Dia adalah orang yang ku pilih dari sekian banyak pilihan, ia adalah orang yang paling bercahaya dari semua orang yang paling bercahaya. Dan dia adalah orang yang mengisi kekosongan dalam hidupku, kau adalah warna untukku..

.

.

.

MY Honey

MIANHE TELAT #HEHEHEHE

.

Haii haiii—terima kasih untuk kesediaannya membaca. Sedikit warning aja kalao di chapter ini author rasa sedikit membosankan, kisah percintaan Minseok dan Luhan sedikit author simpen kkk
Chapter ini chapter untuk refreshing kekeke enjoy with it!

Gomawo

#BOW

" THIS IS LIFE..MANY CRUEL, WAN'T YOU?"

.

.

Preview

.

.

.

Kris dan Suho menatap siapa yang datang dengan mata lebar yang mereka punya.

" jadi—kau berada di Australia dalam waktu yang lama?"

Baekhyun tidak mengenal mereka, ia menoleh pada Chanyeol dan Chen yang hanya mengangkat bahu meminta Baekhyun mendengarkan dan fokus pada dua namja yang sedang menatapnya intens. Kris mengangguk, ia menjelaskan semua yang ingin Baekhyun ketahui tentang dirinya yang berada di Seoul selama hampir 2 tahunan. Yeoja itu begitu tidak percaya mendengar kenyataan bahwa Jessica telah dibunuh oleh rekan kerjanya. Menjelaskan sebagian besar operasi yang telah mereka lakukan hingga terahir mereka mengetahui siapa Baekhyun yang selama ini berada di samping mereka.

" tidak mungkin—"

" kamipun tidak percaya—"

Suho menjelaskan semua yang ia ketahui tentang Baekhyun dari bagaimana Baekhyun berada di tengah mereka hingga perbuatannya merusak hubungan Chen dan Chanyeol yang berujung pada jatuhnya Baekhyun di pelukan seorang artis yang sama sekali tidak Baekhyun ketahui bernama Kai. Suho menjelaskan secara detail membuat Baekhyun sedikit shock.

Dengan ucapan dari Kris dan Suho yang berputar-putar di kepalanya Baekhyun meminum beberapa botol soju. Kenyataan dimana orang yang menyuruhnya tinggal di Australia, orang yang mengaku menjadi kekasih Jessica adalah orang yang membunuh Jessica. Baekhyun menangis memeluk foto dirinya dan Jessica, kenyataan bahwa Jessica adalah seorang penjahat yang dicari oleh kepolisian membuat Baekhyun merasakan kekecewaan dan kesedihan dalam waktu bersamaan.

" kenapa eoni—kenapa eoni melakukan itu?"

Isak Baekhyun.

Seorang masuk ke apartemen itu, ia kaget mendapati Baekhyun tengah menangis di ujung sofa. Kai—kai tersenyum dalam ketidak sadarannya, bahkan ia merasakan bagaimana menatap Baekhyun yang juga sudah setengah sadar.

" Baekhyun—"

Ucap Kai lirih.

" si—siapa—eumppp"

Malam itu menjadi malam yang panjang untuk keduanya. Malam penuh dengan gairah cinta yang baru saja mereka ukir dalam catatan sejarah kehidupan mereka. Membiarkan ruangan itu kembali menjadi saksi bisu percintaan yang baru saja mereka rajut.

.

.

#chapter 11

.

.

.

Kyuhyun membuka ruangan bercat putih dimana anak semata wayangnya tengah tertidur lelap.

" bagaimana perkembangannya?"

" Luhan hampir berada dalam batasnya—anak itu, apa tidak apa-apa kalau dia membiarkan dan memaksa Minseok untuk bertahan? Mungkin saja memang anakmu tidak ingin kembali"

Kyuhyun menghela nafas, ia menatap seorang yeoja manis dengan warna kulit putih pucat tengah berbaring ditemani beberapa peralatan medis yang mencoba mempertahankan detak jantungnya.

" entahlah, aku dan Sungmin sudah menyerahkan semuanya pada Luhan. Aku yakin dia akan memberikan yang terbaik untuk anakku. Maaf, telah melibatkan anakmu terlalu jauh—hyung"

Zhoumi tersenyum.

Namja itu menepuk pundak Kyuhyun dengan pelan memberikan sedikit penyemangat untuk namja yang sudah ia anggap sebagai dongsaengnya.

" Minni-ah, bangunlah—apa kau tidak ingin mendengarkan cerita dari papa? Eoh? Apa kau tidak ingin melihat mama tersenyum?"

Kyuhyun menangis, Zhoumi cukup tau kapan namja itu menangis—saat sesuatu yang buruk terjadi pada Sungmin dan Minseok. Ya, Zhoumi hanya melihatnya jika itu tentang mereka—sama seperti Luhan anaknya yang akan menangis jika Henry atau Minseok kenapa-napa. Zhoumi bisa melihat kharakter Luhan dan Kyuhyun sama, dalam satu sisi keadaan kadang mereka bisa menjadi iblis dan malaikat bersamaan. Zhoumi tidak menyangkalnya, karna itu adalah kebenaran yang ia lihat tentang anaknya dan Kyuhyun.
Lay masuk ke ruangan dan tersenyum ke arah dua namja itu.

" apa yang terjadi pada Luhan? Tidak biasanya dia tidak kesini saat jam istirahat—"

" dokter Luhan sedang ada meeting dengan direktur rumah sakit dari Taiwan, sepertinya tentang kerjasama yang mereka tawarkan pada dokter Luhan"

Zhoumi mengangguk. Ia mengajak Kyuhyun pergi keluar dan membiarkan Lay memeriksa Minseok dengan seksama.
Lay tersenyum menyapa Minseok yang tidak bisa menyapanya kembali.

" kau dapat salam dari Tao, kau tau? Dia sangat cantik dengan rambutnya yang mulai memanjang hampir menutupi punggungnya. Kau pasti akan senang membantu yeoja tomboy itu untuk merias rambutnya, ya kan?"

Lay menutupi tangisnya dengan tersenyum.

" Sweetie….dia sudah bisa sedikit demi sedikit berbicara, apa kau tidak ingin mendengar bayi mungil itu menyebutkan namamu? Itu pasti akan sangat manis"

Yeoja berjas putih itu duduk di tempat dimana Luhan selalu duduk untuk memandangi Minseok.

" Luhan—dokter Luhan, apa kau tidak kasihan padanya? Apa kau tidak melihat kekhawatirannya terhadapmu? Apa kau tidak melihat pengorbanannya untukmu? Aku yakin kau bukan orang yang tidak tau diri—kau pernah bilang menyesal telah membuat dokter Luhan menjauh darimu. Apa kau tidak ingin memperbaiki penyesalanmu? Bangunlah—atau setidaknya beri dokter Luhan kepastian agar ia masih bisa menunggumu. Aku yakin kaupun tidak ingin suatu hari dokter Luhan menyerah akan dirimu…dokter Luhan sangat mencintaimu"

Lay menatap Minseok sambil mengusap air mata yang membasahi pipinya saat membayangkan bagaimana Luhan mencoba selalu ada di samping Minseok.

" sekarang dia sangat kurus, rambutnya ia biarkan memanjang. Bahkan jika mama—tidak memaksa memotong rambut diwajahnya aku yakin dia sudah berjanggut jelek. Kau harus melihat bagaimana wajah cantik dokter Luhan sangat terlihat menyeramkan dengan kumis yang mulai menghiasinya. Kau juga harus melihat mata dokter Luhan yang hanya tertuju padamu—dia jarang sekali makan dan memperhatikan dirinya sendiri. Apa kau yakin kau tidak akan menyesal melihatnya seperti itu? Kau melihatnya bukan? Kesungguhan yang terpancar dari apa yang ia lakukan padamu—ku mohon. Bangunlah—"

Dokter muda itu mengusap air matanya dan tetap menceritakan bagaimana Luhan hingga ia merasakan tangannya sedikit teremas, dengan tidak percaya ia menatap tangannya dimana Minseok membalik memegang tangannya lemas dan cukup beberapa detik sebelum tangan itu kembali tak berdaya.

" Minseokie? Kau—"

Ada air mata yang mengalir dari pipi Minseok, ada air mata yang membasahi pipi Minseok. Air mata yang mengalir dari sela mata yang tengah tertutup oleh kelopak mata itu.

" Minseokie? Kau—tunggu disini! Aku akan membawa dokter Luhan, aku akan mencarinya!"

Lay memang bukan pelari yang cepat namun ia cukup bisa lari untuk suatu yang menurutnya harus segera ia laporkan pada Luhan. Dengan langkah yang tergesa-gesa Lay masuk ke ruang meeting.

" dokter Lu! Minseok—dia—dia sadar!"

" MWO?!"

" palli!"

Tanpa menunggu aba-aba Luhan berlari menuju ruangan Minseok, membiarkan para tamunya menatap kepergiannya bingung. Lay mencegat Zhoumi meminta menggantikan Luhan. Kyuhyun ikut berlari bersama Lay yang menyusul Luhan. Luhan kini sudah mulai menangis—

" Xiumin—kau dengar aku?"

Minseok, Xiuminnya belum terbangun namun tangan itu menggenggamnya erat dengan air mata yang membasahi pipinya.

" kenapa kau menangis eoh? Ya! Jangan menangis—tidurlah jika kau masih ingin tidur, aku akan selalu ada di sisimu. Disini masih menunggumu seberapa lama kau tertidur, aku tidak perduli asalkan kau tidak meninggalkanku. Jangan menangis—"

Kyuhyun melihat bagaimana anaknya menangis dalam tidurnya, ia juga bisa melihat anaknya menggenggam erat tangan Luhan meski beberapa saat. Ada harapan yang terbesit di dalam doanya, agar anaknya selalu dalam keadaan baik.

Luhan menangis namun tidak membiarkan Minseok menangis.

