HALLO, Readers... ARE YOU READY FOR THE NEXT CHAPTER? ARE U WAITING FOR THIS CHAPTER, GUYS? And…. Jeng jeng jeng jeng *sound gagal* this is it! The next chapter of this fanfiction. So it's been a long time and long chapter since the first chapter I've published. Hope you won't feel bored with this fanfiction guys… Thanks for ur review(s), Favorites and follows, GUYS! LOVE U ALL!
CINCONGAN AUTHOR: Aku cuma mau cerita dikit aja sih tentang pengalaman aku selama 1 minggu ini. So jadi, aku baru aja pulang dari perkemahan hari jumat lalu, setelah kemah selama 4 hari. Itu sebabnya kenapa FF ini uploadnya agak telat.
ATTENTION!: Contain rude and dirty talk, self harm, gore and physiologic!
Gak pake basa basi dan banyak cincong sampe tumveh-tumveh lagi, HAPPY READING!
.
.
.
Dinding putih tulang itu kini telah terbubuhi dengan belasan atau mungkin puluhan tempelan sticky notes berwarna hijau, terlihat layaknya lapangan sepak bola di dinding itu. Suara gemerisik sticky notes yang tertiup angin kadang terdengar, bersamaan dengan korden ruangan yang melambai-lambai di ujung ruangan.
Sosok namja itu tengah menulis sesuatu di sticky notes teratas dari tumpukan sticky notes hijau itu. Spidol hitam ia pergunakan pada sebagian besar tulisannya, namun spidol merah ia pergunakan untuk alasan tertentu yang hanya ia seorang yang mengetahuinya. Surainya mengikuti arah tiupan angin yang entah mengapa kala itu terasa kencang dan dingin baginya. Mata tajamnya menatap sticky notes yang tengah ia tulisi beberapa aksara penting, dahinya berkerut dalam keseriusan serta telapak tangannya berkeringat, membuat spidolnya terasa licin.
Seok Jin menempelkan sticky notes dengan tinta hitam itu tepat di samping sebuah sticky notes lainnya yang terbubuhi aksara bertinta merah. Ia menghela nafas sejenak kemudian menggerakkan dirinya untuk menatap sticky notes pertama yang ia tempelkan pada dinding itu. Sebuah sticky notes hijau dengan tulisan bertinta merah.
"Jeon Seok Jin. Seoul Gangnam, 4 Desember 1992. Bermasker hitam. Pendidikan homeschooling."
Ia kemudian mengalihkan pandangannya pada sebuah sticky notes bertulisan hitam yang nyaris terlepas dari dinding putih itu. Ia menekan sticky notes itu ada tetap tertempel di sana. Ia menatap tulisan itu sejenak.
"Ibu membawa seorang namja dengan rambut kecoklatan, matanya indah. Seorang pembawa koran yang kerap membawakan koran ke rumah. Kim Taehyung, namanya."
Seok Jin melepas dua buah sticky notes lainnya yang bersebelahan. Letaknya cukup jauh dari sticky notes sebelumnya. Ia bersandar pada dinding dan menindih lembaran sticky notes itu dengan punggungnya. Ia tersenyum pedih dan mencemooh pada dirinya sendiri.
"Aku dan Jungkook tahu, ayah membunuh keluarga Kim dengan menyabotase mobil keluarga Kim saat Taehyung masih kecil. Agar ia bisa mengambil alih perusahaan ayah Taehyung, katanya."
Ia kemudian mengalihkan pandangannya pada sebuah sticky notes di tangan kanannya.
"Ibu mengasuh Taehyung, takut jika Taehyung akhirnya ingat dan membalas dendam pada keluargaku. Sejujurnya mereka kaget ketika Taehyung belum mati dalam kecelakaan itu."
Seok Jin hendak marah dan melampiaskan kemurkaannya, namun di sisi lain ia hendak menangis pada waktu yang bersamaan. Ia menghela nafas panjang berkali-kali, menahan agar tangisannya tidak pecah seketika atau mungkin kemurkaannya akan menghancurkan semua sticky notes yang ada pada dinding itu. Kala itu, Seok Jin ingin untuk tidak mengingat semuanya. Ingin untuk tetap menganggap dirinya adalah Kim Seok Jin, seorang psikiater yang hanya mengingat 4 tahun kehidupannya dan bukan seorang Jeon Seok Jin, seorang putra pembunuh dengan riwayat kehidupan yang terlalu rumit untuk dijalani.
