Orange Cat

Warning : YAOI, Typo(s)

Disclaimers : semua tokoh adalah milik Tuhan dan diri

mereka sendiri. Cerita ini asli milik author.

Main Cast : Xiumin, Chen

.

.

.

Xiumin mengangguk dengan mata berbinar, "Tentu saja! Kau mau mengajakku?"

Chen terkekeh kemudian menggeleng, "Tidak, aku hanya bertanya hahaha."

"Yaaa! Menyebalkan sekali." Xiumin cemberut dan memukul lengan Chen kesal.

"Aw aw, sakit aishhh." Chen mengelus lengannya yang habis dipukul Xiumin.

"Biar saja! Dasar kau menyebalkan!" ucap Xiumin yang kemudian menjauh dari Chen.

"H-hei kau mau kemana?"

"Mengajak Luhan ke Theme Park ini." kata Xiumin acuh.

Chen tersentak ketika mendengar perkataan Xiumin barusan, "H-HEI JANGAN BEGITU!" dan segera mengejar Xiumin.

.

.

.

.

Chapter 11

.

.

.

"Xiumin? Kau belum pulang? Bukankan shift mu sudah berakhir?" tanya Kris yang mendapati Xiumin tengah duduk seperti sedang menunggu sesuatu.

"Eh, iya Kris hyung.. Aku sedang menunggu Chen, dia kan kuliah." jawab Xiumin sambil nyengir.

"Ah, kenapa kau tidak pulang saja?"

Xiumin menggeleng, "Aku bosan di rumah hyung.."

Kris mengangguk mengerti, "Oh begitu ya... Eh, bagaimana kalau kau menemaniku saja?"

"Kemana hyung?"

"Membantu memilihkan hadiah untuk kekasihku, hehe.." jawab Kris sambil nyengir.

Xiumin mengangguk, "Boleh juga hyung, ayo!"

.

"Kekasihmu akan berulang tahun?" tanya Xiumin sambil memasang seatbelt.

Kris mengangguk, "Iya, dan aku bingung sekali harus membelikannya apa. Setidaknya aku ada tempat untuk bertanya jika kau ikut."

"Ooh, begitu ya hyung. Hm, memangnya kekasihmu itu yeoja yang seperti apa?"

"Err, sebenarnya dia itu namja."

"Aah, maaf hyung hehehe.. Dia itu namja yang seperti apa?" ulang Xiumin.

"Ya begitulah, dia itu sulit ditebak, kadang bersikap lucu tapi kalau sudah marah begitu menyeramkan.. Hahaha." jawab Kris sambil tertawa kecil.

Xiumin ikut tertawa, "Loh, apa ini foto pacarmu hyung?" tanyanya yang menemukan foto seorang namja bermata panda dengan senyum yang manis.

Kris menengok sekilas sambil menyetir, kemudian mengangguk. "Iya, namanya Tao." dan senyumnya kembali terkembang memikirkan sang kekasih.

"Beruntung sekali ya Tao mendapatkan kekasih yang perhatian seperti Kris hyung." puji Xiumin.

Kris nyengir, "Kau juga beruntung memiliki kekasih seperti Chen, kan?"

Xiumin tersentak, "Tapi... C-Chen bukan pacarku hyung.."

Kris terlihat kaget, "Hah? Apa itu benar? Kalian nampak seperti orang pacaran kalau menurutku. Perlakuan Chen padamu nampak sangat perhatian dan, Uhm, aku bisa melihat tatapan mata kalian yang berbeda kalau sedang memandang satu sama lain."

Blush

Wajah Xiumin merona. Apa benar apa yang dikatakan Kris?

"Memangnya begitu ya hyung?" tanya Xiumin agak salah tingkah.

"Iya haha, dari awal aku menyangka kalian berpacaran.." ujar Kris. Lalu ia tertarik pada sebuah toko boneka yang akan mereka lewati. "Menurutmu bagaimana kalau kita ke toko boneka?"

"Boleh juga hyung." jawab Xiumin sambil mengangguk.

Kris memarkirikan mobilnya kemudian mereka masuk toko boneka yang dimaksud. Begitu banyak boneka yang lucu disana.

"Boneka apa yang seharusnya kupilih?" tanya Kris sambil melihat-lihat boneka yang terpajang disana.