" lihatlah, aku tidak menangis. Jadi kau harus bahagia—"

Lay dan Kyuhyun menjadi saksi bagaimana Luhan memaksa wajahnya untuk tersenyum. Keduanya pun tidak luput untuk menitikkan air mata melihat bagaimana Luhan yang terus mencoba berbicara dan meminta Minseok menghentikan tangisnya. Hingga namja itu tidak kuat untuk terus menahan tangisnya dan keluar menangis di luar ruangan. Tangis yang tidak pernah Luhan perlihatkan pada siapapun kini terlihat begitu jelas di hadapan orang yang berlalu lalang di depan ruangan Minseok. Kyuhyun memberanikan dirinya untuk masuk mendekati Minseok.

" kau bisa melihatnya bukan? Sudah jangan menangis—Luhan bukan orang yang kuat untuk menerima ini, berhentilah membuat semua orang menghawatirkanmu! Berhentilah membuat orang lain sakit karnamu! Kau anakku, aku tau kau sama egoisnya denganku, tapi aku mohon jangan membuat orang lain menghawatirkanmu lagi—don't be a cild with full egoist! You khow ?I really wan't you be like this! It's enough!"

" L—Lu—han—"

Tidak disangka Minseok merespon ucapan Kyuhyun dengan menyebutkan nama Luhan, matanya mencoba untuk membiasakan cahaya matahari.

" Lu—Lu—ha—"

" Yixing! Panggilkan Luhan!"

Lay mengangguk, ia langsung berlari keluar ruangan dan menemui Luhan yang masih setia menangis di depan pintu.

" dokter! Minseok—dia memanggilmu!"

" mwo?"

" palli!"

Waktu berjalan begitu cepat, Luhan langsung berada di samping Kyuhyun yang sedang tersenyum menyambut anaknya.

" I am here"

Luhan dan Lay langsung memeriksa Minseok dengan seksama sebelum memastikan kesadaran Minseok sepenuhnya.

" Lu—"

" selamat datang—"

Minseok mencoba tersenyum, namun tidak lama senyum itu pudar. Ia tertidur kembali setelah mengatakan cinta dan agar Luhan menunggunya dengan bahagia.

" ne, aku akan menunggumu. Wo ai ni"

.

.

.

Suasana koridor sekolah menjadi sepi saat Tao dan Sehun turun dari mobil secara bersamaan. Kris membawa mobil sportnya pergi setelah menurunkan Tao di depan gerbang sekolah dengan aman begitu juga dengan Dio yang menurunkan Sehun hampir bersamaan dengan Tao.

" ada apa dengan sekolah ini?"

" entahlah—aku juga tidak begitu mengerti. Kajja, kita ulangan hari ini"

Sehun melangkah cuek merangkul Tao, keduanya memang sudah biasa melakukan skinship yang kadang menimbulkan bencana jika Kris ada di dekat mereka. Awalnya hanya untuk menggoda Kris namun lama kelamaan Sehun dan Tao merasa nyaman dengan skinship mereka. Bukan berarti mereka ada main di belakang pasangan mereka, karna mereka sama-sama tidak bisa hidup tanpa kekasih mereka. Seseorang menghadang langkah Sehun dan Tao, seorang yeoja manis dengan malu-malu memberikan bingkisan ke arah Sehun.

" untukmu—"

Tao menoleh pada Sehun yang menatap malas.

" aku harap aku bisa menggantikan Minseok sunbae—"

Mata Sehun menajam, tanda ia tidak menyukai kata-kata yeoja itu.

" Park Hanna! Aku sudah bilang, tidak ada siapapun yang bisa menggantikan Minseok noona di hatiku. Dan jangan pernah menyebutkan namanya dengan bibirmu itu!"

" Hun-ah"

Sehun menatap protes atas protesan Tao.

Ya sebelumnya seluruh isi sekolah pasti mengetahui bagaimana Sehun menjadi pengikut seorang Minseok, bahkan kadang ada desas-desus yang mengatakan Sehun sudah menikahi yeoja mungil itu. Mereka tidak begitu memperhitungkan kedatangan Luhan yang memisahkan Sehun dan Minseok, dan bagi Sehun—Minseok adalah noona yang paling ia sayangi berbeda dengan orang yang ia cintai.

" Hanna-ssi, lebih baik kau jangan melakukan ini lagi—Sehun akan sangat tidak menyukainya"

Hanna menatap tajam pada Tao.

" tsk, yeoja tomboy macam dirimu jangan pernah menceramahiku macam-macam! Justru harusnya kau yang enyah dari samping Sehun, bukan aku—"

" kalau aku memegang shortgun, aku akan pastikan kau mati detik ini juga Park Hanna. Kajja Tao"

Ucapan dingin dari Sehun membuat Hana melebarkan matanya.

Yeoja itu benar-benar terobsesi pada seorang Sehun sejak ia berada di sekolah yang sama dengan namja berambut pink itu. Dulu ia tidak bisa berkata apa-apa saat Sehun mengejar Minseok karna ia merasakan kalah saingan dengan Minseok yang baik dan manis, sekarang? Dia senang karena memiliki kesempatan untuk menjadikan Sehun kekasihnya mengingat Sehun sudah tidak bisa mengumbar kemesraan dengan Minseok yang sudah lulus 1 tahun lalu. Saingan terkuat Hanna adalah Huang Zitao, seorang yeoja yang tidak pernah lepas dari Sehun. Baik sebelum dan sesudah Minseok pergi—

" aku akan mendapatkanmu Oh Sehun!"

Desisnya.

.

.

Tao mempoutkan bibirnya saat Sehun membelikan ice cream kecil sebagai imbalan telah mengerjakan PR milik Sehun.

" Kris hyung yang mengatakan kau tidak boleh makan ice terlalu banyak"

" tapikan dia tidak ada disini! Kau saja yang pelit!"

" tsk, manisnya panda ini"

" Kyaaa!"

Sehun dan Tao selalu membuat gaduh suasana makan siang. Keduanya memang bercampur dengan semua namja yang ada dikelas mereka.

" aku mau—"

Tao menunjuk ayam goreng di bekal Sehun.

" kau ini! Makanya belajarlah masak yang benar—"

Sehun menyuapi Tao beberapa irisan ayam goreng di bekalnya membuat teman-temannya menyurakinya. Seperti biasanya mereka akan makan di kelas bersama anak-anak yang lainnya. Tao sangat dekat dengan para murid namja di kelasnya namun tidak bisa dekat dengan murid yeoja yang selalu mengatakan hal-hal yang tidak jelas tentang Tao.

" aigo~manisnya baby panda ini"

Puji Gongchan saat melihat Tao memakan makanan yang ada di hadapannya.

" ini makanan apa? Kenapa aneh?"

Gongchan tertawa sambil sesekali menerangkan apa yang menjadi menu makan siangnya pada Tao, ia sangat senang melihat ekspresi aneh yang Tao keluarkan saat mendapati hal aneh dalam mulutnya. Mereka tertawa bersama menertawai Tao yang tampak imut dimata mereka. Siapapun namja akan selalu senang melakukan skinship bersama dengan Tao, entah itu dia pendiam atau berandalan sekalipun. Bagi namja yang kenal atau tidak kenal Tao, semuanya menyukai tingkah Tao dalam waktu singkat.

" Huangzi, kapan kau main ke rumahku? Eomaku sangat menyukaimu—"

" yah benar, saat aku ke rumah Dongho untuk bermain—eoma Dongho mengatakan sangat menyukaimu yang mengacak-acak dapur kesayangannya"

" huhuhu—aku jadi malu"

Tao menutup wajahnya saat mendengar ucapan tambahan dari Jun.

" oh ya! Bagaimana kalau kau latihan dengan mommyku saja?"

Ucap namja yang memiliki aksen korea yang aneh.

" Oh! Iya benar! Mommy Elvin adalah yang terbaik untuk kegiatan masak-masak! Daddynya pun tidak kalah…aku jadi ingin mencobanya—"

" bagaimana kalau hari ini kita nongkrong di rumah Elvin!?"

" Yoosh!1"

Teriakan Dongho dan Gongchan membuat semua anak-anak tersenyum senang.
Mereka kembali memakan makanan yang mereka bawa dari rumah bersama dengan Sehun dan Tao. Tao memang selalu membawa bekal makanan yang Kris selalu sempatkan untuk membuatkannya untuk Tao. Memang sangat sederhana, dengan telur gulung atau mie namun Kris selalu menyiapkan untuk Tao sebelum ia mengantar Tao ke sekolah. Dan mulai dari beberapa hari yang lalu Tao belajar memasak hingga ia membuatkan bekal untuk Kris tadi pagi.

" anu—kau yakin memberikan ini pada orang lain?"

Tanya Jun setelah mencicipi makanan yang ada di kotak makanan Tao. Tao mengangguk.

" ini sangat pahit dan asin, kau menambahi apa saja?"

Komentar Sungjin membuat mata Tao membulat.

Sungjin? Namja itu sudah masuk menjadi murid pindahan saat sebelum liburan semester baru untuk kelas 2 yang naik ke kelas tiga, dan sekarang dia satu kelas dengan Tao. Sehun mencomot sedikit sayuran yang ada di boks milik Tao dan menunjukkan ekspresi aneh miliknya.

" pantas saja kau meminta milikku, benar-benar produk gagal! Ini bukannya yang kemarin kau minta ajari Kyungie?"

" hueeee—Kris gege!"

Tao langsung meraih phonselnya untuk menelfon seseorang.

" ini mengerikan—"

Ucap Sehun.

Sehun membayangkan wajah Kris yang kaget saat merasakan masakan hancur Tao,dan imajinasinya itu membuat ia tertawa. Membuat semua anak-anak yang ada disana menatapnya bingung.

" apa masakan Tao membuatnya gila?"

Karna penasaran mereka mencicipi makanan di boks milik Tao, dan saat melihat ekspresi teman lain yang mencicipinya mereka tertawa.

