kaku di bawah kompor dengan peluh membanjiri keningnya. "Kau kenapa? Kenapa diam disini?" Tanya Hongbin selepas ia memeluk Jaehwan.
Jaehwan menggeleng kecil lalu melepas pelukan Hongbin. "A-aku, aku hanya teringat sesuatu." Lirihnya.
"Apa?"
"A-aku ingat mengapa aku bisa terbakar seperti ini, Hongbin-ah." Sahut Jaehwan dengan sedikit getar di suaranya.
Hongbin terbelalak. Ia terkejut dengan jawaban Jaehwan. Sebelum meminta penjelasan dari maksud itu, lebih dulu Hongbin membawa Jaehwan untuk duduk di kursi makan.
"Ceritakan."
Jaehwan menggeleng. Ia tak ingat pasti bagaimana kronologisnya.
"A-aku hanya ingat, seseorang mendorongku lalu aku menyenggol air yang sedang direbus. Dan air itu mengguyur tangan juga pahaku." Suara bergetar Jaehwan masih terasa melekat. "Ta-tapi aku tidak tahu siapa orang itu."
Dan Hongbin hanya bisa menghembuskan nafasnya. Meski ia tak tahu siapa yang dimaksud Jaehwan, setidaknya ia bersyukur. Sedikit demi sedikit ingatan Jaehwan bisa kembali pulih. Ah, Hongbin bisa menyimpulkan apa yang bisa membuat Jaehwan ingat kembali. Kasus Jaehwan bisa Hongbin baca dengan baik. Semoga dugaannya kali ini tidak salah.
Lalu ia mengusap pipi Jaehwan yang nyaris basah karena keringat.
"Bagaimana kalau kita jalan-jalan mencari bahan makanan? Kau ingin memasak bukan? Dan aku rasa tidak ada bahan makanan sama sekali yang bisa dimasak." Tawar Hongbin dengan senyum meyakinkan.
Jaehwan hanya menatap bingun Hongbin. Namun melihat bagaimana Hongbin tersenyum meluluhkan hatinya. Ia pun mengangguk setuju. Hongbin senang, setidaknya bagian dari rencananya ini akan berhasil.
Membawa Jaehwan jalan-jalan keluar siapa tahu akan membangkitkan kembali memori yang tertidur. Bukankah Jaehwan kembali ingat saat melihat obyek-obyek yang sama seperti apa yang pernah ia alami sebelumnya? Walaupun ada ketidakyakinan bahwa Jaehwan berasal dari Seoul, namun keramaian tempat berbelanja bisa saja membuatnya kembali ingat bukan? Paling tidak dicoba lebih dulu.
Keduanya pun keluar bersama. Tujuan mereka adalah supermarket yang tak jauh dari apartemen Hongbin. Mereka tampak antusias, terutama Jaehwan. Lelaki itu begitu terpesona menelanjangi tempat perbelanjaan ini. Seperti sudah lama sekali ia tak menjamahnya. Lalu Hongbin membawa Jaehwan untuk memilih sayuran yang ingin digunakan untuk memasak.
Jaehwan begitu tenggelam dalam memilih wortel dan beberapa sayuran lainnya. Hingga.
"Jae- Jaehwan?"
.
.
.
TBC
.
Hayooo... bagaimana...
Eh, aku minta maaf yaa kalau ke belakangnya ini nanti bakalan drama banget nget nget nget..
Korban drama sih gini hahahahahaha..
Ada yang tanya loh, Wonshik kok tahu, Wonshik siapa..
Wonshik itu nanti berperan dalam menghancurkan hati Taekwoon. :D :D :D gak tahu deh perannya apa nanti.. lihat saja sendiri..
Trus gimana dengan Jaehwan? Jaehwan nanti yaa tetepa hidup. Hahaha, dia nanti...
Tunggu aja deh kelanjutannya..
.
Oh ya maaf yaa kalau semakin kesini tulisan saya semakin kacau, begini nih kalau saya nulis chapter.. Huhuhuhu
Sulit sekali menjaga yang namanya diksi tertata rapi itu. Saya butuh asupan bacaan yang banyak, tapi saya males baca..
Soalnya ff kesayangan saya gak apdet lama.. -.-
Jadi maklumin yaa.. T.T T.T
.
Ada yang tanya saya line berapa..
Saya line 94. Duh tua yaaa? Hahahahaa, tua kan -.-
Berasa tua saat harus nulis FF, tapi saya suka nulis FF, nulis FF itu buat ngilangin jenuh apalagi ini saya yang jadi pengangguran nunggu panggilan kerja -.- -.-
Makanya bisa sedikit update cepet (mumpung ide juga mengalir)..
Do'akan saya cepet dapet kerja yaa.. :D :D :D
.
Ya sudah, yang penting, reviewnya saja..
Saya seneng loh yang review panjang-panjang..
Dan semua isinya nyaris sama..
Kesel sama Taekwoon, hahahahahaha
Si Taekwoon nanti juga dapet balesan kok.. tenang aja.. :D :D :D
.
.
Ya sudah review yaa.
.
.
Salam hangat
.
.
Arlian Lee
