Semakin absurd tapi sulit kuhentikan beibeh…

.

.

.

THE DIPLOMAT'S WIFE

Og Den Aller Største Tak Min Mand

(And Biggest Thanks, My Husband)

Part V

.

.

.

SuLay

.

.

.

GS! for UKE

.

.

.

-000-

Si Tabah. Mungkin itu julukan yang tepat bagi Yixing saat ini. Bagaimana tidak? Ditengah kepedihan yang dia rasakan terhadap suaminya, Yixing bertahan untuk tidak menangis di depan Oh Sehun. Bahkan yang lebih hebatnya lagi dia mampu menyelamatkan nama baik suaminya lewat kebohongan yang tak terduga-duga. Yixing berbohong pada Sehun, mengatakan bahwa dia ingin menangis gara-gara perubahan jadwal praktik lapangan yang harus dia jalani di Copenhagen Language Center. Dia sama sekali tak menyebut-nyebut Joonmyeon kendati hatinya sakit luar biasa setelah mengetahui motivasi Joonmyeon mengajaknya melancong semata-mata demi gengsi. Luar biasa, bukan?

Akan tetapi, setabah-tabahnya Yixing, pertahanannya jebol juga begitu dia masuk ke dalam taksi. Yixing menangis, mengejutkan pengemudi taksi yang langsung mengawasinya melalui spion. Susah payah Yixing menyebutkan nama Sankt Therese Kirke* pada Sang Pengemudi untuk merujuk lokasi yang dia tuju. Yang disebutkannya barusan merupakan gereja Katolik tempatnya bergabung sebagai jemaat, beralamatkan Bernstorffsvej 56. Ya, saat ini Yixing membutuhkan ketenangan dan gereja menjadi tempat pertama yang terpikirkan olehnya saat ini.

Sang Pengemudi cukup pengertian dengan memberikan Yixing privasi. Dia sama sekali tidak bertanya apa-apa kendati sesekali melirik spion, mungkin memastikan bahwa Yixing hanya menangis dan tidak melakukan hal yang aneh-aneh. Ada sorot kekhawatiran dalam tatapan mata Sang Pengemudi, tapi Yixing sama sekali tak menyadarinya.

Perjalanannya dengan taksi terasa sangat lama. Maklum, saat ini lalu lintas lumayan padat lantaran Copenhagen mulai memasuki jam pulang kerja. Bahkan jalur sepeda mulai ramai oleh para pesepeda. Dari setelan mereka, bisa ditebak rata-rata merupakan pekerja kantoran. Merasakan laju taksi yang menurutnya lamban, ingin rasanya Yixing berteriak pada Sang Pengemudi. Untung saja dia keburu sadar bahwa tindakan semacam itu sangatlah tidak etis. Yixing tentu tak mau dicap sebagai orang asing berkelakuan barbar. Mau tak mau Yixing memilih untuk bersabar sekaligus berusaha menenangkan diri mengingat Lykke terus-terusan menendangnya, seakan-akan protes keras. Yixing tahu bayi dalam kandungannya paling tidak suka jika dia menangis, tapi sekali lagi Yixing harus meminta maaf pada bayinya itu lantaran dia benar-benar tidak bisa untuk tidak menangis saat ini.

"Maafkan Mama, Sayang," Yixing berkata lirih pada bayinya dalam bahasa Mandarin seraya menyentuhkan tangannya untuk mengusap-usap perutnya yang buncit sebagai upaya menenangkan Lykke. "Mama tahu kau tidak suka kalau Mama menangis, tapi saat ini Mama sungguh tidak bisa untuk tidak menangis, Sayang. Lykke tolong mengerti Mama, ya. Mama janji setelah ini tidak akan menangis lagi, jadi tolong kali ini beri Mama kesempatan untuk menangis sampai puas."

Ajaib! Begitu Yixing mengatakannya, Lykke mendadak berhenti menendang-nendang. Sungguh, bayinya itu benar-benar pengertian. Yixing benar-benar beruntung memiliki Lykke, buah hati yang bisa menjadi teman berbagi paling setia, juga menjadi sumber kebahagiaannya.

"Terima kasih, Sayang. Kau selalu bisa mengerti Mama. Kau yang terbaik, Kerenhappuch-ku…"

Yixing mengucap syukur dalam hati. Tuhan sungguh Mahaadil menurutnya. Dia memberinya suami yang tak bisa ditebak seperti Joonmyeon, suami yang rawan menyakiti perasaan, tetapi sebagai penawar Dia menitipkan Lykke di dalam rahimnya.

Ah, mengingat Joonmyeon membuat hatinya semakin gerimis. Yixing benar-benar kecewa dan terpukul mengetahui suaminya itu mengajaknya melancong semata-mata demi gengsi, juga demi menghindari tuntutan mentraktir rekan-rekan kerjanya makan siang selama seminggu penuh.

"Ayahmu sungguh tega pada Mama, Lykke." Yixing sesaat memejamkan mata, mencoba untuk menahan perih dalam hati.

"Mama sungguh tak menyangka. Oh Tuhan, Mama bahkan tak tahu harus mengatakan apa."

Yixing terus bermonolog, tak peduli pengemudi taksi beberapa kali melayangkan pandang ke arahnya melalui spion. Bagi Yixing, curhat seperti ini dengan Lykke bisa sedikit membuatnya tenang.

"Ayahmu… Padahal Mama sangat mencintainya. Sangat-sangat mencintainya, tapi kenapa dia begitu tega? Lykke, Kerenhappuch, kenapa ayahmu begitu tega?"

Hatinya lagi-lagi berdenyut sakit. Demi Tuhan, dia mencintai Joonmyeon dengan sepenuh hatinya, tetapi kenapa untuk membahagiakannya sedikit saja Joonmyeon tidak tulus? Kenapa Joonmyeon begitu tega? Kenapa Joonmyeon tak berusaha lebih keras untuk tulus? Bukankah laki-laki itu telah berkomitmen untuk mencintainya?

Yixing menggigit bibir. Dia tidak sanggup bertanya-tanya lagi dalam hati. Hatinya benar-benar sakit!

Dering ponsel di dalam ransel MCM yang diletakkannya di jok sebelah mengalihkan perhatian Yixing. Sedikit enggan Yixing meraih tasnya. Sambil mengeluarkan ponsel dia berdoa dalam hati, semoga saja bukan Joonmyeon yang menelepon. Jika Joonmyeon yang menelepon, Yixing bersumpah bakal langsung memutuskan sambungan.

Sepasang mata indahnya mendadak membola begitu membaca nama yang tertera di layar.

Bukan Joonmyeon, melainkan 'Eomeonim'. Ibunda Joonmyeon!

Yixing panik. Cepat-cepat dia berdeham, mencoba menetralisir suaranya. Beruntung ibunda Joonmyeon hanya menelepon. Bagaimana kalau video call? Bisa repot nanti kalau beliau sampai melihat betapa sembab wajah menantunya ini.

Berharap suaranya sudah tidak terlalu serak, pelan-pelan Yixing menjawab panggilan masuk dari mertua perempuannya.

"Yeoboseyo, Eomeonim?"

"Yeoboseyo, Sayang. Apa kabar?" Suara ibunda Joonmyeon terdengar ramah dan hangat seperti biasa. Mertua perempuannya itu memang baik, juga sangat menyayanginya lantaran dia dianggap 'penyelamat' Joonmyeon dari ancaman pemberian label 'bujang lapuk'.

"Tiba-tiba saja aku rindu padamu, juga pada cucuku. Joonmyeon mengirimiku pesan kalau Lykke aktif sekali tadi pagi dan kelihatannya dia semakin aktif dari hari ke hari," oceh ibunda Joonmyeon dengan nada antusias.

Yixing antara ingin menangis dan mengeluh pada saat bersamaan. Jika itu tadi pagi, jelas Lykke sedang aktif-aktifnya. Pagi tadi dia dan Joonmyeon menyempatkan diri untuk bercinta. Seperti biasa Lykke bakal bergerak dengan aktif saat ayahnya menyetubuhi ibunya, mungkin karena merasa tak nyaman oleh pergerakan ayahnya yang berkali-kali memasuki ibunya dalam beberapa posisi, menghasilkan tempo yang tak bisa dibilang lambat dan gerakan yang agak sulit dikategorikan lembut.

"Kabarku baik, Eomeonim. Lykke juga. Ngomong-ngomong soal Lykke, cucu Eomeonim ini memang semakin aktif dari hari ke hari," Yixing mencoba untuk memperdengarkan nada bicara yang terkesan antusias.

