Yifan terbangun dari tidurnya malam itu. Ia melirik kearah jam weker yang berada diatas meja nakasnya. Ini bahkan baru jam 1 malam. Pemuda itu beranjak dari kasurnya dan merasa pusing dan mual seketika. Ia menyadari bahwa sepatu kulit berwarna hitam masih terpasang dikakinya dan ia masih mengenakan kemeja putih. Barulah ia tahu apa yang terjadi.
Yifan pulang dari sebuah pub bersama Suho dengan keadaan mabuk parah. Ia bahkan masih bisa merasakan bau alkohol dari nafasnya. "Argh .." Yifan mengerang pelan saat kepalanya tiba-tiba terasa sakit. Dengan langkah gontai dia berjalan menuju kamar mandi.
AUTOMNE
Chapter Eleven
Rated : M
Cast : Huang Zitao, Wu Yifan, Oh Sehun, Xi Luhan, Suho, Chanyeol, Kai and others
Warning : YAOI! Lovely TYPO :v
DON'T LIKE, DON'T READ!
NO SIDERS!
.
.
Rated M here!
.
Just ENJOY it while reading this Fic!
Hope you like it!
Yifan berjalan mengendap-endap, keluar dari kamarnya menuju pintu depan. Dengan perlahan dan sangat pelan, ia membuka pintu rumah megah itu dan berhasil keluar tanpa menimbulkan kebisingan. Ia menghembuskan napas pelan saat berhasil masuk kedalam mobilnya.
Yifan melirik arloji miliknya. Jam 1 lewat 14 menit. Ia memejamkan matanya dan menggeleng pelan, kemudian menyalakan mobilnya dan segera pergi dari kediaman keluarga Wu.
Satu yang Yifan lewatkan.
Ia tidak menyadari keberadaan Luhan yang mengawasinya melalui jendela. 'Mau kemana dia?'—batin pemuda manis itu lirih.
Zitao tersenyum miring, menatap sebotol soju ditangannya. Ia sudah mabuk sejak jam sebelas lalu dan masih bertahan dengan tiga botol soju yang belum terbuka. Pemuda cantik itu meraih sebuah undangan yang tampak elegant itu. Undangan tunangan Yifan dan Luhan.
"Hihihihi,"—ia tertawa menyeramkan, membuka undangan itu dan melihat tulisan nama Yifan disana. Dan tepat disamping tulisan nama Yifan, tertera nama Luhan yang merupakan calon tunangan mantan kekasihnya. "Yifan-gege benar-benar akan bertunangan ..." gumamnya, dengan seringai tipis.
Zitao menoleh dan melihat handphone-nya yang tergolek cantik diatas meja. Dengan kesadaran yang kurang, dia meraih handphone-nya dan melihat pesan masuk. Sudah ada 17 pesan dari Sehun dan ia belum menjawab satu pun pesan-pesan tersebut.
Ia tertawa pelan melihatnya, kemudian melempar handphone-nya. Sehun tidak akan menyadari keadaan dirinya yang mabuk. Bukankah pemuda itu sedang berada di Korea? Jadi tidak ada yang bisa melarangnya sekarang. Zitao bahkan sedang berada diapartemen, menghabiskan malam dengan tangisan dan juga mabuk yang parah.
Pemuda itu bangkit, berdiri dan melangkahkan kakinya gontai menuju sofa. Ia membuka topinya dan langsung jatuh terbaring diatas sofa. Tertidur dengan mata yang sembab dan botol soju yang berserakan dimana-mana. "...Yifan-ge ..." gumamnya lirih sebelum benar-benar pulas.
.
Yifan menghentikan mobilnya tepat didepan bangunan-bangunan yang tersusun itu. Ia melangkah keluar dan tatapan matanya seketika berubah sendu. Betapa ia merindukan semua ini. Hari-harinya ia habiskan menunggu kehadiran Zitao di apartemen mereka. Atau lebih tepatnya apartemen Zitao, karena pemuda panda itu memang yang memutuskan untuk tinggal di apartemen.
Yifan berjalan dengan cepat—sangat cepat menuju apartemen Zitao. Ia berlari menaiki tangga dan tersenyum saat mendapati nomor apartemen Zitao. Saat ia akan mengisi sandi-sandi pengunci apartemen itu, tangannya terhenti. Semoga saja Zitao tidak mengubah kata sandi apartemen tersebut.
Tanggal jadian mereka
Satu persatu, Yifan menekan nomor-nomor tersebut.
.
.
Cklek
.