"Mengapa ayah membunuh orang tua Taehyung? Apa hanya demi sebuah perusahaan, ayah rela melakukan itu?", lirih Seok Jin dengan suara bergetarnya.
Seok Jin melirikkan tatapannya pada korden ruangan yang menari-nari bersamaan dengan desir angin siang itu. "Setidaknya ayah sudah mendapat balasan yang setimpal, kan?", lirihnya dengan senyuman pahit di bibirnya. Matanya menerawang jauh pada bangunan-bangunan itu yang tak berakhir itu.
Ia mengembalikan kedua sticky notes itu pada tempatnya, setelahnya beranjak pada sebuah sticky notes lainnya yang berada sekitar 12 sticky notes lainnya.
"Namja itu menamparku, menendang hingga menarik rambutku. Memar dan luka di mana-mana. Seorang namja berkulit tan, dalang dari penculikan itu. Hoseok pernah bilang jika Taehyung mengaku mengenal namja itu, kemudian menyangkalnya."
"Apa namja itu kenal Taehyung ketika ia tinggal di panti asuhan setelah kecelakaan itu?", gumam Seok Jin menerka-nerka siapa sebenarnya namja berkulit tan yang ingin Taehyung menjadi miliknya seutuhnya.
Seok Jin tersenyum kecil, "Siapapun namja berkulit tan itu, aku tak akan pernah menyerahkan Taehyung sedikit pun pada namja itu. Taehyung sama sekali tak berhak mendapat namja bedebah seperti itu."
Ruangan dengan kesan elegan itu mendapatkan cahaya dari sinar mentari yang menembus korde putih nan tipis itu. Samar, dari balik korden itu terlihat beberapa gedung pencakar langit serta suasana langit yang masih terang benderang. Sesekali terlihat burung melintas di hadapan jendela itu, bayangannya masuk ke dalam ruangan itu.
Jongin terduduk dengan kaki kanan yang terlipat di atas kaki kirinya. Tubuhnya bersandar pada sofa empuk itu.
"Aku tak ingin membuang waktuku terlalu banyak untuk menunggu Seok Jin menjauh dari Taehyung apalagi menunggu Taehyung untuk mengingat memorinya setelah kecelakaan itu.", ujar Jongin membuka pembicaraan di ruangan itu bersama seorang namja berkulit putih pucat lainnya yang terduduk tepat di hadapannya.
Sosok namja berkulit putih pucat itu menyeringai kecil seraya menjatuhkan abu rokoknya ke dalam asbak, "Lalu apa yang kau ingin lakukan, Jongin?"
"Bawa Taehyung ke hadapanku secepat mungkin. Kau harus menyusun semuanya dan pastikan tak akan ada siapapun yang dapat mengendus rencana ini, termasuk pihak kepolisian. Laporkan padaku ketika kau siap melakukan rencana ini. Siapapun yang kau nilai aku merugikan kita, habisi dia dan pastikan tak akan ada satu pun yang mampu menemukan mayatnya. Mengerti?"
"Hal yang terlalu mudah, Jongin…"
"Dan satu hal lagi, pastikan kau juga membawa si brengsek Jeon Seok Jin itu ke hadapanku. Aku akan menghabisinya dengan tanganku sendiri. Karena jika buka mulut tentang penculikan beberapa tahun yang lalu itu, aku tak akan bisa selamat setelah ini."
Asap akromatik mengepul dari kedua sisi bibir namja berkulit putih pucat itu, membumbung melewati surai-surai hitamnya yang tertata rapi itu. "Aku mengerti, Jongin. Aku akan lakukan semuanya sesuai perintahmu. Kau tak akan kecewa dengan hasil kerjaku, Jongin."