" hahahahaa—"

Para yeoja yang melihat bagaimana murid namja di kelasnya tertawa setelah mencicipi makanan di boks milik Tao menatap bingung. Dengan percaya diri Hanna mendekati sekumpulan namja yang tengah tertawa terpingkal-pingkal namun berhenti saat ia ada disana. Hanna melihat Yuta yang sedang mencoba mengambil sesendok makanan dari boks di depan Hanna. Tidak perduli protesan dari Yuta karena sendok miliknya di ambil paksa, Hanna menyuap makanan yang ia ambil dari boks milik Tao.

1

2

3

Melihat perubahan wajah cantik Hanna, sekumpulan namja itu mencoba menutup mulutnya dengan senyum yang mengembang di wajahnya. Namun kediaman mereka tidak membutuhkan waktu yang lama karena tawa itu meledak begitu hebatnya saat melihat wajah absurd yang Hanna pertunjukkan di depan mereka.

" hahahaahhahahahahahahaha wajahmu jelek sekali hahhahaha"

Ucapan Gongchan membuat Hanna menatap tajam pada namja yang kini sedang memegangi perutnya karna tidak bisa menahan tawanya.

" makanan apa ini?! Cih bahkan makanan milikku masih lebih berkelas dari pada milik yeoja tomboy itu!"

Tidak ada yang memperhatikan Hanna, membuat yeoja itu membuang makanan milik Tao ke tempat sampah dan sukses membuat semua namja disana terdiam.

" KAU!?"

Hanna kaget saat melihat Sehun menatapnya dengan tatapan marah.

" bukankah makanan ini tidak layak dimakan? Oh Sehunie, kau harus ke UKS meminta obat sakit perut sebelum racun di makanan ini membuatmu sakit pe—"

Sehun melangkah mendekati Hanna.

" aku tidak pernah ingin berurusan dengan wanita, namun kali ini aku benar-benar ingin membunuhmu"

Desis Sehun.

" Se—"

" atas dasar apa kau mengganggu kami? Atas dasar apa kau membuang makanan orang lain?"

" harusnya kalian berterima kasih pada Hanna! Dia yang menyelamatkan kalian dari makanan mengerikan milik Huang Zitao!"

Bela Hyejin.

Mereka semua memberikan tatapan mematikan yang mereka miliki pada dua yeoja yang mengganggu mereka tanpa alasan.

" kalian lebih mengerikan dari pada makanan yang kalian buang"

Mata Hyejin dan Hanna menatap tidak percaya Sehun yang sudah ditarik untuk kembali duduk di bangkunya oleh Dongho dan Sungjin. Saat keheningan tercipta Tao muncul sambil menangis langsung memeluk Sehun—

" Hueeee—"

" waeyo?"

" Kris gege! Dia mengatakan makananku mengerikan dan membuat seisi kantor menertawainya—hueee dia—dia menjeaskannya sambil tertawa. Katanya Suho-ge dan Onew-ge sangat jelek saat memakan makanan itu hueeeee—eotthokke? Dia membagikan makanan itu di kantornya"

Wajah kesal dan kaget Sehun berubah menjadi wajah yang menahan tawa, ia bahkan tidak bisa menahan tawanya kala membayangkan wajah Kris yang so cool itu menertawai Suho yang memiliki ekspresi aneh jika kaget atau ekspresi Onew yang akan menghilangkan matanya.

" hahahaha—"

" Hunie! Kau juga jangan ketawa!"

" hahahaha ekspresi mereka—aku jadi ingin melihatnya"

Semua menatap Sehun ingin tau. Sehun memberikan phonselnya dan mencarikan foto dimana ada Suho, Kris, dan onew pada Sungjin.

" bayangkan ekspresi mereka sama seperti ekspresi kita tadi hahahahahaa"

" Hunieee aku sedang sedih hueeeeeee"

Rengekan Tao terabaikan dengan tawa teman-teman namjanya yang mulai berimajinasi tentang bagaimana orang-orang di foto tertawa dan berekspresi.

" aku benci kalian semuaaaaa"

" kami mencintaimu panda!"

" hueeeee"

.

.

.

Sehun memasuki rumah dan mendapati Dio sendang memasak untuk makan malam.

" aku pulang—"

" kau telat, Hun-ah"

" kkk—kau harus tau apa yang terjadi pada resep masakan yang kau berikan pada Tao saat panda itu mencoba membuatnya"

" eh?"

Sehun pamit untuk mandi, tidak lama namja itu turun dan memeluk Dio yang sedang merapikan piring untuk makan malam mereka berdua.

" apa mommy pergi?"

" yah, dia bilang tidak akan pulang dalam waktu yang lama bersama dengan Daddy. Ya kau belum menceritakan kenapa kau pulang malam eoh?"

Nada itu terasa begitu menyenangkan untuk Sehun.

" Tao membuat kami tertawa terbahak-bahak karena membayangkan ekspresi Kris hyung dkk. Makanan itu benar-benar sukses membuat kami sakit perut melihat ekspresi yang memakannya"

" memang ada apa?"

" sangat pahit dan aku kira dia salah mengambil madu menjadi sari lemon, sungguh itu amazing sekali"

" kau ini—jangan senang menertawai Tao begitu, kalau Kris-ssi dengar kau akan menerima sedikitnya 2 peluru di kepalamu"

" tentu saja, istriku yang cantik ini tidak akan mengijinkan naga bodoh itu menyakiti suaminya tersayang, iyakan?"

Dio hanya menggeleng, Sehun benar-benar suka sekali menggodanya.

" apa ada kabar dari Appa?"

" dia bilang sudah membangun toko ramen di toko yang semula dijadikan gudang senjata. Walau aku yakin appa masih suka membuat senjata. Aku juga sudah memesan satu yang tercanggih—"

" Yaa—untuk apa?"

Protes Sehun hanya ditanggapi oleh tawa kecil Dio. Dio mengambilkan makanan kesukaan Sehun dan memberikannya pada namja yang kini sedang sibuk memandanginya masih protes dengan senjata yang Dio pesan dari appanya.

" tenang saja, tidak untuk membunuhmu kok. Hanya kemarin Kris-ssi bilang dia sedang membutuhkan senjata jadi aku memesannya pada appa. Oh ya, kata Lay-jie –Minseokie sempat sadar tadi siang"

" Eh?"

Dio mengangguk.

" tapi hanya beberapa menit setelah ia mengatakan bahwa ia mencintai Dr Luhan dan memintanya untuk menunggunya…aku tidak bisa membayangkan bagaimana keadaan Dokter itu sekarang"

Sehun terdiam.
Namja itu menyuap makanannya dengan tenang sambil tersenyum.

" dia melakukan banyak hal untuk noona, aku benar bukan memberikan noona pada namja itu?"

Tanya Sehun.

Dio mengerti jika Sehun adalah Minseok complex yang akan menempel pada yeoja itu terus-terusan, yeoja itu tidak marah pada suaminya yang masih mengidap penyakit menular itu. Bahkan ia mendukungnya. Sekedar untuk menghibur Sehun yang kehilangan Minseok sejak kejadian menegangkan di kapal itu.

" tentu saja!"

Dio memandangi Sehun yang sedang menikmati makan malamnya dengan lahap, sesekali mengambil minum untuk mendorong makanan di mulutnya masuk memenuhi perutnya. Dio menngunyah beberapa buah-buahan yang ia potong-potong untuk menjadi makan malamnya, entah mengapa ia tidak nafsu untuk memakan makanan lain. Dan tentunya Sehun sudah memaksanya untuk sesekali makan kabohidrat dan protein selain vitamin yang ada di buah-buahan yang ia makan. Melirik ke benda kotak yang ada di samping kanan tangan Sehun, phonsel kesayangan Sehun bergetar pelan.

" ada panggilan—"

Sehun melirik sekilas, lalu mengabaikan panggilan yang masuk ke phonselnya. Dio menggeleng dan meraih phonsel itu, ia tau Sehun memiliki banyak alasan untuk tidak mengangkat panggilan saat mereka sedang bersama. Menghindari panggilan mendadak dari Kris atau Luhan, itulah yang sering terjadi dan Dio sangat hafal wajah masam Sehun setelah mengangkat panggilan dari mereka.

" yeo—"

" Kau Huang Zitao! Jangan pernah menganggap aku akan melepaskanmu setelah kau membuat aku menjadi bahan tertawaan anak-anak sekelas. Dan jangan harap aku akan memberikan Oh Sehun padamu!"

" yeoboseo?"

" Dengar panda! Aku tidak perduli kau memiliki keahlian beladiri atau apapun, besok sepulang sekolah aku akan mengalahkanmu dan merebut Sehun darimu! Camkan itu!"

'PIP'
Dio memiringkan kepalanya.

" siapa?"

" entahlah, seorang yeoja yang mengatakan agar Tao tidak berharap dia melepaskanmu setelah membuatnya menjadi bahan tertawaan. Dia menantang Tao besok setelah pulang sekolah—apa kau tau siapa?"

Sehun mengerutkan keningnya lalu menikmati coklat yang ada di hadapannya.

" Tao dalam masalah—"

" Ya!kau harus mengatakannya padaku—siapa yeoja itu dan kenapa dia menantang Tao untuk memperebutkanmu?"

Jelas sekali ada rona khawatir dan cemburu di ekspresi wajah Dio, dan Sehun malah tersenyum memandangi rona yang jarang sekali ia dapatkan dari Dio.

" kau cemburu?"

" Ya! Aku kan istrimu—dan lagi—siapa dia?"

Sehun mengangkat bahunya setelah mencium Dio sekilas.