Pintu apartemen itu terbuka dan mata Yifan seketika membelalak. Ia terkejut saat melihat ada beberapa botol soju yang berserakan di lantai. Pemuda tampan itu segera masuk dan keheranan mendapati sebuah sepatu berwarna biru. Dan ia lebih terheran lagi saat ia menyadari bahwa lampu dapur menyala.
"Ada orang?" gumamnya kebingungan. Siapa? Setahunya hanya Zitao dan dirinya yang mengetahui kode sandi apartemen tersebut.
Mungkinkah ...
"Zitao?"—Yifan menyerukan nama Zitao, dan ia mendesah berat saat tidak mendapatkan jawaban. Dengan langkah perlahan, ia mencari saklar lampu dan segera menyalakannya.
DEG!
"Zitao?!"
Dan matanya kembali membola begitu melihat Zitao yang terbaring diatas sofa. Yifan berlari mendekati Zitao. Ia terduduk disamping pemuda cantik itu dan tidak bisa mengucapkan sepatah kata pun. Mengapa Zitao bisa berada disini? Bukankah seharusnya ia berada di rumah Sehun? Yifan ingat sekali kalau Chanyeol mengatakan bahwa Zitao berada dirumah Sehun seorang diri.
Yifan menghela napas. Zitao sudah pasti mabuk. Melihat ada lima botol soju yang kosong dilantai, ia tahu pasti bahwa pemuda itu membiarkan dirinya mabuk. "Kenapa kau mabuk?" ucapnya lirih, mengusap rambut Zitao pelan.
Pemuda cantik itu menggeliat nyaman, kemudian ia membuka kelopak matanya dan samar-samar melihat Yifan. "Yifan-hik! Ge, kau kah itu?" tanyanya pelan.
Yifan terpaku, "Z-Zitao ..."
Zitao bangkit dan hampir saja terjatuh jika Yifan tidak segera menangkapnya. Ia tersenyum miring saat melihat wajah Yifan berada dekat dengan wajahnya. "Gege ..." lirihnya dengan senyum tipis.
"Kau mabuk,"—ucapan tegas Yifan membuatnya menggeleng, "Aku .. hik- tidak mabuk,"
Yifan menghela napas dan langsung mengangkat tubuh Zitao dan berjalan menuju kamar, membaringkan Zitao diatas kasur. Pemuda cantik itu menatap Yifan dengan, yah, tatapan yang tidak bisa dijelaskan. "Gege," panggilnya, membuat Yifan menoleh padanya. "Aku merindukanmu," ujarnya dengan mata yang mengerjap-erjap.
Rahang Yifan seketika mengeras begitu mendengar ucapan Zitao. Wajahnya sedikit memerah saat melihat Zitao yang menatap langsung manik matanya. "Zitao ..."
"Ge ... –
.. –Do me ..."
Yifan membulatkan matanya, "Kau mabuk, Zi!"
Zitao menggeleng, "Tidak ... aku tidak mabuk,"—ia kembali bangkit dan mendekat pada Yifan, mencengkram erat bahu pemuda itu.
"Gege ... Touch me,"—dan Yifan tersentak mendengar bisikan Zitao ditelinganya. Dengan cepat ia kembali membaringkan Zitao.
"Kau mabuk, Zi. Aku tidak akan menyentuhmu jika kau sedang mabuk!"
Hening.
Mereka berdua terdiam. Zitao dengan setengah kesadarannya menatap Yifan. " ... Aku yang menginginkannya ..."
"Zi-,"
"Kali ini aku yang memintanya ..."
.
.
.
.
Mereka berdua sudah lengket satu sama lain. Tubuh keduanya lengket karena keringat. Deru napas masih terdengar sana-sini dan keduanya terjatuh, menghimpit tubuh sang terkasih. Yifan menciumi lekuk wajah Zitao yang memerah.
"... Gege ..." suara desah Zitao yang terdengar sangat erotis direspon baik oleh Yifan. "Ya, sayang?"
"More ..." satu kata itu saja, membuat Yifan tersenyum penuh kemenangan. Ia mengangkat dagu Zitao dan kembali meraup bibir plum itu dengan ganas. "Kau yang memintanya, Love ..." bisiknya ditengah-tengah ciuman panas mereka.
Tangan Yifan sudah berani meremas bokong kenyal milik Zitao, membuat si empunya mengerang, merasa cukup geli, terlebih saat Yifan mulai memberikan tanda kekuasaan di lehernya. Pemuda tampan itu kemudian mengarahkan ketiga jarinya agar Zitao dapat mengulumnya. Dan tanpa diminta, si cantik sudah mengulum ketiganya dengan sangat erotis.