"Ah, bahagia sekali aku mendengarnya. Rasanya makin tak sabar, ingin cepat-cepat melihat cucuku lahir. Aku dan kakeknya pasti akan mengunjunginya di Copenhagen nanti. Melihat langsung dan menggendong darah daging Joonmyeon-ku, pasti rasanya seperti mendapat mukjizat. Yixing-ah, Sayang, terima kasih. Tanpamu, entah kapan aku bisa mendapatkan cucu dari Joonmyeon. Jangankan cucu, menantu saja mungkin tidak ada. Kau benar-benar penyelamat Joonmyeon. Joonmyeon sangat beruntung memilikimu, Sayang."

Mendengar ini, air mata kembali mengalir di pipi Yixing.

Oh Bunda, apakah kata beruntung itu tepat, sementara putramu sendiri mungkin belum tentu berpikir demikian?

Yixing menggigit bibir, berusaha keras agar tidak terisak lagi.

"Joonmyeon bilang dia akan mengajakmu pergi melancong akhir pekan ini. Pasti akan sangat menyenangkan," Suara milik ibunda Joonmyeon terdengar semakin antusias.

'Ya, sangat menyenangkan, seandainya putramu melakukannya dengan tulus, semata-mata demi membahagiakan anak dan istri, bukan demi menjaga gengsi di depan rekan-rekan kerjanya, Eomeonim.'

Yixing membatin. Pilu.

-000-

Tujuannya mendatangi Sankt Therese Kirke di Bernstorffsvej 56 semata-mata untuk mencari ketenangan melalui doa-doa. Yixing pikir perasaannya akan jauh lebih baik setelah kembali dari gereja, tapi ternyata tidak. Ketenangan yang dia rasakan ternyata hanya bertahan sampai pintu Sankt Therese Kirke. Begitu hawa sejuk musim semi milik Copenhagen di luar pintu gereja menyambutnya, hati Yixing kembali berdenyut sakit.

"Mengasihi lebih banyak lagi, Wilhelmina*. Itulah kuncinya. Cobalah mengasihi lebih banyak lagi agar kau terhindar dari prasangka buruk dan amarah, karena kasih itu sabar."

Bahkan kalimat-kalimat menyejukkan dari Søster Victoria, biarawati Sankt Therese Kirke yang ditemuinya saat berkunjung tak berhasil mengembalikan ketenangan seperti yang didapatkannya selama berada di dalam gereja. Entahlah, mungkin karena Yixing sendiri tak sungguh-sungguh meresapi petuah Victoria. Dia mengaku kalah pada nafsu amarah hingga sisi cinta kasih yang dia miliki seolah tergusur untuk sementara.

Sakit hatinya terhadap Joonmyeon rupa-rupanya sangat serius kali ini, sampai-sampai mengubahnya menjadi dia yang pendiam, bahkan terang-terangan menghindari Joonmyeon. Puncaknya adalah ketika Yixing menolak untuk bercinta dengan Joonmyeon, padahal selama ini Yixing selalu mengiyakan setiap kali Joonmyeon meminta persetujuannya untuk bercinta, kecuali saat dia sedang datang bulan. Jangankan untuk bercinta. Yixing bahkan merasa muak dan harus mati-matian menahan diri untuk tidak mendorong suaminya saat bibir laki-laki itu mengecup kening dan perutnya sebagai ganti ucapan selamat pagi. Sungguh, kalau bisa dia ingin kabur dari apartemen ini sekarang juga demi menghindari Joonmyeon!

"Maaf Oppa, tapi aku sedang tidak ingin. Jika Oppa memaksa, itu sama saja Oppa memerkosaku."

Yixing bahkan tak sudi menatap suaminya saat dua kalimat penolakan yang lirih tetapi menohok itu meluncur dari bibirnya yang ranum. Bibir yang sejak tadi selalu lari dari kejaran bibir Joonmyeon. Tidak. Yixing bahkan tak sudi untuk sekadar berciuman bibir dengan Joonmyeon pagi ini!

Penolakan Yixing tentu saja mengejutkan Joonmyeon, bahkan menjadi semacam pukulan bagi laki-laki itu. Joonmyeon seolah-olah tidak mengenali perempuan manis yang kali ini bahkan menolak untuk menatapnya, kentara benar menghindarinya. Sosok manis, menggemaskan lagi penurut yang menjadi trademark seorang Zhang Yixing mendadak hilang entah ke mana, digantikan sosok yang terkesan enggan dan muram, terlalu asing bagi Joonmyeon.

"Yixing-ah, sebenarnya ada apa? Apa kau marah padaku?" Joonmyeon bertanya, lugas. Persetan dengan 'adik kecil'-nya di bawah sana yang terlanjur menegang dan berdenyut-denyut menyiksa. Atensi Joonmyeon kini sepenuhnya tertuju pada sikap ganjil yang ditunjukkan istrinya.

"Sebelumnya kau tidak pernah menolakku."

'Tentu saja aku marah padamu, Oppa. Bahkan sangat-sangat marah,' Yixing membatin, merasa marah sekaligus pilu.

"Suasana hatiku sedang kurang baik. Maaf."

Bertolak belakang dengan suara hatinya, tuturan Yixing terkesan lebih halus, bahkan dia masih sudi merendahkan dirinya lewat kata 'maaf' kendati nadanya kurang simpatik.

"Kuharap Oppa mengerti."

Yixing bertahan tidak mau menatap Joonmyeon, memilih cepat-cepat turun dari ranjang sembari membenahi pakaiannya yang sedikit berantakan lantaran tangan Joonmyeon berhasil membuka dua kancing teratasnya saat laki-laki itu berusaha untuk mencium bibirnya tadi.

"Aku mau menyiapkan sarapan dulu," pungkasnya seraya memunggungi Joonmyeon.

"Yixing-ah."

Joonmyeon secepat kilat menahan tangan Yixing. "Kalau ada masalah, kenapa tidak kauceritakan padaku?" Diplomat tampan itu terlihat khawatir. "Sepertinya kau menghindariku."

"Aku tidak menghindari Oppa," Yixing berkelit. "Seperti yang kukatakan tadi, suasana hatiku sedang kurang baik. Kuharap Oppa mengerti."

Yixing sadar dirinya bukan pembohong yang baik, itulah sebabnya dia tak ingin menunggu respon Joonmyeon. Berlama-lama dengan Joonmyeon berarti memberi kesempatan pada laki-laki itu untuk menginterogasinya. Salah-salah Yixing malah terpojok nanti. Bergegas keluar dari kamar untuk menghindar dianggap Yixing sebagai solusi terbaik. Dia sama sekali tak ingin tahu dan tak ingin peduli dengan respon maupun reaksi Joonmyeon. Persetan dengan keduanya. Bahkan seandainya nanti Joonmyeon keluar dari kamar dengan raut stoic atau malah murka, Yixing memutuskan untuk tidak akan merasa gentar. Sepertinya sakit hati yang melanda sukses mengubahnya menjadi Si Tegar untuk saat ini.

Mungkin Yixing terkesan diam, muram, dan bahkan dingin, tetapi Joonmyeon sama sekali tak tahu bahwa bulir-bulir bening mengalir di pipi istrinya itu, tepat saat sosoknya lenyap di balik pintu. Ya, ketegaran Yixing memang belum patut diacungi jempol. Akan tetapi, setidaknya dia tidak meneteskan air mata di depan mata Joonmyeon.

Nyatanya prediksi Yixing tentang Joonmyeon sama sekali tak meleset. Joonmyeon yang tampil rapi dalam balutan blazer-nya saat keluar dari kamar hampir satu jam kemudian memang memasang raut stoic yang menyulitkan siapa pun untuk menebak suasana hati diplomat tampan itu. Bahkan sorot matanya tak memperlihatkan ekspresi apa pun. Joonmyeon yang seperti ini mau tak mau mengingatkan Yixing pada sosok Joonmyeon beberapa bulan yang lalu, tapi Yixing memilih untuk tidak menaruh peduli.

Alih-alih Joonmyeon, atensi Yixing terpusat pada meja makan. Dia sibuk menyiapkan sarapan untuk Joonmyeon. Semarah-marahnya dia pada suaminya itu, Yixing tetaplah sosok istri yang bertanggung jawab dengan menyediakan sarapan untuk suaminya.

"Kau tidak sarapan?"

Joonmyeon sekonyong-konyong melontarkan pertanyaan, tepat saat Yixing bermaksud meninggalkan meja makan.

"Nanti," jawab Yixing singkat, padat, dan jelas. Lagi-lagi dia menolak menatap Joonmyeon, memilih berkutat dengan apronnya seraya melangkahkan kaki menjauhi meja makan.

"Resepsi diplomatik Kedutaan Besar Bulgaria dimulai pukul enam," Joonmyeon tiba-tiba kembali angkat bicara, sukses menghentikan langkah kaki Yixing melalui suaranya. "Sehun akan menjemput kita pukul setengah enam."

Yixing tersentak mendengar penuturan Joonmyeon. Demi apa, dia baru ingat bahwa hari ini dirinya dan Joonmyeon dijadwalkan menghadiri resepsi diplomatik untuk memperingati hari kemerdekaan Bulgaria!