" jangan cemburu pada orang lain, karena sainganmu hanya Minseok noona dan Tao. Dia hanya satu dari yeoja yang terobsesi padaku. Sebenarnya secara tidak sadar dia adalah musuh Tao, tapi berhubung Tao memang rada kurang daya tangkapnya tentang hal macam seperti itu jadi dia hanya menjadi bayang-bayang untuk Tao yang bocah itu sendiri tidak menyadarinya. Dan aku sudah menjelaskan bagaimana aku di sekolahku bukan? Banyak siswa di sekolahku yang mengaitkan aku dan Tao berkencan, tapi kalau aku pikir melihat kedekatan kita sih—itu bukan kencan, tapi lebih tepat aku menjadi bodyguard yang Kris hyung sewa untuk mengawal pandanya. Kau setujukan?"

Dio terkekeh.

" lalu bagaimana dengan tantangan itu? Dan kenapa dia menghubungimu?"

" tadi aku dan yang lain sudah menemaninya latihan bersama ibunya Elvin, yah—tidak begitu bisa di harapkan sih tapi aku yakin dia bisa. Kenapa dia menghubungiku? Kau tau bagaimana overprotektifnya seorang Wu Yi Fan terhadap Tao bukan? Nah—di sekolah yang tau nomor phonsel Tao hanya aku—dan semua nomor atas nama Tao adalah fake, alias nomor milikku. Beruntung aku memiliki dual SIM kkk"

" aneh sekali—"

" Kris hyung tidak ingin anak pandanya itu jatuh pada anjing-anjing liar. Begitu katanya"

Bisa dibayangkan bagaimana Kris menjadi orang lain saat itu bersama dengan Tao. Dio menggeleng sedikit ngeri. Pasangan itu lalu membicarakan hal-hal lain yang membuat suasana menjadi ramai dan begitu hangat. Sehun memberikan perhatian ke pada Dio dan mendengarkan apa yang Dio katakan sambil mengerjakan PR yang tentunya bisa ia kerjakan dengan mudah.

Pagi hari Dio mengantar Sehun ke sekolah, ia mengangguk pada Kris yang sepertinya kerepotan dengan Tao yang masih ingin tidur.

" jaga Taoku"

Ucapan rutin yang selalu Kris berikan pada Sehun membuat Dio terkekeh. Cemburu? Dio harus berpikir ulang jika ingin cemburu pada Tao, baginya sangat percumah. Cemburu pada Tao sama saja cemburu pada adik bayi dari Sehun. Karena bagi Sehun, Tao adalah bayi berumur 4 tahun yang harus dijaga—dan lagi Tao memang senang menempel pada siapapun jadi tidak ada alasan untuk Dio cemburu. Dio meninggalkan area sekolah bersamaan dengan mobil Kris yang mendahuluinya membiarkan Sehun dan Tao yang setengah tertidur.

"Ya! Putri tidur? Kau ini—"

Tao menunjukkan muka memelasnya pada Sehun.

" gendong—"

" aigo~ kalau bukan karna kau adalah temanku sudah ku buang kau jauh-jauh!"

" Sehun-aaah"

Sehun langsung membukuk dan menggendong Tao ke kelasnya. Sehun tidak akan pernah menolak apa yang Tao inginkan selama itu rasional. Bagi Sehun, Tao adalah adik bayinya yang benar-benar ia cintai. Sehun pun tidak akan melupakan apa yang Tao lakukan saat kejadian di kapal, namja itu ingat dengan jelas bagaimana Tao merelakan tangannya tertusuk pisau untuk menyelamatkan Dio. Atau bagaimana Tao harus mengalami cedera yang cukup parah pada bahu kanannya setelah berusaha menahan patahan tiang yang akan menghantam Sehun, dimana namja itu tengah menghawatirkan Dio yang terkena patahan di kepalanya. Sehun ingat itu semua, dimana Tao rela mengorbankan dirinya untuk membantu agar Sehun bisa menyelamatkan Dio.

" apa tidur kalian tidak cukup hingga Tao harus kau gendong?"

" yah beginilah nasibku—mungkin aku terlalu keras padanya kfufufufufu"

Ucap Sehun, membalas kata-kata yang Sungjin katakan.

" hahahaha—"

Keduanya tertawa sambil memasuki kelas dan menyapa yang lain.

" hey bro! kenapa lagi istrimu?"

" dia kelelahan—sepertinya kami menghabiskan malam yang sangat panjang tadi malam kkkk"

Bagi Hanna, gurauan Sehun merupakan kenyataan. Dan saat melihat Sehun meletakkan Tao dengan hati-hati dibangku yang berada di samping Sehun, membuat hati Hanna merasa terbakar. Tao sudah sadar saat guru datang meski sedikit menguap namun panda itu tetap mengikuti pelajaran sejarah yang membosankan dengan banyak bertanya dengan pertanyaan kecil yang terlihat konyol namun sejatinya memiliki jawaban yang panjang dengan kebenaran yang hampir 80%. Sepulang sekolah Sehun dan teman-temannya membawa Tao ke ruang masak—dimana Hanna sudah menunggunya dengan Hyejin.

" Hun-ah, apa nanti tidak gagal?"

" tidak akan! Percayalah—bayangkan jika Kris hyung yang akan memakannya. Jadi tunjukkan kemampuanmu!"

" Kris gege?!"

Mendengar nama Kris, wajah Tao memerah dan dengan semangat ia tersenyum.

" kau harus menang Taozie"

Bisik Sehun, bisikan yang di buat menyerupai suara Kris membuat Tao memeluk Sehun erat dan mencium pipinya sebelum ia maju ke dapur tempat anak-anak yang memiliki ekstrakulikuler memasak melakukan praktikum. Banyak alat-alat yang membuat Tao memiringkan keningnya. Seorang yeoja maju, ia adalah seorang ketua klub memasak—Joo Kwanhee.

" senang bertemu dengan kalian semua. Saya Joo Kwanhee akan membawa anda pada pertandingan menegangkan yang akan mempertemukan Miss sekolah ini ( Park Hanna ) dan Legend of wushu ( Huang Zitao )—"

Dan entah apa yang ia katakan, semua tidak begitu memperhatikan. Penonton sibuk memperhatikan dua orang yang sedang bersiap untuk bertanding. Hanna tampil elegan dengan pakaian memasak yang terlihat begitu angkuh dan terampil memainkan pisau, sedangkan Tao? Dia masih bingung dengan apa yang harus ia lakukan setelah mengenakan apron. Ada dua layar besar yang menampilkan pertandingan tersebut. Pertandingan memasak itu bertema bebas, dan tidak begitu specific dengan bahan-bahan yang sudah di sediakan oleh juri yang merupakan guru dan beberapa juara lomba memasak tingkat nasional.

" eotthokke? Yang—eumm—Kris gege suka apa saja yang Tao buat—bagaimana ini?"

Tao hanya mengetuk-ngetukkan pisaunya di beberapa bahan, ia mengingat-ingat makanan kesukaan Kris. Ia tersenyum saat melihat Sehun yang menyemangatinya seraya membisikkan 'apa saja yang penting Tao yang membuat, Kris akan menerimanya dengan senang hati dan tidak akan membagikannya pada orang lain' kata itu sukses membuat Tao mengangguk semangat. Tao mengingat apa saja yang pernah ia pelajari dari mommy Elvin.

.

.

Kris yang baru saja memasuki kantin kantor kepolisian duduk bersama Suho yang memberinya segelas kopi.

" aku dengar Minseok sudah sadar kemarin? Apa benar?"

" Lay mengabariku—katanya benar, dan Brounli—dia meminta padaku agar aku dan Luhan tetap menyelamatkan Minseok apapun caranya"

Onew menyesap kopinya.

" bagaimana bisa penjahat itu menghawatirkan kekasih dokter Xi?"

" yang aku dengar darinya sih, Minseok menyelamatkan hidupnya hingga dua kali saat kejadian itu. Dan untuk detailnya dia tidak ingin berbicara sebelum mendengar Minseok sadar"

Tambah Suho. Kibum yang sudah duduk di antara Suho dan Onew memiringkan kepalanya.

" aku jadi penasaran dengan yeoja bernama Minseok itu—"

" selain dia adalah orang terpolos akut kau tidak akan menemukan hal special lain dalam dirinya—kecuali kau Luhan, baru kau akan mendapatkan hal special itu. Selebihnya dia hanya gadis biasa"

Ucapan dingin Kris membuat Kibum dan yang lainnya mengangguk.

Suara siaran TV membuat ruangan kantin gaduh, banyak anggota polisi yang berkomentar tidak jelas membuat Kris sedikit kesal. Suho menyenggol lengan Kris agar Kris ikut mendengarkan apa yang sedang disiarkan langsung di salah satu TV swasta. Dimana sebuah pertandingan memasak dilakukan oleh seorang model cantik dengan seorang yeoja yang terlihat biasa-biasa saja disuatu sekolah demi memperebutkan ketenaran.

" Park Hanna! Aku yakin dia akan menang!"

Ucapan beberapa anggota polisi membuat tanduk Kris seakan ingin keluar.

" yeoja bernama Huang Zitao itu bodoh sekali, memegang pisau saja dia tidak bisa—lihatlah Hanna-ssi yang manis!"

Suho dan Onew meringis melihat ekspresi Kris yang terlihat ingin membunuh seseorang. Sedangkan Kibum? Yeoja itu mengerutkan keningnya melihat ekspresi aneh dari rekan-rekannya.

" oh! Lihatlah wajah aneh Huang-ssi! Dia bahkan terlihat familiar dengan wajah yang hampir menangis! Hahahaha dia akan kalah—"

" PANDA! Ya hahaha seharusnya ia kembali saja ke kandangnya dan menyusu pada ibunya! Hahahaha"

'BRAK!'

" inspektur Wu! Kajja kita ke sekolah Tao agassi! Aku tidak sabar mencicipi masakannya kkk"

Seorang namja paruh baya dengan pangkat komisaris polisi itu membuat seisi kantin membulatkan matanya tidak percaya ke arah Kris. Kris berdiri dari tempat duduknya dan melangkah menyambut Komisaris Lee yang menunggunya dengan wajah berbinar.

" panda manismu terlihat sangat imut di depan kamera, apa kau melihatnya? Hangeng hyung pasti sedang melihatnya di TV"

Onew dan Suho langsung mengekor di belakang Kris bersama dengan Kibum.