Yifan merasa bagian celana pendek yang dikenakannya terasa sangat sempit. Yah, hanya ia yang masih belum naked disini. Sedangkan Zitao sepenuhnya sudah telanjang bulat dihadapannya. Matanya menatap langsung wajah memerah Zitao yang juga basah oleh keringat sambil mengulum lembut ketiga jari tangannya. Dengan cepat Yifan menarik ketiga jarinya keluar dari bibir plum milik si cantik, membuat Zitao mendesah kecewa.
Yifan tersenyum, kemudian mengangkat kaki Zitao dan memasukkan jari tengahnya tepat pada lubang virgin milik sang terkasih. Zitao mengerang hebat saat Yifan berhasil menemukan titik ternyamannya. "Aaah .. Ge—gege!" desahnya saat ia mulai merasa kesakitan.
"Tenanglah sayangku ... ini tidak akan lama dan kau akan menikmatinya,"—Yifan mencium pipi Zitao sekilas, dan kembali melanjutkan aksinya. Ia memasukkan jari telunjuknya, membuat Zitao semakin mengerang. Jarinya betah bersemayam di lubang virgin milik Zitao dan itu membuat si cantik memejamkan matanya dan mendesah namanya beberapa kali.
Yifan menelan ludah saat menghentikan aksinya dan melihat Zitao yang semakin terangsang olehnya. Ia sendiri pun sudah terangsang hebat dan segera membuka celana boxer merah itu, kemudian mengecup pelan paha putih milik Zitao. "Dear, open your eyes ..." bisiknya seduktif ditelinga Zitao.
Mata Zitao perlahan terbuka dan wajahnya tambah memerah saat melihat kejantanan Yifan dihadapannya. Entah sudah berapa lama ia tidak melihat kejantanan milik mantan kekasihnya itu. "Aku akan mulai ..."—dan ia hanya bisa mengangguk saat Yifan menyentuh pinggulnya dan mulai memasukkan kejantanannya di hole miliknya.
"Ck, aah .. kenapa lubangmu masih sempit? Bukankah kita sudah pernah melakukan ini berkali-kali sebelumnya?" tanya Yifan dengan seringai yang khas. Zitao hanya bisa mengerang pelan mendengar pertanyaan Yifan.
"Sa-sakit! Gege!" Zitao berteriak tiba-tiba saat ia merasa kejantanan Yifan mulai menerobos rektumnya. Ia memejamkan mata dan menarik surai hitam kemerahan milik Yifan dengan sangat kuat. Sebulir air mata lolos karena merasakan sakit yang teramat.
"Sssh ... tunggu sweetheart, tunggu ..." bisiknya, mengecup bibir plum milik Zitao yang membuatnya candu dan menggenggam erat tangan Zitao. Ia berusaha menahan nafsunya, menyadari bahwa sang terkasih masih merasa kesakitan. Dinding hole milik kekasihnya begitu hangat, sempit dan mencengkram dirinya kuat.
Yifan berhenti sebentar saat ia sudah menemukan titik kenyamanan Zitao yang membua pemuda cantik itu mendesah pelan. Dan tak lama kemudian, ia merasa bahwa pinggul Zitao sudah bergerak meminta untuk pergerakan selanjutnya. Yifan menyanggupi permintaan Zitao dan segera bergerak maju-mundur perlahan.
Desahan, lenguhan dan erangan yang keluar dari bibir Zitao adalah melodi terindah baginya. Yifan tidak berhenti menghujami Zitao dengan menusuk-nusukkan dirinya kedalam rektum Zitao. Dan itu membuat si cantik semakin mendesah nikmat.
Yifan semakin bergerak cepat, membuat Zitao menarik kuat surainya. Menahan sakit sekaligus rasa nikmat yang diberikan oleh mantan kekasihnya itu. Semakin cepat dan itu semakin nikmat. Zitao mulai merasakan bahwa perutnya bergejolak, mengetahui bahwa ia akan klimaks dan memaksa kejantanan Yifan untuk masuk lebih dalam.
"Ngg ... Ammphh ... Uhh .. Ge! Yifan-ge!" teriakan Zitao terdengar bersamaan dengan tingkat kenikmatan yang tertinggi kala Yifan semakin kehilangan kesadarannya dan mabuk akan tubuh Zitao.
Ah
Akhirnya, Zitao berhasil klimaks.
"Nggh ..." Zitao sudah terkulai lemas dan tubuhnya terhempas kasar jatuh kebawa lantai. Yifan terkejut, menyadari bahwa mungkin permainannya terlalu kasar. Dengan pelan diangkatnya tubuh Zitao dan membaringkannya di kasur.
