Sick

By Arianne794

Lu Han (GS) / Oh Se Hun

Romance

Short-Fic/T

Warn : This is GenderSwitch!Lu. Chessy conversation, too much skinship, too much pink rose-coloured thing, etc. Don't like, don't read. Thankseu!

.

.

.

Fic lama, jadul, yang sebenarnya side story dari Chaptered Fic zaman baheula saya dulu. Betapa nistanya, ugh. Ah, silakan baca tapi sudah saya peringatkan ya, Fic jadul : bahasa amburadul.

Summary : (11th) Ia yang terbiasa mengurus dirinya sendiri saat jatuh sakit dengan mata berair memandang punggung yang menjauhi pintu kamarnya; ternyata tak benar menyadari, bahwa kini ada orang yang akan menyiapkan obat untuknya dan mencium kening panas berkeringatnya. / HunHan. GenderSwitch.

.

This is My OWN FanFic!

Do Not Copy Without Credit Nor Do Plagiarism!

.

.

Matahari sudah tinggi dan jam yang tergantung di dinding kamar Luhan sudah menunjukkan pukul 9 pagi. Namun sang pemilik kamar masih bergelung dibalik gulungan selimut tebalnya, atau lebih tepatnya berguling-guling resah dengan keadaan berkeringat dingin. Gadis bermata rusa yang rambut coklatnya mencuat dari balik selimut itu nampaknya sedang sakit.

Dering ponsel memekakkan telinganya yang menjadi sensitif dengan suara.

Luhan bersusah payah mengambil ponselnya yang menderingkan panggilan dari meja nakas itu dengan mata terpejam, sungguh matanya terasa sangat berat.

"Yeoboseyo…" Luhan menekan tombol terima pada touchscreen ponselnya tanpa melihat ID si Pemanggil.

"Yeoboseyo… Luhan, sebentar lagi kuliah akan mulai dan dimana kau sekarang? Apa kau tidak mendapat bus seperti kemarin? Aku bisa menjemputmu kalau kau—"

"S-sehun-ah…" Luhan berkata dengan suara serak yang makin menjadi dan itu membuat Sehun, si Pemanggil, terdiam.

"Ada apa dengan suaramu? Kau sakit?"

Flu sialan. Luhan mengerang mendengar betapa pekanya Sehun terhadap keadaannya.

"Tidak, aku hanya butuh jam tidur sedikit lebih lama. Absenkan aku, oke? Dan jangan khawatirkan aku." Luhan menjawab dengan cepat. Lalu ia mendengar suara krasak-krusuk dari seberang sana dan itu membuat dahinya berkerut.

"Sehun-ah… Ada apa di sana?"

"Aku datang dalam duapuluh menit! Jangan bangkit dari tempat tidurmu dan tunggu aku!" kata Sehun cepat.

"Sehun-ah, aku baik-baik saj—" Panggilan terputus. Luhan mendesah pelan lalu meletakkan ponselnya ke nakas dan menarik selimutnya lagi. Diam-diam Luhan tersenyum, teman dekatnya itu pasti sedang ngebut dengan motor BMW putihnya dengan kalang kabut. Yah, ia bersyukur akan ada yang merawat keadaan menjengkelkannya ini.

Luhan larut dengan tidurnya—yang tak terlalu nyaman, sampai ia mendengar suara pintu kamarnya yang terbuka juga suara derap langkah tergesa mendekat. Ia merasakan sisi ranjangnya berderit dan telapak tangan sedingin es menyentuh keningnya yang sepanas bara.

"Astaga, kau panas sekali. Kenapa tidak bilang padaku kalau kau sakit?! Sejak kapan kau merasakan badanmu menggigil?" Suara khawatir Sehun membuat Luhan membuka mata.

"Memangnya kau mau datang jam 2 pagi?" jawabnya serak. Sehun mengobrak-abrik tas plastik beningnya yang sangat penuh dan berhasil mengeluarkan termometer digital dari sana. Sehun mengulurkannya dan Luhan menggigit termometer itu.

"Aku akan datang sekalipun sedang terjadi perang dengan tetangga sebelah utara, Luhan…." Kata Sehun sambil kembali mengobrak-abrik tas plastik beningnya yang berisikan bermacam-macam obat yang ia bahkan tak tahu apa nama dan fungsinya.