" mati kalian semua—inspektur Kris akan sangat senang memindahkan kalian ke daerah perbatasan. Dan komisaris Lee Donghae akan selalu mendukungnya, makanya aku sarankan agar kalian segera meminta maaf pada panda manis yang kalian remehkan sebelum kedutaan cina meminta eksekusi atas kalian setelah mengetahui seorang anggota kepolisian kebagaan mereka yang memiliki gelar inspektur dalam umur yang relative muda dihina. Plus jangan lupakan kekuasaan Jendral Wu Si Won dan Diplomat Huang Hangeng"

Ucapan Suho makin membuat anggota kepolisian yang tadi sempat membicarakan Tao kalang kabut. Bagaimanapun mereka tau siapa Lee Donghae, Wu Si Won dan Huang Hangeng. Nama mereka sangat terkenal dijajaran kepolisian Cina, Korea, Jepang. Mereka serentak mengikuti langkah Suho dkk untuk sesegera mungkin meminta maaf atas perkataannya terhadap Tao secara langsung.
Kris tiba 10 menit sebelum acara usai, ia bisa melihat Tao sedang mondar-mandir di depan oven saat ia datang. Sehun melambai pada Kris agar namja itu mendekat ke arahnya.

" Tao-ah! Jiayoo!"

Teriakan Sehun membuat Tao menoleh ke arah Sehun. Dan wajah khawatir Tao berubah menjadi penuh semangat saat melihat wajah kalem Kris yang mengacungkan jempolnya ke arah Tao. Kris bisa melihat bagaimana semangat Tao mengacak-acak dapur dengan tepung dan segala macam bahan yang ada disana. Suasana ruangan menjadi sesak saat beberapa anggota kepolisian masuk ke ruangan, beruntung mereka memakai pakaian bebas jadi tidak begitu ketara. Ahirnya saat penjurian tiba, Kris harus merelakan Sehun mendekati Tao dan merangkul panda kesayangannya. Ini sekolah, dan Kris cukup tau itu—banyak komentar pedas yang tertuju pada Tao yang mengacak-acak dapur dengan tepung. Bahkan banyak tepung yang menempel di tubuh dan rambut Tao. Untuk rasa masakan Tao dan Hanna mereka melakukan dengan adil memberi nilai yang lumayan—Tao kalah di rasa karena menggunakan rasa khas cina yang sedikit asing di lidah orang korea dan hiasan yang Tao gunakan lebih kekanak-kanakan dengan menggunakan motif kepala panda. Sedangkan milik Hanna? Dengan sentuhan elegant dan cita rasa restoran internasional Hanna mendapatkan nilai sempurna.

" Pemenangnya—Park—"

" changkaman!"

Seorang yeoja masuk ke ruangan sambil membawa beberapa bungkusan.

" aku rasa terjadi kecurangan—"

" apa maksudmu!?"

Tanya Hanna.

Yeoja bernama Shin Hyoseok itu mengangkat bungkusan makanan berlabel dan bergambar persis seperti apa yang ada di meja milik Hanna. Ia memperlihatkan struck yang ia bawa ke juri.

" aku tidak tau—bagaimana dia menggunakan masakan dari koki tempatku berkerja sebagai hasil karyanya"

" Ya! Kau jangan menipu!"

" aku tidak memiliki kepentingan disini! Yang aku mau hanya kau menggunakan resep masakan dan hasil karyamu sendiri untuk pertandingan. Hey juri! Apa kalian tidak aneh? Kalian tidak menyediakan daging kualitas import tapi ada di makanan yang tersaji dari Hanna? Hanna-ssi, kami bisa menuntutmu dengan tindak pidana pemalsuan. Terlebih kau salah menggunakan menu yang sudah kami patenkan untuk menjadi hasil karyamu—harusnya kau sedikit lebih teliti jika ingin licik"

Hyoseok berjalan menjauh meninggalkan struck pembelian pada cameramen yang langsung meng-closeup barang bukti itu. Para juri langsung menurunkan topi kebanggaannya dan mendekati Tao.

" mianhe, kami tidak bisa menyelenggarakan pertandingan ini secara adil. Kami kecolongan—"

" tidak apa, Tao juga tidak niat bertanding. Ia kan Hunnie?"

Sehun mengangguk memeluk Tao seenaknya menikmati pandangan mematikan dari seorang Kris. Hanna langsung membanting hasil karyanya dan pergi bersama Hyejin membiarkan Tao dirubungi oleh orang-orang.

" good job!"

" gege~~"

Seperti anak panda yang biasa, Tao langsung memeluk Kris semangat.

.

.

.

Daehyun mematikan TV yang ia tonton dan membaca koran yang ada di sampingnya.

" bukankah itu sekolahmu?"

" ne hyung! Kau harusnya juga melihatnya kkkk—ya sudah ya aku harus pergi ke sekolah. Hyung? Kau jadi ke Beijing?"

" sepertinya akan ada konfrensi tetang bukuku. Aku juga berniat menjenguk Luhan-ssi"

" titip salam untuk mereka hyung! Aku berangkat"

" hati-hati"

Saat suara apartemen terkunci sesosok cantik muncul di hadapan Daehyun.

" Minseok-ssi? Kau?"

Sosok itu Minseok.
Minseok tersenyum manis dengan wajah pucat pasi.

" benar—kau bisa melihatku?"

" maksud—mu?"

Minseok duduk di bangku bekas Sungjin duduk, ia menundukkan kepala bingung dengan apa yang ingin ia katakan pada namja yang kini menatapnya tidak percaya.

" entahlah—aku—aku belum bisa kembali ke tubuhku—aku bingung harus meminta tolong siapa. Mereka semua tidak melihatku, bahkan Lulu pun tidak melihatku"

" lalu kenapa kau kemari?"

Minseok menggeleng.

" aku tidak tau—aku hanya merindukan tempat-tempat dimana Lulu selalu mengajakku dan kebetulan kau melihatku. Benar kau melihatku?"

Pertanyaan imut dari Minseok itu membuat Daehyun kaget, bagaimanapun ia tidak menyangka jika yeoja yang pernah ia tolong kini berada di hadapannya dengan wujud lain.

" Minseok-ssi, kau—?"

Daehyun menatap tidak percaya pada penglihatannya, Minseok terlihat sama seperti saat ia bertemu dengannya terahir kali. Meski kini wajah dan tampilan Minseok sedikit pucat namun Daehyun masih bisa mengenali wajah polos Minseok.

" kenapa oppa bisa melihatku? Padahal mereka mengacuhkanku—hiks"

Minseok menangis dengan memeluk lututnya.
Pintu apartemen terbuka menampilkan Sungjin yang berlari ke samping Daehyun.

" hyung? Kau kenapa?"

Daehyun menatap Sungjin kaget, ia menggeleng menunjuk sesuatu yang dongsaengnya ambil.

" oh! Aku lupa membawanya jadi aku kembali untuk mengambilnya. Ini box kesukaan Minseok noona. Kata Tao, besok gegenya ingin menemuinya jadi aku menitipkannya pada gegenya. Kalau aku menitipkan padamu aku yakin orang-orang crew film mu akan membuangnya"

" oh~"

" hyung! Kalau kau mampir ke tempat Luhan hyung, temuilah Minseok noona. Tao bilang ia sedang koma sejak kejadian kapal 5 atau 6 bulan lalu, yang aku dengar ia sempat sadar tapi sekarang ia masih koma"

" ko—koma?"

Sungjin mengangguk, ia menoleh pada jam tangannya.

" gawat! Aku telat hyung! Aku pergi!"

Daehyun menatap Minseok yang kini mematung menatapnya. Memang benar semenjak kejadian pembajakan kapal Daehyun tidak pernah melihat Minseok kembali, biasanya hampir setiap minggu Minseok selalu ke apartemen yang sekarang telah dihuni oleh Daehyun dan Sungjin. Sekedar untuk main atau bertanya tentang keberadaan/keadaan Luhan. Daehyun menatap yeoja yang kini menatapnya tidak percaya.

" jadi—jadi aku hantu?"

Namja tampan itu tidak bisa menjelaskan apa yang tengah terjadi, karna baginya ini memang tidak bisa di katakan wajar. Daehyun sejak kecil memang bisa melihat dan berkomunikasi dengan hal gaib, namun ia tidak pernah menyangka ia benar-benar bisa berkomunikasi dengan arwah. Hey—ini jaman modern! Dan arwah segala macam hanya ada di jaman yang sudah berlalu, meskipun pada dasarnya banyak orang yang bisa berkomunikasi dengan hal semacam itu contohnya Daehyun.

" bukan—aku yakin kau bukan hantu, kau hanya arwah yang sedang berkelana—"

Minseok menatap bingung pada Daehyun.

" appaku adalah seorang pendeta, aku sering melihatnya berkomunikasi dengan arwah penasaran yang memintanya membantu menyelesaikan masalah sewaktu ia masih hidup. Akupun—kadang membantunya, tapi aneh—bisasanya arwah-arwah penasaran tidak pernah bisa mendekatiku. Tapi kenapa kau bisa? Lihatlah arwah-arwah di sekeliling rumah ini, mereka tidak bisa mendekatiku dengan jarak kurang dari 10 meter—"

Tanya Daehyun.
Benar adanya jika mulai banyak hantu yang terlihat di manik hitam Minseok yang membuatnya berjengit dan mendekati Daehyun.

" oppa~ mereka siapa?"

" sama sepertimu"

" oppa~ aku takut hiks"

Daehyun mengerutkan keningnya.
Minseok bisa memegang tubuhnya dengan erat—

" Minseok-ssi"

" hiks?"

" kau bisa menyentuhku?"

Minseok mengarahkan pandangannya pada Daehyun yang kemudian terarah pada tangannya yang mempererat pegangannya pada lengan Daehyun yang kini berdiri.

" harusnya bagaimana?"