Yifan belum puas. Ia masih ingin bermain dengan Zitao jauh lebih lama. Dan ditambah rasa rindunya akan tubuh si cantik, membuat Yifan semakin merasa ingin lebih dan lebih. "Kita belum selesai sayang ..." bisiknya ditelinga Zitao, kemudian tangannya sudah meremas kejantanan sang terkasih dan mengocoknya pelan, berusaha menaikkan rangsangan Zitao kembali.
"Gege ... aku lelah ..." lirih Zitao dengan mata yang terpejam.
Yifan menggeleng, "Kau yang memintanya, baby," serunya, membalikkan tubuh Zitao dengan kedua tangannya hingga tubuh Zitao menungging dihadapannya. Yifan kembali memasukkan kejantanannya, merasakan hangat yang menjalari seluruh tubuhnya, membuat si cantik membulat hebat, "Y-Yifan-ge!" pekiknya.
.
.
"Zitao ..." Yifan menjatuhkan dirinya diatas kasur setelah ia klimaks didalam hole Zitao. Ia menatap Zitao yang sudah sayu dengan keringat yang mengalir ditubuhnya. Yifan mendekatkan dirinya, mencium lembut bibir si cantik, "Aku mencintaimu," dan mengecup kedua mata Zitao, lalu merengkuh tubuh molek itu, masuk kedalam dekapannya.
Zitao mengerjapkan matanya pelan. Merasa bagian bawah tubuhnya sangat sakit. Ah, tidak! Seluruh tubuhnya terasa sakit. Ia duduk dan merenggangkan otot-ototnya, kemudian menggaruk tengkuknya, "Hah?!"—dan akhirnya ia menyadari bahwa ia tidak mengenakan sehelai pakaian pun.
Jantungnya berdegup kencang—sangat kencang saat ia melihat dadanya yang penuh dengan warna keunguan maupun kemerahan. Zitao melotot saat ia mendapati seseorang sedang tertidur disampingnya. Seseorang yang sangat ia kenal.
Yifan
"A-APA YANG TERJADI?!" Zitao menjambak rambutnya sendiri dan menangis saat ia juga menyadari bahwa Yifan sudah telanjang.
"Zi?" suara serak itu membuat Zitao manarik selimut dan terduduk dipojok kamar, ketakutan dan menangis saat ia melihat Yifan mendekatinya. "Zi? Hey, kau tak apa?"
"Apa yang terjadi?!" pekiknya dengan uraian air mata.
Yifan panik saat melihat Zitao yang sudah menangis, membaluti dirinya dengan selimut dan menjambak rambutnya frustasi. "Zitao ... ini ... kita .. kita berdua ..."
"Jangan katakan!" Zitao berteriak sangat keras hingga Yifan merasa gendang telinganya akan pecah.
"Zi ... aku—bukankah kau yang memintanya?" tepat saat Yifan menyelesaikan kalimatnya, Zitao mendorongnya dengan sangat kasar dan segera berlari mengambil pakaiannya, keluar dari kamar dan langsung berlari menuju kamar mandi, meninggalkan Yifan yang menatapnya lirih.
.
Zitao tidak tahu apa yang terjadi, yang jelas ia tahu benar bahwa dirinya dengan Yifan, tepat tadi malam, baru saja-
—bercinta
Zitao panik. Sangat. Terlebih saat leher dan dadanya penuh dengan bercak merah keunguan tanda kekuasaan Yifan. Ia menangis sejadi-jadinya dan merutuki kebodohannya, membiarkan Yifan kembali memasuki dirinya. Kalung cincin pemberian Sehun yang ia kenakan dan kissmark Yifan dilehernya membuatnya kian terisak. Perpaduan antara kalung cincin yang penuh kasih sayang serta tanda kepemilikan itu bagaikan langit dan bumi. Tidak dapat menyatu ditubuhnya. Zitao menangis sejadi-jadinya. Apa yang harus ia katakan pada Sehun nanti?!
.
.
.
Brak!
"Zitao! Tunggu! Aku akan menjelaskan semua ini!"
Tangan Zitao sudah digenggam erat oleh Yifan, membuat pemuda cantik itu menghapus airmatanya. Ia menatap marah pada Yifan. "Seharusnya gege menghentikanku!"
"Aku sudah berusaha menghentikanmu! Tapi kau tetap memaksaku melakukannya!"
"Gege tahu benar aku sedang mabuk!"
"Aku tidak bisa menahan diriku jika kau tetap memaksaku, Zi!"
Zitao menangis. Ia melepaskan kasar genggaman Yifan dan berlari menuju kamarnya, kamar yang baru saja mereka pakai untuk melampiaskan nafsu. Walau Zitao merasakan sakit yang teramat saat berjalan, pemuda itu tetap berlari, membuka lemari dan mencari apapun itu yang bisa menutupi lehernya.