"Boneka yang besar, hyung! Pasti akan menyenangkan untuk dipeluk." usul Xiumin.

Kris mengangguk, "Ide bagus!" mereka pun melihat-lihat deretan boneka yang berurutan agak jumbo.

"Teddy Bear?" Kris mengangkat sebuah boneka Teddy Bear berwarna coklat yang berukuran besar.

Xiumin menggeleng, "Kurasa tidak... Itu terlalu biasa.. Hmmm... " matanya mencari-cari boneka dengan bentuk lain. "Ah! Yang panda besar itu lucu hyung. Kurasa kekasihmu akan menyukainya." kemudian ia menunjuk boneka panda yang ia maksud.

Kris mengacak rambut Xiumin, "Seleramu bagus, baiklah aku ambil yang itu saja." ujarnya pada seorang penjaga toko.

"Baiklah tuan." penjaga toko itu pun mengambil boneka yang Kris maksud.

"Kau mau yang mana? Aku belikan untukmu. Pilih saja." tawar Kris.

Xiumin menunjuk wajahnya, "Eh? Kau mau belikan untukku?"

Kris mengangguk dan kembali mengusak rambut Xiumin, "Iya, sebagai tanda terimakasih kau telah membantuku mencari kado untuk Tao. Dan selain itu aku sudah menganggapmu seperti adikku sendiri."

Xiumin mengangguk antusias dan mulai mencari boneka yang ia inginkan, matanya langsung tertuju pada sebuah boneka kepala kucing yang lebih tepatnya berfungsi sebagai bantal. "Aku mau yang ini, hyung!" entahlah, ia rasa ia lebih membutuhkan sebuah bantal baru. Dan sepertinya tidak akan ada yang bisa menggantikan boneka pemberian Chen dari Ufo Catcher, eh?

Kris mengangguk dan kembali memanggil sang penjaga toko, "Bungkuskan yang itu juga."

.

"Kau mau kembali ke restoran atau langsung pulang?" tanya Kris.

"Aku tunggu Chen mengabariku, kalau misalnya ia pulang telat lebih baik aku langsung pulang." jawab Xiumin.

Kris tersenyum. 'Lucu sekali mereka ini. Aku heran kenapa mereka belum juga berpacaran.' batinnya.

"Kau kenapa hyung?"

"Ah, tidak apa-apa kok." kemudian Kris tertarik dengan sebuah toko cincin yang ada tepat disamping toko boneka yang baru mereka kunjungi. "Xiumin, apa tidak masalah kalau kita ke toko cincin dulu? Sepertinya aku akan membeli sebuah cincin untuk melamar kekasihku."

"Wah.. Kau akan melamarnya?" kata Xiumin. "Luar biasa hyung! Kau harus mengundangku ke pernikahan kalian nanti."

Kris mengangguk dan ia kembali mengusak rambut Xiumin pelan, Xiumin benar-benar lucu. Membuatnya semakin menganggap Xiumin sebagai adik kecilnya. "Iya tentu saja hahaha."

Mereka pun memasuki toko cincin itu dengan senyum terkembang di wajah keduanya.

Dan tidak sadar ada seseorang yang melihatnya dengan senyum kepedihan.

.

"Kris hyung, Chen bilang dia akan menjemputku." ujar Xiumin sambil memasukkan handphone nya ke kantong.

Kris mengangguk, "Baiklah. Aku pulang duluan kalau begitu?"

"Iya hyung, hati-hati di jalan ya!"

"Hu'um, terimakasih sudah menemaniku. Sampai jumpa nanti di restoran." Kris pun masuk ke mobilnya dan pulang.

Xiumin menuju sebuah minimarket di dekat sana agar bisa duduk sambil menunggu Chen.

"Apa iya? Chen menyukaiku?" tanyanya entah pada siapa. Kemudian ia memeluk paper bag berisi boneka bantal nya.

"Apa aku menyukai Chen?" kali ini ia bertanya pada dirinya sendiri.

"Xiumin!"

Mendengar namanya dipanggil, Xiumin segera menengok dan mendapati Chen menunggunya diatas motor. "Ayo pulang!"

Xiumin tersenyum, "Hu'um."

"Xiumin? Aku lihat kau melamun tadi. Memikirkan apa?" tanya Chen sambil mengendarai motornya.

"Tidak ada.." jawab Xiumin sekenanya.

"Ah kukira kau sedang memikirkan sesuatu."