Jongin menepuk pundak Sehan perlahan dalam rasa bangganya, "Kau memang dapat kuandalkan, Sehan. Sayangnya, kembaranmu, si bedebah Sehun itu tak selicik dan secerdas dirimu."
Sehan membuang putung rokoknya yang nyaris habis ke dalam asbak, "Aku tak pernah menganggap memiliki kembaran sepertinya. Kami lahir bersama, bukan hidup bersama. Kau harus tahu bagaimana berbedanya itu. Orang sepertinya, pantas untuk mati."
"Kau bahkan lebih 'ganas' dariku, kau tahu itu."
Sehan tersenyum miring dengan mata tajam yang memberikan sirat bara kemurkaan dalam dirinya, "Aku membenci orang yang bodoh dan munafik tetap untuk hidup di dunia ini. Aku tak keberatan untuk membunuh siapapun termasuk kembaranku sendiri karena sudah menjadi tugasku untuk…"
Sehan menatap tajam tepat pada Jongin, "… memberantas hama yang menghalangi jalanku."
Hoseok berjalan di antara deretan meja kayu itu. Semua orang berpakian rapi itu menyambutnya, memberikan senyuman serta sapaan. Ia membalas semuanya dengan senyuman komersialnya, menutupi bagaimana terburu-burunya dirinya. Langkahnya cepat diikuti oleh Yoongi di belakangnya yang juga berusaha menyeimbangkan langkahnya dengan langkah Hoseok. Ketika Hoseok hendak membalas semua sapaan itu, rasanya ia melewati orang-orang itu walaupun ia tersenyum untuk membalas orang itu persatu. Itu semua akibat langkah cepatnya.
Hoseok dan Yoongi masuk ke dalam ruangan dingin nan lembab milik Hoseok. Lampu dihidupkan bersamaan dengan cahaya yang berpendar di ruangan itu.
Dengan nafas terengah, Hoseok merogoh sakunya, mengambil sebuah ponsel yang masih terhubung dengan sebuah panggilan.
"Hallo, aku sudah sampai di ruanganku.", ucap Hoseok dengan mode speaker pada ponselnya.
"Jongin memintaku membawa Taehyung secepatnya ke hadapannya."
"What the hell? Aku bahkan belum menyiapkan apapun untuk ini, kau tahu! Ini terlalu mendadak.", sahut Hoseok histeris namun masih dengan suara berbisik.
"Aku pun tak pernah berpikir akan jadi secepat ini. Dengar, ia memintaku untuk membunuh semua orang yang mengganggu rencana ini. Dan… Jongin memintaku untuk membawa Seok Jin hidup-hidup dan ia akan membunuh Seok Jin dengan tangannya sendiri."
"Jadi bagaimana rencana yang terpikir olehmu sekarang?", tanya Hoseok seraya melirikkan netranya pada sosok Yoongi yang hanya mendengarkan percakapan mereka dengan khidmat.
"Aku ingin kau memancing Seok Jin dan Taehyung untuk berada dalam satu tempat yang sama sehingga ini akan memudahkanku untuk mengurus semuanya."
"Bagaimana dengan Namjoon dan Jungkook?"
"Seok Jin pasti akan selalu membawa Jungkook bersamanya, maka dari itu, aku akan membawa Jungkook, Seok Jin dan Taehyung ke hadapan Jongin pada waktu yang bersamaan. Aku akan mengurus hal ini dengan anak buah Jongin."
"Kau harus memastikan tidak akan ada masalah apapun dalam rencana ini, kau mengerti? Jika terjadi sesuatu, aku tak akan pernah memaafkanmu atas segala hal yang telah kau lakukan termasuk membawaku dalam masalah ini.", ancam Hoseok serius.
Suara tawa terdengar dari seberang sana, membuat Hoseok hanya bisa mengerutkan keningnya dalam kekesalan. "Santai saja, selama aku tidak mati, semua akan dalam keadaan baik-baik saja."
"Kapan kau akan memulai semua ini?"
"Dua hari lagi… Kau harus persiapkan segala rencana cadangan selama 2 hari ini. Gunakan waktumu sebaik-baiknya karena aku tak mungkin melakukannya sendirian sekarang."