Pertanyaan imut dari Minseok membuat Daehyun semakin bingung. Tidak ada yang bisa mereka obrolkan saat seorang menelfon Daehyun dan meminta Daehyun untuk segera berbenah.
Minseok dengan setia mengikuti Daehyun kemanapun aktifitas namja tampan itu, baik saat syuting film atau pemotretan.
Tepat pukul 15.00 waktu setempat, Daehyun dan Minseok tiba di Beijing. Staff mengumumkan jika hingga besok pagi mereka free dan meminta agar bisa beristirahat. Daehyun menatap Minseok yang mengerutkan keningnya—

" aku ingin ke tempat Luhan-ssi, apa kau tau dimana ia berada?"

Minseok mengangguk.
Setelah menggunakan mobil sewaan Daehyun melesat melewati keramaian jalanan di Beijing menuju sebuah rumah sakit ternama di dataran cina itu. Sebuah rumah sakit megah dengan fasilitas yang tidak terelakkan teknologi terpampang jelas di hadapan Daehyun. Sedikit ia membenarkan topi yang ia pakai setelah melihat para wartawan yang sedang mengantri di depan gedung.

" tuan Chou apakah yang bisa anda jelaskan tentang perselisihan anda dengan dokter Xi?"

" aku akan membawanya ke meja hukum. Dia sudah semena-mena memukulku, dan juga bersekongkol dengan reporter dari Korea untuk memojokkanku. Aku akan menunjukkan beberapa bukti tentang penggelapan dana yang dokter Xi lakukan, seenaknya saja dia mengeluarkanku dari rumah sakit ini!"

Daehyun menggelengkan kepalanya menelusuri lorong menuju tempat resepsionis.

" can you help me? Where is doctor Luhan rooms?"

" do you have planed with him?"

Daehyun menggeleng.

" katakan padanya jika kau ingin membicarakan tentang Kim Minseok, aku yakin Lulu akan mengerti"

Ucap Minseok.

" eum—we must talking about Kim Minseok"

" oh—if about miss Kim, you can find him in room number 637"

" thanks"

Daehyun mencari nomor ruangan yang disebutkan oleh salah satu resepsionis lewat peta rumah sakit. Setelah menaiki lift hingga 6 lantai ia menemukan sebuah ruangan VVIP dengan nomor 637. Saat tiba di ruangan itu Daehyun disuguhi pemandangan dimana Luhan sedang mengusap lembut seorang yeoja yang tengah berbaring di ruangan penuh dengan alat alat yang dibatasi sekat kaca dengan tempat Daehyun berdiri. Kyuhyun masih memeluk Sungmin yang menenggelamkan wajahnya di dada bidang Kyuhyun.

" hiks—mama—papa—Lulu"

Bisik Minseok.
Daehyun hanya bisa menoleh, saat melihat air mata Minseok mulai membasahi pipi cubbynya. Tidak mungkin kan ia akan memarahi yeoja itu di hadapan orang tuanya dan Luhan?

" apa dia tidak ingin bangun? Apa anakku tidak ingin sadar?"

" tenanglah, Ming. Minni pasti akan bangun"

Suara Kyuhyun dan Sungmin semakin membuat Minseok menatap nanar kedua orang tuanya.

" oppa, aku menyakiti mereka—hiks kenapa aku seperti ini? Kenapa Tuhan membuatku seperti ini? Bukankah lebih baik ia mengambilku—jika ingin menyiksa, Tuhan bisa menyiksaku. Jika ingin menghukum, Tuhan bisa menghukumku. Aku tidak ingin mereka kesakitan karna aku—oppa beritahu aku apa arti aku disini tanpa mereka melihatku?"

Suara lirih Minseok membuat Daehyun mendesah.

" Tuhan memberikan takdir yang begitu indah untukmu, Minseok. Tuhan begitu menyayangimu sehingga ingin melihat bagaimana orang-orang di sekelilingmu menyayangimu. Tuhan pasti sedang menimbang bagaimana yang seharusnya untuk dirimu. Tetap tinggal atau pergi meninggalkan orang-orang yang mencintaimu. Yang ku tau—kau hanya sedang menunggu ketulusan mereka untukmu, bukan hanya air mata, bukan hanya jeritan melainkan senyum tulus yang mereka berikan untukmu. Tidakkah Tuhan begitu menyayangimu?"

Ucapan Daehyun mendapat perhatian khusus dari Kyuhyun, Sungmin dan Luhan yang ternyata keluar dari samping Minseok. Minseok sendiri? Yeoja manis itu terisak melihat tangannya mengambang di udara saat ingin mengusap air mata yang ada di pipi tirus Luhan. Bahkan Minseok harus merasakan bagaimana Luhan menembus dirinya.

" hiks—kenapa tidak bisa?"

Tanya Minseok bingung, ia menatap Daehyun yang memberikan tatapan prihatin terhadapnya.

" Daehyun?"

Daehyun mengangguk.

" lama tidak bertemu, Luhan-ssi"

Luhan mengangguk, ia menatap Daehyun dengan tatapan bingung.

" Daehyun—apa yang kau katakan tadi?"

" eh? Tadi? Entahlah, aku hanya ingin membuat Minseok-ssi tetap tegar. Aku yakin ia ingin kembali bersama kalian, meskipun saat ini ia tidak tau bagaimana caranya. Ayahku pernah mengatakan jika seorang yang sedang koma akan berada disamping orang-orang yang ia sayangi dan menyayanginya. Aku yakin, Minseok-ssi pun melakukan itu. Ia sedang mengamati kehidupan orang-orang yang ia sayangi. Aku memang tidak terlalu yakin dengan kepribadian Minseok-ssi yang selalu ceria, ingin kalian menangisi dan bersedih karenanya. Kalian tau lebih dan lebih tentang Minseok-ssi"

Sungmin memutar tubuh Daehyun, ia menangis.

" apa anakku—anakku akan selalu di sampingku?"

" Minseok-ssi pasti berada di samping kalian, jadi jangan menangis lagi nyonya. Dengan kalian menangis Minseok-ssi tidak akan bangun dan akan terus terjebak dalam keadaan seperti ini. Kalian harus meneruskan hidup kalian dengan bahagia. Kalian masih bisa tersenyum meski Minseok-ssi berada disini. Kalian masih bisa tertawa dengan Minseok-ssi yang berada di samping kalian"

" bagaimana aku bisa tertawa sedangkan anakku tidak jelas keadaannya!"

Kyuhyun duduk disofa—ia terkekeh pelan mengisaratkan kesedihan dan penyesalan.
Daehyun menatap Minseok yang mencoba mengusap tangan Kyuhyun.

" papa, aku mencintaimu—sungguh, jangan pernah bersedih tentangku, aku tidak ingin papa seperti ini. Aku akan berusaha menemukan jalanku untuk kembali padamu. Setidaknya jika itu terahir—namun aku ingin memelukmu erat bersama mama, bersama Lulu dan bersama orang-orang yang aku cintai"

Isak Minseok.

" Minseok-ssi sangat mencintaimu, tuan. Dia tidak ingin kau bersedih tentangnya. Dia ingin kau tetap seperti papanya yang selalu menyayanginya dengan caramu. Dia menyukai itu—dia tidak ingin kehilangan itu darimu, meski hanya sedikit. Aku yakin sekarang Minseok sedang menangis di sampingmu, karna melihatmu seperti ini. Dia adalah orang yang sangat keras kepala seperti dirimu, dia pasti akan menemukan jalannya untuk kembali padamu. Setidaknya meskipun itu terahir untuknya, namun ia ingin memelukmu erat bersama dengan mamanya, Luhan-ssi dan bersama dengan orang-orang yang ia cintai"

" Daehyun-ssi?"

Daehyun mengangguk.

" aku juga dulu pernah mengalami koma, meskipun samar aku ingat bagaimana aku ingin selalu berada di samping Sungjin yang sendirian. Kecelakaan itu membuatku kehilangan kedua orang tuaku, aku sempat koma 3 tahun yang membuat Sungjin harus berkerja demi meneruskan pengobatanku. Aku selalu bersamanya—aku selalu ingin mengusap air matanya meski aku tidak bisa. Dan aku yakin Minseokpun sama sepertiku. Luhan-ssi, aku yakin Minseok-ssi ingin memelukmu. Ingin mengadu padamu—tapi bertahanlah dalam kebahagiaan untuknya. Karna aku yakin ia ingin selalu bersamamu. Aku permisi"

Setelah memberi penghormatan pada kedua orang tua Minseok dan Luhan, Daehyun pergi meninggalkan rumah sakit. Ia yakin Minseok masih ingin bersama dengan keluarganya dan orang-orang yang ia cintai meski hanya sedikit.
Hingga pagi tidur Daehyun terusik oleh kedatangan seorang yang memencet bel kamarnya. Luhan tersenyum memasuki ruangan mewah hotel yang Daehyun gunakan sebagai tempat tinggalnya. Daehyun memiringkan kepalanya bingung saat melihat Minseok tersenyum mengikuti Luhan yang duduk di sofa. Luhan tampak lebih bersemangat dan fresh dengan rambut yang tertata rapi dan kumis yang sudah menghilang dari yang kemarin Daehyun lihat.

" mataku yang salah atau kau yang memang sudah berubah?"

" ne, terima kasih karnamu. Bibi Xiu dan paman Xiu juga mengatakan terima kasih padamu—"

Daehyun menyuguhkan beberapa kaleng minuman hangat yang ada dikulkas kamar hotelnya.

" bukan apa-apa, bagaimana kau tau aku disini?"

" nenek sihir itu yang mengatakannya"

" nenek sihir?"

Tanya Daehyun bingung.

" Kim Heechul, siapa lagi kalau bukan dia?"

Daehyun terkekeh pelan.
Pertama bertemu dengan Heechul ia juga mendengar Luhan berbicara pada Heechul meski lewat telephone.

" bagaimana keadaan di korea?"