"Aku hanya memikirkan, apa kau mencin—"

NGEEEEEEEEEENGGGG

"Apa yang kau katakan, aku tidak dengar?"

Xiumin menggeleng,"Lupakan Chen, fokuslah dengan jalanan.."

.

"Apa yang kau bawa itu?" tanya Chen setelah mereka sampai.

Xiumin mengangkat paper bag yang ia bawa, "Ini?"

Chen mengangguk.

"Tadi Kris hyung membelikanku boneka."

"Kau dibelikan boneka olehnya?"

Xiumin mengangguk, "T-tidak, ini hanya tanda terimakasih karena aku telah menemaninya membeli kado untuk kekasihnya. Dia juga sudah menganggapku sebagai adik!" ujarnya cepat.

Chen masih diam.

"Jangan cemburu pada Kris hyung!" ujar Xiumin tiba-tiba.

Chen tertawa, "Hahahaha, percaya diri sekali. Siapa yang cemburu, eoh?"

Xiumin sweatdrop. Rasanya malu. Kenapa bisa-bisanya ia berfikir kalau Chen akan cemburu padanya.

"A.. Ah iya..." Xiumin nyengir salah tingkah.

.

.

.

.

.

Luhan seharusnya sudah tahu, kalau Xiumin selalu berpergian sepaket dengan Chen. Namun ia tidak menyangka, ketika ia mengajak Xiumin untuk menonton bioskop bersama dan Xiumin menyetujuinya maka Chen ternyata membuntut dibelakangnya.

"Kau sudah menunggu lama?" tanya Xiumin sambil tersenyum.

Luhan mau tak mau ikut tersenyum, "Yah, tidak begitu." namun raut mukanya kembali kecut ketika melihat Chen disana.

"Ayo cepat beli tiket." ucap Chen. Luhan mendelik malas.

Mereka bertiga menuju loket. Xiumin dengan cepat memutuskan film apa yang ingin ia tonton.

"Aku ingin nonton Minions." Ujarnya cepat sambil menunjuk poster film Minions.

"Kufikir kita akan menonton insidious." kata Chen. Berharap Xiumin akan kembali memeluknya seperti kejadian saat kemarin malam.

"Aku ingin menonton Minions!" paksa Xiumin. Ia menarik-narik ujung jaket Chen lucu.

Luhan mendengus, rasanya seperti menjadi obat nyamuk saja. "Yasudah yasudah, ayo nonton Minions." putusnya, yang penting Xiumin berhenti merajuk pada Chen. Luhan cemburu.

Xiumin tersenyum senang dan merangkul pinggang Luhan. Luhan dengan cepat merangkul leher Xiumin, dengan modus ingin melihat tempat duduk kosong di layar.

"Minions, untuk berapa orang?" tanya penjaga loket.

"Tiga!" ucap Xiumin.

"Ah, untuk jam 12 tidak ada kursi kosong yang berjajar untuk tiga orang. Bagaimana kalau duduk terpisah dua orang dan satu orang?" ujar penjaga loket.

Luhan mengangguk, "Ah baiklah, tidak apa-apa. Kami mau duduk disini." ia menunjuk kursi untuk dua orang di bagian belakang. "Lalu satu lagi disini." dan menunjuk satu kursi lain yang cukup jauh.

'Biar saja si Chen itu duduk sendiri di kursi yang jauh.' batin Luhan, ternyata ia merencanakan sesuatu.

.

Setelah memesan tiket, mereka segera menuju pintu teater karena film nya akan dimulai. Dengan tergesa Xiumin memberikan tiketnya kepada seorang penjaga bioskop. Dan nasib sial menimpa Luhan ketika tiba-tiba ia menabrak seseorang karena ingin menyusul Xiumin.

Rasanya seperti Dejavoo karena Luhan menabrak seseorang itu sampai minumannya tumpah. Kali ini membasahi bajunya.

"K-KAU?" pekik seseorang itu. "Ah aigoo, minumanku."

Luhan berdiam kaku, dia merasa familiar dengan wajah dan suara orang ini. Bagaimana tidak? Ini orang yang sama dengan saat ia menabrak seseorang di café tempat Xiumin berkerja.

"Yaampun maafkan aku.." panik Luhan. Ia segera mengelap-ngelap sweater pemuda itu dengan tangannya. Tapi yang ada minumannya malah semakin menyebar kemana-mana.