Yixing mengeluh dalam hati. Dia sungguh-sungguh sedang tidak ingin berdekatan dengan Joonmyeon, apalagi jika itu untuk resepsi diplomatik. Resepsi diplomatik berarti merelakan diri digandeng Joonmyeon kesana-kemari, 'dipamerkan' kepada para kolega hingga mau tak mau Yixing dituntut untuk mampu menjalankan peran sebagai nyonya diplomat teladan yang sanggup memukau kolega-kolega suaminya lewat gerak-gerik anggun dan tuturan yang berbobot.

Oh, tidak.

"Baik, Oppa."

Tak diduga-duga, respon itulah yang diberikan Yixing. Dia memang sengaja merespon demikian agar tak ada alasan bagi Joonmyeon untuk menahannya menjauhi meja makan. Khawatir Joonmyeon bakal mengatakan sesuatu lagi, Yixing cepat-cepat melanjutkan langkahnya.

Punggung milik perempuan manis itu pun semakin menjauh dari meja makan dan Yixing bisa merasakan tatapan Joonmyeon terpancang pada punggungnya.

Sekali lagi, Yixing memilih untuk tidak peduli.

-000-

Yixing tetap tidak antusias kendati beberapa istri diplomat asing yang dikenalnya bergantian mengirimkan pesan, mengonfirmasi kehadiran mereka dalam acara resepsi diplomatik yang diselenggarakan oleh Kedutaan Besar Bulgaria. Setengah tahun tinggal di Copenhagen, Yixing punya semacam 'geng kecil-kecilan' yang terdiri dari beberapa istri diplomat asing nonKorea. Jika kau bertanya mengenai sejarah terbentuknya 'geng kecil-kecilan' itu pada Yixing, dijamin Yixing bakal bingung menjawabnya.

Terus terang, Yixing sendiri tak tahu pasti bagaimana persisnya 'geng' yang dimaksud itu terbentuk. Yang pasti semua bermula dari seringnya Yixing mengobrol dengan dua nyonya diplomat asing dalam perjamuan demi perjamuan, yaitu Huang Zitao yang merupakan istri diplomat Tiongkok dan Yulia Kiranasari, istri diplomat asal Indonesia. Entah bagaimana ceritanya, tahu-tahu dari tiga orang menjadi lima orang. Sayang, 'geng kecil-kecilan' itu jarang sekali bisa berkumpul selain dalam jamuan. Entah kenapa mereka begitu sulit mengepaskan jadwal satu sama lain. Seingat Yixing, mereka bahkan belum pernah berkumpul full team selain dalam jamuan. Itu sebabnya sebisa mungkin mereka menyempatkan diri bertemu dalam jamuan dan memulai kebiasaan untuk mengonfirmasi kehadiran masing-masing melalui pesan WhatsApp.

Embayu

Dek, aku nanti bawa asinan buah tropis kesukaanmu. Spesial kubeli di Indonesia

Nanti kutitipkan saja ke staf ganteng yang biasa mengantarjemputmu itu ya, soalnya besok aku mungkin tidak sempat ke rumahmu

Biasa, ada arisan di rumah

Lagipula terlalu lama kalau asinannya kuantarkan lusa

Mumpung nanti kita ketemu, sekalian saja

Bahkan pesan dari Yulia Kiranasari atau yang akrab disapa 'Embayu*' itu tak berhasil menghadirkan keceriaan dalam hatinya, padahal Yixing sejatinya rindu pada 'kakak Indonesia'-nya yang baru kembali ke Denmark setelah hampir sebulan pulang kampung dan dia paling suka asinan buah khas Indonesia yang pernah dicicipinya saat berkunjung ke rumah dinas Yulia. Seandainya saja saat ini suasana hati Yixing sedang baik, bisa dipastikan dia bakal bersorak riang.

Embayu

Dek, aku nanti bawa asinan buah tropis kesukaanmu. Spesial kubeli di Indonesia

Nanti kutitipkan saja ke staf ganteng yang biasa mengantarjemputmu itu ya, soalnya besok aku mungkin tidak sempat ke rumahmu

Biasa, ada arisan di rumah

Lagipula terlalu lama kalau asinannya kuantarkan lusa

Mumpung nanti kita ketemu, sekalian saja

Embayu maaf hari ini aku tidak bisa datang

Terima kasih sudah dibawakan asinan buah dari Indonesia

Nanti saja kuambil di rumah Embayu

Mungkin lusa pulang dari gereja

Aku 'kan sudah lama juga tidak main ke rumah Embayu

Sekalian nanti aku mau bawakan odeng kesukaan Lintang dan Gendis

Ngomong-ngomong aku titip salam untuk Khaleeda dan Yevgeniya, ya

Lain kesempatan kita harus berkumpul full team KR ID CN PK* UA*

Jemari lentik Yixing bergerak menutup jendela chat dengan Yulia setelah memastikan pesannya terkirim, kemudian beralih membuka jendela group chat yang diberi nama Charlie's Angels.

Charlie's Angels

Annette, Mireille, You

Poppy itu 'kan tidak boleh kemana-mana tanpa didampingi suaminya

Sori Wilhelmina Zhang aku masih agak kesal pada suamimu

Ha ha ha santai saja Annette Marcella Laurentien

Aku juga kesal pada suamiku kok 🙈

Mireille Helene Marie

Suaminya Wilhelmina Zhang agak menyebalkan sih, tapi dia ganteng lho ha ha

Annette Marcella Laurentien

Lebih ganteng staf yang waktu itu mengantar suaminya Poppy ke tokonya Tante Fei menurutku

Mireille Helene Marie

Lebih ganteng baby dolphin Zhong Chenle-ku lah

Annette Marcella Laurentien

Belum putus juga? Mireille Helene Marie Dasar pedofil!

Mireille Helene Marie

HA HA HA

TODAY

Siapa yang besok free?

Temani aku melancong please

Jemari lentik Yixing mengirimkan pesan tersebut ke grup WhatsApp yang anggotanya terdiri dari dirinya dan dua sahabatnya di Copenhagen Language Center, Annette Marcella Laurentien van Nistelrooy dan Mireille Helene Marie Chastain. Harap-harap cemas dia menantikan pesan balasan dari kedua sahabatnya yang asli Belanda dan Perancis itu. Tatapannya tak kunjung berpindah dari layar ponselnya yang masih setia menampilkan menu chat milik aplikasi WhatsApp.

"Stine, apakah Yixing sudah siap?"

Gendang telinganya menangkap suara milik Joonmyeon di luar kamarnya. Sontak Yixing terperanjat. Cepat-cepat dia mematikan layar ponsel, kemudian membaringkan diri di ranjang. Sepasang mata indahnya terpejam, bersamaan dengan terdeteksinya suara lain oleh gendang telinganya. Kali ini suara Stine, asisten rumah tangganya.

"Madam mengeluh kurang enak badan, Meester. Sekarang beliau sedang istirahat di kamar."

"Dia sakit?" Joonmyeon terdengar kaget sekaligus khawatir.

"Mungkin kelelahan, Meester. Madam bilang hari ini beliau kebagian jatah praktik lapangan di tempat kursus."

Joonmyeon tak mengatakan apa-apa lagi. Sebagai gantinya, Yixing mendengar pintu kamarnya dibuka. Otomatis dia langsung memasang ekspresi setenang mungkin, pura-pura tidur nyenyak.

"Yixing-ah."

Kim Joonmyeon terlihat cemas. Langkah kakinya memburu mendekati ranjang. Diplomat tampan itu pun langsung duduk di tepi ranjang, menatap istrinya lurus-lurus.

"Tidur?" Joonmyeon seperti menggumam.

Yixing sebisa mungkin mempertahankan ketenangannya agar aktingnya terlihat meyakinkan. Sayangnya dia kaget saat Joonmyeon tahu-tahu menyentuhkan punggung tangan ke keningnya. Refleks, Yixing membuka matanya.

Ah, sialan.

"Maaf, aku membangunkanmu, ya?" Suara Joonmyeon terdengar lembut meski sarat kekhawatiran.

Terus terang, Yixing agak kaget melihat gurat-gurat kecemasan tercetak jelas di wajah elok milik Joonmyeon, tetapi hanya sesaat. Detik berikutnya dia merasa puas. Joonmyeon terlihat cemas, itu berarti aktingnya cukup meyakinkan.

"Stine bilang kau tidak enak badan. Apa yang kaurasakan? Pusing? Mual? Atau apa?" berondong Joonmyeon. Tangannya yang semula berada di kening Yixing ini berpindah ke rambut sehalus beledu milik istrinya itu, membelai-belainya pelan.

"Badanmu agak panas. Sepertinya kau demam."

