Sakura seorang wanita karir yang kaya raya dan sukses. Dia pintar, cantik, seksi dan sangat menarik, hanya saja dia sampai diusianya yang sudah begitu matang, 25 tahun belum menikah dan tak terlihat sekalipun dia menggandeng seorang kekasih atau sekedar gebetan. Semua orang disekelilingnya jadi bertanya-tanya, ada apa dengan Sakura? Apa jangan-jangan dia menyimpang alias penyuka sesama jenis?

Tapi Sakura tidak akan pernah tahu kalau kehidupannya akan berubah dalam waktu semalam. Dia tidak akan pernah menduga kalau besok statusnya sebagai jomblowati yang bahagia akan segera berubah.

Disclaimer Masashi Kishimoto

Warn : OOC, aneh, typo(s), perubahan bahasa dalam waktu-waktu tertentu (you can click back if you hate this).

Rate : M

Pair : Sakura X Sasori/Sakura X Sasuke/Sakura X Neji

Genre : Romance/Drama/Humor/Hurt-comfort

xxx

HIMITSU DESU!

(Cheating!)

.

.

Chapter sebelumnya dikabarkan kalau Neji Hyuuga, salah satu laki-laki yang juga menyukai Sakura sudah kembali dari Jerman. Tujuannya datang kembali tentu saja untuk bisa menikahi Sakura! Apa yang akan terjadi selanjutnya? Apakahakan benar-benar terjadi perang dunia kedua, eh ketiga?

.

.

Sore itu Sakura pulang dari rumah sakit bersama-sama dengan Ino, Hinata, Naruto dan Sai karena keadaannya sudah jauh lebih baik dan hanya diminta untuk banyak-banyak minum vitamin dan banyak istirahat.

Sasori yang berada di rumah langsung kebingungan karena yang nganterin Sakura rame banget. Bisa gawat kalau Hinata, Naruto dan Sai ngeliat dia ada di sana. Akhirnya dia terpaksa ngumpet dari pada ketahuan.

"Kalian duduk dulu, aku mau buatkan minuman," kata Sakura mempersilahkan yang lainnya untuk duduk. Tapi disaat gadis itu mau beranjak ke dapur Ino segera mencegahnya.

"Kau itu baru keluar dari rumah sakit! Biarkan aku saja yang buat minuman!" kata Ino yang langsung memaksa Sakura untuk duduk dan dia sendiri segera melenggang ke dapur.

Akhirnya Ino mulai sibuk bikin minuman sementara Sakura ngobrol di depan bersama dengan yang lainnya. Tapi kegiatannya terhenti ketika tiba-tiba saja dia melihat Sasori yang baru saja keluar dari kamar mandi (oke, rumah Sakura itu punya kamar mandi sendiri-sendiri buat di kamar Sakura sendiri, kamar tamu yang dipake Sasori sama yang ada di dapur).

"Sa-Sasori! Kau membuatku kaget!" kata Ino yang benar-benar terkejut dan wajah wanita yang seumuran dengan Sakura itu berubah merah. Dia dapat merasakan hawa panas menjalar ke wajahnya ketika dia melihat sosok pemuda itu hanya mengenakan kaos oblong dengan rambut yang basah. Tampaknya pemuda itu baru habis mandi? Maklum akhir-akhir ini panas matahari sangat kurang bersahabt.

"Ah, Ino jangan keras-keras!" balas Sasori meminta Ino agar tidak berbicara terlalu keras.

"Oh, maaf... " mengerti maksud Sasori, Ino segera meminta maaf. Wanita itu kembali melanjutkan membuat minuman tapi sayang sekali kehadiran Sasori malah membuatnya jadi tak bisa fokus.

"Kau membuat minuman apa?" tanya Sasori yang sedikit curiga melihat gelagat Ino.

"Aku mau membuatkan teh. Memangnya kenapa?" balas Ino dengan pedenya dan yakin seyakin-yakinnya kalau dia emang lagi bikin teh.

"Bikin teh, tapi kenapa malah masukin garam?" tanya Sasori sambil geleng-geleng.