Yifan menghela napas, membuka hoodie yang dipakainya, kemudian memberikannya pada Zitao, "Pakailah,"
"Tidak,"
"Jangan keras kepala,"—dan Yifan masih bisa bersabar dengan kelakuan Zitao. Ia memakaikan paksa hoodie miliknya yang cukup besar itu, lalu menarik tali tudung hoodie-nya sehingga leher Zitao sudah tertutupi sempurna.
Zitao kembali menangis, dengan sesegukan, ia terisak dihadapan Yifan yang terdiam mematung dihadapannya. "Gege jahat ... gege jahat ..." serunya, memukul-mukul dada Yifan. Ia tidak menginginkan semua ini terjadi. Ia bahkan merusak segalanya dan membuat Yifan menyentuh dirinya yang seharusnya tidak terjadi. Zitao merasa dirinya kotor dan sebuah pengacau besar dihadapan Yifan.
Yifan menatap sendu sang terkasih, kemudian memeluk erat Zitao yang masih saja menangis. "Maafkan aku. Sungguh maafkan aku,"
"Gege jahat ..."—hanya itu yang terlontar dari bibir Zitao, selebihnya ia menangis, membasahi kaos tipis si tampan yang memeluknya dan mengusap lembut surai kehitamannya, sembari bergumam, "Maafkan aku ..."
.
.
.
.
"Luhan, mana Yifan?"
Luhan mendongak saat Ayah Yifan bertanya dimana keberadaan sang putra. Luhan menggeleng pelan, "Maafkan aku, paman ... aku tidak tahu kemana Yifan ..."
"Anak itu! Berani-beraninya kembali berkeliaran!"
"Sudahlah, Bao Lei ... Yifan sudah dewasa, setidaknya ia berhak mendapatkan kebebasan," Li Wen membela anaknya.
"Kau tidak berhak mengomentariku, Wu Li Wen!"—dan seketika semuanya terdiam saat Ayah Yifan menghardik sang istri. Luhan meringis pelan, menyantap sandwich yang sudah disiapkan dan meneguk susunya pelan. Ia masih memikirkan, sebenarnya kemana Yifan pergi? Dan mengapa ia pergi pada saat malam hari? Mengendap-endap pula. Ini sangat aneh.
"Lu? Orang tuamu akan datang siang ini, bukan?"
Pertanyaan dari Ibu Yifan membuyarkan lamunan Luhan. "Ah, iya, bibi ..."
Ibu Yifan tersenyum, "Boleh bibi ikut kebandara menjemput mereka?"
"Tentu saja bi, nanti kita akan sama-sama pergi kesana," jawab Luhan dengan penuh sopan.
"Kau anak yang baik,"—dan Luhan hanya tersenyum simpul, tidak menyadari tatapan sendu Ibu Yifan. Seolah-olah ada yang disembunyikan. 'Maafkan Yifan, Lu,'
Sehun baru saja tiba dari Korea dan langsung berangkat menuju kediamannya. Khawatir dengan kekasihnya yang tidak membalas pesan dan juga teleponnya. Ia tidah tahu apa yang terjadi, dan ia berusaha untuk tidak panik dan berpikiran negative terlebih dahulu. Barangkali handphone Zitao rusak atau hilang. Sehun sangat gusar dan mengkhawatirkan kekasihnya itu.
Langkah kakinya dipercepat begitu ia sudah sampai didepan rumahnya. Yang ada dipikirannya saat ini hanya Zitao, kekasihnya. Sehun mengetuk pintu rumah itu, "Zitao! Zitao!" pekiknya.
Tidak ada jawaban.
Sehun semakin panik, "Zitao! Zitao! Kau dirumah?!"
Hening.
Pikiran Sehun sekarang sudah berubah menjadi negatif seketika, dengan cepat pemuda itu mencari kunci cadangan dan langsung masuk. "ZITAO?!"
"Iya-iya! Aku disini!"
Sehun bernapas lega saat melihat Zitao yag menuruni tangga dengan terburu-buru. Ia langsung menghambur dan memeluk kekasihnya yang sudah rapi dan wangi. "Kau rapi sekali. Mau kemana?"
Zitao memperlihatkan tas yang digandengnya, "Kuliah,"
Sehun tersenyum, melepaskan pelukannya dan mencubit gemas pipi kekasihnya, "Kekasihku memang rajin,"
Zitao terkikik geli mendengarnya. "Sebaiknya kau beristirahat, Hun. Kau baru tiba,"
Pemuda berdarah Korea itu mengangguk, memberi kecupan singkat dipipi Zitao dan melangkah menuju tangga.