"Baiklah, aku dan Yoongi akan mengusahakan semuanya di sini. Jaga dirimu baik-baik di sana, Bocah."
"Tentu saja…"
Sosok namja berwajah rupawan itu, Seok Jin, menapakkan kedua telapak kakinya yang tak beralas kaki itu di atas rerumputan hijau yang masih lembab dengan embun-embun yang hinggap di antara helai rerumputan itu. Sensasi basah yang menyegarkan telapak kakinya membuatnya tenang, ditambah desir angin tenang mengelus kulitnya. Pakaian putih tipis lengan panjang dan celana hitam trainee membalut tubuhnya, menghindarkan kulitnya dari cuaca di luar pakaiannya.
Langkahnya lambat bersamaan dengan netranya yang beredar mengobsevasi sekiranya segala hal yang ada di sekitarnya. Suara gemerisik dedaunan di pepohonan menyatu dengan suara gemerisik yang ditimbulkan dari langkah kakinya. Surainya bergerak-gerak mengikuti arah tiupan angin. Beberapa ekor kupu-kupu terbang rendah, tepat di hadapan Seok Jin. Sayapnya indah, dengan warna putih bercampur kuning pucat.
"Hyung…"
Suara itu bass nan khas itu mengalihkan atensi Seok Jin. Ia membalikkan tubuhnya, mendapati seorang namja bersurai dirty brown dengan kaos lengan panjang hitam dan celana pendek hitam berada di hadapannya.
"Taehyung?"
Sosok itu tersenyum padanya, memberikan senyuman kotak dan netra yang menyipit di wajah manis itu. Seok Jin hanya mampu terpaku di sana. "Bagaimana bisa kau ada di sini?"
Seketika raut wajah Taehyung berubah menjadi suram. Senyuman itu tak lagi bersemayam di bibirnya, netra itu menatap Seok Jin sendu. "Aku mengikutimu, Hyung… Jungkook memintaku untuk menjaga dan menyelamatkanmu.", lirih Taehyung bersamaan dengan setetes air mata yang menitik dari mata indah itu. Air mata itu menuruni pipi pucat Taehyung, hingga ke tulang rahan dan lehernya.
"Kau mengingat kami?", tanya Seok Jin tak percaya.
Taehyung mengangguk dengan senyuman kecut di bibirnya. "Aku tak pernah sedikit pun melupakanmu dan Jungkook, Hyung… Aku mengingat secara detail semuanya. Saat di mana kau sangat membenciku, saat di mana kau dan keluargamu membunuh orang tuaku, saat di mana kau dan orang tuamu merebut semuanya dariku, hingga… saat di mana kau berusaha membunuhku, Hyung…", ucap Taehyung dengan suara kecil.
"Apa? K..kau bicara apa, Tae? Membunuhmu? Aku tak pernah sedikit pun ingin membunuhmu, Taehyung. Aku menyayangimu bagaimana bisa aku berusaha membunuhmu?", tanya Seok Jin yang merasa sangat bingung dengan ucapan Taehyung. Apa yang terjadi? Bagaimana bisa Taehyung menilai dirinya seperti itu?
Taehyung melangkahkan dirinya mendekati Seok Jin, bersamaan dengan Seok Jin yang terus melangkah mundur menjauhi Taehyung.
Taehyung menghentikan langkahnya, menatap sendu dan seakan memohon pada Seok Jin, "Kenapa kau tak ingin ada di dekatku, Hyung? Apa kau sangat membenciku hingga aku tak boleh mendekatimu? Apa karena aku hanya seorang adik angkat untukmu, kau membenciku?", tanya Taehyung dengan suara bassnya yang mulai serak akibat tangisannya yang entah sejak kapan mulai menderas.
Nafas Seok Jin tercekat dan rasanya tersangkut di tenggorokannya. Ia tak tahu harus merespon apa pada Taehyung. Terlalu banyak pertanyaan yang berkumpul di dalam benak Seok Jin dan ia sadar tak ada siapapun yang mampu menjawab seluruh pertanyaannya itu.
"Taehyung, jangan berpikir macam-macam! Aku tak pernah sama sekali membencimu."