"Ga-garam? Eh... I-iya ini garam! Waduh... Kok bisa salah ambil sih!" menyadari kalau dia salah ambil, Ino langsung merutuki diri sendiri. Kenapa bisa-bisanya dia jadi salah ambil gula jadi garam dan kenapa juga dia harus jadi salah tingkah di depan Sasori yang notabene adalah suami dari sahabatnya sendiri!

"Panas, yah... " ucap Sasori yang tanpa lihat situasi membuka kaos oblongnya untuk dia jadikan kipas. Ino jadi semakin gelagapan dan mengaduk tehnya jadi semakin kencang.

Ino kemudian mengambil gula dan kali ini dia benar-benar memastikannya dulu kalau yang dia ambil adalah gula, bukannya garam. Salahkan saja semua pada Sasori. Pemuda itu berdiri di sebelahnya sambil bersandar pada tembok. Di mata Ino saat ini Sasori benar-benar terlihat hot dengan rambutnya yang basah dan topless! Dengan handuk yang juga masih basah melingkar di lehernya. Ino jadi heran bagaimana Sakura bisa bertahan tanpa 'melakukannya' dengan Sasori. Menurutnya Sasori juga tak kalah dari Sasuke.

"Sampai kapan tehnya mau diaduk terus? Cepat keluar dan berikan tehnya agar mereka cepat pulang!" tanya Sasori yang melihat Ino dari tadi hanya mengaduk-ngaduk teh. Bukannya apa-apa tapi Sasori ingin mereka semua cepat-cepat pergi. Dia sudah tidak betah harus berlama-lama diam di dapur.

"Oh, iya jadi kelupaan! Maaf ya, hehehe... " kata Ino yang langsung cengar-cengir. Dengan cepat dia langsung membawa minuman itu ke depan.

"Dasar... " Sasori hanya geleng-geleng saja melihat Ino. Akhirnya dia malah nongkrong di dapur gak bisa kemana-mana.

ooo

Hampir satu jam Naruto dan yang lainnya ada di dalam sampai akhirnya mereka memutuskan untuk pulang.

"Kayaknya kita udah kelamaan di sini nih!" celetuk Naruto yang mulai gak betah. Maklum dia emang paling gak bisa disuruh diem sebentar aja disatu tempat.

"Ka-kalau begitu, kita pulang dulu Sakura," kata Hinata ikut menimpali.

"Yah... Ya udah deh, gak apa-apa. Makasih, udah mau anterin sampai ke rumah," balas Sakura yang sedikit kecewa. Mereka udah jarang banget bisa kumpul-kumpul kayak sekarang tapi apa boleh buat, dia juga gak bisa maksa.

"Kami pulang dulu dan ingat jaga selalu kondisi tubuh kamu biar kamu dan... " celetuk Ino yang keceplosan bikin Sakura langsung melotot, "dan banyak istirahat! Hehehehe," sambung Ino sambil nyengir.

Akhirnya rombongan itu pulang juga. Sakura segera menutup pintu dan langsung duduk dengan nikmat. Wanita itu menyalakan televisi dan pas banget acara yang dia liat acara gosip yang pada acara itu terpampang jelas muka seorang Uchiha yang sedang berdua dengan seorang gadis berambut merah muda panjang yang tak lain adalah Karin. Acara itu memberitakan mengenai kedekatan Sasuke dan Karin. Wawancara dilakukan pada saat Sasuke dan Karin mendarat di Konoha beberapa waktu lalu.

"Nona Karin. Sebenarnya bagaimana hubungan anda dengan Sasuke? Apa kalian pacaran? Desas-desusnya kalian satu fakultas saat di Amerika dan berakhir menjadi sepasang kekasih, apa itu benar?" tanya seorang wartawan dengan antusias.

"Kalian tebak saja sendiri!" balas Karin ambil mengulum senyum.

Tak lama Karin malah berbisik-bisik dengan Sasuke. Keduanya terlihat begitu mesra sekali bikin para wartawan itu semakin geregetan dan sebagian lagi iri.

"Huh, dasar kurang ajar! Dia memnintaku untuk menikah dengannya tapi dia sendiri mesra-mesraan sama wanita lain! Dasar ayam tak berkepriUchihaan!" dengus Sakura yang langsung emosi sambil gigit-gigitin remot.