Termometer digital itu berbunyi dan Sehun menariknya dari mulut Luhan. Dahinya makin berkerut frustasi melihat angka 39 yang tertera pada alat itu. "Kau tak pernah sakit dan saat aku sakit aku tak pernah memperhatikan obat apa yang kau berikan padaku. Aku tak tahu bagaimana cara merawat orang sakit…." Sehun frustasi dan itu membuat Luhan yang berusaha duduk menyandar pada headboard ranjang terkekeh pelan.

"Kau harus berbaring Luhan." Kata Sehun sambil memegang bahu Luhan namun Luhan menepisnya pelan dan membawa tangan Sehun untuk ia tangkup di depan dada. Luhan berusaha memberikan senyum terbaiknya walaupun saat ia melihat ekspresi Sehun ia tahu itu sia-sia.

"Sekarang kau berikan aku parasetamol dan buatkan aku sesuatu yang bisa aku makan. Tapi sebelum itu, … tenangkan dirimu karena aku hanya flu, oke?" titah Luhan lembut. Sehun tak menjawab namun ia melakukannya. Sebutir obat dari strip berlabel parasetamol dan gelas air ia berikan pada Luhan berturut-turut.

"Sekarang berbaring dan tidurlah sebentar…." Kata Sehun lalu menarik selimut sampai sebatas dagu Luhan yang sudah kembali berbaring. Luhan mengangguk saat kelopak matanya tertutup. Ia merasakan Sehun mengecup keningnya pelan sebelum tubuhnya mulai terasa ringan.

Sama seperti tadi, ia menutup matanya dengan perasaan lebih nyaman walau ia tak bisa sepenuhnya terlelap sampai ia mendengar pintunya terbuka (lagi) dan saat Sehun menepuk pipinya pelan, ia membuka mata.

"Apa aku lama?" kata Sehun sambil membantu Luhan bangun menyandar ke headboard ranjang. Luhan menggeleng, karena ia memang tak tahu. Sehun mengambil semangkuk bubur dari nakas meja dan mulai menyuapkannya kepada Luhan.

Luhan menolak. "Aku bisa makan sendiri, Sehun." Sehun tak memprotes dan memberikan mangkuk bubur itu kepada Luhan. Pada suapan pertama Luhan sedikit berjengit, membuat Sehun memalingkan wajah.

"Itu hasil terbaikku setelah berdebat dengan Ibu soal bubur untuk orang sakit." Katanya menyembunyikan malu. Luhan tersenyum tipis.

"Ini enak." Kata Luhan tulus sambil kembali memakan buburnya. Sehun mendengus pelan lalu meraih remote AC dan mematikannya. Sehun tanpa banyak bicara menyalakan tungku aromaterapi yang sudah ia siapkan. Diam-diam ia tersenyum melihat Luhan mulai bernafas nyaman. Saat ia menyentuh kening Luhan untuk mengecek suhu tubuhnya, Sehun mendesah lega merasakan Luhan sudah mulai normal.

"Terimakasih…." Kata Luhan sambil menyerahkan mangkuknya yang sudah bersih.

"Kau tak harus menghabiskannya, sebenarnya. Aku tahu ini tidak enak." Kata Sehun dengan nada bicara antara kesal dan khawatir. Tapi Luhan mengabaikannya dan malah meraih plastik obat dan mengeluarkan isinya satu-satu. Luhan terkekeh pelan

"Aku hanya flu, Sehun… Obat apa saja yang kau beli ini?" katanya geli.

Sehun kembali memalingkan wajah. "Aku hanya bertanya apa obat untuk orang sakit dengan suara serak karena kelelahan mengerjakan tugas akhir dan kehujanan malam-malam. Mana aku tahu, aku hanya harus membayarnya saja." Kata Sehun tanpa mampu menyamarkan nada sarkastiknya sama sekali.

"Maafkan aku…." Sehun mendesah.

"Lupakan. Berikan padaku." Kata Sehun lalu mengambil obat yang Luhan pegang dan membukanya satu persatu. Lalu meminumkannya pelahan kepada Luhan. Setelah itu tangannya bergerak, kembali membaringkan Luhan.

"Ibu mengkhawatirkanmu, dan sekarang kau harus kembal tid—"

"Sehunna senyumanmu… Aku membutuhkannya." Lirih Luhan yang memegangi kedua tangannya yang memegangi bahu Luhan dengan suara tercekat.