Dan ia menyadarinya ...
"Zitao?"
"Ya?"
"Kenapa kau memakai syal?"
Matilah
"A ... aku hanya merasa kedinginan,"
Sehun mengangkat sebelah alisnya, "Di musim panas begini?"
"Y-ya ... aku merasa sedikit nyaman saat memakai syal,"
Sehun masih menaruh kecurigaannya, namun segera ditepisnya, "Hm .. baiklah. Hati-hati dijalan," ucapnya, kembali melanjutkan langkahnya menaiki tangga, membiarkan Zitao melenggang pergi keluar dari rumah besar tersebut.
Jantung Zitao berdegup sangat kencang saat baru saja membohongi Sehun. Ada rasa bersalah, tentu saja. Ia sudah menjadi kekasih Oh Sehun dan masih saja berhubungan dengan Yifan. Zitao mengusap wajahnya gusar. Seharusnya memang tidak seperti ini. Harusnya semuanya tidak terjadi dan tidak perlu serumit ini. Yifan yang akan bertunangan dan ia yang sudah menjadi milik Sehun, masih saja melakukan hubungan badan. Zitao tidak yakin dengan apa yang dihadapinya. Pada akhirnya... -
Zitao tidak bisa menerima kenyataan
.
.
"APA?!"—Chanyeol berteriak histeris, membuat Yifan memegangi sebelah telinganya dan Suho yang mengisyaratkannya untuk diam. "Apa kau sudah gila, Wu Yifan?!"
"Aku tidak gila, Park,"
"Kau meniduri Zitao?! What?! This is crazy, man!"
Suho berdecak kesal, "Diamlah. Tak perlu seheboh itu. Yifan dan Zitao sudah pernah melakukannya,"
Yifan mengangguk, menyetujui ucapan Suho.
"Lalu apa reaksinya?" tanya Suho.
Yifan menghela napas, "Dia marah dan menangis saat sadar,"
"Sudah kuduga!" Chanyeol berseru, "Kau juga bodoh! Kenapa kau menidurinya?"
"Aku tidak bisa bertahan lagi, okay? Zitao membuatku gila dalam sekejap!"
"Itu wajar," ucap Suho kalem, "Tapi, kau harus memikirkan resiko-nya, Yifan,"
"Resiko?"
"Yups, Oh Sehun,"
Yifan mendecih, "Ada apa dengannya?"
Chanyeol memutar bola matanya, "Kau tahu, dia dan Zitao sudah jadian!"
"Zitao tetap kekasihku," geram Yifan.
"Ya, tapi sekarang dia yang berkuasa, Wu,"—perkataan Suho membuat Yifan mendelik. "Kau tahu, jika saja Sehun mengetahui bahwa kau dan Zitao baru saja making love, mungkin saja dia akan menyakiti Zitao,"
"Menyakiti?"—Chanyeol kebingungan.
Suho mengangguk pelan, "Mungkin saja ia akan memaksa Zitao untuk melakukan hubungan badan dengannya, seperti yang baru saja kalian lakukan,"
Mata Yifan sudah membola, "Apa?! tidak mungkin ia melakukan hal tersebut,"
Chanyeol mulai mengerti sekarang, "Apa yang tidak mungkin bagi seorang Oh Sehun?"
"Dia tidak akan berani menyentuh Zitao jika Zitao tidak mengizinkannya!"
"Tapi, Yifan-," Suho menghela napas, "Lain ceritanya jika Zitao yang meminta,"
"Meminta? Apa maksudmu? Zitao tidak akan berani bercinta dengan orang yang jelas-jelas tidak disukainya!"
Suho mengangkat bahu, "Itu mungkin saja. Terlebih lagi dia pasti akan merasa bersalah. Kau tahukan Zitao itu seperti apa,"
Tangan Yifan sudah mengepal sempurna dan ia langsung beranjak pergi dari apartemen Chanyeol, berlari keluar menuju kediaman Sehun.
"Pfft ... ahaha! Kau berbakat sekali, Suho!"
"Maksudmu?" Suho mengangkat sebelah alisnya.
Chanyeol masih tertawa, "Kau tadi memanas-manasi Yifan kan?"
Suho menggeleng, "Aku serius, Park,"
Tawa Chanyeol seketika terhenti, "A-pa?"
"Yeah, untuk apa aku bercanda?"
"Sialan!"—Chanyeol langsung beranjak dari sofanya, berlari keluar mengikuti Yifan.
"Hei, kau mau kemana?!" tanya Suho, setengah berteriak karena keheranan.