Yixing sejatinya ingin sekali menyingkirkan tangan Joonmyeon, tetapi itu bisa membuat skenarionya berantakan. Joonmyeon harus percaya bahwa dia tidak enak badan, dengan demikian Yixing punya alasan kuat untuk tidak ikut ke acara resepsi diplomatik. Bahkan demi melancarkan skenarionya ini, Yixing diam-diam menenggak tiga gelas air dingin. Terdengar nekat, memang, tapi Yixing melakukannya bukan tanpa pikir panjang apalagi tanpa persiapan.

'Sabar, Lykke. Tunggu sebentar lagi. Nanti begitu ayahmu berangkat, Mama bakal minum air madu hangat. Dijamin Mama batal demam.'

"Aku pusing," Yixing menjawab dengan lirih. "Sepertinya aku butuh tidur."

"Kita ke dokter saja bagaimana?" Joonmyeon langsung mengambil inisiatif. "Kau sedang mengandung, kalau sakit seperti ini tentu harus cepat-cepat ditangani tim medis. Kita ke dokter sekarang, ya?"

Kim Joonmyeon rupanya sungguh-sungguh cemas, bahkan sepasang maniknya bergerak-gerak gelisah saat tatapannya jatuh ke perut buncit Yixing. Satu tangannya yang bebas perlahan terulur untuk mengusap perut istrinya itu, seakan-akan dia tengah memeriksa kondisi Lykke.

"Kita ke dokter ya, Lykke? Appa tidak mau terjadi sesuatu yang tidak diinginkan padamu dan mamamu."

Jujur, Yixing mau tak mau tersentuh, juga terharu melihat Joonmyeon yang seperti ini. Bagaimana pun dia mencintai Joonmyeon. Tentu saja kecemasan Joonmyeon terhadapnya dan anak mereka berarti besar bagi Yixing, menunjukkan seberapa besar kepedulian yang dimiliki laki-laki itu. Akan tetapi, Yixing sungguh tak habis pikir kenapa Joonmyeon justru mengajaknya melancong hanya demi gengsi. Jika laki-laki itu sungguh peduli padanya, bukankah seharusnya pelancongan itu didasari ketulusan semata?

Pertanyaan semacam ini lagi-lagi membuat hatinya berdenyut sakit.

'Dia hanya mencemaskan Lykke, Yixing. Dia hanya mencemaskan anaknya. Itu saja.'

Entah darimana dia memperoleh pemikiran picik semacam itu, yang pasti itu sukses menggusur keharuan dalam hatinya. Yixing tersadar, tidak seharusnya dia terbuai oleh perhatian Joonmyeon seperti ini. Susah payah dia mencoba menekan perasaannya, mencoba untuk tidak memperlihatkan jenis emosi yang tengah dia rasakan.

"Tidak perlu," tolak Yixing, halus. "Aku hanya perlu istirahat saja. Sekarang lebih baik Oppa lekas bersiap-siap. Maaf, aku belum bisa menemani Oppa ke resepsi diplomatik."

Ada semacam sengatan tidak nyaman yang dia rasakan di dalam hati. Bagaimana pun Yixing tidak biasa berbohong dan dia sadar betul betapa luar biasa dusta yang terlontar dari bibirnya barusan. Cepat-cepat dia memohon ampun kepada Tuhan, beralasan bahwa saat ini hatinya sungguh-sungguh terluka dan untuk sementara dia tidak sanggup terus-terusan berdekatan dengan suaminya.

"Aku tidak jadi pergi saja," balas Joonmyeon. "Kau sakit seperti ini, aku jadi tidak tenang meninggalkanmu di rumah meski hanya beberapa jam."

Seandainya saat ini Yixing tidak sedang sakit hati dan dia benar-benar sakit secara fisik, mungkin dia bakal menangis karena terharu setelah mendengar apa yang terlotar dari bibir Joonmyeon barusan. Sayang, yang sekarang dirasakannya justru jengkel, juga waswas.

Dia sedang tidak ingin dekat-dekat Joonmyeon!

"Ada Stine yang menjagaku," Yixing mencoba berargumen. "Oppa tidak perlu khawatir. Aku hanya butuh istirahat, sungguh. Nanti juga baikan."

"Bagaimana mungkin tidak khawatir?" protes Joonmyeon. "Kalau kau sedang tidak mengandung, mungkin aku tidak akan sekhawatir ini. Tapi sekarang di dalam tubuhmu ada satu nyawa lagi. Bagaimana mungkin aku tidak khawatir?"

O-oh Tuan Diplomat, sepertinya ada sedikit 'kesalahan' dalam kalimatmu barusan.

Hati Yixing mendadak berkali-kali lipat lebih sakit. Kalimat 'Kalau kau sedang tidak mengandung, mungkin aku tidak akan sekhawatir ini.' seolah menjadi proposisi pendukung dari proposisi yang diungkapkan melalui suara hati Yixing tadi.

'Dia hanya mencemaskan Lykke, Zhang Yixing. Dia tidak akan secemas ini jika kau sedang tidak mengandung.'

Yixing benar-benar harus menahan diri untuk tidak meneteskan air mata. Dia harus berusaha keras untuk tegar demi mencapai akhir yang dia harapkan dalam skenario buatannya. Dia tidak boleh menangis di depan Joonmyeon!

"Oppa, apa kata orang kalau sampai Oppa tidak hadir dalam resepsi diplomatik?" Yixing susah payah mengatur suaranya agar tetap stabil, sebisa mungkin agar tidak bergetar karena menahan tangis.

"Jangan seperti itu. Aku dan Lykke tidak apa-apa. Kami bisa saling menjaga diri. Sekarang aku ingin sekali tidur, jadi sebaiknya Oppa segera siap-siap untuk berangkat."

Dia memaksakan senyum kecil yang bahkan tak mencapai matanya, lalu sengaja mengubah posisinya menjadi miring memunggungi Joonmyeon. Selain untuk memberi tanda pada suaminya bahwa dia tak ingin lebih lama lagi diganggu, Yixing merasa bulir air matanya sudah di ujung tanduk. Pantang baginya untuk menangis di depan Joonmyeon sekarang, oleh karena itu lebih baik baginya untuk menyembunyikan wajah sebelum bulir bening sialan itu mengalir dengan tak tahu malu di pipi.

Menyaksikan istrinya mengubah posisi menjadi berbaring memunggunginya, Kim Joonmyeon tidak berkomentar apa-apa. Laki-laki itu hanya diam dengan kening berkerut. Jika tadi dia terlihat cemas, sekarang ekspresinya mendadak berubah, sulit untuk dibaca. Ada banyak ekspresi, bercampur aduk menjadi satu. Rumit.

Diam dan tak bergeming. Diplomat tampan itu masih bertahan di tempat dengan tatapan mata yang terarah lurus pada punggung sempit istrinya. Joonmyeon sama sekali tak tahu bahwa istrinya menggigit bibir menahan tangis sambil mengeluh dalam hati.

'Kenapa dia tidak buru-buru pergi?'

-000-

Yixing terbangun dengan kaget.

Hari sudah pagi. Yixing nyaris tak percaya saat melihat jam. Rupa-rupanya semalam dia benar-benar nyenyak setelah minum dua gelas air madu hangat, padahal dia pikir bakal terbangun saat suaminya pulang dari resepsi diplomatik.

Ngomong-ngomong soal resepsi diplomatik, pada akhirnya semalam Joonmyeon memang pergi untuk menghadiri acara tersebut. Rupa-rupanya Joonmyeon masih memikirkan nama baiknya sebagai diplomat. Bagaimana pun dia diundang secara resmi oleh pihak Kedutaan Besar Bulgaria, sudah pasti dia harus datang.

Kepala Yixing menoleh ke samping, tepatnya ke arah Joonmyeon. Suaminya itu masih terlelap di sampingnya, tampak pulas, damai. Sayang, pemandangan yang sejatinya menyejukkan mata itu justru membuat hati Yixing lagi-lagi berdenyut sakit. Melihat Joonmyeon, Yixing jadi ingat bahwa hari ini adalah hari Sabtu. Hari yang dijadwalkan Joonmyeon untuk pergi melancong ke Helsingør bersamanya.

Tak sanggup berlama-lama memandangi Joonmyeon, Yixing beralih memandangi perutnya sendiri. Tiba-tiba saja sepasang matanya berkaca-kaca saat tangannya bergerak perlahan, memberikan usapan lembut untuk Lykke yang tengah bergerak-gerak pelan di dalam sana, sepertinya tengah menggeliat.

'Maafkan Mama, Sayang. Hari ini Lykke melancong bersama Mama, Tante Annette, dan Tante Mireille saja, ya. Kita tetap ke Helsingør, tapi tanpa Appa.'

Tendangan keras di dinding rahim tahu-tahu menyambutnya. Yixing tersentak. Dia tahu apa makna dibalik tendangan Lykke itu. Bayinya tidak setuju dengan rencananya melancong ke Helsingør bersama Annette dan Mireille alih-alih bersama Joonmyeon.

Tapi mau bagaimana lagi?