"Astaga Sakura... Kau itu kalau lapar ya makan, jangan malah gigitin remot!" celetuk Sasori yang baru nongol dari dapur langsung sweatdrop liat kelakuan Sakura yang makin keliatan ganas aja.

"Diam, aku sedang kesal sekarang!" sambar Sakura meminta Sasori untuk diam. Hatinya benar-benar sedang panas saat ini.

'Aku harus menanyakan ini pada Sasuke langsung!' batin Sakura yang menjadi tidak tenang karena berita yang barusan saja dia lihat.

"Sasori, aku mau pergi dulu sebentar!" kata Sakura yang segera berdiri dari tempat duduknya. Wanita itu kembali menyambar tasnya lagi.

"Kau mau kemana? Baru keluar dari rumah sakit jangan keluyuran!" cegat Sasori yang heran melihat Sakura. Wanita itu tak bisa diam sama sekali dan suka sekali pergi seenaknya padahal kondisinya masih belum benar-benar sehat.

"Sudah, jangan banyak tanya! Ada urusan yang sangat penting yang harus aku lakukan!" sambar Sakura yang tak peduli dengan kata-kata Sasori. Dengan cepat Sakura segera pergi keluar rumah.

Sakura bergegas menuju garasi mobil dan segera masuk ke dalam mobil. Dengan cepat digasnya mobil itu dan Sakura meluncur cepat menuju apartemen Sasuke.


Apartemen Sasuke...

Sakura dengan kesal segera masuk ke dalam apartemen Sasuke tanpa permisi lagi. Pas dia masuk ke dalam, Sakura melihat Sasuke sedang mencium seorang wanita dan wanita itu tak lain adalah Karin yang memang sudah sering dibicarakan sedang menjalin hubungan dengan Sasuke.

"Sasuke! Apa-apaan ini?" perasaan Sakura bercampur aduk antara marah, sedih dan kecewa saat melihat laki-laki yang dia cintai sedang bercumbu dengan wanita lain.

"Sakura? Tunggu dulu Sakura, biar aku jelaskan!" Sasuke yang kaget melihat Sakura datang berusaha untuk memberi penjelasan pada wanita itu.

"Tak ada lagi yang perlu dijelaskan karena semuanya sudah jelas!" balas Sakura yang sudah tak peduli lagi dengan apa yang akan dikatakan Sasuke. Baginya, semua yang dia lihat sudah cukup jelas.

"Jangan pergi dulu Sakura! Aku dan Karin tak ada hubungan apa-apa!" Sasuke menyambar lengan Sakura dengan cepat dan dia terlihat begitu panik.

"Kalau kau memang tak ada hubungan apa-apa, mengapa kau mencium dia? Bisa kau jelaskan apa maksud dari semua itu, hah?" teriak Sakura sambil berurai air mata. Dia menunjuk-nunjuk Karin yang malah terlihat duduk santai di belakang seolah-olah semuanya tak ada hubungannya dengan dirinya.

"Aku dan Sasuke tak ada hubungan apa-apa. Kami berdua hanya berteman," kata Karin yang akhirnya ikut menimpali.

"Kalau kau tak ada hubungan dengan Sasuke, kenapa kau diam saja saat Sasuke menciummu?" bentak Sakura yang kini menatap marah pada Karin. Bisa-bisanya dia bilang tak ada hubungan dengan Sasuke setelah keduanya kepergok tengah berciuman mesra. Rasanya mustahil kalau mereka berdua tak ada hubungan.

"Astaga Sasuke. Pacarmu itu kampungan ya? Ayolah, Sakura. Ciuman seperti tadi itu di Amerika adalah hal yang biasa saja! Jangan marah berlebihan seperti itu! Kau tau, itu hanya bersenang-senang saja!" jawab Karin dengan santai seolah-olah apa yang dilakukannya hanyalah hal kecil dan sudah sangat biasa dilakukan.

"Senang-senang katamu?" Sakura tambah sewot aja setelah mendengar perkataan Karin.

"Bukankah kau juga seperti itu? Bersenang-senang dengan pria lain sampai akhirnya kau hamil?" balas Karin sambil memberikan tatapan yang melecehkan pada Sakura. Mungkin saat itu di otaknya, dia berpikir kalau Sakura itu sok suci dan munafik.