Chanyeol menghentikan langkahnya dan menoleh, "Cepat ikut aku! Sebentar lagi perang dunia ke-III akan dimulai!"
"Hah?"
"Ck, WU YIFAN DAN OH SEHUN!"
"Jesust Christ!"—Dan Suho segera berlari mengikuti Chanyeol.
.
.
.
TBC
Halo readers :)) BLANKra kangeeennn XD
Gimana nih? Semuanya pada sehat kan? Iya dong sehat dan kuat gitu :3
Okay, gimana dengan chapt kali ini? Parah ya? Okay, I got this :'v apalagi ence-nya, adoh berantakan dan gajelas banget, pasti gadapat feel-nya kan? Iya kan iya kan? :""v maklum ira baru pertama kali buat ence :3 dan belum cukup umur soal ini :v
Balasan review chapt 10 :
ajib4ff : "Halohaii, wkwkk iya virus ngeblank nya ira kan bisa nular gitu eaps :v gimana dengan chapt ini? Bagus gak jib? Wkwk :v Thanks yaa sudah review"
anis. l mufidah : "Halohaii, permintaan mu terwujudkaan~~ ini rate nya udah naik wakakakak :v so, gimana nih ence nya?:'v Thanks yaa sudah review"
ang always : "Halohaii, aduh maaf hunhan-nya gamuncul nih XD wkwkwk kayak roti yang keselip di tas ira entar, jadinya gepeng, tapi tetep enak :v siip, makasih banyak atas saranmu :) Thanks yaa sudah review
annisakkamjong : "Halohaii, aduh huntao shipper, maaf ya gaada huntao di chapt ini :3 adanya kristao haduh :3 Thanks yaa sudah review"
luphbebz : "Halohaii, IYA IYA OMNAGA SAMA DEDEKPANDA GENGSI MULU IH PAMALI TAUK :V wkwk siip, ini udah lanjut kok. Thanks yaa sudah review"
yuikitamura91 : "Halohaii, wkwkwk geregetan jadinya geretan :v iya si Hun ini gamau ngalah duh pusing pala panda(?) iya dong CINTA SEJATI itu banyak belok-beloknya(?) ahahaha XD Thanks yaa sudah review"
Ko Chen Teung : "Halohaii, waduh rencananya rahasia atuh :V belum boleh dibocorkan wkwk XD Thanks yaa sudah review"
HUANGYUE : "Halohaii, wkwkk kalo lamarnya ditoilet ga romantis dong XD nanti yang ada dedek panda nolak om naga waks :V Thanks buat semangat dan reviewnya"
JungSooHee : "Halohaii, awkawkawk, maafin keyadongan ira(?) yang malah buat tao mabuk bukannye sadar :v siip, makasih banyak atas dukunganmu ^^/ Thanks yaa sudah review"
Huang Zi Mei : "Halohaii, aduh maafkan ira yang belum buat hunhan moment lagi :3 maybe next chapt? wkwkk makasih banyak atas dukunganmuu^^/ Thanks yaa sudah review"
LVenge : "Halohaii, ahahaha omnaga emang patut dikasihani :v apalagi udah nge-anuin dedek panda :3 gimana dengan chapt ini? masih greget? Thanks yaa sudah review"
celindazifan : "Halohaii, iya nih tao sama kris gaseru ah, malah main boong2an perasaan :v siip, ira bakal uisahain fast update kok. Thanks yaa sudah review"
exoel12 : "Halohaii, iya nih Sehun udah kesemsem sama adek rusa belom? ira siap kok jadi tamu undangan :'v ini kristao moment nya udah ada loh :3 siip, makasih banyak atas dukunganmuuu^^/ Thanks yaa sudah review"
beruanggajah : "Halohaii, yaaah kangennya sama AUTOMNE doang gakangen sama iranya :'v ira rapopo :'v ira tuh gabisa diginiin :'v ira mah apa atuh cuma blank author doang :'v wkwkk. Gimana dengan chapt ini? masih pendek? Thanks yaa buat semangat dan reviewnya"
fausia shara : "Halohaii, iya nih dedek panda masih gengsian, mau ira ketekin lu panda? :v aduh maaf, ira gabikin hunhan dichapt iniiii. Thanks yaa sudah review"
maulina45 : "Halohaii, iya iya tuh udah ada omnaga depan rumah :V ETJIEEE SEHUN ETJIEEE :v kesemsem sama rusa betina nih asek asek :v rencananya kris(?) sebenarnya rencana kris itu ngelamar ira doang kok XD (biarkanlah fangirl berimajinasi :V) Thanks yaa sudah review"