'Maafkan Mama, Sayang, tapi Mama sungguh tak bisa pergi dengan ayahmu. Hati Mama terlalu sakit. Lykke tolong mengertilah. Kau mau 'kan, Sayang?'

Tidak biasa-biasanya, negosiasi Yixing kali ini gagal total. Lykke terus-terusan menendang perutnya, seakan-akan tengah berdemo. Reaksi Lykke ini membuat perasaan Yixing campur aduk. Bayinya ingin dia pergi bersama Joonmyeon, tapi hatinya sama sekali tidak menginginkannya. Bagaimana ini?

Getaran ponsel di atas nakas sejenak mengalihkan fokus Yixing dari Lykke. Yixing bergegas mengulurkan tangan untuk meraih ponselnya.

Charlie's Angels

Annette, Mireille, You

Yang pasti kita ke Kronborg Slot* dan National Maritime Museum

Untuk ke Fredensborg dan Frederiksborg kita lihat dulu situasi

Sisanya kita wisata religi, mampir ke gereja-gereja terkenal di sana

Annette Marcella Laurentien

Ya, aku setuju dengan Mir

Poppy bagaimana? Wilhelmina Zhang

Aku ikut kalian saja

Pokoknya wajib ke Kronborg

Mireille Helene Marie

Iya, Petite Dame* Wilhelmina Zhang

Kronborg wajib kita kunjungi

TODAY

Mireille Helene Marie

Anne banguuunnnnn! Annette Marcella Laurentien

Wilhelmina Zhang sori Poupée, tahu sendiri Annette baru bisa bangun kalau dengar suara ponsel 😂

Kita ketemu jam 9 di Central Station ya

Ke Elsinore* yeaah!

Membaca pesan Mireille, Yixing menghela napas. Tatapannya segera tertuju kembali ke arah perutnya.

'Maaf, Sayang. Kali ini Mama egois. Kita melancong bersama kedua tantemu, bukan Appa.'

Lykke menendang-nendang lagi untuk protes, tapi Yixing tak peduli. Segera saja dia turun dari ranjang, berhati-hati agar tidak membangunkan Joonmyeon yang masih mendengkur halus. Nyaris berjingkat-jingkat, Yixing keluar dari kamarnya, tak lupa menyempatkan diri menyambar baju di lemari.

Jarum jam telah menunjukkan pukul delapan ketika Yixing membawa ransel MCM ungu kesayangannya keluar dari kamar Lykke. Dia sudah rapi dan tampak sangat manis dalam balutan overall jeans alias celana kodok warna navy lima senti di atas lututhasil buruannya di Gina Tricotdan dipadukan dengan pink t-shirt ukuran L sehingga perutnya tidak sesak. Sebagai aksesoris adalah bando putih dari kain yang bertengger manis di kepalanya. Seandainya saja perutnya tidak buncit, orang-orang pasti bakal mengira Yixing masih SMA. Maklum, pilihan busananya benar-benar imut, menyesuaikan parasnya yang kelewat belia untuk ukuran usia dua puluh empat. Apalagi perawakannya mungil, lebih-lebih untuk ukuran orang Denmark, benar-benar menipu usianya.

"Yixing-ah? Kau sudah baikan? Eoh, apa kau mau pergi ke gereja dengan pakaian seperti itu?"

Suara Joonmyeon mengejutkan Yixing yang tengah duduk di sofa sambil memeriksa isi ransel. Nyaris saja Yixing terlonjak karena kaget. Rupa-rupanya dia tidak sadar kalau pintu kamarnya dibuka dan Joonmyeon muncul dari balik pintu.

Yixing menoleh. Tampak olehnya sosok Joonmyeon yang masih berantakan khas bangun tidur, tetapi ketampanannya tetap tak tergusur saking sudah paten.

"Aku tidak ke gereja hari ini," Yixing menjawab. Cepat-cepat dia mengalihkan pandang dari Joonmyeon yang berjalan menghampirinya. Caranya bicara terkesan acuh tak tak acuh, tidak simpatik.

"Besok saja aku ke gereja."

Joonmyeon mengerutkan kening. "Kenapa besok? Hari ini saja. Kita ikut misa jam sebelas, setelah itu langsung berangkat ke Helsingør."

"Hari ini aku pergi bersama Annette dan Mireille," Yixing memberitahu Joonmyeon tanpa mendongak untuk menatap suaminya, tak peduli suaminya kini berdiri persis di hadapannya.

"Apa? Pergi bersama Annette dan Mireille? Apa aku tidak salah dengar?" Joonmyeon terkejut bukan kepalang mendengar penuturan istrinya.

"Yixing-ah, apa maksudmu?" Satu alis tebal milik Joonmyeon sedikit terangkat.

"Kubilang hari ini aku pergi bersama Annette dan Mireille," Yixing mengulangi dengan acuh tak acuh.

"Yixing-ah, sebentar." Joonmyeon menahan tangan Yixing yang tengah sibuk memeriksa dompet. Gerakannya ini otomatis memandu istrinya untuk mendongak.

"Oppa, aku sedang buru-buru. Tolong—"

"Katakan padaku." Raut wajah Joonmyeon mendadak berubah, sangat tegas. Bahkan suaranya tak kalah tegas dan bernada memerintah.

"Katakan padaku, sebenarnya ada masalah apa, Zhang Yixing? Kau menghindariku belakangan ini. Kau kerap menolak menatapku saat kita bicara. Kau menolak untuk kusentuh dan sekarang kau secara sepihak membatalkan rencana pelancongan kita ke Helsingør. Sebenarnya ada apa? Aku butuh penjelasan yang sejujur-jujurnya, Zhang Yixing."

Zhang Yixing. Hmm, Joonmyeon bahkan memanggilnya dengan nama lengkap, menunjukkan betapa 'genting' situasi saat ini. Bahkan Yixing bisa merasakan atmosfer ketegangan di udara yang berasal dari aura dominan seorang Kim Joonmyeon.

"Oppa, lepas." Yixing mencoba melepaskan tangannya dari Joonmyeon, tapi suaminya itu justru sengaja mempererat genggamannya.

"Tidak, sampai kau memberiku penjelasan yang berterima," tolak Joonmyeon tegas.

"Apa yang bisa kujelaskan?" Hati Yixing mulai terasa panas. Sejatinya dia takut melihat Joonmyeon yang seperti ini, tapi dia juga tidak terima disudutkan Joonmyeon kendati dalam hal ini tidak salah jika Joonmyeon meminta penjelasan atas sikapnya yang berubah ganjil dan tidak berterima.

"Kalau pun kujelaskan, aku tak yakin Oppa bisa mengerti."

Kerutan di kening Joonmyeon semakin dalam. Bahkan sepasang alis tebalnya kini saling bertaut. Diplomat tampan itu terlihat begitu serius. Bagi yang tidak mengenalnya, dijamin bakal merasa gentar begitu melihat raut wajah Sang Diplomat.

"Kalau begitu jelaskan sekarang dan kita lihat apakah aku bisa mengerti atau tidak." Joonmyeon mempertahankan ketegasan dalam nada bicaranya.

"Oppa tidak akan mengerti." Sadar bahwa nyalinya tidak cukup banyak untuk berlama-lama menatap Joonmyeon yang terlihat 'horor', Yixing berinisiatif untuk membuang muka.

"Oppa tidak akan mengerti betapa kecewa dan sakitnya hati seorang istri saat mengetahui suaminya mengajak pergi melancong hanya demi gengsi, bukan semata-mata tulus ingin menyenangkan hati istrinya. Oppa tidak akan mengerti betapa aku sudah sangat lama menunggu-nunggu kesempatan pergi berdua saja dengan Oppa, ani, bertiga dengan Lykke…" Yixing sesaaat menggigit bibir.

"Sayangnya begitu kupikir keinginanku terkabul, ternyata aku dan Lykke hanya dijadikan properti untuk menjaga gengsi di hadapan rekan-rekan kerja Oppa. Motivasi Oppa mengajakku dan Lykke pergi melancong ternyata tidak dilandasi ketulusan, melainkan dilandasi gengsi. Oppa pikir aku tidak sedih? Tidak kecewa? Tahu begini, lebih baik Oppa tidak perlu mengajakku melancong sekalian. Oppa pakai saja anggaran pelancongan kali ini untuk mentraktir rekan-rekan kerja Oppa makan siang."

Kalimat demi kalimat yang meluncur dari bibirnya bolehlah pedas, tetapi hati Yixing sakit bukan main saat mengatakannya. Semakin bicara semakin sakit hatinya, sampai-sampai air matanya menetes tanpa dia sadari.

"Untuk apa mengajakku hanya demi gengsi? Kalau memang tak berniat untuk melancong kenapa harus memaksakan diri? Yang Oppa senangi adalah pekerjaan, ya sudah pergi saja bekerja di akhir pekan. Aku tidak akan melarang. Tapi kenapa Oppa justru menyakiti hatiku seperti ini?"

