Part 11

"The Rejection and The Parting"

Setelah menerima arsip dari tangan Brett, jo langsung membukanya dan mengeluarkan isinya, setelah meneliti isinya dan tulisannya, dia langsung mengenalinya, itu adalah tulisan kakaknya, dan isi dokumen itu adalah bukti bahwa Sefine mencoba membunuh Jo.

Kaget bercampur shock, Jo menjatuhkan arsipnya

"Jo…." Kata Brett

Jo berdiam diri, menatap lantai dengan tatapan kosong, lalu tenggelam dalam pikirannya sendiri

Jadi, kakak mati karena hal ini?

Jo kemudian mengiggit bibirnya, dan mengepalkan tangannya, dia kesal, juga sangat menyesal. Di sisi lain, semakin ingin lari dari permasalahan

10 menit sudah berlalu dari saat pertama kali Brett beserta yang lain masuk ke dalam mobil, mobil kemudian berhenti di depan sebuah rumah tinggal yang tidak begitu besar, namun terletak di pinggiran, sehingga sulit ditemukan

"untuk sementara kita akan tinggal disini" kata Brett sambil membuka pintu mobil

"bagaimana dengan kau?" kata Jo

"apa?" kata Brett sambil membayar supir mobil tersebut yang rupanya adalah salah satu pesuruh Brett yang memang sudah pensiun, namun masih menganggap Brett sebagai anaknya, karena dia melihat Brett bertumbuh besar. Ini adalah bayaran terakhir yang Brett berikan kepadanya

"Kau, karirmu, masa depanmu! Dan kebebasanmu!" kata Jo sambil keluar dari mobil dan membanting pintu, meninggalkan Edge tertinggal didalamnya

Brett, diam sejenak, sambil sopir mobil itu mengucapkan salam, dan memberika senyum terakhirnya, dia pun menjalankan mobilnya, beserta isinya

"aku tidak peduli" kata Brett

"a…apa madsudmu?" kata Jo, tidak tahu harus berkata apa lagi

"aku hanya memenuhi janjiku kepada Joseph, dan lebih dari semua itu, aku….." kata Brett mencari kata kata yang tepat

Jo, sudah cukuo shock dan kaget, beserta bingung, sedih, sedikit senang, semakin kacau,

" apa madsudmu dengan memenuhi janjimu?" kata Jo, sambil menaruh ketiga jarinya di keningnya

"ah…ah... Itu….." kata Brett, dia berjanji pada Joseph untuk tidak memberitahu Jo tentang janjinya dengan Joseph

"sudahlah" kata Jo sambil mengambil ponselnya, menekan tombol Hp Sefine.

Jo memang tidak serius saat ingin menelpon Sefine, dalam lubuk hatinya, dia masih berharap untuk tetap tinggal bersama teman temannya

Brett panik, mendengar perkataan Jo, kehilangan ketenangannya, dan mengeluarkannya, kata yang seharusnya tidak diucapkannya

"Jo! Aku….. Janjiku itu, itu adalah janji untuk melindungimu! Untuk selalu menjagamu, untuk, untuk,…." Kata Brett kehabisan kata kata, lebih tepatnya, dia ingin mengatakan "untuk membahagiakanmu" tapi dia tidak mampu mengatakannya

Brett menarik nafas, dia juga ingin mengutarakan perasaannya, namun tidak sanggup mengatakannya

" Sebab…Sebab kau ini…adalah seorang hasil dari fusi!" hanya itu yang keluar dari mulut Brett, dia sendiri bingung, dan tidak yakin akan perkataanya, namun, semua sudah terlambat

"fusi? Apa itu?" kata Jo, membatalkan panggilannya dari teleponnya

"ah….." kata Brett kehabisan kata kata

Jo memutar otaknya, dan dia teringat suatu percakapan misterius yang tidak sengaja dia dengar di antara para suster di rumah sakit yang ditinggalinya

~ Flash Back ~

"Hei"

"kau tahu Josephina Goodwin?"

"ya, anak yang hampir mati itu kan?"

"bukan hampir mati tahu, memang sudah mati!"

"EH? Kalau begitu, Mr Jones menghidupkan orang mati?"

"tau deh, tapi rumornya begitu"

~ End of Flashback~

apa itu tadi, benar juga, sebaiknya aku pulang dan melihat keadaan dulu mencari tahu yang sebenarnya

Jo memutar balik tubuhnya, menghadapkan dirinya untuk menatap Brett tepat dimukanya yang sedang bingung dan panic

"jadi, hanya itu alasanmu?" kata Jo, mulai dapat menenangkan diri

"ah….. itu….. aku… aku….ci….cin…" Kata Brett kewalahan,

Sebenarnya Brett bukan tipe yang mudah salah tingkah atau pemalu, namun dia tidak dapat mengatakan kata "cinta" karena dia merasa akan melangkahi Joseph, yang sebenarnya mencintai Jo, dia dulu bertekad, bahwa tidak akan bilang "cinta" sebelum merasa lebih hebat dari Joseph, atau paling tidak menyamainya

"sudahlah….." kata Jo yang kemudian berjalan keluar dan menyetop taksi yang kemudian lewat

"Eh…. Tunggu! Jo!" kata Brett putus asa

namun Jo sudah masuk ke dalam mobil dan menutup pintu taksi, emyuruh supirnya untuk segera melaju

Brett, tahu bahwa is sudah terlambat, kini berada di depan gerbang dekat jalan raya, dan BRAAAKKK! memukulkan kepalan tangannya ke tembok sebelahnya, dengan keras, sangat keras, sampai kepalan tangannya mengalirkan kucuran darah segar bewarna merah (ya ialah…)

"SIALL!" teriak Brett

~ part 11 Finished ~

Author's note = Ini bukan supernatural koq, lolz, Jo nga mati lalu idup lagi, tapi ada suatu pesan di percakapan singkat itu? Adakah yang bias tebak?