"Jangan marah padaku. Aku menyesal." Lanjut Luhan dan itu membuat Sehun mendesah pelan; ini salahnya yang sedikit terbawa emosi. Ia menyesal melihat mata Luhan yang sedikit berkaca-kaca itu. Sehun menengadahkan Luhan agar menatapnya, lalu memberikan senyumnya pada wajah menyedihkan itu.

"Tidak. Aku yang menyesal. Maaf, aku hanya terlalu khawatir melihatmu sakit." Kata Sehun lalu memeluk Luhan, membenamkan kepala gadis 21 tahun itu kedekapan dadanya. Luhan mengangguk pelan.

"T-terimakasih…." Sehun terkejut mendengar suara isakan kecil Luhan, jadi ia melepaskan peluannya dan tambah terkejut mendapati Luhan menangis kecil. Sehun panik.

"Luhan? Apa lagi yang sakit?" tanyanya khawatir. Luhan menggeleng berulang-ulang dan langsung memeluk Sehun; menangis dan membasahi kemeja Sehun.

"Hei hei… Luhan…." Sehun tak tahu apa yang terjadi namun ia dengan setia mengelus punggung Luhan untuk menenangkan.

"Aku… Tidak pernah ada yang begitu perhatian saat aku sakit. Selama ini aku selalu diam dan meminum obat sendirian… Tak pernah ada yang mau menghabiskan waktu untuk merawatku… A-aku senang saat ini." Sehun tertegun.

"Luhan…."

"Ayah dan Ibu… Mereka hanya membelikan obat untukku dan setelah itu keluar dari kamarku tanpa menoleh. Tapi saat Hana sakit, mereka begitu khawatir. Bahkan Ayah sampai tidak masuk kerja demi menjaga Hana. A-aku… Aku…."

Sehun mengeratkan pelukannya pada Luhan; ia membiarkan Luhan menangis sepuasnya. Sehun mengerti apa yang Luhan katakan.

Hidup dengan keluarga angkat sejak usia 3 tahun, membuat Luhan tahu diri bahwa dirinya tidak bisa selalu bergantung pada keluarga angkatnya. Ia memang disayangi benar, namun hanya sebelum putri kandung keluarga angkatnya lahir. Dirinya yang masih tak tahu apa-apa hanya bisa diam dan berpikir, adikku masih kecil, jadi harus lebih disayangi.

Luhan terlupakan, dan tahun demi tahun ia mengerti. Menyadari mengapa kasih sayang tak pernah lagi sama, mengapa wanita yang menyandang predikat ibu hanya membalikkan punggung saat dirinya sakit, mengapa pria yang ia panggil ayah tak pernah acuh pada prestasi yang ia raih.

Entah berapa malam Luhan meraung dan menangis, meratap nasibnya yang malang. Kehidupan seakan membencinya.

Akhir kelulusan sekolah menengah; ketidakhadiran keduaorangtuanya saat ia meraih predikat siswi terbaik, menjadi pukulan keras membuatnya nekat mengatakan bahwa ia ingin melepas marga keluarga angkat yang ia sandang. Dengan tidak tahu diri, ia bilang ia ingin hidup sebagai Lu Han, hanya Lu Han.

Ayah dan ibunya berlinang, menyadari apa yang telah terjadi pada putri sulungnya.

Adik perempuannya menangis, tak mengerti apa yang ia katakan.

Surat adopsi dibatalkan, dan Luhan pergi ke Seoul berbekal kenekatan. Menyambung mimpi dengan mengenyam pendidikan berkat beasiswa yang ia usahakan mati-matian, bekerja paruh waktu menyambung biaya hidup yang nyaris mencekik leher tanpa ada niatan melirik nominal yang tertera pada rekening lamanya; membuat Luhan mengira, tak akan ada sedikit belas kasih untuk dirinya yang sebatang kara.

Tapi, ternyata Luhan lupa, Tuhan menciptakan kesedihan dan kesengsaraan, namun pula menyediakan kebahagiaan sebagai penawar.

"Sekarang ada aku; ada aku yang akan terus menyayangi dan merawatmu saat kau sakit. Dan jangan lupakan Baekhyun dan Kyungsoo, Byun-Bee dan Satansoo itu juga sangat menyayangimu." Bisik Sehun menenangkan. Luhan mengangguk pelan.