"Jika memang begitu, biarkan aku memelukmu, Hyung…"
Taehyung melangkahkan tungkai kakinya mendekati Seok Jin. Seok Jin tak tahu mengapa pikirannya terasa kalut dan justru sangat takut apabila Taehyung mendeketinya. Setiap langkah yang Taehyung ambil, semakin Seok Jin tak mampu bernafas dengan baik dan benar.
"Jangan mendekat, Taehyung!"
"Akh…"
Taehyung mematung di hadapannya dengan nafas yang seakan tercekat tepat di tenggorokannya. Ia menatap Seok Jin dengan dalam keterkejutan sekaligus tetes air mata yang kembali menitik dari ujung pelupuk matanya.
"Tae, kau kenapa?", tanya Seok Jin khawatir.
Taehyung mengalihkan pandangannya ke bawah, di mana hal itu turut membuat Seok Jin mengalihkan pandangannya mengikuti arah pandang Taehyung.
"Taehyung…"
Seok Jin seketika terkejut setengah mati melihat pemandangan itu. Sebuah pisau menancap tepat pada perut kiri Taehyung, dan yang lebih mengejutkan lagi, pisau itu merupakan pisau yang entah bagaimana berada di genggaman Seok Jin. Darah mengalir di balik kaos hitam Taehyung hingga ke bilah pisau dan tangan kanan Seok Jin. Dengan nafas yang memburu, Seok Jin melepas genggamannya pada pisau yang menacap di perut Taehyung kemudian mengambil langkah mundur menjauhi Taehyung.
"Taehyung…", lirih Seok Jin dengan tubuh yang bergemetar.
"Kau membenciku, kan?", itu adalah pertanyaan terakhir kedua netra indah yang sayu itu tertutup bersamaan dengan tubuh lunglai itu roboh dan menyentuh rerumputan yang masih lembab akan embun-embun.
"TAEHYUNG!"
Dengan nafas terengah, Seok Jin bangkit dan mendapati dirinya berada di sebuah kasur putih besar dengan selimut yang sedikit tersibak dari tubuhnya. Tatapannya tepat tertuju pada kumpulan sticky notes hijau bak lapangan sepak bola yang siang tadi ia tempelkan di dinding kamarnya. Nafasnya memburu, ia dapat merasakan tubuhnya mendingin dengan keringat yang mengucur di seluruh tubuhnya. Ia sadar bahwa dirinya berada di kamarnya sendiri sekarang, aman dan tentram bersama suara gemerisik sticky notes yang tertiup angin.
"Mimpi macam itu…", gumam Seok Jin tak habis pikir dengan mimpi buruk yang ia alami itu. Ia benar-benar tak menyangka bahwa ia akan bermimpi seperti itu seumur hidupnya.
Dengan kaki yang masih lemas, Seok Jin melangkahkan kakinya perlahan menuju kumpulan sticky notesnya. Matanya menatap kumpulan sticky notes itu tanpa bosan, walau detak jantungnya masih berdetak tak beraturan akibat mimpi itu. Hingga netranya tertuju pada salah satu sticky notesnya yang menurutnya berisi sebuah kejanggalan. Ada tulisan lain pada sticky notes itu dan itu jelas bukan tulisannya. Ia juga masih ingat bahwa tak ada tulisan tangan lain selain tulisan tangannya sebelum ia tidur tadi.
"Namja itu menamparku, menendang hingga menarik rambutku. Memar dan luka di mana-mana. Seorang namja berkulit tan, dalang dari penculikan itu. Hoseok pernah bilang jika Taehyung mengaku mengenal namja itu, kemudian menyangkalnya."
Tak jauh dari kalimat itu, sebuah tulisan kecil yang terlihat tidak terlalu rapi tertulis di bawahnya. "Dalangnya: Kim Jong In".
"Kim Jong In? Siapa yang menulis ini di sini?", gumam Seok Jin bingung dengan dahi yang berkerut.
"Aku yang menulisnya, Hyung…", suara lembut itu mengalihkan perhatian Seok Jin pada sesosok bocah lelaki yang tampan tengah berdiri di ambang pintu dengan sebuah origami di tangannya.