Suaranya mulai serak dan air matanya semakin deras, menganak sungai.

"Oppa tidak perlu memaksakan diri. Aku mengerti Oppa tidak senang pergi jalan-jalan dan menghamburkan uang. Aku bisa terima itu, tapi membohongiku, mengajakku melancong hanya karena Oppa merasa gengsi pada orang-orang di Kedutaan, itu… Menyakitkan, hiks…" Yixing mulai terisak. Dia tidak tahan lagi. Hatinya terasa nyeri bukan main bagai dipilin.

"Hatiku sakit sekali, Oppa. Sakit. Sangat sakit."

Yixing menggigit bibir, berusaha keras menahan isak tangisnya. Semakin keras dia berusaha, Lykke di dalam rahimnya semakin gelisah. Bayinya itu terus-menerus bergerak-gerak dan menendang-nendang, sepertinya ingin berontak.

Sementara istrinya menangis, Kim Joonmyeon memasang ekspresi seolah-olah dia disambar petir. Diplomat tampan itu tampak kaget bukan kepalang hingga sepasang matanya terbelalak, bahkan genggamannya di tangan Yixing refleks mengendur tanpa dia sadari.

"Yixing-ah…"

Merasakan genggaman Joonmyeon di tangannya mengendur, Yixing bergegas menarik tangannya.

"Mianhae, Lykke. Mian. Mama lagi-lagi membuatmu tidak nyaman, ya? Hiks… Maaf, Mama cengeng sekali akhir-akhir ini."

Yixing tidak menggubris Joonmyeon. Dia lebih memilih untuk menenangkan Lykke, mengusap-usap perutnya yang terlindung overall imut dengan kedua tangannya.

Sekarang Joonmyeon seakan kena hantam palu godam, lebih-lebih saat istrinya sekonyong-konyong bangkit dari sofa, berjalan melewatinya sambil menangis. Bahkan menoleh pun tidak, apalagi bicara, seakan-akan Joonmyeon tak lebih dari udara kosong. Akan tetapi, Joonmyeon tidak mencoba untuk menahan perempuan itu, malah membiarkannya lewat dan mengawasinya memasuki kamar Lykke. Bahkan ketika terdengar olehnya suara 'klik' dari balik pintu kamar yang menandakan Yixing mengunci kamar Lykke dari dalam, Joonmyeon tak bergeming.

Alih-alih berinisiatif untuk mengejar istrinya, Kim Joonmyeon justru menjatuhkan diri duduk di sofa. Diplomat tampan itu mengusap wajahnya dengan kasar, seakan-akan frustrasi. Sesaat Joonmyeon memejamkan matanya. Mendadak dia terlihat lelah.

-000-

Joonmyeon pergi. Yixing tahu itu. Dia bisa mendengar pintu apartemennya dibuka dan ditutup. Suaminya itu pergi, tanpa pamit. Tentu saja hati Yixing makin teriris-iris.

Joonmyeon bahkan tidak berusaha untuk menyangkal, membela diri, apalagi minta maaf. Tidak sama sekali! Sia-sia saja Yixing menunggu pintu kamar Lykke diketuk. Jangankan diketuk, mendengar langkah kaki Joonmyeon mendekati pintu saja tidak.

Tabahkan hatimu, Zhang Yixing.

Yixing merasa tidak ada gunanya lagi mengurung diri di kamar. Ditambah lagi dering ponselnya di ruang tamu seakan-akan menjelma polusi suara. Masih sembab, Yixing berinisiatif keluar dari kamar menuju ruang tamu untuk mengambil ponselnya. Tangan lentiknya meraih ponsel, mendapati sebuah panggilan masuk dari Annette van Nistelrooy tertera di layar ponsel.

"Ha—"

"Poppy! Kau ada di mana? Aku dan Mireille sudah dua puluh menit menunggumu." Suara milik sahabatnya yang asli Belanda sukses memotong kalimatnya.

"Annette, maaf. Aku… Aku sepertinya tidak jadi pergi," Yixing memberitahu sahabatnya dengan tersendat. Bahkan suaranya masih serak. Maklum, efek sisa-sisa isak tangis.

"Poppy, kau baik-baik saja? Kau menangis, ya? Ada apa? Kenapa? Jangan bilang suamimu melarangmu pergi." Annette langsung terdengar khawatir.

"Poupée menangis, Anne? Yang benar? Ada apa? Kenapa?" Suara Mireille yang tak kalah khawatir turut terdengar melalui sambungan telepon.

"Aku tidak apa-apa, hanya tidak enak badan, Anne, Mir."

Sungguh, Yixing tidak bisa untuk tidak mengutuk dirinya sendiri yang jadi sering berbohong akhir-akhir ini!

"Poppy, jangan bohong! Kau menangis, 'kan? Iya, 'kan? Ada apa? Kau bertengkar dengan suamimu?" Suara Annette berubah tegas.

"Tidak, Anne, tidak. Aku tidak bertengkar. Sekali lagi aku mohon maaf. Lain kali saja kita ke Elsinore. Sampaikan permintaan maafku juga pada Mir. Aku akan meneleponmu nanti."

Yixing mengakhiri sambungan secara sepihak. Dia tahu itu sangat tidak sopan, tapi Yixing berjanji dalam hati bahwa dia akan meminta maaf langsung pada Annette dan Mireille saat mereka bertemu nanti.

Mematikan ponsel menjadi keputusan yang diambil Yixing sebagai upaya untuk jaga-jaga kalau-kalau Annette dan Mireille menghubunginya lagi. Bukan apa-apa, hanya saja Yixing tak tahu harus menjawab apa jika mereka mendesaknya untuk menceritakan alasan sebenarnya di balik pembatalan rencana melancong ke Helsingør. Tidak mungkin, 'kan, kalau Yixing menceritakan sakit hatinya terhadap Joonmyeon kepada Annette dan Mireille?

Yixing bermaksud meletakkan ponselnya di meja ruang tamu ketika netranya tanpa sengaja tertumbuk pada secarik kertas yang diletakkan persis di sebelah tempat tisu. Tulisan tangan yang familiar tertera di sana, memandu tangan lentik Yixing untuk menyambarnya secepat kilat. Itu tulisan tangan Joonmyeon. Lagipula siapa lagi yang bakal menuliskannya selain Joonmyeon? Mereka hanya tinggal berdua saja di apartemen ini—bertiga dengan Lykke.

Yixing-ah, aku tahu kau sedang butuh waktu untuk menenangkan diri, jadi aku pergi dulu. Percuma kalau aku memaksa untuk menjelaskan sekarang. Kau tidak akan mau dengar. Kita bicara lagi nanti.

-Suami

"Apa yang bisa kaujelaskan padaku, Oppa?" Yixing menggigit bibir. "Yang kubutuhkan adalah permintaan maafmu, setulus-tulusnya, bukan excuse."

Suara dering ponsel sekonyong-konyong menyapa gendang telinga Yixing, mengagetkan Si Manis yang terlihat sembab parah. Yixing sesaat bingung. Dia jelas-jelas sudah mematikan ponselnya, tapi kenapa…

Astaga, itu dering ponsel Joonmyeon!

Yixing lagi-lagi kaget.

Joonmyeon meninggalkan ponselnya?

Perempuan manis itu pun bergegas pergi ke kamar tidurnya dan Joonmyeon yang menjadi asal datangnya dering ponsel. Ternyata dia sama sekali tak berhalusinasi. Ponsel Joonmyeon ada di atas nakas. Sungguh, Yixing sama sekali tak menyangka Joonmyeon yang perfeksionis itu bakal seceroboh ini dengan meninggalkan ponsel di rumah.

Yixing memeriksa ponsel suaminya, mendapati panggilan masuk dari seseorang yang dia kenal baik. Frederik TW Søndergaard, diplomat Denmark yang merupakan teman baik Joonmyeon sejak mengikuti program pertukaran mahasiswa di University of Edinburgh dua puluh tahun silam. Agak ragu-ragu Yixing menjawab panggilan dari sosok diplomat yang menurutnya hot saking tampan dan seksinya dia dengan bare face penuh bercak-bercak merah yang sehat khas ras Nordik.

"Hei, Joon!" Frederik mendahului Yixing untuk bicara. Suaranya renyah dan ceria.

"Bagaimana? Kau sudah siap berangkat ke Helsingør? Jan dan Line bilang mereka sudah tidak sabar menantikan kedatangan Tuan Diplomat Korea. Dua-duanya sangat antusias setelah kuberitahu kalau Tuan Diplomat Korea yang bakal menjadi tamu mereka sedang berusaha keras untuk menebus kesalahan karena sempat mengabaikan istrinya, juga ingin sekali membahagiakan istrinya meski hanya lewat pelancongan singkat selama dua hari. Bahkan Line berani menjamin kalau candlelight dinner antara kau dan Yixing nanti bakal sangat berkesan. Sepupuku itu tidak sabar ingin melihat momen penuh cinta antara kau dan Yixing nanti malam, Brat. Dia bilang semua tamu yang datang ke tempatnya pasti bakal dilimpahi dengan cinta yang lebih besar. Haha, sepupuku itu memang hiperbolis dan sok puitis. Sepertinya efek overdosis buku-buku Shakespeare, mentang-mentang dia tinggal di Elsinore."