"Kau tidurlah, obatnya sudah mulai bekerja kan?" kata Sehun lalu melepaskan pelukannya dan membaringkan Luhan. Luhan memberikan senyum tulus saat ia mengusap air matanya.

"Kau mau apa? Kau tidak membereskan mangkuknya?" Heran Luhan saat melihat Sehun malah berjalan memutari ranjangnya dan naik dari sisi kiri ranjang. Sehun ikut berbaring dan membawa Luhan ke lipatan lengannya untuk dijadikan bantal.

"Aku ingin menemani gadis yang sedang sakit ini tidur, apalagi?" Luhan tertawa pelan dengan wajah merona. "Aku bau, lho…." Sehun mengedikkan bahunya tak peduli. "Kau memelukku tanpa peduli saat aku sakit."

Luhan tersenyum dan mendekat ke dekapan Sehun. Sehun mencium keningnya lama kemudian menyenandungkan moonlight lullaby. Kesadarannya terbuai dan tak lama ia terjatuh dalam tidurnya yang jauh lebih nyaman dari sebelumnya.

.

"Kau apakan dia, hah?"

"Demi Tuhan aku hanya memeluknya tadi!"

"Kau tidak meracuninya dengan bubur buatanmu, kan?"

"Astaga, kau kira makananku seburuk itu?!"

"Bisakah kalian tenang sedikit?"

Luhan mendengar samar-samar suara orang-orang yang ia kenali dalam kesadarannya yang mulai terkumpul. Ia menggeliat pelan dan ia merasakan tubuhnya sudah jauh lebih ringan dan nyaman.

"Hei, putri tidur… Sudah bangun?" Suara berat Chanyeol yang entah mengapa lembut menyenangkan di telinga Luhan membuat kesadarannya terkumpul penuh dan menghentikan pertengkaran konyol dari tiga lainnya.

"Sudah baikan, Lu?" kali ini suara khas Kai yang membuat matanya terbuka sepenuhnya. Luhan tersenyum begitu mendapati teman-temannya sudah mengelilinginya. Luhan bangkit dan Chanyeol membantunya bersandar.

"Kapan kalian kesini?" tanya Luhan dengan suara yang sudah tak seserak tadi.

"Segera setelah kuliah kami selesai, Lu." Jawab Kai. Luhan mengangguk pelan. "Woah, berarti aku tidur lama sekali." Katanya. Luhan lantas menatap geli pada kedua sahabat sejak masuk kuliahnya itu yang tengah memandangnya dengan mata berkaca.

"Aku hanya flu." Kata Luhan. Setelah itu Baekhyun dan Kyungsoo langsung menerjang Luhan, membuat Chanyeol dan Kai yang duduk disisi kanan-kiri Luhan terjengkang menyedihkan. "Astaga!"

"Sehun merawatmu dengan baik kan?"

"Sehun tidak berbuat aneh kan?"

"Kau meminum obat yang benar kan?"

"Pakaianmu masih lengkap kan? Sehun tidak memerawanimu kan?"

"Ya!"

"Mulutmu, Soo-ya!"

Sehun memprotes keras dan Kai mencubit bibir kekasihnya itu gemas.

"Apa? Kan bisa saja." Kata Kyungsoo datar. Sehun mengerang dan Luhan tertawa melihat tingkah para sahabatnya yang tengah menghiburnya ini. Sungguh hatinya hangat dan bahagia.

"Sehun merawatku dengan baik dan tidak macam-macam; kalian tenang saja…." Kata Luhan. Baekhyun dan Kyungsoo tersenyum lega kemudian memeluk Luhan. Luhan kembali tertawa .

"AigooUri Luhannie sudah sembuh. Kau harus tahu betapa khawatirnya kami saat melihat Sehun yang pasih berlari menuju motornya tadi pagi. Kau tidak pernah bilang kalau kau sakit. Menyebalkan!" kata Baekhyun mengeluh di akhir kalimat.

"Hmm, kau harusnya memberitahu kami." Kata Kyungsoo mencubit kecil hidung Luhan yang masih sedikit merah.

"Aku akan memberitahu kalian."

"Jangan sakit lagi, oke?" Luhan mengangguk. Setelah itu mereka melepas pelukannya dan membiarkan Luhan bernafas lebih leluasa.