"Jungkook? Kau yang menulisnya? A…apa kau membaca semuanya?", tanya Seok Jin gelagapan dan sangat khawatir. Khawatir apabila Jungkook pada akhirnya menolak dirinya yang sekarang telah mengingat jati dirinya sebagai Jeon Seok Jin.
"Hyung…", Jungkook seketika menghambur dalam pelukan Seok Jin.
Seok Jin mendekap Jungkook erat, mengelus surai hitam legam itu penuh kasih sayang. Ia menghirup aroma bedak bayi yang melekat di tubuh Jungkook, masih sama seperti bertahun-tahun yang lalu. Mungkin Taehyung masih membelikan bedak dengan merk yang sama dari tahun ke tahun, pikir Seok Jin.
"Aku merindukanmu, Hyung…"
"Aku juga merindukanmu, Jungkook ah…"
Senyuman bahagia terpatri di bibir Jungkook, menambah kesan menggemaskan di wajah kecil Jungkook. Seok Jin langsung mengacak-acak rambut Jungkook gemas kemudian kembali memeluknya erat.
"Apa kau kecewa padaku karena aku terlambat untuk pulang?", tanya Seok Jin dengan Jungkook dalam pelukannya.
Ia dapat merasakan Jungkook menggeleng dalam pelukannya, "Aku tahu kau akan kembali cepat atau lambat. Aku yakin jika Sehun tidak akan mengingkari janjinya saat itu untuk tidak membunuhmu, Hyung…"
Seok Jin tersenyum kecil, dalam hatinya berterima kasih atas segala yang tanpa ia sadari telah Sehun lakukan untuknya dan orang-orang di sekitarnya.
"Kau siap bertemu dengan Taehyung hyung? Terakhir kita ke sini, kau tertidur sangat pulas jadi hanya hyung yang berbicara dengan Taehyung hyung.", tanya Seok Jin dengan senyuman di bibirnya.
Jungkook membalas senyuman itu, "Tentu saja, Hyung…"
Seok Jin mengetuk pintu itu perlahan, memastikan bahwa ia tak mengganggu penghuni lainnya namun orang di dalam tetap bisa mendengarnya. Tak butuh waktu lama hingga pintu itu terbuka dan menampakkan Taehyung dengan…. Tubuh dan wajah yang terlihat kacau.
"Seok Jin…"
Belum sempat sepatah kata pun keluar dari dalam tenggorokkan Seok Jin, ia telah mendapati bahwa Taehyung menghambur ke dalam pelukannya. Ia dapat merasakan bagaimana tubuh Taehyung bergetar di dalam dekapannya.
"Untung kau datang, Seok Jin…"
Seok Jin hanya mampu bertukar pandangan dengan Jungkook sesaat sebelum membalas ucapan Taehyung. "Ada apa, Tae?", tanya Seok Jin seraya mengelus surai Taehyung.
"Seseorang…meninggalkan paket di depan apartmentku… aku sendirian… Kumohon tolong aku.", Taehyung mulai merancau dalam dekapan Seok Jin.
"Ceritakanlah perlahan padaku…", bisik Seok Jin.
"Paket itu, berisi mayat ayam yang telah ditusuk berkali-kali dengan darah yang masih segar. Di tubuhnya, terdapat sayatan dengan sebuah tulisan… Aku takut, Seok Jin… Aku takut…"
"A…Apa tulisannya?"
Di antara isakannya yang semakin menjadi-jadi di dekapan Seok Jin, Taehyung menyahut dengan lirih, "I'll be there in two days…"
"Tulisan itu lagi?", pikir Seok Jin dalam benaknya.
.
.
.
TBC
HUaaaaaaaa….. hallo semuanya…. Nah udah update cepet nihh guys… bagaimana? Bagaimana? No feel? Ggak seru? Don't forget to review yah… btw aku ngetik ini cepet-cepetan astaga xD serasa dikejar anjing xD. SEE U IN NEXT CHAPTER AND MERRY CHRISTMAS BAGI YANG MERAYAKAN...