Guest : "Halohaii, hehehe, maaf gaada huntao dichapt ini ... tapi suka sama chapt ini gak? :v Thanks yaa sudah review"
ndadinda : "Halohaii, permintaanmu terwujudkaaannn~~~ ini udah ada ence nya :v walopun gak mateng(?) tapi ira usahain semateng mungkin :3 wkwkwk, itu mah wajar :v tapi ira kalo baca ff yadong ira skip-skip, gatau kenapa tapi rasanya ira malu :v Thanks yaa sudah review"
Varka : "Halohaii, wkwkwk iya omnaga gausah sama tao, sini sama ira aja(?) :v iya paman apotekernya budeg, maklum udah tua :3 kayak nenek ira tuh, biar udah teriak-teriak sampe tenggorokan sakit tetep aja ga didenger-_-Thanks yaa udah review"
Guest2 : "Halohaii, siip ini udah lanjut. Thanks yaa sudah review"
Xyln : "Halohaii, iya masih sayang ajaloh, gengsi amat XD siip, ini udah lanjut kok :3 Thanks yaa sudah review"
Orangecuppie : "Halohaii, iyaa iyaa udah saling lope lope tuh wkkwk. ETJIEEE CHANYEOL CAPEK LIAT KRIS SAMA TAO GITU MULU ETJIEEE :V BAKAR AJA MEREKA BERDUA MAS :v Thanks yaa sudah review"
BabyWolf Jonginnie'Kim : "Halohaii, wkwkk inilah dia Hunhan shipper XD wkwkk maaf yaa belum ada hunhan dichapt ini :3 oiya, koreksiin ence-nya dong :v Thanks yaa sudah review"
AmeChan95 : "Halohaii, iyaa ini udah dilanjut kok :) Thanks yaa sudah review"
yjima : "Halohaii, wah tebakanmu kurang tepat nih XD omnaga belum tunangan tapi masih asik nge-anuin dedek panda XD Thanks yaa sudah review"
Safitri676 : "Halohaii, rencananya omnaga masih rahasia perusahaan, gaboleh diumbar :3 wkwkk maaf yaa belum ada hunhan dichapt ini. Thanks yaa sudah review"
Guest3 : "Halohaii, wkwkk huntao shipper nih XD siip, ini udah lanjut kok~~ Thanks buat semangat dan reviewnya"
beibei : "Halohaii, aduh laptopnya sayang kalo dibanting wkwk XD sukses bikin readers greget niih. IYA NYESEK BANGET GITU NERIMA UNDANGAN DARI MANTAN NAGA :""" Thanks yaa sudah review"
GalaxyPanda69 : "Halohaii, waduh rencananya omnaga masih rahasia, gaboleh diumbar nanti bisa bangkrut(?) wkwk. siip, ini udah lanjut. Thanks yaa sudah review"
Kirei Thelittlethieves : "Halohaii, siip ini udah lanjut kok~~ Thanks yaa sudah review"
Arin : "Halohaii, wkwkk yuk kita lakbanin bareng-bareng :v sekalian distaplesin :v baru dibungkus bawa pulang kerumah :v wkwk, siip, makasih banyak atas dukunganmu. Thanks yaa sudah review"
putriana7399 : "Halohaii, wkwkk gapapa kok. Justru ira yang harusnya berterimakasih udah mau baca ff abal2 ini, ngereview lagi :) siip, makasih banyak atas dukunganmu^^/ Thanks yaa sudah review"
Hoshi no Haru : "Halohaii, ahahah iya gapapa kok, kan setiap orang punya kesibukan masing2 jadi maklum kalo ketinggalan :3 siip, ira bakal usahain fast update kok. Thanks yaa sudah review"
meimei : "Halohaii, my new readers :* wkwkk rencananya yipan? duh itu masih rahasia negara XD tidak boleh dibagitahu wkwk :v ini udah lanjuut kok~~ Thanks yaa sudah baca dan review"
Aiko Michishige : "Halohaii, siip, ini udah lanjut kok :) Thanks yaa sudah review"
zizi : "Halohaii, hehehe iyaa ini udah lanjut kok. Wah makasih udah suka ff ini XD Thanks yaa sudah review"
Okay, ira ucapin BIG BIG BIG EXTRA BIG THANKS buat yang ngereview, nge-fav-in, nge-follow-in fanfic ini! ILYSM :*
Dan ira harus ijin sama readers sekalian, soalnya ira mau HIATUS dulu bentaran karena galama lagi ira ujian 'Semester Genap' :3 duuh bakal kangen sama kaliaaaannn {}
Well, BLANKra tetap butuh semangat dari kalian my pretty readers~~
Last, MIND TO REVIEW? Gimme your spirit babe~