Baekhyun mengambil tasnya dan mengeluarkan bungkusan kotak kecil yang dibalut kain berwarna merah dan memberikannya pada Luhan. Luhan melempar tatapan bertanya.

"Tadi aku menelfon Ibu dan mengatakan kalau kau sakit. Ibu memintaku pulang sebentar dan dia mengemaskan gingseng dan jahe untukmu, beberapa obat herbal lain juga. Ibu mengatakan ini akan membuatmu lebih baik, dia juga mendo'akan kesembuhanmu." Mata Luhan langsung berair.

"Aku bisa membuatkan minuman hangat dari itu, kau mau? Atau kau mau aku buatkan makanan yang lebih beradab? Aku tahu masakan Sehun adalah bencana." Timpal Kyungsoo ringan tanpa dosa. Sehun hanya mendengus, lelah menanggapi komentar pedas Kyungsoo. Chanyeol terkekeh pelan dan ia menepuk bahu Sehun.

"Katakan kau ingin apa, kami akan mengusahakannya untukmu." Kata Chanyeol dengan senyum menyenangkannya. Kai yang berdiri disamping Chanyeol mengangguk mengiyakan. "Katakan saja, Lu."

Pandangan Luhan benar-benar mengabur bersamaan dengan air matanya yang mengalir. Dadanya sesak oleh rasa bahagia dan ia tak pernah merasa lebih berharga dan lebih beruntung daripada ini. Nafasnya tercekat sampai membuatnya tak bisa berbicara dengan benar.

"A-aku…."

"Luhan, kau baik?" Nada khawatir Kyungsoo memperburuknya. Luhan mengangguk kacau dengan isakannya.

"'Terimakasih. Aku beruntung mempunyai kalian semua sampai saat ini Terimakasih karena perhatian kalian dan mau merawatku saat sakit… Terimakasih sudah menyayangiku.' Itu yang mau kau katakan, kan, Lu?" kata Sehun dengan suara sedikit bergetar. Luhan yang tengah menunduk menahan tangisnya mengangguk kacau.

"Kami juga sangat beruntung, Luhan… Kau juga merawat kami tanpa peduli apapun saat kami sakit. Bagaimana dengan terimakasih kembali, heum?" kata Baekhyun yang mulai berkaca-kaca. Kyungsoo meraih tangan Luhan dan menggenggamnya erat.

"Kami akan selalu ada di sisimu, seperti kau yang selalu di sisi kami…." Kata Kyungsoo. Luhan kembali mengangguk kacau dan langsung memeluk kedua sahabatnya itu. Luhan terisak kecil.

"Puk puk puk… Jangan menangis."

"Eum, kami disini bersamamu… Jangan khawatir."

Ketika Luhan sibuk berusaha menghentikan isakannya, matanya tak sengaja bertemu tatap dengan Sehun yang tengah tersenyum kecil.

Bibir tipis itu bergerak kecil, sebuah kalimat Luhan dapatkan dari ucapan tanpa suara itu.

"Jangan lagi khawatir. Kami mencintaimu… Aku mencintaimu, Luhan…"

.

END

.

Saya update bareng Author HunHan lainnya; BaekbeeLu, Apriltaste, Lolipopsehun, dan Pizzahun. Seharusnya bukan ini yang saya publish, tapi project lain yang ternyata nggak keburu (saya masih punya empat laporan jahanam, dan rasanya kurang ajar kalau publishchaptered fic yang masih setengah jadi)

Jadi ya, dosa banget kalau saya nggak jadi up sementara sudah dinotice duluan sama yang lain. Hehe.

Ah, well, nggak akan banyak omong soal yang baru terjadi, kalau ada yang resign, itu semua hak masing-masing. Yang jelas, saya masih bertahan, meskipun dengan kemampuan yang sangat-tidak-sekali ini dan kecepatan update yang makin lama seperti motor butut berjalan. :"D

I write what I love, that simple, Darl. ;)

(P.s. Doakan saja ini bukan kali terakhir saya publish Fic manis macam ini, karena saya tergoda dengan list angst dan hurt yang sudah menumpuk dan siap dikebut. *grin Jujur saya hanya mewek di hari pertama, itu pun memakai alibi mengiris sekilo bawang merah, dan setelahnya, persetan, gue suka Luhan sama Sehun. Ga ngaruh berita sialan my Lulu and mbak-mbak-nggak-konsist itu.)

.

Anne 2017-10-18