"Ya! Apa yang kau lakukan? Berhenti menggosok-gosok sweaterku!" pemuda itu—Sehun—menahan tangan Luhan dan membuat Luhan semakin membeku.

Ugh, kenapa wajah mereka menjadi semakin dekat?

"Aku minta maaf.. Maaf.. Akan kuganti minumanmu dengan yang baru.." cicit Luhan, perlahan tangannya turun ketika Sehun melonggarkan pegangan tangannya.

"Sudahlah, aku bisa beli minumannya sendiri. Aish, aku harus membersihkan semua kekacauan ini." Sehun segera pergi dari hadapan Luhan, bermaksud membersihkan bekas minuman di sweaternya atau mungkin membeli baju?

"T-tapi?" Luhan berbalik lemah sambil menatap kepergian Sehun. Kali ini ia merasa sangat bersalah. "Ugh, aku jadi tidak enak begini.."

Luhan menunduk sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Namun sepertinya ia melupakan sesuatu.

"Eh, mana Xiumin?" Luhan segera menghampiri penjaga bioskop, bermaksud untuk memasuki teater. Namun Xiumin dan Chen tidak ada di sekitar sana. Apa mungkin mereka sudah masuk duluan?

"Maaf tuan, tiketnya?" cegah sang penjaga bioskop.

Luhan menepuk dahinya, "Sial, tiketnya ada di Xiumin." gumamnya lemas. "Uh, t-tiketku ada di temanku, dia sudah di dalam.."

"Maaf tuan, anda tidak boleh masuk tanpa tiket masuk."

"T-tapi.." Luhan mendesah. "Ah.. Sial sekali hari ini."

.

Chen mendorong bahu Xiumin dari belakang sambil naik untuk mencari tempat duduk mereka.

"Loh? Mana Luhan?" tanya Xiumin yang menyadari bahwa Luhan tidak ada bersama mereka.

"Mungkin dia mau nonton film lain?" ujar Chen asal.

"Hei! Kita harus mencarinya dulu.." pinta Xiumin.

Chen menggeleng, lampu bioskop mulai redup. "E-eh, film nya sudah mau mulai. Ayo duduk!"

.

.

.

.

"Iya, aku akan kesana nanti."

Pip

Setelah menutup telfon nya, Lay segera meninggalkan supermarket dengan dua kantung plastik berisi belanjaan di tangannya. Saat akan menuju mobil, ia menabrak seorang yeoja yang sepertinya tengah terburu-buru. Nasib baik belanjaannya tidak ada yang terjatuh.

"Maaf maaf..." gumam Lay. "Eh, kau?" dan ia pun menyadari bahwa yeoja yang ia tabrak adalah Chaerin.

Chaerin tidak menjawab perkataan Lay. Ia juga agak kaget karena bertemu dengan Lay.

"Kau mau kemana?" tanya Lay.

Chaerin mendengus, "Bukan urusanmu." jawabnya ketus. Dengan cepat ia berlari menjauhi Lay.

"Tunggu! Bagaimana dengan—" Lay terdiam ketika Chaerin sudah berlari menjauh darinya, dan membuatnya dapat melihat sebuah tanda yang menyala di belakang leher Chaerin yang rambutnya diikat.

Seketika matanya membulat.

"D-dia? Membuat perjanjian dengan iblis?..."

.

.

.

.

.

TBC

.

.

.

LONG TIME NO SEE...

Maafkan saya yg baru update setelah berbulan-bulan. Maaf membuat kalian menunggu.. /sobs

Curhat dikit, waktu itu saya sibuk banget di kampus sampe sempet selalu pulang malem tiap hari alhasil gasempet ngetik ff sedikitpun /cry. Oh iya buat yang nanyain, alhamdulillah saya lulus UN dan SBMPTN kemarin. Hehehe

Makasih buat semuanya yg udah nunggu, sekali lagi maaf membuat kalian menunggu lama buat kelanjutan ff ini... sekarang saya libur sampai februari. Mudah-mudahan bisa produktif lagi bikin ff nya #aamiin

Maaf juga ga balesin review, tapi saya bacain kok semuanya~ and it makes me happy, always!

Sampai jumpa lagi! Semoga kehadiran saya selalu ditunggu-tunggu /ngarep WKWKWK