Frederik punya kebiasaan bicara panjang kali lebar, konon sebagai bentuk pelarian karena saat berperan sebagai diplomat dia tak pernah merasa leluasa untuk bicara. Tak heran dia langsung 'merepet' dengan semangat kemerdekaan begitu terlibat dalam pembicaraan diluar pekerjaan seperti ini, sampai-sampai tak sadar kalau dia tidak memberikan kesempatan bagi orang yang menerima panggilannya untuk bicara. Sialnya, dia sama sekali tak tahu bahwa yang menerima panggilannya bukan Kim Joonmyeon, melainkan istri sahabatnya itu!

Mendengar Frederik 'merepet', Yixing lagi-lagi tersentak. Dia kaget, sangat-sangat kaget!

Oh Tuhan, apakah dia salah dengar?

"Terus terang aku sendiri tak sabar menunggu cerita dari Line nanti malam. Siapa tahu aku bisa dapat fotomu dan Yixing tengah berciuman, ha ha ha. Bercanda, Joon."

Ya Tuhan!

Air mata Yixing tiba-tiba saja menetes, mengiringi gelombang perasaan yang dikenalinya sebagai rasa bersalah.

'Oh Tuhan! Apakah ini berarti aku telah salah menilai suamiku?' Yixing berseru dalam hati. 'Apakah semua ini hanya prasangka burukku saja? Oh Tuhan!'

"Joon? Hei, Joonmen! Kenapa diam saja?"

Suara Frederik yang menyebutkan nama suaminya seakan menyadarkan Yixing. Mendadak perempuan manis itu terlihat cemas.

"Fred…" Yixing menyebut nama teman suaminya itu. "Ini Yixing."

Terdengar suara tarikan napas kaget di sambungan telepon. Pastinya Frederik kaget, tak mengira yang menjawab teleponnya adalah Yixing.

"Yixing? Astaga, kukira Joon!"

"Fred, Joonmyeon Oppa… Dia… Dia pergi. Aku tidak tahu dia ke mana. Dia tidak pamit dan ponselnya tertinggal. Oh, Fred, bagaimana ini? Aku harus minta maaf padanya. Aku harus segera minta maaf padanya," Yixing tiba-tiba saja terisak-isak lagi.

"Astaga, apa yang sebenarnya terjadi pada kalian? Joon pergi? Pergi bagaimana maksudnya?" Frederik langsung kedengaran cemas.

Tersendat-sendat, Yixing menceritakan permasalahan yang tengah menimpanya dan Joonmyeon. Dia tak peduli lagi tentang gengsi. Saat ini dia hanya ingin Joonmyeon diketahui keberadaannya. Itu saja.

"Tenang, Yixing, tenang." Frederik menenangkan Yixing begitu dia usai menyimak cerita Yixing.

"Kurasa aku tahu di mana suamimu itu berada. Tunggulah. Semoga saja prediksiku tepat. Sudah, sudah, jangan menangis lagi. Kau tahu? Joon bilang hatinya sakit luar biasa setiap kali melihatmu menangis karenanya. Dia sangat-sangat mencintaimu, tahu, hanya saja dia seringkali bingung bagaimana caranya mengekspresikan perasaannya. Maklumlah, dia terlalu lama mati rasa gara-gara Jenny," beber Frederik.

Mendengar penuturan Frederik, Yixing malah semakin terisak-isak. Terus terang, dia sama sekali tak menyangka bahwa Joonmyeon diam-diam curhat pada Frederik sampai sejauh itu. Sekarang begitu mendengar Joonmyeon mengaku pada Frederik tentang perasaan cintanya terhadap seorang Zhang Yixing, perasaan bersalah Yixing kontan semakin menjadi-jadi.

"Astaga, apa aku salah bicara? Wah, pantas saja Joon itu hati-hati sekali dalam memperlakukanmu dan sering bingung bagaimana sebaiknya menghadapimu. Sayangnya Joon itu tipikal kaku, saklek, cenderung susah berlaku lembut, makanya dia justru menyenggolmu meski tak bermaksud demikian. Coba kalau dia sepertiku. Ah, bicara apa aku ini? Sudahlah, Yixing. Sekarang hapus air matamu. Percayalah, akan kukirim Joon pulang cepat atau lambat."

Frederik 'merepet' sekali lagi sebelum memutuskan sambungan. Diplomat Denmark itu bahkan tak menunggu Yixing untuk merespon. Sepertinya Frederik sangat buru-buru, mungkin karena langsung bergerak untuk mencari Joonmyeon.

Yixing sepertinya perlu bersyukur atas kebetulan yang tidak terduga-duga semacam ini. Memang selalu ada hikmah di balik setiap peristiwa, kali ini contohnya. Ponsel Joonmyeon yang tertinggal rupanya membawa semacam 'berkat', yakni informasi tentang Joonmyeon dari Frederik. Informasi yang luar biasa mengejutkan, sampai-sampai Yixing tak tahu harus mengatakan apa. Ujung-ujungnya dia malah menangis lagi. Yang ajaib, Lykke tumben-tumbenan tidak menendang-nendang perutnya. Sepertinya Si Kecil cukup pengertian atau mungkin dia sudah lelah karena ibunya menangis terus sejak tadi.

Zhang Yixing, stok air matamu benar-benar luar biasa, Sayang.

-000-

Yixing memilih untuk membaca Alkitab sembari menunggu suaminya pulang, berharap agar hatinya terasa lebih tenang dengan membaca firman-Nya. Air matanya tidak lagi menetes, tetapi hatinya masih gerimis. Penyesalan terus-menerus dia rasakan atas prasangka buruknya terhadap Joonmyeon. Yixing menyesal, juga malu. Dia merasa sangat kekanak-kanakan, benar-benar jauh dari karakter istri ideal yang diajarkan oleh agamanya.

'Mungkin aku harus memanjatkan Doa Novena,' Yixing membatin usai membaca beberapa ayat dan merenungi maknanya. 'Untuk memohon kepada Bapa agar aku bisa lebih tenang dalam menghadapi segala sesuatu, termasuk menghadapi suamiku sendiri, agar tidak ada lagi kesalahpahaman di antara kami. Disamping berusaha memperbaiki komunikasi di antara kami, tentu saja.'

"Mengasihi lebih banyak lagi, Wilhelmina. Itulah kuncinya. Cobalah mengasihi lebih banyak lagi agar kau terhindar dari prasangka buruk dan amarah, karena kasih itu sabar."

Suara milik Søster Victoria dari Sankt Therese Kirke mendadak terngiang kembali. Yixing tiba-tiba saja malu karena tak sungguh-sungguh meresapi nasihat biarawati cantik yang menjadi salah satu kenalan baiknya di gereja Katolik itu.

'Mengasihi lebih banyak lagi, ya. Itulah kuncinya. Ya, mengasihi lebih banyak lagi.'

Yixing mencoba menyugesti diri melalui kalimat-kalimat tersebut sembari memejamkan matanya, mencoba untuk lebih meresapi maknanya. Hatinya mulai terasa tenang, memandunya mengucap syukur dalam hati. Yixing sadar, dia harus lebih banyak mendekatkan diri pada Tuhan, memperdalam dan mengaplikasikan ajaran-Nya dalam kehidupan rumah tangga, mengingat karakternya dan Joonmyeon rawan menimbulkan konflik. Hanya dengan cinta kasih seperti yang diajarkan dalam agamanya-lah Yixing yakin rumah tangganya akan tenteram, juga dilimpahi berkat.

Sepasang kelopak mata Yixing mendadak membuka seiring suara yang berasal dari pintu apartemen. Yixing terkejut, tetapi hanya sesaat. Keterkejutannya segera digantikan oleh rasa syukur, mengiringi kemunculan sosok tampan yang berdiri di depan rak sepatu, tengah menatapnya lurus-lurus.

"Oppa."

Yixing perlahan bangkit dari sofa seraya meletakkan Alkitab-nya di meja. Tatapannya tak lepas dari Joonmyeon, sebagaimana tatapan Joonmyeon tak lepas darinya. Suasana mendadak canggung karena baik Yixing maupun Joonmyeon sama-sama diam mematung dengan tatapan yang saling mengunci satu sama lain.

Entah keberanian dari mana, Yixing melangkahkan kaki mendekati suaminya. Terkesan ragu-ragu, memang, tapi dia pantang mundur. Pelan-pelan tapi pasti Yixing terus melangkah, mengurangi jarak antara dirinya dan Sang Suami.