" tidak banyak yang bisa ku katakan, karena pekerjaanku yang membuatku harus meninggalkan korea. Oh iya, aku sangat berterima kasih tentang pertolonganmu dulu. Aku sudah mengembalikan mobilmu, meski aku tidak tau seleramu namun aku harap tidak akan mengecewakan. Soal apartemen—"

" pakai saja, aku juga tidak tau kapan akan ke korea. Aku akan memilih bersama dengan Minseokku di sini"

Daehyun melihat bagaimana wajah Minseok menunduk.

" tentang perjodohan yang kau bicarakan di telephone? Apa ajussi kemarin yang memaksa Minseok noona bersama dengan namja yang ia jodohkan dengannya?"

Luhan terkekeh.

" namja itu—aku"

" mwo?"

" ceritanya akan panjang"

Keduanya membicarakan berbagai hal hingga menghabiskan waktu yang tidak sedikit. Setelah siang Luhan pamit pergi meninggalkan Daehyun dan Minseok.

" oppa! Gomawo!"

" ada apa?"

" karna kata-kata oppa sekarang mama dan papaku sudah bisa tersenyum, mereka melakukan hal yang biasa mereka lakukan. Dan lagi Lulu, dia sekarang sudah mau memakan makanan yang Henry ajumma buatkan untuknya. Mereka tidak bersedih atasku secara berlarut lagi"

Minseok menceritakan apa yang terjadi setelah Daehyun pergi.
Daehyun hanya bisa tertawa mendengar Minseok yang mengadu karna Kyuhyun berubah jahat kembali atau karna Sungmin yang mengatakan ingin memiliki baby baru yang langsung di sambut antusias oleh Kyuhyun.

" Minseok-ssi, sebenarnya apa yang membuatmu gentayangan?"

Pertanyaan serius itu membuat Minseok menoleh.

" entahlah—aku rasa aku masih memiliki banyak penyesalan yang harus ku luruskan sebelum aku pergi ke alam lain"

" penyesalan? Apa ini tentang Luhan-ssi?"

Minseok menatap Daehyun.

" entahlah—yang jelas aku akan meluruskannya sebelum aku pergi"

" lalu bagaimana aku bisa menemukan itu? Apa kau kira aku bisa membantumu?"

Minseok mengangguk dan menggeleng kemudian.

" Chen—dia bisa membantuku. Aku selalu menceritakan semuanya padanya—aku yakin dia tau apa penyesalanku"

" apa dia di cina?"

" dia di korea—"

Daehyun mengangguk.

" setelah jadwalku selesai aku akan menemuinya"

.

.

.

Chanyeol memejamkan matanya sambil menerima ceramah ceria dari Chen, ia sedang merajuk untuk mengajak Chen kencan namun bukannya dibalas dengan sayang-sayangan Chen malah mencramainya gara-gara tesis yang ditolak oleh dosen.

" Chen—ayolah, honey kau tidak kasihan padaku? Aku sedang merajuk~"

Yeoja di hadapan Chen hanya bisa menatap cengo dengan apa yang Chanyeol lakukan.

" Oh Tuhan! Kenapa aku mau mempertaruhkan masa depanku dengan orang sepertimu?"

" Yaaa~"

" apa tidak lebih baik kalau aku memikirkan tawaranmu itu?"

" Yaa~"

" memang sepertinya"

" Chen~~"

Dengan wajah yang tidak perduli Chen menoleh ke arah Chanyeol.
Namja tampan itu menciumnya dengan lembut bibir Chen yang sukses membuat yeoja itu menundukkan kepalanya dengan rona wajah yang memerah. Chanyeol menatap dengan mata seakan terpesona akan kecantikan alami yang Chen berikan lewat rona wajahnya.

" kau—aku tidak tau mengapa, tapi melihatmu aku selalu dan selalu mencintaimu. Semakin besar dan semakin besar"

" aiss jangan menggodaku!"

Chen menepukkan buku tipis ke kepala Chanyeol yang sukses membuat namja tampan itu tertawa sambil tetap menggoda Chen. Keduanya terlihat sangat manis dengan candaan dan perbincangan lirih tentang masa depan mereka.

" anu—chogyo"

Keduanya menoleh, Baekhyun terlihat berdiri di hadapan mereka dengan kepala yang menunduk.

" Baek?"

" anu—aku—aku boleh tanya sesuatu?"

Chen dan Chanyeol berpandangan sekilas lalu mengangguk mempersilahkan Baekhyun duduk di hadapan mereka.

" apa yang ingin kau tanyakan, eoni?"

" tentang—tentang orang yang bernama Kai—nuguya?"

Pertanyaan Baekhyun mendapat sambutan kerjapan mata oleh Chen dan Chanyeol.

" aku—aku sudah menonton film yang orang itu mainkan bersama dengan orang yang mirip diriku. Itu sangat berani, dan kemarin namja itu datang ke apartemenku—kami—kami melakukannya"

" eh? Melakukan? Melakukan apa?"

Baekhyun menatap Chanyeol dengan pandangan menusuk yang langsung membuat namja itu terdiam dengan ekspresi tidak percaya.

" jinjja?"

Tanya Chanyeol sedikit memekik.
Chen sama sekali belum mengerti tentang apa yang mereka bicarakan hanya mempoutkan bibirnya bingung. Tidak lama setelah mendengar penjelasan dari suaminya Chen langsung melebarkan matanya tidak percaya.

" bagaimana mungkin?"

" sepertinya dia amat mencintai yeoja itu—aku langsung meninggalkannya di apartemenku saat aku terbangun. Dia selalu memanggil-manggil namaku—tapi aku yakin itu untuk yeoja yang wajahnya sama dengan wajahku. Eottokke? Aku harus memperbaiki nama baikku!"

" lalu apa masalahnya dengan kami?"

" Ya! Kaliankan yang tau siapa aku, aku tidak mungkinkan mengatakan dia bukan aku? Wajah kami sama—dan lagi kalau aku mengatakan itu bukan aku nanti operasi kalian kacau…"

Melihat wajah memelas Baekhyun, Chen dan Chanyeol hanya bisa menghela nafas ikut prihatin.

" kami tidak tau apapun tentang hubungan kalian, kecuali kalau mereka memiliki seorang putra—semula nama anaknya Park Hyunchan namun beberapa bulan yang lalu berganti menjadi Kim Hyunchan…"

" Park?"

Chanyeol menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

" haruskah aku menceritakan semuanya?"

Tanya Chanyeol pada kedua yeoja yang kini menatapnya. Baekhyun mengangguk semangat, Chanyeol menggenggam tangan Chen menanyakan lewat tatapan matanya yang dibalas dengan anggukan kepala oleh yeoja manis itu. Setelah mendapat anggukan dari Chen, Chanyeol menceritakan semuanya secara ringkas yang membuat Baekhyun menatapnya tidak percaya.

" kau gila? Aku denganmu?"

" heii—aku juga tau kalau aku gila! Karna hubungan itu membuatku harus kehilangan kesempatan menjadi appa siaga untuk anak Chen. jadi jangan katakan aku gila karna aku memang mengakuinya"

Baekhyun menatap Chen meminta penjelasan. Baekhyun berkali-kali menunjuk Chanyeol dan dirinya sendiri tidak percaya dengan apa yang barusan ia dengar.

" yang Chanyeol katakan memang benar—"

" lalu? Aku harus mulai dari mana untuk memperbaiki nama baikku? Oh! Tidak, kenapa ini harus terjadi padaku?"

Chanyeol dan Chen menatap bingung ke arah Baekhyun yang tersenyum kesal. Bagaimanapun mereka mengatakan sebenarnya tentang apa yang terjadi pada Baekhyun.
Baekhyun mengacak rambutnya frustasi—

" anu—permisi, boleh aku berbicara denganmu—Chen?"

Suara lembut dari Daehyun membuat ketiga orang yang sedang duduk di pinggiran taman menatap namja tampan itu.

" dengan Chen? nuguya?"

Chanyeol memasang wajah waspadanya yang langsung diberi jitakan oleh Chen.

" berbicara denganku? Kau—kau yang tinggal di apartemen Luhan ge kah?"

Daehyun mengangguk.
Chen berdiri mendekati Daehyun yang mengajaknya sedikit menjauh dari keramaian. Keduanya duduk di bawah pohon rindang tidak jauh dari tempat semula meninggalkan Baekhyun yang sedang frustasi bersama dengan Chanyeol. Chen duduk di depan Daehyun menatap bingung dengan kedatangan seorang artis yang cukup terkenal seperti Daehyun.

" aku tidak tau kalau Chen dekat dengan Baekhyun? Apa ada sesuatu yang aku lupakan kecuali penyesalanku?"

Bisikan dari Minseok hanya membuat Daehyun bergeleng. Daehyun tersenyum meminta waktu untuk mengatakan apa yang menjadi keinginannya.

" anu—aku sedikit bingung dengan apa yang akan aku katakan…entahlah aku ingin mulai dari mana"

Chen mengerutkan keningnya.

" Chen-ssi, tentang Minseok-ssi apa dia sering bercerita tentang kehidupannya padamu?"

" eoni?"

Daehyun megangguk.

" sedikit sih—kenapa kau tiba-tiba menanyakan tentang eoni? Apa Luhan yang memintanya?"

Tanya Chen.
Daehyun sedikit menoleh kepada Minseok yang duduk di samping Chen. Minseok memberikan ekspresi imut pada Chen yang tentu saja tidak akan bisa Chen lihat. Antara ingin mengatakan sebenarnya dan tidak, menjadikan Daehyun sedikit bingung. Tidak mungkin ia akan mengatakan jika ia bisa melihat Minseok padahal jelas-jelas Minseok sedang dalam kondisi koma. Tidak mungkin juga ia mengatakan pada semua orang jika ia bisa melihat arwah, tidak! Daehyun masih ingin menjalani kehidupannya dengan normal. Dalam artian ia masih ingin menjalani hidupnya sebagai artis—

" Minseok ingin menceritakan sedikit penyesalannya sebelum kalian pergi berlibur—2 hari sebelum kecelakaan itu terjadi. Tapi saat itu aku tidak bisa, karna harus take film. Kemarin aku mengunjunginya di cina, aku menyesal tidak mendengarkan apa yang ingin ia katakan—"

Tentu saja yang barusan Daehyun katakan adalah bohong, karena pada kenyataanya dia jarang berbicara dengan Minseok. Cuma memang Minseok senang bercerita apapun tentang kegiatannya bersama dengan Sungjin yang mengidolakan Minseok.