"Sasuke, kau cerita padanya?" Sakura menatap nanar pada Sasuke. Dia sama sekali tak percaya kalau Sasuke menceritakan semuanya pada Karin.

"Sakura, jangan salah paham dulu... " Sasuke benar-benar bingung harus mengatakan apa. Dia sudah skak mat.

"Aku tidak peduli dan biarkan aku pergi!" Sakura yang sudah begitu marah pada Sasuke akhirnya meninggalkan apartemen pemuda itu dengan perasaan kesal dan kecewa.

"Kau tidak mengejarnya Sasuke?" tanya Karin sedikit heran melihat Sasuke yang biasa-biasa saja, padahal Sakura terlihat benar-benar murka tadi.

"Sakura kalau sudah marah susah. Wataknya keras jadi biarkan saja dulu dia seperti itu," balas Sasuke yang memang sudah mengenal betul sifat dan sikap Sakura. Wajar saja mereka sudah pacaran lama. Kalau marah biasanya Sakura suka meledak dan tentunya dia gak mau sampai kena amuk wanita bertenaga monster itu.

"Kau yakin tidak apa-apa? Jangan sampai menyesal kalau dia diambil orang!" kata Karin sambil setengah menasehati Sasuke. Biar bagaimana dia itu perempuan dan dia tau sekali Sakura saat ini sedang rapuh karena pertengkaran tadi.

"Iya, tidak apa-apa. Sudah jangan dipikirkan! Bagaimana kalau kita melanjutkan yang tadi?" Sasuke bukannya mengikuti nasehat Karin tapi dia malah menutup pintu apartemennya dan segera bergelayut manja pada Karin.

"Kau itu benar-benar... " Karin tak bisa mengatakan apa-apa lagi selain geleng-geleng kepala melihat Sasuke.


Rumah kediaman Sakura-Sasori...

Sakura yang sedang kesal langsung membanting pintu garasi setelah memasukan mobilnya. Dengan tergesa wanita berusia matang itu berjalan masuk ke dalam rumah dan dengan terburu-buru juga, Sakura segera memasuki kamarnya. Dia sudah tidak tahan ingin menumpahkan air matanya di dalam kamar.

"Sasuke bodoh! Idiot! Dasar anak ayam tak berperasaan! Beraninya dia seperti itu di depan hidungku!" Sakura mengumpat sambil menonjok-nonjok bantal sebagai pelampiasan kekesalannya.

Sasori diam-diam masuk ke dalam kamar Sakura. Pemuda berambut merah itu langsung begidik ngeri begitu melihat Sakura sedang menonjok, menginjak, melempar, menggigit dan menjambak (?) sang bantal yang berakhir naas di lantai.

"... Gulp... Sa-Sakura... Apa yang sedang kau lakukan?" sambil menelan ludah dan menahan napas akhirnya Sasori memberanikan diri juga untuk bertanya. Kenapa pulang-pulang wanita itu menjadi barbar dan liar, seperti hewan buas yang baru lepas kandang saja.

"Sasori... " Sakura menoleh ke arah Sasori sambil berurai air mata.

"Sakura... Kau kenapa?" Sasori kontan kaget melihat keadaan Sakura yang seperti depresi dan frustasi. Ini baru pertama kalinya dia melihat Sakura menangis seperti ini.

"UWAAAAAA!" tangis wanita itu akhirnya meledak.

Bagaimana kisah selanjutnya? Apakah Sasori berhasil menjinakkan Sakura yang sedang depresi dan isnting liatnya keluar? Lalu, apakah dengan begini pikiran Sakura berubah terhadap Sasuke?

TBC


A/N : Maaf lama gak update karena banyak kesibukan. Gw gak janji bisa update cepet tapi diusahakan update seminggu sekali. Makasih yang udah mau baca dan tetap menunggu (apa masih ada yang nunggu? Hahaha). Berhubung udah lama gak update, jadi agak lupa sama alur ceritanya -gubrak-. Yah, semoga aja ceritanya nanti tetep bisa nyambung.

.

.

HAPPY READ AND ENJOY IT.