"Apakah Frederik yang mengirim Oppa pulang secepat ini?" Yixing berinisiatif menyapa suaminya. Lirih. Dia berhenti persis di depan Joonmyeon yang masih berdiri di depan rak sepatu dekat pintu.

"Ya," Joonmyeon menjawab. "Dia menghubungiku via telepon ke Kedutaan, menyuruhku cepat pulang. Katanya istriku menangis mencariku. Apakah itu benar?"

"Istri mana yang tidak menangis ditinggal pergi suaminya tanpa pamit?" balas Yixing. "Bahkan ponselmu kautinggalkan. Aku tidak tahu harus mencarimu ke mana. Untung ada Frederik."

"Yixing-ah," Joonmyeon memanggil istrinya, "apakah aku sudah boleh memberikan penjelasan padamu?"

"Aku menantikannya."

Diluar dugaan, Yixing tersenyum. Senyum yang sarat akan kelegaan, juga rasa haru. Senyum yang belakangan terasa begitu langka bagi Joonmyeon.

Joonmyeon sesaat mematung. Raut wajahnya memang stoic, tetapi sorot matanya menunjukkan perasaan takjub. Jelas sekali betapa senyuman di bibir Yixing berarti besar baginya.

"Bolehkah aku memelukmu terlebih dahulu?"

Pertanyaan ini sama sekali tak terduga, tapi Yixing bahagia bukan main mendengarnya. Tanpa ragu dia mengangguk. Detik berikutnya, Yixing merasakan tubuhnya didekap oleh Joonmyeon. Tidak erat, tetapi hangat.

"Sebelumnya aku minta maaf," Joonmyeon membisikinya. "Aku tidak tahu sampai sejauh mana Frederik memberitahukan rencanaku di Helsingør, tapi satu hal yang harus kautahu, Yixing-ah. Tidak pernah sekali pun terpikirkan olehku untuk mengajakmu melancong hanya demi gengsi. Aku masih punya hati, Yixing-ah. Bagaimana mungkin aku setega itu padamu dan Lykke?"

Sepasang mata indah Yixing kembali berkaca-kaca mendengar pengakuan Joonmyeon yang terdengar sedikit emosional, penuh penekanan, tetapi sarat kesungguhan.

"Pelancongan itu semata-mata karena aku menginginkannya. Aku sadar, selama ini tak pernah mengajakmu melancong. Keinginan itu semakin kuat sejak malam itu, saat kau menangis karenaku. Sama sekali tidak ada hubungannya dengan rekan-rekan kerjaku," Joonmyeon melanjutkan penjelasannya.

"Oppa sungguh-sungguh menginginkannya karena menyesal selama ini tidak pernah mengajakku melancong, juga karena membuatku menangis malam itu?" Yixing menarik kesimpulan lewat pertanyaan retoris.

"Ya." Joonmyeon terdengar mantap.

Alih-alih Joonmyeon, Yixing menjadi yang pertama berinisiatif melepaskan pelukan. Perempuan manis itu sedikit mendongak untuk menatap Joonmyeon lurus-lurus. Dia bisa melihat kesungguhan dalam sorot mata suaminya. Joonmyeon tidak bohong. Yixing yakin itu.

"Dan aku menyesal telah berprasangka buruk padamu." Raut wajah Yixing berubah sendu. "Oppa, aku minta maaf. Apa yang kukatakan tadi pagi i—"

"Ssh." Joonmyeon tiba-tiba menyentuhkan telunjuknya di bibir Yixing, meminta istrinya untuk tidak melanjutkan kalimatnya.

"Jangan diteruskan, Yixing-ah. Aku mengerti. Tidak apa-apa. Kau tidak perlu meminta maaf." Suara Joonmyeon berubah lembut, begitu pun tatapan matanya.

"Aku menyesalinya." Yixing menggigit bibir. "Seharusnya aku menanyakan baik-baik pada Oppa, bukan asal menyimpulkan apa yang kudengar dari Sehun-ssi, lalu menuduh Oppa yang tidak-tidak."

"Sudahlah, Yixing-ah. Tidak apa-apa. Ini menjadi pelajaran bagi kita berdua. Sepertinya kita harus memperbaiki komunikasi agar tidak ada kesalahpahaman lagi," Joonmyeon menanggapi dengan bijak. Kentara jelas dia tak ingin berlama-lama membahas akar kesalahpahaman mereka.

"Maafkanlah. Aku terlalu kaku dan serius, membuatmu tidak nyaman." Diplomat tampan yang tampil jauh lebih muda berkat pilihan busana kasual berupa kaus, bolero, dan jeans itu tampak menyesal.

"Tidak mudah bicara denganku, bukankah begitu?"

Yixing mengangguk. Imut. "Ada kalanya aku merasa takut bicara pada Oppa," katanya jujur, polos.

"Mulai sekarang jangan takut lagi." Joonmyeon tersenyum tipis seraya meraih kedua tangan istrinya, menggenggamnya erat. "Mulai sekarang, kita coba untuk lebih terbuka satu sama lain. Kita perbaiki kualitas komunikasi di antara kita. Kau setuju 'kan, Yixing-ah?"

Yixing membalas senyuman Joonmyeon. Manis.

"Ya, Oppa." Sekali lagi, Yixing menganggukkan kepalanya dengan imut. Wajah manisnya yang masih sembab terlihat lebih cerah. Yixing kembali menjadi dia yang manis dan menggemaskan begitu bayang-bayang sendu dan muram tergusur dari wajahnya.

Pasangan beda usia enam belas tahun itu berbalas senyum, mengiringi tatapan masing-masing yang berubah saling memuja. Entah berapa detik mereka mempertahankan posisi seperti ini, sampai akhirnya naluri mengambil alih. Baik Joonmyeon maupun Yixing seakan terhipnotis oleh tatapan satu sama lain. Perlahan tapi pasti, mereka saling mendekatkan wajah masing-masing. Sedikit demi sedikit mengurangi jarak hingga lenyap sama sekali dengan menyatunya dua material lunak milik masing-masing seiring mata yang terpejam.

Yixing dan Joonmyeon berciuman dengan lembut. Bergantian melumat bibir pasangannya dengan penuh kasih sayang. Secara naluriah, sepasang lengan ramping Yixing perlahan beralih memeluk leher Joonmyeon, sementara sepasang lengan kekar Joonmyeon memeluk pinggang Yixing. Ciuman yang mereka bagi semakin lama semakin dalam, bahkan menuntut. Joonmyeon tanpa ragu mulai menunjukkan dominasinya, membuat Yixing kewalahan hingga mendesah tertahan dalam lumatan penuh hasrat dari laki-laki itu.

Desahan tertahan Yixing justru membuat Joonmyeon semakin bersemangat. Diplomat tampan itu bahkan berusaha membuka akses untuk memperdalam ciumannya. Sayang, tangan lentik Yixing keburu menepuk dadanya keras-keras. Refleks Joonmyeon membuka mata dan melepaskan tautan bibirnya.

"Yixing-ah," Joonmyeon setengah protes.

"Bagaimana kalau kita lanjutkan di Helsingør saja?" Yixing yang setengah terengah kembali mengulas senyum. Bibirnya yang ranum tampak semakin merah dan agak membengkak akibat ulah suaminya.

"Aku ingin ke Kronborg. Mumpung sekarang belum terlalu siang. Lagipula aku sudah membatalkan rencanaku pergi dengan Annette dan Mireille."

Joonmyeon langsung cerah mendengar usul istrinya itu. Raut stoic-nya sukses tergusur entah ke mana.

"Baiklah," kata Joonmyeon sepakat. "Kita lanjutkan di Helsingør saja." Dia kembali mengecup bibir Yixing, singkat.

"Sebelum berangkat," Joonmyeon membelai pipi Yixing, "pastikan kau membawa item sesuai isi pesanku di kartu yang kutaruh dalam salah satu tas bajumu," katanya penuh arti.

Rona merah seketika menjalari pipi Yixing. Bayang-bayang gaun tidur Victoria's Secret langsung memenuhi benaknya. Walhasil dia malu berat, sampai-sampai tak lagi berani menatap Joonmyeon.

'Astaga, Joonmyeon Oppa benar-benar serius menginginkanku memakai gaun itu!'

Yixing menggigit bibir, tak berani membayangkan seperti apa wujudnya saat mengenakan gaun tidur seksi itu nanti

.

.

.

Sankt Therese Kirke: St Therese Church

Wilhelmina: Yixing's baptismal name

PK: Pakistan country code

UA: Ukraine country code

Embayu: Yixing's pronounciation of 'Mbakyu'

Slot: Castle

Petite Dame: Little lady

Elsinore: English name of Helsingør

.

.

.

TEBECEH ataukah ganti cerita baru? Hahaha :D

.

.

.

Yuliya Dyakonenko—