" oppa? Kenapa oppa bohong?"

Pertanyaan Minseok pada Daehyun membuat Daehyun harus menunda omelannya pada sifat imut yang selalu berhasil membuatnya tertawa. Daehyun tersenyum mencoba acting untuk tidak memperdulikan Minseok yang menatapnya dengan tatapan bingung yang menuntut.

" ternyata eoni tidak hanya dekat denganku, dia memang selalu bisa dekat dengan siapa saja. Aku merindukannya—"

" Cheeeen aku sungguh merindukanmu! Aku disini di sampingmu!"

Minseok menangis saat melihat wajah Chen mulai memerah dengan liquid bening yang berada di sudut matanya. Chen memang tersenyum, namun pandangannya menerawang menuju kenangannya bersama dengan Minseok.

" aku merindukannya—"

" maafkan aku, aku tidak bermaksud untuk mengungkitnya—"

" gweancana, aku memang tidak bisa menghilangkan kecengenganku terhadapnya. Aku yakin, eoni pasti sangat dekat denganmu oppa—"

Daehyun sedikit tersenyum.

" dia memang seperti itu, hah- andai saja ia ada disini aku ingin sekali menceritakan semua padanya"

Chen menghela nafas.

" dia pasti ada disini bersama kita"

Yeoja manis itu mengangguk.
Keduanya memulai membicarakan apa yang Minseok sukai dan tidak sukai, mereka juga saling berbagi pengetahuan.

"…eoni—dia mencintai Luhan-ge"

" MWO?!"

Daehyun mengerutkan keningnya.

" dia mencintai Luhan-ge yang datang sebagai murid pindahan di kelas kami. Mencintai namja itu secara tanpa sadar hingga ia sendiri tidak menyadari ia juga menyakiti Luhan-ge secara bersamaan—"

" maksudmu? Bukankah mereka berkencan?"

Chen terkekeh pelan.

" banyak hal-hal kecil yang ia lakukan untuk Luhan-ge justru menyakiti Luhan-ge secara permanen, hingga Luhan-ge menyerah untuk memilikinya tanpa tau eoni mencintainya. Luhan-ge pergi meninggalkan eoni tanpa mengatakan apapun—hingga hari itu tiba, dimana eoni mengetahui semuanya. Mengetahui perasaannya sendiri dan mengetahui seberapa besar ia menyakiti Luhan-ge. Kau pernah dengar orang yang dijodohkan dengannya? ( Daehyun mengangguk ) dia adalah Luhan-ge, orang yang selalu melihat bagaimana eoni menolak perjodohan itu—hah, aku tidak tau apa yang harus aku katakan jika aku bertemu dengan Luhan-ge untuk membicarakan ini. Luhan-ge bukan orang yang bisa ditebak seberapa besar kekuatan ataupun pikirannya. Dia terlalu—"

" apakah aku melakukan hal mengerikan itu? Benarkah? Oppa, tanyakan bagaimana aku bisa setega itu pada Lulu—aku—aku—"

Minseok menangis, raut wajahnya benar-benar menunjukkan bahwa ia menyesal.
Daehyun menghela nafas—

" Luhan-ssi sangat mencintai Minseok-ssi"

" entahlah—aku tidak bisa mengatakan apapun, dalam hal ini aku kasihan pada eoni. Tapi dalam hal lain jika aku menjadi Luhan-ge, aku pasti tidak akan bisa—"

Chen mengatakan apa saja yang ia ketahui tentang Minseok yang membuat yeoja tembus pandang di hadapan Daehyun menangis tidak percaya. Minseok sudah menceritakan semua tentang dirinya yang tidak ingat akan perasaan manusia pada umumnya. Minseok ingat akan semua aktifitasnya, namun ia tidak bisa ingat bagaimana perasaannya. Ia bahkan lupa akan kenangannya bersama dengan Luhan, yang ia tau ia sangat menghormati Luhan.

" senang bertemu denganmu, aku sangat ingin berbagi cerita dengan artis terkenal—"

Daehyun berdiri membungkuk saat Chanyeol dan Baekhyun mendatangi mereka. Setelah beberapa langkah ia berjalan pergi, lengannya tertahan oleh seorang yeoja manis dengan wajah bingung.

" Dae oppa?! Kau tidak mengenaliku?"

" Eh? Ba—baekhyun?"

Baekhyun mengangguk.

" kenapa kau tidak menyapaku?"

" anu—"

Baekhyun langsung mengajak Daehyun duduk di sebuah café dekat kampus bersama dengannya. Keduanya duduk saling berhadapan.

" oppa? Aiss, yang benar saja kau melupakanku?"

" Baekie? Apa sesuatu terjadi padamu? Kau aneh—"

" aneh?"

Daehyun mengangguk.

" biasanya kau tidak mengindahkanku—tumben sekali kau mau mengajakku bicara, aku kira kau sudah melupakanku"

" Oppa? Maksud oppa?"

Daehyun mengangkat bahunya sambil menyesap manisnya coklat yang ia pesan. Membiarkan Baekhyun menatapnya dengan pandangan tidak percaya.

" oppa, kau salah sangka—yang kemarin bukan Baekhyun—dan ini Baekhyun"

Sedikit tidak percaya dengan bisikan Minseok.
Daehyun mengamati Baekhyun yang lagi-lagi mengacak rambutnya frustasi, sudah lama ia tidak melihat Baekhyun tapi dia cukup bisa membedakan mana kebiasaan Baekhyun dan mana yang bukan. Dan namja itu tau jika kebiasaan Baekhyun yang ia lihat hari ini adalah kebiasaan yang biasanya Baekhyun lakukan saat yeoja itu tengah bingung.

" arra-arra, oppa hanya ingin mengetesmu saja. Bagaimana keadaanmu? Sudah lama aku tidak melihatmu, saat kita bertemu kita tidak memiliki waktu untuk berbicara"

" hehehe—sebenarnya aku merindukanmu oppa—"

Baekhyun ingin sekali mengatakan keadaannya, namun sekali lagi ia tidak ingin banyak orang tau tentang siapa dirinya. Keduanya bercakap cukup lama—

" oh, oppa juga kenal dengan Minseok?"

" tentu! berkat dia, aku bisa bertemu denganmu di kantor. Oh apa kau ingin ke kantor bersama? Aku dengar direktur ingin mengorbitkan artis baru"

Daehyun tersenyum langsung menarik tangan Baekhyun.
Suasana ruangan Heechul terlihat begitu ramai dengan suara Daeyeol saat Baekhyun dan Daehyun masuk.

" direktur, Baekhyun-ssi ingin bertemu dengan anda"

" Baekhyun?"

Heechul melebarkan matanya saat melihat wajah Baekhyun yang terlihat tidak mengerti mengapa Daehyun membawanya ke agency.

" chagy—kau bisa urus Sweetie? Aku—aku sepertinya ada urusan dengan dia"

Jungsoo mengangguk meninggalkan Heechul dan Baekhyun.
Baekhyun duduk di hadapan Heechul membiarkan yeoja baya itu menatapnya lekat-lekat.

" benarkah yang mereka katakan tentang dirimu?"

" eh?"

" Baekhyun yang merusak rumah tangga anakku—apakah itu dirimu?"

Tatapan dan kata-kata tajam khas Heechul terlontar begitu saja, dengan yeoja baya itu memberikan pandangan menusuk pada Baekhyun.

" bu—bukan, aku dan Chanyeol-ssi bahkan tidak pernah bertemu semenjak dia dihukum di lapangan sekolah bersama kekasihnya"

" Kris mengatakan semuanya, heemmm—jadi sekarang kau mau apa datang kemari?"

Suasana mencekam yang tadi sempat tercipta berubah menjadi santai dengan Heechul yang tersenyum bahagia.

" tidak tau—aku hanya ingin membersihkan namaku, aku—"

" bagaimana kalau kau mewujudkan keinginanmu?"

" maksudnya?"

Heechul tersenyum manis sambil berjalan mengambil sebuah amplop berisikan sebuah buku naskah sebuah film. Yeoja itu menyodorkan ke arah Baekhyun.

" aku sudah mengcasting beberapa orang, bagaimana jika kau ambil bagian? Setidaknya untuk memberikan image baru…"

" ta—"

" hey, di dunia hiburan tidak ada yang tau siapa dirimu kecuali aku—mungkin Kai dan Dio dalam beberapa hal, tapi aku yakin mereka tidak akan mengatakan sebenarya karena sesuatu hal. Bagaimana?"

Baekhyun menunduk sekilas.

" hei—aku bisa menjamin ini akan merubah image wanita keras kepala Byun Baekhyun dengan dirimu sendiri. Memang benar aku tidak menyukaimu, tapi aku akan melihat kemampuanmu untuk merubah persepsiku terhadapmu. Bagaimana?"

" aku—aku akan memikirkan lebih dahulu"

" oke, aku beri waktu kau sampai nanti malam. Aku akan mengchasting yang lainnya besok pagi, kau bisa membawa naskahnya jika kau mau. Aku sudah menyalinnya"

Baekhyun mengangguk.

.

.

.

.

.

.

See Yaa

Mianhe, sepertinya author lagi kehilangan greget untuk lanjutin ff..eothokke? harusnya ff ini sudah author stop sampai chapter 11 ini—kk
eothokke?

See Ya next time

See Ya next chapter!

Gomawo untuk reviewnya